Anthropology, Film, Kurasi/Kritik

Dunia Menyakiti Anak-anak: Anak-anak yang Disakiti dan Mati Di Kenyataan dan Film-film

Semua orang tua bersalah pada anaknya, dan setiap kesalahan akan membekas buat si anak dari kecil hingga ia dewasa. Orang tua yang baik adalah orang tua yang dapat mengevaluasi diri dan terus berusaha meminimalisir kesalahan terhadap anak. Tapi ketika kita bicara masalah parenting, kita tidak cuma bicara soal keluarga atau masalah individual, kita juga harus bicara tentang negara dan kebudayaan secara luas, tentang bahasa, dan juga tentang konsepsi pendidikan terhadap anak.

Hari ini kita sudah setuju soal buruknya konsep perpeloncoan atau kekerasan fisik dan verbal terhadap anak–walau banyak juga orang tua konservatif yang meneruskan lingkaran kekerasan itu, tapi kebanyakan orang tua terdidik yang punya akses ke internet sudah tidak begitu lagi. Namun kita tidak bicara soal tempat-tempat yang jauh dari pusat informasi. Kita tidak bicara dalam konteks kampung kota, kampung, atau desa. Kita sulit melihat seperti apa informasi utama yang ada di lapangan, apalagi soal kekerasan terhadap anak. 

Sebagai seorang penonton film, filmmaker, dan peneliti saya selalu tertarik dengan film-film kejahatan, dan beberapa tahun terakhir saya menonton beberapa film soal kekerasan anak terkini. Banyak sekali film yang mengangkat hal ini, dan setiap film, diskusi, dan aktivisme dapat membantu membuat dunia lebih baik untuk anak-anak dan masa depan negara kita. Ini adalah beberapa contohnya.

The Trials of Gabriel Fernandez, seperti judulnya, bercerita tentang persidangan orang tua Gabriel (ibu dan ayah tirinya) yang menyiksa Gabriel sampai meninggal. Settingnya di California, dan dari persidangannya terbukalah sebuah ketidakbecusan departemen sosial di Amerika Serikat, yang telah berkali-kali menerima laporan soal Gabriel yang sudah luka-luka, namun selalu mandeg di birokrasi sampai anak itu meninggal. Parahnya departemen sosial ini seperti dijawab oleh serial dari belahan dunia lain, The Chestnut Man

Setting The Chestnut Man ada di Denmark dan perbatasan dengan Jerman. Ceritanya soal seorang pembunuh berantai sadis yang modus operandinya (1) melaporkan orang tua anak yang ditelantarkan ke Departemen Sosial, dan (2) jika tidak digubris, maka orang tua anak itu akan dibunuh dan anggota tubuhnya dimutilasi, serta dibuat seperti chestnut man (mainan orang-orangan dari kulit kacang kastanyet.)

Yang paling menarik adalah, salah satu tokoh kunci yang membuat seluruh pembunuhan ini mungkin adalah seorang perempuan yang menjabat sebagai Menteri Sosial di Denmark. Film ini secara harfiah menyalahkan dan membawa struktur besar negara, sebagai penyebab utama kenapa kejadian ini berlangsung, dan pelakunya sudah pasti dan jadi bukan spoiler, adalah korban kekerasan anak ketika ia masih kecil. Plot yang sama seperti Pintu Terlarangnya Joko Anwar. 

Di Indonesia sendiri, laporan kasus kekerasan terhadap anak terus meningkat tahun demi tahun. Kompas melansir bahwa tahun ada kenaikan dari 11.057 kasus di tahun 2019 menjadi 14.517 kasus di tahun 2021 (Kompas.com, 20 Januari 2021). Ini juga disebabkan institusi kepolisian yang lebih sibuk menjaga nama daripada bekerja menyelesaikan kasus, seperti laporan mendalam yang ditulis project Multatuli Tanggal 6 Oktober 2021. Dalam artikel berjudul “Tiga Anak Saya Diperkosa, Saya Lapor Polisi. Polisi Menghentikan Penyelidikan.” Tiga anak ibu Lydia (nama samaran) itu diperkosa oleh mantan suaminya. Si ibu lapor ke dinas sosial dan polisi, yang justru mempertemukan anak-anaknya dengan si pelaku. Semua tambah runyam karena polisi dan dinas sosial sama sekali tidak mengerti bagaimana caranya menangani sebuah kasus kekerasan seksual kepada anak. Akal sehat saja mereka tidak punya. 

