Film/Video, Gender, Portfolio

Pontianak – Official Trailer

Poster 1.jpg

Trailer film pendek terbaru saya, Pontianak. Saya dan Agung Setiawan berusaha mendekonstruksi mitos setan-penyihir Pontianak masyarakat Melayu soal perempuan, kejahatan dan kebebasan.

Film/Video, Memoir, Portfolio, Racauan

Happy: Catatan Produksi Dokumenter Obituari

 

Pagi saya sekitar sekitar 140 hari yang lalu, dimulai dengan teriakan Mama di tangga di bawah kamarnya. Mama menangis meraung-raung dan memulai kepanikan besar. Ia mendapat telepon dari keponakannya, bahwa kakak pertamanya, perempuan yang paling dekat dengan Mama, Hj. Ratu Happy Komala Dewi, meninggal dunia di rumah sakit.

Sekitar 6 jam sebelumnya, Mama masih bertemu dan mengobrol dengan almarhum. Wapi, panggilan akrab para ponakan kepada almarhum, sempat meminta Mama untuk menginap di rumahnya. Mama sudah sering menginap di rumah Wapi, dan mungkin karena itu ia menolak–ditambah lagi saya dan istri sedang menginap di rumah Mama, keluarganya sedang berkumpul lengkap. Beberapa jam setelah Mama pulang, ketika pembantu Wapi ada di kamar atas, sedang tidur, nampaknya Wapi kesakitan dan berusaha naik tangga memanggil pembantunya. Ia meninggal tersungkur di lantai di bawah tangga. Sampai tulisan ini dibuat, tidak jelas penyebab meninggalnya wapi. Tidak ada bekas luka, ataupun tanda penyakit dalam. Dan karena Wapi paling anti ke dokter, tidak ada catatan kesehatan yang cukup bisa dijadikan referensi menginggalnya wapi.

Ia pernah sekali diopname ketika ia mengeluh tidak bisa bangun dari tempat tidur. Kami, anak dan ponakan, menggotongnya ke rumah sakit sambil ia marah-marah minta dipijat atau dikerok saja, dan jangan dibawa ke rumah sakit. Sekitar sehari di rumah sakit, ketika ia bisa berdiri dan jalan, ia kabur. Belakangan ketika saya tanya kenapa ia kabur, ia bilang, “Mendingan gue mati di jalanan daripada mati di rumah sakit. Gue udah biasa di jalanan. Tapi di rumah sakit… ih serem. Pokoknya kalo mati gue gak pengen ditahan-tahan, ngerepotin. Mati ya mati aja.”

Dan benar, meninggalnya Wapi sama sekali tidak merepotkan. Sangat tiba-tiba, tidak ada perlawanan yang terlihat dari tubuhnya yang utuh. Matanya tertutup dan bibirnya pun tidak terbuka. Mayatnya pucat tapi seperti orang tidur, tidak putih seperti kehabisan nafas.

Mama menyalahkan dirinya sendiri sampai saat ini, itu yang saya tahu dan saya rasakan. Tapi ini bukan pemandangan baru untuk saya. Papa saya juga mengalami trauma yang sama ketika adiknya meninggal di bawah pengawasannya. Ketika baru sembuh dari penyakit jantung dan strokenya, om Mamat, adik Papa, ikut kerja bakti di RT tempat ia tinggal di Pamulang, dan meninggal tiba-tiba setelah mencabut pohon pisang. Jantungnya kumat. Ditinggal orang terkasih pasti akan meninggalkan trauma, tapi ditinggal tiba-tiba dan melewatkan kesempatan pilihan yang bisa menentukan hidup-matinya, tidak hanya akan menimbulkan trauma kehilangan, tapi rasa bersalah yang tidak tertahankan. Mama-Papa saya tak punya cahaya mata dan semangat hidup yang sama setelah itu.

Beberapa hari sebelum meninggal, Wapi memang mengeluh masuk angin. Kami yang sudah mengenalnya puluhan tahun akan menganggap itu penyakit kambuhan. Ketika masuk angin, Wapi akan minta dikerok, dan tidak tanggung-tanggung, kerokannya akan meliputi seluruh tubuh hingga ke wajahnya. Ketika ia duduk di kursi singgasananya di rumah Kebagusan, rumah keluarga besar saya yang sekarang ditinggali Mama-Papa, sambil merokok dan dengan secangkir kopi di sampingnya, saya seperti melihat kepala suku Mentawai yang penuh tato hingga di wajah–tato kerokan.

Wapi di keluarga besar kami memang seperti dukun suku atau shaman. Dalam kebudayaan-kebudayaan kuno, atau di beberapa budaya dayak, shaman atau dukun suku selalu perempuan dan kedudukannya seringkali ada di atas kepala suku. Shaman ini punya kedekatan spiritual dengan roh nenek moyang, sehingga semua wejangannya dipercaya sebagai sebuah tuah yang tak boleh diacuhkan begitu saja. Tapi sebenarnya, tidak ada yang gaib soal hubungan Wapi dan roh nenek moyangnya. Secara, sebagai anak tertua, ia selalu jadi yang paling kenal dengan orang tua-tua di keluarga Antawidjaja. Jadi saya pribadi tak heran jika ia bisa mengaitkan anak, ponakan, saudara, atau cucunya dengan saudara-saudara yang berada di satu-dua generasi di atas mereka, lalu dengan bercanda ia akan berkelakar: “Elu kena arwah nenek moyang si anu…” ketika ponakan atau anaknya sedang curhat soal masalah-masalah mereka.

Salah satu kelakarnya pada saya adalah, “Nosa, elu kayak si anu (menyebut nama tetua), ntar lu mati gara-gara anak lu.” ‘Mati gara-gara anak’ bukan semacam bapaknya Oedipus yang dibunuh anaknya sendiri, tapi maksudnya saya akan menderita karena terlalu sayang pada anak saya–jikalau saya punya anak nanti. Latar belakang pembicaraan itu tidak jelas; Wapi tiba-tiba saja bicara seperti itu ketika kami sedang menonton serial Turki bersama-sama. Well, saya rasa benar-tidaknya wejangan itu akan kita lihat di masa depan. Haha.

Satu lagi kata-kata yang paling kami ingat dari Wapi adalah slogan hidupnya: FREEDOM. Freedom versi Wapi bukanlah seperti yang diterikan Mel Gibson dalam Braveheart. Freedom versi Wapi adalah kemerdekaan dalam mengambil keputusan dan belajar dalam kehidupan. Pasca perceraiannya di tahun 90-an, ia mulai mencari makna hidup kemana-mana: dari diskotik sampai pesantren. Dan cara belajarnya tidak tanggung-tanggung. Dia mencatat dengan tekun interpretasi ayat suci dan hadis, al-qurannya penuh stabilo dan coretan. Ia punya beberapa guru agama–yang memastikannya bisa kroscek dan tidak terjebak dengan kiai karbitan macam Aa Gatot. Sementara itu dalam bisnis, ia sudah memakan asam, garam, terasi dan cabainya–lengkap sudah sambal hidup itu; ibarat kata, semua suka duka, kena tipu, menang banyak dan kalah banyak telah membuatnya jadi pedagang yang handal tapi tetap jujur. Tanyalah pada pedagang-pedagang Rawa Bening soal dia, dan Anda akan menemukan fakta-fakta semacam itu.

Karena itu, adiknya, Tubagus Djody Rawayan Antawidjaja, mengatakan dalam obituari di film dokumenter saya, bahwa kakaknya adalah ahli kitab. Inilah yang mungkin bisa kita anggap sebagai keajaibannya–karena sebagai Muslim, kita kudu percaya bahwa Al-Quran adalah mukjizat. Tanpa jilbab atau atribut agama, dengan rokok di tangan, saya pun berani bilang bahwa ilmu agama Wapi tak kalah dengan Mama Dedeh, malah lebih kaya dengan referensi-referensi kehidupan yang luas. Maklum, Wapi bukan hanya pernah berhaji, ia juga pernah keliling dunia di masa mudanya. Ia pernah menjadi sangat kaya, sangat miskin, socialite dan ibu-ibu kampung. Kehidupannya sangan Multidimensional.

Mungkin yang paling mengesankan buat saya adalah caranya mengajar anak-anak perempuannya. Saya belajar feminisme dari S1, dan lucunya, semua teori dan praktik aktivisme feminis sudah dilakukan oleh Tante saya ini. Ia selalu mengajarkan anak-anak perempuannya (ia punya empat anak perempuan dan satu laki-laki), untuk tidak bergantung kepada suami, tidak bergantung pada lelaki. Ia selalu menyemangati anak-anak perempuannya untuk menjadi terdepan soal ekonomi keluarga, untuk menjadi wanita yang berdigdaya dan berdaya. Dan ia selalu geram pada ibu-ibu yang menyemangati anak perempuannya untuk mencari suami yang kaya raya. “Elu aja yang kaya. Ngapain cari laki kaya terus bisa ngontrol-ngontrol elu. FREEDOM DONG!”

Freedom buat Wapi kadang juga bikin deg-degan. Suatu hari Jakartabeat menugaskan saya untuk meliput Jazz Gunung di Bromo. Di sana sudah janjian bertemu Arman Dhani yang waktu itu anak kampung yang skripsinya tak kunjung rampung–bukan selebriti seperti sekarang. Saya akan naik bus ke Probolinggo dari Lebak Bulus, dan rencananya saya akan backpacking dari Jawa Timur ke Jawa Tengah, mengunjungi kawan di Jember, Yogja, dan Muntilan. Saya bertemu Wapi di restoran Mama yang waktu itu ada di Lebak Bulus. Tanpa ba-bi-bu, Wapi memutuskan untuk ikut, dengan pakaian seadanya dan tanpa persiapan sama sekali.

