5 Alasan Sederhana LGBT Bukan Penyakit

Saya malas berargumen soal LGBT pada orang-orang. Pertama, karena terlalu banyak orang yang harus diargumenkan. Kedua, karena orang beragama yang berpegang pada keimananya akan selalu menolak sains dan argumen yang berlawanan dengan firman Tuhannya. Baik di Injil ataupun di Quran, Homoseksualitas dilarang. Itu dosa yang pasti. Tapi kita tidak bicara agama ataupun dosa di sini–itu urusan masing-masing ketika menghadap Sang Khalik. Kita bicara soal cinta dan kepedulian saja. Kita bicara soal akal sehat saja. Tapi kalau itu pun Anda sudah tidak punya, pergilah dari laman ini dan bacalah artikel lain. Saya akan menghapus setiap komentar yang isinya teror atau ajakan ribut. Ini bukan blog demokrasi salah arah Indonesia.

Baca Selengkapnya
Iklan

Tubuh Yang Dibenarkan Politik

Adalah Hamlet yang bilang, “Tuhan memberikan perempuan wajah, tapi mereka melukis wajah lain.” Salah satu drama Shakespeare yang paling misoginis. Pertanyaannya adalah siapa sebenarnya yang menentukan standar kecantikan dan tubuh perempuan? Perempuan sendiri, laki-laki, atau jangan-jangan konsumen dari imaji perempuan yang bukan hanya laki-laki, tapi juga perempuan. Kalimat Hamlet tadi dengan gamblang menyatakan bahwa wajah…

Baca Selengkapnya

Propaganda dan Islam yang Menipumu (Orang Amerika)

Justin King Diterjemahkan dari Antimedia.org oleh Nosa Normanda (Antimedia) Propaganda adalah roda yang digunakan pemerintah untuk mengendarai bus bernama negara; biasanya propaganda menyetir negara ke peperangan atau ke ujung jurang kemanusiaan. Mengagumkan berapa banyak orang yang mengaku rasional, tapi mengikuti suara mayoritas dalam merendahkan kemanusiaan musuh nasionalnya.

Baca Selengkapnya

Cyborg dan Masa Depan

Masalah besar manusia adalah ia ingin jadi Tuhan yang cuek pada ciptaannya dan membentuk hierarki bahwa ia yanh Maha Kuasa, dan ciptaannya yang Maha Dikuasai. Ego ketuhanan ini yang akan membuat manusia terus mandeg, ketika kita tak henti-henti mengobjekkan orang lain dan merebut kemanusiaan darinya, lalu lupa memakai empati kita. Toh, Hitler menganggap anjingnya lebih…

Baca Selengkapnya