Memoir

Mengenang Ramlan Mardjoned

Hari ini om saya, Ramlan Mardjoned, meninggal dunia. Ia adalah seorang bapak, kakek, suami, ustad, om, dan guru. Ia juga seorang akademisi, penulis, penceramah dan aktivis.

Pertemuan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dengan Ramlan Mardjoened di masjid As Salam, 25 Mei 2018.
(Foto: Instagram)

Saya adalah keponakan yang selalu dengan sabar dinasihatinya, terlepas betapapun nakalnya saya. Dan saya tidak bisa tidak menurut kepadanya, tanpa ia perlu marah atau keras. Dari semua orang di dunia ini, hanya Om Lan, yang bisa suruh saya Shalat tanpa saya melawan atau argumen.

Intelektualitasnya tidak dapat diragukan, ia mantan aktivis Islam yang pernah mengalami opresi langsung di zaman Bung Karno dan Soeharto. Argumennya tajam, lugas tegas dan praktis. Sebagai intelektual, ia tidak mengincar bahasa-bahasa sulit akademis, atau pembaca-pembaca yang hidup di menara gading. Ia menulis dari sejarah, biografi ulama, hingga pengaturan rumah tangga dan tata cara hidup yang praktis. 

Saya menganggapnya ayah kedua saya, sejak kecil, karena ayah saya pun menganggapnya abang besar. Dia menjadi wali nikah orang tua saya, dan entah sebesar apa hutang keluarga kami kepadanya yang tidak akan pernah dibalas. Ketika Papa meninggal, saya dan adik saya yang berusaha menahan tangis, tak dapat menahan air mata kami ketika om Lan datangdatang melayat.

Dan hari ini, ketika masa PSBB, kami tidak bisa keluar rumah untuk menghadiri pemakaman guru besar kami ini, ayah kami ini. Sungguh kesedihan yang luar biasa. 

Om Lan pernah bekerja dengan pak Mohammad Natsir, pendiri partai Masyumi dan mantan Perdana Menteri ke-5 Indonesia. Tentang pak Natsir dalam sebuah ceramah, ia bilang, “Natsir di manapun engkau berada, engkau ada di dalam hati.”

Hal yang sama saya haturkan untuk Om Lan. Dimanapun engkau, Om ku, guruku tersayang, Engkau ada di dalam hatiku.

Memoir, Racauan

Sendiri

Aku berpikir tentang orang-orang yang kusayang, yang bahkan tanpa himbauan isolasi diri, telah ku isolasi dari diriku sendiri. Dan sampai saat ini, beberapa di antara mereka tak juga ku hubungi. Banyak ketakutan bahwa hubungan akan membawa ke hal-hal yang diinginkan untuk tidak diinginkan. Seperti paradoks ekspresi cinta hari ini yang harus disampaikan dengan jarak.

Tentu saja, aku memilih bicara pada kertas atau layar komputer, daripada pada manusia. Pikiranku lebih dari cukup untuk membuat kompleksitas individual yang berkembang sendiri di alam metafisik, mengambil langkah yang berbeda dengan mereka yang nyata di kenyataan. Maka jika sahabat baik, saudara, atau cinta ku yang kubuat di dalam kepalaku ini keluar, mereka bukanlah orang yang ada di kenyataan semirip apapun itu. Karena indra ku, perasaanku, dan interpretasi ku terhadap mereka terjebak membeku dalam waktu, lalu mencair dan mengalir di syaraf-syaraf otakku yang bagai roller coaster manik depresi.

Tapi pilihanku tak banyak. Tidak ada yang produktif dari usaha memperbaiki sesuatu yang sudah rusak permanen dan sudah menjadi entitas baru, yang identitasnya tidak lagi kukenal. Mungkin lebih aman bicara pada hantu-hantu di dalam kepala, daripada orang hidup yang bisa ku sakiti atau menyakitiku. Lagipula, jalan telah bercabang dan masing-masing telah memilih. Walau bumi bulat, kota tidak pernah bersahabat buat pecinta yang patah arang. Bahkan di ruangan yang sama, kita bisa jadi orang asing, apalagi dengan social distancing.

Berjarak fisik, berjarak sosial. Lengkap sudah kerinduan takkan terobati. Maka aku cuma akan tertawa sambil menulis buat dibaca terapis ku, tentang hantu-hantu yang mengganggu kesadaranku. Hantu dari mereka yang sudah mati, dan mereka yang masih hidup tapi kuanggap mati.

English, Memoir, Racauan, Uncategorized

Mental Illness and a Little Bit Despair

I am feeling a little bit despair on the fact that more people around me are as sick or even worse than I am. Just a little bit could boiled me up in a state that I’m in.

Mental illness is a trend now, thanks mostly to the internet. I suspect urban Indonesians today are like the US in the 70’s, where psycho-somatic were trending because of newspaper’s pop psychology column. Suddenly everyone was sick and the mental hospital and anti-psychotic drugs industry were booming. A good (or bad) thing about Indonesia is that many of us are poor and uninformed. Not many of us can afford mental illness therapy not mentioning medications. State insurance psychiatric/psychologist aren’t that good either. So yeah, we’re fucked.

I know that mental illness are real, I am a patient myself. But you know, the more I know, the more I think of it as an overrated urban problem. Okay, kids are growing up wrong cuz their parents did not recognize their own depression or bipolar disorders. Some kids turned out violent for having a psychopatic violent Dad.

Misparenting is a major problem. And in turn, I know many millenials with mental illness as their parents left them untreated. Worse than their parents, these kids recognize their illness and prefer to not giving a fuck.

And money, oh money! Money give access to the expensive treatment with psycho meds that many people from middle lower class hard to get. For now, I am lucky enough to have the money for treatment, but as an independent contractor/freelancer, I don’t know what I’ll do next, when the money runs out. Once, I’ve tried stopping medications and treatment, and it’s getting worse. My meds are fucking expensive!

And seeing more friends got prognosis and diagnosed with mental illnesses, really turns me down. But for now, I have plans. For now I try to do the best I could to push the despair as low as possible.

English, Memoir, Racauan, Workshop

Experience Expectations Ecstasy

Rezeki di tangan Tuhan, produksi di tanganmu.

Melihat ke belakang, saya tiba-tiba sadar bahwa saya orang yang cukup produktif dan kadang saya heran apa yang memacu produktivitas itu. Saya ingat saya mulai menulis cerpen sejak umur 7 tahun, ketika saya baru bisa belajar baca-tulis. Saya pernah menderita ADHD sejak balita, jadinya saya late bloomers—saya baru bisa baca-tulis ketika umur yang lumayan tua, dengan bantuan guru privat.

Sebelum saya bisa baca tulis, selalu ada energi besar di diri saya untuk mencari tahu, membuat, atau merusak sesuatu. Saya selalu kehilangan konsentrasi pada hal-hal yang saya tidak suka, tapi begitu saya suka pada sesuatu, saya akan terobsesi. Produksi-produksi saya tidak bisa dibilang bagus atau berguna (bahkan hingga sekarang). Saya tidak bisa membedakan motivasi saya membuat karya, dengan seorang gila yang menyusun batu-batu kerikil di rumah sakit jiwa.

Dan seperti orang gila itu, saya bebal terhadap orang yang menyuruh saya berhenti dan bilang kalau produksi saya tidak ada gunanya. Bedanya dengan orang gila, saya senang ketika ada kawan atau lawan yang mengkritik karya saya, memberi masukan, dan membuat produksi selanjutnya lebih baik. Paling tidak mereka melihat dan memerhatikan apa yang orang gila ini sedang buat.

Dalam keadaan apapun, saya berproduksi. Bahkan ketika tidak ada uang yang cukup ketika kuliah dulu, saya berusaha bikin teater, film dari handphone, puisi, atau cerpen. Namun dari semua itu, harus saya akui saya belum punya “notable works”, atau karya yang diakui orang lain sebagai sesuatu yang baik. Kecuali mungkin beberapa tulisan di blog atau di webmagazine. Sebagai penulis, saya cukup puas karena tak pernah mengirimkan tulisan ke media, tapi diminta beberapa media untuk menulis. Lucu, seperti menulis, dalam hal pekerjaan pun saya tidak pernah melamar. Saya selalu dilamar. Bukannya sombong, saya cuma tidak berbakat menjual diri saya pada orang. Tidak pernah sekalipun dalam hidup saya, saya berhasil dapat kerjaan dengan melamar, atau mendapatkan proyek dari pitching. Ujung-ujungnya saya selalu ditunjuk orang.

Mungkin ada orang-orang yang kebetulan melihat produk-produk saya yang medioker itu. Soal pekerjaan, saya juga dikenal murah, tapi (semoga) tidak murahan. Saya tidak pernah berpikir soal uang ketika ditunjuk proyek. Saya hanya memikirkan apakah proyek ini sejalan dengan idealisme saya, dengan apa yang saya percaya. Kalau tidak sejalan, saya akan tolak dari awal.

Bicara soal itu, saya akan berganti profesi utama tahun 2020, setelah 4 tahun menjadi produser dokumenter video. Mau jadi apa? Gampang. Di usia ini saya tak banyak pilihan lagi. Saya jadi yang saya sudah jadi: videographer, penulis, pengajar, seniman. Mungkin coba-coba jadi pengusaha rendah resiko.

Semoga semesta mendukung.