Ethnography, Politik, Racauan

2 Cara untuk Memperlambat Kepunahan Manusia

Jadi begini kawan-kawan. Dulu ada sebuah banyolan di tongkrongan saya:

“Kiamat selalu dekat, tapi tak pernah datang.”

Hari ini, anekdot itu tidak lagi berlaku. Kalo kiamat adalah hari dimana dunia manusia hancur oleh penyakit, bencana alam, dan kematian massal homo sapiens, maka kita sudah di sana. Sementara alam semesta akan jalan terus ketika kita semua sudah mati. Seperti dulu sebelum ada kita, alam akan terus ada dan mengembang (expanding), sampai terjadi supernova dan semua kembali mengulang mencari bentuk. Saat itu akan terjadi milyaran tahun setelah kita nggak ada.

Kembali ke sains dan fakta, kenyataannya dunia kita tidak pernah sepanas ini semenjak manusia ada. Dalam 100 tahun, revolusi Industri dan eksploitasi alam sudah membuat banyak kemajuan peradaban, tapi di saat yang sama mempercepat kehancuran kita semua. Pabrik-pabrik, mobil, transportasi dan pembangkit listrik membuat polusi dan emisi menghabiskan oksigen yang kita hirup. Konsumsi daging kita dan overproduksi peternakan sapi membuat ozon kita habis digantikan kentut-kentut dan uap tahik ternak di udara di seluruh dunia. Kebakaran hutan untuk lahan pertanian dan sawit, membuat CO2 melayang bebas, dan tidak ada saringan dan lingkaran kehidupan terputus. Yang rugi bukan alam, kita tidak menyakiti alam. Alam kebal, dan akan jalan terus. Binatang terus punah dan berevolusi bermutasi menjadi berbagai bentuk. Kita dan hanya kita yang jika punah, akan kehilangan spesies kita.

Dan kita tak bisa berhenti, karena kita mau ngasih makan banyak orang, menghidupkan banyak industri. Bahkan 2 tahun pandemi, yang gila-gilaan merusak ekonomi dan memperlambat kecepatan produksi kita tidak berpengaruh banyak untuk mengurangi polusi. Kok bisa? Ya karena transportasi tetap berjalan dan kita tetap butuh makan dengan cepat, logistik harus jalan terus walau kita banyak yang tidak kerja. Sentralisasi logistik membuat kita nggak merasa perlu punya pertanian sendiri di rumah kita, kita tetap pesan barang online, konsumsi, konsumsi, konsumsi! Dan sampah? Sampah terus kita buat dan tidak bisa kita hentikan.

Siapa yang salah? Kita semua. Tapi ada yang paling salah. Yang paling salah bukanlah kita yang kerja banting tulang tiap hari, ngutang kiri kanan, offline online buat hidup di masa pandemi. Penyumbang terbesar terhadap kiamat kita adalah orang-orang super kaya penghasil energi dan penjahat eksploitasi alam yang overproduksi. Mereka yang untuk bisa makan tuna sirip biru, harus merusak seluruh ekosistem laut. Mereka yang mampu membangun, menggerakan ekonomi dengan jari mereka, dan borosnya setengah mati. Mereka yang menghabiskan modal untuk hal-hal super mewah. Karena kalau mau jujur, masalah kelaparan dunia, misalnya, bisa saja selesai dengan duit untuk beli pesawat jet pribadi atau membangun mansion-mansion mewah yang cuma diisi sedikit orang, atau bikin tambang crypto.

Kita ditakut-takuti dengan overpopulasi, disuruh pake KB, padahal kebanyakan lahan di bumi ini diisi oleh sedikit orang-orang kaya yang pengen ngelihat alam dengan lega, atau tempat buat pabrik, retail, dan tambang mereka. Amerika dan Inggris berhasil mengurangi emisi dengan mindahin semua pabrik ke Asia. Dan lihat kita sekarang! Bangladesh dan India jadi negara paling polutif di dunia itu gara-gara siapa? Mereka dulu lupa, dimanapun pabrik dipindahkan, efeknya tetap buat kita semua, walau mereka nggak merasakan dampak langsung. Kutub meleleh, air laut naik, dan pulau-pulau tenggelam, dimanapun itu pabrik didirikan.

