Film, Kurasi/Kritik, Racauan

Andibachtiar Yusuf dan Kejamnya Sinema Kita


Semua yang kenal atau pernah mendengar minimal 3 cerita tentang Andi Bachtiar Yusuf (sutradara Love for Sale, Romeo-Juliet dan The Conductor) pasti setuju bahwa Ucup (nama panggilannya) adalah orang yang straightforward, suka bercanda kasar, dan berenergi besar. Sikap itu sudah lama ada padanya sehingga ketika ada kasus kekerasan di set film, sulit untuk membelanya, seakan semua orang tinggal menunggu ia melakukan sesuatu yang bisa menyakiti orang lain sedemikian rupa. FYI, saya orang yang tidak kenal dekat dengan Ucup, tapi tidak sulit untuk tahu dua tiga cerita soal kepribadiannya yang cukup nyentrik–saya rasa dia sendiri juga tidak pernah menyembunyikan itu. Dia cenderung mengglorifikasi kekasaran itu secara publik.

Sebagai seorang penulis opini, saya tidak berniat membela tindakan Ucup. Saya cuma ingin melihat secara lebih objektif, apa yang sebenarnya terjadi di Industri film kita. Sesuatu yang seringkali tersembunyi dari mata orang umum: sebuah kekerasan sistemik yang mendominasi produksi film kita.

Kekerasan sistemik artinya kekerasan berbasis cara kerja sebuah struktur. Ia ada karena dalam konteks kurang uang, kurang waktu dan kurang perhitungan, untuk membangun sebuah sebuah hierarki struktur (baca: produksi film), diciptakanlah kekerasan dan opresi pada pekerja. Secara mudah, kekerasan sistemik ini terjadi karena film adalah sebuah karya kapital yang didalamnya terdapat relasi-relasi kuasa antara pemilik modal, pengambil kebijakan, dan kru. Klasik Marx lah, menyedihkan bicara teori ini hari gini.

Sutradara atau produser ngamuk di set, bukan hal yang tidak biasa. Kepanikan terjadi, jam kerja mulur sampai dua tiga kali lipat, bahkan orang meninggal di set sudah beberapa kali terjadi. Ini karena tekanan syuting begitu besar karena seringkali perhitungan brief ide, modal, dan waktu tidak dikerjakan dengan baik. Janji-janji pada investor, atau ketakutan kehilangan pekerjaan, membuat pekerja film sering tersiksa tapi terus kerja karena kebanyakan mereka freelancer.

Kekerasan ini tidak hanya terjadi secara fisik dan verbal. Ia paling sering terjadi dengan cara simbolik, melalui aturan kontrak tidak adil, atau dengan dalih solidaritas yang melanggengkan eksploitasi tenaga kerja, atau dengan tekanan-tekanan penyalahgunaan kekuasaan, ancaman black list, dan sebagainya.

Kekerasan simbolis juga bisa berwujud cinta, baik pada persona atau kepada filmnya sendiri yang abstrak: yang penting filmnya jadi. Banyak pekerja film yang berusaha mengerti masalah produser atau sutradara atau astrada, karena mereka teman senasib sepenanggungan. Mereka rela dieksploitasi sedemikian rupa untuk membereskan kebodohan orang lain. Setelah itu hubungan dijaga baik dengan party-party setelah syuting (kalau ada uang tersisa), atau sekedar halal bi halal minta maaf. Syuting sudah seperti sebuah neraka yang harus dilewati untuk mencapai surga. Neraka yang tak terukur dan tidak adil. Karena neraka Tuhan lebih adil: Hitler ditusuk besi panas dari pantat hingga mulut karena apa yang ia lakukan pada Yahudi. Sementara kru salah apa sampai harus merasakan neraka diteriaki, dimaki, tidak tidur, dan kecelakaan tanpa asuransi? Orang film seperti punya lebaran beberapa kali setahun karena sering maaf-maafan, tanpa banyak evaluasi diri.

