English, Filsafat, Racauan

Fuckperson

You looked at yourself and you’re thinking how ugly you are and how lonely you are and how no one wants to be with you.

And you start to check people on your phone book or checking their social media accounts to see how their lives are better than yours. You don’t want to use dating apps because the last two persons you meet there are too goddamn condescending or simply broken. While browsing in instagram you see your ex crush–not even your ex, and you remember that this person fucked everyone but you and you started to gain all your courage to ask this fuckperson to fuck you just because you’re so lonely and ugly and you think a fuck will help you up, and you don’t care if you got rejected and you won’t be their friends any more because you feel alone anyway, better take your chances.

Life was unexpected because the fuckperson wanted to fuck you maybe because they’re as ugly as you are now, but no way you’re getting pretty. And in no time you were naked in a hotel room with this fuckperson and heck that body still hot as hell and that face is so yummy but you just can’t get arouse you don’t know why maybe you just need a cuddle, or you just need love and now it’s just too much.

A fuck would be enough but how come you want more than a fuck from a fuckperson, you should’ve called the love person… O yeah…

They are non existent.

At least not for you.

Now the fuckperson left you alone in the hotel, and you’re there staring at the ceiling thinking how the hell can you be happy without anybody. Once a shrink told you that you should love yourself first before you love others but what to love from this wrecked body? This ugly face? This low self esteem? You remember working out and dieting out like hell and still the weight just goes up and up. And you went to a gastronomy doctor, paid almost half your salary just to eat crappy healthy food and work out and your mood got really bad because you’re hungry. You got stomachache then you just fuck it up by eating too many ramens.

So there you are staring at the ceiling thinking how the hell did you not fuck the fuckperson? And then you went to the bathroom just to puke because you feel sick of yourself. Then you looked at the mirror and realize why you did not fuck the very attractive fuck person.

It’s because for the last ten years or so, you’ve been fucking yourself so hard. It’s like you got married to yourself and you are sick of being with you because you got nowhere, it’s boring, and the love is gone and consumed like some sour ice cream fell to the asphalt and melt like your face right now. You remember being pretty, you remember your lovers and all the bitches and the bastards who fucked you hard, and you fight harder, but now there’s only fear and you flight. When did you lost it? When did you lost the love for yourself? Was it during the time you fucked yourself so hard with work and broken hearts and junk food? When was it the last time you embrace whatever left in you?

This food is poison.

Aw, shut up, self, you said. Life is no longer interesting, you think you know it all, you’ve got your dreams and lost it and reality sucks. Now you got no dreams left because you’re just too old for those shits. You want to be loved by yourself and by others, but do you really need it? Love?

You get back to bed naked and cold, you took the duvet to cover your body, take a deep breath five times just like a therapy used to teach you. And in your mind you are in a vast radiant sky, with stars and milky Way. And your fat ugly ass just floating there, like a very disgusting rotten corpse. And it’s okay because in the empty space, no stars will judge you and aliens are uglier than thou. If they’re pretty then they’re no longer aliens because it’s familiar. You’re thinking that aliens might’ve been a specks of sperm or something. So small and lived in space because oxygen kill them. Aliens are not necessary humanlike with limbs and hands and feet. They could be like a space stone that are alive inside.

And they’re absolutely better than you because they are alive and you are dying inside.

There’s so many ways to get self loathing and self blaming. Sometimes you were thinking of dying but you just too lazy and scared to commit suicide. It’s just too many effort.

You can’t even cut a dead chicken head, how come you cut your vein? You don’t like herbal drink, so you’ll just puke the poison. You were thinking to hang yourself but you’re just too fucking heavy, anywhere you tie the rope it’s gonna fall before you lose your breath. You were thinking of carbon monoxide poisoning, but you hate walking in the street and inhaling pollution. So what makes you think putting a tube from the car exhaust to your lungs will work ?

Sleeping pills are fucking expensive and you just quit medication because you prefer to spend your money to fuck strangers in a cheap hotels than buying meds for whatever diagnose your doctor prescribed you. Depression, anxiety, bipolar, borderline all those new stuff that your parents never heard of but you know they got it because your family is a dysfunctional one.

Might as well kill yourself with them.

***

You don’t remember what time you slept. Might as well be a few hours after sunrise because your window was shut and you don’ see any light from outside. But hell, the phone rang and the lazy receptionist asked whether you will checked out today or not. You said yes. So you wake up, its already 11am, and you took a bath (again, just out of automation), and got dressed then you order a cab to go home.

Its raining outside, and the feelings subside. In the cab, you had a bad feeling; the usual bad feeling that at home your spouse, children and parent are waiting for you ungratefully. You are stuck with them, and there are no lonelier place on earth, than to share a home with all the wrong people. You wished you could stay alone in that hotel room forever, looking at the ceiling counting make believe stars in a make believe universe. With a make believe loveperson in a make believe safe space. You wish.

Photo by Ave Calvar Martinez on Pexels.com

***

Hi, thanks for reading this short until the end. If you like what you read and you are an Indonesian, please treat me coffee so I can write some more by pushing the ‘treat coffee’ button. If you’re outside Indonesia, you can be my patron by clicking on my Patreon. Help me to write and keep giving you a well written content with a good user experience. Thanks.

Ethnography, Memoir, Racauan

Rejeki Udah Diatur, Tinggal Dikumpulin

Siapa yang ngatur rejeki? Yah waktu kamu lahir, keluargamu adalah ground Zero rejeki mu. Ada yang lahir kaya, ada yang lahir miskin. Ini dalam sosiologi disebut ascribed status, atau status yang hadir dari sononya. Jadi keluarga dan sanak saudara adalah sumber rejeki pertama, dari susu nyokap, duit bokap, pangkat om di kantornya, rejeki arisan tante, pencapaian sepupu-sepupu, dan lain-lain. Keluarga adalah dimana kita pertama kali ngatur dan ngumpulin rejeki kita.

Kita ga bisa ngatur lahir di keluarga kayak apa. Ada yang lahir di keluarga miskin dan disfungsional. Ada yang lahir di keluarga kaya dan disfungsional. Ada yang lahir di keluarga miskin fungsional dimana cinta dan usaha bokap nyokap keren banget buat gedein kita, ada yang lahir di keluarga kaya fungsional dimana kasih sayang dan kecukupan seringkali bikin kita manja dan takut buat terjun ke dunia, gampang baper, dan ga keluar-keluar dari rumah. Kalian dari keluarga apa? Tulis di komen lah, nanti kita ngobrol.

Sambil nunggu kalian komen, kita bisa mulai identifikasi keluarga sebagai sumber rejeki pertama kita. Membaca keluarga sendiri adalah tantangan paling sulit, karena kita terlalu dekat, terlalu terbawa konflik di dalamnya. Tapi biasanya, ketika ada acara keluarga dari mulai sunatan, lebaran, kawinan, kematian, kita bisa lihat sekompak apa keluarga kita. Ada keluarga yang sangking kompaknya sampe bisa bikin kawinan atau pemakaman gede-gedean walau semua orang miskin. Ada keluarga yang kaya banget, tapi sangking gak kompaknya, ketika ada anggota keluarga yang meninggal, yang dateng dikit dan yang nguburin bahkan bukan keluarganya. Masing-masing keluarga punya cara berbeda dalam berprodikai dan mengolah modalnya.

Ada keluarga kaya yang nggak suka berbagi dan sangat kompetitif, bangga-banggain prestasi anak dan pamer kekayaan, tapi begitu ada yang susah, perhitungannya setengah mati. Ada juga keluarga yang walau hidupnya pas-pasan tapi begitu ada anggota keluarga yang susah, semua kumpul guyub, bantuin sama-sama. Nggak ada yang salah dengan cara masing-masing keluarga mengatur rumah tangganya, toh mereka masih jadi keluarga–mungkin karena terpaksa.

Sekarang coba lihat keluargamu sendiri. Apa tata cara dan bahasa sosial mereka? Bagaimana mereka bekerja? Bisa nggak kamu ngobrol dan cari data sejarah keluargamu? Apakah keluargamu mantan ningrat, Raden Ayu atau Tubagus? Apa pengaruh keningratan itu? Atau jangan-nangan keluargamu adalah imigran dari Cina daratan, India, atau Arab? Ini semua menentukan rejeki awalmu. Dan ketika dunia kapitalis mulai jahat padamu, ketika bisnismu gagal semua, dan semua teman tidak bisa membantumu, sebelum kamu ke Allah, biasanya kamu ke keluarga. Bagaimana cara mereka membantumu?

Di luar keluarga kamu punya teman dan sahabat. Siapa lingkaran temanmu, juga menjadi sumber-sumber rejekimu. Kalau temanmu pada mabok semua dan ga ada yang bisa kerja, dan kamu orang yang baik dan bertanggung jawab, kamu akan mati dimakan teman-teman. Kalau sebaliknya, teman-temanmu yang kamu makan. Kalau kamu cuma berteman di internet dan introvert, itu masalah besar ketika kamu harus berjejaring dan bebas dari keluarga yang disfungsional, atau ketika kamu mau membantu keluarga disfungsionalmu.

Kemampuan bergaul dan komunikasi dimulai dari kemampuan membaca situasi dan keadaan sosial di lingkaran teman dan sahabat dekat. Jika itu saja kamu tidak berhasil, mungkin kamu harus ambil kelas atau baca buku how to yang sederhana untuk belajar ulang caranya bicara. Mungkin referensimu terlalu tinggi, atau terlalu kurang untuk bisa mengenal orang. Tanpa ilmu bergaul yang baik, kamu susah berjejariny dan rejekimu mandeg. Sudah diatur ada di situ, tapi kamu ga bisa dapet karena kamu ga tahu cara minta apalagi cara ngolahnya. Orang mikir kamu ga sopan dan ga empati, ngapain mereka sopan dan empati sama kamu?

Let say keluargamu disfungsional dan temen-temenmu ga bisa diandalkan. Kamu masuk ke dunia kerja. Kamu pilih kerjaan yang nggak usah bergaul, ga usah menjilat ga usah sosial. Kamu mau jadi sekrup di mesin yang besar, yang semua diatur sistem: jam kerja diatur, asuransi diatur, semua diatur. Kamu ga perlu kenal bosku cukup kenal supervisor di atas kamu satu tingkat, itu pun ga deket sama sekali. Di situ kamu lupa, bahwa sistem bisa dan seringkali akan collapse.

Krisis ekonomi, pandemi, bencana alam dan banyak lagi akan bikin sistem collapse dan kamu mau kemana ketika sistem itu hancur? Mungkin kamu bisa beruntung seperti orang Jepang tokoh bapaknya tokoh utama di 1Q84, yang sampai mati dikubur oleh jasa pemakaman yang ia pesan sendiri, dan selama hidup bekerja kayak robot, pensiun dengan dana investasi dan deposito. Itu kalau kebetulan bisa kerja let say, jadi PNS, yang sistemnya cenderung stabil. Di tahap itu rejeki yang diatur sudah kamu kumpulkan dan kamu atur sendiri. Tapi masa rejeki cuma duit? Si bapak itu keluarganya hancur, anaknya dia singkirkan dan dia ga mau kenal, cuma tahu Terima warisan aja. Bapak itu trauma karena istrinya selingkuh, dan ga mau berhubungan lagi dengan siapapun–termasuk anaknya sendiri. Itu pilihan dia sih, nggak apa-apa juga.

Bapak itu menggunakan solidaritas sosial yang ga kelihatan; karena semua sistem yang dibangun dan tempat dia hidup adalah sistem sosial. Ada orang-orang yang nggak dia kenal yang bangun rumahnya, sampai gali kuburnya. Dan itu mungkin tidak semenyakitkan kalau yang bangun rumah dan gali kubur adalah orang yang kita kenal. Itu ide bagus dalam menghindari baper di jaman ini. Kalau kamu lihat bahwa hidup sesepi itu lebih baik. Semua balik-balik sama kamu sendiri sih.

Rejeki sudah diatur, tapi hanya diawal ketika kita belum bisa atau dipaksa mengatur rejeki kita. Ketika kita punya tanggungan, rejeki tanggungan kita ya kita yang atur. Kita kumpulkan satu-satu dari keluarga, teman, kantor, atau bisnis sendiri dengan mengolah minimal ketiga sumber itu, ditambah sumber-sumber lain seperti investasi dan tabungan. Dan semua yang itu bisa membuat kita mengurus diri kita sendiri. Pertanyaan selanjutnya, bisa kah kita mengurus orang lain?

***

Saya bangga sekali degan saudara-saudara dan sahabat-sahabat yang membantu saya untuk tetap menulis, menyemangati, membaca, mengomentari, dan mentraktir saya kopi untuk membuat website ini tetap ada. Dulu saya menulis untuk diri sendiri, sekarang saya menulis untuk kalian semua. Terima kasih sudah membaca. Website ini saya buat supaya kalian nyaman membaca, dan saya butuh bantuan kalian untuk ikut patungan bayar domain dan hostingnya. Traktir saya kopi murahan dengan menekan tombol di bawah ini atau dengan gopay, biar kalian tetap nyaman membaca semua konten di sini.

Atau bisa juga via gopay:

English, Memoir, Racauan

Guilt

You don’t deserve it

But you can try to earn it

The Gary, Final Space

So many bad things I’ve done. Burning bridges, taking for granted the love, the trust. I cheated, I lied, I hide, I told incredible stories that probably didn’t happened–I don’t know I was nuts.

The guilt haunts me in every breath that I took, and it doesn’t make me good. I m guilty as charged and I have admitted it. I have been punished by losing the things I love, people I care about, a home, sanity, and money.

And yet still I get happiness. And this happiness is my ultimate crime because I made people love me. I don’t deserve this love, this life. After all that I’ve done. But I’ve got the words to describe it now. Now that I am blessed with unbearable lightness of being, I’ve got to earn what has been given. That privilege should be a debt that can only be paid forward.

With every evaluated sin, wisdom should come forth. And wisdom is nothing but action to earn what has been given.

Blessed thy soul, you who have passed by and who will come forth. I cannot save you but I will endure you if I can.

This website is run by donation. If you like this post, and you live in Indonesia, please click this button to treat the writer some coffee.

Or scan this with your Go Jek App:

Ethnography, Politik, Racauan

2 Cara untuk Memperlambat Kepunahan Manusia

Jadi begini kawan-kawan. Dulu ada sebuah banyolan di tongkrongan saya:

“Kiamat selalu dekat, tapi tak pernah datang.”

Hari ini, anekdot itu tidak lagi berlaku. Kalo kiamat adalah hari dimana dunia manusia hancur oleh penyakit, bencana alam, dan kematian massal homo sapiens, maka kita sudah di sana. Sementara alam semesta akan jalan terus ketika kita semua sudah mati. Seperti dulu sebelum ada kita, alam akan terus ada dan mengembang (expanding), sampai terjadi supernova dan semua kembali mengulang mencari bentuk. Saat itu akan terjadi milyaran tahun setelah kita nggak ada.

Kembali ke sains dan fakta, kenyataannya dunia kita tidak pernah sepanas ini semenjak manusia ada. Dalam 100 tahun, revolusi Industri dan eksploitasi alam sudah membuat banyak kemajuan peradaban, tapi di saat yang sama mempercepat kehancuran kita semua. Pabrik-pabrik, mobil, transportasi dan pembangkit listrik membuat polusi dan emisi menghabiskan oksigen yang kita hirup. Konsumsi daging kita dan overproduksi peternakan sapi membuat ozon kita habis digantikan kentut-kentut dan uap tahik ternak di udara di seluruh dunia. Kebakaran hutan untuk lahan pertanian dan sawit, membuat CO2 melayang bebas, dan tidak ada saringan dan lingkaran kehidupan terputus. Yang rugi bukan alam, kita tidak menyakiti alam. Alam kebal, dan akan jalan terus. Binatang terus punah dan berevolusi bermutasi menjadi berbagai bentuk. Kita dan hanya kita yang jika punah, akan kehilangan spesies kita.

Dan kita tak bisa berhenti, karena kita mau ngasih makan banyak orang, menghidupkan banyak industri. Bahkan 2 tahun pandemi, yang gila-gilaan merusak ekonomi dan memperlambat kecepatan produksi kita tidak berpengaruh banyak untuk mengurangi polusi. Kok bisa? Ya karena transportasi tetap berjalan dan kita tetap butuh makan dengan cepat, logistik harus jalan terus walau kita banyak yang tidak kerja. Sentralisasi logistik membuat kita nggak merasa perlu punya pertanian sendiri di rumah kita, kita tetap pesan barang online, konsumsi, konsumsi, konsumsi! Dan sampah? Sampah terus kita buat dan tidak bisa kita hentikan.

Siapa yang salah? Kita semua. Tapi ada yang paling salah. Yang paling salah bukanlah kita yang kerja banting tulang tiap hari, ngutang kiri kanan, offline online buat hidup di masa pandemi. Penyumbang terbesar terhadap kiamat kita adalah orang-orang super kaya penghasil energi dan penjahat eksploitasi alam yang overproduksi. Mereka yang untuk bisa makan tuna sirip biru, harus merusak seluruh ekosistem laut. Mereka yang mampu membangun, menggerakan ekonomi dengan jari mereka, dan borosnya setengah mati. Mereka yang menghabiskan modal untuk hal-hal super mewah. Karena kalau mau jujur, masalah kelaparan dunia, misalnya, bisa saja selesai dengan duit untuk beli pesawat jet pribadi atau membangun mansion-mansion mewah yang cuma diisi sedikit orang, atau bikin tambang crypto.

Kita ditakut-takuti dengan overpopulasi, disuruh pake KB, padahal kebanyakan lahan di bumi ini diisi oleh sedikit orang-orang kaya yang pengen ngelihat alam dengan lega, atau tempat buat pabrik, retail, dan tambang mereka. Amerika dan Inggris berhasil mengurangi emisi dengan mindahin semua pabrik ke Asia. Dan lihat kita sekarang! Bangladesh dan India jadi negara paling polutif di dunia itu gara-gara siapa? Mereka dulu lupa, dimanapun pabrik dipindahkan, efeknya tetap buat kita semua, walau mereka nggak merasakan dampak langsung. Kutub meleleh, air laut naik, dan pulau-pulau tenggelam, dimanapun itu pabrik didirikan.

Ada dua film pendek yang harus kamu tonton buat melihat masa depan yang hampir pasti datang. Pertama adalah film “Pesan dari Masa Depan” Karya Luthfi Pradita. Film ini memperlihatkan dunia yang akan kita tinggali, dan ini bukan lagi ancaman tapi kepastian. Di banyak negara di Eropa dan beberapa negara bagian di Amerika, seperti Pittsburgh, orang tidak hanya mendengar ramalan cuaca atau melihat google maps untuk lalulintas sebelum jalan keluar. Mereka juga memperhatikan berapa kadar partikel polusi udara hari ini. Karena pertikel polusi udara dari kendaraan adalah penyebab kematian nomor 1 hari ini. Jumlah orang yang mati akibat polusi udara di luar dan di rumah tangga di dunia, menurut WHO, sudah mencapai 7 juta per tahun! Itu dua kali lipat kematian covid per tahun dan 3 kali lipat kematian akibat kecelakaan lalu lintas! Mereka semua mati karena penyakit jantung, pneumonia, dan kanker paru, digabung! Dan si semua mayat mereka, kadar particulate matter (bahan polusi dari transportasi dan pabrik) sangat tinggi. Untuk bisa hidup sedikit lebih panjang, silahkan baca guideline dari WHO berikut ini.

Sementara itu film “Masa Depan Cerah 2040” karya Winner Wijaya harusnya ganti judul jadi “Masa Depan Cerah 2025”, karena masa itu sudah datang: masa dimana kita semua harus pake hazmat dan oksigen buat keluar rumah, masa dimana hubungan sosial harus dilakukan via realitas virtual, itu sudah datang. Kalau kita masih menganggap dua film itu fiksi, maka kita benar-benar buta dan nggak bisa evaluasi diri.

Lalu kita harus apa? Kalau kamu berpikir tentang tidak menggunakan plastik sekali pakai, mematikan lampu dan AC kalau tidak diperlukan, atau kurang-kurangi belanja hal yang gak perlu, atau belanja hanya hal-hal baik yang tidak merusak alam, kamu sudah bener tapi kurang berguna. Karena kamu bisa bayangkan, PBB dan semua ilmuan sejak hampir satu dekade lalu bilang, kita semua harus menurunkan emosi global 7.4% per tahun supaya bisa bertahan hidup di masa tanpa covid. Setelah covid dua tahun, dengan semua lockdown, dan banyak kegiatan ekonomi terhenti, kita cuma bisa menurunkan 6.4%! Kenapa bisa begitu? Padahal transportasi publik dan pesawat sudah drastis menurun.

Jawabannya karena kita di rumah masih pake listrik dan AC berlebih, pabrik masih jalan. Dan kalaupun kita hemat-hemat, atau ikut earth hour, itu juga nggak akan ngaruh karena pembangkit listrik kita kebanyakan masih tenaga batu bara/minyak bumi. Dan pembangkit itu dimiliki orang para pengusaha oligarki, bukan milik negara. Tonton film Dandy Laksono ini buat tahu betapa mengerikan bisnis energi di Indonesia:

Jadi masalah energi ini kompleks dan nyebelin banget. Lalu apa kita harus menyerah dan menunggu mati aja? Atau kita mau nabung beli masker dengan filter yang harganya 3 juta itu? Siap hidup di Masa Depan Cerah 2040? Kalo masih mau fight, saya punya pemecahannya.

Pertama, bikin komunitas dan gerakan politik untuk ngubah kebijakan struktural negaramu soal plastik, sampah, dan listrik. Ini bisa dilakukan dengan mendukung petisi-petisi tentang plastik, sampah, dan listrik, atau membuat petisimu sendiri. Berikut adalah beberapa petisi yang bisa kamu dukung:

Cukai plastik
https://chng.it/gs9YgFzdjG

UU pengurangan plastik
https://chng.it/MYYqGqkddr.

PLTP
https://chng.it/c2nX2xYP5r

Masih banyak petisi yang harus dibuat dan mencari dukungan macam-macam. Belum ada petisi yang ekstrim soal pelarangan produk plastik sekali pakai, atau undang-undang emisi yang bisa mengurangi emisi kita sebesar-besarnya. Lalu saat satu yang paling krusial dan berantakan adalah soal pesawat terbang komersial yang emisinya gede banget. Kalau pesawat bisa dibikin mahal dan transportasi yang lebih ramah lingkungan seperti kereta listrik dan kereta bawah laut bisa digalakan, tentu umur kita bisa lebih panjang sedikit. Kalau tidak ada yang bikin petisinya, mungkin saya akan bikin ketika ada waktu lebih buat risetnya.

Kedua, investasi ke produk ramah lingkungan dan energi terbarukan. Kita selalu tergantung pada energi-energi yang tidak sustainable seperti minyak bumi, batu bara, panas bumi, dan gas alam. Kalau ada perusahaan fintech yang bersedia bikin app untuk invest ke produk ramah lingkungan segampang bibit, dan tidak melulu soal UMKM, saya mau mau banget invest. UMKM itu baik, tapi nggak signifikan untuk membuat hidup kita lebih panjang. Karena masalah kita sudah sebegitu besarnya, kita butuh sebuah cara yang lebih massif dan jitu seperti pembangkit listrik tenaga angin dan matahari yang lebih bisa diakses banyak orang. Selama nggak ada investasinya, maka kita masih akan menderita dengan mati lampu yang sering banget, dan kita nggak digdaya untuk punya energi terbarukan dan pembangkit listrik sendiri yang jauh lebih ramah lingkungan. Teknologinya masih terlalu mahal. Tapi kita banyak orang kaya, dan kelas menengah kita suka invest jangka panjangnya maka seandainya ada fintech yang memiliki broker atau financial planning untuk green investment di Indonesia, kita mungkin akan bertahan.

Kalau kamu mau lebih tahu soal korporat-korporat yang sedang mengusahakan energi terbarukan yang aksesiboe, kamu bisa baca artikel ini dan secara manual, invest ke perusahan-perusahaan yang terdaftar di sini.

Ada beberapa hal yang bisa kamu fokuskan uang investasimu, dan keuntungannua kamu akan dapet cepet dalam bentuk bukan yang, tapi umur spesiesmu yang lebih panjang. Carilah perusahaan-perusahaan yang sedang mengembangkan tenaga Surya dan angin, invest ke pengembangan daging artifisial untuk mengurangi peternakan. Kalau perlu kamu bikin start up nya: energi mandiri di rumah melalui tenaga surya dan angin, biar ga tergantung PLN. Contohnya seperti video dari bali ini:

Ini bukan lagi pencegahan. Ini pertahanan hidup. Kiamat sudah sampai, dan tidak seperti fiksi sains, kiamat tidak datang sehari selesai. Masa panceklik menyeramkan ini masih panjang dan begitu menyiksa. Terus kalau kita nggak gerak, ya kita akan mati duluan. Sementara yang mau gerak, insyallah bisa pelan-pelan berevolusi menjadi spesies baru: yang tahan polusi atau memakai alat bantu, atau mengoperasi dirinya sendiri menjadi homo deus.

Untuk mengakhiri tulisan ini, saya persembahkan ke kalian film pendek saya bersama WWF Indonesia, Sejak Dini. Film ini minimal bisa ngajarin kita untuk berusaha hidup dengan beli yang baik-baik, supaya apa? Menunda kepunahan kita sedikit lagi.

***

Wow, kamu selesai membaca tulisan tentang lingkungan! Selamat! Dengan ini semoga kita ketemu 10 tahun lagi dalam kondisi cukup sehat. Amin!

Website ini dijalankan sepenuhnya dengan donasi yang dipakai buat bayar hosting, riset, dan nulis. Kalau kamu merasa tulisan ini berguna, boleh traktir penulisnya kopi dengan menekan tombol berikut:

Atau scan di sini untuk pake Go Pay: