Ethnography, Memoir, Racauan

Rejeki Udah Diatur, Tinggal Dikumpulin

Siapa yang ngatur rejeki? Yah waktu kamu lahir, keluargamu adalah ground Zero rejeki mu. Ada yang lahir kaya, ada yang lahir miskin. Ini dalam sosiologi disebut ascribed status, atau status yang hadir dari sononya. Jadi keluarga dan sanak saudara adalah sumber rejeki pertama, dari susu nyokap, duit bokap, pangkat om di kantornya, rejeki arisan tante, pencapaian sepupu-sepupu, dan lain-lain. Keluarga adalah dimana kita pertama kali ngatur dan ngumpulin rejeki kita.

Kita ga bisa ngatur lahir di keluarga kayak apa. Ada yang lahir di keluarga miskin dan disfungsional. Ada yang lahir di keluarga kaya dan disfungsional. Ada yang lahir di keluarga miskin fungsional dimana cinta dan usaha bokap nyokap keren banget buat gedein kita, ada yang lahir di keluarga kaya fungsional dimana kasih sayang dan kecukupan seringkali bikin kita manja dan takut buat terjun ke dunia, gampang baper, dan ga keluar-keluar dari rumah. Kalian dari keluarga apa? Tulis di komen lah, nanti kita ngobrol.

Sambil nunggu kalian komen, kita bisa mulai identifikasi keluarga sebagai sumber rejeki pertama kita. Membaca keluarga sendiri adalah tantangan paling sulit, karena kita terlalu dekat, terlalu terbawa konflik di dalamnya. Tapi biasanya, ketika ada acara keluarga dari mulai sunatan, lebaran, kawinan, kematian, kita bisa lihat sekompak apa keluarga kita. Ada keluarga yang sangking kompaknya sampe bisa bikin kawinan atau pemakaman gede-gedean walau semua orang miskin. Ada keluarga yang kaya banget, tapi sangking gak kompaknya, ketika ada anggota keluarga yang meninggal, yang dateng dikit dan yang nguburin bahkan bukan keluarganya. Masing-masing keluarga punya cara berbeda dalam berprodikai dan mengolah modalnya.

Ada keluarga kaya yang nggak suka berbagi dan sangat kompetitif, bangga-banggain prestasi anak dan pamer kekayaan, tapi begitu ada yang susah, perhitungannya setengah mati. Ada juga keluarga yang walau hidupnya pas-pasan tapi begitu ada anggota keluarga yang susah, semua kumpul guyub, bantuin sama-sama. Nggak ada yang salah dengan cara masing-masing keluarga mengatur rumah tangganya, toh mereka masih jadi keluarga–mungkin karena terpaksa.

Sekarang coba lihat keluargamu sendiri. Apa tata cara dan bahasa sosial mereka? Bagaimana mereka bekerja? Bisa nggak kamu ngobrol dan cari data sejarah keluargamu? Apakah keluargamu mantan ningrat, Raden Ayu atau Tubagus? Apa pengaruh keningratan itu? Atau jangan-nangan keluargamu adalah imigran dari Cina daratan, India, atau Arab? Ini semua menentukan rejeki awalmu. Dan ketika dunia kapitalis mulai jahat padamu, ketika bisnismu gagal semua, dan semua teman tidak bisa membantumu, sebelum kamu ke Allah, biasanya kamu ke keluarga. Bagaimana cara mereka membantumu?

Di luar keluarga kamu punya teman dan sahabat. Siapa lingkaran temanmu, juga menjadi sumber-sumber rejekimu. Kalau temanmu pada mabok semua dan ga ada yang bisa kerja, dan kamu orang yang baik dan bertanggung jawab, kamu akan mati dimakan teman-teman. Kalau sebaliknya, teman-temanmu yang kamu makan. Kalau kamu cuma berteman di internet dan introvert, itu masalah besar ketika kamu harus berjejaring dan bebas dari keluarga yang disfungsional, atau ketika kamu mau membantu keluarga disfungsionalmu.

Kemampuan bergaul dan komunikasi dimulai dari kemampuan membaca situasi dan keadaan sosial di lingkaran teman dan sahabat dekat. Jika itu saja kamu tidak berhasil, mungkin kamu harus ambil kelas atau baca buku how to yang sederhana untuk belajar ulang caranya bicara. Mungkin referensimu terlalu tinggi, atau terlalu kurang untuk bisa mengenal orang. Tanpa ilmu bergaul yang baik, kamu susah berjejariny dan rejekimu mandeg. Sudah diatur ada di situ, tapi kamu ga bisa dapet karena kamu ga tahu cara minta apalagi cara ngolahnya. Orang mikir kamu ga sopan dan ga empati, ngapain mereka sopan dan empati sama kamu?

Let say keluargamu disfungsional dan temen-temenmu ga bisa diandalkan. Kamu masuk ke dunia kerja. Kamu pilih kerjaan yang nggak usah bergaul, ga usah menjilat ga usah sosial. Kamu mau jadi sekrup di mesin yang besar, yang semua diatur sistem: jam kerja diatur, asuransi diatur, semua diatur. Kamu ga perlu kenal bosku cukup kenal supervisor di atas kamu satu tingkat, itu pun ga deket sama sekali. Di situ kamu lupa, bahwa sistem bisa dan seringkali akan collapse.

Krisis ekonomi, pandemi, bencana alam dan banyak lagi akan bikin sistem collapse dan kamu mau kemana ketika sistem itu hancur? Mungkin kamu bisa beruntung seperti orang Jepang tokoh bapaknya tokoh utama di 1Q84, yang sampai mati dikubur oleh jasa pemakaman yang ia pesan sendiri, dan selama hidup bekerja kayak robot, pensiun dengan dana investasi dan deposito. Itu kalau kebetulan bisa kerja let say, jadi PNS, yang sistemnya cenderung stabil. Di tahap itu rejeki yang diatur sudah kamu kumpulkan dan kamu atur sendiri. Tapi masa rejeki cuma duit? Si bapak itu keluarganya hancur, anaknya dia singkirkan dan dia ga mau kenal, cuma tahu Terima warisan aja. Bapak itu trauma karena istrinya selingkuh, dan ga mau berhubungan lagi dengan siapapun–termasuk anaknya sendiri. Itu pilihan dia sih, nggak apa-apa juga.

Bapak itu menggunakan solidaritas sosial yang ga kelihatan; karena semua sistem yang dibangun dan tempat dia hidup adalah sistem sosial. Ada orang-orang yang nggak dia kenal yang bangun rumahnya, sampai gali kuburnya. Dan itu mungkin tidak semenyakitkan kalau yang bangun rumah dan gali kubur adalah orang yang kita kenal. Itu ide bagus dalam menghindari baper di jaman ini. Kalau kamu lihat bahwa hidup sesepi itu lebih baik. Semua balik-balik sama kamu sendiri sih.

Rejeki sudah diatur, tapi hanya diawal ketika kita belum bisa atau dipaksa mengatur rejeki kita. Ketika kita punya tanggungan, rejeki tanggungan kita ya kita yang atur. Kita kumpulkan satu-satu dari keluarga, teman, kantor, atau bisnis sendiri dengan mengolah minimal ketiga sumber itu, ditambah sumber-sumber lain seperti investasi dan tabungan. Dan semua yang itu bisa membuat kita mengurus diri kita sendiri. Pertanyaan selanjutnya, bisa kah kita mengurus orang lain?

***

Saya bangga sekali degan saudara-saudara dan sahabat-sahabat yang membantu saya untuk tetap menulis, menyemangati, membaca, mengomentari, dan mentraktir saya kopi untuk membuat website ini tetap ada. Dulu saya menulis untuk diri sendiri, sekarang saya menulis untuk kalian semua. Terima kasih sudah membaca. Website ini saya buat supaya kalian nyaman membaca, dan saya butuh bantuan kalian untuk ikut patungan bayar domain dan hostingnya. Traktir saya kopi murahan dengan menekan tombol di bawah ini atau dengan gopay, biar kalian tetap nyaman membaca semua konten di sini.

Atau bisa juga via gopay:

English, Memoir, Racauan

Guilt

You don’t deserve it

But you can try to earn it

The Gary, Final Space

So many bad things I’ve done. Burning bridges, taking for granted the love, the trust. I cheated, I lied, I hide, I told incredible stories that probably didn’t happened–I don’t know I was nuts.

The guilt haunts me in every breath that I took, and it doesn’t make me good. I m guilty as charged and I have admitted it. I have been punished by losing the things I love, people I care about, a home, sanity, and money.

And yet still I get happiness. And this happiness is my ultimate crime because I made people love me. I don’t deserve this love, this life. After all that I’ve done. But I’ve got the words to describe it now. Now that I am blessed with unbearable lightness of being, I’ve got to earn what has been given. That privilege should be a debt that can only be paid forward.

With every evaluated sin, wisdom should come forth. And wisdom is nothing but action to earn what has been given.

Blessed thy soul, you who have passed by and who will come forth. I cannot save you but I will endure you if I can.

This website is run by donation. If you like this post, and you live in Indonesia, please click this button to treat the writer some coffee.

Or scan this with your Go Jek App:

English, Memoir, Racauan

What Would I Do Without You

This is a work of fiction.

A lot, actually. Life goes on.

But for now let me rest a little now that you’re gone. Because you took some of my nerves with you. My synapses break down, and I cannot control my hormones.

I am angry, sad, disappointed, confused and happy. Happy that you finally rest, and free from all the things life entangled. All the suffering and pain and pleasure, all the demands and the grudges and the hates, and the love. Ah, the love is broken now that you’re gone. But in pieces they lingers, in the space that used to be yours.

You believe in God, and Hell, and Heaven. But I think you deny me for being right, that none of those stuff exist. After you’re gone your energy dissipated, breaks and forms a lot of stuff, the living and the dead, the material defecated, the immaterial… They remain in everyone who know you. And you, you will be really gone when we all forget. Trust me, it’s a blink of the universe eyes. To forget.

Now, what would I do without you? I rest in war when you rest in peace. My rest will end, and I’ll be back fighting in no time, while your peace remains in eternal bliss. In my neurons and others, see you in dreams.

What would I do without you? My best. To live my post life, as long as I could. In letters that people can read. And when they cannot read these letters anymore then adieu… Adieu… Adieu….

***

Thanks for reading this piece of mind. Before alien invades us, some coffee for the writer would help a lot in making this site going. If you don’t live in Indonesia, email me if you want to donate, I haven’t got Patreon yet. But I’d you live in Indonesia, help me pay this expensive wordpress premium by clicking the button below or just scan my Go Pay idea. Thanks!!

Or Scan me

Memoir, Racauan, Uncategorized

Apathy for a Young(er) Age

Being old and lazy is a new hobby for me. I like to lay around on bed all day, with soothing therapeutic oil, Vicks inhaler while reading books or playing games in my phone. It’s heaven to be lazy.

This could be my depression. Not caring at all of what’s going on the world outside. No social media, chat apps, no interaction. So free. So unproductive. Such a privilige, draining savings for such a life consummation.

The only time to move is when eating, peeing, and shitting. I could do this for days. Getting fat and ugly with indifference. Am I happy? Sad? I don’t know. I just know that I am alive. And I am wasting time. I am letting it pass hoping that when I get drowsy, I wouldn’t wake up anymore.

Sometimes I do feel restless, even when I’m resting. Like there’s a nerve that needed to move. To work. But then, I took my pills and go down again. Awake. Asleep. And again. And again.

So during my days of depression, I tried my best to write my feelings in a journal, it has to be handwritten, and also I tried my best to have basic function in life, create a routine that doesn’t need perfection. Just enough to keep me going. I found expressive writing to be a truly amazing tools, especially in finding a my red flag. I found my red flag when people started to see me too loud or too emotional. I withdraw for a moment to breath out. Finish the work for the day and lock myself in my room having me time which was doing nothing.

I always managed to work again everytime because I’ve got responsibilities. I’ve got mouths to feed, including myself. So I woke up, have some coffee and cigs, and I work like a robot. I work on anything, I sell stuff online or simply writing, if there are no classes or shooting. My aim is not perfection. Just function.

At the end, being like a robot is the only way to be human. Fake it till I make it is a great motto, because to make it doesnt have to be perfect and being imperfect is being human.

***

If you like this writing and you live in Indonesia, please do treat me some coffee so I can keep on writing my own thoughts in my own space. Feel free to donate by clicking the button below, or scan the Gopay QR code. Thanks for reading!