Shattered mirror with a dark blurred reflection on wooden floor
Film, Kurasi/Kritik, Memoir, Politik, Racauan

Surat Untuk Tukang Kritik Paling Tolol Yang Saya Kenal

Dear Eseinosa,

Ya, kamu adalah kritikus paling tolol yang saya kenal, karena… no surprise, kamu adalah diri saya sendiri. Dan saya hidup sama kamu seumur hidup saya. Saya tahu yang kamu pikirkan dan perlu waktu, pengalaman, dan begitu banyak penderitaan untuk memahami pola pikirmu yang sombong dan sok tahu. Yang paling menyenangkan dari menulis kritik untuk diri, atau bahasa kerennya, otokritik ini, adalah yang akan marah cuma kamu. Itu pun kamu tidak berhak marah, saya yang berhak marah karena saya adalah orang yang menuai semua ketololanmu.

Ketololan pertama yang kamu lakukan adalah kamu tidak bisa menjaga mulutmu dalam proses berpikir yang belum selesai. Kamu kurang zen, kurang kontemplasi. Dulu, sekitar 20 tahun lalu, Tito Imanda, sahabat kita, pernah berkata, “Hati-hati sama apa yang kamu tulis di internet, ideologi yang kamu percaya, kritik terhadap pemerintah, film, seni, musik.” Kamu yang muda dan tolol tentunya tidak berpikir soal saya, 20 tahun kemudian, yang kini hidupnya jadi terbatas gara-gara racauanmu. Musuh jadi banyak, dan tidak diplomatis. Idealis boleh, tapi tak menghargai orang yang kerja keras untuk karya yang kamu kritisi pedas, cuma berakhir jadi antipati vs antipati.

Kamu pergi dari Indonesia, setelah marah-marah pada kerjaan dan rejeki yang membuat kamu merasa bukan dirimu dan bikin kamu diopname. Kerja di Amerika Serikat jaman Obama bikin kamu mabuk validasi, merasa bahwa tempatmu bukan di Indonesia, di antara keluarga dan teman-teman yang kebanyakan pragmatis, sistem yang kongkalikong kekeluargaannya, menutup tempat untukmu si tukang kritik kurang ajar. Kamu merasa karirmu dijegal, industri jahat, apalah itu, padahal kamu dan idealismemu yang menutup semua itu. Dan kamu bersembunyi dengan ‘kabur aja, kalau bisa selamanya.’ No surprise lagi, kamu harus pulang dan menderita di antara bangsamu.

Kamu sakit hati karena sebagai akademisi, kamu biasa-biasa aja. Nggak pernah dapet beasiswa penuh, nggak pernah masuk jurnal Scopus. Paling cuma diskon kampus luar negeri yang kamu gak akan bisa bayar. Apa kamu ingat ketika seorang profesor internasional yang baik hati, menunjuk posisi essaymu dalam sebuah jurnal: essaymu berada di posisi terakhir dari sederetan kritikus film nasional dan internasional ternama. Profesor itu bilang, “Lihat. Ini posisi kamu hari ini.” Sebuah kalimat yang sebenarnya untuk mengingatkanmu agar terus belajar dan berkembang, supaya kamu bisa lebih diakui di bidang akademik. Tapi kamu dan kesombongan mudamu, dosen muda usia 24 tahun, malah merasa bahwa itu adalah sebuah tantangan untuk bikin sesuatu yang lebih gila: meninggalkan jurnal akademik dan… membuat blog tolol ini.

Pikiranmu yang polos adalah: apa gunanya kritik dan riset di jurnal mentereng menara gading? Apa impact-nya? Lalu kamu mulai menulis dengan clickbait provokatif. Kamu tidak suka penolakan, jadi kamu memilih penciptaan di luar sistem yang akan menolakmu. Riset dan pembacaan tidak kamu pertanggunjawabkan secara akademik, walaupun sebenarnya bisa-bisa saja, tapi kamu tidak mau, supaya pembaca umum bisa mengerti kritikmu, supaya filmmaker bisa tertohok. Apa hasilnya? Banyak anak muda dan netizen mengelu-elukan ketenaran 15 menit mu yang membakar kebencian pada karya yang kamu anggap buruk? Banyak dede-dede SJW kagum di sosmedmu dulu? Tolol sekali, kamu cuma memberikan validasi pada bocah-bocah baru baca yang hormonnya sedang mengamuk.

Lalu kamu begitu noraknya dengan pergaulan internasional, yang kamu dapatkan karena privilige, dan mulai mengatasnamakan kelas terpinggirkan, kaum marginal, gender minoritas untuk mengkritik film-film Indonesia yang ditonton banyak orang sebagai film-film yang maniak kapital, penjahat komersial, kurang riset. Kamu nulis-nulis soal orang terpinggirkan, sambil tiap tahun bolak balik Indonesia-Amerika, pake baju bermerk, minum starbucks. Cih. Memalukan. Lihat sekarang, ketika politik dunia berubah, kamu dipecat berjamaah, kamu bingung mau jadi apa di Indonesia. Kamu kembali ke belas kasih teman-teman seperti dulu ketika kamu kuliah dan dijajanin temen-temenmu untuk bisa makan sehari-hari–cuma karena kamu nggak mau mengulang kekecewaan membangun karir satu dekade untuk tidak jadi apa-apa karena ada di bawah institusi yang bukan milikmu sendiri.

Dulu, popularitas sebuah karya di Indonesia kamu anggap sebagai momok—endorsing kebodohan, pikirmu. Kamu mengatasnamakan grup etnis yang kamu teliti dan mendapatkan mis-representasi di film-film mainstream sebagai kaum yang dipinggirkan. Kamu protes pada Joko Anwar yang bikin Perempuan Tanah Jahanam dengan memakai wayang tanpa pakem, dengan tokoh-tokoh berbahasa Jawa yang beda-beda dialek padahal katanya sekampung. Kamu sebal dengan KKN Desa Penari 2, yang kamu keluhkan tidak dengan mapan merepresentasikan dialek multikultural film-film lama yang jadi referensinya. Kamu tidak berpikir tentang hal terpenting dalam filmmaking: bahwa film adalah sebuah karya kolaboratif, dan lakunya sebuah film adalah kolaborasi antara pemodal, periset, penulis, pembuat film, marketing dan yang terpenting: penonton yang membeli tiket bioskop murni tanpa voucher atau BOGOF (Buy One Get One Free).

Aku tahu pikiranmu dulu, ketika ada kritikus film yang memuja-muja film populer, atau seorang mahasiswa PhD antropologi yang suka karya-karya Hanung Bramantyo. Pikirmu: buat apa kuliah tinggi-tinggi kalau sukanya film ‘macam itu.’ Pembacaanmu pada karya-karya yang dapat pengakuan banyak penonton penuh prasangka. Data yang kamu kumpulkan susah-susah, kamu baca dengan bias negative filtering dan prasangka-prasangka. Kamu mengaku menganut neo-marxist, tapi gagal melihat moda produksi yang terjadi di Indonesia yang industri filmnya baru hidup lagi. Kamu gagal melihat bagaimana Nayato Fio Nuala membangun industri dengan kuantitas film-film yang dibuat dengan DSLR, padahal model produksi filmnya hari ini kamu pakai untuk bikin film-film Omnibus MondiBlanc yang satu tempat syuting 5 film sekaligus. Kamu merendahkan film-film yang masih buta pada IP licensing karena sedang belajar, dan mentang-mentang kamu tahu sedikit, kamu bicara seakan kamu profesor.

Baru belajar soal Dunning-Krueger 20 menit, merasa sudah ahli. Sekarang kamu terjangkit imposter syndrome. Rasain.

Rasain sekarang ketika setelah 10 tahun, ada kesempatan bikin film panjang pertamamu, dan semua idealismemu soal kaum marginal, gender minoritas, kelas sosial, bikin ceritamu tidak menapak pada pengalaman manusiawi dengan bumi yang ia tinggali. Rasain dimarahin opa Paolo Freire yang metodenya kamu pake terus untuk ngajar workshop, tapi kamu lupa kalimat penting bahwa tidak semua orang perlu jadi akademisi. Semua orang hanya perlu jadi dirinya yang kritis dan progresif pada konteksnya masing-masing untuk bebas dari opresornya tanpa jadi opresor baru. Dan tidak semestinya kamu mengatasnamakan orang lain untuk membuat dirimu tervalidasi. Semua teori dan struktur yang terbangun lewat pembacaan dekat dan jauh runtuh di hadapan kenyataan bahwa teori dan struktur menutup akses orang untuk mengerti apa yang ingin kamu ceritakan.

Sekarang baru kamu belajar bahwa akses adalah kata kunci untuk bisa membuat sebuah film. Kamu mau kasih akses ke siapa untuk mengerti film kamu? Kritikus? Akademisi? Programmer? atau orang-orang yang perlu dibuka pikirannya untuk bicara tentang hal nyata yang sangat perlu dibicarakan tapi tidak pernah keluar dari pikiran mereka? Membuka akses bukan soal merendahkan selera, tapi membuat strategi dari pembacaan kebudayaan yang jitu. Itu saja kamu belum mampu. Tolol.

Akhir kata, Eseinosa, saya cuma mau bilang: hentikan jadi FOMO (Fear of Missing Out), mulailah jadi ROMO (Relief of Missing Out). Nggak usah ikutin the rabbit hole. Mumpung sedang kalah, ini waktunya untuk baca perlahan, tulis perlahan, nikmati waktu yang sudah kamu usahakan tersedia untukmu menikmati hidup dan semua sensasi dari membaca, menulis, menonton, merekam, mencipta dan mengapresiasi. Tidak perlu mendengar bisingnya teriakan-teriakan hal-hal yang tak tersentuh untukmu–dendam masa lalu, dan moralitas abstrak yang kamu dapat dari buku. Ambil sedikit saja, buat kaca pembesar dan jadikan lautan data itu cahaya matahari yang kamu fokuskan untuk membakar segala kebodohanmu. Nanti ketika film kamu selesai, kamu akan dihina-dina oleh reviewer dan kritikus yang merasa mengerti caranya bikin film. Beberapa mungkin memuji. Sedikit akan mengkaji. Di situ, lebih baik kamu mengaji, supaya terlindung dari Tuhan yang semau-maunya sendiri.

Ayo hidup dengan utuh. Sekarang.

Tabik!


Terima kasih telah membaca sampai habis. Website ini jalan dengan sumbangan, iklannya tak menghasilkan, dengan lisensi Creative Commons, Atribution, Non commercial. Kamu boleh pakai konten ini selama memberikan link sumber dan bukan untuk tujuan komersial. Kalau kamu suka dengan yang kamu baca, silahkan traktir saya kopi murah.

Ethnography, Filsafat, Politik, Racauan

Banjir Bandang Sumatra Barat dan Kemakmuran Kota

Dulu, ketika saya masih menjadi jurnalis internasional, dua kali saya mengedit liputan musibah di Sumatra Barat. Yang terakhir—kalau ingatan saya betul—adalah banjir bandang sekitar tahun 2024, dengan visual yang nyaris sama: rumah hanyut, jalan putus, relawan berjibaku, narasi “bencana alam” yang masuk ke ruang tamu melalui layar ponsel. Hari ini saya kembali melihatnya—hanya saja posisi saya berubah. Tak lagi ikut mengedit tulisan reporter, melainkan menjadi penonton yang menua bersama pola kerusakan yang tidak ikut berubah.

Dalam salah satu liputan dulu, seorang aktivis lingkungan berkata dengan suara pelan, seolah takut terdengar heroik: “Yang nebang pohon itu warga lokal juga.” Kalimat ini masih terngiang karena menolak simplifikasi. Hutan yang gundul bukan hanya akibat investor dari kota; mata pencaharian warga di desa ikut berada dalam pusaran yang sama. Di antara keduanya berdiri negara yang menyediakan surat izin, menaungi transaksi, dan meminjamkan bahasa pembangunan untuk menenangkan hati semua pihak. Semacam perkawinan gelap yang berlangsung lama sekali.

Governmentality: Seni Mengatur Melalui Keinginan dan Ketakutan

Michel Foucault—seorang filsuf Prancis yang membedah cara kerja kekuasaan modern—menyebut fenomena ini governmentality. Istilah itu ia uraikan dalam kuliah Security, Territory, Population (1977–78) dan The Birth of Biopolitics (1978–79). Governmentality merujuk ke cara negara mengatur manusia dengan membentuk keinginan mereka, ketakutan mereka, dan orientasi hidup mereka. Foucault menyebutnya conduct of conduct—bagaimana perilaku diatur bukan melalui paksaan langsung, melainkan melalui cara hidup sehari-hari.

Dalam logika ini, pembangunan bekerja sebagai kompas moral. Orang diajak percaya bahwa hidup “layak” berarti punya rumah tembok, kendaraan bermotor, dan pemasukan stabil. Jika itu hanya bisa dicapai lewat tambang, ladang sawit, atau pembangunan resor, maka jalan itulah yang dianggap paling masuk akal. Tidak ada perintah untuk merusak hutan, tetapi negara menciptakan situasi yang membuat pilihan itu tampil sebagai satu-satunya langkah rasional.

Gesekan yang Tidak Pernah Usai

Antropolog Anna Lowenhaupt Tsing menulis Friction: An Ethnography of Global Connection (2005), sebuah studi etnografis tentang bagaimana perusahaan logging, aparat negara, aktivis, dan komunitas lokal bersinggungan dalam proyek kayu di Kalimantan. Yang ia temukan bukan benturan dua kekuatan, melainkan gesekan berlapis-lapis. Janji pembangunan, tawaran kerja, tekanan aparat, bahasa konservasi, dan kalkulasi ekonomi keluarga bercampur membentuk keputusan yang rumit. Hutan tumbang bukan karena konspirasi tunggal, tetapi karena rangkaian negosiasi yang tidak pernah simetris.

Celia Lowe, antropolog lain yang meneliti konservasi di Kepulauan Togean dalam Wild Profusion (2006), melihat pola serupa. Konservasi hadir sebagai wacana mulia, tapi dampaknya sering berupa pengaturan ulang hidup masyarakat lokal—cara mereka memancing, menebang, merawat keluarga. Negara menghadirkan dirinya sebagai penjaga biodiversitas, padahal akses terhadap perubahan struktural tetap dimonopoli pusat. Dalam kasus Sumatra Barat, konservasi adalah lahan yang boleh dieksploitasi oleh yang diberi ijin; yang dijaga adalah akses, bukan demi alam dan masa depan warganya.

Keduanya memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan selalu bergantung pada relasi sosial dan ekonomi yang jauh dari sederhana. Yang tumbuh bukan sekadar kerusakan, melainkan rasa tak berdaya yang diproduksi ulang dari generasi ke generasi.

Ketika Politik Ditutup Rapat-Rapat

James Ferguson, dalam The Anti-Politics Machine (1990), membongkar bagaimana proyek “pembangunan” di Lesotho mengubah isu ketimpangan, kolonialisme, dan politik tanah menjadi sekadar persoalan teknis. Tanah dirampas dengan bahasa “manajemen sumber daya”. Kemiskinan dipetakan sebagai masalah “keterampilan”. Struktur sejarah yang melahirkan masalah dianggap terlalu rumit untuk dibahas; yang ditawarkan hanyalah workshop dan rekomendasi proyek.

Pola ini terasa akrab di Indonesia. Banjir bandang dibahas dalam bahasa mitigasi. Deforestasi ditimbang sebagai hambatan investasi. Izin tambang diterjemahkan sebagai kebutuhan energi nasional. Dan di atas kertas, semuanya tampak sah. Politik diluruhkan menjadi administrasi.

Saat menonton liputan Sumatra Barat hari ini, saya merasa sedang menyaksikan versi lokal dari anti-politics machine itu. Semua pihak sibuk dengan tugasnya: pejabat membahas SOP, perusahaan menawarkan CSR, warga mendambakan pemasukan stabil. Pertanyaannya tentang siapa yang memperkaya diri sering tersingkir oleh diskusi teknis yang lebih “aman” dan lebih mudah dicerna publik.


Dalam konteks global yang lebih baru, Naomi Klein melalui This Changes Everything (2014) mengurai bagaimana kapitalisme dan krisis iklim tidak pernah bisa dipisahkan. Krisis ekologis global adalah hasil dari sistem ekonomi yang memaksa bumi bekerja tanpa istirahat demi pertumbuhan tanpa batas. Klein mencatat bahwa negara-negara kaya, perusahaan, hingga lembaga finansial internasional turut menyandarkan struktur kekuasaan mereka pada eksploitasi alam negara-negara seperti Indonesia.Kate Raworth, lewat Doughnut Economics (2017), menekankan bahwa pembangunan yang mengejar pertumbuhan tak terbatas selalu melampaui batas ekologis. Dan ketika itu terjadi, beban terberat jatuh pada masyarakat di pinggiran: petani, pekerja tambang, nelayan, dan warga yang tinggal di bantaran sungai—mereka yang gambarnya selalu muncul kembali dalam liputan bencana.

Jika ditambah laporan-laporan terbaru dari IPCC (2021–2023), jelas bahwa kerusakan ekologis bukanlah insiden; ia adalah hasil langsung dari arah pembangunan global yang tidak berubah sejak revolusi industri.

Siapa yang Masih Berdaya Mengubah Ini?

Pertanyaan “siapa yang bersalah?” sering membuat kita berjalan berputar-putar. Yang mungkin lebih penting adalah “siapa yang masih punya daya untuk mengubah arah pembangunan ini?”

Beberapa titik daya tampak jelas:

1. Kelas pekerja dan masyarakat lokal
Mereka yang paling terdampak justru memiliki posisi tawar paling kecil. Namun sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar banyak dimulai dari gerakan mereka—ketika tuntutan ekonomi sehari-hari bertemu dengan kesadaran ekologis. Gerakan tani, gerakan anti-tambang, dan solidaritas desa–kota membuka kemungkinan itu.


2. Kelas menengah urban yang menikmati hasil eksploitasi
Sering berada di zona nyaman, tetapi sesungguhnya memiliki modal sosial, jaringan, dan kemampuan untuk mendorong perubahan politik. Kesadaran bahwa gaya hidup kota ditopang perusakan desa adalah langkah awal untuk membangun solidaritas lintas kelas.


3. Para pekerja kreatif dan intelektual—film, media, seni, riset
Mereka yang mengolah narasi publik memiliki peran strategis. Mereka dapat menyingkap struktur yang membuat bencana tampak alamiah, padahal merupakan hasil pilihan ekonomi-politik.


4. Negara dan pejabat publik
Meski sering menjadi penghulu dalam perkawinan gelap tanah dan modal, mereka tetap memegang kunci: kebijakan tata ruang, izin tambang, pajak karbon, perlindungan masyarakat adat. Tanpa perubahan kebijakan, perubahan sosial hanya akan berjalan separuh.


5. Investasi
Sumber modal adalah mesin pembangunan; mengubah arah modal berarti mengubah arah masa depan. Kesadaran soal “uang dari mana”—mulai dari CSR hingga capital venture—membantu kita melihat bahwa lingkungan tidak hanya rusak oleh perilaku individu, tetapi oleh arsitektur ekonomi yang mengatur seluruh gerak masyarakat.


6. Bayangan tentang kemajuan
Selama kemajuan didefinisikan sebagai pertumbuhan tanpa batas, hutan akan terus digunduli dan sungai akan terus sesak. Mengubah wawasan tentang masa depan—dari pertumbuhan ke keberlanjutan, dari ekstraksi ke perawatan—adalah kerja politik dan budaya sekaligus.






Ketika Sumatra Barat kembali diterjang banjir bandang, saya tidak melihat bencana itu sebagai peristiwa alam yang berdiri sendiri. Ia bagian dari kisah panjang relasi kuasa, gosokan kepentingan, dan mimpi-mimpi yang diarahkan oleh negara dan pasar. Tidak ada pahlawan dalam cerita ini, tetapi selalu ada orang-orang yang mencoba bertahan dan mencari jalan lain. Dan mungkin, dari sanalah sebuah perubahan perlahan dimulai—dari mereka yang berani membayangkan masa depan yang tidak mengulang bab lama yang sama.

Kate Raworth, lewat Doughnut Economics (2017), menekankan bahwa pembangunan yang mengejar pertumbuhan tak terbatas selalu melampaui batas ekologis. Dan ketika itu terjadi, beban terberat jatuh pada masyarakat di pinggiran: petani, pekerja tambang, nelayan, dan warga yang tinggal di bantaran sungai—mereka yang gambarnya selalu muncul kembali dalam liputan bencana.

Jika ditambah laporan-laporan terbaru dari IPCC (2021–2023), jelas bahwa kerusakan ekologis bukanlah insiden; ia adalah hasil langsung dari arah pembangunan global yang tidak berubah sejak revolusi industri.

Siapa yang Masih Berdaya Mengubah Ini?

Pertanyaan “siapa yang bersalah?” sering membuat kita berjalan berputar-putar. Yang mungkin lebih penting adalah “siapa yang masih punya daya untuk mengubah arah pembangunan ini?”

Beberapa titik daya tampak jelas:

Kelas pekerja dan masyarakat lokal

Mereka yang paling terdampak justru memiliki posisi tawar paling kecil. Namun sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar banyak dimulai dari gerakan mereka—ketika tuntutan ekonomi sehari-hari bertemu dengan kesadaran ekologis. Gerakan tani, gerakan anti-tambang, dan solidaritas desa–kota membuka kemungkinan itu.

Kelas menengah urban yang menikmati hasil eksploitasi

Sering berada di zona nyaman, tetapi sesungguhnya memiliki modal sosial, jaringan, dan kemampuan untuk mendorong perubahan politik. Kesadaran bahwa gaya hidup kota ditopang perusakan desa adalah langkah awal untuk membangun solidaritas lintas kelas.

Para pekerja kreatif dan intelektual—film, media, seni, riset

Mereka yang mengolah narasi publik memiliki peran strategis. Mereka dapat menyingkap struktur yang membuat bencana tampak alamiah, padahal merupakan hasil pilihan ekonomi-politik.


Negara dan pejabat publik

Meski sering menjadi penghulu dalam perkawinan gelap tanah dan modal, mereka tetap memegang kunci: kebijakan tata ruang, izin tambang, pajak karbon, perlindungan masyarakat adat. Tanpa perubahan kebijakan, perubahan sosial hanya akan berjalan separuh.

Investasi

Sumber modal adalah mesin pembangunan; mengubah arah modal berarti mengubah arah masa depan. Kesadaran soal “uang dari mana”—mulai dari CSR hingga capital venture—membantu kita melihat bahwa lingkungan tidak hanya rusak oleh perilaku individu, tetapi oleh arsitektur ekonomi yang mengatur seluruh gerak masyarakat.

Bayangan tentang kemajuan

Selama kemajuan didefinisikan sebagai pertumbuhan tanpa batas, hutan akan terus digunduli dan sungai akan terus sesak. Mengubah wawasan tentang masa depan—dari pertumbuhan ke keberlanjutan, dari ekstraksi ke perawatan—adalah kerja politik dan budaya sekaligus.



Ketika Sumatra Barat kembali diterjang banjir bandang, saya tidak melihat bencana itu sebagai peristiwa alam yang berdiri sendiri. Ia bagian dari kisah panjang relasi kuasa, gosokan kepentingan, dan mimpi-mimpi yang diarahkan oleh negara dan pasar. Tidak ada pahlawan dalam cerita ini, tetapi selalu ada orang-orang yang mencoba bertahan dan mencari jalan lain. Dan mungkin, dari sanalah sebuah perubahan perlahan dimulai—dari mereka yang berani membayangkan masa depan yang tidak mengulang bab lama yang sama.


Terima kasih telah membaca sampai habis. Website ini jalan dengan sumbangan, iklannya tak menghasilkan, dengan lisensi Creative Commons, Atribution, Non commercial. Kamu boleh pakai konten ini selama memberikan link sumber dan bukan untuk tujuan komersial. Kalau kamu suka dengan yang kamu baca, silahkan traktir saya kopi murah.

Ethnography, Filsafat, Memoir, Politik, Racauan

Keniscayaan Komunitas | Bagian 6:  Mengembangkan Imajinasi Bersama

Ringkasan

  • Mengikuti Benedict Anderson, komunitas hanya hidup sejauh kita mampu membayangkannya bersama—bukan sebagai struktur, tetapi sebagai hubungan yang terus diperbarui.
  • Tanpa iman, lembaga mengecil menjadi mesin administrasi; dengan iman, ia menjadi ruang imajinasi masa depan.
  • Komunitas berkelanjutan memandang dirinya sebagai cerita tanpa akhir; tidak ada puncak, nabi terakhir, atau generasi pamungkas—hanya rantai kontinuitas.
  • Etos kerja hidup dari kesadaran naratif: setiap tindakan kecil adalah kalimat dalam cerita panjang yang kita tulis bersama.
  • Komunikasi adalah syarat regenerasi; tak ada pembaruan jika imajinasi tidak dibagikan dan visi tidak disuarakan.
  • Tantangan terbesar bukan menjaga masa lalu, tetapi membuat diri kita layak dibayangkan oleh mereka yang akan datang.
  • Komunitas bertahan bukan karena besar atau mapan, tetapi karena mencintai cara mereka bekerja—dan membuka ruang bagi sesuatu yang belum pernah dibayangkan.

Baca dari Bagian 1: Ritual ke Institusi


Benedict Anderson menulis bahwa bangsa—sebuah entitas sebesar itu—hanya bisa berdiri karena ia diimajinasikan bersama. Keberadaannya ditopang oleh kesadaran kolektif yang tidak pernah sepenuhnya kasat mata: kesediaan saling percaya pada orang yang tidak pernah kita temui, kesediaan merasa terhubung dengan masa depan yang belum kita lihat.

Gagasan itu relevan bukan hanya untuk negara, tetapi untuk setiap komunitas, lembaga, atau ekosistem sosial yang ingin bertahan lebih dari satu generasi. Pada akhirnya, komunitas hidup bukan karena struktur, tetapi karena cara orang-orang di dalamnya membayangkan diri mereka dalam hubungan dengan orang lain, dengan masa lalu, dan dengan masa depan. Dan di sinilah krisis banyak komunitas modern bermula: mereka berhenti membayangkan diri mereka bersama.

AT-AT Melawan Manusia Purba, dengan gaya Rembrant. Komunitas masa lalu melawan masa depan yang fiktif.

Dalam dunia yang bergerak cepat, identitas pekerjaan makin rapuh. Namun cara bekerja—etika, imajinasi, disiplin moral—justru semakin penting. Sebab yang memberi keberlanjutan bukanlah daftar tugas, tetapi cara tugas itu dilaksanakan. Menjadi kompeten dan profesional adalah fondasi sebuah institusi yang sehat; untuk itu perlu ada batasan yang jelas tentang cara belajar dan cara bekerja, dan bagaimana cara berdiskusi ketika sebuah kebijakan diambil. 

Imajinasi kolektif masa depan tidak membutuhkan pahlawan tunggal, tetapi kebiasaan orang biasa yang bekerja dengan cara yang benar. Itulah iman baru: bukan percaya pada jabatan atau gelar, tetapi percaya bahwa tindakan yang dikerjakan dengan integritas selalu membuahkan masa depan yang layak dihuni. Anderson mengingatkan: komunitas bertahan karena ia bersedia menjadikan dirinya ruang bagi generasi yang belum lahir. Ini bukan sekadar regenerasi. Ini adalah kesediaan untuk diubah.

Peradaban, kata Harari, selalu bertahan karena fiksi kolektif. Tetapi yang menentukan masa depan bukan fiksi itu sendiri—melainkan keyakinan pada fiksi itu. Iman, dalam pengertian ini, bukan religius semata: ia adalah keberanian mempercayai sesuatu yang belum terbukti, dan bekerja demi mewujudkan ide itu.

Tanpa iman, lembaga mengecil menjadi ruang administratif. Dengan iman, ia menjadi ruang imajinasi masa depan.

Komunitas yang berkelanjutan memahami dirinya sebagai cerita yang tidak selesai. Tidak ada generasi yang menjadi “puncak” atau “penutup”; semuanya menjadi penghubung. Tidak ada “Nabi terakhir,” atau “Pemimpin penutup zaman.” Yang ada adalah kemungkinan-kemungkinan untuk menjadi relevan bersama lewat struktur yang memastikan bahwa pemegang kebijakan adalah orang-orang kompeten. Yang ada adalah reinkarnasi dalam Samsara. Imajinasi kolektif inilah yang menjaga etos kerja tetap hidup: ketika seseorang membersihkan ruang, menutup pintu, mengajar satu murid, atau memperbaiki sistem, ia sadar bahwa tindakannya akan menjadi bagian dari cerita yang lebih panjang. Tapi untuk itu pula, ia harus belajar untuk bicara dan mengkomunikasikan cerita yang ia bayangkan atas kerja yang ia lakukan. Sehingga tidak ada yang tertinggal dan terasing dalam narasi kebungkaman dan keenganan. 

Tantangan terbesar bukan mempertahankan masa lalu, tetapi membuat diri kita layak dibayangkan oleh mereka yang datang kemudian. Pertanyaannya adalah: bagaimana kita bekerja hari ini agar mereka ingin melanjutkannya besok?

Masa depan diimajinasikan bersama. Komunitas yang bertahan bukanlah mereka yang paling besar, paling kaya, atau paling tua, tetapi yang paling mampu mencintai cara mereka bekerja—dan dengan itu, terus membuka ruang bagi orang lain untuk menambahkan sesuatu yang belum pernah dibayangkan.

Dan dengan itu, segala perubahan dan rintangan bisa dihadapi bersama. Karena kita ingin bersama, kita cinta untuk bersama, dan kita tidak bisa membangun peradaban yang kita bayangkan, tanpai kolaborasi di imajinasi kita.


Terima kasih telah membaca sampai habis. Website ini jalan dengan sumbangan, iklannya tak menghasilkan, dengan lisensi Creative Commons, Atribution, Non commercial. Kamu boleh pakai konten ini selama memberikan link sumber dan bukan untuk tujuan komersial. Kalau kamu suka dengan yang kamu baca, silahkan traktir saya kopi murah.

Berlangganan

Masukan email kamu untuk dapatkan update. Gratis.

Ethnography, Filsafat, Memoir, Politik, Racauan

Keniscayaan Komunitas | Bagian 5: Regenerasi dan Krisis Kesadaran

Ringkasan

  • Tidak ada regenerasi tanpa krisis. Evolusi sosial selalu dimulai dari kegelisahan, bukan kenyamanan.
  • Kesadaran baru lahir ketika nilai lama runtuh — bukan karena ide cemerlang, tapi karena keberanian melihat bahwa yang sakral telah menjadi beku.
  • Etika kerja tidak bisa diwariskan; ia harus dilahirkan ulang lewat guncangan moral.
  • Tanda kesadaran yang mati: hilangnya rasa malu, hilangnya rasa syukur, hilangnya rasa ingin belajar.
  • Revolusi sejati jarang berteriak; ia datang dari minoritas yang memilih bekerja dengan kesadaran penuh ketika orang lain hanya menikmati.

Baca dari bagian 1: Dari Ritual Ke Institusi.


Tidak ada ekosistem yang lahir dari kenyamanan. Setiap pembaruan besar dalam sejarah manusia selalu dimulai dari kegelisahan. Bukan dari pertemuan, bukan dari kebijakan, tetapi dari guncangan moral—saat manusia tiba-tiba menyadari bahwa sistem yang mereka banggakan tidak lagi bermakna.

Dalam Sapiens, Yuval Noah Harari menulis bahwa sejarah manusia bergerak bukan karena kebutuhan biologis, melainkan karena krisis makna, krisis relevansi. 1 Saat manusia prasejarah menemukan bahwa ritual pengorbanan tidak lagi menjamin hujan, mereka menciptakan ilmu pertanian. 

Saat masyarakat abad pertengahan menyadari bahwa doa tidak menghentikan wabah, mereka menciptakan ilmu kedokteran. Dan saat manusia modern menyadari bahwa kemajuan material tidak menghapus kesepian, mereka menciptakan psikologi. Dengan kata lain, setiap revolusi sosial dimulai dari kehancuran imajinasi lama.

Dalam antropologi, proses ini disebut moral disembedding — pencabutan akar nilai lama dari konteks lamanya agar bisa tumbuh dalam bentuk baru. Namun pencabutan itu selalu menyakitkan. Ia mengharuskan manusia menatap cermin dan mengakui bahwa yang dulu sakral kini sudah beku, bahwa apa yang dulu berarti kini hanya menjadi kebiasaan.

Dalam ekosistem sosial mana pun — dari kerajaan, universitas, hingga komunitas kreatif — regenerasi tidak pernah dimulai dari “penerus”, tetapi dari pembangkang. Orang yang berani mengatakan bahwa cara lama tak lagi berfungsi adalah embrio evolusi. Namun dalam banyak lembaga, pembangkang sering dilihat sebagai ancaman, bukan harapan. Mereka diasingkan, disindir, atau dituduh tidak loyal. Padahal justru dari ketidaknyamanan merekalah sistem mendapat kesempatan untuk hidup kembali.2

Pemberontakan pada Dewa. Terinspirasi dari Goya.

Krisis Sebagai Proses Alami

Evolusi hanya terjadi melalui mutasi — kesalahan dalam reproduksi genetik yang kebetulan menghasilkan keunggulan adaptif. Demikian pula dalam masyarakat: regenerasi lahir dari “kesalahan sosial” — ide aneh, keputusan impulsif, atau tindakan yang menabrak norma. Namun karena kita membangun lembaga untuk menekan kesalahan, maka pada saat yang sama kita juga menekan kemungkinan evolusi.

Institusi modern takut gagal karena mereka takut kehilangan kredibilitas. Padahal seperti yang ditulis Amy Edmondson dalam risetnya tentang organisasi belajar, kegagalan adalah “data dengan emosi.”3

Jika emosi itu dipahami, bukan ditakuti, maka ia menjadi katalis perubahan. Masalahnya, banyak komunitas yang ingin “berubah” tanpa pernah mau gagal. Mereka mencari regenerasi tanpa krisis, pembaruan tanpa kehilangan, evolusi tanpa penderitaan. Itulah sebabnya yang lahir hanyalah versi kosmetik dari perubahan: brosur baru, jargon baru, struktur baru — tapi kesadaran yang sama.

Kesadaran sebagai Infrastruktur

Harari pernah menyebut bahwa masyarakat modern menghabiskan lebih banyak energi untuk memelihara sistem pendidikan, ekonomi, dan politik ketimbang untuk menumbuhkan kesadaran manusia yang menjalankannya. Padahal sistem hanyalah cermin. Tanpa perubahan dalam kesadaran, setiap sistem baru hanya akan mengulangi kesalahan lama dalam bentuk yang lebih canggih.

Dalam konteks komunitas kreatif, ini berarti: regenerasi bukan sekadar mengganti orang, tetapi mengganti cara berpikir tentang kerja. Selama kerja masih dilihat sebagai beban, bukan partisipasi etis, maka setiap generasi baru akan mengulangi siklus ketergantungan yang sama. Mereka mungkin membawa alat baru, gaya baru, bahkan bahasa baru — tapi mentalitasnya tetap: menunggu sistem memberi arah, alih-alih menciptakan arah.

Maka yang dibutuhkan bukan “rekrutmen baru”, melainkan kesadaran baru. Kesadaran bahwa bekerja bukanlah bentuk eksploitasi, tetapi bentuk keberlanjutan moral. Bahwa tanggung jawab bukan hukuman, melainkan cara untuk tetap eksis dalam jaringan kehidupan sosial. Dalam masyarakat tradisional, ini disebut budi pekerti atau dala, masyarakat modern: self-governance.

Namun esensinya sama: keikhlasan untuk menjaga sesuatu tanpa perlu disuruh.

Tanda-Tanda Kesadaran yang Mati

Kita bisa mengenali komunitas yang gagal beregenerasi dari tiga tanda:

  1. Mereka kehilangan rasa malu.
    Tidak malu datang terlambat, tidak malu tidak menyelesaikan tanggung jawab, tidak malu menerima manfaat tanpa kontribusi. Dalam antropologi moral, hilangnya rasa malu adalah pertanda awal disintegrasi sosial — karena malu adalah mekanisme alami untuk menjaga kehormatan dalam kelompok.
  2. Mereka berhenti merasa bersyukur.
    Ketika generasi baru menganggap ruang yang mereka tempati sebagai hak, bukan warisan, maka rantai rasa terima kasih putus. Dan tanpa rasa syukur, tidak ada dorongan untuk memberi kembali.
  3. Mereka berhenti mendengar.
    Setiap komunitas yang merasa “sudah tahu” akan berhenti belajar. Dan ketika tak ada yang belajar, tak ada lagi yang tumbuh.

Ketiganya adalah tanda kematian kesadaran. Seperti pohon yang masih berdiri tegak tapi sudah lapuk di dalam.

Bagaimana Kesadaran Dihidupkan Kembali

Tidak ada metode pasti untuk membangkitkan kesadaran dan membuat regenerasi dengan kesadaran penuh, tetapi sejarah memberi petunjuk. Dalam setiap era krisis, institusi yang berhasil bertahan bukanlah yang paling kuat atau paling disiplin, melainkan yang membuka ruang bagi anomali: individu atau gagasan yang menolak tunduk pada rutinitas lama. Figur-figur ini menggabungkan disiplin moral dan imajinasi sosial—bukan untuk melawan struktur secara membabi buta, melainkan untuk memperluas kemungkinannya.4 Mereka tidak sekadar mengeluh; mereka menunjukkan versi lain dari apa yang mungkin.

Mereka bekerja dengan kesadaran penuh, bukan untuk membuktikan kepatuhan, tetapi karena menyadari bahwa makna tidak lahir dari instruksi—melainkan dari tindakan yang menantang kebiasaan. Dan justru karena tindakan kecil mereka mengguncang kenyamanan struktur, sistem belajar merasakan malu, lalu bergerak. Inilah paradoks perubahan: institusi sering perlu diberi contoh, bukan diberi perintah.

Dalam banyak masyarakat tradisional, para pembaru disebut pertapa duniawi—bukan karena mereka menarik diri dari dunia, tetapi karena mereka berdiri tepat di tengah kekacauan sambil menjaga kejernihan batin. Di komunitas modern, versi mereka dapat berwujud mentor yang terus belajar setelah forum berakhir, anggota tim yang mengambil tugas tak terlihat, atau produser yang memilih integritas ketika kompromi lebih mudah.
Mereka adalah anomali yang hidup: bukti bahwa sistem masih memiliki denyut.

Namun anomali hanya tumbuh subur jika ekosistemnya membuka ruang. Komunitas yang dewasa bukanlah yang membunuh penyimpangan, tetapi yang mempersiapkan diri untuk dihampiri penyimpangan. Seperti laboratorium yang memahami bahwa temuan besar lahir dari kegagalan terkontrol, atau hutan yang menerima benih liar ditiup angin, institusi yang ingin beregenerasi harus melatih dirinya untuk menerima ketidakpastian. Ia perlu membiarkan pintunya setengah terbuka bagi gagasan yang tampak berbahaya, bagi orang yang cara kerjanya tak lazim, bagi percobaan yang tampak mengganggu ritme.

Dengan demikian, krisis kesadaran tidak lagi dibayangkan sebagai kehancuran, melainkan sebagai ruang kosong yang sengaja disiapkan—a clearing—untuk menyambut bentuk kehidupan baru. Di titik inilah institusi berhenti menjadi benteng dan berubah menjadi tanah yang subur. Tunas tidak lagi membutuhkan api untuk mengurai tanah; tanah itu sudah digemburkan oleh niat, bukan oleh bencana.

Jika sebuah komunitas ingin beregenerasi, ia tidak perlu membakar dirinya. Ia perlu mendisiplinkan dirinya untuk menghadapi pembangkangan, memupuk kemampuan menerima kritik, dan menyambut keganjilan sebagai bagian dari metabolisme sosialnya. Regenerasi bukan tentang kehancuran, tetapi tentang kesediaan untuk tidak menganggap dirinya final. Moralitas baru lahir bukan dari puing-puing, tetapi dari komunitas yang sengaja membiarkan dirinya ditempati oleh yang berbeda—oleh percobaan, oleh suara baru, oleh risiko.

Di ujungnya, keberlanjutan tidak lagi dipahami sebagai mempertahankan bentuk lama, tetapi sebagai kemampuan untuk terus memberi ruang bagi kehidupan yang belum ada. Sebuah ekosistem yang benar-benar hidup adalah ekosistem yang siap dilenturkan oleh masa depan. Itulah etika baru yang memungkinkan pertumbuhan: bekerja bukan sebagai repetisi, tetapi sebagai komitmen untuk terus membuka jalan bagi kebaruan.

Bersambung ke bagian terakhir: Ekosistem Masa Depan.


Catatan Akhir:

  1. Yuval Noah Harari, Sapiens: A Brief History of Humankind (London: Harvill Secker, 2014). Lihat khususnya bagian awal Bab 2–3, ketika Harari menjelaskan bahwa perubahan besar dalam sejarah manusia—dari runtuhnya ritual magis hingga lahirnya sains dan pertanian—didorong bukan oleh kebutuhan biologis, melainkan oleh krisis makna dan kebutuhan manusia untuk menata kembali sistem kepercayaannya. ↩︎
  2. Gagasan “pembangkang sebagai motor perubahan” dapat ditelusuri ke dialektika Hegelian, khususnya dalam Phenomenology of Spirit (1807), di mana perkembangan sejarah bergerak melalui konflik antara tesis dan antitesis yang melahirkan sintesis baru. Karl Marx kemudian membalik dialektika Hegel menjadi materialist dialectics, menekankan bahwa perubahan sosial tidak ditentukan oleh kesadaran semata, tetapi oleh kontradiksi material dan perjuangan kelas, seperti dijelaskan dalam Das Kapital (1867) dan Theses on Feuerbach (1845). Tradisi ini diadaptasi ke konteks Indonesia oleh Tan Malaka dalam Madilog (1943), yang menggabungkan materialisme, dialektika, dan logika sebagai metode pembebasan berpikir—di mana kontradiksi dianggap sebagai prasyarat kemajuan, dan “pembangkangan” intelektual dipahami sebagai syarat lahirnya masyarakat yang lebih rasional. ↩︎
  3. Lihat Garvin, David A., Amy C. Edmondson, dan Francesca Gino, “Is Yours a Learning Organization?” Harvard Business Review, Maret 2008, terutama bagian mengenai supportive learning environment dan pentingnya psychological safety, yang menekankan bahwa kesalahan dan kegagalan harus dipahami bukan sebagai sumber hukuman, tetapi sebagai informasi penting bagi pembelajaran organisasi. Dalam konteks penelitian Edmondson, kegagalan diperlakukan sebagai bentuk “data” yang membawa beban emosional, dan hanya dapat dipelajari jika lingkungan aman untuk membicarakannya. ↩︎
  4. Gagasan bahwa krisis melahirkan figur-figur moral dan sosial yang “memberi contoh” memiliki akar panjang dalam teori sejarah dan sosiologi. Max Weber dalam Economy and Society (1922) membahas konsep charismatic authority, yakni tokoh yang muncul di masa krisis untuk memulihkan makna dan menata ulang legitimasi sosial. Antonio Gramsci, dalam Prison Notebooks (1929–1935), menekankan peran organic intellectuals—individu yang tidak sekadar mengkritik struktur, tetapi menjadi teladan praksis untuk mengubahnya dari dalam. Dalam sejarah perilaku moral, Hannah Arendt dalam Responsibility and Judgment (2003) menunjukkan bagaimana individu di masa-masa gelap bertindak bukan untuk taat, tetapi untuk mempertahankan makna dan integritas tindakan. Tradisi ini diperluas oleh Albert O. Hirschman dalam Exit, Voice, and Loyalty (1970), yang menjelaskan bahwa perubahan institusional sering lahir bukan dari pemberontakan keras, tetapi dari suara yang memberi arah melalui keteladanan, disiplin, dan imajinasi sosial. ↩︎

Terima kasih telah membaca sampai habis. Website ini jalan dengan sumbangan, iklannya tak menghasilkan, dengan lisensi Creative Commons, Atribution, Non commercial. Kamu boleh pakai konten ini selama memberikan link sumber dan bukan untuk tujuan komersial. Kalau kamu suka dengan yang kamu baca, silahkan traktir saya kopi murah.


Berlangganan

Masukan email kamu untuk dapatkan update. Gratis.