Memang, belum tentu anak-anak yang dilecehkan ini akan jadi penjahat, atau akan melecehkan orang lain. Tapi yang pasti traumanya akan keras, mereka akan memiliki hidup yang sulit, disabilitas psikososial. Ini masalah besar yang pemecahannya hanya bisa dengan kebijakan-kebijakan yang jalan beriringan dari banyak arah: secara undang-undang, hukuman harus diperberat; laporan harus dipermudah; dan yang paling penting, mengakui kesalahan dan aparat serta penjabat publik semua harus dididik ulang soal pelecehan seksual, kekerasan terhadap anak, dan bagaimana cara menangani korban. SOP harus sangat jelas. 

Satu kasus lagi yang menyeramkan adalah seorang ibu yang menggorok anaknya. Ini kejadian yang sudah terjadi berkali-kali terhadap ibu yang stres. Dalam film kita bisa melihatnya di film The Others besutan Alejandro Amenabar. Di situ kita melihat tokoh ibu yang dimainkan Nicole Kidman yang membunuh anak-anaknya karena stres trauma perang.

Di kejadian nyata, pembunuhan anak oleh orang tua selalu terjadi karena masalah struktural (ekonomi, ideologi politik dan perang.) Hitler dan pengikutnya pun membunuh anak-anak mereka karena kalah perang, atau bunuh diri masal di Jonestown, atau bom bunuh diri anak, karena agama dan ketidakpuasan politik-ekonomi.

Dari sini kesimpulan utamanya adalah: tidak ada orang tua waras yang membunuh anak-anaknya karena motivasi pribadi. Semua karena motivasi struktural bahwa dunia yang mereka hidupi memang tidak mendukung anak-anak untuk tumbuh berkembang. Jadi terngiang kata-kata eksistensialis Soe Hok Gie: Yang paling beruntung adalah yang tidak dilahirkan, yang beruntung kedua adalah yang mati muda, dan yang paling sial adalah mati tua—karena kehidupan dalam masyakarat yang sakit akan berkutat pada penderitaan.

Masa depan kita suram dengan banyaknya anak-anak yang dilecehkan seperti ini, perjuangan tetap kenceng, rekomendasi, petisi terus berjalan walau gaungnya seringkali kalah dengan isu-isu lain. Yang kita bisa lakukan hari ini adalah mendidik dan menyebarkan informasi yang objektif, saintifik, dan bertindak tegas ketika kita melihat kekerasan seksual, apalagi terhadap anak. Ketegasan dimulai dari hukuman sosial hingga legal. Dan kalau legalnya tidak kuat, kita bisa memakai media untuk berkoar, ajak wartawan, blogger, tweeps, semua untuk marah dan mengkoreksi, memberikan tekanan penting terhadap kebudayaan dan negara kita. Komnas Perempuan juga meluncurkan catatan tahunan yang penting buat kita lihat sebagai salah satu cara mengawal agar jaminan hukum dan sosial bisa berjalan dengan baik di negeri kita, untuk mencegah Trials of Gabriel Fernandez atau pembunuhan The Chestnut Man di Indonesia. 

Memoir, Racauan

Bertahan Hidup

Mati jadi biasa ya, kawan? Nggak ada waktu untuk berkabung. Karena bertubi-tubi kematian datang, tak sempat kita menarik nafas dan mendorong air mata.

Menangis cuma sebentar, habis itu kita lanjut karena kita pun jarang bisa melihat pemakaman. Semua terlalu sibuk dengan bertahan hidup. Panceklik semua.

Kehilangan sahabat dan saudara jadi biasa. Siapa sangka hari ini kita mengalaminya, dengan kemajuan teknologi dan kesehatan, masalah komunikasi, politik, menghambat jalur data dan aksi nyata. Lalu harus bagaimana?

Saya menolak pasrah. Saya buat konsolidasi dan gerakan lokal patron-pasien. Total sudah 40 orang lebih terbantu. Saya sendiri juga terbantu, karena makna hidup saya jadi terbangun dan terjaga. Gerakan ini masih jalan terus karena virus bermutasi terus. Sementara pemerintah lebih sibuk buka tambang membangun infrastruktur, kita sibuk cari uang, ada varian baru yang mengintai dan beberapa dari kita harus tetap waspada.

Untuk itu saya ucapkan banyak terima kasih kepada sahabat dan handai taulan sekalian. Terima kasih karena telah menjadi orang baik, yang menolak diam. Terima kasih karena kalian bertahan dan maju terus untuk menghadapi kenyataan pahit ini bersama-sama. Langkah kecil kita diikuti banyak orang, dan juga diderivasi menjadi pemecahan untuk banyak masalah lain yang membuntuti pandemi ini selain isoman. Contohnya masalah kesehatan jiwa. Tapi itu untuk hari lain.

Filsafat, Memoir, Racauan

Mimpi Kapital adalah Mimpi Orang Dangkal

Tanyakan pada anak-anak baru yang masuk kuliah, kenapa mereka memilih sebuah jurusan? Jawabannya beragam dan kebanyakan hanya menebak-nebak mau jadi apa. Almarhum bapak saya menyuruh saya untuk kuliah di ekonomi biar bisa korupsi biar kaya. Yah, sekolah bisnis dan ekonomi biasanya tujuannya itu, biar kaya. Walau kalau kuliahnya benar, si ekonom akan sadar bahwa ia harus kaya dengan mengubah peradaban. Sedikit orang yang masuk fakultas sastra atau fakultas lain yang sifatnya akademis yang mau kaya. Paling cuma salah seorang murid saya, yang pernah wawancara untuk masuk sekolah film dan bilang pengen kaya.

Photo by Pixabay on Pexels.com

Tapi ini fakta yang saya temukan: cuma orang yang pernah miskin, yang biasanya bilang pengen kaya. Jika ada anak orang kaya yang pengen kaya, biasanya mentalnya miskin sehingga dia selalu lihat yang lebih kaya dari dia. Seperti murid saya itu, atau salah seorang saudara saya yang sedikit-sedikit ngomong duit dan harta padahal dari kecil sudah kaya. Kebanyakan orang yang hidupnya lumayan berkecukupan, tidak pengen kaya. Dalam diagram klasik Maslow, kebutuhan orang yang berkecukupan selanjutnya adalah aktualisasi diri. Karena itu banyak anak-anak di MondiBlanc, biasanya kelas menengah yang pengen aktualisasi diri lewat film.

Orang yang bisa berpikir bebas dan suka menantang dirinya sendiri untuk menikmati hidup sepenuhnya, cuma ingin independensi finansial, karena ia ingin berkarya, berkontribusi, atau sederhana merasakan semua sensasi hidup sebelum ia mati. Dan kebanyakan milenial yang saya kenal, ya, maunya ini. Mereka tidak mau banting tulang kerja untuk sesuatu yang mereka tidak suka. Tapi dengan motivasi untuk mendapatkan aktualisasi diri, mereka mau kerja apa saja. Misalnya, untuk mencari dana membuat film mereka, maka mereka mau kerja keras untuk menyatukan modal membuat film mereka.

Ada sebuah drive kuat untuk membentuk identitas diri dan memiiki impact ke identitas orang lain. orang-orang ini, yang saya sebut the misfits, adalah orang-orang saya. Mereka pekerja keras, jago cari duit, tapi menolak buat kaya dengan sederhana. Karena independensi finansial hanya bisa didapat jika kita berada “diantara.” Diantara kerja dan idealisme. Jika orang hanya ingin kaya, maka definisi suksesnya sempit dan sekaya-kayanya dia, selamanya dia tidak akan independen. Karena kalau sudah kaya, lalu dia mau apa? Lebih kaya lagi? Kapan kita mau ke luar angkasa, kalau begitu? Luar angkasa saja imajinasi yang mereka yang cuma pengen kaya untuk kaya, nggak terbayang kecuali sebagai lliburan yang merka bisa beli ketika Space X sudah buka servisnya nanti.

Photo by Pixabay on Pexels.com

Kekayaan itu penting. Tapi kalau kekayaan hanya untuk memperkaya diri dan keluarga, bukan untuk mengubah peradaban, maka akan ada yang hilang dalam hidup. Hidup hanya akan jadi banal dengan gairah kuasa dan eksploitasi. Mereka akan jadi musuh-musuh perdababan, karena tak ada yang bisa hadir dari keegoisan, kecuali kehancuran dan tragedi. Maka mari kita jadi kaya dengan tujuan yang murni. Tujuan yang besar dan jauh, dan mungkin ketika kita mati kaya, itu juga belum tercapai.

