Anthropology, Film, Kurasi/Kritik

Dunia Menyakiti Anak-anak: Anak-anak yang Disakiti dan Mati Di Kenyataan dan Film-film

Semua orang tua bersalah pada anaknya, dan setiap kesalahan akan membekas buat si anak dari kecil hingga ia dewasa. Orang tua yang baik adalah orang tua yang dapat mengevaluasi diri dan terus berusaha meminimalisir kesalahan terhadap anak. Tapi ketika kita bicara masalah parenting, kita tidak cuma bicara soal keluarga atau masalah individual, kita juga harus bicara tentang negara dan kebudayaan secara luas, tentang bahasa, dan juga tentang konsepsi pendidikan terhadap anak.

Hari ini kita sudah setuju soal buruknya konsep perpeloncoan atau kekerasan fisik dan verbal terhadap anak–walau banyak juga orang tua konservatif yang meneruskan lingkaran kekerasan itu, tapi kebanyakan orang tua terdidik yang punya akses ke internet sudah tidak begitu lagi. Namun kita tidak bicara soal tempat-tempat yang jauh dari pusat informasi. Kita tidak bicara dalam konteks kampung kota, kampung, atau desa. Kita sulit melihat seperti apa informasi utama yang ada di lapangan, apalagi soal kekerasan terhadap anak. 

Sebagai seorang penonton film, filmmaker, dan peneliti saya selalu tertarik dengan film-film kejahatan, dan beberapa tahun terakhir saya menonton beberapa film soal kekerasan anak terkini. Banyak sekali film yang mengangkat hal ini, dan setiap film, diskusi, dan aktivisme dapat membantu membuat dunia lebih baik untuk anak-anak dan masa depan negara kita. Ini adalah beberapa contohnya.

The Trials of Gabriel Fernandez, seperti judulnya, bercerita tentang persidangan orang tua Gabriel (ibu dan ayah tirinya) yang menyiksa Gabriel sampai meninggal. Settingnya di California, dan dari persidangannya terbukalah sebuah ketidakbecusan departemen sosial di Amerika Serikat, yang telah berkali-kali menerima laporan soal Gabriel yang sudah luka-luka, namun selalu mandeg di birokrasi sampai anak itu meninggal. Parahnya departemen sosial ini seperti dijawab oleh serial dari belahan dunia lain, The Chestnut Man

Setting The Chestnut Man ada di Denmark dan perbatasan dengan Jerman. Ceritanya soal seorang pembunuh berantai sadis yang modus operandinya (1) melaporkan orang tua anak yang ditelantarkan ke Departemen Sosial, dan (2) jika tidak digubris, maka orang tua anak itu akan dibunuh dan anggota tubuhnya dimutilasi, serta dibuat seperti chestnut man (mainan orang-orangan dari kulit kacang kastanyet.)

Yang paling menarik adalah, salah satu tokoh kunci yang membuat seluruh pembunuhan ini mungkin adalah seorang perempuan yang menjabat sebagai Menteri Sosial di Denmark. Film ini secara harfiah menyalahkan dan membawa struktur besar negara, sebagai penyebab utama kenapa kejadian ini berlangsung, dan pelakunya sudah pasti dan jadi bukan spoiler, adalah korban kekerasan anak ketika ia masih kecil. Plot yang sama seperti Pintu Terlarangnya Joko Anwar. 

Di Indonesia sendiri, laporan kasus kekerasan terhadap anak terus meningkat tahun demi tahun. Kompas melansir bahwa tahun ada kenaikan dari 11.057 kasus di tahun 2019 menjadi 14.517 kasus di tahun 2021 (Kompas.com, 20 Januari 2021). Ini juga disebabkan institusi kepolisian yang lebih sibuk menjaga nama daripada bekerja menyelesaikan kasus, seperti laporan mendalam yang ditulis project Multatuli Tanggal 6 Oktober 2021. Dalam artikel berjudul “Tiga Anak Saya Diperkosa, Saya Lapor Polisi. Polisi Menghentikan Penyelidikan.” Tiga anak ibu Lydia (nama samaran) itu diperkosa oleh mantan suaminya. Si ibu lapor ke dinas sosial dan polisi, yang justru mempertemukan anak-anaknya dengan si pelaku. Semua tambah runyam karena polisi dan dinas sosial sama sekali tidak mengerti bagaimana caranya menangani sebuah kasus kekerasan seksual kepada anak. Akal sehat saja mereka tidak punya. 

Memang, belum tentu anak-anak yang dilecehkan ini akan jadi penjahat, atau akan melecehkan orang lain. Tapi yang pasti traumanya akan keras, mereka akan memiliki hidup yang sulit, disabilitas psikososial. Ini masalah besar yang pemecahannya hanya bisa dengan kebijakan-kebijakan yang jalan beriringan dari banyak arah: secara undang-undang, hukuman harus diperberat; laporan harus dipermudah; dan yang paling penting, mengakui kesalahan dan aparat serta penjabat publik semua harus dididik ulang soal pelecehan seksual, kekerasan terhadap anak, dan bagaimana cara menangani korban. SOP harus sangat jelas. 

Satu kasus lagi yang menyeramkan adalah seorang ibu yang menggorok anaknya. Ini kejadian yang sudah terjadi berkali-kali terhadap ibu yang stres. Dalam film kita bisa melihatnya di film The Others besutan Alejandro Amenabar. Di situ kita melihat tokoh ibu yang dimainkan Nicole Kidman yang membunuh anak-anaknya karena stres trauma perang.

Di kejadian nyata, pembunuhan anak oleh orang tua selalu terjadi karena masalah struktural (ekonomi, ideologi politik dan perang.) Hitler dan pengikutnya pun membunuh anak-anak mereka karena kalah perang, atau bunuh diri masal di Jonestown, atau bom bunuh diri anak, karena agama dan ketidakpuasan politik-ekonomi.

Dari sini kesimpulan utamanya adalah: tidak ada orang tua waras yang membunuh anak-anaknya karena motivasi pribadi. Semua karena motivasi struktural bahwa dunia yang mereka hidupi memang tidak mendukung anak-anak untuk tumbuh berkembang. Jadi terngiang kata-kata eksistensialis Soe Hok Gie: Yang paling beruntung adalah yang tidak dilahirkan, yang beruntung kedua adalah yang mati muda, dan yang paling sial adalah mati tua—karena kehidupan dalam masyakarat yang sakit akan berkutat pada penderitaan.

Masa depan kita suram dengan banyaknya anak-anak yang dilecehkan seperti ini, perjuangan tetap kenceng, rekomendasi, petisi terus berjalan walau gaungnya seringkali kalah dengan isu-isu lain. Yang kita bisa lakukan hari ini adalah mendidik dan menyebarkan informasi yang objektif, saintifik, dan bertindak tegas ketika kita melihat kekerasan seksual, apalagi terhadap anak. Ketegasan dimulai dari hukuman sosial hingga legal. Dan kalau legalnya tidak kuat, kita bisa memakai media untuk berkoar, ajak wartawan, blogger, tweeps, semua untuk marah dan mengkoreksi, memberikan tekanan penting terhadap kebudayaan dan negara kita. Komnas Perempuan juga meluncurkan catatan tahunan yang penting buat kita lihat sebagai salah satu cara mengawal agar jaminan hukum dan sosial bisa berjalan dengan baik di negeri kita, untuk mencegah Trials of Gabriel Fernandez atau pembunuhan The Chestnut Man di Indonesia. 

Anthropology, English, Film/Video, Filsafat, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan

Conspiracy (kon-spi-ra-si) | LockDown Series Episode 3

For Indonesian language scroll down.

In a YouTube conspiracy theory and fake news channel, a bio terrorism suspect named Juan Dominic is telling the audience how he and his extremist groups started the corona virus. The host of the show, Brian Juno, is setting a trap for Dominic–but Dominic is also setting a trap for Juno, and all humanity.

Dalam sebuah channel teori konspirasi, seorang tersangka bio terorisme bernama kode Juan Dominic membeberkan cara dan alasan penyebaran virus Covid 19. Pembawa acara Brian Juno berusaha menjebak sang teroris. Tapi yang tidak ia sangka, sang teroris juga berusaha menjebaknya; dan seluruh umat manusia.

Me and my friend Camilo made this video to participate in LockDown Series production conducted by MondiBlanc Film Workshop. We usually spent hours talking about philosophy or politics, so what the hell, we just made a fiction out of our usual conversation. This is an essay in a fiction form. Enjoy!

Saya dan sahabat saya Camillo membuat video ini untuk mengikuti rangkaian produksi Lock Down Series yang diprakarsai oleh MondiBlanc Film Workshop. Kami bisa menghabiskan waktu ngobrol berpanjang-panjang soal filsafat dan segala macam teori konspirasi, maka tak ada salahnya kami pakai obrolan kami untuk membuat sebuah karya fiksi yang berdasarkan data dan fakta-fakta— beberapa pastinya ada yang ngawur. Karenanya, ini adalah sebuah esei dialog berbentuk drama fiksi.

Untuk memudahkan penonton Indonesia, saya sudah membuat subtitle bahasa Indonesia untuk episode ini. Silahkan aktifkan close caption youtube dan pilih bahasa Indonesia. Selamat menikmati esei dalam bentuk drama fiksi via zoom ini.

Anthropology, Filsafat, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan, Uncategorized

Noam Chomsky: Neoliberalisme Menghancurkan Demokrasi Kita (part III)

Sejak Perang Dunia ke dua, kita menciptakan dua cara kehancuran. Sejak era neoliberal kita menghancurkan cara menanggulanginya. Itulah masalah kita, Itulah yang kita hadapi, dan jika masalah itu tidak bisa diselesaikan, habislah kita.

Wawancara ini diambil dari Open Source with Christopher Lydon, program mingguan tentang seni, ide, dan politik. Dengarkan keseluruhan wawancara di sini. Lihat juga Part I dan Part II dari artikel ini.

Oleh Christopher Lydon, 2 Juni 2017
Diterjemahkan tanpa izin oleh Nosa Normanda, dari thenation.com

18622-the-ten-best-noam-chomsky-quotes-wallpaper-1600x12001

Christopher Lydon: Saya mau kembali ke Pankaj Mishra dan Zaman Amarah sebentar–

Noam Chomsky: Ini bukan Zaman Amarah. Ini adalah zaman kebencian (resentment) terhadap kebijakan sosioekonomis yang telah menyakiti mayoritas populasi selama satu generasi dan telah secara sadar dan prinsipiil merusak partisipasi demokrasi. Kenapa tidak boleh marah?

CL: Pankaj Mishra menyebutnya–sebuah kata Nietzschean–“ressentiment,” yang berarti semacam amarah meledak-ledak. Tapi dia bilang, “Inilah fitur di dunia dimana janji modern tentang kesetaraan bertabrakan dengan pemisahan yang massif dari kuasa, pendidikan, status dan–

NC: Yang memang didesain sedemikian rupa, yang memang sengaja dirancang seperti itu. Kembalilah ke tahun 1970-an. Melintasi spektrum, spektrum elit, ada keresahan yang dalam tentang aktivisme tahun 60-an. Itulah masa yang disebut “masa bermasalah.” Masa itu membuat negara jadi beradab, dan itu berbahaya. Apa yang terjadi adalah banyak bagian dari populasi–yang biasanya pasif, apatis, dan penurut–mencoba memasuki arena politik dengan satu dan lain cara untuk menuntut kepentingan dan kepeduliannya. Mereka disebut, “kepentingan khusus.” Artinya minortas, anak muda, orang tua, petani, pekerja perempuan. Dengan kata lain: populasi. Populasi adalah kepentingan khusus, dan tugas mereka [menurut kaum neoliberal] adalah hanya untuk memerhatikan dalam diam. Dan itu eksplisit.

Ada dua dokumen yang terbit di pertengahan tahun 70-an yang sangat-sangat penting. Dokumen tersebut hadir dari kedua ujung spektrum politik, sama-sama berpengaruh, dan dua-duanya berakhir di kesimpulan yang sama pula. Salah satu dari dokumen itu, dari perspektif kiri, diterbutkan oleh Komisi Trilateral–internasionalis liberal, tiga negara industri besar, kebanyakan di bawah administrasi presiden Carter. Ini dokumen yang lebih menarik [unduh pdf bahasa Inggris: The Crisis of Democracy, a Trilateral Commission report]. Penulis Amerika dari Harvard, Samuel Huntington, melihat ke belakang dengan nostalgia pada hari ketika, menurut dia, Truman bisa menjalankan negara dengan kerjasama abeberapa pengacara dan eksekutif Wallstreet saja. Waktu itu semua baik. Demokrasi sempurna.

Tapi di tahun 60-an mereka setuju itu jadi bermasalah karena kepentingan khusus tadi mencoba untuk masuk ke kancah politik, dan itu menyebabkan banyak tekanan dan negara tak bisa menanganinya.

CL: Saya ingat buku itu dengan baik.

NC: “Kita harus mengurangi demokrasi.”

CL: Tak hanya itu, Huntington juga membalik pernyataan Al Smith. Al Smith bilang, “Penyembuh demokrasi adalah lebih banyak demokrasi.” Tapi truman bilang, “Tidak, penyembuh demokrasi ini adalah kurangi demokrasi.”

NC: Itu bukan Huntington. Itu adalah kalimat lembaga liberal. Huntingten bicara untuk mereka. Ini adalah pandangan konsensus dari internasionalis liberal dan tiga demokrasi industrial. Mereka–dalam konsensusnya–mereka menyimpulkan bahwa masalah utamanya adalah, “tanggung jawab institusi adalah indoktrinasi anak muda.” Sekolah, universitas, gereja, mereka tidak kerja. Mereka tidak mendoktrin anak muda dengan benar. Anak muda, menurut mereka, harus dikembalikan menjadi pasif dan patuh, dan dengan itu, demokrasi akan baik-baik saja. Itu adalah sisi kirinya.

Lalu apa yang terjadi di kanan? Sebuah dokumen yang berpengaruh juga: Memorandum Powell [Download di sini], terbit di saat yang bersamaan.  Lewis Powell, seorang pengaca korporat, selanjutnya menjadi Mahkamah Agung AS, membuat sebuah momerandum rahasia untuk Kamar Dagang Amerika Serikat, yang pengaruhnya besar sekali. Ini kurang lebih menjadi sesuatu yang meluncurkan “gerakan konservatif” di masa modern. Retorikanya agak gila. Kita tidak perlu membahasnya secara dalam, tapi intinya mereka menanggap kelompok kiri [pemerintah AS] telah mengambil alih semuanya. Kita harus gunakan segala sumber daya yang kita punya untuk menghabisi amukan kaum kiri ini, yang telah merusak kebebasan dan demokrasi kita.

Ada sesuatu yang lain yang terhubung dengan ini. Sebagai hasil dari aktivisme tahun 1960-an dan militansi buruh, ada penurunan keuntungan. Ini tak dapat dierima. Jadi kita harus membalik kerugian ini, kita harus merusak partisipasi demokrasi, dengan apa? Neoliberalisme, yang hasilnya adalah seperti yang kita lihat hari ini.

Akhir artikel.

Dengarkan keseluruhan wawancara di sini.

Anthropology, Ethnography, Filsafat, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan

Peradaban Sains Islam, Bagian V: Emas Yang Jadi Abu, sebuah Kesimpulan

Diterjemahkan tanpa izin dari tulisan Hilel Ofek, di jurnal The New Atlantic, no. 30 tahun 2011, halaman 3-23, Why The Arabic World Turned Away From Science. 

Baca dari awal bagian I 

Disclaimer penerjemah: Bagian-bagian terakhir dari terjemahan tulisan ini mengandung sedikit bias orientalisme dari penulis. Saya sendiri sebagai Muslim Indonesia, tidak setuju dengan beberapa hal yang dipaparkan penulis, namun demi semangat belajar dan kesetiaan terjemahan, saya akan menulis apa adanya. Saya tidak bertanggung jawab atas apa yang dipaparkan di sini, namun saya akan menulis sebuah kritik terhadap terjemahan ini setelah semua terjemahan ini selesai terbit. Saya harap ini juga bisa memicu diskusi lebih jauh yang berlandaskan fakta-fakta sejarah dan sumber primer yang logis dan berstandar akademik, sepeti teks asli Mr. Ofek. Gambar dan caption di blog ini adalah tanggung jawab penerjemah.

0_1024_ripleyscroll
Alkimia, salah satu peninggalan Zaman Keemasan Islam, yang berusaha mengubah benda-benda jadi emas. Walau hasilnya gagal, tapi ini menjadi dasar ilmu Kimia modern.

Standar Emas?

Dalam usaha menjelaskan kemunduran intelektual dunia Islam, penting untuk menunjuk beberapa faktor penting: otoritarianisme, pendidikan buruk, dan kurang dana (Negara Muslim menghabiskan dana pendidikan lebih rendah daripada riset dan pengembangan di negara berkembang, dalam presentase PNB-nya). Tapi alasan-alasan ini terlalu luas dan masih kasar, dan membuat lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Di level yang lebih rendah, Islam mundur karena ia gagal untuk menawarkan cara untuk menginstitusionalisasi pemikiran bebas. Karenanya, ia gagal untuk menggabungkan antara iman dan rasio. Di banyak titik, masyarakat Islam lebih mundur bukan hanya dibanding dengan dunia Barat, tapi juga lebih mundur dari masyarakat Asia. Dengan beberapa negara pengecualian, setiap negara di Timur tengah yang menjadi bagian dunia Islam, dipimpin oleh otokrat, sekte Islam radikal, atau kepemimpinan suku. Islam tidak memiliki tradisi dalam memisahkan politik dan agama.

Kejatuhan peradaban Islam dan kemunculan peradaban Kristen adalah perkembangan yang memalukan untuk kaum Muslim. Karena Islam cenderung menempatkan kekuatan politiknya melalui klaim bahwa agamanya lebih tinggi dari agama lain, kemunduran kekuasaan duniawi Islam menimbulkan pertanyaan mendalam di mana kesalahan terjadi. Kurang lebih beberapa abad belakangan ini, banyak pembaharu Muslim berdebat, bagaimana cara mendapatkan kembali kehormatan yang hilang. Di periode yang sama, dunia Muslim mencoba, dan gagal, untuk membalik keadaan dengan meminjam teknologi Barat dan ide-ide sosial politiknya, termasuk soal sekularisme dan nasionalisme. Sebaliknya, rasa “modernisasi” ini justru membuat banyak Muslim jauh dari modernisasi. Ini menimbulkan pertanyaan baru: Dapatkah atau haruskah pencapaian Islam di masa lalu menjadi standar untuk Islam masa depan? Lagipula, sudah wajar untuk mengatakan, seperti yang Presiden Obama bilang, pengetahuan tentang sains Arab di zaman keemasan bisa bagaimana pun mendorong dunia Islam untuk berkembang sendiri, dan tidak begitu membenci Barat.

Cerita tentang sains Arab menawarkan jendela bagaimana hubungan antara Islam dan modernitas; mungkin juga, ia memegang prospek Islam kembali ke prinsip-prinsip yang ia sangat butuhkan untuk makmur, seperti persamaan hak antar gender, aturan hukum, dan kehidupan sipil yang bebas. Tapi kebanyakan orang Muslim hari ini lebih banyak berpikir bahwa kehidupan yang baik ditentukan dengan kembali kepada masa lalu yang murni dan saleh — dan bentuk ini terbukti beracun ketika berhadapan dengan modernitas. Islamisme, sebab utama kekerasan yang sering kita lihat di dunia sekarang sayangnya sangat dekat dengan sebuah doktrin yang ditandai nostalgia dalam pada era Islam klasik. Hingga hari ini, bilang bahwa al-Quran tidak setara dengan Allah bisa membuat orang dicap kafir.

Namun tetap saja, perkembangan intelektual dan keterbukaan budaya pernah terjadi di masyarakat Arab. Jadi sepanjang ingin melihat masa lalu, nostalgia salah yang fanatik bisa dijinakan. Beberapa Muslim pembaharu telah menunjukkan bahwa banyak Muslim di abad pertengahan menggunakan rasio dan ide modern sebelum masa modern, dan menggunakannya tidak berarti tidak saleh. Tidak juga berarti keduniawian mengalahkan akhirat. Di tataran intelektual, usaha ini bisa diperdalam dengan menantang ortodoksnya Ash’ari yang telah mendominasi Islam Suni selama seribu tahun — yaitu, dengan menanyakan apakah al-Ghazali dan kaum Ash’ari-nya benar-benar mengerti alam, teologi dan filsafat lebih baik daripada kaum Mu’tazilah.

Tetapi ada alasan-alasan kenapa dorongan untuk meniru nenek moyang Muslim, bisa jadi salah arah. Salah satunya, Islam abad pertengahan tidak menawarkan standar politik yang pantas. Jika dibandingan standar Barat, Sains Arab Zaman Keemasan Islam bukanlah Zaman Keemasan untuk Kesetaraan. Ketika Islam dibilang lumayan toleran dengan penganut agama lain, toleran hari ini berbeda dari toleran zaman Muslim (ataupun Kristen) awal. Seperti yang dikatakan Bernard Lewis dalan Yahudi dalam Islam (1984), memberikan hak yang sama kepada umat dan non-umat tidak hanya dilihat sebagai hal aneh, tapi juga “kelalaian dalam bertugas.” Yahudi dan Kristen adalah warga nomor dua dalam status sosiopolitis ketika awal zaman Muhammad, dan tekanan kekhalifahan Abbasid juga termasuk persekusi dan pemusnahan gereja dan sinagog. Zaman Keemasan juga era dimana perbudakan terhadap orang dengan kelas lebih rendah terjadi secara luas. Dengan semua pencapaian abad pertengahan Arab, cukup jelas bahwa sejarah sosial dan politisnya tidak bisa dipakai sebagai standar hari ini.

Namun ada banyak lagi alasan fundamental kenapa tidak masuk akal untuk menekan dunia Muslim agar kembali ke bagian masa lalunya yang menghargai rasio dan penelitian bebas; kembali ke masa Mu’tazilah tidaklah cukup. Bahkan aliran Islam yang paling rasional pun tidak pernah menekankan pentingnya rasio. Seperti yang dikatakan Ali A. Allawi dalan Krisis Peradaban Islam (2009), “Tidak ada aliran pikiran-bebas dalam Islam klasik —  seperti Mu’tazilah —  yang bisa menerima ide putusnya Allah-Manusia dan mengkritisi validitas al-Quran, walaupun mereka mendukung filsafat rasio.” Maka, di tahun 1889, akademisi Hungaria Ignaz Goldziher mencatat di eseinya “Perilaku Islam Ortodok kepada ‘sains kuno’” bahwa bukan hanya Ash’ari tapi juga Mu’tazilah yang “membuat banyak risalah polemik terhadap filsafat Aristotelian dan logika secara khusus.” Bahkan sebelum serangan al-Ghazali pada kaum Mu’tazilah, membaca filsafat Yunani tidaklah aman di luar kondisi tertentu, itu pun sifatnya sementara.

Tetapi yang lebih penting, mempopulerkan aliran rasionalis yang lama tidak akan mengajak orang Muslim lebih jauh dalam merefleksikan masalah teologi-politik Islam. Atas semua bantuan besar dalam menemukan kembali filsuf Arab yang berpengaruh (khususnya al-Farabi, Ibnu Rushid dan Musa bin Maimun/Maimonides) bisa menyediakan sebuah reinterpretasi Islam yang menantang prinsip pemerintahan komprehensif agama tersebut, dalam cara yang secara bersamaan meyakinkan orang Muslim bahwa mereka benar-benar kembali ke ajaran fundamental Islam ketika memakai sains dan filsafat. Karena belum ada ajaran di tradisi Islam yang bisa mengkritik agamanya sejauh Luther dan Calvin di Kristen.

Walaupun banyak hal yang kurang di dunia Islam, orang Muslim tetap bangga pada warisannya. Yang dibutuhkan justru mengurangi kebanggaan itu dan menambah kritik terhadap diri sendiri.

Ada alasan terpenting kenapa tidak perlu mendorong orang Muslim kembali ke masa lalunya: walaupun banyak hal yang kurang di dunia Islam, orang Muslim tetap bangga pada warisannya. Yang dibutuhkan justru mengurangi kebanggaan itu dan menambah kritik terhadap diri sendiri. Hari ini, kritik Muslim terhadap agamanya hanya dihargai sejauh ia bisa membuat orang Muslim lebih saleh dan rohaninya tidak korup. Dan kebanyakan kritik kaum Muslim adalah ke luar agama Islam, ke Barat. Praduga ini — apa yang disebut Fouad Ajami (merujuk dunia Arab) sebagai “sebuah tradisi politik untuk memerangi rasa rendah diri” — jelas jadi masalah utama Islam. Itu membuat segala informasi yang berlawanan dengan kepercayaan ortodoks jadi irrelevan, dan itu juga menutup debat ilmiah dan sejarah Islam sendiri.

maxresdefault
Salah satu penceramah dengan teknik al-Ghazali yang cukup terkenal hari ini adalah Zakir Naik. Berbeda dengan Mohammed Yusuf, Naik menggunakan logika yang diputarbalik, menghakimi agama dan kepercayaan lain, dan melakukan pertunjukkan-pertunjukkan spektakuler dalam “pura-pura dialog antar agama”, padahal tujuannya menjatuhkan. Akal dan logika seringkali dipakai hanya dalam kerangka ‘mempersalahkan’ pihak lain, jarang mengkritik agamanya sendiri.

Dalam konteks ini, penelitian atas sejarah sains Arab, dan pemulihan serta riset manuskrip era itu, mungkin bisa memberikan keuntungan —  selama dilakukan secara analitis. Artinya orang Muslim harus menggunakannya di dalam tradisi mereka sendiri untuk secara kritis berkenalan dengan kelemahan-kelemahan filosofi, politis, dan kesalahan yang ditemukan. Jika itu terjadi, perkembangan itu bukan karena usaha Barat, tapi akan jadi konsekuensi keinginan, kreatifitas, dan kebijaksaan kaum muslim sendiri –pendeknya, cara-cara itulah yang dipelajari Barat dari kaum Muslim di Zaman Keemasan.


Hillel Ofek adalah penulis yang tinggal di Texas, Amerika Serikat