Moral Bengkok, Prosa

Siksa Neraka Surgawi

Selama hidup, Adam Sujanna adalah seorang mafia di tahun 80an. Ia menemukan tujuan hidupnya ini sejak umurnya 4 tahun dan suka menyiksa kucing. Di internet hari ini, haram hukumnya untuk bicara soal penyiksaan kucing, jadi metode penyiksaan kucing Adam Sujanna baiknya tidak diungkapkan di cerita ini.

Lebih menyenangkan, buat kalian yang suka film Gory, adalah cara Adm Sujanna untuk menyiksa orang dengan berbagai cara. Salah satu kitab utama, manual cara menyiksa orang adalah komik Siksa Neraka yang dibelikan orang tuanya ketika umur Adam 10 tahun dan ia sekolah di Madrasah. Adam mulai belajar untuk menyilet wajah teman sekelasnya, atau menusuk pantat teman sekelas yang lain dengan sapu karena kawannya itu feminin, sambil menuduh-nuduh si kawan sebagai kaum nabi Luth yang pezina dan homoseksual.

Adam Sujanna merawat komik siksa neraka dengan baik, karena komik itu membuat dia jadi punya karir. Kelas 2 SMP, Adam Sujanna selalu pamit sekolah tiap pagi kepada orang tuanya. Tapi ia tidak ke sekolah. Ia main di pasar dan nongkrong dengan Hendrik, tetangganya yang jadi preman/tukang parkir di sana. Hendrik tidak keberatan karena Adam bisa jadi asistennya untuk meminta setoran pada pedagang, dan Adam tidak takut berkelahi. Ia pernah memukul sampai babak belur seorang ibu tukang sayur yang tak mau bayar.

Karir Adam Sujanna meningkat pesat ketika Jimmy, seorang mafia yang punya toko emas di pasar itu melihat Adam berkelahi dengan tiga orang preman lain–salah satunya Hendrik yang mulai gagal menyuruh Adam ini-itu. Adam tanpa ragu melempar Hendrik dari lantai 2 hingga mantan bosnya itu harus dirawat dua bulan dirumah sakit karena rusuk patah dan kepala hampir pecah.

Jimmy Chen adalah salah seorang anggota triad di daerah Gajah Mada. Keluarganya punya jaringan diskotik, trafficking perempuan internasional, dan tentunya narkoba. Bisnis halal keluarganya adalah toko emas, toko elektronik, dan toko sparepart mobil. Kesemua toko untuk cuci uang atau menyeledupkan orang atau Narkoba. Pertama kali melihat Adam Sujanna, umur Jimmy baru 28 tahun, sedang Adam 16 tahun. Tanpa ragu, Jimmy mengajak Adam masuk ke lingkaran triadnya, sebagai tukang pukul. Jimmy memberikan Adam kamar di rumah keluarganya, juga memberikannya baju dan uang saku. Jimmy butuh anak semuda Adam untuk bisa masuk ke sarang musuh tanpa dicurigai. Adam Sujanna berkulit sawo matang, dengan tulang pipi menonjol dan senyum yang lebar, tidak akan pernah dikira orang gila yang sadis.

Maka ketika orang melihat cara Adam bekerja, orang langsung tahu bahwa dia gila dan sadis. Pada Perang gangster besar antara Triad China vs Ambon vs Medan di Pasar Baru tahun 1982, Adam yang cuma bersenjatakan pisau dapur kecil menggorok banyak sekali orang. Di tahun itu, Adam yang berumur 22 tahun, sudah menggorok 70an orang. Tidak ada yang tahu seperti apa wajah Adam karena tak ada yang sempat melihatnya ketika ia bekerja. Semua orang cuma tahu, dia adalah suruhan koh Jimmy, pemimpin muda Triad.

Sebagai anggota Triad, Adam harus mau ditatto. Maka di ulang tahun ke 23, setelah Triad memenangkan perang gangster dan membuat sungai pasar baru menjadi merah pekat, Adam dilantik menjadi salah seorang boss. Ia meminta Tato harimau di tangan kanan dan naga di tangan kiri, sementara di dadanya, ia minta dibuatkan tato tikus yang melubangi jantungnya cuma buat bilang bahwa ia sudah tidak punya hati. Oh, dan shionyantikus.

Sayangnya, Adam mati ditembak bulan Agustus 1983, karena tatonya. Keresahan karena preman membuat pemerintah dan polisi mengurangi jumlah populasi preman, dengan menembak siapapun orang bertato di jalanan.

Adam ditembak ketika sedang pipis di sebuah gang di Kota, di sebuah sore ketika ia menunggu Azizah, pelacur Uzbekistan yang ingin ia kawini, untuk bangun dan bekerja. Azizah menemukan Adam sekarat di depan pintu belakang gedung diskotik tempat ia tinggal, membalik kepala Adam dengan kakinya, lalu menendangnya dan meludahi laki-laki kasar yang selalu memperkosanya hampir tiap malam, memintanya terus melawan dan tidak boleh diam, tapi begitu melawan ia dipukul, tidak melawan pun ia dipukul.

“Lu tahu di neraka pelacur diapain? Pelacur itu ditusuk pake besi panas dari memek sampe keluar di mulutnya.” Kata Adam sambil memasukan sebuah pentungan besi ke vagina Azizah yang sudah meringis dan menangis dan berteriak kesakitan.

Itu satu dari banyak siksaan Adam pada Azizah. Maka melihat Adam sekarat, Azizah mengambil sebuah batu semen dekat situ dan mulai memukul kepala Adam berkali-kali, lalu menginjaknya lagi, dan meludahinya. Di situ, Adam Sujanna yang legendaris mati, bukan karena peluru panas polisi, tapi karena kaki pelacur.

*

Adam bangun di sebuah kamar mewah, yang pernah ia lihat di film-film gangster Hollywood. Ia bangun dalam pakaian tidur dari sutra, dan menemukan di sebelah tempat tidurnya sudah ada minuman berbagai macam dari jus jeruk sampai minuman-minuman mahal beralkohol. Adam berpikir apakah ini mimpi.

Ia minum beberapa gelas cognac terenak yang pernah ia rasakan. Makan roti croissant yang begitu nikmat, dan ia mandi air panas di kamar mandi yang besar dan mewah berjacuzzi. Nikmat sekali. Apa ia ada di surga? Pikirnya.

Setelah mandi ia memilih pakaian di sebuah kamar ganti dengan lemari sangat besar berisi segala jenis pakaian mewah, setelan jas, sepatu-sepatu kulit. Ia ambil setrlan jas warna putih, seperti Al Pacino di film Scarface, pikirnya.

Ia keluar dari kamar itu dan menemukan sebuah lorong besar. Di sana Koh Jimmy berdiri menantinya.

“Yok kerja, Dam.” Kata Jimmy Chen. Adam jelas heran. “Lu tahu lu dimana?”

“Ini di surga ya?” Katanya setengah bercanda.

Jimmy tersenyum. “Kebalik. Ini di neraka. Dan gua asistenlu. Gue jadi Jimmy biar kita kerja akrab aja.”

Jimmy membawa Adam berjalan di lorong dan berhenti di sebuah pintu.

“Lu masuk, terus kerjain yang biasa lu kerjain. Kalo udah selesai, nanti pintu kebuka sendiri. Lu tahu kapan lu selesai. “

Jimmy membuka pintu dan Adam masuk ke dalam. Di dalam pintu ada banyak orang yang terikat sambil berdiri, ada juga yang terbalik, dan di samping setiap mereka ada alat-alat penyiksaan. Di ujung ruangan ia melihat orang yang ia kenal diikat juga, Azizah si pelacur. Ia tertawa.

Azizah kaget melihat Adam.

“Ya, Allah! Astaghfirullah. Kenapa aku di sini! Kenapa engkau sangat tidak adil ya Allah. Adam.. Mas Adam… Ampun… Kenapa mimpi buruk ini? “

Adam mengambil batangan besi dan membakarnya. Azizah berteriak keras sambil meraung-raung.

Tuhan tak kenal keadilan, itu konsep manusia. Tuhan di cerita ini lebih parah. Tuhan di cerita ini nurut pada netizen yang request cerita di instagram, tentang surga yang adalah neraka. Maka buat Azizah dan semua orang yang akan disiksa oleh malaikat baru bernama Adam Sujanna, kalian bisa salahkan Vifick Bolang, fotografer dengan ide gila. Selamat menikmati neraka surgawi kalian.

***

Website ini berjalan dengan donasi, tidak ada iklan pop up yang akan ganggu kalian. Jika kalian suka dengan tulisan di sini, traktir yang nulis kopi hari ini biar dia bisa tetap nulis sampai mati tanpa intervensi dan di neraka nanti dia jadi juru tulis biografi para pendosa. Klik tombol di bawah untuk traktir kopi, atau scan buat traktir gopay. Makasih udah baca sampe habis.

Atau scan ini:

Prosa, Tarung Rahwana

Tarung Rahwana (Part III)

RAMA
JIWA TAK LEBIH DARI PARASIT

“Gue mau nawarin elo kerjaan,” kata pemuda usia belasan bertubuh kekar itu kepada Rama ketika ia membereskan barang-barangnya di kamar ganti sebuah rumah mewah di Bintaro. Ia baru saja selesai bertarung di basement rumah itu, rumah milik seorang pemilik perusahaan minyak global. “Gue Robby,” kata anak lelaki berusia sekitar 20 tahun, berambut cepak dan berbadan agak gempal itu, seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

“Gue tahu lu siapa,” kata Rama. “Gue nggak tertarik jadi bodyguard lu di sekolah.”

Robby tertawa. Rama tersenyum tipis. Ia tahu kalau ada penonton yang terkagum padanya dan sedikit takut. Karena malam itu, Rama baru saja mematahkan rahang lawannya di dalam ring. Robby ada di bangku ekslusif bersama pemilik rumah, yang bisa melihat langsung pertarungan sekaligus ditonton para penonton. ‘Anak pak bos,’ pikir Rama.

“Anjing lo,” kata Robby. “Gue nggak butuh dilindungin. Gue serius nawarin lo kerjaan, jadi security acara bokap gue. Gue butuh orang kayak lo yang siap berantem tangan kosong kalau-kalau ada apa-apa. Gue bayar DP sekarang 20 juta, sisanya 30 juta setelah acara kelar. Dua hari di Karibia, sekalian lo liburan dari semua ini.”

Rama menutup retsleting di backpack berisi celana pertarungan, handuk berdarah dan P3K.

“Tanya manajer gue si Yuda.”

“Udah, dia bilang langsung ke elo aja.”

“Kapan?”

“Minggu depan lo jalan. Kalo lo tertarik gue kirim tiketnya.”

“Kenapa gue? Dan apa yang lo takutin bakal nyerang di pulau itu?”

“Ya karena lo jago lah. Ini pulau pribadi, harusnya sih ga ada apa-apa. Tapi ini pertemuan klub penting. Klub spiritual bokap. Isinya orang penting dan rahasia semua. Gue udah ngomong sama manajer tarung katanya elu juga orang yang banyak rahasia dan nggak banyak cincong. Cocoklah.”

Rama menghela nafas. Mungkin perlu juga istirahat dari semua ini.

“60 juta, DP 50 persen.” kata Rama.

“Deal.”

“Dan itu belum termasuk bagian si Yuda.”

*

Perjalanan ke Pulau St. Barthelemy memakan waktu seharian. Dari bandara Halim Perdana Kusuma, ada pesawat langsung ke St. Barth, perjalanan sekitar 16 jam. Setelah itu naik sebuah shuttle kecil selama dua jam dan sampai lah Rama ke villa yang dimaksud. Di atas gerbangnya tertulis, “Paradiso Perduto.”

Rama sampai di villa Perduto sendirian, karena Yuda tidak boleh ikut. Tiket hanya untuk mereka yang bekerja. Di villa, Rama disambut Albert, seorang kepala pelayan berkulit hitam yang langsung membawa Rama ke belakang rumah, menuju ke satu rumah untuk para pelayan dan para sekuriti, baik pegawai tetap ataupun pegawai sewaan. Tamu-tamu belum ada yang datang di villa itu.

Villa itu sangat luas, Rama dan Albert harus naik mobil golf menuju ke villa para pelayan. Sepanjang perjalanan, Rama melihat lapangan golf, taman, dan tempat landasan helikopter. Ya, tentu saja, para orang kaya ini tidak akan memakai pesawat komersil dan bersusah-susah transit dan ganti-ganti kendaraan.

“Mereka akan naik helikopter semua, pak Albert?” tanya Rama. Dalam hatinya ia bertanya, dari mana ia mulai bekerja, apakah semenjak orang-orang itu turun dari helikopter?

“Sekitar dua kilo dari sini,” kata Albert, “ada pangkalan untuk landasan pesawat jet pribadi. Kebanyakan akan dari situ. Landasan ini cuma untuk Pak Win, keluarga, dan… sahabat terdekat mereka.”

Pak Win adalah bapaknya si Robby, pemilik semua ini, termasuk rumah megah di Bintaro tempat Rama bertarung seminggu lalu.

Rama sampai di villa dan turun bersama Albert. Ia ditunjukkan ke sebuah kamar dengan empat tempat tidur bertingkat. Di kamar itu sudah ada tiga orang lain.

“Ini kamar untuk sekuriti bayaran.” Kata Albert. “Mari saya perkenalkan:

“Yang menjadi kepala sekuriti outsource ini adalah bu Annie,” ia menunjuk ke seorang perempuan yang berambut segi, dan bibir kiri atasnya berbekas luka seperti operasi sumbing. Wajahnya mirip dengan artis Indonesia lama, Yati Octavia, di masa mudanya. Ia memakai kaos abu-abu dengan celana pendek, sedang duduk di pinggir jendela sambil merokok.

“Dan seperti yang sudah saya brief sebelum-sebelum ini,” lanjut Abert,” yang boleh merokok di dalam villa pelayan ini hanya bu Annie.” Annie menghembuskan asap rokoknya ke luar jendela.

