Moral Bengkok, Prosa

Orang-orang Chessepea

Kukira beginilah akhirnya. Daisy kini menikah dengan pria bernama Steve yang kerja sebagai salah satu insinyur di perusahaan minyak kota kami. Ironis, karena dulu aku membantu perempuan itu untuk keluar dari hubungan beracun penuh kekerasan dengan Woods–senior kami di Garden High yang waktu pacaran dengan Daisy sedang kuliah di jurusan tehnik perminyakan–padahal keluarga si Woods tidak kerja di perminyakan. Kuliah yang tidak ada hubungannya dengan bisnis keluarga adalah hal yang aneh di kota kami, dan nanti kau akan tahu kenapa.

Anak-anak mereka, Daisy dan Steve, manis-manis sekali; satu bernama Bella, satu bernama Billy. Aku benci nama-nama itu, dasar Steve kampungan. Anak ketiga mereka siapa nanti namanya? Biji?

Mereka keluarga normal yang bahagia, dalam bimbingan Kristus–sesuatu yang tak mungkin kuberikan ke Daisy karena aku Atheis. Om Jonas, ayah Daisy, juga Atheis. Ibunya Kristen yang taat. Dan ketika Daisy dalam kondisi terparahnya–terkena depresi berat karena hubungan dengan Woods, Tuhan Yesus menyelamatkannya.

Bukan dokter, bukan keluarga yang menemaninya, bukan pula aku yang berminggu-minggu menginap di rumahnya hanya untuk mengajarkannya berkomunikasi. Bukan kami. Tuhan Yesus penyelamatnya. Kami semua cuma pion-pion, menurut Daisy. Terserah. Aku turut bahagia kalau dia bahagia.

Nggak sih, aku bohong. Aku tidak bahagia kalau dia tidak bahagia bersamaku. Tapi dia tidak perlu tahu itu, toh. Dia cuma perlu tahu, semenjak dia sembuh, Woods menghilang dari kehidupannya, kami pacaran, lalu kami putus karena aku tidak mau ke gereja, aku Terima keadaan jadi sahabatnya dan keluarganya. Lagipula kota kecil tempat kami tinggal isinya orang-orang yang dekat. Aku tak mau putus lalu berpapasan dan jadi tak enak.

Tapi aku akan selalu mencintai Daisy. Dan penderitaanku, kecemburuanku yang kusembunyikan, adalah sebuah kebanggaan bahwa diam-diam aku menderita untuk dia tanpa dia tahu. Aku cuma akan terus ada di sini, di sekitarnya, hingga dia butuh aku lagi.

*

Kota kecil kami bernama Chessepea, diambil dari nama putri kepala suku asli Amerika yang menikah dengan seorang kapten kapal Spanyol. Semacam Pocahontas tapi lebih sadis, karena si putri menikah demi perjanjian tanah antara bapaknya dengan penjajah, yang beberapa minggu kemudian membantai suku asli itu—semuanya. Chessepea adalah yang terakhir dari sukunya. Nama kota tidak diganti, karena setelah pembantaian, para penjajah mendengar ditemukannya tambang emas di selatan dan semuanya pindah. Kecuali keluarga si kapten kapal dan istri lokalnya. Si kapten tidak pergi atau berlayar lagi karena ketika menikahi Chessepea umurnya sudah 76 tahun. Waktu itu Chessepea berumur 13. Mereka tidak punya anak—untungnya. Tidak ada keturunan si kapten di kota ini.

Kota berkembang karena selalu ada pendatang yang numpang lewat, rombongannya pergi, sebagian kecil tinggal. Dan terus begitu, hingga hari ini, 300 tahun kemudian. Kota ini menurutku punya daya magis yang tinggi–ya, aku Atheis yang percaya spiritualitas dan klenik— karena Chessepea seperti punya saringan orang. Mereka yang tinggal seperti keluargaku dan keluarga Daisy, adalah orang-orang yang merasa cukup. Tak banyak yang pergi dari sini atau datang dan tinggal di sini lagi seratus tahun belakangan ini. Keluargaku, keluarga Hansen, sudah di sini sejak abad 18 dan kami tak pernah pergi. Tak ada pula saudara atau sepupu yang tidak mati di sini.

Karena itu ketika Woods Bergman menghilang dari kehidupan Daisy Jonassen, bersama seluruh keluarga pemuda tukang gampar perempuan itu, seisi Chessepea cukup heboh. Sepupu-sepupu Bergman–yang namanya bukan lagi Bergman karena menikah dengan pria keluarga lain, bilang bahwa keluarga Bergman pindah karena Woods dapat beasiswa ke luar negeri. Keluarga yang tinggal disuruh menjual properti mereka dan poof, hilanglah mereka semua. Properti mereka sekarang sedang dibongkar. Katanya akan dibangun Mal di sana, dan itu keresahan baru yang membuat warga lupa akan keluarga Bergman.

Pasalnya, kami di kota ini semua punya bisnis turun temurun. Keluarga Bergman dulu terkenal dengan bisnis transportasi distribusi barang–yang kini diambil alih keluarga Schmidt, salah satu besan mereka yang punya penyamakan kulit. Keluarga Jonassen punya bisnis bangunan–hampir semua bangunan di kota kecil kami dihasilkan dari tangan om Jonas dan anak-anak buahnya. Keluarga Andrews punya peternakan dan pertanian berbagai macam sayuran. Dan banyak lagi keluarga-keluarga yang membuat kota kami cukup feodal. Sampai walikota baru kami, Samuel Schmidt, punya rencana modernisasi. Ekosistem kami jadi terganggu.

Oh iya, maaf aku lupa memperkenalkan diriku sendiri pada kalian, pembaca yang budiman. Namaku Jason Neswitt Hansen. Keluargaku turun temurun punya toko buku. Kakek dan bapakku adalah penggemar buku, khususnya buku antik cetakan pertama. Dari perdagangan buku antik inilah keluargaku tidak hanya bisa bertahan, tapi juga cukup mapan dan punya jaringan.

Kebanyakan usaha di sini adalah turun temurun, dan seperti kataku, sulit sekali untuk keluar dari zona bisnis keluarga ini karena kegaiban tadi. Aku sudah lulus kuliah di sebuah kampus ternama di New York. Tapi aku tak pernah ingin jadi New Yorker. Aku cuma ingin kembali ke kota ini dan meneruskan bisnis orang tuaku, dan kadang-kadang, makan siang dengan Daisy. Tidak jarang bersama suami dan anaknya.

Beberapa bulan belakangan ini, Daisy sering membawa temannya yang belum menikah untuk ikut makan siang dengan kami. Niatnya pasti hendak menjodohkan mereka denganku. Kadang aku jadian dengan mereka atau one night stand, tapi tak ada yang benar-benar berlanjut. Aku tak tertarik dengan perempuan lain selain Daisy. Tapi sudah lah, itu urusanku, dia tak perlu tahu.

Jadi sebagai simpulan, kota kami damai-damai saja sampai Mal dibangun. Mal akan jadi saingan industri lokal. Warga sudah protes tapi tidak digubris. Orang tuaku paling malas protes. Ibuku bilang sambil masak sarapan, “Liberalisme dan neo kapitalis ini takkan terbendung. Biarkan mereka datang karena dalam beberapa tahun ke depan mereka akan mandeg. Toh tidak mungkin ada yang jual buku antik di dalam mal.”

“Eh, siapa bilang,” Kata bapakku. “Mal bisa jadi apa saja hari ini. Kota kita ini aneh, Anak-anak harus keluar kota untuk kuliah, tapi bukannya bangun universitas, dia malah bangun Mal. Dasar Schmidt bajingan.”

“Siapa juga yang pilih dia?” Kataku. “Kenapa keluarga dia selalu jadi calon tinggal walikota?”

“Bocah, kamu lulusan media studies di NYU kenapa tidak coba jadi calon walikota untuk pemilu depan? Calon independen begitu?”

“Lah kenapa jadi aku?”

“Iya, Pap. Jason itu harusnya nikah dulu aja sebelum dia ganggu rumah tangga orang. “

“Maksud Mom?”

*

Ah, sehari-hari begini saja di kotaku. Sehari-hari aku menjaga toko buku, membaca, menulis paper atau artikel untuk media di New York, membuat blog politikku sendiri, membuat berbagai macam website, meretas situs belanja, membuat draft bukuku. Lagipula aku tak mungkin menyalahkan walikota maruk itu karena keberadaan tanah keluarga Bergman di sana adalah salahku.

Hari itu, dua minggu setelah Daisy sakit dan keluarganya melarangnya bertemu Woods, aku diam-diam menemui bajingan itu. Kuajak minum-minum sambil dia membully aku–dia selalu membully aku sejak SMA. Lalu aku keluarkan dua linting ganja. Satu untukku, satu untuk Woods.

Ganja untuk Woods adalah racikan kawanku Herbie–sesuai namanya dia kerja sebagai apoteker dan ahli herbal, keluarganya bisa kau tebak, punya apotek. Dia kawan satu band ku ketika SMA dulu. Waktu aku cerita soal Daisy, dia langsung kasih ganja itu. Isinya racun halus yang dia racik sendiri dari rekayasa genetika THC di kebun hidroponik di belakang rumahnya. Racun ini bisa membuat orang menjadi Schizophrenia lalu dementia permanen dalam beberapa jam setelah pemakaian.

Itu yang terjadi pada Woods, bukan karena ia cerdas lalu dapat beasiswa. Woods adalah lelaki satu-satunya di keluarga Bergman. Semua saudaranya perempuan. Dan keluarga itu begitu membanggakan Woods. Mereka tidak bisa membayangkan kalau orang-orang Chessepea melihat Woods jadi… Idiot.

Padahal kota ini belum punya idiot. Sayang sekali mereka pindah.

Moral Bengkok, Prosa

Three Men and A Woman

She was screaming and yelling, throwing things from upstairs

“No men in this house is a man!”

There were three men in the house: her husband and her two teenage sons. None, she said, is a man.

The three men tried to calm her down, but she got more berserk.

Some people just came last night taking the car and things from the house.

In a few weeks, the mad woman and her family must moved out.

You see, she had debts. A lot of debts. All those money were used for her underpaid husband, sons education and her altruistic lifestyle.

Three men were weak. She was the breadwinner therefore she had all the rights to be mad.

Her youngest son left, probably tried to find weed with his friends then fuck his 14 years old girlfriend.

The mad woman still screaming. Her husband went downstairs to the dining room, and just sat there, staring blankly at the window.

Backyard was green. Soothing. He planted all those trees himself. He was about to lose all of it.

The Mad woman bought the land, he built the house and the garden. He was the true man of the house, literally: he doesn’t work outside anymore since his little brother died under his watch–a heart attack, leaving two kids and a wife. He was never fortunate enough to be a successful businessman. After all, he was a simple man. He didn’t need that much money because he didn’t have a high standard of living.

And the eldest son, almost seventeen, usually lived with his uncle cuz he went to school far away from home. But at home, he always felt this darkness: the terror of debts. Loansharks. Bad business! Bad! And now they all trapped, but mad woman endure the most: her business, her debt, her land and house, and she might be arrested and nobody could do anything about it, especially three men in the house. Useless men. Financially and politically impotent.

Therefore, the oldest son, sweared he will never have debts that he don’t know how to pay. If he’d be poor, he’d rather beg for charity than asking for a loan. After all, being a beggar is simple: for beggars cannot choose.

Three men and a woman used to lived in that house. You can still hear her screaming during the twilght, if you put your ear on the wall. You can see his shadow on the garden. You can still read the first son’s cursed words beneath the paint below the stairs. And in the first floor bathroom, there’s still specks of blood from an attempted suicide of the youngest son, for the guilt after he aborted his unborn child, with his 14 years old girlfriend.

A pain like that, stays.

Prosa

Arasdiva

Dan dalam diam mereka berdua melihat ke kedalaman mata masing-masing. Aras memandang neon-neon malam kota di mata Diva, dan Diva memandang bintang-bintang langit hutan di mata Aras.

Inilah perpisahan.

Tangan mereka bergandengan di atas meja, di kafe stasiun. Kereta sudah sampai sedari tadi dan Aras sudah semestinya pergi. Lampu jingga dan suara-suara orang lalu lalang menjadi latar adegan ini. Air mata Diva mengalir dari mata kanannya. Bibir Aras gemetar. Tangan kanannya menyapu air mata, menempelkan tetesan di jarinya ke bibirnya. Merasakan asin air mata Diva.

Inilah perpisahan.

Nafas mereka berat. Seperti kali terakhir mereka bercinta di dalam mobil Diva beberapa jam yang lalu. Tapi kata sudah terucapkan, komitmen telah dibuat. Diva akan menikahi lelaki lain, dan Aras harus pergi menyelesaikan filmnya ke penjuru negeri. Peta hidup masing-masing sudah ditandai. Persinggahan sudah selesai. Perjalanan percintaan sudah berakhir.

Kenapa tidak dilanjutkan? Agar intimasi ini abadi, kata Diva. Karena hidup kita harus lebih besar dari keberadaan kita, kata Aras. Berdua sepakat, salah satu harus berangkat.

Inilah perpisahan.

Moral Bengkok, Prosa

Stephanie

Seorang yang jangkung berdiri di bawah pohon beringin pada sore ungu itu. Pakaiannya rapih, dengan jas dan celana panjang abu-abu, kemeja putih dan dasi hitam. Sepatu kulit hitamnya mengkilap tersemir dengan baik dan dengan diam ia memandang ke arah anak-anak yang sedang bermain di taman kota itu.

Stephanie, seorang perempuan berusia 45 tahun, sedang membaca sebuah novel karangan Henry Miller di bangku taman, dan ia melihat si jangkung berdiri bagai patung. Orang itu ada di sana sejak sebelum Stephanie tiba, dan ketika satu bab setengah selesai ia baca, si jangkung masih di sana. Berdiri. Sendiri. Mematung. Memandang ke arah anak-anak.

Stephanie berpikir, apakah dia seorang pedofil?

Ketika langit mulai gelap, anak-anak pulang ke rumah masing- masing Beberapa dijemput orang tua mereka. Namun si jangkung tidak bergeming, ia masih berdiri, sendiri, di bawah pohon beringin di tepi taman itu, melihat ke arah taman bermain yang kini kosong.

Stephanie berdiri dari bangkunya lalu hendak berjalan pulang. Taman sudah sangat sepi, dan langit semakin mendung. Stephanie melihat jam di tangannya, pukul 5:25 sore. Namun begitu ia menjejakkan kaki ke luar taman, tiba-tiba sore menjadi malam.

Stephanie tak tahu, apa yang membuat bulu kuduknya tiba-tiba merinding dan menoleh ke belakang: orang jangkung itu berjalan tepat di belakangnya. Ini tidak baik, memang si jangkung masih jauh, tapi ada rasa takut yang amat sangat karena diikuti orang asing yang mencurigakan.

Tenang, katanya di dalam hati. Ia akan melewatimu begitu saja. Kau harus tenang.

Tiba-tiba ia mendengar tapak yang keras, ia menoleh ke belakang dan si jangkung berlari dengan sangat cepat ke arahnya, matanya melotot dan ia berteriak:

“AAAAARRRGHHHHHH!!!”

Stephanie sontak kaget dan berlari. Ia berlari sekencang-kencangnya. Ia sangat takut. Ia tahu ia tak mungkin lari dari orang sejangkung itu, kakinya pasti panjang, sementara Stephani bertubuh gempal dan berat.

*

Suaminya meninggalkannya dua tahun lalu, dan ia hanya tinggal berdua dengan anjingnya, Motty, yang mati tua lima minggu lalu. Ia sedih, depresi dan ingin bunuh diri. Ia tidak pernah bisa tidur tanpa obat. Namun, ia tidak pernah setakut ini. Bukan takut mati tapi lebih menakutkan dari mati. Ia takut pada ketiba-tibaan. Ia takut pada ketidakpastian. Dan semua serba tidak pasti untuk Stephanie. Dan ketiba-tibaan, bisa datang bahkan dengan persiapan.

Ketika suaminya menceraikannya, ia sudah merasa ada yang tidak beres dengan perkawinannya bertahun-tahun sebelumnya, ia tidak marah ketika ia memergoki suaminya, Danny, pria berusia 56 tahun, berselingkuh di rumah mereka dengan pembantunya, Lucia, seorang imigran Columbia berusia 54, lebih tua dari Stephanie namun lebih ramping dan eksotis. Ketika vonis ceraipun ia tidak marah. Suaminya pindah dari rumah mereka dan ia hanya tinggal dengan Motty. Anak mereka, Sophie tinggal di Jepang. ia hanya mengirim email layaknya kawan lama, semoga Poppy dan Mommynya menemukan kebahagiaan setelah berpisah.

Hanya setelah Motty meninggal, ia mulai merasa ada yang aneh di rumahnya, khususnya setiap jam 5 sore. Dinding di rumah sering ada yang mengetuk, dan itu sangat tidak masuk akal karena seringkali ketukan itu berasal dari ruangan lain di rumah, seperti ruang cuci di sebelah kamar tidur, atau dari dalam tembok kamar mandi, atau dari ruang tamu. Semua ruang itu kosong. Stephanie berpikir, ketukan-ketukan itu mungkin karena ia kesepian. Kesepian menggerogoti dirinya sedemikian rupa sampai ia hampir gila. Setiap hari, jam 5 sore, ketukan mengikutinya kemanapun ia berjalan di rumahnya sendiri. Kadang ia berpikir apakah itu hantu Motty yang mengajaknya jalan sore?

Ketukan terus berlangsung sampai jam 7:30. Begitu setiap hari.

Maka Stephanie memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah setiap ia pulang kantor jam 4 sore. Ia akan duduk di taman beberapa blok dari rumah, dan membaca sambil memperhatikan orang-orang di taman. Melihat mereka yang membawa anak-anak kaki dua dan anak-anak kaki empat mereka. Sekelompok remaja bermain skateboard di pinggir taman, di bagian berlantai beton, dan pasangan muda pulang kerja bersama, duduk bermesraan di rerumputan. Stephanie berencana mengadopsi anjing lagi, tapi nanti setelah ia bisa melepaskan Motty. Setelah suara ketukan di rumahnya hilang.

**

Si jangkung berlari mengejarnya. Stephani panik, jalanan sangat kosong. Tidak ada seorang pun yang bisa ia mintai tolong. Ia begitu panik berlari, bernafaspun jadi sulit. Tubuhnya berat, jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa sampai ubun-ubun. Di depan adalah perempatan dengan zebra cross dan lampu penyebrangan.

Lampu jalan di zebra cross menunjukkan warna merah. Ia tidak boleh menyebrang. Tapi ia begitu takut. Ia harus berani menerobos lampu merah. Ia harus berani kalau ia tidak mau tertangkap si jangkung. Tapi ia takut, kalau ia menerobos, ia bisa tertabrak kendaraan. Aih, tidak sempat berpikir semacam itu. Ia akan menyebrang. Ia terus berlari.

Sial! Si jangkung dekat sekali di belakangnya! Ia bisa merasakan nafasnya di tengkuk leher! Ia akan tertangkap! Ia akan mati! Tidak, lebih buruk! Ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya!

Tiba-tiba si jangkung menyalipnya, berlari di depannya dan wajahnya menengok ke belakang. Ia kurus tirus, berkulit pucat, matanya begitu besar, dan ia tersenyum pada Stephanie begitu lebar, giginya yang kuning terlihat jelas dalam seringai itu. Ia memutar badannya ke hadapan Stephanie, namun ia masih berlari sangat cepat, berlari terbalik. Stephanie kaget setengah mati, namun ia terus berlari, kini seperti ia yang mengejar si jangkung. Si jangkung melewati trotoar dan berdiri di tengah jalan, sementara Stephanie berhenti, karena lampu penyebrangan masih merah. Si jangkung melebarkan kedua tangannya.

Tiba-tiba sebuah bus lewat dan menabraknya. Si jangkung terpelanting entah ke arah mana, dan bus berhenti mendadak. Terdengar teriakan penumpang, dan darah yang muncrat di jendela bus membuat para penumpang histeris. Apalagi sebuah mobil yang jalan di belakang bus juga kaget, dan ikut menabrak bagian belakang bus.

Stephanie kaget bukan kepalang, karena orang yang ia takuti, ternyata orang gila yang hendak bunuh diri. Masyarakat sekitar mulai datang dan mengerubungi tempat kecelakaan. Memang, manusia dan konflik seperti lalat dengan tahik, kata Stephanie dalam hati, entah yang mana yang lalat, yang mana yang tahik.

Degup jantung Stephanie begitu kerasnya. Ia hendak kabur dari TKP. Ia tidak ingin jadi saksi di pengadilan nanti. Ia tidak punya waktu. setiap hari di rumah, ia sudah sibuk bekerja menjadi konsultan finansial freelance, membuat rencana keuangan klien-kliennya, dan membuat desain investasi. Di kantor pun, bebannya sebagai CFO sangat besar pula. Ia tidak punya waktu untuk konflik. Untuk konflik dengan suaminya, atau untuk menangisi anjingnya saja, ia tak punya waktu. Apalagi untuk ke pengadilan bersaksi untuk kematian orang asing.

Stephanie berjalan pulang menuju rumahnya melalui blok lain, lebh jauh tapi lebih aman dari televisi yang lebih cepat datang daripada polisi. Namun sepanjang jalan, ia mendengar ketukan. ketukan yang persis sama seperti di dinding rumahnya. Namun kali ini, di sepanjang jalan pulang, tidak ada tembok duplex, hanya ada pekarangan orang di pinggir trotoar.

Suara ketukan itu semakin keras seakan-akan ada dinding di sepanjang jalan pulang. Dinding imajiner. Stephanie resmi merasa gila. Tapi ia tidak tahu bagaimana menerimanya.

Stephanie sampai ke rumahnya, dan ketukan itu semakin keras. Ia tutup pintu rumah dan ketukan di dinding tetap ada, pindah dari luar ke dalam. Stephanie yang kesal mulai memukul-mukul dinding tempat suara itu berasal. Ia mengambil palu di gudang lalu mulai membobok tembok dinding ruang tamunya, kamarnya, kamar mandinya–tentunya semua kosong melompong. Namun suara ketukan semakin kuat.

Stephanie menutup telinganya, namun suara ketukan tidak hilang malah semakin keras.

“Duk duk…duk.. duk…. dug dub…duk dub….”

Ia menangis… ia meraung… ia menjambak rambutnya lalu berlari ke lemari obat. Ia ambil antidepressan dan obat tidurnya. Ia minum sebanyak yang ia bisa, lalu ia menelentangkan dirinya di tempat tidur. Ia mual. Kepalanya sakit. Dan perlahan suara ketukan yang semakin kencang, semakin dekat ke telinganya, ke tengah kepalanya, lalu pelan-pelan turun ke dadanya. Dadanya sesak dan sakit seakan mau pecah. Dan di situlah ia melihat seorang yang kurus kering dan jangkung, matanya besar, senyumnya lebar berdiri menatapnya. Orang itu yang tadi sore bunuh diri di depannya, tapi kali ini orang itu memakai baju yang sama seperti Stephanie, rambutnya, model dan warnanya sama seperti rambut Stephanie, dan ia memukul-mukul dada Stephanie seperti seorang kelaparan yang menggedor pintu sebuah rumah untuk minta makanan. Ia berteriak:

“Ini aku! Aku Stephanie! Buka pintu hatimu! Ini aku! Bukaaa!!!”

Dan dengan setiap pukulan ke dada, Stephanie bisa merasakan suara hatinya yang kelaparan. Suara hati yang pelan-pelan membunuhnya karena tidak pernah ia dengarkan.