Alam, Eksistensialisme, Perlawanan, Puisi, terjemahan

Giting Suci (puisi Jim Morrison)

Kubilang padamu….
Tak ada pahala yang bisa mengampuni kita
Karena membuang subuh

Dulu semua hal begitu
sederhana dan lebih membingungkan

Satu malam musim panas, waktu jalan ke dermaga
Aku bertemu dua gadis muda
Yang pirang bernama Kebebasan
Yang gelap bernama Ikatan
Kami ngobrol dan mereka cerita padaku
Sekarang dengarkan ini:

Aku akan cerita soal Radio Texas dan dentuman besarnya
Dibawa halus, perlahan dan gila
Seperti bahasa baru
Menggapai kepalamu dengan amarah, Yang dingin dan tiba-tiba dari seorang Nabi

Aku akan cerita soal sakit hati dan kehilangan Tuhan
Berkelana, kelana di malam sia-sia
Di daerah ini tak ada bintang

Di sini kita menyatu, giting suci

Jika kamu suka dengan terjemahan ini, traktir saya kopi dong. Biar saya semangat nulis dan nerjemahin terus. Klik tombol di bawah ini yaaa…

Eksistensialisme, Perlawanan, Puisi, terjemahan

Film (Puisi Jim Morrison)

Oleh Jim Morrison

Judul asli, “The Movie” Dari album American Prayer.

Film akan dimulai dalam lima menit,
Suara datar itu mengumumkan,
Semua yang tidak dapat tempat duduk akan menonton pertunjukkan berikutnya.

Kita berbaris masuk perlahan, dengan lesu ke dalam ruangan.

Auditorium itu luas dan sunyi
Ketika kita sudah duduk dan ruangan menggelap, suara itu kembali lagi.

Ini bukan film baru, Anda sudah menyaksikannya berkali-kali, Anda sudah menyaksikan kelahiran, kehidupan, dan kematian Anda mungkin ingat sisanya,
Apakah dunia Anda baik ketika Anda mati?
Cukup baguskah untuk jadi sebuah film?

Aku mau keluar dari sini.

Mau kemana?

Ke sisi lain pagi.

Tolong jangan kejar awan-awan, pagoda.
Memeknya menjeratmu seperti tangan yang hangat dan nyaman.

Nggak apa-apa, semua temanmu di sini.

Kapan aku bisa ketemu mereka?

Habis makan.

Aku nggak lapar.

Uh, kamu yang dimakan.

Layar perak, layar teriak
Oooh… Nggak mungkin konsentrasi!

Website ini jalan dengan donasi. Kalau kamu suka yang kamu baca, boleh traktir penulis/penerjemah puisi ini kopi dengan menekan tombol ini:

Cinta, Eksistensialisme, Puisi

Lalu

Kita masing masing
sudah menderita

Sendiri-sendiri kita ratapi sepi
pergi dengan beban di pundak
menjauh dari mereka yang teriak
serak sedih berarak

Aku tidur di mobilku, karena aku pengecut

dan kau, seperti biasanya sedang berpindah
dengan ransel yang penuh ransum
kau pergi tinggalkan ia yang membisu

cinta di persinggahan bimbang membeku
minta kau ikut mati dalam waktu

*

Di persimpangan kita bertemu
aku dan mobilku
kau dan ranselmu
lalu kita mulai perjalanan ini
dimulai dari sebuah lagu
dan ciuman menggebu

Telah kita tukar jiwa kita
pada setan untuk sebuah blues
lima purnama berlalu di perjalanan
melewati malam-malam penuh rahasia

Dari motel ke motel di rute 66
menuju entah kemana kita buat cita-cita
karena kita jatuh cinta pada malam

Di pinggir pantai yang mistis
kita sadar ada yang menghantui
monster bermata hijau di pundakku
dan ceruk yang dalam di hatimu

Kita berdua dihantui sepi yang bersembunyi di dalam hati

“Ketika nanti, kau sudah tidak dihantui
mau kah kau mengulang dari nol bersamaku?
Aku akan jadi orang yang berbeda, apa kau masih akan tertarik?”
katamu.

“Kalau kau orang yang berbeda,
apa masih ada untukku cinta?”
kutanya.

“Aku tidak tahu.”

Dan kita kembali berjalan
untuk terakhir kalinya
dua motel mengantar kita
dua botol anggur
diskusi filsafat
dan senggama kesumat
hingga matahari terbit kita menguap
aku ke peraduan yang pengap
kau ke jalanan yang gelap

**

Semakin hari
semakin lupa aku padamu
lupa membuat rindu semakin membara
karena yang kucinta menjadi lara
bukan lagi manusia biasa

kau siapa, aku tak lagi kenal
tapi tak berkurang semua yang terkenang

Hai orang asing,
aku cinta padamu
pulanglah kau padaku.

Eksistensialisme, English, Puisi, Uncategorized

Beth The Sheathmaker

In every end of a wrath
Lives a woman named Beth
One night she carved a sheath
From skins and strings of death

The killers wait outside her garden
With a rusted sword held by a maiden

“Full moon is upon us,”
Said the maiden in a lamenting song
“Lateness is disastrous
For the sword needs to belong. “

‘Tis the sword of jade
Rusted with stains of blood
A natural poisoned blade
And human flesh, its food

And from its recent victims
The heathens the people claims
A new cover must be woven
Before the sword get awaken

But see, dear Beth is too old
For milleniums her story has been told
It’s even hard for her to fold
A sheath to shield she cannot mold

Full moon started to bleed
The sword begins to feed
On those who says they need
To kill because of greed

Beth survives the dreadful mess
She has made an awful dress
The remnants that she caress
Have now become her fortress