Filsafat, Memoir, Politik, Racauan

Phronemophobia Indonesia (Reprised)

Tulisan ini direupload dan direvisi sedikit dari versi tahun 2016. Saya upload ulang karena masih relevan dengan kondisi hari ini.

Trigger warning, adalah tanda bahwa sebuah teks akan memicu pikiran-pikiran yang tidak diinginkan. Ini penting untuk mencegah trauma orang kumat. Tapi ada masalah besar kalau kebanyakan hal jadi trigger untuk pusing, stress, depresi, gila, khilaf. Lihat paha cewek langsung ingin merkosa, misalnya. Lihat duit langsung ingin ditilep, dengar Komunis langsung benci, dengar vaksin langsung bilang babi. Pada lahirnya dia jadi takut berpikir lebih jauh karena takut emosi, takut tersesat, dan takut berubah. Ini kita sebut Phronemophobia.

Phronemophobia adalah ketakutan untuk berpikir. Tulisan ini akan memaparkan pengamatan saya tentang hal-hal yang seringkali takut dipikirkan orang Indonesia di sekitar saya–yaitu kaum kelas menengah kota dan para pengambil kebijakan. Saya punya hipotesa mentah (artinya butuh penelitian lebih lanjut), bahwa akar kebijakan yang stereoptipikal dan kekerasan baik verbal ataupun fisik dalam dunia sosial masyarakat Indonesia adalah karena banyak orang yang terjangkit Phronemophobia.

Penyakit ini hadir karena kombinasi dua hal yang paling krusial dalam masyarakat Indonesia: Agama dan Kapitalisme. Phobia, seperti psikosis lain, adalah penyakit, karena ia menghalangi orang untuk bekerja dan menggunakan otaknya dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. Dan seperti banyak psikosis juga, ini sulit disembuhkan kecuali dengan kontrol dari si penyakitan itu sendiri terhadap egonya. Bisa jadi, penyakit ini ia bawa sampai mati.

Mungkin banyak yang heran, bagaimana seseorang bisa takut berpikir? Dalam kadar tertentu, setiap orang punya ketakutan untuk memikirkan sesuatu. Terlalu banyak berpikir bisa membuat kita depresi, bahkan sakit jiwa. Kita punya mekanisme pertahanan untuk memikirkan hanya hal-hal yang perlu kita pikirkan dan menolak hal-hal yang kita takut akan menyesatkan kita. Asal ketakutan berpikir ini adalah sosialisasi semenjak balita tentang apa yang boleh dan tidak boleh kita pikirkan yang membentuk logika dan sekat-sekat di dalam pikiran kita. Membuat sebuah trauma tersendiri dan membentuk rasa takut dan anti pada pengetahuan-pengetahuan baru.

Untuk menjelaskan secara sederhana kenapa orang takut berpikir, saya harus menjelaskan soal pikiran dan pemetaanya terlebih dahulu. Tapi cara termudahnya bisa saya ilustrasikan pada video berikut, soal belajar bersepeda. Jika semenjak kecil orang sudah belajar dan biasa dengan cara bersepeda dan koordinasinya, maka ketika ia diberikan sepeda yang stangnya terbalik (ke kiri adalah ke kanan dan ke kanan adalah ke kiri), orang tersebut akan kehilangan orientasi dan kehilangan kendali. Simak video berikut.

Bayangkan jika seorang yang sejak kecil dididik secara konservatif tiba-tiba harus membiasakan diri dengan setting dunia yang terbalik. Bayangkan juga bagaimana seseorang yang hidupnya biasanya hitam putih, tiba-tiba terjebak di dunia yang warna-warni. Betapa bingung dan betapa paniknya ia jadinya. Tesis saya sederhana: bahwasannya ketakutan untuk berpikir dihasilkan ketika pengetahuan yang disodorkan tidak bisa dimengerti. Saya bicara ini dalam konteks video di atas: bahwa pengetahuan tidak sama dengan pengertian. Pengetahuan cuma informasi, sedang pengertian membutuhkan proses pemikiran dan adaptasi. Seseorang yang tahu, belum tentu mengerti. Seseorang yang mengerti bukan hanya tahu, tapi juga bisa mengejawantahkan lebih jauh karena ia telah melibatkan lebih daripada otaknya–ia telah “menjadi.”

Saya akan membahas phronemophobia melalui dua hal: pertama dengan membahas topografi pikiran manusia melalui dasar-dasar teori Psikoanalis klasik. Kedua saya akan membahas bagaimana topografi ini bekerja untuk membuat sekat-sekat yang menghalangi pengetahuan untuk menjadi pengertian, melalui pemaparan kasar soal agama dan kapitalisme.

Tulisan ini adalah kulminasi pemikiran yang panjang dan muahal. Sebelum melanjutkan, kalian bisa bikin kopi dulu atau cari cemilan, dan traktir saya kopi dengan menekan tombol di bawah ini:


Topografi Pikiran

Pikiran, kata Plato, adalah hal yang paling ideal, paling sempurna. Dalam hal ini saya juga bisa bilang bahwa pikiran bisa jadi kecacatan yang paling sempurna pula. Semua mungkin di dalam alam pikiran. Dan kemungkinan-kemungkinan ini seringkali tidak logis, surreal, absurd dan kacau. Manusia diberi kemampuan untuk membuat struktur dan kategori-kategori agar tetap bisa waras. Ketika struktur dan ketegori-kategori itu sudah terbentuk, maka ada beberapa hal yang disingkirkan dan ditakutkan. Untuk memudahkan pemahaman ini kita bisa memakai topografi klasik Sigmund Freud soal pikiran, Freud membagi pikiran dalam dua topografi: vertikal dan horizontal.

Topografi Vertikal

Topografi Vertikal adalah sebuah tingkatan dari alam sadar, bawah sadar dan tak sadar. Alam sadar adalah tempat pikiran yang kita sadari ada. Ini kita pakai sehari-hari untuk bekerja dan berkomunikasi. Ketika kita melamun, lamunan kita adalah alam sadar kita.

Alam bawah sadar (subconscious/preconscious) adalah tempat memori kita dan khayalan-khayalan yang tidak kita pikirkan. Kita memakai alam bawah sadar ketika kita tidur atau bermimpi–yang bisa kita ingat (disebut mimpi manifes). Kita juga bisa mengaksesnya ketika kita ingin mengingat sesuatu. Jika kita umpamakan komputer, alam sadar adalah software yang kita gunakan untuk bekerja dan alam bawah sadar adalah harddisk tempat kita menyimpan data.

Sementara itu alam tak sadar adalah tempat hal-hal yang tidak bisa kita ingat sama sekali. Koma adalah keadaan tidak sadar. Mimpi-mimpi yang tidak bisa kita ingat (mimpi laten) adalah keadaan tidak sadar. Alam tak sadar adalah sebuah dimensi tanpa batas tempat hasrat-hasrat yang paling kita takutkan dipendam. Keberadaan alam tak sadar ini bisa dilihat ketika kita mengigau, atau dalam keadaan trans, atau ketika kita mengalami dejavu–merasa pernah ada di suatu tempat atau situasi tapi tidak jelas kenapa. Alam tak sadar menunjukkan dirinya dalam simbol-simbol di mimpi kita. Jika Anda pernah menonton film berjudul Inception, maka alam tak sadar adalah Limbo, dunia ide dan imajinasi tanpa batas, yang hanya bisa diakses dalam ketidaksadaran total, atau dengan hipnosis yang sangat kuat.

Topografi Horizontal

Jika topografi vertikal adalah ruang-ruang  di dalam pikiran, maka topografi horizontal adalah penghubung antara pikiran dengan kenyataan, yaitu bagian pengambilan keputusan. Jika vertikal adalah legislatif, maka horizontal adalah eksekutif. Freud membaginya menjadi Id, Ego dan Superego. Id adalah hawa nafsu dan hasrat yang dekat hubungannya dengan bawah sadar dan tak sadar, ego pengambil keputusan atau diri di dunia nyata, dan superego adalah aturan-aturan yang membatasi ruang gerak ego dan id untuk menuruti hasratnya. Saya beri satu contoh. Misalnya seorang anak ingin mengambil kue di meja (Id). Ada ibunya yang melarangnya, “Jangan! Itu buat tamu!” (superego). Ego si anak tidak jadi mengambil kue itu karena ibunya melarangnya.

Namun, neo-psikoanalis seperti Lacan bilang bahwa Id dan Superego adalah sebuah paradox dalam tubuh yang sama. Id dan superego sebenarnya saudara kembar, dua sisi mata uang yang sama. Superego sebagai aturan yang mengekang hawa nafsu (Id) adalah hawa nafsu dalam bentuknya yang lain (sublime). Ego si anak yang tidak jadi mengambil kue karena nurut pada ibunya adalah untuk memuaskan nafsu yang lain, nafsu yang lebih dalam daripada nafsu makan kue. Inilah nafsu yang masuk di alam tak sadar: nafsu untuk menjadi menurut demi cinta dan pengakuan eksistensi dari si Ibu.

Contoh lain dari paradoks Id-Superego adalah ketika orang sangat-sangat galak dan strict dalam menuruti superego-nya. Zizek memberi contoh pada pemetaan rumah di film Psycho arahan Alfred Hitchcock. Ada tiga lantai di rumah psikopat Norman Bates. Lantai 3 adalah kamar ibunya, lantai 2 adalah losmen yang ia sewakan dan basement adalah tempat ia menyimpan mayat busuk ibunya yang sudah lama mati. Lantai 3 adalah superego di mana kita bisa mendengar teriakan-teriakan ibu Norman yang menyuruhnya ini itu, lantai 2 adalah ego, dan lantai satu adalah id: kenyataan dan hasrat sebenarnya dari Norman untuk mendapatkan pengakuan ibunya dengan…menjadi ibunya. Keinginan “menjadi” ini akan saya bahas di kesimpulan tulisan ini. Dengan kata lain, lantai 3 (superego) dan basement (Id) adalah ruang berbeda, tapi isinya sama: si Ibu yang mendikte.

Phronemophobia

Setelah mengenal pemetaan-pemetaan pikiran yang sederhana dari Freud, mari kita bahas bagaimana cara orang takut dengan pikirannya sendiri. Kewarasan seseorang ditentukan dari kemampuannya membuat struktur dan kategori-kategori di alam sadarnya. Semakin kacau struktur dan kategori-kategorinya, semakin orang mengalami disorientasi, kebingungan, dan kegilaan. Tanpa struktur dan kategori-kategori di alam sadar, orang tidak akan mengenal apapun, termasuk dirinya sendiri. Di situ kemanusiaannya akan raib karena yang membuat manusia menjadi manusia adalah kemampuannya untuk mengidentifikasi dirinya sendiri, egonya. Ia bisa melihat ke cermin dan mengenal dirinya sendiri–tidak seperti binatang atau bayi yang melihat ke cermin dan tidak mengenali objek yang ada di cermin.

Jadi yang harus dimengerti pertama-tama adalah: kategorisasi adalah syarat kewarasan dan represi pikiran adalah sesuatu hal yang wajar. Membebaskan seluruh pikiran atau merepresi seluruh pikiran adalah hal yang tidak mungkin dilakukan–keduanya berarti kegilaan. Lalu bagaimana dengan ketakutan untuk berpikir; bagaimana dengan Phronemophobia?

Ketakutan adalah sebuah mekanisme pertahanan diri. Ia diperlukan untuk menjaga kita agar tidak mati. Tapi phobia bukanlah ketakutan biasa. Phobia adalah ketakutan yang dibesar-besarkan, exaggerated. Maka ketika kita bicara soal Phronemophobia, kita bicara tentang ketakutan akan berpikir yang dibesar-besarkan dengan imajinasi hasil pengalaman traumatis sejak kecil. Sebenarnya kesakitan apa sih yang dimungkinkan dari berpikir? Ternyata banyak, dan sifatnya bukan hanya mental tetapi fisik–ini bekerja secara resiprokatif, dari fisik ke mental-mental ke fisik.

Sebelum saya kasih contoh, saya akan kasih dulu pola yang saya temukan dari ketakutan berpikir di banyak orang Indonesia yang saya kenal. Saya menemukan bahwa semakin sedikit referensi seseorang, maka ia semakin takut untuk berpikir karena berpikir ternyata perlu bentuk. Tanpa referensi, maka bentuk itu akan sangat abstrak, membingungkan dan sulit dipahami. Referensi ini bukan cuma didapat secara akademis, tapi sesuatu yang diketahui melalui observasi-partisipasi. Seorang petani yang tidak bisa baca tulis pun, tidak akan takut berpikir ketika ia punya rasa ingin tahu dan tidak takut mencoba-coba untuk menciptakan sesuatu dari kehidupannya sehari-hari: dari sekedar ritual panen, sampai persilangan bibit unggul yang sederhana.

Ketakutan ini dimulai ketika sejak kecil seorang anak mendapatkan hukuman ketika ia berpikir. Ini bukan hanya terjadi ketika anak dilarang berpikir, tapi bisa juga terjadi di masyarakat yang ‘memaksa’ seseorang untuk berpikir. Hukuman berpikir tidak hanya bisa dilakukan masyarakat, tapi juga bisa dilakukan diri sendiri–yang kedua ini efeknya akan lebih parah. Contoh pelarangan berpikir oleh masyarakat sudah banyak, karena sampai hari ini masih banyak dilakukan di institusi pendidikan di Indonesia, yang lebih banyak mendikte daripada menyuruh berpikir sendiri dan menstimulasi otak murid.

Contoh kedua, banyak terjadi di negara Eropa, misalnya pada anak-anak Eropa yang bergabung dengan ISIS agar mereka bisa mengontrol pikirannya. Pikiran yang tak terkontrol itu rasanya seperti tenggelam dalam lautan pengetahuan yang penuh argumen. Begitu banyak kata, tapi kekosongan di jiwa tidak bisa terjelaskan. Kekosongan yang dibentuk oleh hasrat (Id) yang tidak terlampiaskan. Ergo, berpikir=kesakitan. Rasa ingin tahu=kesesatan. Di sinilah Phronemophobia merusak tidak hanya secara mental tapi secara fisik: ketika ia jadi kompas hidup sehari-hari, diimani sebagai sesuatu yang “paling” riil seperti Agama.

Agama + Kapitalisme = Phronemophobia

Jika seseorang punya alat lain untuk melampiaskan kekosongan ini: bermusik, berkesenian, menulis, beribadah (dengan ritual) maka bisa jadi ia akan stabil. Tapi kebanyakan orang lebih memilih hal paling mudah dan paling instan untuk menjaga pikiran: Agama. Yang saya maksud agama di sini bukan sekedar islam, kristen, hindu, buddha, atau agama resmi lainnya. Agama yang saya maksud juga bukan cuma sekedar ibadah ritualnya, tapi jauh lebih luas dari itu.

Agama yang saya maksud mungkin bisa diilustrasikan Geertz, “(1) sebuah sistem simbol (2) yang bekerja untuk memberikan mood dan motivasi yang kuat, mendalam dan tahan lama (3) dengan memformulasikan konsepsi tentang aturan umum keberadaan dan (4) membungkus konsepsi ini dengan aura faktual yang (5) membuat mood dan motivasi terasa nyata.”

Tapi saya menolak membahas definisi Geertz ini secara antropologis untuk menjelaskan phronemophobia. Saya hendak membawanya ke psikoanalisis. Definisi Geertz ini tidak semata-mata menjelaskan soal agama-yang-kita-tahu sebagai institusi. Lebih jauh dari itu, jika definisi ini adalah sebuah syarat agama, maka prinsip industrial kapitalistik yang membuat seseorang jadi workaholik bisa masuk. Kapitalisme (modal, uang) adalah sebuah sistem simbol yang bisa memberikan mood dan motivasi untuk hidup sehari-hari. Hidup untuk bekerja. Ada formulasi konsepsi soal keberadaan seseorang sebagai mur industri ini,  dan ada aturan umum soal keberadaan seseorang di dunia kerja.

Dalam hal ini, Marx sudah mendahului Geertz untuk membuat sebuah tesis soal Agama sebagai candu yang membuat kapitalisme tetap bekerja. Namun saya, seperti Zizek, bisa membuat kesimpulan lebih jauh lagi. Kapitalisme, seperti agama, adalah ideologi. Dan Ideologi kebanyakan tidak disadari oleh pelakunya: seperti kebanyakan orang beragama merasa agamanya paling benar, kebanyakan orang konsumeris merasa ia butuh kerja untuk mengkonsumsi lebih karena ia butuh konsumsi lebih. Agamis seperti konsumeris, tidak bisa membedakan kebutuhan dengan keinginan. Kenapa saya jadi bicara agama dan konsumen, karena, ini punchline yang Anda tunggu-tunggu:

Phronemophobia akut akan diderita oleh seseorang yang hyper-relijius sekaligus hyper-konsumeris.

Jadi religius atau konsumeris saja tidak cukup untuk punya phobia berpikir. Anda harus jadi dua-duanya. Agama bisa menyelamatkan Anda dari konsumerisme. Dengan agama, Anda bisa menahan hawa nafsu Anda. Konsumerisme, sebaliknya, bisa menyelamatkan Anda dari dogma agama, karena pada praktiknya Anda harus kerja dan punya uang untuk hidup foya-foya–tidak melulu ibadah. Tapi siapa yang bisa menyelamatkan Anda, ketika Anda menjadi seorang konsumeris yang religius. Di sini, phobia terbesar Anda adalah berpikir. Anda tidak mau sama sekali berpikir soal apapun, Anda hanya ingin didikte untuk belanja dan mengkafir-kafirkan orang lain yang mengajak Anda berpikir.

Hyper-religius sama dengan hyper-konsumeris, dalam artian apa yang ia konsumsi tidak melulu barang. Konsumeris di sini berarti lebih luas daripada belanja barang dan tidak sama dengan materialistis. Konsumerisme yang saya maksud adalah ketidakmampuan untuk membedakan kebutuhan dengan keinginan, dan bentuknya yang paling mengerikan adalah ‘merasa membutuhkan dunia ideal dengan memaksa orang lain’. Di sini yang orang konsumsi habis-habisan adalah kuasa (power) dan untuk mengonsumsi itu, ayat dan hadist akan ia gunakan sebagai justifikasi. Hyper-religius-konsumeris ini sebenarnya tidak baru-baru amat. Ia sudah ada sejak zaman Indulgensi Katolik sampai zaman ESQ Khofifah: Tuhan doyan duit dan dengan itu maka agama bisa mempertahankan kuasa dan kelas. Dan bukan hanya orang religius saja, orang liberal-agnostik-atheis pun bisa jadi hyper-religius-konsumeris kalau dia haus kuasa pada yang tak sependapat dengannya dan sudah merasa pintar (hingga tak bisa belajar lagi)–lihat saja para dosen postivis zaman orba yang masih mengajar di kampus-kampus dan ngotot pendidikan harus linear.

