Memoir, Politik, Racauan, Uncategorized

Kepakaran

Pesanan Ervin Ruhlelana

Waktu di Amerika, saya pernah datang ke sebuah seminar yang membahas soal politisi dan teknokrasi di Indonesia. Para mahasiswa Indonesia yang kuliah di Amerika mengkritik kebijakan SBY yang menempatkan wakil menteri yang teknokrat (atau pakar) untuk menyeimbangkan menteri yang posisinya didapat karena politik bagi-bagi kue partai Demokrat.

Teknokrat dianggap lebih mampu untuk menduduki posisi menteri daripada politisi. Padahal banyak juga di rezim-rezim sebelumnya, ketika teknokrat, para pakar, yang lulus dari luar negeri sampai jenjang Profesor, tidak berhasil membuat kebijakan yang mumpuni. Kebanyakan karena kepakaran mereka tidak memiliki elemen kepemimpinan secara politik yang mampu membuat kebijakan mereka dijalankan dengan baik.

Saya ingat sebuah tulisan berjudul anti-political machine, yang bicara tentang pembangunan di Lesotho, Afrika, yang beranggapan bahwa teknokrat atau para ahli bisa menyelesaikan masalah keterbelakangan budaya yang pada akhirnya berujung menjadi perang saudara di negara itu. Perang diantara gedung-gedung yang baru dibangun atas prakarsa bank dunia dan PBB.

Atau kebijakan pakar sanitasi dari korporat untuk memberikan sabun ke masyarakat pedalaman Papua, karena menanggap bahwa mereka suka mandi lumpur dan itu kotor, berujung pada wabah malaria yang membunuh ratusan orang. Mandi lumpur ternyata berguna untuk mencegah digigit nyamuk.

Pakar, teknokrat, ahli, yang diberi kuasa politis tanpa kajian mendalam dan interdisipliner bisa membuat kekacauan parah. Politikus rakus, lebih parah lagi. Sementara itu, netizen yang bicara seakan-akan mereka pakar, cuma anjing menggonggong. Kafilah pun akan tetap berlalu.

Tapi, hari ini semua orang bisa jadi pakar yang sesungguhnya, karena adanya internet. Ketika ini terjadi, maka harga pakar jadi jatuh, dan semua orang tidak lagi istimewa ketika melihat bahwa skill mereka akan dengan mudah dikuasai orang lain. Namun harga atau nilai adalah sebuah konsensus, dan manusia bisa melawan untuk tidak menjadi komoditas semata yang harganya ditentukan supply chain.

Caranya saya sudah paparkan dalam microblogging saya beberapa minggu lalu soal irrelevansi. Bahwasannya manusia harus membuat identitasnya sendiri dulu dari jejaring sosial dan politiknya, yang tak mungkin tergantikan oleh skill. Terlebih lagi perlu adaptasi dalam sebuah kerjasama, yang membuat ganti orang baru jadi tidak mudah. Kita cuma harus menjaga performa kita, agar tidak turun supaya kepercayaan dengan kawan-kawan sekolaborasi tetap terjaga.

Saatnya menjadi Pakar dalam berteman. Tidak ada google atau youtube yang bisa mengajarkan itu, tanpa jadi cliche sotoy seperti video di bawah ini.