Dan ini membuat nilai kekerasan jadi relatif. Ucup susah dibela karena perilakunya kasar dan dia mengglorifikasinya, tapi ada yang lebih parah lagi: orang yang perilakunya baik, tapi pas syuting jadi iblis dan semua orang berhasil dimanipulasi biar ikut maunya dia secara konsensual. Mungkin di set tidak marah-marah; mungkin juga terlihat pusing dan menderita seperti kru yang lain, tapi keputusan idealisme dan artistiknya bikin syuting sangat tidak manusiawi: jam kerja panjang, tidak ada safety, tidak ada asuransi, dan memaksa overtime atau pick up shot dalam waktu sangat dekat, sering terjadi. Belum lagi kontrak yang sangat tidak manusiawi, seperti memaksa seorang pekerja untuk mau menerima kontrak project berikutnya tanpa kenaikan upah sesuai inflasi atau profit. Bangsat.

Ada juga yang meremehkan kru lain yang sakit hati atau depresi. Begini ya, kawan, sakit hati itu relatif. Bisa jadi kebanyakan orang tidak sakit hati, tapi jika ada satu dua orang yang tiba-tiba hilang karena depresi dan jadi suicidal maka jelas ada masalah. Ingat, ini orang bukan angka. Satu dua orang depresi karena kebijakan buruk adalah sebuah tanda kegagalan dalam menjaga lingkungan kerja yang baik.

Lalu ada juga yang masokis dan ngajak-ngajak, tanpa sadar bahwa tidak semua orang masokis seperti dia. Tidak semua orang seambisius dia untuk film dia. Akhirnya, perlahan tim collapse, dan seperti domino, yang repot di post produksi yang harus beresin kesalahan produksi dari mulai sound yang buruk hinggal shot yang tidak punya continuity karena script cont-nya tidak tidur. Ada lagi yang sudah sakit masih maksa syuting, karena mikirin kru dan budget. Udah kayak Jendral Sudirman dibawa-bawa pake tandu ke hutan. Ini efek kebalik tapi sama bahayanya, semoga nggak keulang lagi cinta yang membunuh semacam ini.

Kita menuju ke kemajuan di industri kita: UU perfilman, BPI, Sertifikasi kerja, kucuran dana pemulihan ekonomi, dana abadi kebudayaan dan lain sebagainya memastikan kita bisa produksi film dengan jauh lebih nyaman dan aman dibanding zaman orde baru. Maka baiknya perbaikan terus dilakukan, khususnya soal aturan untuk pekerja film.

UU perfilman yang dibikin, menurut banyak orang, belum berpihak pada pekerja tapi lebih pada pengusaha film. Karena kepentingan pekerja dari mulai jam kerja yang manusiawi sampai jaminan sosial belum tersurat. Terlebih lagi fleksibilitas yang membuat eksploitasi terus jalan, dan akibatnya kata-kata kotor dan konflik kekerasan fisik, verbal, dan simbolik kerap terjadi di set yang stress karena memaksakan budget, timeline, dan ide yang tidak cocok satu sama lain.

Jangan bilang bahwa itu biasa dalam syuting, atau tidak ada syuting yang akan beres 100 persen! Jangan menormalisasi syuting sakit! Itu cuma ocehan kaum budak proletariat yang harusnya sudah punah bersama hantu-hantu Marx. Ada kok yang sudah mempraktekan syuting sehat, tapi mereka belom sempat berbagi ilmu pada banyak tim produksi lain. Mereka belum berhasil mereduplikasi cara mereka untuk bisa, misalnya, jogging sama keluarga di tengah-tengah syuting film panjang, tanpa ganggu jadwal syuting. Sempat menjadi manusia sehat jiwa raga, di tengah kerja keras yang teratur baik, karena manajemen yang rapih dan prioritas yang logis: film nomor dua, kesehatan fisik, mental dan keluarga yang utama.

