Dear Eseinosa,
Ya, kamu adalah kritikus paling tolol yang saya kenal, karena… no surprise, kamu adalah diri saya sendiri. Dan saya hidup sama kamu seumur hidup saya. Saya tahu yang kamu pikirkan dan perlu waktu, pengalaman, dan begitu banyak penderitaan untuk memahami pola pikirmu yang sombong dan sok tahu. Yang paling menyenangkan dari menulis kritik untuk diri, atau bahasa kerennya, otokritik ini, adalah yang akan marah cuma kamu. Itu pun kamu tidak berhak marah, saya yang berhak marah karena saya adalah orang yang menuai semua ketololanmu.
Ketololan pertama yang kamu lakukan adalah kamu tidak bisa menjaga mulutmu dalam proses berpikir yang belum selesai. Kamu kurang zen, kurang kontemplasi. Dulu, sekitar 20 tahun lalu, Tito Imanda, sahabat kita, pernah berkata, “Hati-hati sama apa yang kamu tulis di internet, ideologi yang kamu percaya, kritik terhadap pemerintah, film, seni, musik.” Kamu yang muda dan tolol tentunya tidak berpikir soal saya, 20 tahun kemudian, yang kini hidupnya jadi terbatas gara-gara racauanmu. Musuh jadi banyak, dan tidak diplomatis. Idealis boleh, tapi tak menghargai orang yang kerja keras untuk karya yang kamu kritisi pedas, cuma berakhir jadi antipati vs antipati.
Kamu pergi dari Indonesia, setelah marah-marah pada kerjaan dan rejeki yang membuat kamu merasa bukan dirimu dan bikin kamu diopname. Kerja di Amerika Serikat jaman Obama bikin kamu mabuk validasi, merasa bahwa tempatmu bukan di Indonesia, di antara keluarga dan teman-teman yang kebanyakan pragmatis, sistem yang kongkalikong kekeluargaannya, menutup tempat untukmu si tukang kritik kurang ajar. Kamu merasa karirmu dijegal, industri jahat, apalah itu, padahal kamu dan idealismemu yang menutup semua itu. Dan kamu bersembunyi dengan ‘kabur aja, kalau bisa selamanya.’ No surprise lagi, kamu harus pulang dan menderita di antara bangsamu.
Kamu sakit hati karena sebagai akademisi, kamu biasa-biasa aja. Nggak pernah dapet beasiswa penuh, nggak pernah masuk jurnal Scopus. Paling cuma diskon kampus luar negeri yang kamu gak akan bisa bayar. Apa kamu ingat ketika seorang profesor internasional yang baik hati, menunjuk posisi essaymu dalam sebuah jurnal: essaymu berada di posisi terakhir dari sederetan kritikus film nasional dan internasional ternama. Profesor itu bilang, “Lihat. Ini posisi kamu hari ini.” Sebuah kalimat yang sebenarnya untuk mengingatkanmu agar terus belajar dan berkembang, supaya kamu bisa lebih diakui di bidang akademik. Tapi kamu dan kesombongan mudamu, dosen muda usia 24 tahun, malah merasa bahwa itu adalah sebuah tantangan untuk bikin sesuatu yang lebih gila: meninggalkan jurnal akademik dan… membuat blog tolol ini.
Pikiranmu yang polos adalah: apa gunanya kritik dan riset di jurnal mentereng menara gading? Apa impact-nya? Lalu kamu mulai menulis dengan clickbait provokatif. Kamu tidak suka penolakan, jadi kamu memilih penciptaan di luar sistem yang akan menolakmu. Riset dan pembacaan tidak kamu pertanggunjawabkan secara akademik, walaupun sebenarnya bisa-bisa saja, tapi kamu tidak mau, supaya pembaca umum bisa mengerti kritikmu, supaya filmmaker bisa tertohok. Apa hasilnya? Banyak anak muda dan netizen mengelu-elukan ketenaran 15 menit mu yang membakar kebencian pada karya yang kamu anggap buruk? Banyak dede-dede SJW kagum di sosmedmu dulu? Tolol sekali, kamu cuma memberikan validasi pada bocah-bocah baru baca yang hormonnya sedang mengamuk.
Lalu kamu begitu noraknya dengan pergaulan internasional, yang kamu dapatkan karena privilige, dan mulai mengatasnamakan kelas terpinggirkan, kaum marginal, gender minoritas untuk mengkritik film-film Indonesia yang ditonton banyak orang sebagai film-film yang maniak kapital, penjahat komersial, kurang riset. Kamu nulis-nulis soal orang terpinggirkan, sambil tiap tahun bolak balik Indonesia-Amerika, pake baju bermerk, minum starbucks. Cih. Memalukan. Lihat sekarang, ketika politik dunia berubah, kamu dipecat berjamaah, kamu bingung mau jadi apa di Indonesia. Kamu kembali ke belas kasih teman-teman seperti dulu ketika kamu kuliah dan dijajanin temen-temenmu untuk bisa makan sehari-hari–cuma karena kamu nggak mau mengulang kekecewaan membangun karir satu dekade untuk tidak jadi apa-apa karena ada di bawah institusi yang bukan milikmu sendiri.
Dulu, popularitas sebuah karya di Indonesia kamu anggap sebagai momok—endorsing kebodohan, pikirmu. Kamu mengatasnamakan grup etnis yang kamu teliti dan mendapatkan mis-representasi di film-film mainstream sebagai kaum yang dipinggirkan. Kamu protes pada Joko Anwar yang bikin Perempuan Tanah Jahanam dengan memakai wayang tanpa pakem, dengan tokoh-tokoh berbahasa Jawa yang beda-beda dialek padahal katanya sekampung. Kamu sebal dengan KKN Desa Penari 2, yang kamu keluhkan tidak dengan mapan merepresentasikan dialek multikultural film-film lama yang jadi referensinya. Kamu tidak berpikir tentang hal terpenting dalam filmmaking: bahwa film adalah sebuah karya kolaboratif, dan lakunya sebuah film adalah kolaborasi antara pemodal, periset, penulis, pembuat film, marketing dan yang terpenting: penonton yang membeli tiket bioskop murni tanpa voucher atau BOGOF (Buy One Get One Free).
Aku tahu pikiranmu dulu, ketika ada kritikus film yang memuja-muja film populer, atau seorang mahasiswa PhD antropologi yang suka karya-karya Hanung Bramantyo. Pikirmu: buat apa kuliah tinggi-tinggi kalau sukanya film ‘macam itu.’ Pembacaanmu pada karya-karya yang dapat pengakuan banyak penonton penuh prasangka. Data yang kamu kumpulkan susah-susah, kamu baca dengan bias negative filtering dan prasangka-prasangka. Kamu mengaku menganut neo-marxist, tapi gagal melihat moda produksi yang terjadi di Indonesia yang industri filmnya baru hidup lagi. Kamu gagal melihat bagaimana Nayato Fio Nuala membangun industri dengan kuantitas film-film yang dibuat dengan DSLR, padahal model produksi filmnya hari ini kamu pakai untuk bikin film-film Omnibus MondiBlanc yang satu tempat syuting 5 film sekaligus. Kamu merendahkan film-film yang masih buta pada IP licensing karena sedang belajar, dan mentang-mentang kamu tahu sedikit, kamu bicara seakan kamu profesor.
Baru belajar soal Dunning-Krueger 20 menit, merasa sudah ahli. Sekarang kamu terjangkit imposter syndrome. Rasain.
Rasain sekarang ketika setelah 10 tahun, ada kesempatan bikin film panjang pertamamu, dan semua idealismemu soal kaum marginal, gender minoritas, kelas sosial, bikin ceritamu tidak menapak pada pengalaman manusiawi dengan bumi yang ia tinggali. Rasain dimarahin opa Paolo Freire yang metodenya kamu pake terus untuk ngajar workshop, tapi kamu lupa kalimat penting bahwa tidak semua orang perlu jadi akademisi. Semua orang hanya perlu jadi dirinya yang kritis dan progresif pada konteksnya masing-masing untuk bebas dari opresornya tanpa jadi opresor baru. Dan tidak semestinya kamu mengatasnamakan orang lain untuk membuat dirimu tervalidasi. Semua teori dan struktur yang terbangun lewat pembacaan dekat dan jauh runtuh di hadapan kenyataan bahwa teori dan struktur menutup akses orang untuk mengerti apa yang ingin kamu ceritakan.
Sekarang baru kamu belajar bahwa akses adalah kata kunci untuk bisa membuat sebuah film. Kamu mau kasih akses ke siapa untuk mengerti film kamu? Kritikus? Akademisi? Programmer? atau orang-orang yang perlu dibuka pikirannya untuk bicara tentang hal nyata yang sangat perlu dibicarakan tapi tidak pernah keluar dari pikiran mereka? Membuka akses bukan soal merendahkan selera, tapi membuat strategi dari pembacaan kebudayaan yang jitu. Itu saja kamu belum mampu. Tolol.
Akhir kata, Eseinosa, saya cuma mau bilang: hentikan jadi FOMO (Fear of Missing Out), mulailah jadi ROMO (Relief of Missing Out). Nggak usah ikutin the rabbit hole. Mumpung sedang kalah, ini waktunya untuk baca perlahan, tulis perlahan, nikmati waktu yang sudah kamu usahakan tersedia untukmu menikmati hidup dan semua sensasi dari membaca, menulis, menonton, merekam, mencipta dan mengapresiasi. Tidak perlu mendengar bisingnya teriakan-teriakan hal-hal yang tak tersentuh untukmu–dendam masa lalu, dan moralitas abstrak yang kamu dapat dari buku. Ambil sedikit saja, buat kaca pembesar dan jadikan lautan data itu cahaya matahari yang kamu fokuskan untuk membakar segala kebodohanmu. Nanti ketika film kamu selesai, kamu akan dihina-dina oleh reviewer dan kritikus yang merasa mengerti caranya bikin film. Beberapa mungkin memuji. Sedikit akan mengkaji. Di situ, lebih baik kamu mengaji, supaya terlindung dari Tuhan yang semau-maunya sendiri.
Ayo hidup dengan utuh. Sekarang.
Tabik!
Terima kasih telah membaca sampai habis. Website ini jalan dengan sumbangan, iklannya tak menghasilkan, dengan lisensi Creative Commons, Atribution, Non commercial. Kamu boleh pakai konten ini selama memberikan link sumber dan bukan untuk tujuan komersial. Kalau kamu suka dengan yang kamu baca, silahkan traktir saya kopi murah.
Eksplorasi konten lain dari Esei Nosa
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