Masalah besar jika kita tidak cukup kreatif untuk membuat sebuah tujuan. Ya tujuan itu dibuat, diciptakan, bukan dicari. Tujuan bisa juga didapat dengan mendukung tujuan orang lain, atau mencuri tujuan orang lain yang tidak tercapai. Dan pastikan, untuk mencapai tujuan itu, kita mesti pelan-pelan kaya. Karena kaya yang ideal adalah kaya karena kita benar-benar berguna untuk peradaban. Itu lah kaya yang pantas. Bukan kaya karena warisan, atau kaya karena ingin kaya untuk jadi lebih kaya. Jadilah kaya karena tidak ada cara lain untuk mencapai tujuan mulia mu, selain dengan menjadi kaya.

Tapi mimpi kapital menawarkanmu jalan untuk keluar dari masalah kehidupan sehari-hari, Anakmu butuh susu, keluarga butuh makan. Dan kerja apapun mau kau jalankan supaya dapat uang. Sayapun pernah kerja apapun untuk dapat uang. Dari badut di mal, sampai pedagang keliling. Tapi itu cuma supaya saya punya cukup uang untuk membiayai tanggungan dan punya waktu untuk terus belajar dan mencipta. Dan ketika mencipta membuat saya jadi miskin, yah saya cari uang lagi, supaya bisa mencipta lagi. Kenapa mencipta? Untuk mengubah peradaban. Karena semua orang berakal tahu, peradaban kita lebih baik dari 50 tahun yang lalu, tapi tak pernah jadi baik. Selalu ada masalah dan ketimpangan, yang saya kira bisa kita pecahkan hari ini jika kita mau usaha dan tidak terlalu fokus pada cari uang buat hidup. Cari uang secukupnya, lalu kembali ke pekerjaan penting kita. Untuk membuat dunia dan kehidupan lebih baik untuk kita sendiri dan orang-orang setelah kita. Semakin besar lingkaran pengaruh kita dalam mengubah dunia jadi lebih baik lagi, semakin kita kaya. Itu sudah DIJAMIN dan sepasti gravitasi.

Photo by Ivan Bertolazzi on Pexels.com

Tujuan saya hari ini, adalah mengubah sistem pendidikan, mencerdaskan orang lain, dan mengembangkan kebudayaan dan kesejahteraan orang dengan cara berpikir yang konstruktif. Banyak pekerjaan yang harus kita lakukan untuk membuat rumah kita, wilayah kita dan negara kita jadi ideal buat anak cucu. Dan jadi kaya cuma alat buat bikin masa depan dimana manusia bisa cukup maju untuk menjawab segala tantangan yang akan datang. Kaya harus pintar dan bertanggung jawab. Kaya dan bodoh adalah kombinasi buruk, yang harus kita musuhi bersama-sama karena imbasnya bisa kemana-mana, seperti seorang presiden yang suka mandi kencing perempuan Rusia dan sangat misoginis itu.

Bicara soal pendidikan, selain membuat workshop berbasis beasiswa, saya juga sedang dalam proses membuat beberapa modul yang ingin saya distribusikan dengan gratis dan terbuka sumbangan untuk mendukung sustainability penelitian praktis saya. Modul-modul tersebut ada yang berisi cara financing dan pengembangan karir lewat film pendek, atau cara membaca cepat, menulis akurat, dan mengembangkan ide menjadi sebuah project nyata.

Dan semua saya mulai dengan sebuah niat baik. Kalau saya harus kaya saya tidak akan mengikuti mimpi kapital. Karena semua kebahagiaan, tidak ada artinya, kalau tidak dibagi. Tulisan ini akan saya tutup dengan lagu saya, untuk mengingatkan kalian butk apa kita hidup di dunia ini. Orang memang beda-beda, terserah. Tapi saya mencari orang yang setuju sama saya, kalau hidup itu adalah proses mengumpulkan dan berbagi pengalaman, sehingga ketika kita mati nanti, ada bagian dari kita yang hidup terus, menopang perdaban samapai kiamat.


