English, Filsafat, Memoir, Racauan, Uncategorized

Detecting Fuckers

y’ know how to detect sad people from the social media? If some people are expressing their sadness, like losing a loved one, or getting suicidal, or saying a prayer to God to give them strength in facing problems, they are not sad enough. The saddest and most melancholic people are those who throw off motivational quotes to be happy and good and jolly, that encourage positive thinking in every situations. Those who tells you to take positive attitude toward bad things and double positive towards good things. Why? Because they’re in a fucking denial. Everybody knows things are bad, and that good things wont last. Bad things last longer that’s why there are some good things. And the more you feel good about something, the worst you feel when it fucking ends. Some good things and happy moments do exist, but those are just a glimpse in life, like your mother’s orgasm to your dad.

So those encouraging stuff that they posted, are like fucking fake orgasm. You don’t get to be happy, but you go on. That’s life. Like Rocky Balboa said, its not a matter of winning or losing, its a matter of how many hits you can take. Faking it wont make it less hurtful.

People might say I’m bitter. But who is more bitter: people who says the storm will pass and the sun will shine again, only to find a drought after the flood; or people like me who cries and scream to the rain, and cursing the corporations in creating global fucking warming when the sun comes out not in time?

So next time you see people posting motivational quotes, tell ’em to wake the fuck up. Tell ’em there’s a big difference between optimism and fake orgasm. They won’t please themselves by thinking happy thoughts when things are bad. Tell ’em to be genuine, smoke some pot for God sake! Jerk off! Anything to make you accept the pain and fucking fight it off. You ain’t gonna be happy for long if you overcome that problem with positivity. Overcome it like cum: lubricate yourself with blood and tears, and give a fuck to things that matters and don’t give a fuck to things that doesn’t.

Ethnography, Filsafat, Memoir, Politik, Racauan

Sastra Jahat, Sastra Data

Sastra adalah ilmu tentang cerita. Cerita apa? Ya semua cerita, dari fakta yang diramu, hingga agama yang dianut; dari fiksi yang dilisan hingga diksi di tulisan. Tidak ada batas belajar sastra, selama kita memakai bahasa, dan karena bahasa membuat kita jadi manusia, sastra memanusiakan manusia.

Di jurusan fakultas Ilmu Budaya, sastra jadi lebih sempit artinya: semua yang tertulis sebagai teks, atau peninggalan artefak. Makanya ilmu sejarah dan arkeologi di UI masuk Fakultas Ilmu Budaya. Sementara yang tak tertulis, lisan, atau butuh pengumpulan riset lapangan yang berdasarkan omongan orang, masuknya ke FISIP.

Ini jadi agak problematik dan bisa diperdebatkan. Karena artinya Sastra Lisan, seperti folklore (bukan dongeng, tapi dongeng adalah salah satunya), tidak masuk Fakultas Ilmu Budaya. Folklore di UI jadi cabang Antropologi, dan di UI Antropologi masuk ke Fakultas Ilmu Sosial Politik. Pertentangan ini membuat di UGM, ilmu Antropologi masuk ke Fakultas Ilmu Budaya. Mana yang masuk akal? Mana yang benar? Ah, itu semua politik kampus saja. Ujung-ujungnya, Ilmu pengetahuan sebenarnya tak lebih dari kisah-kisah saja, Sastra semua! Bisa dibuat-buat dan bisa sangat kuat! Sastra, kisah, tulisan, bisa jadi kepercayaan dan bisa membunuh ribuan bahkan jutaan orang, kalau tidak menyelamatkan mereka.

Sinagog

Hitler membunuh Yahudi dengan narasi bahwa bangsa Arya Jerman adalah Ras unggul, simbolnya swastika. Padahal kalau kita baca teks arkeologi, Ras Arya berasal dari India dan kulitnya gelap-gelap. Swastika pun simbol dari budaya timur. Tapi narasi ‘Sastra’-nya Hitler yang banyak dianut orang Jerman saat itu. Hitler baca Nietzsche dan mengintretasikan tulisan Nietzsche yang campuran filsafat, sejarah, dan sastra, menjadi pembenaran untuk melakukan genosida terhadap Yahudi.

Indonesia, sebagaimana semua narasi tentang negara, adalah sastra juga. Sebuah traktat politik. Sebuah imajinasi yang dibagi. Begitupun institusi-institusi lain dari identitas hingga agama. Di Indonesia, genosida berdasarkan sastra dibuat berkali-kali lewat propaganda pemerintah. Dari mulai pemerintah kolonial terhadap berbagai etnis, pembantaian PKI, dan etnis China-Indonesia. Semua gara-gara cerita, yang kebanyakan tidak bisa terbukti kebenarannya.

Hari ini dengan adanya media sosial, alat propaganda dimiliki banyak orang. Semua bisa sebar cerita, semua bisa sebar hoax. Tukang cerita jadi laku dari jadi wartawan hingga buzzer. Profesi mahal jika bisa menerjemahkan teks-teks teknik yang ribet menjadi teks narasi yang mudah dinikmati. Dan dari semua pabrik cerita, korporat internasional, seperti VOC jaman dulu, punya alat cerita paling besar. Modal paling besar: infrastruktur.

Pemerintah negara kini tidak bisa berbuat banyak, apalagi kalau kementriannya ketinggalan jaman, PNS-nya gagap teknologi. Kita benar-benar sudah hidup di desa global McLuhan, dimana semua orang bisa punya komunitas sendiri-sendiri dengan bias dan persepsinya sendiri. Namun kita menuju ke sebuah singularitas, dimana dunia akan bersatu di bawah payung bank data. Di situ, ketika orang-orang gaptek pada pensiun atau dikerjai oleh sistem yang tidak mereka mengerti, sistem yang objektif, tidak manusiawi, dan hampir tidak bisa dikorup, maka kita semua pun akan jadi manusia yang dikendalikan oleh sistem.

Selama tidak mati , sepertinya kita akan baik-baik saja. Jadi robot biologis.

Filsafat, Memoir, Racauan, Workshop

Karya Yang Baik adalah Karya Yang Jadi

Tapi tidak boleh asal jadi.

Lebih baik lagi kalau kita bisa berencana dalam menghitung skala seberapa lama dan seberapa berat kita akan mengerjakan sebuah proyek. Sejak awal kita sudah punya perhitungan kira-kira seperti apa akhirnya dan bagaimana mengakhirinya ketika waktu sudah habis; apakah ada rencana B sampai Z? Secara teoritis, jika perencanaan sudah lumayan matang, tingkat kemelesetan tidak akan parah-parah amat.

Tapi memang stres tidak terhindarkan dalam tekanan waktu dan deadline.

Ini saya bicara secara abstrak untuk proyek apapun, dan secara teoritis. Pada praktiknya, kenyataan bisa sangat kacau balau. Sulit sekali untuk mengendalikan agar rencana sesuai dengan kenyataan. Semakin besar proyeknya, semakin melibatkan banyak orang, maka kita harus mampu berkolaborasi, dan mempercayai orang lain untuk mengerjakan bidang mereka masing-masing, namun di saat yang sama juga bersiap kalau mereka kacau, gagal, atau hilang di tengah proyek.

Kegagalan adalah kalau karyanya tidak selesai.

Beberapa minggu lalu saya sempat berhadapan dengan klien dari salah satu insitusi negara yang tidak mau bayar term 2 sebuah proyek video, hanya karena selesainya proyek tidak sesuai dengan kemauan mereka. Mereka juga tak tahu apa yang mereka mau. Proyek dilaksakan dengan kerja keras dan sesuai dengan wanti-wanti saya dari awal bahwa ini akan jauh dari sempurna karena masalah waktu dan budget—kalaupun budget mereka ada, saya tidak punya waktu untuk membuat ini sempurna. Salahnya saya, saya menerima bujuk rayu dan kasihan pada mereka. Akhirnya saya tidak dibayar malah dapat marah-marah dari pejabat.

Buat mereka proyek itu tidak selesai, tapi buat saya dan tim, selesai. Kami kirim hasilnya, kami sudah berusaha sebaik kami. Dan cuma orang-orang seperti mereka yang terjebak birokrasi dan ketakutan jabatan yang tidak bisa terima akal sehat, yang membuat kami kelabakan kerugian seperti ini. Tapi selama proyeknya jadi, itu sudah lumayan.

Ke depan ada banyak sekali rencana-rencana, dan kebanyakan dari rencana itu kemungkinan akan berakhir buruk (baca: gagal jadi). Tapi kita lihat saja bagaimana takdir semesta. Yang jelas, skala prioritas dibuat seperti antrian first come first serve. Segala app schedule dan koordinasi dipakai untuk mengejar target. Karena pemaknaan kehidupan kita hari ini adalah menyelesaikan tugas, sampai suatu hari tugas itu menyelesaikan kita.

Filsafat, Memoir, Racauan

Trending Gempi, Ahok, Toket, dan Aku Terasing

Kenapa saya sangat sulit untuk bisa mengerti trending? Atau menulis tentang sesuatu yang trending? Di timeline twitter ada Gempi anak Gading Martin menyanyi dengan band Honne, atau hashtag toket yang mungkin disebar bot atau siapapun, atau berita soal Ahok yang jadi komisaris pertamina—untuk yang terakhir itu saya sempat melihat bahan wartawan kantor tadi malam ketika kerja. Tapi sungguh, saya merasa betul-betul bodoh untuk membahas soal apa yang sedang trend. Sungguh saya nggak trendy banget.

Hal lain misalnya soal film. Saya sudah nonton Perempuan Tanah Jahanam, Ratu Ilmu Hitam, Bebas, Dua Garis Biru, dan lain-lain, tapi untuk bisa menulis sepertinya saya harus menunggu dulu. Tempo lalu Gundala dan Joker sudah saya bahas di satu tulisan di Mondiblanc.org, itu setelah saya menemukan inspirasi untuk keduanya. Saya juga sempat menulis soal film Midsommar, tentunya setelah menemukan epiphany. Saya tidak bakat menulis cepat. Terlalu banyak kebutuhan untuk berkontemplasi, untuk membuat sesuatu matang di kepala dulu. Kecuali yang seperti sedang Anda baca ini, yang saya awali dengan pertanyaan, “Kamu lagi mikir apa?”

Ini adalah sebuah cara untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban tercepat yang muncul di kepala saya, atau dengan impromtu. Lalu biarkan semua mengalir sendiri seperti teknik automatic writing. Meracau adalah keahlian saya yang utama tapi harus dimulai dengan pertanyaan yang tepat. Trending topik, jelas kurang tepat. I give up pursuing that line of life or work. And yes, I thought of pursuing it.

Anyway, saya merasa cukup bersalah karena sudah lama tidak menulis di website saya ini. Saya sudah lama tidak mengupdate pembaca sekalian karena, gosh, di umur ini banyak sekali pekerjaan-pekerjaan dan kebutuhan-kebutuhan yang membuat saya terasing dari yang saya suka, seperti menulis di blog sendiri atau bikin film saya sendiri atau musik saya sendiri. Waktu jadi bukan seperti milik saya.

Tapi nampaknya saya akan mulai punya waktu lagi, karena ada perubahan besar di hidup saya. Saya kangen dengan blog ini, dan kalian semua pembaca sekalian. Saya sedang menyiapkan konten-konten ciamik yang akan tersebar di beberapa website, video, dan podcast! Ya! Saya membuat sebuah podcast buat orang-orang yang ingin terlihat atau terdengar pintar. Semacam referensi-referensi lucu-lucuan yang meringankan yang berat dan memberatkan yang ringan. Tunggu saja tanggal mainnya.

*

Ketika saya memulai tulisan ini, saya gundah karena saya tidak bisa menulis trending. Menjelang akhir, kegundahan sembuh. Untuk apa ikut trending? Lebih baik melambatkan hidup untuk menikmatinya. Lebih baik menghargai proses daripada hasil. Tulisan seringkali menyembuhkan dan penyembuhannya bisa dibagi-bagi kepada sesama. Dan tulisan ini baru saja menyembuhkan saya dengan menerima diri. Sekarang saya tak sabar ingin menulis lagi, hal-hal yang kontemplatif dan bukan trending.

Mungkin saya sudah mulai dewasa (atau tua).