Alam, Cinta, Eksistensialisme, Perlawanan, Puisi, Uncategorized

Tamu

by Adrianne Claudia

takdir datang tak ketuk pintu. barangkali ia lupa tata krama yang santun ketika bertamu. tak ada salam yang kita dengar dari dapur, atau tanda-tanda kabar ketika pamit keluar.

takdir datang tak ketuk pintu. barangkali kita lupa jadi tuan rumah yang menerima, menjamu tamu sekali waktu. tak ada rencana yang bisa kita baca di surat kabar, atau suratan yang mampir di kotak pos.

sekali-kali musti kita mau siaga menengok dan menyiapkan ia masuk.

semoga kita selalu dikasih kekuatan.

00:38
20/01/2018

Ethnography, Musik, Perlawanan, Politik, Portfolio, Puisi

Causa Libre

Lirik oleh: Rhino Ariefiansyah

Niplivrata lugens
Arthropoda penghisap amino
Tanaman padi kering kerontang
Hamparan mati hopperburn

Niplivrata lugens
Causa libre homo sapiens
Perang data wibawa presiden
Petani menggelepar terjerat hutang

Niplivrata lugens
Causa libre homo sapiens
Militer turun ke sawah
Todong senjata buat tengkulak

Niplivrata lugens
Arthropod causa libre

Niplivrata lugens
Antropogenic catastrophes

Niplivrata lugens

Musik, Perlawanan, Politik, Portfolio, Puisi, Racauan

Kami/Kota

 

Lingkaran kami kecil
lingkaran kami sebatas sahabat dan saudara

Lingkaran kami kecil
lingkaran kami sejauh hutan rimba yang kau tebas menjadi

Reff
Uang kota menggeliat
kota menjadi kanker di tubuh kami
ruang kelas mencerabut
kelas mengasingkan nenek moyang kami

Orang kota menjelajah
kota menjajah tanah dan tubuh kami
sekat kelas meminggirkan
kelas menyingkirkan keberadaan kami

Lingkaran kami kecil
lingkaran kami setitik buih di laut luas

Lingkaran kami kecil
lingkaran kami seredup lentera nelayan yang melaut malam

Lampu kota menyilaukan
kota mengaburkan bintang arah kami
pulau palsu menjejalkan
palsu menjejal kami di ruang sempit

orang kota menduduki
kota menduduki hak asasi kami
ruang kota memberangus
kota memberanggus kampung-kampung kami

Eksistensialisme, Perlawanan, Puisi

GODOT

Semua nabi-nabi telah datang membawa wahyuNya
Kitab-kitab suci telah disebar bersama ulama
Biksu dan pendeta menggumamkan doa-doa
namun yang dinanti tidak juga pernah tiba

Kita membunuhnya
kita membunuhnya

Tak pernah ada lagi yang mengaku mendengar wahyuNya
Bicara pada Tuhan itu waras, mendengarNya gila
untuk berkuasa bicaralah di atas namaNya
Ia maha besar maha rapuh selalu dibela

Kita membunuhnya
kita membunuhnya

dengan mengarang kata-kata
demi harta dan kuasa
untuk mewujudkan surga
di dunia fana

dengan mengumbar doa-doa
mengutuki yang berbeda
untuk panaskan neraka
demi golongannya

Akal dimatikan untuk menghidupkan iman
Iman tanpa ilmu memakan kemanusiaan
Ikut kata Imam yang gumamkan kebencian
Tunduk pada tafsir tanpa pernah memikirkan

Kita membunuhnya
kita membunuhnya