Website ini jalan dengan donasi. Jika kalian setuju dengan pemikiran saya, dan mau bantu saya mewujudkan project-project ini, bantu saya biar sedikit lebih kaya dengan membelikan saya kopi. Klik tombol di bawah ini. Sementara itu, yang mau kaya dengan ideal, ajak saya ngopi beneran, kita bisa ngobrol untuk kolaborasi project.

Meditasi Tulis, Prosa

Meditasitulis #1: Di Kota Ini, Semua adalah Fana

Aku memutuskan untuk packing dan keluar dari kamar kosku malam ini. Di dalam backpack hijauku ada satu liter air putih, dua pasang baju, tiga celana dalam, dan sebuah buku catatan dari kulit dan isinya separuh penuh dengan puisi dan gambar-gambar. Aku memutuskan untuk menjadi diriku 15 tahun yang lalu, berkelana, sendiri, dan hidup apa adanya. Aku pakai kaosku yang paling nyaman, celana jeans belel, dan sepatu converse kanvas lusuh yang sudah lama tidak kupakai. Dan aku keluar dari kamar, mengunci pintu dan berjalan turun tangga. Di bawah kamar kos, aku tinggalkan kunci kamarku di meja dekat kamar penunggu kos. Lalu aku keluar pagar, berjalan kaki ke jalanan, meninggalkan semua barang-barang, mobil, semua harta yang kupunya–yang tidak banyak. 

Tadi terakhir kali aku melihat jam adalah jam 11.30 malam. Aku tinggalkan dua jam tangan lumayan mewah yang dulu kubeli waktu aku masih punya penghasilan besar di kamar itu. Aku tidak berniat kembali ke kehidupan ini, karena aku menemukan jalan untuk kembali ke kehidupan lain, sebuah kehidupan yang sudah lama kutinggalkan. Aku berjalan di pinggir jalan raya, dan malam ini adalah saatnya, malam yang tepat untuk mencari jalan pulang. Bulan besar merah menggelantung di langit tanpa awan, dan orang-orang lalu lalang dengan mobil dan motor tidak sadar bahwa ada yang aneh dengan bulan itu. Bulan begitu dekat, seperti menarik semua mereka yang berunsur air. Suara air comberan di bawah trotoar begitu besar seperti arus sungai yang mengamuk. Tapi kota ini terlalu sibuk untuk mendengar fenomena alam seperti itu.

Photo by Sayantan Kundu on Pexels.com

Aku menyusuri trotoar yang tak terlalu panjang, karena kota ini tak pernah ramah pada pejalan kaki. Jalan raya menurun dan mobil lalu lalang ketika lampu hijau seperti dikejar setan. Angin semakin besar, kukira dari mobil yang lalu lalang dengan cepat, tapi tidak. Angin ini dari langit, dibawa oleh bulan merah jahat itu. Aku mencari tanda-tanda yang dibilang Mama yang bukan Mama di dalam mimpi yang bukan mimpi yang kudapat pagi tadi–ini cerita lain yang kusimpan setelah perjalanan ini kulalui. Aku mencari celah di jalan, sesuatu yang berbeda dari kenyataan sehari-hari. Ada kucing yang berlari menyebrang jalan. Sebuah mobil melintas cepat dan melindasnya. Kucing itu lari ke arahku dengan tubuh yang aneh: terpelintir. 

Ada rasa takut bercampur jijik dan bulu kudukku merinding. Kucing itu meloncat-loncat kesakitan di depanku, lalu terkapar gemetar. Dia belum mati, tapi pasti organ dalam dan tulang-tulangnya sudah remuk. Matanya terbelalak mengeluarkan air mata darah. Tubuhku merinding dan aku gemetar kuat. Tremor. Tremor yang dulu menjangkiti ketika aku trauma kembali. Aku menangis ketakutan. Aku ingin mematikan kucing ini tapi tidak bisa. Mata besarnya yang penuh urat merah kesakitan menatapku tajam, dan cahaya mobil yang lalu-lalang membuat mata itu mengkilat-kilat. Aku muntah di pinggir jalan. Aku muntah banyak sekali. Tubuhku gemetar hebat. Mobil dan motor terus lewat-lewat. Ada seorang bapak menarik gerobak berhenti dan melihatku. Ia nampak lelah, menarik gerobak menanjak. Tapi matanya kosong menatap nanar. Sementara perutku terus terkocok dan aku terus muntah. Awalnya makanan, tapi lama-kelamaan lendir-lendiri hijau dan merah. 

Kucing sekarat itu bergerak pelan-pelan, menjilat-jilati muntahku. Ia bergerak-gerak dan aku terus muntah. Perlahan sambil menjilati muntahku tubuh terpelintirnya meregang, dan ia kembali seperti semula, semakin lahap memakan muntahku. Sementara si bapak dengan gerobak terus menatapku muntah, seperti sedang menyaksikan sebuah drama yang menyedihkan, karena perlahan ia menangis. Kepalaku pusing, perutku sakit dan aku terus muntah. Tubuhku mengurus, tanganku menirus, dan rambutku… rambutku memanjang. Aku sudah mengeluarkan seluruh isi perut dan entah apalagi. Sementara si kucing makan dengan cepat, ia menggemuk dan tambah kekar, dan si bapak tetap diam di situ, sampai aku terjatuh duduk, dan melihat bahwa mobil-mobil sudah hilang, jalanan malam sepi, kucing masih makan dan si bapak gerobak terdiam terpaku.

Aku merasa sangat lelah, dan aku tidak bisa mengingat aku dimana. Ini bukan jalan dari kosanku. Ini bukan pinggir jalan raya yang tadi, karena di samping jalan yang tadinya tembok semen, berubah menjadi kebun… bukan… hutan. Hutan lebat. Dan kucing yang memakan muntahku tidak cuma menggemuk, ia membesar.. Terus membesar, dan bulunya berubah menjadi loreng. Ia menjadi harimau besar yang terus menjilati aspal bekas muntahanku. Si bapak mengecil, menjadi seorang anak kecil dengan baju lusuh kebesaran. Ia melepas gerobaknya, dan gerobak itu berjalan mundur di jalan turunan. Si anak menghampiriku, ia masih menangis. Lalu ia memelukku. “Kamu sudah makan?” Tanya anak itu, aku menelungkup di dadanya dan air mataku turun. 

“Kamu sudah makan?” suara itu datang dari dalam mulutku, dan seperti berkedip, aku ada di pinggir jalan Margonda, dan anak itu sedang berdiri memperhatikan aku. Ia menggelengkan kepalanya, dan aku tawarkan nasi goreng yang baru kumakan dua sendok. Aku suruh anak itu untuk duduk di sebelahku, dan dia makan dengan lahap. 

“Nama kamu siapa?”

“Ari, Kak.”

“Kok malam-malam masih di jalanan?”

“Nunggu bapak,” jawab Ari sambil makan lahap. “Kak ini boleh dibungkus?”

“Kenapa? Habisin aja?” Kataku.

“Buat ade, kak.”

“Ade kamu dimana?”

Ari menunjuk ke sebuah gerobak di seberang jalan pinggir trotoar. Aku ingin membelikan satu porsi lagi, kurogoh kantong, tinggal recehan. Kubuka tas selempang hijau lusuhku, yang kupakai sejak SMA. Ada dompet, tidak ada uangnya. Lalu kubilang pada tukang nasi goreng untuk membungkus nasi goreng itu. 

Ari mengambil sebungkus nasi goreng lalu berlari menyebrang menuju gerobak. Ia masuk ke dalam gerobak itu. Perutku berbunyi. Rasanya perutku kosong sekali, apalagi sehabis muntah itu. Tapi aku ingat kejadian ini, nasi goreng di pinggir Margonda, anak bernama Ari. Tapi aku lupa ini kapan tepatnya. Kalau kulihat dari pakaian, tas, sepatu butut, sorjan jawa warna ungu, rambutku yang panjang, ini tubuhku ketika aku mahasiswa. Pantas aku tak punya uang sepeserpun dan selalu lapar. 

Aku berjalan ke arah gerobak untuk melihat Ari. Di gerobak itu, Ari dan adiknya yang masih balita tertidur seperti janin kembar yin yang, dengan sebungkus nasi goreng di tengah-tengah mereka. Aku memutuskan untuk menunggu bapak mereka sampai. Aku duduk di trotoar, membongkar-bongkar tasku. Cuma ada satu buku catatan, pulpen bocor, dan buku puisi Arthur Rimbaud. Ada pembatas kertas bon yang sudah terhapus di sebuah halaman:

As I drifted on a river I could not control,
No longer guided by the bargemen’s ropes.
They were captured by howling Indians
Who nailed them naked to coloured posts.

Ketika aku hanyut di sungai yang tak bisa kukontrol,
Tidak diarahkan tali nahkoda tongkang
Mereka ditangkap para Indian yang melolong
Yang memaki mereka di tiang-tiang berwarna

“Hei,” suara seorang perempuan yang lembut menyapaku. Ana. Ia duduk di sampingku. Ana adalah mantan kekasihku yang tidak pernah jadi kekasihku. Seperti Mama yang bukan Mama yang kutemui sehari sebelum ini, Ana yang ini juga bukan Ana. “Kamu nggak tahu mau pulang kemana ya?”

“Iya, Na.” Jawabku. “Gue bahkan nggak tahu ini tepatnya kapan.”

“Ini malam itu, waktu lo ketemu gue di jalan, terus nganter gue ke kosan gue.”

“Tapi…” aku melihat ke gerobak. Seorang bapak lusuh–bapak yang tadi menatapku nanar ketika aku muntah, datang dan membawa sebungkus nasi. Ia membangunkan anak-anaknya dan menyuruh mereka makan. 

“Yuk,” ajak Ana. Kami berdiri lalu berjalan menyusuri Margonda. Menuju kosannya. 

Kami berjalan menyusuri Margonda yang bukan Margonda. Karena Margonda terakhir kali aku lewat, adalah jalan lebar yang macet dengan banyak gedung-gedung dan apartemen. Margonda ini tidak ada gedung apartmen satupun. Aku ingat bahwa setiap hari aku tidur di tempat-tempat berbeda. Kadang di kampus, di kantin, di kosan teman, di halte bus, dan kadang di kosan Ana. 

Kami masuk ke gang-gang kecil, dan sampai di sebuah pagar dengan kos-kosan petak yang berderet. Kami masuk, dan aku ingat semua detail kosan Ana. Aku masih hafal bau kosannya, tempat tidur di bawah dengan seprai biru muda, dan semua tertata rapih. Buku-bukunya di rak kecil namun padat, kebanyakan non fiksi. Kami punya kesamaan, kami tidak begitu suka fiksi karena kami mudah terbawa cerita. Ana menutup pintu, lalu mengambil handuk dari gantungan di pintu, melemparkannya padaku. 

“Mandi. Kamu bau.”

Aku ingat kami cukup intim. Tapi dia Ana yang bukan Ana, aku ragu membuka baju. Ana mengambil sebuah baju merah dari dalam lemari. “Nih, udah gue cuci.” Bajuku, aku ingat suatu hari, beberapa tahun dari sekarang, ia mengirimiku fotonya dengan baju itu, sambil mengucapkan selamat ulang tahun padaku. 

Kutaruh tasku, dan aku masuk kamar mandi. Iya, aku bau. Bajuku juga apek. Pintu kamar mandi itu tidak bisa dikunci, atau tertutup dengan baik. Sudahlah, kupikir. Aku buka seluruh bajuku dan aku mengguyur tubuhku dengan air dingin. Ada yang memelukku dari belakang. Ana. “Aku kangen,”

Photo by cottonbro on Pexels.com

Aku membalik tubuhku. Bibirnya merekah. Matanya yang selalu sayu. Dan aku menciumnya, rahangnya terbuka, lidah kami bersatu. Ada bunyi krak kecil setiap kali kami berciuman dengan penuh nafsu, ketika ia membuka mulutnya lebar-lebar untuk menghisap lidahku. Tapi kali itu ia tidak hanya menghisap lidahku, ia menghisap seluruh nafasku. Aku tidak bisa bernafas! Dan ia berubah menjadi air, dan aku tenggelam. Aku tenggelam di dalam air tanpa dasar. Ana menghilang, menjadi buih-buih.  

Aku sulit bernafas dan aku tak tahu arah. Aku tak tahu mana atas mana bawah, tidak ada cahaya yang jelas, seperti tenggelam di malam hari. Sampai aku melihat cahaya merah: bulan merah. Aku berenang menuju cahaya itu, tapi seperti tidak pernah sampai. Aku melihat ke sekelilingku, ini bukan laut, bukan kolam. Ini adalah langit, karena di bawahku adalah kota yang bercahaya. Cairan ini bukan air, ini udara. Aku sesak dengan udara. Lalu aku pasrahkan semua udara mengisi tubuhku, dan aku hembuskan jadi buih-buih. 

Aku pejamkan mataku, dan aku bisa bernafas lagi. Ada suara ombak. Aku buka mataku, dan aku sedang duduk bersila di sebuah pantai. Suara burung camar, dan suara tawa anak-anak kecil. Ada suara musik di kejauhan, orang-orang bermain gitar dan membawa gendang, bernyanyi lagu-lagu yang akrab di telinga tapi aku tak tahu apa. Di laut, ada seorang perempuan yang menepi. Mama yang bukan Mama. Dengan daster yang basah ia datang padaku. 

“Nak. Kamu nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa, Ma.” Kataku. “Maaf ya Ma, harus ketemu Mama dalam kondisi kayak gini. Di tempat entah dimana kayak gini lagi.”

“Kata orang, bagian laut yang ini bisa nyembuhin penyakit. Penyakit apapun, dari diabetes, jantung, stroke–”

“–penyakit jiwa?”

“Ya, mungkin aja. Coba nanti kamu berenang ke tengah, Nak.”

“Kan abang nggak bisa berenang, Ma.”

“Pasti bisa. Itu kan laut yang bukan laut, air yang bukan air.” Kata Mama sambil senyum. Benar, ia Mama yang bukan Mama. Karena sudah lama aku tidak melihat Mamaku seperti itu, seperti tidak ada yang hilang, seperti tidak ada beban pikiran. 

“Lihat, semua orang sudah mulai pada pulang,” kata Mama. Sekelompok orang dengan gitar dan gendang masuk ke laut. Mereka tenggelam dan bersama tenggelamnya mereka musik menghilang. 

“Kamu bisa ikut pulang sama mereka,” kata Mama. “Kamu selalu bisa ke sini, nangis, ketawa, tenang, sedih, tapi apa yang ada di sini, jangan kamu bawa ke sana.”

Jadi ini saja? Perjalanan ini berakhir di sini, di sebuah pantai yang tidak jelas, dengan Mama yang bukan Mama. 

Dari semak-semak di pantai, seekor harimau keluar. 

“Eh, Hitler…” kata Mama. 

Harimau itu mengecil dan menjadi kucing lagi. Ia meringkuk di kaki Mama. 

“Kalau kamu nggak pulang, kasihan Mama di sana. Kasihan semua orang yang kamu tinggal. Yang di sini kan sudah kamu tinggal semua, biarin aja kita di sini. Kita nggak kemana-mana kok.”

Aku mengambil tangan Mama, dan Mama mencium keningku, membisikan sebuah mantra dan meniup keningku. Ia tersenyum lagi. Memelukku. Benar-benar bukan Mama, karena Mama dan aku tidak bisa berpelukan, ada pandemi di luar sana. Lalu aku berlari ke laut, pas ketika matahari menguak berwarna ungu, dan bulan merah tenggelam. Lalu aku menyelam, dan air berubah menjadi kata-kata. Aku menjadi orang yang sedang mengetik ini. 

Ini adalah mimpi yang bukan mimpi, dimana aku bertemu Mama yang bukan Mama, Ana yang bukan Ana, Ari, adiknya dan bapaknya yang bukan mereka. 

Lalu aku berpikir, apakah aku harus mulai packing, dan meninggalkan semua ini: kosan, komputer, mobil, kehidupanku, hanya untuk bertemu Mama yang bukan Mama, dan semua yang sudah berlalu dan tak mungkin kembali ke hidupku. Semua yang sebenarnya tidak lebih baik dari hari ini. Tapi toh sudah berlalu, dan aku bersamamu. Membawamu ke dunia itu.

Ah, sudahlah, aku pergi dulu. Aku ingin menyusuri trotoar dan mencari Hitler. Siapa tahu aku bisa menyelamatkannya sebelum ia terlindas mobil. 


Ini adalah bagian pertama dari meditasi tulis, kategori baru di eseinosa sebuah cara terapi menulis yang saya kembangkan untuk perlahan memperbaiki isi otak saya. Jika kamu suka dengan apa yang kamu baca dan ingin membaca lebih banyak cerita sureeal seperti ini, traktir saya kopi dengan menekan tombol di bawah ini: