Portfolio, Prosa, Publication

Dukung Kumpulan Cerpen Pertama Saya Jadi EPUB: Orang-Orang Dalam Bingkai

Design oleh Widi Susanto

Saya tidak berani membuat buku, karena saya tidak yakin orang akan bisa mengapresiasi atau memahami karya-karya saya. Namun, melihat umur dan merayakan lebih dari satu dekade menulis, akhirnya saya memberanikan diri membuat buku kumpulan cerpen. Tetap saja, keraguan membuat saya ingin mengetes dulu, dengan kawan-kawan dekat, apakah kumpulan cerpen saya pantas diterbitkan. Maka bersama kawan saya, Selma Nadya, saya mencoba membuat kumpulan cerpen dalam bentuk PDF ini, dan melihat sejauh mana orang akan mendukung saya. Karena ini adalah uji pasar, maka kumpulan cerpen ini belum 100 halaman. Saya membutuhkan uang untuk menyewa editor profesional dan menerbitkan cerpen ini dalam bentuk lebih sempurnanya: sebuah ebook untuk dibaca di HP dan kindle.

Jika kamu mentraktir saya untuk mendapatkan PDF ini, kamu otomatis akan mendapatkan versi kindlenya langsung dari email saya. dengan membeli PDF ini, artinya kamu mendukung buku ini untuk terbit dalam versi kindle. Dan setelah kindle terbit nanti, saya akan membuat cetaknya by request. Karena saya tidak ingin menambah sampah kertas di dunia kita yang sudah krisis lingkungan ini.

Terima kasih sudah membeli dan membaca karya-karya saya. Berikut linknya:

Meditasi Tulis, Prosa

Meditasitulis #1: Di Kota Ini, Semua adalah Fana

Aku memutuskan untuk packing dan keluar dari kamar kosku malam ini. Di dalam backpack hijauku ada satu liter air putih, dua pasang baju, tiga celana dalam, dan sebuah buku catatan dari kulit dan isinya separuh penuh dengan puisi dan gambar-gambar. Aku memutuskan untuk menjadi diriku 15 tahun yang lalu, berkelana, sendiri, dan hidup apa adanya. Aku pakai kaosku yang paling nyaman, celana jeans belel, dan sepatu converse kanvas lusuh yang sudah lama tidak kupakai. Dan aku keluar dari kamar, mengunci pintu dan berjalan turun tangga. Di bawah kamar kos, aku tinggalkan kunci kamarku di meja dekat kamar penunggu kos. Lalu aku keluar pagar, berjalan kaki ke jalanan, meninggalkan semua barang-barang, mobil, semua harta yang kupunya–yang tidak banyak. 

Tadi terakhir kali aku melihat jam adalah jam 11.30 malam. Aku tinggalkan dua jam tangan lumayan mewah yang dulu kubeli waktu aku masih punya penghasilan besar di kamar itu. Aku tidak berniat kembali ke kehidupan ini, karena aku menemukan jalan untuk kembali ke kehidupan lain, sebuah kehidupan yang sudah lama kutinggalkan. Aku berjalan di pinggir jalan raya, dan malam ini adalah saatnya, malam yang tepat untuk mencari jalan pulang. Bulan besar merah menggelantung di langit tanpa awan, dan orang-orang lalu lalang dengan mobil dan motor tidak sadar bahwa ada yang aneh dengan bulan itu. Bulan begitu dekat, seperti menarik semua mereka yang berunsur air. Suara air comberan di bawah trotoar begitu besar seperti arus sungai yang mengamuk. Tapi kota ini terlalu sibuk untuk mendengar fenomena alam seperti itu.

Photo by Sayantan Kundu on Pexels.com

Aku menyusuri trotoar yang tak terlalu panjang, karena kota ini tak pernah ramah pada pejalan kaki. Jalan raya menurun dan mobil lalu lalang ketika lampu hijau seperti dikejar setan. Angin semakin besar, kukira dari mobil yang lalu lalang dengan cepat, tapi tidak. Angin ini dari langit, dibawa oleh bulan merah jahat itu. Aku mencari tanda-tanda yang dibilang Mama yang bukan Mama di dalam mimpi yang bukan mimpi yang kudapat pagi tadi–ini cerita lain yang kusimpan setelah perjalanan ini kulalui. Aku mencari celah di jalan, sesuatu yang berbeda dari kenyataan sehari-hari. Ada kucing yang berlari menyebrang jalan. Sebuah mobil melintas cepat dan melindasnya. Kucing itu lari ke arahku dengan tubuh yang aneh: terpelintir. 

