Moral Bengkok, Prosa

Siksa Neraka Surgawi

Selama hidup, Adam Sujanna adalah seorang mafia di tahun 80an. Ia menemukan tujuan hidupnya ini sejak umurnya 4 tahun dan suka menyiksa kucing. Di internet hari ini, haram hukumnya untuk bicara soal penyiksaan kucing, jadi metode penyiksaan kucing Adam Sujanna baiknya tidak diungkapkan di cerita ini.

Lebih menyenangkan, buat kalian yang suka film Gory, adalah cara Adm Sujanna untuk menyiksa orang dengan berbagai cara. Salah satu kitab utama, manual cara menyiksa orang adalah komik Siksa Neraka yang dibelikan orang tuanya ketika umur Adam 10 tahun dan ia sekolah di Madrasah. Adam mulai belajar untuk menyilet wajah teman sekelasnya, atau menusuk pantat teman sekelas yang lain dengan sapu karena kawannya itu feminin, sambil menuduh-nuduh si kawan sebagai kaum nabi Luth yang pezina dan homoseksual.

Adam Sujanna merawat komik siksa neraka dengan baik, karena komik itu membuat dia jadi punya karir. Kelas 2 SMP, Adam Sujanna selalu pamit sekolah tiap pagi kepada orang tuanya. Tapi ia tidak ke sekolah. Ia main di pasar dan nongkrong dengan Hendrik, tetangganya yang jadi preman/tukang parkir di sana. Hendrik tidak keberatan karena Adam bisa jadi asistennya untuk meminta setoran pada pedagang, dan Adam tidak takut berkelahi. Ia pernah memukul sampai babak belur seorang ibu tukang sayur yang tak mau bayar.

Karir Adam Sujanna meningkat pesat ketika Jimmy, seorang mafia yang punya toko emas di pasar itu melihat Adam berkelahi dengan tiga orang preman lain–salah satunya Hendrik yang mulai gagal menyuruh Adam ini-itu. Adam tanpa ragu melempar Hendrik dari lantai 2 hingga mantan bosnya itu harus dirawat dua bulan dirumah sakit karena rusuk patah dan kepala hampir pecah.

Jimmy Chen adalah salah seorang anggota triad di daerah Gajah Mada. Keluarganya punya jaringan diskotik, trafficking perempuan internasional, dan tentunya narkoba. Bisnis halal keluarganya adalah toko emas, toko elektronik, dan toko sparepart mobil. Kesemua toko untuk cuci uang atau menyeledupkan orang atau Narkoba. Pertama kali melihat Adam Sujanna, umur Jimmy baru 28 tahun, sedang Adam 16 tahun. Tanpa ragu, Jimmy mengajak Adam masuk ke lingkaran triadnya, sebagai tukang pukul. Jimmy memberikan Adam kamar di rumah keluarganya, juga memberikannya baju dan uang saku. Jimmy butuh anak semuda Adam untuk bisa masuk ke sarang musuh tanpa dicurigai. Adam Sujanna berkulit sawo matang, dengan tulang pipi menonjol dan senyum yang lebar, tidak akan pernah dikira orang gila yang sadis.

Maka ketika orang melihat cara Adam bekerja, orang langsung tahu bahwa dia gila dan sadis. Pada Perang gangster besar antara Triad China vs Ambon vs Medan di Pasar Baru tahun 1982, Adam yang cuma bersenjatakan pisau dapur kecil menggorok banyak sekali orang. Di tahun itu, Adam yang berumur 22 tahun, sudah menggorok 70an orang. Tidak ada yang tahu seperti apa wajah Adam karena tak ada yang sempat melihatnya ketika ia bekerja. Semua orang cuma tahu, dia adalah suruhan koh Jimmy, pemimpin muda Triad.

Sebagai anggota Triad, Adam harus mau ditatto. Maka di ulang tahun ke 23, setelah Triad memenangkan perang gangster dan membuat sungai pasar baru menjadi merah pekat, Adam dilantik menjadi salah seorang boss. Ia meminta Tato harimau di tangan kanan dan naga di tangan kiri, sementara di dadanya, ia minta dibuatkan tato tikus yang melubangi jantungnya cuma buat bilang bahwa ia sudah tidak punya hati. Oh, dan shionyantikus.

Sayangnya, Adam mati ditembak bulan Agustus 1983, karena tatonya. Keresahan karena preman membuat pemerintah dan polisi mengurangi jumlah populasi preman, dengan menembak siapapun orang bertato di jalanan.

