Film, Kurasi/Kritik

5 Pelajaran Penting dari Film Selesai

Kalau kamu nonton film cuma ceritanya saja, tulisan ini mungkin bukan buat kamu. Tapi kalau kamu mau belajar untuk mengerti film lebih dari sekedar cerita, yuk terus baca.

To the point saja, film Selesai penting untuk belajar soal bikin film jelek, dan tidak penting untuk ada. Ini peringatan buat semua filmmaker pemula di Indonesia, yang ambil keuntungan besar dari bikin film jelek.

Apa itu film jelek: film jelek adalah film yang melanggar janjinya. Janji di iklan adalah film drama perselingkuhan untuk masyarakat banyak, namun yang disajikan adalah film yang merendahkan perempuan dan penderita sakit mental, dibuat dengan teknik yang sangat buruk, untuk keuntungan sebesar-besarnya. Film jelek adalah produk gagal yang menipu orang dengan iklannya.

Film jelek harus kita catat di sejarah sebagai hal yang harus diwaspadai, karena menyangkut martabat bangsa kita dan menghina kecerdasan penonton. Berikut lima pelajaran yang bisa kita petik dari film Selesai.

1. Awas asap hazer membuat set film seperti kebakaran.

Dari awal film, ketika kita dibawa bergerak ke kamar dua karakter, saya merasa terbawa ke rumah yang sedang kebakaran. Adegan tanpa suara yang didahului alarm menambah kuat kesan bahwa settingnya mungkin ada di rumah dekat dengan lokasi pembakaran hutan buat buka lahan sawit. Saya sempat berpikir, mungkin ini adalah film Dandy Laksono soal polusi akibat korporasi. Ternyata yang terbakar adalah pantat Gading Marten (if you know what I mean).

Di project Omnibus Q MondiBlanc, sutradara pemula Adinegoro Natsir awalnya ingin menggunakan hazer untuk membuat efek golden hour di film pendek berjudul Mithera. Tapi setelah menonton film ini, niat itu dibatalkan. Secara lighting film Selesai tidak punya logika waktu. Kita tidak tahu apakah shotnya siang, sore, atau pagi, karena cahayanya tidak konsisten. Kita jadi banyak belajar tentang apa yang seharusnya tidak kita lakukan di set. Terima kasih dr. Tompi.

2. Awas script dan art jelek tidak bisa diselamatkan aktor hebat.

Skin tone hilang, baju nyaru dengan background.

Naskah yang jelek biasanya bisa diperbaiki oleh aktor yang hebat. Aktor-aktor di film ini jelas hebat, dan ini bukan sarkas. Ariel Tatum sebagai Ayu membawa emosi yang berat di dalam karakternya, Gading sebagai Broto rela digoblok-goblokin ibu dan istrinya. Tapi kalau secara struktur dan logika sudah kacau, para aktor hebat ini kerja sia-sia. Emosi yang terbangun hancur sudah, dengan, misalnya, kedatangan selingkuhan (Anya Geraldine) ke rumah Broto (Gading Marten) di akhir film, padahal sejak awal film, rumahnya disegel gubernur karena lockdown COVID. Rumah disegel ketika lock down juga baru di film ini saja terjadinya. Epik.

Dan siapa production designer/wardrobe yang bikin baju aktor complementary color dengan setnya (orange, coklat)? Kamu mau aktor kamu jadi bunglon? Udah gitu digrading warm pula jadi banyak shot skin tone aktor hilang sama sekali. Dia pikir perawatan kulit aktornya murah? Kalo gue jadi producer sih, itu production designer sama colorist gue potong gajinya buat nombok skin tone aktor mahal yang hilang.