Ada rasa takut bercampur jijik dan bulu kudukku merinding. Kucing itu meloncat-loncat kesakitan di depanku, lalu terkapar gemetar. Dia belum mati, tapi pasti organ dalam dan tulang-tulangnya sudah remuk. Matanya terbelalak mengeluarkan air mata darah. Tubuhku merinding dan aku gemetar kuat. Tremor. Tremor yang dulu menjangkiti ketika aku trauma kembali. Aku menangis ketakutan. Aku ingin mematikan kucing ini tapi tidak bisa. Mata besarnya yang penuh urat merah kesakitan menatapku tajam, dan cahaya mobil yang lalu-lalang membuat mata itu mengkilat-kilat. Aku muntah di pinggir jalan. Aku muntah banyak sekali. Tubuhku gemetar hebat. Mobil dan motor terus lewat-lewat. Ada seorang bapak menarik gerobak berhenti dan melihatku. Ia nampak lelah, menarik gerobak menanjak. Tapi matanya kosong menatap nanar. Sementara perutku terus terkocok dan aku terus muntah. Awalnya makanan, tapi lama-kelamaan lendir-lendiri hijau dan merah. 

Kucing sekarat itu bergerak pelan-pelan, menjilat-jilati muntahku. Ia bergerak-gerak dan aku terus muntah. Perlahan sambil menjilati muntahku tubuh terpelintirnya meregang, dan ia kembali seperti semula, semakin lahap memakan muntahku. Sementara si bapak dengan gerobak terus menatapku muntah, seperti sedang menyaksikan sebuah drama yang menyedihkan, karena perlahan ia menangis. Kepalaku pusing, perutku sakit dan aku terus muntah. Tubuhku mengurus, tanganku menirus, dan rambutku… rambutku memanjang. Aku sudah mengeluarkan seluruh isi perut dan entah apalagi. Sementara si kucing makan dengan cepat, ia menggemuk dan tambah kekar, dan si bapak tetap diam di situ, sampai aku terjatuh duduk, dan melihat bahwa mobil-mobil sudah hilang, jalanan malam sepi, kucing masih makan dan si bapak gerobak terdiam terpaku.

Aku merasa sangat lelah, dan aku tidak bisa mengingat aku dimana. Ini bukan jalan dari kosanku. Ini bukan pinggir jalan raya yang tadi, karena di samping jalan yang tadinya tembok semen, berubah menjadi kebun… bukan… hutan. Hutan lebat. Dan kucing yang memakan muntahku tidak cuma menggemuk, ia membesar.. Terus membesar, dan bulunya berubah menjadi loreng. Ia menjadi harimau besar yang terus menjilati aspal bekas muntahanku. Si bapak mengecil, menjadi seorang anak kecil dengan baju lusuh kebesaran. Ia melepas gerobaknya, dan gerobak itu berjalan mundur di jalan turunan. Si anak menghampiriku, ia masih menangis. Lalu ia memelukku. “Kamu sudah makan?” Tanya anak itu, aku menelungkup di dadanya dan air mataku turun. 

“Kamu sudah makan?” suara itu datang dari dalam mulutku, dan seperti berkedip, aku ada di pinggir jalan Margonda, dan anak itu sedang berdiri memperhatikan aku. Ia menggelengkan kepalanya, dan aku tawarkan nasi goreng yang baru kumakan dua sendok. Aku suruh anak itu untuk duduk di sebelahku, dan dia makan dengan lahap. 

“Nama kamu siapa?”

“Ari, Kak.”

“Kok malam-malam masih di jalanan?”

“Nunggu bapak,” jawab Ari sambil makan lahap. “Kak ini boleh dibungkus?”

“Kenapa? Habisin aja?” Kataku.

“Buat ade, kak.”

“Ade kamu dimana?”

Ari menunjuk ke sebuah gerobak di seberang jalan pinggir trotoar. Aku ingin membelikan satu porsi lagi, kurogoh kantong, tinggal recehan. Kubuka tas selempang hijau lusuhku, yang kupakai sejak SMA. Ada dompet, tidak ada uangnya. Lalu kubilang pada tukang nasi goreng untuk membungkus nasi goreng itu. 

Ari mengambil sebungkus nasi goreng lalu berlari menyebrang menuju gerobak. Ia masuk ke dalam gerobak itu. Perutku berbunyi. Rasanya perutku kosong sekali, apalagi sehabis muntah itu. Tapi aku ingat kejadian ini, nasi goreng di pinggir Margonda, anak bernama Ari. Tapi aku lupa ini kapan tepatnya. Kalau kulihat dari pakaian, tas, sepatu butut, sorjan jawa warna ungu, rambutku yang panjang, ini tubuhku ketika aku mahasiswa. Pantas aku tak punya uang sepeserpun dan selalu lapar. 

Aku berjalan ke arah gerobak untuk melihat Ari. Di gerobak itu, Ari dan adiknya yang masih balita tertidur seperti janin kembar yin yang, dengan sebungkus nasi goreng di tengah-tengah mereka. Aku memutuskan untuk menunggu bapak mereka sampai. Aku duduk di trotoar, membongkar-bongkar tasku. Cuma ada satu buku catatan, pulpen bocor, dan buku puisi Arthur Rimbaud. Ada pembatas kertas bon yang sudah terhapus di sebuah halaman:

As I drifted on a river I could not control,
No longer guided by the bargemen’s ropes.
They were captured by howling Indians
Who nailed them naked to coloured posts.

Ketika aku hanyut di sungai yang tak bisa kukontrol,
Tidak diarahkan tali nahkoda tongkang
Mereka ditangkap para Indian yang melolong
Yang memaki mereka di tiang-tiang berwarna

“Hei,” suara seorang perempuan yang lembut menyapaku. Ana. Ia duduk di sampingku. Ana adalah mantan kekasihku yang tidak pernah jadi kekasihku. Seperti Mama yang bukan Mama yang kutemui sehari sebelum ini, Ana yang ini juga bukan Ana. “Kamu nggak tahu mau pulang kemana ya?”

“Iya, Na.” Jawabku. “Gue bahkan nggak tahu ini tepatnya kapan.”

“Ini malam itu, waktu lo ketemu gue di jalan, terus nganter gue ke kosan gue.”

“Tapi…” aku melihat ke gerobak. Seorang bapak lusuh–bapak yang tadi menatapku nanar ketika aku muntah, datang dan membawa sebungkus nasi. Ia membangunkan anak-anaknya dan menyuruh mereka makan. 

“Yuk,” ajak Ana. Kami berdiri lalu berjalan menyusuri Margonda. Menuju kosannya. 

Kami berjalan menyusuri Margonda yang bukan Margonda. Karena Margonda terakhir kali aku lewat, adalah jalan lebar yang macet dengan banyak gedung-gedung dan apartemen. Margonda ini tidak ada gedung apartmen satupun. Aku ingat bahwa setiap hari aku tidur di tempat-tempat berbeda. Kadang di kampus, di kantin, di kosan teman, di halte bus, dan kadang di kosan Ana. 

Kami masuk ke gang-gang kecil, dan sampai di sebuah pagar dengan kos-kosan petak yang berderet. Kami masuk, dan aku ingat semua detail kosan Ana. Aku masih hafal bau kosannya, tempat tidur di bawah dengan seprai biru muda, dan semua tertata rapih. Buku-bukunya di rak kecil namun padat, kebanyakan non fiksi. Kami punya kesamaan, kami tidak begitu suka fiksi karena kami mudah terbawa cerita. Ana menutup pintu, lalu mengambil handuk dari gantungan di pintu, melemparkannya padaku. 

“Mandi. Kamu bau.”

Aku ingat kami cukup intim. Tapi dia Ana yang bukan Ana, aku ragu membuka baju. Ana mengambil sebuah baju merah dari dalam lemari. “Nih, udah gue cuci.” Bajuku, aku ingat suatu hari, beberapa tahun dari sekarang, ia mengirimiku fotonya dengan baju itu, sambil mengucapkan selamat ulang tahun padaku. 

Kutaruh tasku, dan aku masuk kamar mandi. Iya, aku bau. Bajuku juga apek. Pintu kamar mandi itu tidak bisa dikunci, atau tertutup dengan baik. Sudahlah, kupikir. Aku buka seluruh bajuku dan aku mengguyur tubuhku dengan air dingin. Ada yang memelukku dari belakang. Ana. “Aku kangen,”

Photo by cottonbro on Pexels.com

Aku membalik tubuhku. Bibirnya merekah. Matanya yang selalu sayu. Dan aku menciumnya, rahangnya terbuka, lidah kami bersatu. Ada bunyi krak kecil setiap kali kami berciuman dengan penuh nafsu, ketika ia membuka mulutnya lebar-lebar untuk menghisap lidahku. Tapi kali itu ia tidak hanya menghisap lidahku, ia menghisap seluruh nafasku. Aku tidak bisa bernafas! Dan ia berubah menjadi air, dan aku tenggelam. Aku tenggelam di dalam air tanpa dasar. Ana menghilang, menjadi buih-buih.  

Aku sulit bernafas dan aku tak tahu arah. Aku tak tahu mana atas mana bawah, tidak ada cahaya yang jelas, seperti tenggelam di malam hari. Sampai aku melihat cahaya merah: bulan merah. Aku berenang menuju cahaya itu, tapi seperti tidak pernah sampai. Aku melihat ke sekelilingku, ini bukan laut, bukan kolam. Ini adalah langit, karena di bawahku adalah kota yang bercahaya. Cairan ini bukan air, ini udara. Aku sesak dengan udara. Lalu aku pasrahkan semua udara mengisi tubuhku, dan aku hembuskan jadi buih-buih. 

Aku pejamkan mataku, dan aku bisa bernafas lagi. Ada suara ombak. Aku buka mataku, dan aku sedang duduk bersila di sebuah pantai. Suara burung camar, dan suara tawa anak-anak kecil. Ada suara musik di kejauhan, orang-orang bermain gitar dan membawa gendang, bernyanyi lagu-lagu yang akrab di telinga tapi aku tak tahu apa. Di laut, ada seorang perempuan yang menepi. Mama yang bukan Mama. Dengan daster yang basah ia datang padaku. 

“Nak. Kamu nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa, Ma.” Kataku. “Maaf ya Ma, harus ketemu Mama dalam kondisi kayak gini. Di tempat entah dimana kayak gini lagi.”

“Kata orang, bagian laut yang ini bisa nyembuhin penyakit. Penyakit apapun, dari diabetes, jantung, stroke–”

“–penyakit jiwa?”

“Ya, mungkin aja. Coba nanti kamu berenang ke tengah, Nak.”

“Kan abang nggak bisa berenang, Ma.”

“Pasti bisa. Itu kan laut yang bukan laut, air yang bukan air.” Kata Mama sambil senyum. Benar, ia Mama yang bukan Mama. Karena sudah lama aku tidak melihat Mamaku seperti itu, seperti tidak ada yang hilang, seperti tidak ada beban pikiran. 

“Lihat, semua orang sudah mulai pada pulang,” kata Mama. Sekelompok orang dengan gitar dan gendang masuk ke laut. Mereka tenggelam dan bersama tenggelamnya mereka musik menghilang. 

“Kamu bisa ikut pulang sama mereka,” kata Mama. “Kamu selalu bisa ke sini, nangis, ketawa, tenang, sedih, tapi apa yang ada di sini, jangan kamu bawa ke sana.”

Jadi ini saja? Perjalanan ini berakhir di sini, di sebuah pantai yang tidak jelas, dengan Mama yang bukan Mama. 

Dari semak-semak di pantai, seekor harimau keluar. 

“Eh, Hitler…” kata Mama. 

Harimau itu mengecil dan menjadi kucing lagi. Ia meringkuk di kaki Mama. 

“Kalau kamu nggak pulang, kasihan Mama di sana. Kasihan semua orang yang kamu tinggal. Yang di sini kan sudah kamu tinggal semua, biarin aja kita di sini. Kita nggak kemana-mana kok.”

Aku mengambil tangan Mama, dan Mama mencium keningku, membisikan sebuah mantra dan meniup keningku. Ia tersenyum lagi. Memelukku. Benar-benar bukan Mama, karena Mama dan aku tidak bisa berpelukan, ada pandemi di luar sana. Lalu aku berlari ke laut, pas ketika matahari menguak berwarna ungu, dan bulan merah tenggelam. Lalu aku menyelam, dan air berubah menjadi kata-kata. Aku menjadi orang yang sedang mengetik ini. 

Ini adalah mimpi yang bukan mimpi, dimana aku bertemu Mama yang bukan Mama, Ana yang bukan Ana, Ari, adiknya dan bapaknya yang bukan mereka. 

Lalu aku berpikir, apakah aku harus mulai packing, dan meninggalkan semua ini: kosan, komputer, mobil, kehidupanku, hanya untuk bertemu Mama yang bukan Mama, dan semua yang sudah berlalu dan tak mungkin kembali ke hidupku. Semua yang sebenarnya tidak lebih baik dari hari ini. Tapi toh sudah berlalu, dan aku bersamamu. Membawamu ke dunia itu.

Ah, sudahlah, aku pergi dulu. Aku ingin menyusuri trotoar dan mencari Hitler. Siapa tahu aku bisa menyelamatkannya sebelum ia terlindas mobil. 


Ini adalah bagian pertama dari meditasi tulis, kategori baru di eseinosa sebuah cara terapi menulis yang saya kembangkan untuk perlahan memperbaiki isi otak saya. Jika kamu suka dengan apa yang kamu baca dan ingin membaca lebih banyak cerita sureeal seperti ini, traktir saya kopi dengan menekan tombol di bawah ini:

Gender, Moral Bengkok, Politik, Racauan

Momentum Pelecehan Seksual dan Kooptasi Oposisi Politik: Dari Sitok sampai @_haye_

Nama pelaku pelecehan  yang disidang massa twitter hari ini, 1 Februari, adalah  Hasan Yahya A (@_haye_) 

Image

Hari ini seorang pelaku pelecehan seksual verbal di twitter dihakimi massa twitter lewat space: digadang, dimaki, dan dihina habis-habisan, setelah ia melecehkan seorang perempuan yang ikut diskusi di Space Twitter di malam sebelumnya. Diskusi yang diikuti adalah tentang ekspedisi, pembuatan film dokumenter, dan aktivisme lingkungan, diadakan oleh orang-orang yang sudah terkenal kritis terhadap rezim, para whistle-blower yang dianggap pahlawan oleh banyak orang. Si peleceh juga adalah orang yang cukup aktif membahas politik dan ia punya lebih dari 20 ribu follower sebagai veteran perang cuitan. 

Ada masa ketika perang cuitan butuh konsentrasi luar biasa, dari kecepatan jari, logika berpikir, dan ketajaman kata makian. Dan si peleceh ini nampaknya adalah Lord of War untuk kata-kata tidak senonoh. Ia tidak punya katup untuk mengendalikan libido dan khayalan joroknya di jagad maya, dan ia pikir semua orang adalah penonton film porno. Rekam jejaknya dalam merendahkan perempuan sudah panjang, tapi kali ini, di tengah kampanye pembelaan sebuah grup aktivis kritis atas misi ekspedisi mereka, si peleceh masuk dan bikin hancur imaji yang sudah rusak. 

Ada pola yang terlihat jelas dalam kasus pelecehan seksual yang melibatkan kelompok politis. Awalnya fokus ke korban, lama-kelamaan akan dibawa menjadi wacana untuk menjatuhkan wacana politik. Dalam kasus Sitok Srengenge dulu, korban cuma jadi pintu masuk untuk merangsek komunitas Salihara dan Gunawan Mohammad. Suara pembelaan dan pendampingan lama-lama hilang dalam makian dan tuduhan-tuduhan kepada komunitas/institusi yang membawahi si pelaku kekerasan seksual. 

Begitupun dalam banyak kasus-kasus lain. Hari ini, peleceh itu mungkin tak akan diadili sedemikian rupa kalau ia bukan bagian dari grup ekspedisi dan berceloteh di situ. Grup yang sejak minggu lalu ‘bacot-bacotan’ di twitter tentang betapa rendah mereka memberi value pada relawan dan betapa kaya nya salah satu dari mereka–konon si peleceh adalah salah satu board dari production house yang hari-hari ini jadi salah satu yang paling produktif dan jadi bagian proyek ekspedisi. Maka ketika kasus pelecehan di twitter ini meledak tadi pagi, makin hancur pula lah reputasi ‘circle’ proyek ekspedisi ini. Banyak korban-korban si peleceh mengambil momentum buat angkat suara, untuk mendukung korban terbaru. Dan ini menyediihkan.

Menyediihkan karena perlu momentum besar hingga pengadilan rakyat net ini bisa terjadi. Perlu proyek besar yang hendak digagalkan biar suara-suara terbungkam jadi keluar, padahal seharusnya satu kasus saja cukup untuk menghukum si peleceh ini. Salah satu keluhan paling menohok secara politik adalah dari Kalis Mardiasih, si mbak feminis muslimah muda favorit saya, yang menjabarkan betapa aktivisme perempuan selalu disuruh mengalah dan ditinggalkan, dibanding aktivisme-aktivisme lain. Hasilnya, lelaki-lelaki hipermaskulin yang tidak bisa mengendalikan congornya (dan anunya) ini membuat gagal proyek kawan-kawannya yang bisa jadi tulus. Menyedihkan sekali bahwa belum sampai kuartal pertama 2022, sebuah film peraih citra, dan sebuah rencana ekspedisi untuk menyelamatkan alam ternoda sampai bau sangit gara-gara satu orang. Dan seandainya misi gerakan perempuan tidak dikesampingkan, orang-orang ini takkan punya congor dan keberanian untuk melecehkan, korban bisa diminimalisir.

Ada orang-orang yang bilang,”Ini konspirasi untuk menggagalkan proyek kritis, ini semua permainan politik.”

Untuk orang-orang semacam ini saya mau bilang dengan tenang: taik lo.

Ini memang politis, tapi jangan mengkhayal ada sebuah kekuatan besar tak terlihat macam Pasukan Mawar atau BIN yang membuat sebuah konspirasi untuk membuat skandal dan menjatuhkan nama filmmaker/aktivis ini. Ini politis karena gerakan aktivismenya membunuh dirinya sendiri ketika dominasi laki-laki dan bahasa patriarki terus menerus digunakan sebagai narasi utama. Jadi tidak perlu rezim atau intel untuk bikin proyek aktivisme terliihat sangat MUNAFIK. Cukup dengan percaya sama teman tanpa recheck dan tanpa memiliki SOP mitigasi kalau kasus seperti ini terkuak. 

Politis di sini personal dan kolektif karena kasus pelecehan seksual sudah sebegitu mengkhawatirkannya hingga satu kasus saja jadi publik, banyak orang akan kesentil. Apalagi kalau kasus yang jadi publik itu dilakukan oleh seorang selebtwit yang mengaku intelektual dan sering bicara buku dan referensi. Maka belajar dari masa lalu, tidak ada salahnya mengambil momentum, tapi kita harus terus fokus pada tindakan pelecehan dan penanganan korban. Jangan sampai momentum yang diambil ini kembali menjadi ajang untuk, “tutup proyeknya, bubarkan PH-nya, cancel filmnya, hancurkan, bakar.” Sebuah proyek atau kantor yang menghidupi banyak orang, yang mengorbankan banyak hal untuk bisa survive dan membantu orang lain, ingin diluluh lantahkan karena ulah satu orang.

Sementara dalam kemarahan dan kekalapan itu, korban ditinggalkan di belakang. 

Jangan jahat. Jadilah manusiawi.

Tabik!

P.S.: Semoga semua institusi belajar untuk membuat SOP mitigasi ketika ada anggota mereka yang terlibat kasus seperti ini, jadi tidak menunda-nunda tindakan atau melakukan pembelaan-pembelaan tidak perlu. Konsolidasi dan cancel secepatnya orang itu sebelum jadi cancer buat orang banyak.


Website ini jalan dengan sumbangan. Kalau kamu suka apa yang kamu baca, boleh traktir penulisnya kopi dengan menekan tombol di bawah ini:

Moral Bengkok, Prosa

Siksa Neraka Surgawi

Selama hidup, Adam Sujanna adalah seorang mafia di tahun 80an. Ia menemukan tujuan hidupnya ini sejak umurnya 4 tahun dan suka menyiksa kucing. Di internet hari ini, haram hukumnya untuk bicara soal penyiksaan kucing, jadi metode penyiksaan kucing Adam Sujanna baiknya tidak diungkapkan di cerita ini.

Lebih menyenangkan, buat kalian yang suka film Gory, adalah cara Adm Sujanna untuk menyiksa orang dengan berbagai cara. Salah satu kitab utama, manual cara menyiksa orang adalah komik Siksa Neraka yang dibelikan orang tuanya ketika umur Adam 10 tahun dan ia sekolah di Madrasah. Adam mulai belajar untuk menyilet wajah teman sekelasnya, atau menusuk pantat teman sekelas yang lain dengan sapu karena kawannya itu feminin, sambil menuduh-nuduh si kawan sebagai kaum nabi Luth yang pezina dan homoseksual.

Adam Sujanna merawat komik siksa neraka dengan baik, karena komik itu membuat dia jadi punya karir. Kelas 2 SMP, Adam Sujanna selalu pamit sekolah tiap pagi kepada orang tuanya. Tapi ia tidak ke sekolah. Ia main di pasar dan nongkrong dengan Hendrik, tetangganya yang jadi preman/tukang parkir di sana. Hendrik tidak keberatan karena Adam bisa jadi asistennya untuk meminta setoran pada pedagang, dan Adam tidak takut berkelahi. Ia pernah memukul sampai babak belur seorang ibu tukang sayur yang tak mau bayar.

Karir Adam Sujanna meningkat pesat ketika Jimmy, seorang mafia yang punya toko emas di pasar itu melihat Adam berkelahi dengan tiga orang preman lain–salah satunya Hendrik yang mulai gagal menyuruh Adam ini-itu. Adam tanpa ragu melempar Hendrik dari lantai 2 hingga mantan bosnya itu harus dirawat dua bulan dirumah sakit karena rusuk patah dan kepala hampir pecah.

Jimmy Chen adalah salah seorang anggota triad di daerah Gajah Mada. Keluarganya punya jaringan diskotik, trafficking perempuan internasional, dan tentunya narkoba. Bisnis halal keluarganya adalah toko emas, toko elektronik, dan toko sparepart mobil. Kesemua toko untuk cuci uang atau menyeledupkan orang atau Narkoba. Pertama kali melihat Adam Sujanna, umur Jimmy baru 28 tahun, sedang Adam 16 tahun. Tanpa ragu, Jimmy mengajak Adam masuk ke lingkaran triadnya, sebagai tukang pukul. Jimmy memberikan Adam kamar di rumah keluarganya, juga memberikannya baju dan uang saku. Jimmy butuh anak semuda Adam untuk bisa masuk ke sarang musuh tanpa dicurigai. Adam Sujanna berkulit sawo matang, dengan tulang pipi menonjol dan senyum yang lebar, tidak akan pernah dikira orang gila yang sadis.

Maka ketika orang melihat cara Adam bekerja, orang langsung tahu bahwa dia gila dan sadis. Pada Perang gangster besar antara Triad China vs Ambon vs Medan di Pasar Baru tahun 1982, Adam yang cuma bersenjatakan pisau dapur kecil menggorok banyak sekali orang. Di tahun itu, Adam yang berumur 22 tahun, sudah menggorok 70an orang. Tidak ada yang tahu seperti apa wajah Adam karena tak ada yang sempat melihatnya ketika ia bekerja. Semua orang cuma tahu, dia adalah suruhan koh Jimmy, pemimpin muda Triad.

Sebagai anggota Triad, Adam harus mau ditatto. Maka di ulang tahun ke 23, setelah Triad memenangkan perang gangster dan membuat sungai pasar baru menjadi merah pekat, Adam dilantik menjadi salah seorang boss. Ia meminta Tato harimau di tangan kanan dan naga di tangan kiri, sementara di dadanya, ia minta dibuatkan tato tikus yang melubangi jantungnya cuma buat bilang bahwa ia sudah tidak punya hati. Oh, dan shionyantikus.

Sayangnya, Adam mati ditembak bulan Agustus 1983, karena tatonya. Keresahan karena preman membuat pemerintah dan polisi mengurangi jumlah populasi preman, dengan menembak siapapun orang bertato di jalanan.

Adam ditembak ketika sedang pipis di sebuah gang di Kota, di sebuah sore ketika ia menunggu Azizah, pelacur Uzbekistan yang ingin ia kawini, untuk bangun dan bekerja. Azizah menemukan Adam sekarat di depan pintu belakang gedung diskotik tempat ia tinggal, membalik kepala Adam dengan kakinya, lalu menendangnya dan meludahi laki-laki kasar yang selalu memperkosanya hampir tiap malam, memintanya terus melawan dan tidak boleh diam, tapi begitu melawan ia dipukul, tidak melawan pun ia dipukul.

“Lu tahu di neraka pelacur diapain? Pelacur itu ditusuk pake besi panas dari memek sampe keluar di mulutnya.” Kata Adam sambil memasukan sebuah pentungan besi ke vagina Azizah yang sudah meringis dan menangis dan berteriak kesakitan.

Itu satu dari banyak siksaan Adam pada Azizah. Maka melihat Adam sekarat, Azizah mengambil sebuah batu semen dekat situ dan mulai memukul kepala Adam berkali-kali, lalu menginjaknya lagi, dan meludahinya. Di situ, Adam Sujanna yang legendaris mati, bukan karena peluru panas polisi, tapi karena kaki pelacur.

*

Adam bangun di sebuah kamar mewah, yang pernah ia lihat di film-film gangster Hollywood. Ia bangun dalam pakaian tidur dari sutra, dan menemukan di sebelah tempat tidurnya sudah ada minuman berbagai macam dari jus jeruk sampai minuman-minuman mahal beralkohol. Adam berpikir apakah ini mimpi.

Ia minum beberapa gelas cognac terenak yang pernah ia rasakan. Makan roti croissant yang begitu nikmat, dan ia mandi air panas di kamar mandi yang besar dan mewah berjacuzzi. Nikmat sekali. Apa ia ada di surga? Pikirnya.

Setelah mandi ia memilih pakaian di sebuah kamar ganti dengan lemari sangat besar berisi segala jenis pakaian mewah, setelan jas, sepatu-sepatu kulit. Ia ambil setrlan jas warna putih, seperti Al Pacino di film Scarface, pikirnya.

Ia keluar dari kamar itu dan menemukan sebuah lorong besar. Di sana Koh Jimmy berdiri menantinya.

“Yok kerja, Dam.” Kata Jimmy Chen. Adam jelas heran. “Lu tahu lu dimana?”

“Ini di surga ya?” Katanya setengah bercanda.

Jimmy tersenyum. “Kebalik. Ini di neraka. Dan gua asistenlu. Gue jadi Jimmy biar kita kerja akrab aja.”

Jimmy membawa Adam berjalan di lorong dan berhenti di sebuah pintu.

“Lu masuk, terus kerjain yang biasa lu kerjain. Kalo udah selesai, nanti pintu kebuka sendiri. Lu tahu kapan lu selesai. “

Jimmy membuka pintu dan Adam masuk ke dalam. Di dalam pintu ada banyak orang yang terikat sambil berdiri, ada juga yang terbalik, dan di samping setiap mereka ada alat-alat penyiksaan. Di ujung ruangan ia melihat orang yang ia kenal diikat juga, Azizah si pelacur. Ia tertawa.

Azizah kaget melihat Adam.

“Ya, Allah! Astaghfirullah. Kenapa aku di sini! Kenapa engkau sangat tidak adil ya Allah. Adam.. Mas Adam… Ampun… Kenapa mimpi buruk ini? “

Adam mengambil batangan besi dan membakarnya. Azizah berteriak keras sambil meraung-raung.

Tuhan tak kenal keadilan, itu konsep manusia. Tuhan di cerita ini lebih parah. Tuhan di cerita ini nurut pada netizen yang request cerita di instagram, tentang surga yang adalah neraka. Maka buat Azizah dan semua orang yang akan disiksa oleh malaikat baru bernama Adam Sujanna, kalian bisa salahkan Vifick Bolang, fotografer dengan ide gila. Selamat menikmati neraka surgawi kalian.

***

Website ini berjalan dengan donasi, tidak ada iklan pop up yang akan ganggu kalian. Jika kalian suka dengan tulisan di sini, traktir yang nulis kopi hari ini biar dia bisa tetap nulis sampai mati tanpa intervensi dan di neraka nanti dia jadi juru tulis biografi para pendosa. Klik tombol di bawah untuk traktir kopi, atau scan buat traktir gopay. Makasih udah baca sampe habis.

Atau scan ini: