Anthropology, English, Film/Video, Filsafat, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan

Conspiracy (kon-spi-ra-si) | LockDown Series Episode 3

For Indonesian language scroll down.

In a YouTube conspiracy theory and fake news channel, a bio terrorism suspect named Juan Dominic is telling the audience how he and his extremist groups started the corona virus. The host of the show, Brian Juno, is setting a trap for Dominic–but Dominic is also setting a trap for Juno, and all humanity.

Dalam sebuah channel teori konspirasi, seorang tersangka bio terorisme bernama kode Juan Dominic membeberkan cara dan alasan penyebaran virus Covid 19. Pembawa acara Brian Juno berusaha menjebak sang teroris. Tapi yang tidak ia sangka, sang teroris juga berusaha menjebaknya; dan seluruh umat manusia.

Me and my friend Camilo made this video to participate in LockDown Series production conducted by MondiBlanc Film Workshop. We usually spent hours talking about philosophy or politics, so what the hell, we just made a fiction out of our usual conversation. This is an essay in a fiction form. Enjoy!

Saya dan sahabat saya Camillo membuat video ini untuk mengikuti rangkaian produksi Lock Down Series yang diprakarsai oleh MondiBlanc Film Workshop. Kami bisa menghabiskan waktu ngobrol berpanjang-panjang soal filsafat dan segala macam teori konspirasi, maka tak ada salahnya kami pakai obrolan kami untuk membuat sebuah karya fiksi yang berdasarkan data dan fakta-fakta— beberapa pastinya ada yang ngawur. Karenanya, ini adalah sebuah esei dialog berbentuk drama fiksi.

Untuk memudahkan penonton Indonesia, saya sudah membuat subtitle bahasa Indonesia untuk episode ini. Silahkan aktifkan close caption youtube dan pilih bahasa Indonesia. Selamat menikmati esei dalam bentuk drama fiksi via zoom ini.

English, Filsafat, Racauan

How to Prove God Exists to Atheists

So, you’re an Atheist?

Okay, you may not believe in God, but do you believe that your mind exists?

Sure you do, if not how do you suppose to read and understand the things I wrote? But how do you prove that your mind exist? Neuroscience could say that there are pulses or hormones, or synapsis or whatever that prove the existence of an ‘activity’ in your brain. But there hasn’t been any technology that can read your mind, imagination, or memory, vividly. We are living in a dystopia society and a black mirrored future, but mind reading machine still need to be develop for years ahead.

You might say, “Well, the mind exists and we can prove it subjectively and objectively with tools. And like black hole or far away space objects, we will get the accurate data eventually. It’s not Schrodinger’s cat: the mind does exist. But God, on the other hand…”

Let me put it this way then. Your mind, exist. The things you think about, exist in your mind: the imagination, the stories, the myths, the dreams. If you think about God, then She/He exists. If you think God does not exists, it won’t cause God to disappear from other people’s head.

In the end, we will mind our own mind. At least the ‘idea’ of God is in your Atheist head, then the existence or non-existence of God, does exists in your head too. Atheist don’t need to prove the existence of God. It doesn’t matter. But existence of the self, of identity, of politics and other abstract stuff, most atheists feel the need to prove them. Ergo, atheism is a belief system, just like religion. It’s institutionalized by all things secular.

God is problematic because He/She/It is dialectic historically. But the people who believe, are kind of ahistoric when it comes to this discussion. The history or dialectic of God will dissolve the foundation of God as an almighty and infinite being. If God is always changing, then there will be a possibility that it does not exist, and it bugs all the religious people. Atheists in a sense of dialectical, factual based argument, are supposed to be flexible.

But reality is hard, everybody knows that. Even for Atheists, reality is hard. We want to give meaning to our lives , and if we are unable to do so, if we feel that our lives are irrelevant, we need guidance. Religious people get it from their preachers. Atheist or moderately religious people get them from psychologists orang psychiatrist.

We are all human after all. We are all unique, but none of us are special. We need to worship something, and those who say they don’t, are hypocrites.

Filsafat, Racauan

Manifesto Pedagogi Pandemi

Mari kita mulai tulisan ini dengan beberapa fakta soal kondisi belajar hari ini:

Pertama, sistem pendidikan sudah ketinggalan zaman dibanding sistem informasi. Pada akhirnya orang melakukan cara belajar sendiri yang otodidak seperti yang dikhayalkan oleh Wachowski bersaudara di film The Matrix: download, biasakan, dan voila! Kamu akan bisa. Hari ini kita punya youtube dan kursus-kursus online. Sudah pasti transfer skill akan menjadi kenyatakan, dan guru di masa depan bukan lagi manusia tapi artificial intelligence, atau data yang sudah dikompilasi.

Kedua, kelas-kelas menjadi tidak relevan. Infrastruktur pendidikan tidak lagi diperlukan kecuali dalam bentuk hardware dan software untuk transfer skill. Untuk bekerja, orang tinggal belajar di internet dan langsung mengerjakan. Untuk mengoperasikan alat, hal yang sama bisa dilakukan karena kebanyakan alat-alat kerja hari ini juga sudah otomatis. Dari mulai mobil sampai autocorrect di HP atau komputer saya.

Ketiga, production based learning. Belajar tidak lagi menjadi proses trial and error. Trial and error adalah proses penelitian yang dilakukan berdasarkan data terdahulu. Itu sudah sebuah kerja. Sisanya, proses belajar akan dilihat sebagai sebuah kerja/project yang menghasilkan sebuah produk. Produknya bisa berkualitas, jika seorang siswa-pelerja ini bisa mengolah data dengan baik.

Dari sinilah saya merasa bahwa program pendidikan di masa depan tidak lagi membutuhkan guru, tapi membutuhkan mentor/tutor yang bertindak sebagai partner kerja, bersama membuat produk atau project, yang menghasilkan  uang dan skill baru di saat bersamaan.

Ini masa depan pendidikan kita yang harus kita jelang bersama.