Argumen tidak akan mempan. Anda sudah terlanjur percaya pada dogma agama dan doktrin kapitalisme, yang sesungguhnya berlawanan, paradoksal, oximoronik! Logika sudah tidak berjalan sama sekali, karena pikiran abstrak itu, yang Anda tidak mengerti, dijalankan mentah-mentah. Di sini, sebagai combo relijius-konsumeris, sebenarnya Anda sudah menderita psikotik! Phronemophobic! Turunan dari phobia ini banyak sekali dan biasanya melibatkan kata anti: anti-semit, anti-LGBT, anti-liberal, anti-komunis dan yang terbaru Antivaksin! … lanjutkanlah sendiri semua anti yang sudah terinstitusi dalam jargon-jargon politik udik dan ormas para-militerstik itu.

Di sini kita bisa kembali ke psikoanalisis Lacan-Zizek tadi. Seandainya agama adalah superego dan konsumerisme adalah Id, maka kegilaan dimulai ketika superego dan Id bercampur di ego yang sama. Ketika agama=konsumeris. Ketakutan utama Norman Bates, tokoh psikopat di film Psycho, adalah ketika ia berpikir soal seks dengan perempuan lain. Superegonya (dalam bentuk sang Ibu), melarang itu dengan menanamkan ketakutan-ketakutan di diri Norman soal perempuan: bahwa semua perempuan itu jahat, kecuali ibunya. Norman takut berpikir soal perempuan dan seks, maka satu-satunya cara untuk bisa hidup tenang adalah membunuh si perempuan. Norman anak baik, tidak boleh membunuh, maka ibunya yang membunuh si perempuan dengan cara ‘merasuki’ Norman. Seperti mereka yang membunuh atas nama Tuhan.

Sekarang bayangkan ketika orang gila seperti Norman Bates menduduki posisi-posisi penting di masyarakat. Inilah ketakutan khas zaman ini. Ketakutan yang membuat sebuah disparitas sosial dan kesenjangan yang lebih parah dari kesenjangan kelas. Kelas sosial yang berbeda bisa memiliki ketakutan yang sama akan pikiran. Karena itu, dalam banyak wacana publik, seringkali kita temukan opini yang sangat tidak logis dan mengancam Hak Asasi orang lain, yang dikemukakan oleh orang dengan pendidikan dan kuasa tinggi. Bukan hanya di negara berkembang seperti Indonesia, tapi juga di negara maju seperti Amerika Serikat. Tonton saja debat GOP akhir-akhir ini yang anti pada Islam, imigran dan homoseksual. Anda akan paham maksud saya.

Maka saya akan menyimpulkan dengan sebuah benang merah antara topografi klasik Freud, definisi agama Geertz, kritik Kapitalisme Marx, dan Ideologi Zizek. Superego hadir sebagai mekanisme pertahanan di pikiran manusia, ia dibentuk oleh agama dan ideologi semenjak balita dalam proses sosialisasi lingkungan-masyarakat. Lingkungan masyarakat yang cacat logika, akan melahirkan segolongan mayoritas yang cacat pikiran, yaitu mayoritas yang takut pada pikirannya sendiri. Maka berpihaklah pada kebaikan untuk menyembuhkan phobia ini di diri sendiri dan di masyarakat. Apa itu yang baik?

“Jadi berani adalah baik.” Kata Nietzsche.

***

Kalau kamu berhasil membaca sampai di sini, saya ucapkan selamat! Karena kamu pembaca akut! Website ini jalan dengan donasi, karena hostingnya mahal. Jadi kalau kamu belum traktir saya kopi, mungkin ini saatnya, biar saya punya motivasi dan nggak ngerasa sendirian. Hehehe… Klik tombol di bawah ini yaa…

Cinta, Filsafat, Memoir, Racauan

Diri dan Melankolia

Apa itu diri? Menurut filsuf Soren Kierkegaard, diri adalah relasi-relasi yang menghubungkan relasi satu ke relasi yang lain dalam kehidupan seseorang. Artinya, diri tidak pernah menjadi sesuatu yang tetap, tapi selalu berkembang dan berjejaring hingga seseorang itu mati dan dirinya tertinggal sebagai relasi-relasi di diri orang lain.

Pusing kan? Biar tidak jatuh, coba pegangan dulu. Nah, kamu baru saja membuat relasi dengan yang kamu pegang. Kalau kamu pegang nganu mu, maka itulah bagian dari dirimu. Dan relasi itu tidak bisa putus begitu saja, bahkan ketika nganu mu tidak lagi kamu pegang, kamu ingat rasanya, walau kadang lupa namanya.

Maka mari bicara soal relasi-relasi yang putus di kontrak sosial tapi tetap ada di dalam diri. Sesungguhnya inilah relasi terberat yang tak pernah pergi, dari patah hati hingga ditinggal mati. Dan relasi ini menimbulkan sebuah rasa bernama: melankolia.

Buat saya pribadi, melankoli adalah sebuah kerinduan pada sesuatu yang pernah ada namun tak lagi tersedia. Seperti phantom limbs, ilusi yang hadir pasca amputasi, melankoli menyeruak seperti horor ketika kita merasa tangan atau kaki atau organ tubuh kita masih ada padahal sudah hilang. Dan kita belajar melankoli sedari kita bayi. Tahap ini disebut oleh psikoanalis Sigmund Freud sebagai tahap Post-Oedipal.

Post-Oedipal adalah tahap menyakitkan dalam hidup semua orang ketika ia sadar bahwa ibunya, yang selama ini ia cintai sebagai bagian dirinya, telah lepas secara penuh. Ya, patah hati pertama semua orang adalah terhadap figur ibu-nya sendiri. Untuk mengerti konsep ini, saya harus sedikit menjelaskan tiga tahap Oedipus Complex dalam psikoanalisis Freudian.

Tahap pertama adalah pre-Oedipal. Dalam tahap ini seorang bayi merasa bahwa ia dan ibunya adalah satu badan: itulah dirinya, sebuah relasi antara bayi yang masih menyusu dengan ibunya, dimana si bayi mengidentifikasi dirinya sebagai organ si ibu. Sementara ibunya sendiri perlahan mengalami melankolia pula, ketika ia sadar bahwa anak yang ia kandung 9 bulan dan selama ini jadi bagian tubuhnya, pelan-pelan terpisah darinya.

Tapi si anak belum tahu itu sampai ia berhenti menyusu dan mulai bisa berdiri dan berjalan. Tahap pre-Oedipal berhenti ketika si anak mulai bisa mengidentifikasi dirinya sebagai manusia lain. Ia mulai mengenal dirinya sendiri, yang berbeda dengan ibunya. Namun ia masih berada di dalam kasih sayang dan perlindungan si ibu. Di sini ia masuk ke tahap Oedipal: si anak mencintai si ibu.

Tahap itu berhenti ketika tekanan sosial dan pendewasaan organ-organ kelamin membuat si anak harus berpisah secara seksual dari si ibu. Di sini ia mulai galau dan mengalami melankoli itu: post-oedipal. Maka si anak mulai mencari model untuk mengalirkan libidonya, dan ketika ia jatuh cinta pada orang lain, sifat kebayi-an Oedipal nya timbul kembali.

Saya ingin membawa teori klasik ini ke ranah yang lebih luas, bahwasannya tahap post Oedipal bukan hanya berlaku untuk heteroseksual, tapi juga untuk spektrum lain dalam seksualitas. Karena hubungannya tidak semata-mata seks, tapi juga masalah attachment, atau keterikatan, satu individu dengan individu lain. Sebuah ketakutan klasik dalam cara bertahan hidup binatang mamalia: ketakutan akan ditinggalkan (fear of abandonment).

Ketika kita hendak mempertahankan relasi percintaan dengan orang lain di tahap post Oedipal kita, rasa ketakutan ini begitu besar. Kita seperti anak kecil yang mencari ibunya yang hilang. Hilang arah dan orientasi. Hingga ketika kita benar-benar ditinggalkan pasangan kita, rasa itu memuncak dalam sebuah kegamangan bahwa kita sudah dewasa dan harusnya tidak lagi merasa seperti itu. Tapi separuh jiwa kita hilang di kenyataan, tapi begitu nyata adanya di pikiran: sebuah phantom limbs.

Dan ini bukan hanya untuk percintaan dengan kekasih. Bisa juga rasa itu hadir ketika kehilangan sahabat kita, atau orang tua kita, atau siapapun yang berarti banyak di hidup kita. Dari sudut pandang neurosains, diri kita dibentuk oleh trilyunan syaraf yang disebut synapses. Syaraf-syaraf di otak ini tumbuh dan menguat bersama relasi-relasi yang terbentuk dari hubungan kita dengan lingkungan dan orang-orang lain. Dan ketika hubungan itu terputus, synapses kita terganggu dan membuat tubuh berraksi dengan menutup hormon tertentu dan membuka hormon yang lain. Membuat kita menangis sambil menertawai diri sendiri karena di usia ini, kita kembali seperti bayi yang merindukan ibunya yang pergi.

Hormon kebahagiaan tidak diproduksi dengan baik, stress bertambah, agresi keluar untuk menguranginya. Dan ini adalah saat-saat terburuk hidup kita. Kita berusaha untuk tetap membuat relasi-relasi itu ada, dengan mencoba menggapai-gapai orang yang kita cinta tapi tidak lagi bisa mencintai kita. Buat apa? Sampai kapan?

Sampai luka di sinapsis kita sembuh sendiri. Tapi Kierkegaard menemukan, bahwa luka itu akan kita bawa sampai mati. Dia akan terulang kembali dengan relasi-relasi baru yang kita buat dan putus. Tidak akan pernah ada kekebalan itu, sampai syaraf dan hormon kita beradaptasi, atau kita sudah cukup tua untuk jadi fungsional dan mengejar relasi-relasi itu. Hingga di satu titik diri kita berhenti membuat relasi baru.

Kematian adalah penyembuh keputusasaan, akhir dari segala melankolia. Kematian adalah kepastian absolut dari kehidupan. Ia pasti datang, dan selalu bisa dipercepat. Lalu kenapa kita tidak mati saja? Karena masih banyak relasi-relasi lain yang membuat kita tetap hidup. Orang yang bunuh diri, adalah orang yang merasa bahwa kehidupannya akan merusak diri orang lain. Kematian bukanlah hal yang egois, tapi sebuah hal altruistik, untuk memberikan ruang kepada diri-diri lain yang masih sanggup hidup untuk menderita dalam melankolia.

***

Terima kasih sudah membaca sampai habis. Website ini butuh bantuan kamu untuk tetap ada, jika kamu merasa kalau apa yang ditulis di sini ada gunanya, boleh lah kamu traktir saya segelas kopi untuk motivasi. Tekan tombol dibawah ini, duhai kawanku yang baik:

Filsafat, Politik, Racauan

Ilmuan: Bumi Terancam Orang-orang Kebal Fakta

Andy Borowitz*

MINNEAPOLIS (The Borowitz Report)—Ilmuan menemukan tegangan kuat orang-orang kebal fakta yang mengancam kemampuan Bumi untuk mendukung kehidupan, kajian terbaru melaporkan.

Riset tersebut dilakukan oleh Universitas Minnesota, menemukan tegangan orang-orang yang kebal terhadap semua bentuk pengetahuan pasti, membuat para ilmuan putus asa untuk melawan mereka.

“Manusia-manusia ini nampaknya memiliki semua yang diperlukan untuk menerima dan memproses informasi,” kata David Logsdon, salah satu ilmuan yang mengkaji masalah ini. “Namun, entah bagaimana, mereka mengembangkan pertahanan yang, entah apa maksud dan tujuannya, membuat kemampuan berpikirnya mati total.”

Lebih parah lagi, kata Logsdon, “Ketika fakta yang dipaparkan semakin banyak, maka semakin kuat pula pertahanan mereka terhadap fakta-fakta tersebut.”

Ketika para ilmuan tidak memiliki pemahaman yang jelas tentang mekanisme yang mencegah manusia kebal fakta untuk memproses data, mereka berteori bahwa tegangan ini mungkin disebabkan kemampuan untuk menghadang dan membuang informasi yang mereka terima dari indra mereka ke syaraf otak mereka. “Fungsi normal kesadaran manusia, telah mati rasa seutuhnya,” kata Logsdon.

Ketika memastikan hasil pemeriksaan yang menyedihkan ini, Logsdon masih berharap bahwa ancaman manusia-manusia kebal-fakta ini bisa diatasi di masa depan. “Penelitian kami memang masih awal, tapi ada kemungkinan orang-orang ini akan menjadi lebih menerima kenyataan di lingukngan tanpa makanan, air, atau oksigen,” katanya.

*) Andy Borowitz adalah penulis best-seller dari New York Times dan seorang komedian yang telah menulis di The New Yorker sejak 1998. 

Filsafat, Politik, Racauan, Uncategorized

Politik Kebodohan

Dalam politik, seringkali tidak diperlukan fakta, ilmu pengetahuan atau logika; namun fakta, ilmu pengetahuan dan logika memerlukan politik untuk bisa memajukan masyarakat.

Itu adalah hal yang saya pelajari ketika melihat bagaimana politik bekerja di banyak masyarakat di dunia. Politik adalah sebuah seni, dan seni selalu melebihi kenyataan, fakta atau logika. Seni memerlukan imajinasi, kreatifitas, dan kecakapan dalam menggunakan peralatannya: kostum, media, dll. Seni politik, sementara itu, adalah seni yang tujuannya hanya satu: kuasa.

Kuasa sendiri memiliki makna yang luas, dari yang sederhana dengan menggunakan kekuatan fisik semata, sampai yang kompleks dengan kekuatan simbolik seperti bahasa, referensi, hubungan sosial dan modal. Permainan kuasa, karenanya, menghalalkan apa saja, dari tipuan sampai manipulasi kenyataan. Dari membunuh satu orang martir, sampai membantai jutaan orang dalam sebuah genosida. Yang terpenting adalah tujuannya tercapai, dan tujuan ini tidak pernah sesederhana ‘menguasai dunia’.

 

insides-of-pinky-and-the-brain-80356

Tujuan politik, bahkan yang paling sederhana sekalipun, bergantung pada konteks yang lebih besar dari tubuh individual itu sendiri. Sebuah tindakan pembunuhan dalam masyarakat sederhana, macam Qabil membunuh Habil, mewakili sebuah perebutan kuasa atas tubuh perempuan dan kuasa akan lahan. Setiap individu membawa dalam dirinya representasi-representasi. Keempat anak Adam, misalnya, membentuk oposisi biner dalam budaya agama semit.  Habil sebagai lelaki ideal yang baik dan altruistik, Qabil sebagai lelaki jahat dan egoistik, Lubuda sebagai perempuan buruk rupa, dan Iqlima sebagai perempuan cantik. Di sini lelaki dinilai dari kualitasnya, dan perempuan dinilai dari kuantitasnya.

Representasi-representasi ini adalah imajinasi politik. 

Kuasa politik didapat dengan cara membuat imajinasi politik menjadi kenyataan. Caranya dimulai dengan berbagi imajinasi dengan masyarakatnya. Imajinasi yang pertama kali dibagi adalah melalui bahasa. Bahasa mengajarkan posisi diri sendiri dan orang lain. Ketika seorang bayi belajar menyebut bapak dan ibu, ia pun belajar posisinya sebagai seorang anak yang tidak boleh memanggil bapak atau ibunya dengan sebutan nama langsung, khususnya dalam budaya timur. Dalam keluarga konvensional anak akan belajar bahwa bapak adalah kepala rumah tangga dan ibu adalah ‘milik bapak.’ Bapak adalah imam dan anak istrinya adalah makmum.

Ketika masyakarat menjadi lebih kompleks dan teknologi media berkembang dengan ditemukannya tulisan, mesin cetak, lalu media elektronik, imajinasi-imajinasi semakin dinamis berbenturan satu sama lain, berebut tempat dalam kenyataan. Agama yang pada awalnya hanya dikuasai segelintir orang pemilik kitab suci, tiba-tiba mendapat perlawanan dengan cara-cara yang berbeda dalam menafsirkan firman Tuhan. Mashab-mashab bermunculan, perang saudara, perang agama, masa kegelapan berlangsung hanya demi mewujudkan imajinasi soal Tuhan dan dunia Tuhan yang ia percaya. Dunia dijalankan oleh para psikopat delusional. Masa-masa itu tak pernah berakhir, kita masih bisa melihatnya di Timur Tengah hari ini.

isis-2_2591265a
ISIS. Sumber gambar: The Sun

Imajinasi politik non-agama juga tidak kalah mengerikan. Sejarah mencatat Hitler sebagai salah satu diktator paling parah yang ingin mewujudkan dunia ras Arya. Dia berpikir ke depan dengan cara yang sangat-sangat salah. Efeknya tidak main-main: imajinasi Hitler yang telah membantai jutaan orang, membuat sekelompok ras/agama Yahudi mengamini imajinasi mereka yang lain soal negara bernama Israel. Itu jadi masalah kita hari ini, di mana mereka yang sekuler dan konon ras paling cerdas ini, menduduki Palestina dengan alasan Agama dan janji Tuhan mereka akan tanah Perjanjian. Kelindan antara sekularisme dan agama ini membingungkan, saya tahu. Tapi seperti pembukaan tulisan ini, politik tidak pernah masalah logika, tapi kuasa.

Raving_mad_Hitler.gif

Lalu kita bertemu dengan ilmu pengetahuan, sains, yang logis, matematis, eksakta, dan konon, tidak pernah bohong. Banyak orang atheis atau agnostik berharap bahwa ilmu pengetahuan tidak akan mengkhianati mereka; bahwa Tuhan tidak ada kecuali jika bisa dibuktikan ada secara rasional dan empiris. Selama seratus tahun belakangan ini, banyak dari kita percaya bahwa teknologi dan ilmu pengetahuan adalah mesin anti-politik (anti-political machine). Bahwasannya banyak masalah di dunia ini bisa diselesaikan dengan teknologi dan ilmu pengetahuan, karena itu objektif.

Tapi bisa jadi masalah terbesar kita di abad ini adalah karena ilmu pengetahuan dan sains. Seratus tahun belakangan ini, terjadi banyak revolusi. Dan kerusakan terbesar datang bukan dari revolusi politik, tapi dari revolusi industri dan Iptek. Perang memang membunuh banyak orang, tapi perang-perang seratus tahun belakangan ini bukan semata-mata karena Tuhan. Imajinasi akan negara dan industrialisasi menimbulkan perang-perang akan sumber daya alam. Lalu ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangan seratus tahun belakangan ini juga berpusat pada eksploitasi terhadap alam dan manusia. Sepanjang sejarah planet ini, sumber daya yang dibentuk ratusan juta tahun, benar-benar dikuras dalam jangka waktu kurang dari seabad. Global warming yang terjadi abad ini adalah yang tercepat dan yang terparah sepanjang sejarah homo sapiens tinggal di bumi.

tumblr_n48sxopo1z1sjwwzso1_500

Pola pikir sains dan Iptek yang seperti mesin ini butuh sentuhan perempuan, sentuhan seorang ibu yang memelihara dan membesarkan alam. Bukan sentuhan seorang bapak yang membentuk alam seperti apa maunya seperti yang selama ini dilakukan. Sains pun ternyata butuh untuk belajar pada suku-suku pedalaman yang memperlakukan alam seperti ibu mereka, termasuk dalam membuat energi terbarukan menggunakan tenaga matahari, tenaga air atau tenaga surya. Film dokumenter “This Changes Everything,” memaparkan perlawanan-perlawanan orang-orang di seluruh dunia terhadap ekspansi sains dan teknologi Industri yang merusak alam dan penghidupan banyak orang lokal. Argumen film tersebut sangat kuat: bahwa sains dan teknologi selama ini dibawa ke arah yang salah, arah eksploitasi sumber daya alam.

Namun tentunya, isu Climate Change juga mengalami perlawanan dari kaum pengusaha konservatif yang penghasilannya dari sumber daya alam. Semua perang yang telah terjadi untuk perebutan sumber daya alam bisa percuma kalau semua konsumen mengkonversi kebutuhan energinya pada matahari, air, atau angin. Teknologi-teknologi baru tersebut harus tetap dibuat mahal dan tak terjangkau, hingga teknologi lama yang eksploitatif tetap bisa laku. Inilah hubungan haram antara politik-ekonomi-teknologi yang harus kita kritisi tanpa lelah. Sudah saatnya sains lebih membuka diri pada apa yang mereka anggap ‘tradisional’, seperti budaya-budaya teknologi lokal, dan mengembangkannya untuk membuat teknologi yang lebih ramah lingkungan dan accessible untuk masyarakat luas. Namun lagi-lagi kita akan mentok pada kebodohan. Di sini saya akan mulai masuk ke Politik Kebodohan.

 

Politik kebodohan adalah sebuah cara menunjukkan kuasa dengan membuat pernyataan yang jelas-jelas salah secara faktual dan logika sederhana, jauh dari bukti atau argumen sahih, tapi toh tetap dimajukan sebagai argumen dan, ironisnya, seringkali dimenangkan.

Biasanya politik kebodohan bisa memungkinkan karena ada yang salah dalam sebuah institusi politik, atau representasi yang diwakili oleh seorang individual yang mengeluarkan pernyataan tersebut. Individualnya salah, namun institusinya memungkinkannya untuk bisa memberikan pernyataan salah tersebut. Contoh yang paling mendunia saat ini adalah Donald Trump.

trump-article-header

Bagaimana mungkin seorang pengusaha yang bukan politikus karir, dengan pernyataan-pernyataan yang seringkali seksis dan rasis, bisa menjadi satu-satunya calon dari partai Republican dan memiliki jutaan pendukung? Untuk itu, kita tidak harus membicarakan Donald Trump. Kita harus membicarakan institusi yang ia wakili: rakyat kulit putih konservatif Amerika dan partai Republican.

Rakyat kulit putih konservatif Amerika, yang sebutan stereotipenya adalah kaum Red Neck, mendukung Donald Trump karena alasan-alasan yang sederhana: ketakuan kehilangan kuasa atas tanah dan pekerjaan. Dalam perjalanan saya ke beberapa desa di Amerika, saya menemukan hal-hal yang luar biasa menakutkan untuk saya sebagai pendatang dari Asia: ada sebuah restoran yang menempatkan papan besar, “White people only,” (hanya untuk kulit putih). Ada juga sebuah gubuk kayu besar (Shack) dengan tulisan, “Guns available,” yang menandakan bahwa gubuk itu menjual senjata api secara bebas. Restoran dan gubuk senjata itu berada di dua desa yang berbeda yang tidak perlu saya sebutkan dimana. Toh, jikapun Anda ke sana, seperti saya, kemungkinan Anda tak sudi mampir, kecuali jika ingin merasakan panasnya peluru di pantat Anda. Kesamaan di dua desa ini adalah, banyak di halaman rumah mereka terpampang papan: “TRUMP: MAKE AMERICA GREAT AGAIN.”

12289674_865102096941936_1974828997264139924_n1

 

Sementara itu, politisi partai Republican kalang kabut mendapati Trump menang sebagai calon mereka. Ini membuktikan betapa hancurnya pengkaderan kepimimpinan partai sayap kanan tersebut. Pasca Bush dan 9-11, lalu krisis ekonomi Amerika tahun 2008, partai yang beranggotakan banyak orang Kristen kaya raya ini tidak berhasil membuat kader-kader yang berkualitas. Menurut saya ini terjadi karena cara politik mereka adalah Politik Kebodohan itu: dengan modal hubungan sosial dan modal, mereka tidak perduli apakah pembenaran mereka soal perang Timur Tengah, atau tuduhan merka bahwa Global Warming adalah propaganda itu salah. Mereka hanya perduli pada ‘kepentingan’ (interest) bahwa perang Timur Tengah menguntungkan pengusaha  dan industri senjata, dan jika Global Warming adalah propaganda, maka mereka bisa terus mengeksploitasi sumber daya. Imajinasi inilah yang mereka tekankan terus-menerus, dan akhirnya Trump masuk mengambil momentum. Karena dari semua capres Republican, Donald Trump adalah yang paling TIDAK PERDULI.

Trump tidak perduli kalau ia seringkali tidak konsisten dalam memberi pernyataan. Ia tidak perduli soal partai politik, ia tidak perduli soal ekonomi Amerika, atau politik luar negerinya. Trump adalah entertainer/entrepreneur sejati yang benar-benar mengenal penontonnya: orang kulit putih konservatif, atau orang yang punya ‘interest’ dalam usahanya. Pengalamannya di televisi membuatnya paham bahwa kontroversi menjual, dan media selalu akan membuat orang tolol semakin terkenal, jika orang tolol itu punya kuasa. Seperti anjing menggigit orang, Donald Trump tidak biasa karena dia orang tolol yang sangat kaya, dengan brand yang dekat dengan kata Triumph (menang). Ia ahlinya periklanan ilusi–propaganda industri dan pembangunan brand. Di sini kita bisa melihat satu lagi karakteristik Politik Kebodohan:

Politik kebodohan mengambil kuasa dari memperbodoh orang lain, dengan cara manipulasi informasi, propaganda, dan menghilangkan orang-orang yang memprovokasi massa untuk berpikir. Politik kebodohan berpegangan pada satu prinsip: menjadi bodoh adalah berkah (ignorant is a bliss).

Dalam politik kebodohan, kesederhanaan adalah segalanya. Pesan untuk massa rakyat harus sepopuler mungkin, dan sepopuler mungkin artinya sesingkat dan seklise mungkin. Masyarakat tak perlu tahu tujuan si politikus, tapi masyarakat hanya harus merasa berbagi imajinasi. Imajinasinya harus mendasar dan sederhana, seperti ketakutan akan kehilangan pekerjaan, atau iming-iming uang, atau  (ini yang akan selalu populer) ketakutan akan neraka.

Di Indonesia, politik kebodohan selalu bekerja dengan baik. Dalam pilpres Prabowo vs Jokowi tahun 2014 lalu, kedua kandidat sesungguhnya memiliki dua sisi tim kampanye: tim kampanye untuk elit politik, dan tim kampanye untuk massa rakyat. Tim kampanye untuk massa rakyat adalah tim yang menggunakan politik kebodohan itu. Prabowo menjual imej pemimpin keras, tegas, galak. Cocok dengan massa rakyat yang maskulin. Sementara itu Jokowi menjual sosok pemimpin yang wajahnya seperti petani, kurus, dan dekat dengan rakyat. Soal politik kebodohan, keduanya sama-sama. 50-50. Seandainya Demokrasi Indonesia diserahkan pada Rakyat sepenuhnya, tidak ada yang akan menang di antara Prabowo dan Jokowi.

14027988871694362327

Yang memenangkan Jokowi adalah politik elitnya. Pecahnya Golkar dengan merapatnya Jusuf Kalla ke Jokowi, serta diikatnya beberapa petinggi militer dan kepolisian dalam perjanjian politiklah yang memenangkan Jokowi. Belum lagi dukungan dari luar negeri seperti Amerika Serikat dan Australia–yang terus terang menentang Prabowo. Dari sisi Prabowo sendiri, kita melihat KMP yang isinya orang-orang oportunis dengan politik dua kaki: celup ke ember manapun yang menguntungkan. Seperti banyak pendapat para ahli, politik Koalisi ini takkan tahan lama begitu tidak dikasih makan kuasa.

Apakah ini artinya politik untuk rakyat adalah politik kebodohan dan politik untuk elit adalah politik sebenarnya? Ya dan tidak.

Pada negara-negara yang demokrasinya sudah maju, setiap rakyat adalah elit. Setiap rakyat sudah punya daya baca dan daya kritis untuk memilih dan paham konsekuensi pilihan politiknya. Kalau mau contoh, kita bisa melihat beberapa negara Eropa, dari pemilihan walikota di London, sampai negara-negara dengan sistem pendidikan dan demokrasi mutakhir seperti Finlandia, atau Islandia yang Perdana Menterinya langsung mundur begitu didemo soal Panama Papers. Tapi kalau daya baca rakyat dan elitnya rendah, dan hubungan antara pemerintah, rakyat dan militernya lebih banyak konflik daripada kerjasama, maka Politik Kebodohan akan mendominasi.

Maka itu muncullah imajinasi-imajinasi yang dipaksakan macam kebangkitan PKI. Imajinasi yang dipaksakan ini adalah sebuah delusi, yang ironisnya banyak dipercaya orang-orang dengan ketidakberdayaan intelektual yang sama. Orang-orang pengidap Phronemophobia akut, yang kebanyakan tidak bisa disembuhkan. Mereka hanya bisa menang lewat penipuan besar-besaran atau kekerasan. Dan ketika kalah argumen, mereka tidak akan mengaku kalah, tapi langsung menuduh dizalimi secara politik atau menuduh orang yang benar sebagai orang yang terdoktrin pihak lain. Kuliah umum Kiki Syahnakri soal Marxisme-Aristotelian, misalnya, jelas-jelas salah dan dihujat habis-habisan di Media Sosial. Tapi toh, nampaknya dia cuek saja.

Kiki Syahnakri tidak sendirian. Di Amerika, seorang pendukung Donald Trump garis keras yang masih misterius namanya, pernah melakukan hal yang sama di tahun 2013 ketika ia protes untuk melengserkan presiden Obama. Politik kebodohan ini adalah masalah universal, dan sesuatu yang terus-terusan dipakai dimana-mana.

mtm2njq0odk5njuzotuzmte5
Orang misterius yang protes melengserkan Obama dengan alasan bahwa Obama adalah Muslim dan Muslim adalah Marxist. Dia muncul lagi dalam kampanye Donald Trump tahun ini untuk mendukung sentimen anti-Islam.

Akhirnya, jika kita mau jadi orang baik, perjuangan utamanya adalah mencerdaskan bangsa. Membuat seluruh rakyat jadi elit yang berdigdaya, yang daya bacanya tidak hanya seperti anak kelas 4 SD jaman Orba. Membuat kesadaran dunia-akhirat, bahwasannya dunia tidak kalah penting dibanding akhirat. Warisan utama yang harus ditinggalkan adalah cara berpikir untuk bisa hidup menjadi manusia unggul yang bisa berfungsi baik secara sosial dan politik, dan mendasarkan hidupnya pada rasio dan empiris yang tidak terlepas dari kenyataan sosial yang ada. Warisan itu hanya bisa dilakukan dengan memenangkan politik kebodohan ini, dengan segala cara.