3. Awas lampu syuting bocor di film realis.

Bertold Brecht mengajarkan kita untuk mengasingkan penonton dengan cara meyakinkan penonton bahwa yang mereka lihat adalah sebuah drama di panggung. Dia sengaja kasih lihat lampu panggung bocor biar penonton fokus pada repertoir yang dibawakan, dan nggak terbawa dalam drama emosi di dalam pentas. Film Selesai sementara itu membiarkan lampu terlihat membias di kaca sebelah kanan atas shot wide. Dan adegan ini sampai masuk ke trailer juga. Saya pikir ini sengaja, tapi kok nggak konsisten? Deadpool aja konsisten suka ngomong sama penonton. Anyway, mungkin ini ga salah. Sutradara mungkin cuma mau bilang bahwa ini semua main-main dan mahal. Kok gitu? Karena dia bisa. Sementara kita menderita karena bingung lihat ini film apaan, berantakan amat bikinnya.

4. Awas kalau banyak teriakan, sound tidak boleh off peak.

Banyak sutradara atau aktor yang kurang berpengalaman berpikir bahwa kalau berantem dan marah-marah itu harus teriak-teriak. Yang kasihan ketika aktor teriak-teriak di set film, adalah sound recordist dan sound designer karena mereka denger semua suara teriakan itu langsung dari clip on aktor atau boom mic ke kuping mereka. Dalam beberapa kasus, sound recordist bahkan bisa mendengar suara pipis, berak, atau telpon perselingkuhan aktor yang lupa mematikan clip on sambil jalan-jalan pas break. #truestory.

Nah, waktu teriak-teriak, jika sound recordist tidak memastikan bahwa settingan clip on di bawah normal, dia akan mendapatkan apa yang disebut suara off peak, atau suara pecah karena mic tidak mampu merekam teriakan. Suara pecah ini sulit sekali untuk diedit (bahkan dalam beberapa kasus, hampir tidak mungkin). Dalam film Selesai, selesai sudah kualitas suaranya. Banyak suara pertengkaran off peak, dan berusaha diperbaiki dengan mengecilkan gain/volume di post production, tapi tidak dibalancing dengan baik hingga ketika bicara normal, suaranya kecil banget. Biasanya kejadian ini karena boom operator atau recordist yang disuruh ngerekam bukanlah profesional. Untuk film bertiket 38 ribu, soundnya sampah.

5. Awas tidak peka sosial politik.

Masalah film Selesai yang paling parah adalah ketidak-pekaan terhadap isu sosial dan politik yang ia bawakan. Film adalah alat propaganda paling kuat. Film membentuk bagaimana cara masyarakat berpikir, memaknai hidupnya, dan memaknai hidup orang lain. Selesai adalah satu lagi film Indonesia yang bukan cuma masa bodo, tapi juga memperparah permasalahan sosial di negeri kita.

Pertama, adalah stereotipe dan merendahkan perempuan. Di sini, plotnya sangat misoginis. Empat tokoh perempuan, semuanya kalau tidak gila, binal, goblok atau ketiganya. Ayu masik RSJ, ibu Sepuh ingin anaknya tidak cerai walau sudah saling selingkuh, Anya pelakor dan tidak suka pakai celana dalam, dan si pembantu ditipu pacarnya yang supir yang mencuri uangnya. Lelaki bisa selingkuh dan aman. Perempuan selingkuh bisa gila. Pembantu jadi bucin, duit diambil lelakinya, stereotipenya parah banget. Dan ini adalah representasi yang dihadirkan ketika Harvey Weinstein sudah dipenjara dan Hollywood dan Disney punya kebijakan supaya peran perempuan, ras, dan minoritas lebih banyak hadir di film box office. Film misoginis Selesai ini juga hadir ketika kita punya krisis: RUU PKS belum juga diresmikan, dan pelecehan seksual sering terjadi di set film. Sementara kampanye film ini lebih kenceng daripada kampanye pelecehan seksual. Bener-bener keterlaluan!

Kedua, ketidakpekaan terhadap isu mental health. Gejala delusi dan halusinasi Ayu sama sekali tidak didasarkan riset soal kesehatan mental yang benar. Dia bukan hanya diselingkuhi, dijebak, ditolak, tapi juga dibuat tidak sadar, dicekoki obat (yang ia lepeh di akhir film mungkin untuk membuat sequel). Obatnya tidak jelas apa, di kursi roda entah kenapa. Mungkin film ini bukan realisme, bukan komedi, bukan drama, bukan juga eksperimen. Mungkin film ini hanya bermain-main saja. Tapi permainan semacam ini punya implikasi serius untuk masyarakat. Dan ini sudah terjadi berulang-ulang di film Indonesia.

Dua contoh film lain adalah Antologi Rasa yang melanggengkan budaya perkosaan (lihat Aditya, 2019), dan Tilik yang melanggengkan stereotipe ibu-ibu penggosip dan perempuan muda perebut laki orang (lihat Darmawan, 2020). Kedua film ini punya plot misoginis dan stereotipe, tapi dibuat dengan baik. Sementara Selesai, plotnya merendagkan perempuan dan penyakit mental, dan dibuat dengan sembarangan. Ini menggandakan hinaan terhadap otak penonton Indonesia.

Ini juga berarti, filmmaker Indonesia banyak yang belum sadar betapa kuat dan pentingnya film untuk kebudayaan. Kebebasan bikin film tidak disertai pertanggungjawaban, sehingga plot dibuat semena-mena. Padahal jelas, film propaganda orde Baru seperti Pengkhianatan G 30 S, telah melahirkan ketakutan, paranoid, dan kebencian berkepanjangan terhadap komunisme. Atau film-film horor yang membuat orang-orang kampung sebagai antagonis yang bodoh dan klenik telah membuat gap antara desa-kota semakin menjadi-jadi. Film-film semacam ini adalah musuh bangsa ini, jika bangsa kita mau maju.

Kritik terhadap film macam Selesai ini harus gahar, keras, dan berkepanjangan, supaya film-film yang memarginalkan perempuan dan kesehatan mental semacam ini tidak dibuat lagi. Cukup terjadi tahun 80-90an saja ada film kayak gini, di zaman ketika Warkop DKI sudah tidak bisa melucu selain dengan cara pegang-pegang pantat Kiki Fatmala. Yang boleh membuat film macam ini hari ini cuma sutradara macam Amer Bersaudara yang jenius itu: mereka konsisten, cerdas, bertanggung jawab dan pecinta lingkungan karena mendaur ulang sampah semacam Film Selesai.

***

Terima kasih sudah baca tulisan ini sampai habis. Website ini jalan dari sumbangan. Kalau kamu suka sama yang kamu baca, boleh traktir kopi buat yang nulis biar dia bisa bayar hosting dan domain website ini, dan tetap semangat menulis. Klik tombol di bawah ini.

.

#drama, Film/Video, Workshop

5 Macam Aktor yang Paling Merepotkan Buat Diajak Kerja dan Cara Ngehandlenya


Selama 12 tahun ngajar film, acting, media, nulis, teater dan ngedirect, gue sering ketemu aktor atau orang yang mengaku aktor, yang bikin gue capek banget. Ini konteksnya gue sebagai pengajar, sutradara dan hasil ngeghibah sama temen-temen di industri ya. Kerja bareng aktor-aktor yang nyusahin lumayan sering jadi cukup tahu gimana ngehandlenya, sampe filmnya jadi. Ini 5 macam aktor yang sering ngerepotin gue, dan cara ngehandlenya.

Pertama, aktor yang belajar akting buat jadi bintang atau selebriti. Ini orang-orang menyedihkan yang terpengaruh media atau sosial media soal aktor. Mereka sama sekali nggak paham apa itu akting sebagai seni, dan ingin masuk ke industri sinetron atau apapun yang bisa mewujudkan mimpi glamor mereka. Gue cuma berharap, impian itu cuma jadi pintu masuk untuk menerima sebuah kenyataan bahwa menjadi aktor sama saja seperti pekerjaan seni lainnya seperti melukis, mematung, mengedit, menari, memotret, dll. Tidak ada yang spesial soal seni peran. Ia cuma pekerjaan biasa saja yang perlu bakat dan keterampilan, serta tentunya panggilan hati dan panggilan syuting.

