Film, Kurasi/Kritik, Uncategorized

Watchtower of Turkey

Something good need to be share.

Directed and edited by Leonardo Dalessandri
Music: “Experience” by Ludovico Einaudi – facebook.com/ludovicoeinaudi

Voice off: Meryem Aboulouafa.

You can follow her on soundcloud in the following link: soundcloud.com/meryemaboulouafa

 

Film, Kurasi/Kritik, terjemahan

Surat Albert Camus kepada Gurunya, dibacakan oleh Benedict Cumberbatch

Yang terhormat, Pak Germain,

Saya membiarkan keributan di sekitar saya hari ini mereda sedikit sebelum berbicara kepada Anda dari lubuk hati saya. Saya baru saja diberikan suatu kehormatan yang terlalu besar, yang saya tidak cari atau minta.

Tapi ketika saya mendengar kabar itu, pikiran saya tertuju, setelah pada ibu saya, adalah pada Anda. Tanpa Anda, tanpa tangan sayang Anda diperpanjang untuk anak miskin kecil seperti saya, tanpa pengajaran dan contoh Anda, tak satu pun dari semua ini akan terjadi.

Saya tidak punya banyak kehormatan semacam ini. Tapi setidaknya ini memberi saya kesempatan untuk memberitahu Anda apa yang Anda telah dan masih lakukan pada saya, dan untuk meyakinkan Anda bahwa usaha Anda, pekerjaan Anda, dan kemurahan hati Anda yang Anda berikan masih tinggal di salah satu murid kecil Anda yang, meskipun sudah bertahun-tahun, tidak pernah berhenti bersyukur pernah menjadi murid Anda. Saya menghormati Anda dengan sepenuh hati.

Albert Camus

Film, Film/Video, Kurasi/Kritik, Portfolio, Workshop

Memperkenalkan Film Pertama MondiBlanc Film Workshop: Santri Santri Silat

sss2rm
Poster oleh Rizqi Mosmarth

Berawal dari kesibukan super hectic pasca pulang dari US, serta berbekal rasa kesal karena nggak sempet lagi berteater malam-malam, dan band Wonderbra yang tak kunjung berkumpul untuk latihan, saya mengajak beberapa kawan dan junior untuk kongkow bareng di akhir pekan dan membuat video-video iseng.

Setelah dua film improvisasi dan tiga episode tutorial teater, Agung Setiawan, asisten dosen di departemen Filsafat UI, mengajukan ide cerita yang sangat menarik untuk menjadi sketsa sederhana–ide cerita yang membuat saya merasa sayang bahwa filmnya hanya akan jadi sketsa dan tidak digarap terlalu serius. Maka saya mengajak seorang kawan, DoP Koda Aksomo, untuk membantu pembuatan film horror berjudul “Perempuan, Wanita dan Belenggu di Antara Mereka.” Saya sendiri menyutradarai film ini. Film ini masih dalam tahap post-produksi dan membutuhkan kerja yang cukup panjang–apalagi dilakukan oleh para relawan yang sehari-harinya sudah sangat sibuk.

Di tengah-tengah penantian penyelesaian film tersebut, kawan kami Maftuh Ihsan, wartawan salah satu media bisnis, mengajukan sebuah ide untuk membuat film silat. Sebagai wartawan dan orang teater yang sama sekali belum pernah bersentuhan dengan dunia film (seperti kebanyakan anak-anak di workshop tersebut), Maftuh mengajukan sebuah naskah yang sangat teatrikal dan tidak mungkin untuk diproduksi jadi film pendek–terlalu banyak dialog dan plot yang ngejelimet.

Namun keberadaan Noer Faryza Sani dan Rasikh Fuadi yang memang bisa silat, dan Kevin Darius yang menjadi penata gerak, membuat kami sangat bersemangat untuk membuat ceritanya jadi mungkin untuk diproduksi. Akhirnya setelah brainstorming dan diskusi berhari-hari, suatu pagi buta lahirlah naskah film pendek yang diberi judul “Santri-Santri Silat”–judul yang diberikan oleh celotehan Rifqi “Ogi” Hasfi, editor di workshop kami yang sedang sibuk menggarap post-produksi film Perempuan, Wanita dan Belenggu di Antara Mereka. 

Sebagai sebuah workshop, saya dan Mike Julius bertindak sebagai kameramen (belum pantas menyebut kami DoP di film ini karena kami pun terlalu sibuk untuk bisa mengikuti praproduksi film ini secara pantas–haha). Saya sendiri memproduseri dengan membuat desain produksinya. Saya dan Mike berusaha menjaga aura belajar di workshop ini, dan berusaha memberikan ruang bagi setiap orang untuk membuat terobosan yang tak terduga termasuk juga kesalahan-kesalahan awam. Kami juga menahan segala ego kami tentang apa yang harusnya ada dan tidak ada dalam sebuah produksi film. Saya dan Mike berusaha untuk menjaga standar dasar dari film ini, minimal storyline dan penyampaian harus jelas–namun permasalahan teknis seperti banyaknya shot yang harus diambil serta konsep sinematografinya kami coba buat sesederhana mungkin yang bisa diikuti non-profesional.

Di tengah-tengah kesibukannya, musisi Avrila Bayu Santoso meluangkan 8 jam waktunya untuk membuat scoring (3 jam) dan sound effect (foley) (5 jam). Film ini dikerjakan cukup terburu-buru, dengan tiga kali latihan fighting, seminggu editing, dan 8 jam scoring, karena keinginan MondiBlanc untuk mengikutkannya ke dalam sebuah lomba. Saya pikir, hitung-hitung film pertama, tak apalah dicoba-coba. Banyak hal yang tidak bisa diperbaiki di Post-pro yang singkat; bahkan ada beberapa shot yang menurut saya harus disyuting ulang jika ada dana dan waktu yang cukup untuk semua orang. Tapi itu masalah belakangan. Jangankan post produksi, aktor kami saja belum sembuh benar dari luka-luka produksi ketika film ini selesai.

Ya, syuting satu hari menghasilkan banyak luka-luka. Aktor Rasikh Fuadi mengalami gegar otak setelah 12 kali take shot ia dibanting. Aktris Noer Faryza sempat lumpuh tak bisa jalan seharian setelah syuting karena banyaknya luka-luka akibat beradu tendangan. Kami belajar begitu banyak dari produksi film ini, dan benar kata Jackie Chan: yang diperlukan dalam sebuah film bela diri bukan masalah skill, tapi masalah kesabaran, waktu dan uang. Untuk satu shot, Jackie bisa menghabiskan 120 take, agar ia mendapatkan aksi yang ia inginkan,”Karena penonton tak mau tahu masalah produksimu, begitu film dirilis, ia akan selama-lamanya menjadi catatan sejarah.”

Apapun hasilnya film ini, inilah hasil kerja keras dalam waktu yang singkat. Saya pribadi tidak menyesal sama sekali melewati semuanya bersama MondiBlanc. Nantinya, waktu dan jam terbang toh akan meningkatkan kualitas film mereka ke depannya; juga kualitas saya sebagai pengajar–sejauh ini saya merasa masih sangat bodoh. Yaah, sepuluh film lagi laah.

Maka dengan ini saya persembahkan film keempat MondiBlanc, namun yang pertama kali kami rilis di Youtube, “Santri-Santri Silat.”

Selamat menikmati dan jangan lupa untuk dukung kami dengan subscribe, like dan comment di akun Youtubenya.

 

 

English, Film, Kurasi/Kritik, Uncategorized, Workshop

The Young & Stupid Stanley Kubrick and Me

Weeks ago, I found this short documentary on Stanley Kubrick by Jim Casey, Kubrick: The Lost Tape, and it made me eager to make films again. My last (and second) film, Stalkers, haven’t been screened or distribute for many reasons–one of them is because I don’t have time, money, and enough skill to craft it yet. And being a producer and director was really hard especially if you were going abroad without having the time to edit the film or distributed it properly. Having a producer that was not yourself helped a lot. My first short, Mother Earth, produced by Tito Imanda, for me wasn’t really satisfying in terms of production and direction. But having Tito there made the film a lot more available to a specific public, more valuable and worth-watching somehow–in academic context. On the contrary, Stalkers cost me and some people quite a lot so I almost gave up trying to dream of another film of mine before this one is properly re-edited and distributed.

But watching this documentary made me realized a lot of things. One of them is my collection of short stories and scattered ideas. I heard Kubrick voice in my head, and I was surprise that his voice is just like an ordinary nerd, and he seemed like a fun guy to work with. He never hesitated to say that his films were awful or horrible. He did not stop, and he learn a lot.

Kubrick started his career as a photographer, then an assistant professional photographer, then an amateur documentary filmmaker, then a feature filmmaker and most of his early works sucks. He admitted that he hated reading until he graduate from college, and he needed to catch up intellectually to match his cinematography and his references. He learned film productions by making a lot of stupid mistakes. And that is exactly what I am doing today. Of course I’m in my thirties, kind of a little late. But Yasmin Ahmad, the famous Malaysian director, made her first feature in her 40’s, which is nice.

Well, without further ado, enjoy this short documentary. I’m gonna finish another story of mine about an A.I. thief who run to Kansas, then have walk outside to make some video diary. If Kubrick has a lot of reading to catch when he was my age, I got a lot of shooting to catch. My sense of space and geometric really sucks. I need to learn simple cinematography, before I can hire a real cinematographer.