Cinta, Eksistensialisme, English, Puisi, Uncategorized

Hunger

My hunger

I have told you this thousands of years ago

my hunger

is a monster you can never comprehend

Hell, I can’t even comprehend it myself

My hunger, my hunger

I run like mad horse

a black cube in the desert floating

made of pitch darkness

bottomless vacuum

my hunger, my hunger

How can I love you and live with this hunger

but how can I tell you about this hunger

when you have lost your limbs for me

And my dear doctor asked

“Will you satisfiy your hunger with a new prey?”

To be honest I’d rather die

Yet here I am devouring love

of a Goddess while chewing

at yout bones

English, Uncategorized

Fragment #3

Neon city from the 16th floor.

Haruki Murakami-esque.

Dim sum restaurant, a dark morning.

You made me burn, the chef on the background plays with flame and give effects on my narrative:

Stars a match.

Underpants patterns.

Listen.

Obey.

Jealousy.

Miss you.

Don’t know you.

Let you be.

Songs.

Poetry.

Absolution.

Dissillusion.

Unimaginable dreams.

Magical years in nanoseconds.

Irrelevant time.

Imperfection.

Scrubs on your skin.

Odorless Sweat.

Morning breath, smells like dew.

Fetish to your body.

If I were to find you

among a thousand lives,

I’d let you know

that I wasn’t there.

Hop hop.

Be on your way now.

Cinta, Puisi

Ini Kabar Dia Yang Kau Tanyakan

Buang ke bintang-bintang, cerita kita pernah jadi binatang berpunuk dua di sarang peri-peri hutan kota ini.

Kadang lara ada dan tiada, seperti cintamu yang kau sembur di lidah dan ludahnya, hingga semburatnya di dadamu, di perutmu, tapi tidak di mulutmu.

Mulutmu hanya untuk ku. Bibirmu adalah liang menuju sungai-sungai waktu, surai-surai di derai-derai pelangi; kaki-kakinya menghubungkan lidahmu dan lidahku.

Dan lidahku di liangmu, kau menggelinjang dan dawai-dawai ribuan syarafmu kumainkan dengan jari-jemari ajaib ku. Desah, resah akan akhir sebuah kisah yang bisa jadi sangat menyakitkan karena semua ini tak terasa salah.

Namun kita tahu ada tabu ditabuh dalam ritme tubuh kita. Maka kita saling menolak cinta, dan kita buang kata-kata ke angkasa.

Menjadi meteor-meteor yang menabrak bintang-bintang. Memandu arah jalan pulang, jiwa-jiwa yang mengejar kerinduan.

Jakarta, 2020.

Film, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan, Workshop

Karena Film Itu Tinggi dan Video Itu Rendah

Kalau kita pakai definisi film secara kebudayaan, bukan secara teknis, maka film adalah sebuah produk media yang dibuat untuk discreening atau ditonton bersama dalam sebuah ritual modern. Budgetnya relatif, bisa kecil bisa besar, tapi ia didedikasikan sebagai seni yang lebih tinggi daripada video.

Sementara video dibuat untuk dibroadcast, dilihat sebanyak mungkin orang dengan semudah mungkin akses. Semua orang yang bisa bikin video hari ini, tapi tidak semua orang yang punya kamera bisa bikin film, karena setelah shooting selesai, pasar pertama produk tersebut adalah tempat screening; baik itu di bioskop ataupun di festival.

Konon film adalah anak haram antara kapitalisme dan seni. Dalam hubungan itu, ada yang dominan dan tergantung produser dan sutradaranya. Namun di muaranya, film dianggap sebagai seni tinggi, disakralkan. Makanya filmmaker suka emoh kalo dibilang filmnya video. Filmmaker juga banyak yang merasa bahwa film tv bukan film, karena dia dibroadcast di tv. Film yang sudah masuk TV tak berbayar, alias frekuensi publik, bukan lagi film, tapi dianggap sudah jadi seni rendah: video. Padahal di era digital hari ini, kebanyakan film dibuat dengan alat perekam yang menyimpan data digital (baca: video).

Film adalah video yang dilabeli ritual dan ekslusifitas. Sebuah dokumentasi kawinan Batak, yang diputar dalam festival film kebudayaan eksotis di Inggris akan jadi “film”, sementara kalau diputar diantara sanak saudara mempelai, atau dishare di youtube melalui grup WA keluarga, ia akan jadi “video.”

Jadi yang membuat sebuah produk media jadi film atau video hari ini adalah masalah presentasi dan segmentasi. Presentasi artinya dimana ia discreening, dan segmentasi artinya siapa yang menonton screening tersebut. Semakin highclass yang menonton, semakin mahal dan prestisius sebuah film. Karena itu festival film juga punya kelas, dari yang abal-abal, sampai yang super wah.

Konversi dari film ke video jadi bukan hanya masalah teknologi, tapi jadi konversi transaksi pasar: setelah mengalami presentasi publik, apakah film itu akan dilepas dengan akses di platform publik, atau dijual streaming ke platform berbayar. Apapun itu, setelah selesai screening, semua film berubah menjadi video. Dan video sejatinya menjadi data, yang nilai ritualistik dan ekonominya akan turun seiring berjalannya waktu.