Cara handle: kalo duitnya ga gede, jangan mau kerja sama aktor kayak gini. Kalo duitnya gede, kasih aja apa maunya produserlo. Dan siap-siap tipu-tipu pake kamera aja. Kasih insto buat nangis, siap dubbing, dan siapin astrada buat bacain skrip buat si aktor superstar ini biar dia tinggal ngulang ngomong nggak usah ngehapal. Taik emang, tapi duit, borr.

Kedua, aktor berbakat yang tidak suka membaca. Bisa jadi dia akan jago akting di bawah sutradara yang bagus; bisa jadi dia dapat menyampaikan empati dan perasaan dengan baik, tapi nggak paham subtext naskah, nggak bisa metodologi dalam pendekatan kepada karakter, nggak bisa menjelaskan referensi-referensi yang ia pakai. Sulit kerja sama aktor yang kosakatanya sedikit, susah komunikasi sama dia. Dan metodenya nggak bisa diduplikasi karena banyak yang pake feeling doang, nggak terukur. Terlalu banyak bermain dengan kebetulan. Ga bisa main teknik nafas atau teknik olah tubuh karakter yang bisa mengolah mood dan karakter jadi lebih siap buat di take dan retake.

Cara handle: sediain waktu yang lama buat dia panas. Banyakin ngobrol praporduksi untuk isi kepalanya dengan referensi karena dia biasanya auditory learner, alias males baca seneng ngobrol. Kalo waktunya sedikit, well suruh fake ajalah, pokoknya kelar. Males overtime nungguin doi in the mood. Nggak baca sih, lemot deh.

Ketiga, aktor sotoy metode banyak gaya. Ini ngeselin sih: udah males baca sotoy pula. Dan ini buanyak banget yang gue kenal: dari yang gayanya sok-sok dukun kearifan lokal, gaya orang gila, sampe yang sok rockstar mabok-mabokan di set panggung untuk ngikutin idolanya di jaman orba. Gak jaman bor, kayak gitu. Ini jaman internet, malu lo sama Meissner dan Stanislavski. Brecht muntah di alam kubur gara-gara lo ngomong Verfremdungsteffekt aja ga lancar tapi lo berkoar-koar. Malu lo sama Deadpool yang udah break the fourth wall di bioskop!

Cara ngehandlenya: pecat aja. Suruh suting sama demit atau bikin film art sama Jim Morrison.

Keempat, aktor yang berbakat, tapi nggak mau ngalah demi egonya. Ini aktor yang cuma perduli sama akting dia sendiri tapi nggak sama pertunjukkan atau filmnya secara keseluruhan. Mikirnya akting harus dia yang nikmat sendirian, orang harus ikut dia semua. Self centered actor kayak gini harus kena producer atau sutradara yang bisa nempeleng dia buat ngingetin kalo akting itu proyek tim, bukan proyek sendirian. Dan hubungan antar aktor dengan rekan sekerjanya yang lain seperti hubungan lelaki dengan perempuan: si lelaki harus bekerja keras untuk memberikan kenikmatan pada si perempuan dengan banyak ngalah dan mendengarkan, karena kalau perempuannya orgasme, seksnya berhasil. Tapi kalau lelakinya doang, well, it’s lame bro.

Cara ngehandlenya: ajak ngobrol dan minta tolong buat saling sayang aja sama satu sama lain. Bikin dia ngerti kalo cuma dia doang yang bagus, film ini jadi jelek dan penonton juga males. Kalo dia nggak mau dan ngancem hengkang, lepasin aja. Berarti dia nggak sayang sama elo, lawan mainnya, dan kru yang lain. Tunda aja dulu syuting sampe dapet yang hatinya lebih tulus.

Ke lima, aktor yang ga mau kelihatan aslinya. Akting itu adalah seni kejujuran, bukan seni pura-pura. Karena untuk pura-pura dalam acting, si aktor harus bisa pura-pura dengan jujur sampai semua orang percaya bahwa dia pura-pura. Aktor yang masih punya banyak tembok untuk nunjukkin sisi lemah dirinya, sisi buruk dirinya, adalah aktor yang nggak siap akting. Dia harus selesai dulu menerima diri apa adanya, untuk bisa berkembang. Dan satu-satunya cara untuk menerima diri itu adalah dengan latihan, latihan dan latihan—dengan guru dan sparing partner yang benar.

Cara ngehandlenya: demi filmnya, fake aja udah. Yang penting ceritanya tersampaikan. Habis itu evaluasi, suruh aja latihan lagi. Tapi film yang sudah dishoot, ya sudah. Salah kamu sendiri pilih dia dari awal. JANGAN PERNAH BERUSAHA NGECRACK DI SET! Aktor kayak gini kalo sampe kamu crack emosinya bisa ga terkontrol. Abis itu ga bisa ganti shot atau take ulang. Cracking emosi itu butuh guru yang bagus.

Jadi, kawan-kawan aktor sekalian, gua harap kalian jadi paham ekspektasi gue sebagai director/producer/scriptwriter/mentor kalian. Tapi kalau kalian nggak bisa memuaskan ekspektasi gue, ya nggak apa-apa juga. Toh, banyak aktor yang gue kenal adalah yang 5 di atas. Tapi berharap kalian jadi lebih keren, boleh dong.

Love and peace out lah!

***

Makasih sudah baca sampe habis. Kalau kamu suka sama blog ini, boleh lah nyumbang om yang nulis kopi dengan klik tombol di bawah ini, biar punya motivasi.

Puisi, Workshop

Mengubah Rasa Jadi Puisi

Kekasihmu pergi, orang yang kau cintai meninggal, kau tidak lulus sekolah, kau ditembak gebetanmu, kamu masuk kampus yang kamu inginkan, atau dapat pekerjaan ideal. Semua kejadian ini menyisakan rasa yang kuat. Bagaimana caranya untuk berbagi rasa ini kepada banyak orang? Toh tidak semua orang mengalami apa yang kamu alami. Jawabannya: dengan puisi.

Temukan apa yang mau kamu katakan secara literal tapi tidak mungkin kamu katakan. Misalnya kamu mau bilang, “Benci untuk mencinta” pada pacarmu. Walau mengandung ironi, tapi ini bukan puisi. Ini kalimat yang jelas, yang interpretasinya tidak banyak. Kita akan buat kalimat ini jadi kaya dengan rasa.

Biasanya yang pertama harus ditarik dulu adalah sebuah rasa yang abstrak. Benci dan cinta sendiri adalah kata-kata yang sudah abstrak, kita tidak bisa menyentuh benci atau cinta. Maka untuk menjadikannya puisi kita bisa membuatnya menjadi fenomena nyata dengan kata benda dan kata kerja. Benci untuk mencinta, adalah ketidaksukaan untuk melakukan yang kita suka, karena yang kita suka merugikan kita. Cari perumpaannya, membenci yang kita cintai itu seperti…. Kecanduan pada narkoba, misalnya. Maka untuk bilang aku cinta untuk membenci dalam puisi, bisa saja (satu diantara banyak caranya), memakai perumpaaan narkoba. Jadinya seperti ini:



***
Heroin, pahlawanku, yang tak bisa kulepaskan Atau tak mau melepaskanku

Meth, kristal paling berharga, dan tubuhku rubuh, organku rusuh ingin kau!

Kau, opium terkuat, seperti Tuhan yang ilusif antara ada dan tiada,

Tapi opresif
Posesif.

***

Jadi untuk membuat puisi dari rasa dan emosi, yang kamu perlukan adalah manifestasi nyata dari rasa itu, dengan perumpamaan-perumpaan yang menimbulkan rasa semacam itu. Dan dengan perumpamaan puisimu bisa membuka pintu persepsi banyak orang. Bukan hanya untukmu.