Kami naik bus belasan jam dari Lebak Bulus ke Probolinggo. Selama di bus, Wapi bahkan sempat digoda oleh seorang bapak-bapak–bahkan di usianya yang setengah abad, ia tak pernah berhenti menjadi perempuan menarik untuk lelaki seangkatannya. Tentunya ia menolaknya dengan jijik. Kami turun di Probolinggo sekitar jam 9 malam dan saya bingung kemana harus mencari hotel. Sementara akomodasi saya sebenarnya sudah dijamin di gunung Bromo di rumah warga, saya tidak mungkin membawa Wapi ke atas gunung malam-malam dan menginap di rumah warga bersama saya dan beberapa remaja bau kencur dari Jakartabeat dan Gigsplay. Dengan penuh percaya diri, Wapi duduk-duduk di teras hotel paling bagus setelah kami turun bus. Hotel itu sudah full booked. Akhirnya saya berjalan kaki keliling jalan besar Probolinggo untuk mencari hotel. Ketika menemukan hotel dengan kamar kosong, saya kembali ke tempat Wapi nongkrong untuk menjemputnya dan menemukannya sedang asik merokok dan minum kopi.

Ia bilang kita sudah mendapat kamar di hotel bagus itu, karena ia menyuruh seorang bapak-bapak yang ia kira pelayan untuk membuat kopi. Bapak itu adalah pemilik hotel. Mereka mengobrol dan dengan ajaib Wapi dan saya dapat kamar mewah: kamar si pemilik hotel yang malam itu jadi entah tidur dimana.

Masih banyak kenangan dan wejangan yang ingin saya tulis, tapi kalau saya teruskan maka tulisan ini tidak akan habis-habis. Karena banyaknya kenangan-kenangan itulah saya membuat film dokumenter soal Wapi setelah kematiannya ini. Tidak banyak bahan yang bisa saya dapat, tapi untungnya om Jody, adik Wapi, menyimpan banyak sekali foto-foto dan beberapa video tua yang bisa saya masukan ke film ini. Adik saya, Gilang, juga punya beberapa video wapi yang selalu bahagia, bernyanyi dan berjoget dangdut. Sayangnya tidak banyak video wejangannya–padahal wejangan itu bisa jadi sangat berharga. Wapi pemalu soal intelektualitasnya, tapi kalau nyanyi dangdut, urat malunya sudah putus.

 

 

 

 

 

 

Film/Video, Portfolio, Uncategorized

Cream Scene: Sebuah Komedi Perkosaan

Workshop film MondiBlanc berhasil membuat satu film lagi, yang sayangnya baru akan tayang di youtube setelah selesai ikut festival-festivalan. Film ini ditulis dan disutradarai oleh Agung Setiawan, asisten pengajar di Departemen Filsafat Universitas Indonesia dan saya produseri sendiri. Didukung oleh musik dari band indie Amerika Pimpstrut Local #13 dan band indie lawas Indonesia, Hamba Allah.

Satu menit trailer ini sudah akan mengatakan banyak. Feminis biasanya akan marah melihat wacana eksploitasi seksual, apalagi ketika pemerkosaan dijadikan becandaan. Tapi semoga untuk film ini, tidak begitu. Karena pemerkosaan dalam film ini pun menandung unsur-unsur ketidaksengajaan (ups, spoiler).

Silahkan ditonton trailernya.

Film, Film/Video, Kurasi/Kritik, Portfolio, Workshop

Memperkenalkan Film Pertama MondiBlanc Film Workshop: Santri Santri Silat

sss2rm
Poster oleh Rizqi Mosmarth

Berawal dari kesibukan super hectic pasca pulang dari US, serta berbekal rasa kesal karena nggak sempet lagi berteater malam-malam, dan band Wonderbra yang tak kunjung berkumpul untuk latihan, saya mengajak beberapa kawan dan junior untuk kongkow bareng di akhir pekan dan membuat video-video iseng.

Setelah dua film improvisasi dan tiga episode tutorial teater, Agung Setiawan, asisten dosen di departemen Filsafat UI, mengajukan ide cerita yang sangat menarik untuk menjadi sketsa sederhana–ide cerita yang membuat saya merasa sayang bahwa filmnya hanya akan jadi sketsa dan tidak digarap terlalu serius. Maka saya mengajak seorang kawan, DoP Koda Aksomo, untuk membantu pembuatan film horror berjudul “Perempuan, Wanita dan Belenggu di Antara Mereka.” Saya sendiri menyutradarai film ini. Film ini masih dalam tahap post-produksi dan membutuhkan kerja yang cukup panjang–apalagi dilakukan oleh para relawan yang sehari-harinya sudah sangat sibuk.

Di tengah-tengah penantian penyelesaian film tersebut, kawan kami Maftuh Ihsan, wartawan salah satu media bisnis, mengajukan sebuah ide untuk membuat film silat. Sebagai wartawan dan orang teater yang sama sekali belum pernah bersentuhan dengan dunia film (seperti kebanyakan anak-anak di workshop tersebut), Maftuh mengajukan sebuah naskah yang sangat teatrikal dan tidak mungkin untuk diproduksi jadi film pendek–terlalu banyak dialog dan plot yang ngejelimet.

Namun keberadaan Noer Faryza Sani dan Rasikh Fuadi yang memang bisa silat, dan Kevin Darius yang menjadi penata gerak, membuat kami sangat bersemangat untuk membuat ceritanya jadi mungkin untuk diproduksi. Akhirnya setelah brainstorming dan diskusi berhari-hari, suatu pagi buta lahirlah naskah film pendek yang diberi judul “Santri-Santri Silat”–judul yang diberikan oleh celotehan Rifqi “Ogi” Hasfi, editor di workshop kami yang sedang sibuk menggarap post-produksi film Perempuan, Wanita dan Belenggu di Antara Mereka. 

Sebagai sebuah workshop, saya dan Mike Julius bertindak sebagai kameramen (belum pantas menyebut kami DoP di film ini karena kami pun terlalu sibuk untuk bisa mengikuti praproduksi film ini secara pantas–haha). Saya sendiri memproduseri dengan membuat desain produksinya. Saya dan Mike berusaha menjaga aura belajar di workshop ini, dan berusaha memberikan ruang bagi setiap orang untuk membuat terobosan yang tak terduga termasuk juga kesalahan-kesalahan awam. Kami juga menahan segala ego kami tentang apa yang harusnya ada dan tidak ada dalam sebuah produksi film. Saya dan Mike berusaha untuk menjaga standar dasar dari film ini, minimal storyline dan penyampaian harus jelas–namun permasalahan teknis seperti banyaknya shot yang harus diambil serta konsep sinematografinya kami coba buat sesederhana mungkin yang bisa diikuti non-profesional.

Di tengah-tengah kesibukannya, musisi Avrila Bayu Santoso meluangkan 8 jam waktunya untuk membuat scoring (3 jam) dan sound effect (foley) (5 jam). Film ini dikerjakan cukup terburu-buru, dengan tiga kali latihan fighting, seminggu editing, dan 8 jam scoring, karena keinginan MondiBlanc untuk mengikutkannya ke dalam sebuah lomba. Saya pikir, hitung-hitung film pertama, tak apalah dicoba-coba. Banyak hal yang tidak bisa diperbaiki di Post-pro yang singkat; bahkan ada beberapa shot yang menurut saya harus disyuting ulang jika ada dana dan waktu yang cukup untuk semua orang. Tapi itu masalah belakangan. Jangankan post produksi, aktor kami saja belum sembuh benar dari luka-luka produksi ketika film ini selesai.

Ya, syuting satu hari menghasilkan banyak luka-luka. Aktor Rasikh Fuadi mengalami gegar otak setelah 12 kali take shot ia dibanting. Aktris Noer Faryza sempat lumpuh tak bisa jalan seharian setelah syuting karena banyaknya luka-luka akibat beradu tendangan. Kami belajar begitu banyak dari produksi film ini, dan benar kata Jackie Chan: yang diperlukan dalam sebuah film bela diri bukan masalah skill, tapi masalah kesabaran, waktu dan uang. Untuk satu shot, Jackie bisa menghabiskan 120 take, agar ia mendapatkan aksi yang ia inginkan,”Karena penonton tak mau tahu masalah produksimu, begitu film dirilis, ia akan selama-lamanya menjadi catatan sejarah.”

Apapun hasilnya film ini, inilah hasil kerja keras dalam waktu yang singkat. Saya pribadi tidak menyesal sama sekali melewati semuanya bersama MondiBlanc. Nantinya, waktu dan jam terbang toh akan meningkatkan kualitas film mereka ke depannya; juga kualitas saya sebagai pengajar–sejauh ini saya merasa masih sangat bodoh. Yaah, sepuluh film lagi laah.

Maka dengan ini saya persembahkan film keempat MondiBlanc, namun yang pertama kali kami rilis di Youtube, “Santri-Santri Silat.”

Selamat menikmati dan jangan lupa untuk dukung kami dengan subscribe, like dan comment di akun Youtubenya.