Adam ditembak ketika sedang pipis di sebuah gang di Kota, di sebuah sore ketika ia menunggu Azizah, pelacur Uzbekistan yang ingin ia kawini, untuk bangun dan bekerja. Azizah menemukan Adam sekarat di depan pintu belakang gedung diskotik tempat ia tinggal, membalik kepala Adam dengan kakinya, lalu menendangnya dan meludahi laki-laki kasar yang selalu memperkosanya hampir tiap malam, memintanya terus melawan dan tidak boleh diam, tapi begitu melawan ia dipukul, tidak melawan pun ia dipukul.

“Lu tahu di neraka pelacur diapain? Pelacur itu ditusuk pake besi panas dari memek sampe keluar di mulutnya.” Kata Adam sambil memasukan sebuah pentungan besi ke vagina Azizah yang sudah meringis dan menangis dan berteriak kesakitan.

Itu satu dari banyak siksaan Adam pada Azizah. Maka melihat Adam sekarat, Azizah mengambil sebuah batu semen dekat situ dan mulai memukul kepala Adam berkali-kali, lalu menginjaknya lagi, dan meludahinya. Di situ, Adam Sujanna yang legendaris mati, bukan karena peluru panas polisi, tapi karena kaki pelacur.

*

Adam bangun di sebuah kamar mewah, yang pernah ia lihat di film-film gangster Hollywood. Ia bangun dalam pakaian tidur dari sutra, dan menemukan di sebelah tempat tidurnya sudah ada minuman berbagai macam dari jus jeruk sampai minuman-minuman mahal beralkohol. Adam berpikir apakah ini mimpi.

Ia minum beberapa gelas cognac terenak yang pernah ia rasakan. Makan roti croissant yang begitu nikmat, dan ia mandi air panas di kamar mandi yang besar dan mewah berjacuzzi. Nikmat sekali. Apa ia ada di surga? Pikirnya.

Setelah mandi ia memilih pakaian di sebuah kamar ganti dengan lemari sangat besar berisi segala jenis pakaian mewah, setelan jas, sepatu-sepatu kulit. Ia ambil setrlan jas warna putih, seperti Al Pacino di film Scarface, pikirnya.

Ia keluar dari kamar itu dan menemukan sebuah lorong besar. Di sana Koh Jimmy berdiri menantinya.

“Yok kerja, Dam.” Kata Jimmy Chen. Adam jelas heran. “Lu tahu lu dimana?”

“Ini di surga ya?” Katanya setengah bercanda.

Jimmy tersenyum. “Kebalik. Ini di neraka. Dan gua asistenlu. Gue jadi Jimmy biar kita kerja akrab aja.”

Jimmy membawa Adam berjalan di lorong dan berhenti di sebuah pintu.

“Lu masuk, terus kerjain yang biasa lu kerjain. Kalo udah selesai, nanti pintu kebuka sendiri. Lu tahu kapan lu selesai. “

Jimmy membuka pintu dan Adam masuk ke dalam. Di dalam pintu ada banyak orang yang terikat sambil berdiri, ada juga yang terbalik, dan di samping setiap mereka ada alat-alat penyiksaan. Di ujung ruangan ia melihat orang yang ia kenal diikat juga, Azizah si pelacur. Ia tertawa.

Azizah kaget melihat Adam.

“Ya, Allah! Astaghfirullah. Kenapa aku di sini! Kenapa engkau sangat tidak adil ya Allah. Adam.. Mas Adam… Ampun… Kenapa mimpi buruk ini? “

Adam mengambil batangan besi dan membakarnya. Azizah berteriak keras sambil meraung-raung.

Tuhan tak kenal keadilan, itu konsep manusia. Tuhan di cerita ini lebih parah. Tuhan di cerita ini nurut pada netizen yang request cerita di instagram, tentang surga yang adalah neraka. Maka buat Azizah dan semua orang yang akan disiksa oleh malaikat baru bernama Adam Sujanna, kalian bisa salahkan Vifick Bolang, fotografer dengan ide gila. Selamat menikmati neraka surgawi kalian.

***

Website ini berjalan dengan donasi, tidak ada iklan pop up yang akan ganggu kalian. Jika kalian suka dengan tulisan di sini, traktir yang nulis kopi hari ini biar dia bisa tetap nulis sampai mati tanpa intervensi dan di neraka nanti dia jadi juru tulis biografi para pendosa. Klik tombol di bawah untuk traktir kopi, atau scan buat traktir gopay. Makasih udah baca sampe habis.

Atau scan ini:

Politik, Racauan

3 Macam Agresi untuk Melihat Evolusi Kamu

Kenapa orang stress cenderung agresif? Karena Agresi bisa menurunkan stress. Tapi agresif adalah perilaku yang sifatnya biologis, berasal dari interaksi hormon dan syaraf yang terlalu ribet untuk kita bicarakan di sini. Kalian bisa baca buku Behave karya Sapolsky atau Feeling Good karya Burns untuk tahu lebih jauh. Di sini kita akan bicara yang ringan-ringan saja.

Sederhananya seperti ini: Agresi, atau marah-marah, atau mukul, atau berantemin orang berasal dari mekanisme pertahanan kita yang paling awal. Setiap binatang yang punya otak dan sistem syaraf yang bisa merasakan sakit, cenderung agresif ketika stress, bahkan cacing aja menggeliat kalo diinjek. Tapi manusia punya banyak opsi untuk menghadapi stress, Agresi bisa berubah menjadi tindakan lain yang lebih konstruktif atau dormant (depresi, diam), pada manusia. Energi Agresi yang berubah menjadi kerja atau tindakan fisik lain seperti olah raga atau menyiksa diri dengan ibadah dalam psikoanalisis disebut sublime.

Seorang mantan walikota di Bogota, Columbia, Antanas Mockus, berusaha membuat manipulasi sosial untuk mengurangi tingkat kriminalitas dan konflik sosial fisik yang tinggi di kotanya. Menurut mantan dosen filsafat ini, Agresi bisa didedikasikan dari fisik, menjadi verbal, lalu simbolik. Agresi simbolik adalah Agresi tertinggi dalam peradaban manusia karena sifatnya soft power, tidak kelihatan jelas dan bisa mengubah peradaban.

Tulisan ini akan coba membahas tiga jenis derivasi ini.

1. Agresi fisik

Yang menghalangi kebebasan kita adalah kebebasan orang lain, kata Sartre. Dan cara untuk menghalangi kebebasan yang paling gampang adalah dengan opresi fisik: mengikat, membungkam, memukul. Ini dilakukan banyak mamalia yang membela diri, mencari jodoh, atau mempertahankan wilayah kekuasaan. Hukum rimba di ranah premanisme jalanan pun masih memakai cara ini.

Namun cara ini tidak efektif dalam membangun masyarakat dan peradaban. Cara ini membuat banyak kerugian baik fisik ataupun mental, infrastuktur pun bisa sulit dibangun karena dengan mudah bisa hancur. Maka itu, harus berubah menjadi Agresi verbal.

2. Agresi verbal

Agresi verbal itu ngeledek orang dengan kata-kata kasar. Bisa dari berbagai jenis binatang, hingga kotoran-kotoran. Ini lebih baik daripada Agresi fisik namun bisa memicu Agresi fisik.

Tapi kalau orang bisa mengubah Agresi fisiknya jadi Agresi verbal, maka dia punya perkembangan. Otaknya bekerja, referensi katanya bekerja pula. Orang yang banyak bergaul dan banyak referensi, punya Agresi verbal yang macam-macam. Semakin banyak referensi semakin kaya Agresi verbalnya. Ini yang membuat Agresi verbal bisa menjadi Agresi paling efektif dan manipulatif untuk mengubah peradaban: Agresi simbolik.

3. Agresi Simbolik

Ini Agresi yang hanya bisa bekerja dalam konteks spesifik: konteks simbolik. Artinya dia hanya bisa berhasil dalam tataran bahasa dan kebudayaan tertentu. Untuk menggunakannya, pemilik bahasa dan kebudayaan itu harus cukup maju. Jadi untuk masyarakat yang miskin kata dan sistem budayanya sederhana, Agresi ini sulit dilakukan.

Bentuk-bentuk Agresi ini ada banyak macamnya: dari yang sederhana seperti lelucon, sarkasme, satir, hingga yang kompleks seperti Undang-undang, kontrak, atau sistem ekonomi. Intinya, Agresi simbolik hadir supaya Agresi fisik dan verbal bisa dikurangi atau ditiadakan, jadi kerugian bisa diminimalisir.

Sebuah contoh kecil: seorang bini yang cerdas menyindir lelakinya yang pengangguran untuk segera bekerja apa saja yang penting tidak cuma santai-santai di rumah. Sindirannya awalnya sarkas, “produktif sekali kamu hari ini, ” Sampai suaminya sadar itu sarkas dan mulai memukul bininya itu.

Si Bini sebenernya bisa aja membalas pukulan, atau meracuni kopi suaminya, tapi dia cerdas. Dia tahu bahwa dia tidak bisa lapor polisi walaupun kena KDRT, karena sistem hukum negaranya bobrok. Dia ga bisa lapor keluarganya karena keluarga merasa dia tanggung jawab suaminya. Untungnya, si bini adalah anggota pengajian ibu-ibu. Dia cerita soal suaminya, dan para ibu-ibu menyerbu rumah, memarahi si suami, dan memintakan cerai. Perceraian di Kantor Urusan Agama adalah Agresi simbolik yang bisa dilakukan si bini. Akhirnya si suami dipulangkan ke orang tuanya, sementara rumah dan anak-anak menjadi milik si bini yang dibantu teman-temannya untuk membuat usaha hijab dan jadi kaya, anak-anak yang sekolah tinggi, dan lebih cerdas dari ibu mereka yang cuma lulusan SMK tata busana.

Itu kisah ngarang aja, tapi kelihatan kan kontrasnya antara suami yang masih jadi manusia purba, dengan bini yang sudah jadi manusia sapiens. Sekarang tinggal kalian sendiri, pembaca budiman, mau jadi orang agresif kayak apa?

***

Kalau kalian ingin menjadi sapiens, manusia bijak yang punya cerita dan menghargai cerita, mungkin bisa dimulai dengan sebuah dukungan biar saya bisa tetap menulis bebas di blog saya ini tanpa perantara. Kalian bisa traktir saya kopi dengan menekan tombol traktir dibawah ini, atau menyumbang dana gofood langsung melalui akun gopay saya. Terima kasih ya sudah membaca sampai habis.

Kirim Go Food ke yang nulis:

Racauan, Politik, Filsafat

Radikal Bahas Radikal

Dari semua agama di dunia, ada satu agama yang hari ini paling ditakuti sama banyak orang termasuk penganutnya sendiri. Ini agama parah banget parnonya, dikit-dikit harus dibela, orang radikalnya galak-galak, rumah ibadah agama lain ditutup atau dilarang-larang dibikin, simbol agama lain dirusak, gak boleh dibikin bahkan yang menyerupai di jalan, kuburan yang beda agama ga boleh disatuin sama kuburan orang seagamanya, kalo demo teriak-teriak bakar, bunuh, ekstrim banget, terus kalo milih pemimpin harus yang seagama dengan dia bodo amat sama track record atau apapun, agama itu adalah agamaaa….

Kristen di Amerika! Buddha di Myanmar! Dan di Indonesia…, Wota. Bisa sampe ga mandi dan cuci tangan setahun setelah event handshake kan ya. Itu dulu sebelom pandemi. Sekarang agak kangen gue sama Wota. Eniwei, tulisan ini mau bahas soal radikalisme agama.

Kita bahas dulu dah dua poin, pertama radikalisme, kedua agama. Radikalisme itu ga buruk atau baik. Kita butuh radikalisme dalam banyak konteks yang urgen. Soal lingkungan, atau soal gender misalnya. Dan semua yang radikal pastinya punya aktivisnya sendiri-sendiri. Radikal berarti berkoar banyak, kekeuh, keras, dan seringkali maksa. Ini paham hadir karena perasaan terpojok, urgen, kepepet, mangkanya dirasa harus dilakukan.

Tindakan-tindakannya bisa dari demo keras-keras rame-rame, sampe tindakan vandal. Kayak Greenpeace bawa lumpur dari lapindo ke kantor Bakrie terus dilempar aje ke situ. Masalah dari gerakan ini adalah, mereka seringkali, demi media massa dan berita, melakukan pertunjukkan yang merugikan orang kecil. Emang dipikir siapa yang berbenah ngepel kantor Bakrie yang dilempar lumpur? Yang jelas bukan mamang rahang itu. OB yang kena megap-megap ngepel capek. Mending kalo ditambahin lembur, boro-boro.

Feminis radikal juga ngerasa kepepet dengan urgensi kayak UU PKS misalnya. Terus ya mereka bikin kampanye-kampanye, diskusi-diskusi, konser dll. Efek buruknya sih menurut gue ya: bias kelas. Coba lo ajak pembokatlo nonton punk cewek-cewek underground, kek mereka ngerti bae. Plus suka ada masalah sama radikal yang laen, radikal agama konservatif.

Tapi kita mah nggak ya, negara kita maju. Toleran! Progresif! Nggak ada yang make-make agama buat pilpres, nggak ada. Kerjanya baik terus membangun kan, infrastruktur bagus-bagus. Jalanan tingkat-tingkat, MRT, LRT, Pak RT, bu RT, semua lengkap lah ya. Nggak ada masalah!

HAM juga beres, semua cinta polisi dan tentara. Apalagi tentaranya doyan sama buku. Eh, kalian ga tau? Tentara kita paling demen sama buku, makanya dibakar-bakar. Nggak tau kan kalian, itu abunya dibawa pulang ke rumah, dicampur air terus diminum biar apal Das Kapital, Manifesto Komunis, dan Di Bawah Lentera Merah.

Ngaku siapa di sini yang waktu ujian nasional bakar buku pelajaran terus minum abunya? Hayo! Siapa di sini yang dateng subuh-subuh ke kelas buat ujian masuk PTN terus nyebar-nyebar tanah kuburan nenek moyang? Beneran tahu itu beneran bisa bikin lo tembus masuk UI. UI men! Kampus terbaik di Indonesia, kata anak UI. Itulah sebabnya waktu gue di UI, ada mahasiswa S3 yang percaya kalo Hitler itu Muslim dan missing link evolusi karena campur tangan alien. Eh serius! True story! Lo bisa tanya ke departemen antrop UI, lulus tuh orang S3!

Keren banget sih sebenernya radikalisme agama ini. Mereka suka banget pamer Tuhan siapa yang paling kuat.

Duh… agama, dari jaman Adam paling sering bikin ribut. Lagian Qabil ada-ada aja sih, ngapain nawarin buah-buahan ke Tuhan coba, dia pikir Tuhan itu Vegan? Kayak Habil dong mengorbankan daging kambing muda. Dari kapan tahu juga Tuhan sukanya dikasih daging. Kambing kek, anak sendiri kek kayak Ibrahim. Yang penting daging. Dari Dewi Hera jaman Herkules, dewa-dewa di Inca dan Maya, sampe Yahweh nya Yahudi yah mintanya daging. Dasar vegan-vegan ini! Mosok tuhan dipaksa jadi frutarian! Gila kalian, vegan! Atheis busuk kalian!

Kaum radikal ini… haduh kaum radikal ini. Gue sih bebas-bebas aja mereka mo radikal apa, cuman gue suka heran mereka suka bawa-bawa anak kalo demo. Ga demo agama, ga demo pilpres, ga demo feminis, ada aja bocah yang ikutan gitu. Ngakunya sih mengajarkan anak tentang agama dan ideologi sejak dini, tapi gue ga nemuin tuh bedanya antara aktivis yang bawa anak demo sama aktivis anti vaksin yang ga mau vaksin anaknya. Well, mungkin bedanya ada sih, kayak aktivis anti vaksin dari awal pilih kasih. Anjingnya divaksin, anaknya kagak. Lebih sayang sama anjing dan kucingnya mereka.

Agama itu, kayak kata pepatah lama, kayak dildo. Boleh dikasih tau ke orang-orang seberapa gedenya dildo lo, seberapa perkasanya vibratornya, tapi jangan dipamerin di muka umum dan jangan dicekokin ke bocah lah! Apalagi dibikin radikal! Sekarang agama kurang kepepet apa sih? Kurang penganut? kaga. Bakal bikin kiamat karena global warming? Kaga.

Agama seinget gue ada untuk membela, bukan buat dibela. Agama dulu bela kaum tertindas, membebaskan budak, membela perempuan jadi bayi perempuan ga dikubur hidup-hidup jaman jahiliah. Sekarang agama minta dibela. Terus mereka bela lingkungan kaga, bela perempuan kaga, bela capres? HOOOOO…. CAPRES! Jadi Pilih nomor 10 ya semuanya! DILDO!

***

Maaf ya kalau ada salah kata, semoga saya tidak kamu kategorikan sebagai Penista. Kalau kamu suka dengan tulisan ini dan mau website ini tetap jalan, boleh traktir saya kopi melalui tombol di bawah ini atau scan gopay code saya. Website ini hanya jalan lewat sumbangan, dan kontenya selalu gratis, karena saya maunya inklusif. Thanks.

Filsafat, Politik, Racauan

Netizen itu Anonim! Jangan dianggep orang!

Kebanyakan kita tidak mengenal lawan debat atau diskusi di internet. Ada seorang jenius agama yang ternyata anak kecil. Ada seorang perempuan cantik yang ternyata pria buruk rupa yang iseng, dan macam-macam orang lagi. Google atau Facebook juga mulai mengembangkan AI yang bisa ngobrol. Tanpa pengetahuan tentang latar belakang lawan bicara, kita terbatas dalam membagi informasi. Belum lagi medium yang kita gunakan adalah tulisan dan seperti yang dikemukakan Plato ribuan tahun lalu, tulisan adalah medium komunikasi yang paling rawan misinterpretasi. Akhirnya kita malah bisa depresi ketika bicara dengan mereka yang anonim.

Filsuf Derrida juga sudah memperingatkan tentang dunia teks yang diluarnya tiada apapun (nothing outside the text). Ketika kita menggunakan medium tulisan, kita berkomunikasi dengan kode-kode, bahasa dan konteks tersendiri. Untuk bisa mengerti sebuah teks, kita harus punya pemahaman lengkap tentang dunia dimana teks tersebut bekerja–termasuk latar belakang penulis teks itu. Ini tentu bukan sesuatu yang bisa kita dapat dengan mudah di Internet. Kita tidak bicara dengan manusia, kita bicara dengan potongan teks yang terbatas.

Saya pernah berpendapat di lapak seorang akademisi yang saya kagumi karena ketajamannya dalam berpikir dan berdiskusi. Kematangannya dalam berdiskusi sangat terlihat ketika komentar saya dengan lugas ia tangkis karena menurutnya melenceng dari artikel yang sedang ia bahas. Dengan tegas dan agak galak, ia mengancam saya, “Jika saudara tidak bisa berargumen dengan dasar yang telah saya sajikan, saya akan menghapus komentar saudara.” Galak sekali.

Tentunya ia jadi segalak itu karena ia tidak kenal pada saya dan karena potongan teks yang saya ketik di lapak diskusinya ia baca sebagai sesuatu yang tidak nyambung dengan artikel yang ia tulis. Ia tidak salah, saya memang berusaha membawa diskusi tersebut ke ranah yang lebih luas. Tapi menyakitkan juga dianggap sebagai orang tolol yang tak mampu berdiskusi. Walau begitu saya jadi belajar banyak. Buat si pak akademisi itu saya anonim–walau saya memakai akun dan nama asli saya untuk berkomentar. Toh si bapak tak punya waktu untuk mencari tahu siapa saya dan sejauh apa kapasitas saya.

Anonimitas di sini tidak sebatas identitas palsu atau tersembunyi. Anonimitas di sini adalah sejauh apa pembacaan seorang subjek terhadap subjek lain di Internet. Jika petunjuk tentang latar belakang seorang komentator hanya komentarnya, nama dan avatarnya, maka hanya itu identitas yang bisa kita lihat. Si komentator bisa jadi siapa saja dan dalam konteks ini, bahkan stereotipe–kebiasaan untuk berasumsi pada orang lain–jadi sulit. Mungkin Avatar dan nama cukup membantu untuk mengidentifikasi. Avatar dengan filter pelangi bisa mengidentifikasi seorang pembicara sebagai pendukung LGBT, misalnya. Namun kapasitasnya sebagai pembicara juga sulit diketahui.

Kadang-kadang, nama dan titel juga bisa membantu. Seorang profesor di bidang tertentu kita harapkan punya kapasitas untuk komentar terhadap wacana yang memang bidangnya. Ketika saya diadujangkrik dengan Tompi karena tulisan saya tentang film Selesai, dr. Tompi sempat ngecek-ngecek dulu saya siapa, dan ketika dia tahu saya pengajar film, tone bicaranya jadi berubah dan diskusi bisa berjalan. Anonimitas di Internet, para netizen kebanyakan ini, sangat kontraproduktif.

Jadi kalau kamu punya lover atau hater yang anonim, anggap saja mereka bot dan bukan orang. Cuma harus hati-hati karena bisa jadi mereka adalah bagian dari skynet yang bisa mengirimkan terminator untuk kita dari masa depan.

***

Wah, kamu baca sampai habis racauan saya. Makasih ya. Kalau kamu suka dengan tulisan ini, bolehkah traktir saya kopi biar saya bisa tetep nulis dan bayar domain website ini? Karena kalau nggak ada traktiran kamu, well, saya akan susah nulis konsisten. Klik tombol di bawah ini atau bisa langsung scan QR code gopay ya. Thanks!

Scan saya