Musik, Perlawanan, Politik, Portfolio, Puisi, Racauan

Kami/Kota

 

Lingkaran kami kecil
lingkaran kami sebatas sahabat dan saudara

Lingkaran kami kecil
lingkaran kami sejauh hutan rimba yang kau tebas menjadi

Reff
Uang kota menggeliat
kota menjadi kanker di tubuh kami
ruang kelas mencerabut
kelas mengasingkan nenek moyang kami

Orang kota menjelajah
kota menjajah tanah dan tubuh kami
sekat kelas meminggirkan
kelas menyingkirkan keberadaan kami

Lingkaran kami kecil
lingkaran kami setitik buih di laut luas

Lingkaran kami kecil
lingkaran kami seredup lentera nelayan yang melaut malam

Lampu kota menyilaukan
kota mengaburkan bintang arah kami
pulau palsu menjejalkan
palsu menjejal kami di ruang sempit

orang kota menduduki
kota menduduki hak asasi kami
ruang kota memberangus
kota memberanggus kampung-kampung kami

Eksistensialisme, Perlawanan, Puisi

GODOT

Semua nabi-nabi telah datang membawa wahyuNya
Kitab-kitab suci telah disebar bersama ulama
Biksu dan pendeta menggumamkan doa-doa
namun yang dinanti tidak juga pernah tiba

Kita membunuhnya
kita membunuhnya

Tak pernah ada lagi yang mengaku mendengar wahyuNya
Bicara pada Tuhan itu waras, mendengarNya gila
untuk berkuasa bicaralah di atas namaNya
Ia maha besar maha rapuh selalu dibela

Kita membunuhnya
kita membunuhnya

dengan mengarang kata-kata
demi harta dan kuasa
untuk mewujudkan surga
di dunia fana

dengan mengumbar doa-doa
mengutuki yang berbeda
untuk panaskan neraka
demi golongannya

Akal dimatikan untuk menghidupkan iman
Iman tanpa ilmu memakan kemanusiaan
Ikut kata Imam yang gumamkan kebencian
Tunduk pada tafsir tanpa pernah memikirkan

Kita membunuhnya
kita membunuhnya

Eksistensialisme, Ethnography, Perlawanan, Politik, Puisi, Racauan

3329

Kau anggap tak berdaya
tuk berkuasa
kami tak paham kata
kau telah rampas semua

Kami tak punya peta
namun tidak buta
kau pancang tanah mulia
kau telah rampas semua

O, kebebasan
kau paksakan
kau jejalkan

Kau datang bagai Nabi
mengaku suci
tapi engkau pencuri
kau telah rampas semua

Tradisi harus mati
demi rezeki
kau didik anak kami
tuk ikut rampas semua

O, kebebasan
kau paksakan
kebablasan

Negara punya semua penguasa
Agama harus Tuhan yang esa
Negara punya semua penguasa
Agama harus Tuhantuhantu

manokwari

Cinta, Eksistensialisme, Perlawanan, Puisi, Uncategorized

Membunuh Jim Morrison

 

tumblr_nie31ptuzs1u3m9fwo1_500

Siapa yang membuat dia terus berdansa? Siapa Homer yang menulisnya dan menempatkannya di antara dewa-dewa? Siapa yang mengumpulkan kutipan-kutipan dan membuatnya menjadi berharga? Menjadi ideal? Menjadi idola?

Apakah para sahabat yang menghargainya? Apa perempuan-perempuan yang menempatkan kelaminnya di kelamin mereka –melaluinya atau melalui imajinasi masturbasi semata? Apakah para pengusaha korporat yang mencari uang? Ataukah semua orang yang ingin romantika masalalu?

Apakah kau? Apakah aku?

Ia diabadikan melalui surat-surat. Kertas-kertas. Puisi-puisi. Siapa yang memilihnya?

Kematian meninggalkan artefak. Artefak diabadikan. Apapun yang tertinggal. Kulit menjadi jubah, Gigi menjadi kalung, Gading menjadi tombak.

 

Kata-kata menjadi doa.

Nekromaniak!

Kalian semua memakan mayat!

Kalian semua memakan mayat!

 

Margonda, 2008.