English, Memoir, Racauan

What Would I Do Without You

This is a work of fiction.

A lot, actually. Life goes on.

But for now let me rest a little now that you’re gone. Because you took some of my nerves with you. My synapses break down, and I cannot control my hormones.

I am angry, sad, disappointed, confused and happy. Happy that you finally rest, and free from all the things life entangled. All the suffering and pain and pleasure, all the demands and the grudges and the hates, and the love. Ah, the love is broken now that you’re gone. But in pieces they lingers, in the space that used to be yours.

You believe in God, and Hell, and Heaven. But I think you deny me for being right, that none of those stuff exist. After you’re gone your energy dissipated, breaks and forms a lot of stuff, the living and the dead, the material defecated, the immaterial… They remain in everyone who know you. And you, you will be really gone when we all forget. Trust me, it’s a blink of the universe eyes. To forget.

Now, what would I do without you? I rest in war when you rest in peace. My rest will end, and I’ll be back fighting in no time, while your peace remains in eternal bliss. In my neurons and others, see you in dreams.

What would I do without you? My best. To live my post life, as long as I could. In letters that people can read. And when they cannot read these letters anymore then adieu… Adieu… Adieu….

***

Thanks for reading this piece of mind. Before alien invades us, some coffee for the writer would help a lot in making this site going. If you don’t live in Indonesia, email me if you want to donate, I haven’t got Patreon yet. But I’d you live in Indonesia, help me pay this expensive wordpress premium by clicking the button below or just scan my Go Pay idea. Thanks!!

Or Scan me

Memoir, Racauan, Uncategorized

Apathy for a Young(er) Age

Being old and lazy is a new hobby for me. I like to lay around on bed all day, with soothing therapeutic oil, Vicks inhaler while reading books or playing games in my phone. It’s heaven to be lazy.

This could be my depression. Not caring at all of what’s going on the world outside. No social media, chat apps, no interaction. So free. So unproductive. Such a privilige, draining savings for such a life consummation.

The only time to move is when eating, peeing, and shitting. I could do this for days. Getting fat and ugly with indifference. Am I happy? Sad? I don’t know. I just know that I am alive. And I am wasting time. I am letting it pass hoping that when I get drowsy, I wouldn’t wake up anymore.

Sometimes I do feel restless, even when I’m resting. Like there’s a nerve that needed to move. To work. But then, I took my pills and go down again. Awake. Asleep. And again. And again.

So during my days of depression, I tried my best to write my feelings in a journal, it has to be handwritten, and also I tried my best to have basic function in life, create a routine that doesn’t need perfection. Just enough to keep me going. I found expressive writing to be a truly amazing tools, especially in finding a my red flag. I found my red flag when people started to see me too loud or too emotional. I withdraw for a moment to breath out. Finish the work for the day and lock myself in my room having me time which was doing nothing.

I always managed to work again everytime because I’ve got responsibilities. I’ve got mouths to feed, including myself. So I woke up, have some coffee and cigs, and I work like a robot. I work on anything, I sell stuff online or simply writing, if there are no classes or shooting. My aim is not perfection. Just function.

At the end, being like a robot is the only way to be human. Fake it till I make it is a great motto, because to make it doesnt have to be perfect and being imperfect is being human.

***

If you like this writing and you live in Indonesia, please do treat me some coffee so I can keep on writing my own thoughts in my own space. Feel free to donate by clicking the button below, or scan the Gopay QR code. Thanks for reading!

Filsafat, Memoir, Politik, Racauan

Phronemophobia Indonesia (Reprised)

Tulisan ini direupload dan direvisi sedikit dari versi tahun 2016. Saya upload ulang karena masih relevan dengan kondisi hari ini.

Trigger warning, adalah tanda bahwa sebuah teks akan memicu pikiran-pikiran yang tidak diinginkan. Ini penting untuk mencegah trauma orang kumat. Tapi ada masalah besar kalau kebanyakan hal jadi trigger untuk pusing, stress, depresi, gila, khilaf. Lihat paha cewek langsung ingin merkosa, misalnya. Lihat duit langsung ingin ditilep, dengar Komunis langsung benci, dengar vaksin langsung bilang babi. Pada lahirnya dia jadi takut berpikir lebih jauh karena takut emosi, takut tersesat, dan takut berubah. Ini kita sebut Phronemophobia.

Phronemophobia adalah ketakutan untuk berpikir. Tulisan ini akan memaparkan pengamatan saya tentang hal-hal yang seringkali takut dipikirkan orang Indonesia di sekitar saya–yaitu kaum kelas menengah kota dan para pengambil kebijakan. Saya punya hipotesa mentah (artinya butuh penelitian lebih lanjut), bahwa akar kebijakan yang stereoptipikal dan kekerasan baik verbal ataupun fisik dalam dunia sosial masyarakat Indonesia adalah karena banyak orang yang terjangkit Phronemophobia.

Penyakit ini hadir karena kombinasi dua hal yang paling krusial dalam masyarakat Indonesia: Agama dan Kapitalisme. Phobia, seperti psikosis lain, adalah penyakit, karena ia menghalangi orang untuk bekerja dan menggunakan otaknya dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. Dan seperti banyak psikosis juga, ini sulit disembuhkan kecuali dengan kontrol dari si penyakitan itu sendiri terhadap egonya. Bisa jadi, penyakit ini ia bawa sampai mati.

Mungkin banyak yang heran, bagaimana seseorang bisa takut berpikir? Dalam kadar tertentu, setiap orang punya ketakutan untuk memikirkan sesuatu. Terlalu banyak berpikir bisa membuat kita depresi, bahkan sakit jiwa. Kita punya mekanisme pertahanan untuk memikirkan hanya hal-hal yang perlu kita pikirkan dan menolak hal-hal yang kita takut akan menyesatkan kita. Asal ketakutan berpikir ini adalah sosialisasi semenjak balita tentang apa yang boleh dan tidak boleh kita pikirkan yang membentuk logika dan sekat-sekat di dalam pikiran kita. Membuat sebuah trauma tersendiri dan membentuk rasa takut dan anti pada pengetahuan-pengetahuan baru.

Untuk menjelaskan secara sederhana kenapa orang takut berpikir, saya harus menjelaskan soal pikiran dan pemetaanya terlebih dahulu. Tapi cara termudahnya bisa saya ilustrasikan pada video berikut, soal belajar bersepeda. Jika semenjak kecil orang sudah belajar dan biasa dengan cara bersepeda dan koordinasinya, maka ketika ia diberikan sepeda yang stangnya terbalik (ke kiri adalah ke kanan dan ke kanan adalah ke kiri), orang tersebut akan kehilangan orientasi dan kehilangan kendali. Simak video berikut.

Bayangkan jika seorang yang sejak kecil dididik secara konservatif tiba-tiba harus membiasakan diri dengan setting dunia yang terbalik. Bayangkan juga bagaimana seseorang yang hidupnya biasanya hitam putih, tiba-tiba terjebak di dunia yang warna-warni. Betapa bingung dan betapa paniknya ia jadinya. Tesis saya sederhana: bahwasannya ketakutan untuk berpikir dihasilkan ketika pengetahuan yang disodorkan tidak bisa dimengerti. Saya bicara ini dalam konteks video di atas: bahwa pengetahuan tidak sama dengan pengertian. Pengetahuan cuma informasi, sedang pengertian membutuhkan proses pemikiran dan adaptasi. Seseorang yang tahu, belum tentu mengerti. Seseorang yang mengerti bukan hanya tahu, tapi juga bisa mengejawantahkan lebih jauh karena ia telah melibatkan lebih daripada otaknya–ia telah “menjadi.”

Saya akan membahas phronemophobia melalui dua hal: pertama dengan membahas topografi pikiran manusia melalui dasar-dasar teori Psikoanalis klasik. Kedua saya akan membahas bagaimana topografi ini bekerja untuk membuat sekat-sekat yang menghalangi pengetahuan untuk menjadi pengertian, melalui pemaparan kasar soal agama dan kapitalisme.

Tulisan ini adalah kulminasi pemikiran yang panjang dan muahal. Sebelum melanjutkan, kalian bisa bikin kopi dulu atau cari cemilan, dan traktir saya kopi dengan menekan tombol di bawah ini:


Topografi Pikiran

Pikiran, kata Plato, adalah hal yang paling ideal, paling sempurna. Dalam hal ini saya juga bisa bilang bahwa pikiran bisa jadi kecacatan yang paling sempurna pula. Semua mungkin di dalam alam pikiran. Dan kemungkinan-kemungkinan ini seringkali tidak logis, surreal, absurd dan kacau. Manusia diberi kemampuan untuk membuat struktur dan kategori-kategori agar tetap bisa waras. Ketika struktur dan ketegori-kategori itu sudah terbentuk, maka ada beberapa hal yang disingkirkan dan ditakutkan. Untuk memudahkan pemahaman ini kita bisa memakai topografi klasik Sigmund Freud soal pikiran, Freud membagi pikiran dalam dua topografi: vertikal dan horizontal.

Topografi Vertikal

Topografi Vertikal adalah sebuah tingkatan dari alam sadar, bawah sadar dan tak sadar. Alam sadar adalah tempat pikiran yang kita sadari ada. Ini kita pakai sehari-hari untuk bekerja dan berkomunikasi. Ketika kita melamun, lamunan kita adalah alam sadar kita.

Alam bawah sadar (subconscious/preconscious) adalah tempat memori kita dan khayalan-khayalan yang tidak kita pikirkan. Kita memakai alam bawah sadar ketika kita tidur atau bermimpi–yang bisa kita ingat (disebut mimpi manifes). Kita juga bisa mengaksesnya ketika kita ingin mengingat sesuatu. Jika kita umpamakan komputer, alam sadar adalah software yang kita gunakan untuk bekerja dan alam bawah sadar adalah harddisk tempat kita menyimpan data.

Sementara itu alam tak sadar adalah tempat hal-hal yang tidak bisa kita ingat sama sekali. Koma adalah keadaan tidak sadar. Mimpi-mimpi yang tidak bisa kita ingat (mimpi laten) adalah keadaan tidak sadar. Alam tak sadar adalah sebuah dimensi tanpa batas tempat hasrat-hasrat yang paling kita takutkan dipendam. Keberadaan alam tak sadar ini bisa dilihat ketika kita mengigau, atau dalam keadaan trans, atau ketika kita mengalami dejavu–merasa pernah ada di suatu tempat atau situasi tapi tidak jelas kenapa. Alam tak sadar menunjukkan dirinya dalam simbol-simbol di mimpi kita. Jika Anda pernah menonton film berjudul Inception, maka alam tak sadar adalah Limbo, dunia ide dan imajinasi tanpa batas, yang hanya bisa diakses dalam ketidaksadaran total, atau dengan hipnosis yang sangat kuat.

Topografi Horizontal

Jika topografi vertikal adalah ruang-ruang  di dalam pikiran, maka topografi horizontal adalah penghubung antara pikiran dengan kenyataan, yaitu bagian pengambilan keputusan. Jika vertikal adalah legislatif, maka horizontal adalah eksekutif. Freud membaginya menjadi Id, Ego dan Superego. Id adalah hawa nafsu dan hasrat yang dekat hubungannya dengan bawah sadar dan tak sadar, ego pengambil keputusan atau diri di dunia nyata, dan superego adalah aturan-aturan yang membatasi ruang gerak ego dan id untuk menuruti hasratnya. Saya beri satu contoh. Misalnya seorang anak ingin mengambil kue di meja (Id). Ada ibunya yang melarangnya, “Jangan! Itu buat tamu!” (superego). Ego si anak tidak jadi mengambil kue itu karena ibunya melarangnya.

Namun, neo-psikoanalis seperti Lacan bilang bahwa Id dan Superego adalah sebuah paradox dalam tubuh yang sama. Id dan superego sebenarnya saudara kembar, dua sisi mata uang yang sama. Superego sebagai aturan yang mengekang hawa nafsu (Id) adalah hawa nafsu dalam bentuknya yang lain (sublime). Ego si anak yang tidak jadi mengambil kue karena nurut pada ibunya adalah untuk memuaskan nafsu yang lain, nafsu yang lebih dalam daripada nafsu makan kue. Inilah nafsu yang masuk di alam tak sadar: nafsu untuk menjadi menurut demi cinta dan pengakuan eksistensi dari si Ibu.

Contoh lain dari paradoks Id-Superego adalah ketika orang sangat-sangat galak dan strict dalam menuruti superego-nya. Zizek memberi contoh pada pemetaan rumah di film Psycho arahan Alfred Hitchcock. Ada tiga lantai di rumah psikopat Norman Bates. Lantai 3 adalah kamar ibunya, lantai 2 adalah losmen yang ia sewakan dan basement adalah tempat ia menyimpan mayat busuk ibunya yang sudah lama mati. Lantai 3 adalah superego di mana kita bisa mendengar teriakan-teriakan ibu Norman yang menyuruhnya ini itu, lantai 2 adalah ego, dan lantai satu adalah id: kenyataan dan hasrat sebenarnya dari Norman untuk mendapatkan pengakuan ibunya dengan…menjadi ibunya. Keinginan “menjadi” ini akan saya bahas di kesimpulan tulisan ini. Dengan kata lain, lantai 3 (superego) dan basement (Id) adalah ruang berbeda, tapi isinya sama: si Ibu yang mendikte.

Phronemophobia

Setelah mengenal pemetaan-pemetaan pikiran yang sederhana dari Freud, mari kita bahas bagaimana cara orang takut dengan pikirannya sendiri. Kewarasan seseorang ditentukan dari kemampuannya membuat struktur dan kategori-kategori di alam sadarnya. Semakin kacau struktur dan kategori-kategorinya, semakin orang mengalami disorientasi, kebingungan, dan kegilaan. Tanpa struktur dan kategori-kategori di alam sadar, orang tidak akan mengenal apapun, termasuk dirinya sendiri. Di situ kemanusiaannya akan raib karena yang membuat manusia menjadi manusia adalah kemampuannya untuk mengidentifikasi dirinya sendiri, egonya. Ia bisa melihat ke cermin dan mengenal dirinya sendiri–tidak seperti binatang atau bayi yang melihat ke cermin dan tidak mengenali objek yang ada di cermin.

Jadi yang harus dimengerti pertama-tama adalah: kategorisasi adalah syarat kewarasan dan represi pikiran adalah sesuatu hal yang wajar. Membebaskan seluruh pikiran atau merepresi seluruh pikiran adalah hal yang tidak mungkin dilakukan–keduanya berarti kegilaan. Lalu bagaimana dengan ketakutan untuk berpikir; bagaimana dengan Phronemophobia?

Ketakutan adalah sebuah mekanisme pertahanan diri. Ia diperlukan untuk menjaga kita agar tidak mati. Tapi phobia bukanlah ketakutan biasa. Phobia adalah ketakutan yang dibesar-besarkan, exaggerated. Maka ketika kita bicara soal Phronemophobia, kita bicara tentang ketakutan akan berpikir yang dibesar-besarkan dengan imajinasi hasil pengalaman traumatis sejak kecil. Sebenarnya kesakitan apa sih yang dimungkinkan dari berpikir? Ternyata banyak, dan sifatnya bukan hanya mental tetapi fisik–ini bekerja secara resiprokatif, dari fisik ke mental-mental ke fisik.

Sebelum saya kasih contoh, saya akan kasih dulu pola yang saya temukan dari ketakutan berpikir di banyak orang Indonesia yang saya kenal. Saya menemukan bahwa semakin sedikit referensi seseorang, maka ia semakin takut untuk berpikir karena berpikir ternyata perlu bentuk. Tanpa referensi, maka bentuk itu akan sangat abstrak, membingungkan dan sulit dipahami. Referensi ini bukan cuma didapat secara akademis, tapi sesuatu yang diketahui melalui observasi-partisipasi. Seorang petani yang tidak bisa baca tulis pun, tidak akan takut berpikir ketika ia punya rasa ingin tahu dan tidak takut mencoba-coba untuk menciptakan sesuatu dari kehidupannya sehari-hari: dari sekedar ritual panen, sampai persilangan bibit unggul yang sederhana.

Ketakutan ini dimulai ketika sejak kecil seorang anak mendapatkan hukuman ketika ia berpikir. Ini bukan hanya terjadi ketika anak dilarang berpikir, tapi bisa juga terjadi di masyarakat yang ‘memaksa’ seseorang untuk berpikir. Hukuman berpikir tidak hanya bisa dilakukan masyarakat, tapi juga bisa dilakukan diri sendiri–yang kedua ini efeknya akan lebih parah. Contoh pelarangan berpikir oleh masyarakat sudah banyak, karena sampai hari ini masih banyak dilakukan di institusi pendidikan di Indonesia, yang lebih banyak mendikte daripada menyuruh berpikir sendiri dan menstimulasi otak murid.

Contoh kedua, banyak terjadi di negara Eropa, misalnya pada anak-anak Eropa yang bergabung dengan ISIS agar mereka bisa mengontrol pikirannya. Pikiran yang tak terkontrol itu rasanya seperti tenggelam dalam lautan pengetahuan yang penuh argumen. Begitu banyak kata, tapi kekosongan di jiwa tidak bisa terjelaskan. Kekosongan yang dibentuk oleh hasrat (Id) yang tidak terlampiaskan. Ergo, berpikir=kesakitan. Rasa ingin tahu=kesesatan. Di sinilah Phronemophobia merusak tidak hanya secara mental tapi secara fisik: ketika ia jadi kompas hidup sehari-hari, diimani sebagai sesuatu yang “paling” riil seperti Agama.

Agama + Kapitalisme = Phronemophobia

Jika seseorang punya alat lain untuk melampiaskan kekosongan ini: bermusik, berkesenian, menulis, beribadah (dengan ritual) maka bisa jadi ia akan stabil. Tapi kebanyakan orang lebih memilih hal paling mudah dan paling instan untuk menjaga pikiran: Agama. Yang saya maksud agama di sini bukan sekedar islam, kristen, hindu, buddha, atau agama resmi lainnya. Agama yang saya maksud juga bukan cuma sekedar ibadah ritualnya, tapi jauh lebih luas dari itu.

Agama yang saya maksud mungkin bisa diilustrasikan Geertz, “(1) sebuah sistem simbol (2) yang bekerja untuk memberikan mood dan motivasi yang kuat, mendalam dan tahan lama (3) dengan memformulasikan konsepsi tentang aturan umum keberadaan dan (4) membungkus konsepsi ini dengan aura faktual yang (5) membuat mood dan motivasi terasa nyata.”

Tapi saya menolak membahas definisi Geertz ini secara antropologis untuk menjelaskan phronemophobia. Saya hendak membawanya ke psikoanalisis. Definisi Geertz ini tidak semata-mata menjelaskan soal agama-yang-kita-tahu sebagai institusi. Lebih jauh dari itu, jika definisi ini adalah sebuah syarat agama, maka prinsip industrial kapitalistik yang membuat seseorang jadi workaholik bisa masuk. Kapitalisme (modal, uang) adalah sebuah sistem simbol yang bisa memberikan mood dan motivasi untuk hidup sehari-hari. Hidup untuk bekerja. Ada formulasi konsepsi soal keberadaan seseorang sebagai mur industri ini,  dan ada aturan umum soal keberadaan seseorang di dunia kerja.

Dalam hal ini, Marx sudah mendahului Geertz untuk membuat sebuah tesis soal Agama sebagai candu yang membuat kapitalisme tetap bekerja. Namun saya, seperti Zizek, bisa membuat kesimpulan lebih jauh lagi. Kapitalisme, seperti agama, adalah ideologi. Dan Ideologi kebanyakan tidak disadari oleh pelakunya: seperti kebanyakan orang beragama merasa agamanya paling benar, kebanyakan orang konsumeris merasa ia butuh kerja untuk mengkonsumsi lebih karena ia butuh konsumsi lebih. Agamis seperti konsumeris, tidak bisa membedakan kebutuhan dengan keinginan. Kenapa saya jadi bicara agama dan konsumen, karena, ini punchline yang Anda tunggu-tunggu:

Phronemophobia akut akan diderita oleh seseorang yang hyper-relijius sekaligus hyper-konsumeris.

Jadi religius atau konsumeris saja tidak cukup untuk punya phobia berpikir. Anda harus jadi dua-duanya. Agama bisa menyelamatkan Anda dari konsumerisme. Dengan agama, Anda bisa menahan hawa nafsu Anda. Konsumerisme, sebaliknya, bisa menyelamatkan Anda dari dogma agama, karena pada praktiknya Anda harus kerja dan punya uang untuk hidup foya-foya–tidak melulu ibadah. Tapi siapa yang bisa menyelamatkan Anda, ketika Anda menjadi seorang konsumeris yang religius. Di sini, phobia terbesar Anda adalah berpikir. Anda tidak mau sama sekali berpikir soal apapun, Anda hanya ingin didikte untuk belanja dan mengkafir-kafirkan orang lain yang mengajak Anda berpikir.

Hyper-religius sama dengan hyper-konsumeris, dalam artian apa yang ia konsumsi tidak melulu barang. Konsumeris di sini berarti lebih luas daripada belanja barang dan tidak sama dengan materialistis. Konsumerisme yang saya maksud adalah ketidakmampuan untuk membedakan kebutuhan dengan keinginan, dan bentuknya yang paling mengerikan adalah ‘merasa membutuhkan dunia ideal dengan memaksa orang lain’. Di sini yang orang konsumsi habis-habisan adalah kuasa (power) dan untuk mengonsumsi itu, ayat dan hadist akan ia gunakan sebagai justifikasi. Hyper-religius-konsumeris ini sebenarnya tidak baru-baru amat. Ia sudah ada sejak zaman Indulgensi Katolik sampai zaman ESQ Khofifah: Tuhan doyan duit dan dengan itu maka agama bisa mempertahankan kuasa dan kelas. Dan bukan hanya orang religius saja, orang liberal-agnostik-atheis pun bisa jadi hyper-religius-konsumeris kalau dia haus kuasa pada yang tak sependapat dengannya dan sudah merasa pintar (hingga tak bisa belajar lagi)–lihat saja para dosen postivis zaman orba yang masih mengajar di kampus-kampus dan ngotot pendidikan harus linear.

Argumen tidak akan mempan. Anda sudah terlanjur percaya pada dogma agama dan doktrin kapitalisme, yang sesungguhnya berlawanan, paradoksal, oximoronik! Logika sudah tidak berjalan sama sekali, karena pikiran abstrak itu, yang Anda tidak mengerti, dijalankan mentah-mentah. Di sini, sebagai combo relijius-konsumeris, sebenarnya Anda sudah menderita psikotik! Phronemophobic! Turunan dari phobia ini banyak sekali dan biasanya melibatkan kata anti: anti-semit, anti-LGBT, anti-liberal, anti-komunis dan yang terbaru Antivaksin! … lanjutkanlah sendiri semua anti yang sudah terinstitusi dalam jargon-jargon politik udik dan ormas para-militerstik itu.

Di sini kita bisa kembali ke psikoanalisis Lacan-Zizek tadi. Seandainya agama adalah superego dan konsumerisme adalah Id, maka kegilaan dimulai ketika superego dan Id bercampur di ego yang sama. Ketika agama=konsumeris. Ketakutan utama Norman Bates, tokoh psikopat di film Psycho, adalah ketika ia berpikir soal seks dengan perempuan lain. Superegonya (dalam bentuk sang Ibu), melarang itu dengan menanamkan ketakutan-ketakutan di diri Norman soal perempuan: bahwa semua perempuan itu jahat, kecuali ibunya. Norman takut berpikir soal perempuan dan seks, maka satu-satunya cara untuk bisa hidup tenang adalah membunuh si perempuan. Norman anak baik, tidak boleh membunuh, maka ibunya yang membunuh si perempuan dengan cara ‘merasuki’ Norman. Seperti mereka yang membunuh atas nama Tuhan.

Sekarang bayangkan ketika orang gila seperti Norman Bates menduduki posisi-posisi penting di masyarakat. Inilah ketakutan khas zaman ini. Ketakutan yang membuat sebuah disparitas sosial dan kesenjangan yang lebih parah dari kesenjangan kelas. Kelas sosial yang berbeda bisa memiliki ketakutan yang sama akan pikiran. Karena itu, dalam banyak wacana publik, seringkali kita temukan opini yang sangat tidak logis dan mengancam Hak Asasi orang lain, yang dikemukakan oleh orang dengan pendidikan dan kuasa tinggi. Bukan hanya di negara berkembang seperti Indonesia, tapi juga di negara maju seperti Amerika Serikat. Tonton saja debat GOP akhir-akhir ini yang anti pada Islam, imigran dan homoseksual. Anda akan paham maksud saya.

Maka saya akan menyimpulkan dengan sebuah benang merah antara topografi klasik Freud, definisi agama Geertz, kritik Kapitalisme Marx, dan Ideologi Zizek. Superego hadir sebagai mekanisme pertahanan di pikiran manusia, ia dibentuk oleh agama dan ideologi semenjak balita dalam proses sosialisasi lingkungan-masyarakat. Lingkungan masyarakat yang cacat logika, akan melahirkan segolongan mayoritas yang cacat pikiran, yaitu mayoritas yang takut pada pikirannya sendiri. Maka berpihaklah pada kebaikan untuk menyembuhkan phobia ini di diri sendiri dan di masyarakat. Apa itu yang baik?

“Jadi berani adalah baik.” Kata Nietzsche.

***

Kalau kamu berhasil membaca sampai di sini, saya ucapkan selamat! Karena kamu pembaca akut! Website ini jalan dengan donasi, karena hostingnya mahal. Jadi kalau kamu belum traktir saya kopi, mungkin ini saatnya, biar saya punya motivasi dan nggak ngerasa sendirian. Hehehe… Klik tombol di bawah ini yaa…

Memoir, Racauan

Blog ini adalah Pensieve

Dari dulu, kalau tulisan saya ke boost dan banyak orang mampir ke blog, saya langsung punya teman-teman baru dan haters baru. Waktu masih umur 20an, lumayan spanneng juga. Tapi semakin ke sini, to be honest, I don’t give a shit.

Pasca kritik film Selesai jadi polemik kemarin, kejadian itu terulang lagi. Seperti kejadian Ojol vs GO-JEK, atau Sitok Srengenge, tiba- tiba saya ngerasain jadi seleb selama beberapa hari. Lalu wartawan mulai datang, saya diwawancara ini-itu, dianggap ahli ini-itu. Padahal semua tulisan saya ya biasa dan kebiasaan saja. Karena kalau tidak nulis saya bisa gila.

Ketika trend turun, saya kembali dilupakan orang dan saya sangat bersyukur. Menulis buat saya adalah penyembuh, dan saya mau jaga itu. Sudah lama tidak ada tulisan pesanan, dan kalaupun ada saya sudah sibuk membuat film atau mengajar. Jadilah blog ini murni sebuah wadah pikiran, sebuah pensieve.

Paling nggak beberapa tahun terakhir saya bisa membuktikan kalau saya bisa menulis berbagai macam topik. Trending dari blog ini tidak pernah sama dan itu menyenangkan. Saya tidak perlu banyak pembaca, saya perlu banyak teman diskusi. Dan seringkali teman diskusi itu didapat bukan dari tulisan cemen saya soal Film Selesai, misalnya. Tapi dari tulisan yang susah-susah dan bikin orang puyeng jungkir balik. Misalnya tulisan soal Phronemophobia Indonesia, yang membuat persahabatan saya dengan Edo Wulia, Direktur Festival Film Pendek Internasional Minikino, jadi lebih dekat.

Saya menulis di sini tanpa misi apapun selain berbagi. Tidak seperti mengajar atau syuting yang tuntutannya, saya berharap ada diskusi saja dari sini. Jadi saya bisa lebih cuek dalam memilih lawan bicara. Mereka yang tolol dan baca tulisan saya biasanya marah dan bingung, ngajak ribut di sosmed, dan saya akan minta maaf.

Maaf kamu tolol dan menderita. Tulisan saya bukan untukmu.

Sisanya yang bisa ngobrol lebih enak, saya jadikan teman. Dr. Tompi, misalnya, juga sudah biasa dihujat orang. Walhasil bicara dengan dia jadi menyenangkan. Walau say tetap bilang filmnya jelek, itu urusan saya lah. Salah satu data yang dia tampung aja. Tapi saya nggak mau seperti dia, urusan saya masih banyak yang butuh ketidakterkenalan. Hidup saya maunya sederhana, nulis dan ngajar dan syuting, dan musik. Semua menyenangkan. Sisanya cuma numpang lewat, betapapun beratnya.

Bahkan cinta saja tidak relevan jika mengganggu pekerjaan dan keluarga saya. Makanya saya lumayan bersyukur ada cinta yang searahtujuan. Sampai nanti kita berpisah, perjalanan kita nikmati bersama. Nggak muluk-muluk.

Maka di sini menulis jadi kunci eksistensial saya. Mencintai, membenci, dicintai, dibenci, menderita, bahagia, tak ada yang nyata kalau tidak dibagi. Cara membagi yang paling mudah ya dengan menulis, yang lebih susah, berkarya. Apapun itu, sesedikit apapun yang menonton/membaca, semua ada gunanya minimal ke diri sendiri. Saya tutup tulisan ini dengan sebuah lagu berjudul lagu berbagi.

Terima kasih sudah membaca dan kalau kamu suka yang kamu baca, boleh traktir saya kopi biar ekstensi website ini tetap dot com, sehingga kalian enak membacanya. Dan saya senang kalo ada yang traktir karena artinya saya nggak sendirian di jalan sepi ini. Klik di sini ya kalau mau ngasih suplemeb kafein. Selamat menikmati lagunya.