Cinta, Eksistensialisme, Puisi

Burning Brine

Lord I am drowning
In my own tears
Since these glimpses
Just won’t let me go

I see corpses of my uncle, auntie, best friend, father

Dead bodies, empty vessels, fade voices and laughters

And I can’t stop thinking about my sins and guilt

I don’t think I am a victim
On the contrary, I was a perp
Inflicting pain to others
Like strains of hair on her sink
Or scars below her belly
Or my hand marks on her neck

And my dear sibling inability to function
Or my mother constant sadness in her laugh

Jesus how did you take the sins
By being crucified, betrayed.

Sleep now, sleep my friend
All will be done in no time

All shall pass

To the grave in a hope for grace


This website is run by donation. If you are in Indonesia, click the button below to support me

Cinta, Eksistensialisme, English, Puisi

8

We are homeless
wandering with our backpack
from one place to another

We went to different direction,
we experience and experiment
with life and people and nature
and folklore and fairytales
and spirits and magical things

Searching for rituals, to be transcended
searching for each other, to be ascended

Sometimes we got really tired
and we rest our head in a place
just to be woken up by the reality
that the place is not ours

Home is nowhere to be found

*

Today we found each other in the intersection of 8
8 is what separate us from each other
8 is the infinite meeting point of two halves
8 is where we apart, and where we shall meet

again and again and again.

*

She said, “You have anchored yourself to a home. I am homeless.”

He said, “I’m not anchored, I am having a vessel.”

She said, “You anchored yourself to that vessel. It’s your home.”

He said nothing. She always wins an argument, she’s that half that wins.

8 is a loop. Infinity loop, with infinite possibilities.

Its the most magical number, the number of reincarnation
of complexity, the ultimate uroboros

“I am building a home,” he wished he said this to her, “but its not mine.”
“it belongs to people who love me. But mine, I have no idea where. Until today.”

He found her as a temple of worship, where his lost soul subside
in her melancholy, anxiety, and wisdom

She found him an idea of a man, that shouldn’t be exist
in this world of cruelty and egos.

He found his true home in 8
she, however, still wanders,
but as constellations change for billions of years
8 will still be a number of infinity,
and when the two halves meet again
one will stay, the other will wander.


If you like what you read, be my patron, and get exclusive content: music, films, graphic, merch.

http://www.patreon.com/Eseinosa

Alam, Cinta, Puisi

Antara Tanah Liat dan Batu Kali

file yang terkubur, mungkin terjemahan atau sangat terpengaruh Rimbaud

Photo by cottonbro on Pexels.com

Cinta tidaklah memuaskan dirinya sendiri
atau mengasihi diri sendiri

Cinta memberikan ruang pada yang dicinta
& membuat surga dalam keputusasaan neraka
Keliatan tanah membentuk kemanusiaan
rela terbentuk dan hilang oleh alam

Cinta hanya ingin memuaskan dirinya sendiri
untuk mengikat orang lain demi kesenangan pribadi
bahagia atas keterbatasan yang dicintai
dan membangun neraka atas nama surga

Kekerasan tersapu air dan menjadi bercahaya
licin, menjebak, dan membawa kekerasan
kita adalah daun yang terbawa di antara
Tanah liat dan batu kali

Depok, 5 Juli, 2008


Terima kasih telah membaca puisi ini. Kalau kamu suka dengan yang kamu baca, traktir saya kopi dengan menekan tombol berikut ini:

Cinta, Filsafat, Memoir, Racauan

Diri dan Melankolia

Apa itu diri? Menurut filsuf Soren Kierkegaard, diri adalah relasi-relasi yang menghubungkan relasi satu ke relasi yang lain dalam kehidupan seseorang. Artinya, diri tidak pernah menjadi sesuatu yang tetap, tapi selalu berkembang dan berjejaring hingga seseorang itu mati dan dirinya tertinggal sebagai relasi-relasi di diri orang lain.

Pusing kan? Biar tidak jatuh, coba pegangan dulu. Nah, kamu baru saja membuat relasi dengan yang kamu pegang. Kalau kamu pegang nganu mu, maka itulah bagian dari dirimu. Dan relasi itu tidak bisa putus begitu saja, bahkan ketika nganu mu tidak lagi kamu pegang, kamu ingat rasanya, walau kadang lupa namanya.

Maka mari bicara soal relasi-relasi yang putus di kontrak sosial tapi tetap ada di dalam diri. Sesungguhnya inilah relasi terberat yang tak pernah pergi, dari patah hati hingga ditinggal mati. Dan relasi ini menimbulkan sebuah rasa bernama: melankolia.

Buat saya pribadi, melankoli adalah sebuah kerinduan pada sesuatu yang pernah ada namun tak lagi tersedia. Seperti phantom limbs, ilusi yang hadir pasca amputasi, melankoli menyeruak seperti horor ketika kita merasa tangan atau kaki atau organ tubuh kita masih ada padahal sudah hilang. Dan kita belajar melankoli sedari kita bayi. Tahap ini disebut oleh psikoanalis Sigmund Freud sebagai tahap Post-Oedipal.

Post-Oedipal adalah tahap menyakitkan dalam hidup semua orang ketika ia sadar bahwa ibunya, yang selama ini ia cintai sebagai bagian dirinya, telah lepas secara penuh. Ya, patah hati pertama semua orang adalah terhadap figur ibu-nya sendiri. Untuk mengerti konsep ini, saya harus sedikit menjelaskan tiga tahap Oedipus Complex dalam psikoanalisis Freudian.

Tahap pertama adalah pre-Oedipal. Dalam tahap ini seorang bayi merasa bahwa ia dan ibunya adalah satu badan: itulah dirinya, sebuah relasi antara bayi yang masih menyusu dengan ibunya, dimana si bayi mengidentifikasi dirinya sebagai organ si ibu. Sementara ibunya sendiri perlahan mengalami melankolia pula, ketika ia sadar bahwa anak yang ia kandung 9 bulan dan selama ini jadi bagian tubuhnya, pelan-pelan terpisah darinya.

Tapi si anak belum tahu itu sampai ia berhenti menyusu dan mulai bisa berdiri dan berjalan. Tahap pre-Oedipal berhenti ketika si anak mulai bisa mengidentifikasi dirinya sebagai manusia lain. Ia mulai mengenal dirinya sendiri, yang berbeda dengan ibunya. Namun ia masih berada di dalam kasih sayang dan perlindungan si ibu. Di sini ia masuk ke tahap Oedipal: si anak mencintai si ibu.

Tahap itu berhenti ketika tekanan sosial dan pendewasaan organ-organ kelamin membuat si anak harus berpisah secara seksual dari si ibu. Di sini ia mulai galau dan mengalami melankoli itu: post-oedipal. Maka si anak mulai mencari model untuk mengalirkan libidonya, dan ketika ia jatuh cinta pada orang lain, sifat kebayi-an Oedipal nya timbul kembali.

Saya ingin membawa teori klasik ini ke ranah yang lebih luas, bahwasannya tahap post Oedipal bukan hanya berlaku untuk heteroseksual, tapi juga untuk spektrum lain dalam seksualitas. Karena hubungannya tidak semata-mata seks, tapi juga masalah attachment, atau keterikatan, satu individu dengan individu lain. Sebuah ketakutan klasik dalam cara bertahan hidup binatang mamalia: ketakutan akan ditinggalkan (fear of abandonment).

Ketika kita hendak mempertahankan relasi percintaan dengan orang lain di tahap post Oedipal kita, rasa ketakutan ini begitu besar. Kita seperti anak kecil yang mencari ibunya yang hilang. Hilang arah dan orientasi. Hingga ketika kita benar-benar ditinggalkan pasangan kita, rasa itu memuncak dalam sebuah kegamangan bahwa kita sudah dewasa dan harusnya tidak lagi merasa seperti itu. Tapi separuh jiwa kita hilang di kenyataan, tapi begitu nyata adanya di pikiran: sebuah phantom limbs.

Dan ini bukan hanya untuk percintaan dengan kekasih. Bisa juga rasa itu hadir ketika kehilangan sahabat kita, atau orang tua kita, atau siapapun yang berarti banyak di hidup kita. Dari sudut pandang neurosains, diri kita dibentuk oleh trilyunan syaraf yang disebut synapses. Syaraf-syaraf di otak ini tumbuh dan menguat bersama relasi-relasi yang terbentuk dari hubungan kita dengan lingkungan dan orang-orang lain. Dan ketika hubungan itu terputus, synapses kita terganggu dan membuat tubuh berraksi dengan menutup hormon tertentu dan membuka hormon yang lain. Membuat kita menangis sambil menertawai diri sendiri karena di usia ini, kita kembali seperti bayi yang merindukan ibunya yang pergi.

Hormon kebahagiaan tidak diproduksi dengan baik, stress bertambah, agresi keluar untuk menguranginya. Dan ini adalah saat-saat terburuk hidup kita. Kita berusaha untuk tetap membuat relasi-relasi itu ada, dengan mencoba menggapai-gapai orang yang kita cinta tapi tidak lagi bisa mencintai kita. Buat apa? Sampai kapan?

Sampai luka di sinapsis kita sembuh sendiri. Tapi Kierkegaard menemukan, bahwa luka itu akan kita bawa sampai mati. Dia akan terulang kembali dengan relasi-relasi baru yang kita buat dan putus. Tidak akan pernah ada kekebalan itu, sampai syaraf dan hormon kita beradaptasi, atau kita sudah cukup tua untuk jadi fungsional dan mengejar relasi-relasi itu. Hingga di satu titik diri kita berhenti membuat relasi baru.

Kematian adalah penyembuh keputusasaan, akhir dari segala melankolia. Kematian adalah kepastian absolut dari kehidupan. Ia pasti datang, dan selalu bisa dipercepat. Lalu kenapa kita tidak mati saja? Karena masih banyak relasi-relasi lain yang membuat kita tetap hidup. Orang yang bunuh diri, adalah orang yang merasa bahwa kehidupannya akan merusak diri orang lain. Kematian bukanlah hal yang egois, tapi sebuah hal altruistik, untuk memberikan ruang kepada diri-diri lain yang masih sanggup hidup untuk menderita dalam melankolia.

***

Terima kasih sudah membaca sampai habis. Website ini butuh bantuan kamu untuk tetap ada, jika kamu merasa kalau apa yang ditulis di sini ada gunanya, boleh lah kamu traktir saya segelas kopi untuk motivasi. Tekan tombol dibawah ini, duhai kawanku yang baik: