English, Memoir, Politik, Racauan

Three Type of Clients that You Should Avoid

WARNING!! EXPLICIT CONTENT!!

Doing business is harder during these pandemic time, everybody knows that. But how many of you did not get paid after such a hard work?

After down payment, after production, the final installment never arrived because the client think your performance is not good enough. And to file a lawsuit is logically contra-productive because lawyers, as Toby the devil said, belong to hell.

I never had those problems before the pandemic. But during this pandemic, with social distancing and zoom meetings which make communication harder, with work from home that forces me and my colleagues to work extra hours, losing our privacy, the amount of unpaid installment is high. During this pandemic, I’ve got three out of 12 partners or clients who refuse to pay final installment. So I’ve got to prepare an error fund in case these things happens, because I don’t want my employee to be unpaid especially in the situation that makes money as scarce as a real match on tinder.

And my ego is so freaking annoying because some of those missing installment is because I failed to praise the client/partner for their stupidity, and end up saying, like Soekarno to the USA during the cold War, “Fuck you and go to hell with your money. ” I should’ve learn from Soekarno that that attitude won’t make the USA went to hell. But it sure made Indonesia got into financial crisis and Soekarno got coup. Damn it you handsome feudalistic polyglotic polygamous polyamorous ultra masculine narcistic nationalistic first president! I should only read your political thinking and not the way you do business.

Anyway, the damages are already done. So I am thinking of making some sort of contigency plan in case stuff like this happens again in the future. If I can’t file a lawsuit, at least I can make a blacklist of clients that has a big possibility to not paying me. These are those clients:

This site runs on donation. If you like what you read, please donate to bit.ly/traktirnosa

Be my patron.

1. The Authoritarian Client


Instead of going to my office, they want me to move my whole office to their office so they can watch me work. I’ve got three projects going on simultaneously and I can’t afford to lose the other two for this one who came at me with orders as if I went to the same shitty academy like they were. Hey, I’m with George Floyd you mothafucker. And Epstein did not kill himself! Here is a song for you, you shirtless leech, sucker.

2. The Old Friend in Need


Fuck you dude. We’ve been working together for so long and I can’t believe you bail out when paying the final installment. I gave you a very low price that made me got almost nothing, and poof you gone like the current president son to his girlfriend, so I have to pay so many stuff. I know Placebo sang, “A friend in need a friend indeed,” BUT “a friend with weed is better. ” You ain’t got no weed, you made my wallet bleed.

And a “fee for friend” Should be way higher than a fee for stranger. Please don’t use that “fee for friend” proposal again.

3. The Cheaper Please Client


Here is the truth: the cheaper the client, the harder it is to satisfy them. This one client paid 5 Mills and I gave them two of my best students to make them an instagram ad for middle lower class audience.

Cheaper client tends to be cocky as if they know production. They want to cut the cost by asking to make a collaboration with their untrained team. Its going to be the deepest shithole in the worst toilet in hell. Nothing worst than a client who knows shit but claim to be an expert. Fuck you, I’ve been doing this for almost 20 goddamn years you fuckers. I only doing your project so my students can prove themself worthy of their skill. And they made you a great ad, from your awful resources you dipshit. But you are not satisfy just because your actors sucks. You were the one who picked them. Go to hell with your petite production money, fuckers.

So be very careful with those kind of clients. You have the rights to blacklist your clients.

Memoir, Politik, Racauan, Uncategorized

Kepakaran

Pesanan Ervin Ruhlelana

Waktu di Amerika, saya pernah datang ke sebuah seminar yang membahas soal politisi dan teknokrasi di Indonesia. Para mahasiswa Indonesia yang kuliah di Amerika mengkritik kebijakan SBY yang menempatkan wakil menteri yang teknokrat (atau pakar) untuk menyeimbangkan menteri yang posisinya didapat karena politik bagi-bagi kue partai Demokrat.

Teknokrat dianggap lebih mampu untuk menduduki posisi menteri daripada politisi. Padahal banyak juga di rezim-rezim sebelumnya, ketika teknokrat, para pakar, yang lulus dari luar negeri sampai jenjang Profesor, tidak berhasil membuat kebijakan yang mumpuni. Kebanyakan karena kepakaran mereka tidak memiliki elemen kepemimpinan secara politik yang mampu membuat kebijakan mereka dijalankan dengan baik.

Saya ingat sebuah tulisan berjudul anti-political machine, yang bicara tentang pembangunan di Lesotho, Afrika, yang beranggapan bahwa teknokrat atau para ahli bisa menyelesaikan masalah keterbelakangan budaya yang pada akhirnya berujung menjadi perang saudara di negara itu. Perang diantara gedung-gedung yang baru dibangun atas prakarsa bank dunia dan PBB.

Atau kebijakan pakar sanitasi dari korporat untuk memberikan sabun ke masyarakat pedalaman Papua, karena menanggap bahwa mereka suka mandi lumpur dan itu kotor, berujung pada wabah malaria yang membunuh ratusan orang. Mandi lumpur ternyata berguna untuk mencegah digigit nyamuk.

Pakar, teknokrat, ahli, yang diberi kuasa politis tanpa kajian mendalam dan interdisipliner bisa membuat kekacauan parah. Politikus rakus, lebih parah lagi. Sementara itu, netizen yang bicara seakan-akan mereka pakar, cuma anjing menggonggong. Kafilah pun akan tetap berlalu.

Tapi, hari ini semua orang bisa jadi pakar yang sesungguhnya, karena adanya internet. Ketika ini terjadi, maka harga pakar jadi jatuh, dan semua orang tidak lagi istimewa ketika melihat bahwa skill mereka akan dengan mudah dikuasai orang lain. Namun harga atau nilai adalah sebuah konsensus, dan manusia bisa melawan untuk tidak menjadi komoditas semata yang harganya ditentukan supply chain.

Caranya saya sudah paparkan dalam microblogging saya beberapa minggu lalu soal irrelevansi. Bahwasannya manusia harus membuat identitasnya sendiri dulu dari jejaring sosial dan politiknya, yang tak mungkin tergantikan oleh skill. Terlebih lagi perlu adaptasi dalam sebuah kerjasama, yang membuat ganti orang baru jadi tidak mudah. Kita cuma harus menjaga performa kita, agar tidak turun supaya kepercayaan dengan kawan-kawan sekolaborasi tetap terjaga.

Saatnya menjadi Pakar dalam berteman. Tidak ada google atau youtube yang bisa mengajarkan itu, tanpa jadi cliche sotoy seperti video di bawah ini.

Memoir, Racauan

Transisi

Pesanan Putri Ayudya

Sulit banget untuk hidup rutin dan teratur supaya sehat seperti di lagi radiohead Fitter Happier. Selalu saja ada yang mengganggu rutininitas dan kenyamanan yang sudah terbangun, apalagi ketika kerjaan lo adalah Seniman aktif. Waktu project ga ada, lo bisa teratur tapi begitu project masuk semua akan berantakan.

Tapi semakin tua, di umur 30an ini, gue semakin ngerasa butuh banget buat teratur. Karena masalah kesehatan fisik dan mental ternyata sangat bergantung sama bagaimana kita mengontrol dan mengatur kebiasaan. Artinya, setiap habis project, harus ada waktu rehat untuk kembali mengatur keseimbangan diri.

Repotnya kalau projectnya panjang. Project panjang yang keos, membuat lo stress dan waktu yang dibutuhkan untuk healing atau kembali ke keteraturan akan jadi lebih panjang dan sulit. Belom lagi kalau lo BU dan project datang kayak badai yang nggak kunjung selesai.

Tapi gue dapet ide lama yang terbarukan ketika nonton anime macam demon slayer. Dalam satu season, ada dua atau tiga episode mereka healing dan latihan mengimprovisasi diri. Kayak setiap luka parah yang lo dapet dari project, bisa membantu lo berkembang asal semangat lo ga patah dan cukup tahu diri kapan harus mulai bergerak dan berusaha seimbang lagi.

Stamina dan endurance juga akan bertambah, berbanding lurus dengan project yang tambah susah dengan keuntungan yang tambah gede. Tapi perlu diingat juga bahwa ada masa ketika lo perlu pensiun, jadi harus disiapkan masa itu. Normalnya umur 55, dan masa prima lo dimulai, seperti kata Stanislavski, umur 40.

Normalnya, ada waktu 15 tahun untuk jadi manusia super, dari umur 40-55. Rencana gue, gue akan bikin beberapa film panjang pada umur-umur tersebut. Sementara itu, bikin tim dan kumpulin duit dulu lah dengan MondiBlanc, Talemaker, dan tentunya kerjaan-kerjaan sampingan bercuan lumayan.

Life is good. Or probably because I’m on mood balancing drugs. But when I write this, life is good and I think I can be happy about it even for a moment.