Ada dua film pendek yang harus kamu tonton buat melihat masa depan yang hampir pasti datang. Pertama adalah film “Pesan dari Masa Depan” Karya Luthfi Pradita. Film ini memperlihatkan dunia yang akan kita tinggali, dan ini bukan lagi ancaman tapi kepastian. Di banyak negara di Eropa dan beberapa negara bagian di Amerika, seperti Pittsburgh, orang tidak hanya mendengar ramalan cuaca atau melihat google maps untuk lalulintas sebelum jalan keluar. Mereka juga memperhatikan berapa kadar partikel polusi udara hari ini. Karena pertikel polusi udara dari kendaraan adalah penyebab kematian nomor 1 hari ini. Jumlah orang yang mati akibat polusi udara di luar dan di rumah tangga di dunia, menurut WHO, sudah mencapai 7 juta per tahun! Itu dua kali lipat kematian covid per tahun dan 3 kali lipat kematian akibat kecelakaan lalu lintas! Mereka semua mati karena penyakit jantung, pneumonia, dan kanker paru, digabung! Dan si semua mayat mereka, kadar particulate matter (bahan polusi dari transportasi dan pabrik) sangat tinggi. Untuk bisa hidup sedikit lebih panjang, silahkan baca guideline dari WHO berikut ini.

Sementara itu film “Masa Depan Cerah 2040” karya Winner Wijaya harusnya ganti judul jadi “Masa Depan Cerah 2025”, karena masa itu sudah datang: masa dimana kita semua harus pake hazmat dan oksigen buat keluar rumah, masa dimana hubungan sosial harus dilakukan via realitas virtual, itu sudah datang. Kalau kita masih menganggap dua film itu fiksi, maka kita benar-benar buta dan nggak bisa evaluasi diri.

Lalu kita harus apa? Kalau kamu berpikir tentang tidak menggunakan plastik sekali pakai, mematikan lampu dan AC kalau tidak diperlukan, atau kurang-kurangi belanja hal yang gak perlu, atau belanja hanya hal-hal baik yang tidak merusak alam, kamu sudah bener tapi kurang berguna. Karena kamu bisa bayangkan, PBB dan semua ilmuan sejak hampir satu dekade lalu bilang, kita semua harus menurunkan emosi global 7.4% per tahun supaya bisa bertahan hidup di masa tanpa covid. Setelah covid dua tahun, dengan semua lockdown, dan banyak kegiatan ekonomi terhenti, kita cuma bisa menurunkan 6.4%! Kenapa bisa begitu? Padahal transportasi publik dan pesawat sudah drastis menurun.

Jawabannya karena kita di rumah masih pake listrik dan AC berlebih, pabrik masih jalan. Dan kalaupun kita hemat-hemat, atau ikut earth hour, itu juga nggak akan ngaruh karena pembangkit listrik kita kebanyakan masih tenaga batu bara/minyak bumi. Dan pembangkit itu dimiliki orang para pengusaha oligarki, bukan milik negara. Tonton film Dandy Laksono ini buat tahu betapa mengerikan bisnis energi di Indonesia:

Jadi masalah energi ini kompleks dan nyebelin banget. Lalu apa kita harus menyerah dan menunggu mati aja? Atau kita mau nabung beli masker dengan filter yang harganya 3 juta itu? Siap hidup di Masa Depan Cerah 2040? Kalo masih mau fight, saya punya pemecahannya.

Pertama, bikin komunitas dan gerakan politik untuk ngubah kebijakan struktural negaramu soal plastik, sampah, dan listrik. Ini bisa dilakukan dengan mendukung petisi-petisi tentang plastik, sampah, dan listrik, atau membuat petisimu sendiri. Berikut adalah beberapa petisi yang bisa kamu dukung:

Cukai plastik
https://chng.it/gs9YgFzdjG

UU pengurangan plastik
https://chng.it/MYYqGqkddr.

PLTP
https://chng.it/c2nX2xYP5r

Masih banyak petisi yang harus dibuat dan mencari dukungan macam-macam. Belum ada petisi yang ekstrim soal pelarangan produk plastik sekali pakai, atau undang-undang emisi yang bisa mengurangi emisi kita sebesar-besarnya. Lalu saat satu yang paling krusial dan berantakan adalah soal pesawat terbang komersial yang emisinya gede banget. Kalau pesawat bisa dibikin mahal dan transportasi yang lebih ramah lingkungan seperti kereta listrik dan kereta bawah laut bisa digalakan, tentu umur kita bisa lebih panjang sedikit. Kalau tidak ada yang bikin petisinya, mungkin saya akan bikin ketika ada waktu lebih buat risetnya.

Kedua, investasi ke produk ramah lingkungan dan energi terbarukan. Kita selalu tergantung pada energi-energi yang tidak sustainable seperti minyak bumi, batu bara, panas bumi, dan gas alam. Kalau ada perusahaan fintech yang bersedia bikin app untuk invest ke produk ramah lingkungan segampang bibit, dan tidak melulu soal UMKM, saya mau mau banget invest. UMKM itu baik, tapi nggak signifikan untuk membuat hidup kita lebih panjang. Karena masalah kita sudah sebegitu besarnya, kita butuh sebuah cara yang lebih massif dan jitu seperti pembangkit listrik tenaga angin dan matahari yang lebih bisa diakses banyak orang. Selama nggak ada investasinya, maka kita masih akan menderita dengan mati lampu yang sering banget, dan kita nggak digdaya untuk punya energi terbarukan dan pembangkit listrik sendiri yang jauh lebih ramah lingkungan. Teknologinya masih terlalu mahal. Tapi kita banyak orang kaya, dan kelas menengah kita suka invest jangka panjangnya maka seandainya ada fintech yang memiliki broker atau financial planning untuk green investment di Indonesia, kita mungkin akan bertahan.

Kalau kamu mau lebih tahu soal korporat-korporat yang sedang mengusahakan energi terbarukan yang aksesiboe, kamu bisa baca artikel ini dan secara manual, invest ke perusahan-perusahaan yang terdaftar di sini.

Ada beberapa hal yang bisa kamu fokuskan uang investasimu, dan keuntungannua kamu akan dapet cepet dalam bentuk bukan yang, tapi umur spesiesmu yang lebih panjang. Carilah perusahaan-perusahaan yang sedang mengembangkan tenaga Surya dan angin, invest ke pengembangan daging artifisial untuk mengurangi peternakan. Kalau perlu kamu bikin start up nya: energi mandiri di rumah melalui tenaga surya dan angin, biar ga tergantung PLN. Contohnya seperti video dari bali ini:

Ini bukan lagi pencegahan. Ini pertahanan hidup. Kiamat sudah sampai, dan tidak seperti fiksi sains, kiamat tidak datang sehari selesai. Masa panceklik menyeramkan ini masih panjang dan begitu menyiksa. Terus kalau kita nggak gerak, ya kita akan mati duluan. Sementara yang mau gerak, insyallah bisa pelan-pelan berevolusi menjadi spesies baru: yang tahan polusi atau memakai alat bantu, atau mengoperasi dirinya sendiri menjadi homo deus.

Untuk mengakhiri tulisan ini, saya persembahkan ke kalian film pendek saya bersama WWF Indonesia, Sejak Dini. Film ini minimal bisa ngajarin kita untuk berusaha hidup dengan beli yang baik-baik, supaya apa? Menunda kepunahan kita sedikit lagi.

***

Wow, kamu selesai membaca tulisan tentang lingkungan! Selamat! Dengan ini semoga kita ketemu 10 tahun lagi dalam kondisi cukup sehat. Amin!

Website ini dijalankan sepenuhnya dengan donasi yang dipakai buat bayar hosting, riset, dan nulis. Kalau kamu merasa tulisan ini berguna, boleh traktir penulisnya kopi dengan menekan tombol berikut:

Atau scan di sini untuk pake Go Pay:

Filsafat, Politik, Racauan

Cara Pinjol Membunuhmu

Trigger warning: kalau kamu kepikiran bunuh diri, hubungi psikolog/psiakter. Jangan baca tulisan ini.

Pinjaman Online adalah air di oase covid ini. Bayangkan, kamu bisa ngutang sampe 25 juta per platform, tanpa butuh jaminan. Cuma KTP, NPWP, dan nomor telpon orang lain. Plus, Pinjol online dijamin sama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi dari negara. Tapi kok bisa ada yang bunuh diri karena pinjol? Bukanya debt collectornya cuma nakut-nakutin doang? Belom ada tuh peminjam online resmi yang dibawa ke polisi. Terus ga ada yang barangnya disita juga. Terus kok ini lebih serem dari preman kiriman lintah darat di film setan kredit? Bisa-bisanya yang bunuh dan nyakitin si peminjam adalah diri sendiri!

Ini adalah tulisan penting soal sebuah propaganda atas logika yang salah soal manusia, tentang pencerabutan diri dan identitas kita, tentang pembunuhan pelan-pelan yang dIlakukan pinjol. Ya, yang bunuh diri karena pinjol bukanlah bunuh diri, mereka dibunuh!

Kebanyakan orang bunuh diri tinggal sendiri dan berhasil memutuskan hubungan dengan orang lain dengan cara kabur dan ga tanggung jawab. Karena kebanyakan orang sebel atau kasihan dan ingin kasih kebebasan, dibiarkanlah dia sendirian. Diperbolehkan untuk menyendiri, dan self loathing. Bayangkan kamu adalah orang terjebak pinjol yang bisa kabur dari tanggung jawab dan tinggal sendirian, atau tanggung jawabmu udah diambil orang lain yang sebel sama kamu tapi rela beresin kekacauan yang kamu hasilkan. Ini biasanya yang kamu lakukan hingga dibunuh pinjol.

Bunuh relasi dengan teman dan keluarga

Pinjol diawali dengan jaminan identitas: KTP/SIM/Paspor, NPWP, dan nomor keluarga, lalu nomor teman. Ketika kamu nggak bisa bayar maka keluarga kamu diteror. Sudah habis nama keluarga, kamu kasih nomor teman, sudah habis nomor teman, kamu ganti atau mematikan nomormu. Habis itu debt collector bisa aja dateng ke rumah, bukan cuma buat nagih, tapi buat mempermalukanmu di depan tetangga-tetanggamu, saudaramu, dan temen-temenmu. Kamu udah miskin, masa kehilangan harga diri juga, jadi kamu takut dan membunuh semua relasimu dengan keluarga, teman, tetangga, dan aplikasi pinjol itu, HP kamu, dan semua kontak kerjamu. Identitas sudah kamu gadaikan, kamu ga bisa ngutang lagi dan kamu merasa semua orang kamu bebani. Kamu jadi sendirian.

Bunuh relasi dengan pekerjaan dan sosial media

Karena kamu ga bisa pake identitas dan hubungan sosialmu, kamu tambah susah cari kerja. Kamu malu buka sosial media aslimu, akun aslimu, karena kamu sudah pakai nama keluarga dan temanmu untuk pinjol. Dan kamu takut ditagih di sosial media. Uangnya ga ada, dan kamu nggak tahu gimana cara jelasin bahwa kamu miskin, atau tolol karena make pinjol buat kredit motor biar bisa ngegojek, yang mana udah diambil leasing juga motornya karena ga bisa bayar kredit motor dan kredit pinjol. Sekarang kamu cuma punya HP dan kuota. Perut laper, untung masih ada air.

Bunuh relasi dengan diri sendiri

Kamu nggak pengen jadi kamu. Malu. Banyak utang. Ga bisa kerja. Irrelevan. Menyusahkan orang lain. Maka kamu mulai bentuk diri yang baru di internet, mungkin mengaktifkan akun lama yang palsu yang dulu dibikin buat stalking mantan. Terus kamu mulai jadi manusia impianmu, yang nggak ada utang, misterius, mungkin ganteng/cantik banget, bodynya sempurna, pinter, temennya banyak, kaya.

Sampe kuota habis.

Kamu malu buat keluar numpang wi fi. Kamu malu buat keluar dan ketemu orang dan dunia nyata, malu sama keluarga, malu sama teman. Lalu lama-lama listrik mati. Ga ada duit kuota, gak ada duit listrik. Kamu mau kelaparan aja. Tapi laper dan haus ga enak. Lalu kamu memutuskan untuk…

Bunuh diri

Disini kamu sudah keracunan logika pinjol. Logikanya sederhana: bahwa diri manusia dibuat dari hubungan-hubungan; dengan keluarga, teman, kantor, kolega, dan sosial media. Pinjol memang tidak minta jaminan harta fisik (yang mungkin kamu juga gak punya), pinjol juga ga minta jaminan kredit sebelumnya yang sering diminta sama credit card. Dia nggak minta record utang kamu. Tapi yang dia minta lebih parah lagi: dia minta nyawamu dari awal.

Apa sih nyawa? Nafas yang dikasih Tuhan? Bukan. Nyawa adalah hubunganmu dengan tubuhmu, dengan orang tuamu, dengan saudaramu, dengan kawan-kawan dan musuhmu, dengan pekerjaanmu, dengan pacarmu. Itulah sebabnya kalau hubungan putus, kamu patah hati. Hubungan putus membunuh satu bagian dari nyawamu. Hingga hubungan terakhirnya adalah hubunganmu dengan tubuhmu. Kalau hubungan itu hilang maka nyawamu melayang. Mati kamu.

Nah, kalau logika Pinjol itu kita ikuti, niscaya kita akan mati. Kebanyakan orang bisa dijamin oleh modal sosial itu. Begitu debt collector bilang ke keluarga dan tetangga, maka kalau kamu orang yang (pernah) baik, utangmu pasti dilunasi. Kamu jadi ngutang sama saudara/teman. Dan kamu sebelum terlilit utang dan pengen bunuh diri, adalah orang baik. Sekarang kamu jahat karena rela jual hubungan dengan keluarga dan temen-temen ke pinjol. Itu logis.

Tapi kita kan manusia NGGAK LOGIS! Cinta, benci, marah, keadilan, itu adalah kata-kata abstrak yang artinya beda buat tiap orang. Tuhan kita masing-masing aja walau namanya sama tapi perannya di hidup kita bisa beda-beda. Kamu bebas untuk menjual nama keluarga dan temen-temenmu, kamu bebas untuk bunuh diri juga. Tapi keluarga dan teman-teman juga bebas untuk nggak peduli sama kejahatan dan keegoisan kamu. Kami yang nggak terjebak utang bebas untuk nolong kamu… Asal kami bisa tahu. Tapi semakin jago kamu ngumpet dan mutusin hubungan maka semakin bebas kamu mati.

Dan kami, yang tidak akan pernah siap kamu tinggal, akan bermanuver. Kami akan jadi manusia kepo, manusia sosial nyebelin tukang gosip dan guyub, manusia yang selalu ngecekin kabarmu, dan ngingetin kamu kalau kamu nggak sendirian. Ngingetin kamu, bahwa bukan cuma kamu yang bisa egois. Kami juga egois karena nggak mau kamu tinggal karena kami sayang kamu.

Pinjol itu dijamin OJK, kalau kamu nggak bisa bayar, negara yang bayar dengan ngeblacklist kamu: kamu nggak bisa ngutang online lagi. Kamu akan diganggu debt collector. Kamu akan bertambah banyak utangnya karena berbunga-bunga. Tapi mereka nggak bisa nyita rumah atau barang kamu, atau bawa kamu ke penjara–kecuali kalau kamu penipu. Makanya kamu ditakut-takuti dengan ketidaktahuan dan misteri. Dan saat kamu takut, harusnya kamu tahu gimana cara bertahan: kembali ke teman-teman.

Tapi diingat aja, kalau kamu bisa kami bail out, kamu harus mau ikut kami untuk jadi orang yang fungsional lagi. Ke psikiater biar ga pengen mati, dan banyak-banyak ngobrol. Mau makan tinggal numpang kok, ga perlu ngutang. Kami seneng kok berbagi sama kamu. Kalau kamu nggak punya temen atau keluarga kayak kami, coba cek dimana temen lama pada nongkrong, atau sekali-kali tanya temen dan keluarga apa kabarnya. Reach out. Maka kamu akan menemukan kami.

***

Website ini jalan dengan donasi. Jika kamu lagi miskin, bisa bantu saya sebarin tulisan ini, dan bilang ke orang yang kamu kasih: “Aku sayang kamu, bertahan yuk buat kita”.

Jika kamu menemukan tulisan ini berguna dan lagi ada rejeki, bisa traktir saya kopi dengan menekan tombol di bawah ini, biar tetap semangat dan punya waktu buat nulis dan nggak sibuk kerja lain yang bikin ga sempat nulis. Kopi murahan kok, ga perlu kopi Starbucks.

Politik, Racauan

5 Konteks dimana Konsensual (Suka sama Suka) Tidak Bisa Dilakukan

Konsensual secara sederhana artinya suka sama suka. Secara etika dan moral, kehidupan kita diatur oleh hukum universal ini. Kita minta sesuatu, dan menerima atau ngasih sesuatu berdasarkan kehendak bebas kita sendiri dan orang lain. Kalau ini dilanggar, kita berhak melawan atau membawa ke pengadilan.

Tapi konsensual hanya mungkin dilakukan dalam konteks yang benar. Ada 5 konteks dimana konsensualitas tidak mungkin dilakukan, dan hanya kemanusiaan kita yang bisa membuat kita menjadi beradab.

Pertama, sama-sama bocah, atau satu bocah satu dewasa, tidaklah konsensual. Ada bocah 16 tahun bilang “I love you om, ” Kepada om-om usia 30an, walau tuh bocah jago banget ML karena kebanyakan nonton bokep, tetep aja kita sebut perkosaan. Si bocah belum punya hak legal, belum punya KTP, dan yang paling serem, bisa jadi organnya belum berkembang dan bisa rusak permanen. Hal yang sama kalau ada guru cewek seksi umur 27, ML sama murid ganteng ketua club basket umur 15. Mau dia segede Hanamichi Sakuragi, dan super horny, tetep aja di situ si guru memperkosa muridnya. Kalau ada dua bocah umur 12 ML, orang tua mereka berdua harus dipenjara, bukan anaknya dinikahkan dini. Karena anak masih tanggung jawab orang tua sampai dia umur 18, bahkan 21.

Kedua, yang satu tahu, yang lain nggak tahu, itu juga nggak konsensual. Tejo balik dari kota ketemu Surti dan ngajak ML. Surti mau aja, lalu di pematang sawah, Tejo mengeluarkan kondom, dan Surti mengeluarkan HP. Yang satu mau Making Love, yang satu mau main Mobile Legend. Kalau mereka sudah sama-sama dewasa, mereka harus memutuskan mau ML yang mana.

Masalah besar dan seriusnya adalah ini: kebanyakan hal yang kita tahu soal seksualitas berasal dari film porno, atau mitos-mitos lokal, dan tidak diajarkan secara akademik dan saintifik. Apalagi, ini yang harus digarisbawahi, soal tubuh perempuan. Kompleksitas tubuh perempuan hari ini bisa kita baca di banyak media sahih dan buku-buku. Para dokter ginekologi, psikiater dan psikolog banyak yang sudah jadi selebriti dan kalau kita tidak malas, tidaklah sulit untuk tahu bagaimana memperlakukan tubuh perempuan (oleh laki-laki, atau perempuan itu sendiri).

Namun trend ini tidak berhasil dikejar sistem pendidikan, apalagi sistem hukum dan perundang-undangan yang masih melihat homoseksualitas sebagai penyakit, perkosaan sebagai penetrasi semata atau fakta sains sebagai opini. Maka jangan heran kalau banyak kasus pelecehan seksual menimbulkan trauma yang luar biasa karena baik yang melakukan atau korbannya tidak punya kata atau cara untuk mendeskripsikan apa yang terjadi pada diri mereka. Contoh paling menohok: tidak ada bahasa Indonesia untuk “catcalling“. Panggilan kucing? Jadi tidak mengherankan kalau korban atau bahkan pelaku tidak bisa bicara kenapa pelecehan tersebut terjadi.

Ketiga, yang satu dikasih kuasa institusi, yang lain diambil haknya. Pelecehan dari bos terhadap anak buah, atau dari suami kepada istri, atau dosen kepada mahasiswa, atau produser/sutradara kepada aktor, atau aktor senior kepada aktor junior atau bapak kepada anak adalah sebuah penyalahgunaan kekuasaan yang diberikan oleh institusi sosial. Tekanan dengan iming-iming atau ancaman posisi profesi, atau hukum, dan ketiadaan pakta integritas internal membuat orang rentan untuk dilecehkan.

Keempat, yang satu waras yang lain sakit jiwa. Ketika berhadapan dengan orang yang sedang depresi, bipolar manic, atau anxious, maka keputusan konsensualnya tidak bisa dianggap sebuah pilihan sadar. Maka ketika berhubungan dengan orang dengan gangguan jiwa, walaupun orang itu nampak menikmati hubungan seksual, atau kecanduan terhadap seks, hubungan tersebut tetap bisa dianggap perkosaan.

Kelima, yang satu sadar, yang lain mabuk. Ini jelas perkosaan atau pelecehan. Orang mabuk tidak mampu untuk mengambil keputusan sadar, maka siapapun orang sadar yang menemaninya harus bertanggung jawab terhadap keselamatan dirinya. Tapi kalau bikin mabuk orang jadi modus operandi untuk eksploitasi, maka di situ terjadi pelecehan dan bisa jadi perkosaan. Kalau dua-duanya mabuk dan salah satu memaksa yang lain, terus pas bangun pagi dua-duanya sudah telanjang? Well, ini sulit. Makanya jangan mabuk sama orang yang juga mau mabuk kalau tujuannya mau mabuk doang tanpa buntutnya. Pastikan minum alkohol dengan bertanggung jawab dengan orang yang dipercaya dan rela ga minum.

Jadi konsensualitas nggak sesederhana nawarin teh atau kopi, atau nusukin jari buat ngambil upil orang. Ada konteks-konteks dimana konsensualitas tidak dimungkinkan, dan di saat itulah kita harus benar-benar jadi beradab untuk tidak ambil keuntungan dari orang lain yang lebih muda, lebih bodoh, lebih lemah, lebih gila, dan lebih mabuk.

***

Terima kasih sudah baca sampai habis, semoga tulisan ini membantu kamu mengerti lebih jauh caranyanjadi manusia beradab. Kalau menurutmu tulisan ini membantumu, bolehkan bantu saya untuk mempertahankan website ini dengan mentraktir saya kopi? Karena saya butuh motivasi supaya tidak merasa sendirian.

Scan untuk traktir go food

Politik, Racauan

3 Macam Agresi untuk Melihat Evolusi Kamu

Kenapa orang stress cenderung agresif? Karena Agresi bisa menurunkan stress. Tapi agresif adalah perilaku yang sifatnya biologis, berasal dari interaksi hormon dan syaraf yang terlalu ribet untuk kita bicarakan di sini. Kalian bisa baca buku Behave karya Sapolsky atau Feeling Good karya Burns untuk tahu lebih jauh. Di sini kita akan bicara yang ringan-ringan saja.

Sederhananya seperti ini: Agresi, atau marah-marah, atau mukul, atau berantemin orang berasal dari mekanisme pertahanan kita yang paling awal. Setiap binatang yang punya otak dan sistem syaraf yang bisa merasakan sakit, cenderung agresif ketika stress, bahkan cacing aja menggeliat kalo diinjek. Tapi manusia punya banyak opsi untuk menghadapi stress, Agresi bisa berubah menjadi tindakan lain yang lebih konstruktif atau dormant (depresi, diam), pada manusia. Energi Agresi yang berubah menjadi kerja atau tindakan fisik lain seperti olah raga atau menyiksa diri dengan ibadah dalam psikoanalisis disebut sublime.

Seorang mantan walikota di Bogota, Columbia, Antanas Mockus, berusaha membuat manipulasi sosial untuk mengurangi tingkat kriminalitas dan konflik sosial fisik yang tinggi di kotanya. Menurut mantan dosen filsafat ini, Agresi bisa didedikasikan dari fisik, menjadi verbal, lalu simbolik. Agresi simbolik adalah Agresi tertinggi dalam peradaban manusia karena sifatnya soft power, tidak kelihatan jelas dan bisa mengubah peradaban.

Tulisan ini akan coba membahas tiga jenis derivasi ini.

1. Agresi fisik

Yang menghalangi kebebasan kita adalah kebebasan orang lain, kata Sartre. Dan cara untuk menghalangi kebebasan yang paling gampang adalah dengan opresi fisik: mengikat, membungkam, memukul. Ini dilakukan banyak mamalia yang membela diri, mencari jodoh, atau mempertahankan wilayah kekuasaan. Hukum rimba di ranah premanisme jalanan pun masih memakai cara ini.

Namun cara ini tidak efektif dalam membangun masyarakat dan peradaban. Cara ini membuat banyak kerugian baik fisik ataupun mental, infrastuktur pun bisa sulit dibangun karena dengan mudah bisa hancur. Maka itu, harus berubah menjadi Agresi verbal.

2. Agresi verbal

Agresi verbal itu ngeledek orang dengan kata-kata kasar. Bisa dari berbagai jenis binatang, hingga kotoran-kotoran. Ini lebih baik daripada Agresi fisik namun bisa memicu Agresi fisik.

Tapi kalau orang bisa mengubah Agresi fisiknya jadi Agresi verbal, maka dia punya perkembangan. Otaknya bekerja, referensi katanya bekerja pula. Orang yang banyak bergaul dan banyak referensi, punya Agresi verbal yang macam-macam. Semakin banyak referensi semakin kaya Agresi verbalnya. Ini yang membuat Agresi verbal bisa menjadi Agresi paling efektif dan manipulatif untuk mengubah peradaban: Agresi simbolik.

3. Agresi Simbolik

Ini Agresi yang hanya bisa bekerja dalam konteks spesifik: konteks simbolik. Artinya dia hanya bisa berhasil dalam tataran bahasa dan kebudayaan tertentu. Untuk menggunakannya, pemilik bahasa dan kebudayaan itu harus cukup maju. Jadi untuk masyarakat yang miskin kata dan sistem budayanya sederhana, Agresi ini sulit dilakukan.

Bentuk-bentuk Agresi ini ada banyak macamnya: dari yang sederhana seperti lelucon, sarkasme, satir, hingga yang kompleks seperti Undang-undang, kontrak, atau sistem ekonomi. Intinya, Agresi simbolik hadir supaya Agresi fisik dan verbal bisa dikurangi atau ditiadakan, jadi kerugian bisa diminimalisir.

Sebuah contoh kecil: seorang bini yang cerdas menyindir lelakinya yang pengangguran untuk segera bekerja apa saja yang penting tidak cuma santai-santai di rumah. Sindirannya awalnya sarkas, “produktif sekali kamu hari ini, ” Sampai suaminya sadar itu sarkas dan mulai memukul bininya itu.

Si Bini sebenernya bisa aja membalas pukulan, atau meracuni kopi suaminya, tapi dia cerdas. Dia tahu bahwa dia tidak bisa lapor polisi walaupun kena KDRT, karena sistem hukum negaranya bobrok. Dia ga bisa lapor keluarganya karena keluarga merasa dia tanggung jawab suaminya. Untungnya, si bini adalah anggota pengajian ibu-ibu. Dia cerita soal suaminya, dan para ibu-ibu menyerbu rumah, memarahi si suami, dan memintakan cerai. Perceraian di Kantor Urusan Agama adalah Agresi simbolik yang bisa dilakukan si bini. Akhirnya si suami dipulangkan ke orang tuanya, sementara rumah dan anak-anak menjadi milik si bini yang dibantu teman-temannya untuk membuat usaha hijab dan jadi kaya, anak-anak yang sekolah tinggi, dan lebih cerdas dari ibu mereka yang cuma lulusan SMK tata busana.

Itu kisah ngarang aja, tapi kelihatan kan kontrasnya antara suami yang masih jadi manusia purba, dengan bini yang sudah jadi manusia sapiens. Sekarang tinggal kalian sendiri, pembaca budiman, mau jadi orang agresif kayak apa?

***

Kalau kalian ingin menjadi sapiens, manusia bijak yang punya cerita dan menghargai cerita, mungkin bisa dimulai dengan sebuah dukungan biar saya bisa tetap menulis bebas di blog saya ini tanpa perantara. Kalian bisa traktir saya kopi dengan menekan tombol traktir dibawah ini, atau menyumbang dana gofood langsung melalui akun gopay saya. Terima kasih ya sudah membaca sampai habis.

Kirim Go Food ke yang nulis: