Begitu banyak hutang karena ide-ide melimpah dan membuatku sedikit dendam pada aku di masa lalu. Hutang uang sudah jelas–tapi tidak sebanyak piutang yang belum kutagih, jadi masih bisa diatur. Hutang budi, rata-rata dibayar ke masa depan: ke orang-orang baru, kawan-kawan lama yang membutuhkan, dan ke murid-murid baru. Hutang project—nah ini yang paling berat. Dari film yang tak kunjug selesai, hingga struktur yang terdesain dan belum terbangun. Sebab penundaan kurang lebih ada tiga.
Pertama, tertunda karena pikiran yang terus berkecamuk tentang apa yang sebaiknya dilakukan. Ini untuk project-project yang tidak terukur dan terjadi kesalahan produksi sehingga di post produksi rasanya deadlock. Project seperti ini memakan banyak sekali waktu pemikiran (bukan pengerjaan), dan eksperimen (juga tidak produktif).
Kedua, tertunda karena orang lain. Biasanya karena ada yang janji membantu dan mengerjakan tapi punya 1001 alasan kenaoa menundanya. Ini membuat pipeline kerja begitu mandeg dan jadi cukup sulit untuk menyelesaikan pekerjaan itu.
Dan ketiga tertunda karena faktor yang tidak bisa dikontrol seperti kehilangan sumber daya penghasilan, bencana alam, pandemi, dan cuaca buruk. Ini apa boleh buat, membuat project jadi sulit untuk diselesaikam.
Jika dipikir-pikir, penyelesaiannya sebenarnya ada pada setiap masalah itu sendiri. Yang terpenting, mungkin bukan menyelesaikan tapi memajukan, membuat perkembangan walau sedikit saja.
Jika halangannya pikiran, maka majukan pikiran tersebut menjadi eksperimen fisik yang dikerjakan dan dites. Seperti hari ini saya menulis, saya jadi bisa melihat bentuk fisik dari sebuah ide yang abstrak dan itu kemajuan.
Jika halangannya orang lain, mungkin waktu bisa membantu. Berikan deadline kepada orang itu dan jika deadline lewat, cari pengganti atau kerjakan sendiri—selama waktu kita sendiri ada. Kita tidak bisa mengatur waktu orang lain tapi kita bisa mengatur waktu diri sendiri.
Jika halangannya adalah faktor yang tidak bisa dikontrol, pemecahannya paling mudah karena cuma satu: ditunggu saja dan pasrahkan pada semesta. Bisa jadi ketika bencana sudah lewat, masalah itu malahan sudah hilang dimakan waktu, atau orang lain yang sempat mengerjakannya.
Pada akhirnya, tidak semua hutang bisa dilunasi. Dan apakah kita akan menjadi hantu atau tidak untuk melunasinya, mungkin tergantung amal ibadah kita pada semesta dan orang lain. Apakah kita cukup pasrah untuk moving on?
Terima kasih telah membaca sampai habis. Website ini jalan dengan sumbangan, iklannya tak menghasilkan, dengan lisensi Creative Commons, Atribution, Non commercial. Kamu boleh pakai konten ini selama memberikan link sumber dan bukan untuk tujuan komersial. Kalau kamu suka dengan yang kamu baca, silahkan traktir saya kopi murah.