“Lalu ada Zack,” Albert menunjuk sebuah ranjang di kanan bawah, nampak seorang lelaki botak sedang tidur menghadap tembok. “Dia ahli senjata di sini, kamu bisa meminta senjata kepadanya nanti. Lemari senjata akan ditunjukkan nanti olehnya.”

“Dan ada Garcia,” kata Albert. “Garcia adalah ahli keamanan cyber, dan akan berkerja jadi koordinator komunikasi kalian di ruang kontrol. Selain kalian, kita juga punya 30 orang sekuriti pekerja tetap, kepalanya bernama pak Juan. Nanti malam ketika briefing kalian akan bertemu dia.” Garcia main HP di tempat tidur kiri atas, ia memakai headset dan tak menyadari kehadiran Rama dan pak Albert di situ.

“Semuanya, ini Rama. Dia bawaan tuan muda kita.”

“Silahkan jalan-jalan di sekitar villa ini, bawa selalu nametag ini supaya kamu tidak dikira penyusup.” Setelah memberikan nametag, Albert keluar dari kamar.

Rama menaruh ranselnya di tempat tidur.

“Laci kamu ada di nomor 4,” kata Annie dengan bahasa Indonesia tanpa melihat ke Rama, hanya menunjuk ke sebuah lemari besar dengan empat laci yang sudah dinomori.

Annie mematikan rokoknya. Ia mengambil sepatu lari dari bawah kursinya dan memakainya. Ia berdiri, tubuhnya kekar dan berisi, kausnya nampak kekecilan menunjukkan otot dan lekukan tubuhnya.

“Kamu bawa sepatu lari?”

“Nggak, mbak.” kata Rama sambil melihat sepati conversenya.

“Ya sudah, pakai saja sepatu itu. kalau kamu tidak bawa baju lain selain yang kamu pakai, temani saya lari sekarang saja.”

Rama bengong, Annie sudah beranjak keluar kamar, lalu kepalanya mendongak lagi ke dalam.

That’s an order. I need to brief you.

Rama menyusulnya.

**

Rama berlari di samping Annie dan ia merasa perempuan itu mengagumkan dalam cara yang lumayan mengerikan. Selain codet di bibir atasnya yang semakin dilihat dekat semakin terlihat bukan karena operasi sumbing tapi karena robek pertarungan, nafasnya ketika berlari sangat stabil. Sepatu kulit Rama sangat tidak nyaman untuk dipakai berlari, tapi ia tetap berusaha mengejar Annie.

“Saya minta pada Robby untuk dicarikan seorang petarung tangan kosong, ” kata Annie. “Kamu akan menyamar menjadi salah satu tamu. Tapi sebelumnya… “

Annie berhenti di sebuah lapangan rumput. “Buka sepatu dan pakaianmu, kita pemanasan sedikit.”

Rama melepas sepatunya, dan ketika ia memasang kuda-kuda, Tiba-tiba tendangan Annie mendarat di dadanya. Ia terlempar ke belakang namun secara refleks, membuat kuda-kuda hingga tidak jatuh. Ilmu pernafasan yang ia pelajari sejak umur 3 tahun tidak percuma: ia bisa membuat bagian tubuh manapun menjadi keras dengan oksigen dan udara, dan instingnya sudah terlatih mendeteksi serangan.

Tidak banyak omong, Annie langsung menyerang dengan kecepatan yang luar biasa. Dan tidak seperti film-film yang koreografinya jelas, pertarungan Annie dan Rama sangat brutal: banyak pukulan Annie yang masuk ke wajah dan tubuh Rama, dan seperti biasa, Rama tidak menyerang dulu sampai ia paham kelemahan lawan. Masalahnya, Rama tidak berhasil melihat kelemahan itu.

Rama berpikir, dengan serangan seintens ini, Annie akan lelah dengan sendirinya. Ia salah, sudah hampir lima menit, dan Annie sama sekali tidak mengurangi kecepatan dan kekuatannya. Rama melihat orang-orang mulai berkumpul melihat sparing mereka.

Setiap hantaman terasa begitu menyakitkan dan pada akhirnya Rama yang roboh. Rama heran, ia belum pernah roboh sebelumnya. Rama selalu berhasil bertahan dan menang karena stamuna dan endurance-nya yang luar biasa. Ia heran kenapa kali ini ia seperti lumpuh, tubuhnya tidak menurut. Ia tiba-tiba roboh tidak bisa bergerak, lalu dibopong ke kamar.

Ketika ia dibopong, Rama berpikir kenapa Annie, kepala keamanan acara ini, menyakitinya sedemikian rupa? Apa salah dia? Apakah ia hanya ingin dipermalukan?

“Don’t worry, bruh, ” Kata Garcia yang membopongnya. “It’s gonna get better. Trust me.”

Dan perlahan kesadaran Rama hilang, ia terlelap.

***

Rama bangun di tempat tidur bawah di kamarnya karena dengkuran seseorang. Zack, si ahli senjata tidur di atasnya. Sementara di tempat tidur lain ada Garcia di tempat tidur atas, sementara tempat tidur bawahnya kosong. Tempat tidur Annie.

Rama sudah lama sekali tidak tidur senyenyak itu. Tanpa mimpi, tanpa gangguan apapun. Dan ia bangun dengan sangat segar. Rasanya, tubuhnua ringan sekali. Tapi ia bau, dan ia tidak suka bau. Ia bangun dan mengambil handuk di tasnya lalu beranjak ke kamar mandi.

Di kamar mandi yang besar dengan barisan shower itu, air hangat mengucur mengaliri tubuh Rama dan kulit gelapnya. Rama memperhatikan bekas-bekas pukulan Annie yang anehnya ada di titik-titik tertentu di dada kiri, kanan, tengah, punggung, kaki bagian belakang, tengkuk. Ia teman-teman bagian dengan darah beku itu dan tidak terasa sakit sama sekali. Ia seperti habis diterapi.

“Aliran Chi kamu banyak penyumbatan, ” Suara perempuan terdengar diantara uap-uap air. Annie masuk dengan tubuhnya yang kekar dan telanjang. Ada bekas-bekas luka di sekujur tubuhnya. “Jangan pernah membiarkan luka membusuk terlalu lama.”

Annie mandi dengan cuek di sebelah Rama, seperti dia tidak ada. Setelah apa yang terjadi, Rama tidak berani melihat kepadanya. “Apa yang kamu lakukan padaku tadi?” Tanya Rama.

“Aku nggak mau mempertaruhkan nyawaku sama orang sakit. Paling nggak, sekarang urusanmu tinggal trauma mental saja. Fisik sudah kubereskan. “

Ia selesai mandi dengan cepat dan pergi begitu saja, meninggalkan Rama di kamar mandi, dalam ereksi.

Bersambung…

Jika kamu suka yang kamu baca, boleh traktir saya kopi biar saya tetap semangat menulis dan bisa menyelesaikan cerita ini.

Moral Bengkok, Prosa

Elegi & Selebrasi Kota Pandemi

Sebuah cerita berantai dari MalesBelajar Group, bagian Malesbaca Podcast.

Jalanan Jakarta akhirnya mulai sepi, setelah orang-orang pada mati. Harus banyak tragedi untuk mengerti, bahwa segala yang terjadi bukan lagi teka-teki. Jelas sudah, semua ini takkan pernah sama lagi. 

Sebagian orang berkabung tak berujung, misalnya, mereka yang takkan pernah sempat lagi memanggil “Ayah” atau “Bunda” kepada setiap wajah yang terlalu sibuk menyelamatkan, sampai tak sempat menjeda atau kembali pada anak-anaknya. Tapi, untuk setiap elegi, selalu hadir selebrasi tersembunyi. “Tahun depan kita nikah ya, istri dan anakku sudah dikubur di Rorotan tadi pagi,” kata seorang lelaki pada kasihnya di video call. 

Namun bagi mereka yang ditinggalkan, semua hancur sudah, tak ada kesempatan. Hanya kata ‘seandainya’ yang sudah tak bermakna apapun lagi di situasi ini. Luka-luka yang tak terlihat hanya bisa dirasakan perih pedih, air mata saja bahkan tak bisa menggantikan sakitnya. 

Dan untuk mereka yang bertahan di tengah kemelut sunyi, di bawah lampu merah hidup terus berjalan. Rudi, misalnya. Ia adalah pedagang kemoceng dadakan. Baru kemarin lusa ia diusir dari perempatan – dua kilometer arah ke kota. Mobil sebesar rumah dan tameng sebesar pintu menepuk pundaknya, meminta lahan dia sehari-hari berjualan untuk dijadikan salah satu titik pertahanan. 

“Apakah tempat tinggal orang-orang makin kotor karena semakin dihuni, ya?” 

Satu dari sekian banyak pikiran yang dipersilahkan Rudi berdesir sembari ia menunggu lampu kembali merah.

Sementara di bawah lampu merah, tikus got hingga tikus dalam rumah megah, semua ketakutan. Sang tudung hitam membawa sabit berkeliling melaksanakan tugasnya, menghabisi mereka yang memang sudah waktunya. Di hari-hari ini, ia pun lelah bekerja.

Mau di got ataupun istana, mau bodoh ataupun pintar, mau pelacur ataupun pelanggan, kita semua hanya tikus yang menunggu giliran: untuk kerja, kawin, beranakpinak, dan hari ini, jadi eksperimen test reaktif-nonreaktif; positif-negatif, dan berbagai macam vaksin.

Ada sampel darah yang tercecer pecah, di jalan, di rumah ibadah. Orang-orang sibuk, mencoba menyeka yang bisa mereka seka. Namun apa yang lebih sia-sia dari merasa bisa? Arogan.

Di sayup raung ambulan, ada bocah yang duduk tenang menonton televisi. Ia memicing mata, meyakinkan diri kalau wajah yang asik berbicara dalam layar pernah ia temui sebelumnya.

“Buk, itu bosnya Bapak kan?” 

Ibunya tidak menjawab, namun matanya sembab.

“Buk, Ibuk kenapa?”

Mata ibu nanar. Ada hal-hal yang tak ingin ia beritahu kepada Rico, anaknya. 

“Yang mencintai saya duduk sendiri menjelang pukul dua belas malam di ruang tamu.” Katanya hantu itu memperhatikan kekasihnya.

“Ia lelah, namun waktu begini bukan lagi hal yang bisa sering ia nikmati. Galau. Begitu tebal. Begitu khas masa muda. Tidur boleh menunggunya beberapa jenak lagi.” 

“Saya memandangnya dari tempat gelap di luar jendela sejak pukul delapan. Satu jam sebelum anak pertamanya Rico tertidur, satu setengah jam sebelum anak keduanya, Sheila, yang berumur setengah tahun terbangun dan menangis selama setengah jam.” 

“Kini semua telah tertidur, begitu pula Henry, bayi besar yang ia nikahi tiga tahun lalu, yang membelikannya gawai yang tengah kugenggam ini sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke 27 tahun.” 

“Ucapan inalillahi berkali-kali menggetarkan gawai yang kucuri ini. Kabar tentang kematianku tak boleh menunda tidurnya lagi. Mencuri gawai semalaman takkan menjadikanku pencuri. Lagi pula siapa yang mau mengadili hantu? Hantu baru sepertiku pula.”

Si hantu mencuri gawai kekasihnya. 

Ibu tak akan pernah lagi mau melihat gawainya pula. Sebuah pencurian langsung gagal, ketika pemiik barang sudah tak sudi melihat barang yang tercuri. Ibu terus menatap nanar ke arah televisi–bukan, ke sesuatu yang jauh, seperti menembus televisi, tembok, perkampungan dan beton-beton Jakarta.

Setiap kali wajah ibu tengadah, langit mendunglah yang ia lihat.  Saat itu Desember dan hujan selalu turun dengan deras.  Di mana-mana kau bisa melihat air.  Jika sedang tidak hujan, air menggenang di  mana-mana.  Jalanan becek, lumpur dan sampah yang terbawa air saat hujan adalah pemandangan khas Jakarta musim hujan. 

Di sela jalan layang jalin-terjalin, ia melihat wajah-wajah lusuh berburu recehan dari para pengendara motor di lampu merah. Dari bangku rumahnya, ia menatap wajah seorang pria di bawah jembatan layang.

Sudah delapan bulan ini pria itu kehilangan pekerjaan. Sebelumnya ia adalah kru panggung yang terbiasa keliling Indonesia bersama para musisi papan atas Indonesia. Sebelumnya uang nafkah selalu cukup untuk dia dan keluarganya; cukup satu kabar untuk mengakhiri semua itu, “pandemi.”

“Ya mau bagaimana lagi?” si pria itu bicara dengan matanya. “Memang semua jiwa sedang sedih. Entah yang masih punya badan atau sudah terpisah. Tapi baguslah, karena hampir semua cerita berakhir sendiri atau melankoli.” 

Sambil bernyanyi dengan suara serak, hati kecil pria itu terus bertanya, “Kenapa tidak gila saja?”

Ia menginginkan kegilaan, agar bisa melupakan rentetan kata yang tak berujung, dan mampu merekah angan bagai setan yang membangkang. Meludahi tuhannya, meraih kebebasan seperti apa yang semua orang sedang perjuangkan. Orang gila tidak bersedih, hanya sakit atau mati.

Tapi pria itu punya dua anak dan seorang istri yang sakit di rumah. Dan mereka bertiga belum gila, dan sayangnya… belum mati juga. Kalau salah satu dari mereka mati, ia mungkin bisa mendapatkan cita-citanya untuk jadi gila. 

BERSAMBUNG…

Penulis:
Nosa Normanda
Lidya Sihombing
Dinda Suci Lestari
Avigayil Enautozoe
Rafi Abdurrahman
Adinegoro Natsir
Rangga Dewanto
Rachman Muchlas
Rozaq Ariwahyono

Moral Bengkok, Prosa

Orang-orang Chessepea

Kukira beginilah akhirnya. Daisy kini menikah dengan pria bernama Steve yang kerja sebagai salah satu insinyur di perusahaan minyak kota kami. Ironis, karena dulu aku membantu perempuan itu untuk keluar dari hubungan beracun penuh kekerasan dengan Woods–senior kami di Garden High yang waktu pacaran dengan Daisy sedang kuliah di jurusan tehnik perminyakan–padahal keluarga si Woods tidak kerja di perminyakan. Kuliah yang tidak ada hubungannya dengan bisnis keluarga adalah hal yang aneh di kota kami, dan nanti kau akan tahu kenapa.

Anak-anak mereka, Daisy dan Steve, manis-manis sekali; satu bernama Bella, satu bernama Billy. Aku benci nama-nama itu, dasar Steve kampungan. Anak ketiga mereka siapa nanti namanya? Biji?

Mereka keluarga normal yang bahagia, dalam bimbingan Kristus–sesuatu yang tak mungkin kuberikan ke Daisy karena aku Atheis. Om Jonas, ayah Daisy, juga Atheis. Ibunya Kristen yang taat. Dan ketika Daisy dalam kondisi terparahnya–terkena depresi berat karena hubungan dengan Woods, Tuhan Yesus menyelamatkannya.

Bukan dokter, bukan keluarga yang menemaninya, bukan pula aku yang berminggu-minggu menginap di rumahnya hanya untuk mengajarkannya berkomunikasi. Bukan kami. Tuhan Yesus penyelamatnya. Kami semua cuma pion-pion, menurut Daisy. Terserah. Aku turut bahagia kalau dia bahagia.

Nggak sih, aku bohong. Aku tidak bahagia kalau dia tidak bahagia bersamaku. Tapi dia tidak perlu tahu itu, toh. Dia cuma perlu tahu, semenjak dia sembuh, Woods menghilang dari kehidupannya, kami pacaran, lalu kami putus karena aku tidak mau ke gereja, aku Terima keadaan jadi sahabatnya dan keluarganya. Lagipula kota kecil tempat kami tinggal isinya orang-orang yang dekat. Aku tak mau putus lalu berpapasan dan jadi tak enak.

Tapi aku akan selalu mencintai Daisy. Dan penderitaanku, kecemburuanku yang kusembunyikan, adalah sebuah kebanggaan bahwa diam-diam aku menderita untuk dia tanpa dia tahu. Aku cuma akan terus ada di sini, di sekitarnya, hingga dia butuh aku lagi.

*

Kota kecil kami bernama Chessepea, diambil dari nama putri kepala suku asli Amerika yang menikah dengan seorang kapten kapal Spanyol. Semacam Pocahontas tapi lebih sadis, karena si putri menikah demi perjanjian tanah antara bapaknya dengan penjajah, yang beberapa minggu kemudian membantai suku asli itu—semuanya. Chessepea adalah yang terakhir dari sukunya. Nama kota tidak diganti, karena setelah pembantaian, para penjajah mendengar ditemukannya tambang emas di selatan dan semuanya pindah. Kecuali keluarga si kapten kapal dan istri lokalnya. Si kapten tidak pergi atau berlayar lagi karena ketika menikahi Chessepea umurnya sudah 76 tahun. Waktu itu Chessepea berumur 13. Mereka tidak punya anak—untungnya. Tidak ada keturunan si kapten di kota ini.

Kota berkembang karena selalu ada pendatang yang numpang lewat, rombongannya pergi, sebagian kecil tinggal. Dan terus begitu, hingga hari ini, 300 tahun kemudian. Kota ini menurutku punya daya magis yang tinggi–ya, aku Atheis yang percaya spiritualitas dan klenik— karena Chessepea seperti punya saringan orang. Mereka yang tinggal seperti keluargaku dan keluarga Daisy, adalah orang-orang yang merasa cukup. Tak banyak yang pergi dari sini atau datang dan tinggal di sini lagi seratus tahun belakangan ini. Keluargaku, keluarga Hansen, sudah di sini sejak abad 18 dan kami tak pernah pergi. Tak ada pula saudara atau sepupu yang tidak mati di sini.

Karena itu ketika Woods Bergman menghilang dari kehidupan Daisy Jonassen, bersama seluruh keluarga pemuda tukang gampar perempuan itu, seisi Chessepea cukup heboh. Sepupu-sepupu Bergman–yang namanya bukan lagi Bergman karena menikah dengan pria keluarga lain, bilang bahwa keluarga Bergman pindah karena Woods dapat beasiswa ke luar negeri. Keluarga yang tinggal disuruh menjual properti mereka dan poof, hilanglah mereka semua. Properti mereka sekarang sedang dibongkar. Katanya akan dibangun Mal di sana, dan itu keresahan baru yang membuat warga lupa akan keluarga Bergman.

Pasalnya, kami di kota ini semua punya bisnis turun temurun. Keluarga Bergman dulu terkenal dengan bisnis transportasi distribusi barang–yang kini diambil alih keluarga Schmidt, salah satu besan mereka yang punya penyamakan kulit. Keluarga Jonassen punya bisnis bangunan–hampir semua bangunan di kota kecil kami dihasilkan dari tangan om Jonas dan anak-anak buahnya. Keluarga Andrews punya peternakan dan pertanian berbagai macam sayuran. Dan banyak lagi keluarga-keluarga yang membuat kota kami cukup feodal. Sampai walikota baru kami, Samuel Schmidt, punya rencana modernisasi. Ekosistem kami jadi terganggu.

Oh iya, maaf aku lupa memperkenalkan diriku sendiri pada kalian, pembaca yang budiman. Namaku Jason Neswitt Hansen. Keluargaku turun temurun punya toko buku. Kakek dan bapakku adalah penggemar buku, khususnya buku antik cetakan pertama. Dari perdagangan buku antik inilah keluargaku tidak hanya bisa bertahan, tapi juga cukup mapan dan punya jaringan.

Kebanyakan usaha di sini adalah turun temurun, dan seperti kataku, sulit sekali untuk keluar dari zona bisnis keluarga ini karena kegaiban tadi. Aku sudah lulus kuliah di sebuah kampus ternama di New York. Tapi aku tak pernah ingin jadi New Yorker. Aku cuma ingin kembali ke kota ini dan meneruskan bisnis orang tuaku, dan kadang-kadang, makan siang dengan Daisy. Tidak jarang bersama suami dan anaknya.

Beberapa bulan belakangan ini, Daisy sering membawa temannya yang belum menikah untuk ikut makan siang dengan kami. Niatnya pasti hendak menjodohkan mereka denganku. Kadang aku jadian dengan mereka atau one night stand, tapi tak ada yang benar-benar berlanjut. Aku tak tertarik dengan perempuan lain selain Daisy. Tapi sudah lah, itu urusanku, dia tak perlu tahu.

Jadi sebagai simpulan, kota kami damai-damai saja sampai Mal dibangun. Mal akan jadi saingan industri lokal. Warga sudah protes tapi tidak digubris. Orang tuaku paling malas protes. Ibuku bilang sambil masak sarapan, “Liberalisme dan neo kapitalis ini takkan terbendung. Biarkan mereka datang karena dalam beberapa tahun ke depan mereka akan mandeg. Toh tidak mungkin ada yang jual buku antik di dalam mal.”

“Eh, siapa bilang,” Kata bapakku. “Mal bisa jadi apa saja hari ini. Kota kita ini aneh, Anak-anak harus keluar kota untuk kuliah, tapi bukannya bangun universitas, dia malah bangun Mal. Dasar Schmidt bajingan.”

“Siapa juga yang pilih dia?” Kataku. “Kenapa keluarga dia selalu jadi calon tinggal walikota?”

“Bocah, kamu lulusan media studies di NYU kenapa tidak coba jadi calon walikota untuk pemilu depan? Calon independen begitu?”

“Lah kenapa jadi aku?”

“Iya, Pap. Jason itu harusnya nikah dulu aja sebelum dia ganggu rumah tangga orang. “

“Maksud Mom?”

*

Ah, sehari-hari begini saja di kotaku. Sehari-hari aku menjaga toko buku, membaca, menulis paper atau artikel untuk media di New York, membuat blog politikku sendiri, membuat berbagai macam website, meretas situs belanja, membuat draft bukuku. Lagipula aku tak mungkin menyalahkan walikota maruk itu karena keberadaan tanah keluarga Bergman di sana adalah salahku.

Hari itu, dua minggu setelah Daisy sakit dan keluarganya melarangnya bertemu Woods, aku diam-diam menemui bajingan itu. Kuajak minum-minum sambil dia membully aku–dia selalu membully aku sejak SMA. Lalu aku keluarkan dua linting ganja. Satu untukku, satu untuk Woods.

Ganja untuk Woods adalah racikan kawanku Herbie–sesuai namanya dia kerja sebagai apoteker dan ahli herbal, keluarganya bisa kau tebak, punya apotek. Dia kawan satu band ku ketika SMA dulu. Waktu aku cerita soal Daisy, dia langsung kasih ganja itu. Isinya racun halus yang dia racik sendiri dari rekayasa genetika THC di kebun hidroponik di belakang rumahnya. Racun ini bisa membuat orang menjadi Schizophrenia lalu dementia permanen dalam beberapa jam setelah pemakaian.

Itu yang terjadi pada Woods, bukan karena ia cerdas lalu dapat beasiswa. Woods adalah lelaki satu-satunya di keluarga Bergman. Semua saudaranya perempuan. Dan keluarga itu begitu membanggakan Woods. Mereka tidak bisa membayangkan kalau orang-orang Chessepea melihat Woods jadi… Idiot.

Padahal kota ini belum punya idiot. Sayang sekali mereka pindah.