Alam, Cinta, Eksistensialisme, English, Puisi

Obelos

In your sleep I found
the five rivers of the underworld

Your lips, as sweet as ródi paliá
the fruit of Persephone, as she sang
with the song of your heartbeat,
and with it came Charon and his boat,
to take me, from river Acheron to beyond

I caressed your hair, strings of spirits
woven by the weird sisters

Every time you got anxious
and took one of those strings
someone died, and lost
to the river Styx

That was how powerful you are, my vvitch, my Dionysian Nymph

As I watched you drifting in slumber
I closed my eyes and still I found you
on Phlegethon, the river of fire
where you took my hand,
and taught me to dance

And in that dance, I knew your name:

L, was for Lethe
the river of forgetfulness
where I drank to oblivion
to put all burden and sadness
and froze them in Cocytus,
the river of burning ice, where
treachery and lies were kept
in Tartarus, with other Titans

As you drifted, I drifted
five rivers, took me to Hades
the outcast, the most beautiful God
the beholder of the truth
and the master of the only
real thing ever existed:
Death.

He touched my face and and I smiled
because he, the estranged God,
was the sinister who matched you and me
in the wheel of destiny and fate

He created Love not by cupid’s arrow,
but built it carefully, with pain and sorrow,
broke everything we know
no fear of tomorrow
just the magic of now
and the happiness we sow

Moral Bengkok, Prosa

Three Men and A Woman

She was screaming and yelling, throwing things from upstairs

“No men in this house is a man!”

There were three men in the house: her husband and her two teenage sons. None, she said, is a man.

The three men tried to calm her down, but she got more berserk.

Some people just came last night taking the car and things from the house.

In a few weeks, the mad woman and her family must moved out.

You see, she had debts. A lot of debts. All those money were used for her underpaid husband, sons education and her altruistic lifestyle.

Three men were weak. She was the breadwinner therefore she had all the rights to be mad.

Her youngest son left, probably tried to find weed with his friends then fuck his 14 years old girlfriend.

The mad woman still screaming. Her husband went downstairs to the dining room, and just sat there, staring blankly at the window.

Backyard was green. Soothing. He planted all those trees himself. He was about to lose all of it.

The Mad woman bought the land, he built the house and the garden. He was the true man of the house, literally: he doesn’t work outside anymore since his little brother died under his watch–a heart attack, leaving two kids and a wife. He was never fortunate enough to be a successful businessman. After all, he was a simple man. He didn’t need that much money because he didn’t have a high standard of living.

And the eldest son, almost seventeen, usually lived with his uncle cuz he went to school far away from home. But at home, he always felt this darkness: the terror of debts. Loansharks. Bad business! Bad! And now they all trapped, but mad woman endure the most: her business, her debt, her land and house, and she might be arrested and nobody could do anything about it, especially three men in the house. Useless men. Financially and politically impotent.

Therefore, the oldest son, sweared he will never have debts that he don’t know how to pay. If he’d be poor, he’d rather beg for charity than asking for a loan. After all, being a beggar is simple: for beggars cannot choose.

Three men and a woman used to lived in that house. You can still hear her screaming during the twilght, if you put your ear on the wall. You can see his shadow on the garden. You can still read the first son’s cursed words beneath the paint below the stairs. And in the first floor bathroom, there’s still specks of blood from an attempted suicide of the youngest son, for the guilt after he aborted his unborn child, with his 14 years old girlfriend.

A pain like that, stays.

Prosa

Arasdiva

Dan dalam diam mereka berdua melihat ke kedalaman mata masing-masing. Aras memandang neon-neon malam kota di mata Diva, dan Diva memandang bintang-bintang langit hutan di mata Aras.

Inilah perpisahan.

Tangan mereka bergandengan di atas meja, di kafe stasiun. Kereta sudah sampai sedari tadi dan Aras sudah semestinya pergi. Lampu jingga dan suara-suara orang lalu lalang menjadi latar adegan ini. Air mata Diva mengalir dari mata kanannya. Bibir Aras gemetar. Tangan kanannya menyapu air mata, menempelkan tetesan di jarinya ke bibirnya. Merasakan asin air mata Diva.

Inilah perpisahan.

Nafas mereka berat. Seperti kali terakhir mereka bercinta di dalam mobil Diva beberapa jam yang lalu. Tapi kata sudah terucapkan, komitmen telah dibuat. Diva akan menikahi lelaki lain, dan Aras harus pergi menyelesaikan filmnya ke penjuru negeri. Peta hidup masing-masing sudah ditandai. Persinggahan sudah selesai. Perjalanan percintaan sudah berakhir.

Kenapa tidak dilanjutkan? Agar intimasi ini abadi, kata Diva. Karena hidup kita harus lebih besar dari keberadaan kita, kata Aras. Berdua sepakat, salah satu harus berangkat.

Inilah perpisahan.

Moral Bengkok, Prosa

Stephanie

Seorang yang jangkung berdiri di bawah pohon beringin pada sore ungu itu. Pakaiannya rapih, dengan jas dan celana panjang abu-abu, kemeja putih dan dasi hitam. Sepatu kulit hitamnya mengkilap tersemir dengan baik dan dengan diam ia memandang ke arah anak-anak yang sedang bermain di taman kota itu.

Stephanie, seorang perempuan berusia 45 tahun, sedang membaca sebuah novel karangan Henry Miller di bangku taman, dan ia melihat si jangkung berdiri bagai patung. Orang itu ada di sana sejak sebelum Stephanie tiba, dan ketika satu bab setengah selesai ia baca, si jangkung masih di sana. Berdiri. Sendiri. Mematung. Memandang ke arah anak-anak.

Stephanie berpikir, apakah dia seorang pedofil?

Ketika langit mulai gelap, anak-anak pulang ke rumah masing- masing Beberapa dijemput orang tua mereka. Namun si jangkung tidak bergeming, ia masih berdiri, sendiri, di bawah pohon beringin di tepi taman itu, melihat ke arah taman bermain yang kini kosong.

Stephanie berdiri dari bangkunya lalu hendak berjalan pulang. Taman sudah sangat sepi, dan langit semakin mendung. Stephanie melihat jam di tangannya, pukul 5:25 sore. Namun begitu ia menjejakkan kaki ke luar taman, tiba-tiba sore menjadi malam.

Stephanie tak tahu, apa yang membuat bulu kuduknya tiba-tiba merinding dan menoleh ke belakang: orang jangkung itu berjalan tepat di belakangnya. Ini tidak baik, memang si jangkung masih jauh, tapi ada rasa takut yang amat sangat karena diikuti orang asing yang mencurigakan.

Tenang, katanya di dalam hati. Ia akan melewatimu begitu saja. Kau harus tenang.

Tiba-tiba ia mendengar tapak yang keras, ia menoleh ke belakang dan si jangkung berlari dengan sangat cepat ke arahnya, matanya melotot dan ia berteriak:

“AAAAARRRGHHHHHH!!!”

Stephanie sontak kaget dan berlari. Ia berlari sekencang-kencangnya. Ia sangat takut. Ia tahu ia tak mungkin lari dari orang sejangkung itu, kakinya pasti panjang, sementara Stephani bertubuh gempal dan berat.

*

Suaminya meninggalkannya dua tahun lalu, dan ia hanya tinggal berdua dengan anjingnya, Motty, yang mati tua lima minggu lalu. Ia sedih, depresi dan ingin bunuh diri. Ia tidak pernah bisa tidur tanpa obat. Namun, ia tidak pernah setakut ini. Bukan takut mati tapi lebih menakutkan dari mati. Ia takut pada ketiba-tibaan. Ia takut pada ketidakpastian. Dan semua serba tidak pasti untuk Stephanie. Dan ketiba-tibaan, bisa datang bahkan dengan persiapan.

Ketika suaminya menceraikannya, ia sudah merasa ada yang tidak beres dengan perkawinannya bertahun-tahun sebelumnya, ia tidak marah ketika ia memergoki suaminya, Danny, pria berusia 56 tahun, berselingkuh di rumah mereka dengan pembantunya, Lucia, seorang imigran Columbia berusia 54, lebih tua dari Stephanie namun lebih ramping dan eksotis. Ketika vonis ceraipun ia tidak marah. Suaminya pindah dari rumah mereka dan ia hanya tinggal dengan Motty. Anak mereka, Sophie tinggal di Jepang. ia hanya mengirim email layaknya kawan lama, semoga Poppy dan Mommynya menemukan kebahagiaan setelah berpisah.

Hanya setelah Motty meninggal, ia mulai merasa ada yang aneh di rumahnya, khususnya setiap jam 5 sore. Dinding di rumah sering ada yang mengetuk, dan itu sangat tidak masuk akal karena seringkali ketukan itu berasal dari ruangan lain di rumah, seperti ruang cuci di sebelah kamar tidur, atau dari dalam tembok kamar mandi, atau dari ruang tamu. Semua ruang itu kosong. Stephanie berpikir, ketukan-ketukan itu mungkin karena ia kesepian. Kesepian menggerogoti dirinya sedemikian rupa sampai ia hampir gila. Setiap hari, jam 5 sore, ketukan mengikutinya kemanapun ia berjalan di rumahnya sendiri. Kadang ia berpikir apakah itu hantu Motty yang mengajaknya jalan sore?

Ketukan terus berlangsung sampai jam 7:30. Begitu setiap hari.

Maka Stephanie memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah setiap ia pulang kantor jam 4 sore. Ia akan duduk di taman beberapa blok dari rumah, dan membaca sambil memperhatikan orang-orang di taman. Melihat mereka yang membawa anak-anak kaki dua dan anak-anak kaki empat mereka. Sekelompok remaja bermain skateboard di pinggir taman, di bagian berlantai beton, dan pasangan muda pulang kerja bersama, duduk bermesraan di rerumputan. Stephanie berencana mengadopsi anjing lagi, tapi nanti setelah ia bisa melepaskan Motty. Setelah suara ketukan di rumahnya hilang.

**

Si jangkung berlari mengejarnya. Stephani panik, jalanan sangat kosong. Tidak ada seorang pun yang bisa ia mintai tolong. Ia begitu panik berlari, bernafaspun jadi sulit. Tubuhnya berat, jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa sampai ubun-ubun. Di depan adalah perempatan dengan zebra cross dan lampu penyebrangan.

Lampu jalan di zebra cross menunjukkan warna merah. Ia tidak boleh menyebrang. Tapi ia begitu takut. Ia harus berani menerobos lampu merah. Ia harus berani kalau ia tidak mau tertangkap si jangkung. Tapi ia takut, kalau ia menerobos, ia bisa tertabrak kendaraan. Aih, tidak sempat berpikir semacam itu. Ia akan menyebrang. Ia terus berlari.

Sial! Si jangkung dekat sekali di belakangnya! Ia bisa merasakan nafasnya di tengkuk leher! Ia akan tertangkap! Ia akan mati! Tidak, lebih buruk! Ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya!

Tiba-tiba si jangkung menyalipnya, berlari di depannya dan wajahnya menengok ke belakang. Ia kurus tirus, berkulit pucat, matanya begitu besar, dan ia tersenyum pada Stephanie begitu lebar, giginya yang kuning terlihat jelas dalam seringai itu. Ia memutar badannya ke hadapan Stephanie, namun ia masih berlari sangat cepat, berlari terbalik. Stephanie kaget setengah mati, namun ia terus berlari, kini seperti ia yang mengejar si jangkung. Si jangkung melewati trotoar dan berdiri di tengah jalan, sementara Stephanie berhenti, karena lampu penyebrangan masih merah. Si jangkung melebarkan kedua tangannya.

Tiba-tiba sebuah bus lewat dan menabraknya. Si jangkung terpelanting entah ke arah mana, dan bus berhenti mendadak. Terdengar teriakan penumpang, dan darah yang muncrat di jendela bus membuat para penumpang histeris. Apalagi sebuah mobil yang jalan di belakang bus juga kaget, dan ikut menabrak bagian belakang bus.

Stephanie kaget bukan kepalang, karena orang yang ia takuti, ternyata orang gila yang hendak bunuh diri. Masyarakat sekitar mulai datang dan mengerubungi tempat kecelakaan. Memang, manusia dan konflik seperti lalat dengan tahik, kata Stephanie dalam hati, entah yang mana yang lalat, yang mana yang tahik.

Degup jantung Stephanie begitu kerasnya. Ia hendak kabur dari TKP. Ia tidak ingin jadi saksi di pengadilan nanti. Ia tidak punya waktu. setiap hari di rumah, ia sudah sibuk bekerja menjadi konsultan finansial freelance, membuat rencana keuangan klien-kliennya, dan membuat desain investasi. Di kantor pun, bebannya sebagai CFO sangat besar pula. Ia tidak punya waktu untuk konflik. Untuk konflik dengan suaminya, atau untuk menangisi anjingnya saja, ia tak punya waktu. Apalagi untuk ke pengadilan bersaksi untuk kematian orang asing.

Stephanie berjalan pulang menuju rumahnya melalui blok lain, lebh jauh tapi lebih aman dari televisi yang lebih cepat datang daripada polisi. Namun sepanjang jalan, ia mendengar ketukan. ketukan yang persis sama seperti di dinding rumahnya. Namun kali ini, di sepanjang jalan pulang, tidak ada tembok duplex, hanya ada pekarangan orang di pinggir trotoar.

Suara ketukan itu semakin keras seakan-akan ada dinding di sepanjang jalan pulang. Dinding imajiner. Stephanie resmi merasa gila. Tapi ia tidak tahu bagaimana menerimanya.

Stephanie sampai ke rumahnya, dan ketukan itu semakin keras. Ia tutup pintu rumah dan ketukan di dinding tetap ada, pindah dari luar ke dalam. Stephanie yang kesal mulai memukul-mukul dinding tempat suara itu berasal. Ia mengambil palu di gudang lalu mulai membobok tembok dinding ruang tamunya, kamarnya, kamar mandinya–tentunya semua kosong melompong. Namun suara ketukan semakin kuat.

Stephanie menutup telinganya, namun suara ketukan tidak hilang malah semakin keras.

“Duk duk…duk.. duk…. dug dub…duk dub….”

Ia menangis… ia meraung… ia menjambak rambutnya lalu berlari ke lemari obat. Ia ambil antidepressan dan obat tidurnya. Ia minum sebanyak yang ia bisa, lalu ia menelentangkan dirinya di tempat tidur. Ia mual. Kepalanya sakit. Dan perlahan suara ketukan yang semakin kencang, semakin dekat ke telinganya, ke tengah kepalanya, lalu pelan-pelan turun ke dadanya. Dadanya sesak dan sakit seakan mau pecah. Dan di situlah ia melihat seorang yang kurus kering dan jangkung, matanya besar, senyumnya lebar berdiri menatapnya. Orang itu yang tadi sore bunuh diri di depannya, tapi kali ini orang itu memakai baju yang sama seperti Stephanie, rambutnya, model dan warnanya sama seperti rambut Stephanie, dan ia memukul-mukul dada Stephanie seperti seorang kelaparan yang menggedor pintu sebuah rumah untuk minta makanan. Ia berteriak:

“Ini aku! Aku Stephanie! Buka pintu hatimu! Ini aku! Bukaaa!!!”

Dan dengan setiap pukulan ke dada, Stephanie bisa merasakan suara hatinya yang kelaparan. Suara hati yang pelan-pelan membunuhnya karena tidak pernah ia dengarkan.