A.A. Navis: Robohnya Surau Kami

Cerpen ini saya publikasikan dari buku kumpulan cerpen berjudul sama, tulisan salah satu sastrawan Indonesia favorit saya, Haji Ali Akbar Navis*. Di saat dimana orang-orang Muslim banyak yang merasa yakin tindakannya akan membuatnya masuk surga, dan lupa pada introspeksi diri, cerpen ini saya rasa sangat relavan. Mari kita baca (lagi). IQRA!

Baca Selengkapnya
Iklan

Zygmunt Bauman: Bagaimana Menulis Ilmu Sosial Tanpa Data

Dalam buku 2003, “Liquid Love,” dia mengajukan pertanyaan terakhir tadi sebagai sebuah paradoks. Pak Bauman menulis,bahwa sekarang orang banyak “galau karena sendirian dan merasa gampang dibuang,” dan karena itu mereka “galau ingin ‘jadian.'” Pada saat yang sama mereka juga”waspada terhadap keadaan ‘jadian'”karena mereka takut itu “bisa membatasi kebebasan yang mereka butuhkan, yaitu” – ya, tebakan Anda benar – “kebebasan untuk berhubungan dengan orang yang lain lagi.”

Baca Selengkapnya

Badut Zarathustra dan Labirin Ruhlelana (Bagian V – Habis)

Saya adalah badut Zarathustra yang terjerembab di tanah. Seluruh tulang saya remuk dan saya akan mati. Penonton tepuk tangan dan berteriak melihat kematian saya.

Baca Selengkapnya

Badut Zarathustra dan Labirin Ruhlelana (Bagian IV dari V)

  Saya adalah badut Zarathustra yang melihat bayangan overman di ujung tiang yang saya tuju, saya sudah sangat dekat.

Baca Selengkapnya