Nggak mungkin juga mereka yang sehat-sehat ini sering sharing-sharing sebuah ilmu ke semua tim produksi yang sakit di luar sana. Terlalu banyak tim yang sakit daripada yang sehat. Salah-salah mereka yang sehat bisa jadi ikut sakit, karena mereka kan kerjaannya syuting, bukan advokasi. Maka tidak ada cara lain selain memohon perubahan UU menjadi lebih berpihak pada pekerja. Agar persaingan jadi sehat dan tidak memungkinkan pekerja ditekan sedemikian rupa dari atas ke bawah.

Kasihan banget melihat asosiasi film seperti ICS, IFDC, atau ACI jadi seperti kelompok paramiliter atau anarko yang bikin hukum sendiri, padahal mereka harusnya ada di bawah lindungan NKRI. Mereka asosiasi pekerja, pak, bukan Ormas agama yang biasa ngeluarin fatwa.

Penting kita untuk sadar kekerasan yang kita lakukan, sengaja atau tidak sengaja, karena cinta atau benci–semua adalah kekerasan, dan itu harus dihentikan.

Filmmu TIDAK PENTING. Karena film Indonesia belum bisa menjadi penting, jika orang-orangnya yang membuatnya tidak dipentingkan.


Terima kasih sudah membaca sampai habis. Website ini jalan dengan donasi. Kalau kamu suka yang kamu baca, silahkan traktir penulisnya kopi biar semangat nulis lagi. Thanks.

Film, Filsafat, Kurasi/Kritik, Racauan

Oscar dan Politik Festival Film

Dalam Oscar, gue selalu melihat sebuah performance. Oscar sendiri sebagai sebuah festival, buat gue bukan sebuah kompetisi atau sebuah perayaan macem-macem  tapi itu adalah sebuah performance politik.

Oscar dari awal tahun 70’an ketika Marlon Brando menolak untuk dapat Oscar karna dia mau protes sama semua film koboi yang  memarginalkan  orang-orang native American, udah political banget tuh. Marlon gak mau dateng, dia mengirim seorang putri kepala suku di Amerika dan menerima Oscar buat dia, tapi di saat yang sama juga dia ngomong bahwa selama ini Hollywood telah melecehkan Native Amerika yang disebut “indian-indian” ini dan mereka ingin menghentikan film-film koboi dengan indian-indian film Amerika yang menjadi penjahat.

Ini impactful banget, dan setiap tahun ada aja Oscar caranya untuk bikin sebuah wacana jadi naik. Kaya kemenangan film Moonlight berkaitan dengan racial discrimination, lalu kemenangan-kemenangan lain-lain film-film perempuan waktu jaman #metoo, lalu kemenangan film Asia jadi reaksi terhadap penembakan orang-orang asia di Amerika. Kemarin juga kita lihat juga Will Smith nampol Chris Rock dan di highlight sebagai sebuah performance yang notable.

Adegan ini buat gue statement tentang penyakit Alopecia Jada Pinkett Smith yang membuat rambutnya rontok dan harus digunduli. Ini juga kayak tamparan literal bahwa juga bahwa jokes itu ga bebas gitu. Lo boleh ngejoke sesuatu di dalam sebuah ruang yang aman; tapi Oscar jelas bukan ruang aman kayak di comedy club. Ricky Gervais juga beberapa kali bikin jokesnya depan orangnya langsung di Golden Globe, tapi kalo udah soal penyakit atau disabilitas itu udah keterlaluan, kecuali kalo lo ambil balik apa yang bisa dikatain ke elo gitu tapi ini kan enggak. Ini main power kan? Ketika Rock sudah ngata-ngatain Jada sementara dia sendiri aja ga sakit, di situlah pukulannya Will Smith bisa jadi sebuah performance yang sangat fenomenal untuk ngasih statement bahwa “Nggak! lo ga bisa nge jokes kaya gitu”.

Will Smith mempertaruhkan karirnya untuk aksinya itu. Dia mundur dari Oscar dan melepas hak suara atau kehadiran di event-event selanjutnya. Ketika tulisan ini dibuat, Smith sedang menunggu apakah piala yang ia raih sebagai best actor untuk film King Richard akan dianulir juga—tapi nampaknya tidak karena Chris Rock juga tidak menuntut. Terlepas dari sengaja atau tidak, insiden ini tercatat dalam sejarah Oscar, memperkuat stereotipe orang kulit hitam di Amerika, dan berdampak buruk terhadap karir.

Di Oscar juga masih banyak hal lain  sih yang bisa jadi highlight, Samuel Jackson menang pertama kalinya dengan Honorary Oscar award. Itu orang berapa tahun bikin film ga menang-menang,  jadi kalo gue bilang selama ini kan kita kali ngomong “Leonardo Dicaprio kenapa gak menang menang atau Johny Depp ga menang menang?” Men, mereka tuh cowo -cowo yang keren kulit putih dengan privilege-privilege gitu, kenapa kita ga pernah kepikiran ya? Kenapa Samuel L. Jackson ga pernah menang gitu ya? Apakah mungkin karena penampilanya yang begitu-begitu aja? Tapi gua rasa juga enggak. Misalnya, buat gue A Time To Kill tuh salah satu penampilannya Samuel L. Jackson yang paling keren, gila banget tuh dia di situ  tuh mainnya. Walau nggak ada yang ngalahin trademark Mother Fucker dia… paling yang bisa ngalahin Al Pacino dengan “fuck fuck fuck” nya.

Jadi intinya dari Oscar kita bisa lihat bahwa festival film itu punya politiknya sendiri. Nah sama dimana-mana juga. Ada dua macam politik festival menurut gue. Pertama, festival yang dari awal dibentuk sebagai gerakan politik. Misalnya Clermont-Ferrand di Prancis. Festival itu dibuat dari awal untuk gerakan mahasiswa dan kebebasan ekspresi melawan rezim.

Festival Film Indonesia buat gue juga sama. Karena Indonesia sendiri negara hasil traktat politik, otomatis FFI juga punya kepentingan politik identitas. FFI dimulai dari jaman  Soekarno tapi  platformnya juga pelan-pelan berubah karena dia ngikutin politik luar negeri. Pernah sih FFI pro sama yang ‘Indonesia banget’, tapi ya hasilnya, dapetnya Aa Gatot. Dan itu sangat buruk buat Festival Film utama negara kita ini. Buat gue film di Indonesia itu  tentang hanya bisa maju dengan investasi luar negeri dan bersaing dalam industri film global.

Tapi ada juga festival film yang nggak politis dari awal, yang memang dibuat untuk ngumpul-ngumpul karena suka tongkrongan suka nonton film dan lama-lama jadi festival. Kalo mereka ga bubar-bubar, mereka akan punya struktur sendiri dan beregenarasi.

Jadi ketika lo memilih sebuah festival film, pastikan aja dia sudah bertahan cukup lama melewati banyak perubahan sosial politik. Kalo cuma setahun terus bubar dan nggak regenerasi ya dia gagal. Oscar pun sama ngikutin politik Amerika. Cuma ya ujung-ujungnya ada prinsip dasar yang dia pengen capai jadi film yang menang nggak semata-mata karena bagus tapi juga harus memperhitungkan sekuat apa endorsement Oscar terhadap film untuk bisa mengubah persepsi orang tentang kebudayaan gitu.

Jadi intinya kalo kita ngomongin Festival film ada yang politis ada yang organik awalnya, tapi setelah tahun ke 5 dia akan jadi sangat politis. Artinya dia punya sebentuk endorse dalam film yang dimenangkan.  Masing-masing punya sendiri-sendiri ada yang LGBT, ada yang fokusnya ke  gender, ada yang fokus ke horor, ada yang fokusnya ke komunitas, ada juga yang fokusnya ke pasar dan industri tapi industri juga harus ngikutin apa yang lagi ngetrend.

Sayangnya di Indonesia, festival film belom segitunya politiknya. Kayak, FFI menangin Penyalin Cahaya untuk mengendorse isu kekerasan seksual, harus kecewa ketika salah satu penulisnya kejebak kasus kekerasan seksual. Semua harus dibangun dan menjadi politis adalah hal penting buat sebuah festival, biar film jadi punya kegunaan yang jelas: mengubah peradaban!

Anthropology, Film, Kurasi/Kritik

Dunia Menyakiti Anak-anak: Anak-anak yang Disakiti dan Mati Di Kenyataan dan Film-film

Semua orang tua bersalah pada anaknya, dan setiap kesalahan akan membekas buat si anak dari kecil hingga ia dewasa. Orang tua yang baik adalah orang tua yang dapat mengevaluasi diri dan terus berusaha meminimalisir kesalahan terhadap anak. Tapi ketika kita bicara masalah parenting, kita tidak cuma bicara soal keluarga atau masalah individual, kita juga harus bicara tentang negara dan kebudayaan secara luas, tentang bahasa, dan juga tentang konsepsi pendidikan terhadap anak.

Hari ini kita sudah setuju soal buruknya konsep perpeloncoan atau kekerasan fisik dan verbal terhadap anak–walau banyak juga orang tua konservatif yang meneruskan lingkaran kekerasan itu, tapi kebanyakan orang tua terdidik yang punya akses ke internet sudah tidak begitu lagi. Namun kita tidak bicara soal tempat-tempat yang jauh dari pusat informasi. Kita tidak bicara dalam konteks kampung kota, kampung, atau desa. Kita sulit melihat seperti apa informasi utama yang ada di lapangan, apalagi soal kekerasan terhadap anak. 

Sebagai seorang penonton film, filmmaker, dan peneliti saya selalu tertarik dengan film-film kejahatan, dan beberapa tahun terakhir saya menonton beberapa film soal kekerasan anak terkini. Banyak sekali film yang mengangkat hal ini, dan setiap film, diskusi, dan aktivisme dapat membantu membuat dunia lebih baik untuk anak-anak dan masa depan negara kita. Ini adalah beberapa contohnya.

The Trials of Gabriel Fernandez, seperti judulnya, bercerita tentang persidangan orang tua Gabriel (ibu dan ayah tirinya) yang menyiksa Gabriel sampai meninggal. Settingnya di California, dan dari persidangannya terbukalah sebuah ketidakbecusan departemen sosial di Amerika Serikat, yang telah berkali-kali menerima laporan soal Gabriel yang sudah luka-luka, namun selalu mandeg di birokrasi sampai anak itu meninggal. Parahnya departemen sosial ini seperti dijawab oleh serial dari belahan dunia lain, The Chestnut Man

Setting The Chestnut Man ada di Denmark dan perbatasan dengan Jerman. Ceritanya soal seorang pembunuh berantai sadis yang modus operandinya (1) melaporkan orang tua anak yang ditelantarkan ke Departemen Sosial, dan (2) jika tidak digubris, maka orang tua anak itu akan dibunuh dan anggota tubuhnya dimutilasi, serta dibuat seperti chestnut man (mainan orang-orangan dari kulit kacang kastanyet.)

Yang paling menarik adalah, salah satu tokoh kunci yang membuat seluruh pembunuhan ini mungkin adalah seorang perempuan yang menjabat sebagai Menteri Sosial di Denmark. Film ini secara harfiah menyalahkan dan membawa struktur besar negara, sebagai penyebab utama kenapa kejadian ini berlangsung, dan pelakunya sudah pasti dan jadi bukan spoiler, adalah korban kekerasan anak ketika ia masih kecil. Plot yang sama seperti Pintu Terlarangnya Joko Anwar. 

Di Indonesia sendiri, laporan kasus kekerasan terhadap anak terus meningkat tahun demi tahun. Kompas melansir bahwa tahun ada kenaikan dari 11.057 kasus di tahun 2019 menjadi 14.517 kasus di tahun 2021 (Kompas.com, 20 Januari 2021). Ini juga disebabkan institusi kepolisian yang lebih sibuk menjaga nama daripada bekerja menyelesaikan kasus, seperti laporan mendalam yang ditulis project Multatuli Tanggal 6 Oktober 2021. Dalam artikel berjudul “Tiga Anak Saya Diperkosa, Saya Lapor Polisi. Polisi Menghentikan Penyelidikan.” Tiga anak ibu Lydia (nama samaran) itu diperkosa oleh mantan suaminya. Si ibu lapor ke dinas sosial dan polisi, yang justru mempertemukan anak-anaknya dengan si pelaku. Semua tambah runyam karena polisi dan dinas sosial sama sekali tidak mengerti bagaimana caranya menangani sebuah kasus kekerasan seksual kepada anak. Akal sehat saja mereka tidak punya. 

Memang, belum tentu anak-anak yang dilecehkan ini akan jadi penjahat, atau akan melecehkan orang lain. Tapi yang pasti traumanya akan keras, mereka akan memiliki hidup yang sulit, disabilitas psikososial. Ini masalah besar yang pemecahannya hanya bisa dengan kebijakan-kebijakan yang jalan beriringan dari banyak arah: secara undang-undang, hukuman harus diperberat; laporan harus dipermudah; dan yang paling penting, mengakui kesalahan dan aparat serta penjabat publik semua harus dididik ulang soal pelecehan seksual, kekerasan terhadap anak, dan bagaimana cara menangani korban. SOP harus sangat jelas. 

Satu kasus lagi yang menyeramkan adalah seorang ibu yang menggorok anaknya. Ini kejadian yang sudah terjadi berkali-kali terhadap ibu yang stres. Dalam film kita bisa melihatnya di film The Others besutan Alejandro Amenabar. Di situ kita melihat tokoh ibu yang dimainkan Nicole Kidman yang membunuh anak-anaknya karena stres trauma perang.

Di kejadian nyata, pembunuhan anak oleh orang tua selalu terjadi karena masalah struktural (ekonomi, ideologi politik dan perang.) Hitler dan pengikutnya pun membunuh anak-anak mereka karena kalah perang, atau bunuh diri masal di Jonestown, atau bom bunuh diri anak, karena agama dan ketidakpuasan politik-ekonomi.

Dari sini kesimpulan utamanya adalah: tidak ada orang tua waras yang membunuh anak-anaknya karena motivasi pribadi. Semua karena motivasi struktural bahwa dunia yang mereka hidupi memang tidak mendukung anak-anak untuk tumbuh berkembang. Jadi terngiang kata-kata eksistensialis Soe Hok Gie: Yang paling beruntung adalah yang tidak dilahirkan, yang beruntung kedua adalah yang mati muda, dan yang paling sial adalah mati tua—karena kehidupan dalam masyakarat yang sakit akan berkutat pada penderitaan.

Masa depan kita suram dengan banyaknya anak-anak yang dilecehkan seperti ini, perjuangan tetap kenceng, rekomendasi, petisi terus berjalan walau gaungnya seringkali kalah dengan isu-isu lain. Yang kita bisa lakukan hari ini adalah mendidik dan menyebarkan informasi yang objektif, saintifik, dan bertindak tegas ketika kita melihat kekerasan seksual, apalagi terhadap anak. Ketegasan dimulai dari hukuman sosial hingga legal. Dan kalau legalnya tidak kuat, kita bisa memakai media untuk berkoar, ajak wartawan, blogger, tweeps, semua untuk marah dan mengkoreksi, memberikan tekanan penting terhadap kebudayaan dan negara kita. Komnas Perempuan juga meluncurkan catatan tahunan yang penting buat kita lihat sebagai salah satu cara mengawal agar jaminan hukum dan sosial bisa berjalan dengan baik di negeri kita, untuk mencegah Trials of Gabriel Fernandez atau pembunuhan The Chestnut Man di Indonesia. 

Film, Kurasi/Kritik

Eternals dan Matinya Mitologi Tuhan

Kebanyakan orang beragama pasti spanneng, kalau Tuhan dibilang mitos, apalagi dongeng. Rocky Gerung pernah kena batunya waktu dia bilang agama adalah fiksi. Tapi yah, kita mau bilang apa sama kebebalan spesies kita? Yang bikin kita jadi manusia toh ternyata bukan akal, bukan logika, tapi dongeng apa yang mau kita percaya.

Kita sudah menemukan hal-hal paling mutakhir: tulisan, metode pengumpulan data, perekam data. Dan data ini terus kita olah menjadi peradaban kita. Tapi data tidak ada gunanya tanpa cerita. Cerita adalah manual kita, semacam petunjuk arah bagaimana kita mau memaknai sebuah data. Data tentang hidup kita, misalnya, cuma bisa relevan kalau kita bagun dalam sebuah cerita.

Kisah-kisah superhero, tidak jauh beda dengan kisah-kisah di kitab suci. Bedanya cuma institusi yang menghasilkannya. Institusi produksi film atau sastra akan dengan gampang mengakui bahwa mereka adalah pabrik imajinasi. Sementara institusi agama akan selalu bilang mereka memegang yang lebih nyata dari yang nyata (baca: akhirat). Tapi orang songong, atheist yang solat, seperti saya akan bilang bahwa memang Tuhan, Dewa-dewa, Setan, Akhirat, Agama-agama, semuanya sama saja dengan dongeng. Mitos. Imajinasi. Semua itu bukan kenyataan tapi jadi pegangan kita dalam menghadapi dan membentuk kenyataan.

Pembicaraan filsafat panjang ini penting saya paparkan ketika bicara soal Film Eternals Marvel-Disney. Ini termasuk film dengan naratif paling songong. Avengers dan Thanos, Dr. Strange, Thor, itu udah bener-bener songong kan. Bayangin aja ada Tuhan bawa-bawa palu, kalah lagi sama Hulk–makhluk yang diciptakan sains. Malu. Untungnya orang Norwegia dan Viking yang beberapa masih menganut agama lama gak sensian kayak orang Islam yang dengan gampang gasih fatwa mati. Mungkin itu juga penganut agama Viking sudah beragama buat gaya-gayaan aja. Toh, negara merka udah jadi salah satu negara termaju di dunia.

Jadi Marvel ini memang segerombolan komikus yang paling songong, bikin dan make imajinasi Tuhan dan mitologi orang dengan semena-mena. Jadi inget buku The American Gods-nya Neil Gaiman, yang ngumpulin seluruh Tuhan-tuhan kuno di Amerika sebagai simbol imigran. Di buku itu nggak ada Allah (adanya Jin) , dan itu membuktikan keberhasilan fatwa mati orang Islam terhadap Salman Rushdie atau Ki Panji Kusmin, yang bikin gak ada penulis mainstream yang akan berani buat “menghina Islam”.

Eternals songong karena mereka bikin plot multidimensional, ketuhanan, dan Paralel Universe Marvel jadi tambah keos. Plus, dunia mereka berkelindan sama Avengers dan X-Men. Gile, Marvel nih udah kayak 72 aliran Islam. Plus mereka udah jelas plagiat beberpa superhero DC, lalu dengan bebasnya ngasih reference bahwa Ikaris adalah Superman. Mungkin udah tahu kali ya kalo Ikaris emang referencenya Superman, makanya daripada dibilang plagiat mendingan hajar bae ngaku itu tribute.

Kelindan, claim, dan tinggi-tinggian superhero itu bukan hal baru. Waktu Sunan Kalijaga bikin wayang, dia pake cerita Hindu dan dewa-dewa Hindu dari Ramayana dan Mahabarata. Bedanya, dan ini yang keren banget dari pembajakan agama Hindu untuk dakwah Islam, sang Sunan ngasih Gusti Allah sebagai dewa tertinggi, dan Punakawan (manusia biasa) sebagai tokoh bijaknya. Resmi tuh agama dibajak untuk dakwah agama lain. Keren. Dan ga ada yang ngamuk saat itu, kerena cerita wayang seseru cerita superhero yang sekarang sering kita tonton.

Menarik melihat Sapiens mengkategorikan agama dan cerita yang mirip agamanya tapi bukan agamanya. Double standard dan paradoxnya ga nahan juga: bahwa agama terinstitusi lebih bisa dipercaya daripada superhero. Kebayang nggak sih kalo dimasa depan, semua superhero ini menggantikan Tuhan kita hari ini, kagak bagaimana Tuhan kita hari ini menggantikan dewa-dewa dan mitologi nenek moyang kita?

Kebayang dong, tapi pasti banyak orang akan deny. Nggak ada yang mau Terima bahwa Tuhan itu jahat. Tapi Tuhannya Eternal, jahat. Ini ancurnya logika film ini. Tuhannya Eternal jahat padahal dia cuma force of nature. Semua juga pada akhirnya akan meledak atau beku. Lucunya Tuhannya Eternals malah kasih kesempatan kedua pasca kiamat, seakan Tuhan bisa dipetisi dewa-dewa atau para malaikatnya. Kalau dibandingkan sama agama semit, Tuhan akan menjadikan malaikat yang mengritiknya jadi setan dan membuangnya ke neraka.

Sudahlah. Mereka perlu itu buat bikin cerita yang manusiawi. Dewa-dewa abadi yang hidup disekitar kita, ama-lama jadi kita. Gitu kali maksudnya. Kasihan amat. Mental tuh dewa-dewa abadi yah. Yang jelas dari jaman Yunani kuno, Dewa-dewa emang udah galau aja sih, mau jadi kayak manusia yang rendah hati, atau kayak manusia yang sombong. Ini membuktikan mitologi Tuhan atau Dewa dengan karakteristik manusia masih laku aja.

Gue rasa percuma ngomongin akting atau aspek teknis di film ini. Apalagi CGI nya banyak banget, udah lah ya. Tapi menarik sih melihat Hollywood dan obsesinya terhadap dewa-dewa dan agama tua. Dari Clash of Titans sampe Gods of Egypt, Hollywood suka banget bawa-bawa nama Tuhan. Well mungkin ini tradisi reinassance Eropa, yang dengan songongnya melukis Yesus dengan kulit putih. Padahal Yesus dalam bukti sejarahnya harusnya Yahudi berkulit gelap.

Klaim-klaim semacam ini bukanlah sebuah hal baru. Mereka yang menguasai seni dan media bisa membuat berbagai macam klaim. Karenanya semakin bebas sebuah media seni, semakin tidak berharga pula klaim-klaim itu. Klaim cuma bisa bekerja dalam sebuah sistem buku rekam seperti hari ini kita punya blockchain. Tanpa ada sistem rekam , maka klaim tidak berharga karena tidak bisa diverifikasi–begitupun Tuhan. Tanpa ada instutusi Agama maka Tuhan tidak bisa diferifikasi sebagai sebuah kode yang menyatukan banyak orang di dalam lindungan (agama)-Nya.

Kembali pada The Eternals, satu hal yang penting dari franchise film ini adalah bagaimana kaum abadi ini merangkum peradaban besar manusia, dan mengklaim diri mereka sebagai bagian dari sejarah peradaban manusia. Dan kesiumpulannya, seperti banyak film superhero hari ini, bukan tidak mungkin di masa depan, superhero hari ini adalah Tuhan di masa depan.


Website ini jalan dengan donasi. Kalau kamu suka yang kamu baca, kamu bisa bantu sang penulis untuk bisa tetap punya blog yang proper dengan mentraktir dia kopi dengan menekan tombol ini: