Puisi, Eksistensialisme, Cinta, English

Skip a Beat

We are hurting each other
Just by existing and living
You see the stars and follow my footsteps
Yet you have to deny me because I was right,
and you hate that.

And my heart skipped a beat
Every time I see you, I’m still looking for you too
once in a while.
On the stars.
In every crypt.

You will always deny me.
You will always be angry.
And hate me. And love me.
In whatever way.
In poems, films, works, go on. Go on.

My heart skipped a beat. One beat. Two beat. Three beat. And in every broken heart and lovers lost… It skipped a beat.

And there’s a little bit of me
In everything you do,
Those are the heartbeat that you took.

By beat. By beat.
And the last beat, will be
for billions of years that
created my first heartbeat.

P.S. It’s so great being on our own in our own little world, ain’t it?

Portfolio, Prosa, Publication

Dukung Kumpulan Cerpen Pertama Saya Jadi EPUB: Orang-Orang Dalam Bingkai

Design oleh Widi Susanto

Saya tidak berani membuat buku, karena saya tidak yakin orang akan bisa mengapresiasi atau memahami karya-karya saya. Namun, melihat umur dan merayakan lebih dari satu dekade menulis, akhirnya saya memberanikan diri membuat buku kumpulan cerpen. Tetap saja, keraguan membuat saya ingin mengetes dulu, dengan kawan-kawan dekat, apakah kumpulan cerpen saya pantas diterbitkan. Maka bersama kawan saya, Selma Nadya, saya mencoba membuat kumpulan cerpen dalam bentuk PDF ini, dan melihat sejauh mana orang akan mendukung saya. Karena ini adalah uji pasar, maka kumpulan cerpen ini belum 100 halaman. Saya membutuhkan uang untuk menyewa editor profesional dan menerbitkan cerpen ini dalam bentuk lebih sempurnanya: sebuah ebook untuk dibaca di HP dan kindle.

Jika kamu mentraktir saya untuk mendapatkan PDF ini, kamu otomatis akan mendapatkan versi kindlenya langsung dari email saya. dengan membeli PDF ini, artinya kamu mendukung buku ini untuk terbit dalam versi kindle. Dan setelah kindle terbit nanti, saya akan membuat cetaknya by request. Karena saya tidak ingin menambah sampah kertas di dunia kita yang sudah krisis lingkungan ini.

Terima kasih sudah membeli dan membaca karya-karya saya. Berikut linknya:

Film, Filsafat, Kurasi/Kritik, Racauan

Oscar dan Politik Festival Film

Dalam Oscar, gue selalu melihat sebuah performance. Oscar sendiri sebagai sebuah festival, buat gue bukan sebuah kompetisi atau sebuah perayaan macem-macem  tapi itu adalah sebuah performance politik.

Oscar dari awal tahun 70’an ketika Marlon Brando menolak untuk dapat Oscar karna dia mau protes sama semua film koboi yang  memarginalkan  orang-orang native American, udah political banget tuh. Marlon gak mau dateng, dia mengirim seorang putri kepala suku di Amerika dan menerima Oscar buat dia, tapi di saat yang sama juga dia ngomong bahwa selama ini Hollywood telah melecehkan Native Amerika yang disebut “indian-indian” ini dan mereka ingin menghentikan film-film koboi dengan indian-indian film Amerika yang menjadi penjahat.

Ini impactful banget, dan setiap tahun ada aja Oscar caranya untuk bikin sebuah wacana jadi naik. Kaya kemenangan film Moonlight berkaitan dengan racial discrimination, lalu kemenangan-kemenangan lain-lain film-film perempuan waktu jaman #metoo, lalu kemenangan film Asia jadi reaksi terhadap penembakan orang-orang asia di Amerika. Kemarin juga kita lihat juga Will Smith nampol Chris Rock dan di highlight sebagai sebuah performance yang notable.

Adegan ini buat gue statement tentang penyakit Alopecia Jada Pinkett Smith yang membuat rambutnya rontok dan harus digunduli. Ini juga kayak tamparan literal bahwa juga bahwa jokes itu ga bebas gitu. Lo boleh ngejoke sesuatu di dalam sebuah ruang yang aman; tapi Oscar jelas bukan ruang aman kayak di comedy club. Ricky Gervais juga beberapa kali bikin jokesnya depan orangnya langsung di Golden Globe, tapi kalo udah soal penyakit atau disabilitas itu udah keterlaluan, kecuali kalo lo ambil balik apa yang bisa dikatain ke elo gitu tapi ini kan enggak. Ini main power kan? Ketika Rock sudah ngata-ngatain Jada sementara dia sendiri aja ga sakit, di situlah pukulannya Will Smith bisa jadi sebuah performance yang sangat fenomenal untuk ngasih statement bahwa “Nggak! lo ga bisa nge jokes kaya gitu”.

Will Smith mempertaruhkan karirnya untuk aksinya itu. Dia mundur dari Oscar dan melepas hak suara atau kehadiran di event-event selanjutnya. Ketika tulisan ini dibuat, Smith sedang menunggu apakah piala yang ia raih sebagai best actor untuk film King Richard akan dianulir juga—tapi nampaknya tidak karena Chris Rock juga tidak menuntut. Terlepas dari sengaja atau tidak, insiden ini tercatat dalam sejarah Oscar, memperkuat stereotipe orang kulit hitam di Amerika, dan berdampak buruk terhadap karir.

Di Oscar juga masih banyak hal lain  sih yang bisa jadi highlight, Samuel Jackson menang pertama kalinya dengan Honorary Oscar award. Itu orang berapa tahun bikin film ga menang-menang,  jadi kalo gue bilang selama ini kan kita kali ngomong “Leonardo Dicaprio kenapa gak menang menang atau Johny Depp ga menang menang?” Men, mereka tuh cowo -cowo yang keren kulit putih dengan privilege-privilege gitu, kenapa kita ga pernah kepikiran ya? Kenapa Samuel L. Jackson ga pernah menang gitu ya? Apakah mungkin karena penampilanya yang begitu-begitu aja? Tapi gua rasa juga enggak. Misalnya, buat gue A Time To Kill tuh salah satu penampilannya Samuel L. Jackson yang paling keren, gila banget tuh dia di situ  tuh mainnya. Walau nggak ada yang ngalahin trademark Mother Fucker dia… paling yang bisa ngalahin Al Pacino dengan “fuck fuck fuck” nya.

Jadi intinya dari Oscar kita bisa lihat bahwa festival film itu punya politiknya sendiri. Nah sama dimana-mana juga. Ada dua macam politik festival menurut gue. Pertama, festival yang dari awal dibentuk sebagai gerakan politik. Misalnya Clermont-Ferrand di Prancis. Festival itu dibuat dari awal untuk gerakan mahasiswa dan kebebasan ekspresi melawan rezim.

Festival Film Indonesia buat gue juga sama. Karena Indonesia sendiri negara hasil traktat politik, otomatis FFI juga punya kepentingan politik identitas. FFI dimulai dari jaman  Soekarno tapi  platformnya juga pelan-pelan berubah karena dia ngikutin politik luar negeri. Pernah sih FFI pro sama yang ‘Indonesia banget’, tapi ya hasilnya, dapetnya Aa Gatot. Dan itu sangat buruk buat Festival Film utama negara kita ini. Buat gue film di Indonesia itu  tentang hanya bisa maju dengan investasi luar negeri dan bersaing dalam industri film global.

Tapi ada juga festival film yang nggak politis dari awal, yang memang dibuat untuk ngumpul-ngumpul karena suka tongkrongan suka nonton film dan lama-lama jadi festival. Kalo mereka ga bubar-bubar, mereka akan punya struktur sendiri dan beregenarasi.

Jadi ketika lo memilih sebuah festival film, pastikan aja dia sudah bertahan cukup lama melewati banyak perubahan sosial politik. Kalo cuma setahun terus bubar dan nggak regenerasi ya dia gagal. Oscar pun sama ngikutin politik Amerika. Cuma ya ujung-ujungnya ada prinsip dasar yang dia pengen capai jadi film yang menang nggak semata-mata karena bagus tapi juga harus memperhitungkan sekuat apa endorsement Oscar terhadap film untuk bisa mengubah persepsi orang tentang kebudayaan gitu.

Jadi intinya kalo kita ngomongin Festival film ada yang politis ada yang organik awalnya, tapi setelah tahun ke 5 dia akan jadi sangat politis. Artinya dia punya sebentuk endorse dalam film yang dimenangkan.  Masing-masing punya sendiri-sendiri ada yang LGBT, ada yang fokusnya ke  gender, ada yang fokus ke horor, ada yang fokusnya ke komunitas, ada juga yang fokusnya ke pasar dan industri tapi industri juga harus ngikutin apa yang lagi ngetrend.

Sayangnya di Indonesia, festival film belom segitunya politiknya. Kayak, FFI menangin Penyalin Cahaya untuk mengendorse isu kekerasan seksual, harus kecewa ketika salah satu penulisnya kejebak kasus kekerasan seksual. Semua harus dibangun dan menjadi politis adalah hal penting buat sebuah festival, biar film jadi punya kegunaan yang jelas: mengubah peradaban!

Filsafat, Politik, Racauan

Anak Sastra Harusnya Jadi Apa?

Di Fakultas Sastra/ilmu Budaya kita diajarkan prosa, puisi, drama, film, kritik, dan linguistik. Tapi kita gak diajarin hal terpenting: bahwa cerita adalah syarat untuk jadi manusia. Bahwasannya binatang yang punya akal bukan cuma manusia, tapi cuma manusia yang punya cerita dan tugas anak Sastra adalah mengerti cerita-cerita yang dibangun manusia.

FIB terjemahannya adalah Faculty of Humanity, ini aja udah ngaco, karena masa padanan kata budaya adalah humanity? Culture kemana culture? Culture adalah satu cerita saja. Gimana dengan cerita-cerita yang lain? Cerita ekonomi, bisnis, politik, kimia, biologi. Tidakkah sastrawan tugasnya menulis cerita-cerita asing untuk bisa menghubungkan manusia-manusia.

Dalam buku Sapiens, Harari bilang bahwa manusia bisa kerjasama karena cerita-cerita besar: agama, kapitalisme, ideologi, negara, perusahaan, itu semua naratif dan cerita, bentuknya abstrak.

Dan cuma manusia spesies yang bisa percaya pada cerita, kerjasama atau perang karena cerita, dan mati karena cerita. Spesies lain gak ada yang bisa gitu.

Pertanyaan gue jadinya, kenapa di FIB, ini gak diajarin sebagai dasar keilmuan gue dalam membuat peradaban? Padahal kerjaan gue sehari-hari, ya, bikin cerita. FIB ga ngajarin grand naratif kayak kritik kapitalisme. Definisi sastra jadi sempit banget. Gue dapet itu di FISIP & FISIP ga bilang itu cerita. Yang harusnya dipelajari FIB dari FISIP adalah: anak Sastra harus dapet penelitian lapangan! Kembalikan minimal matkul metodologi etnografi ke FIB.

FIB kayaknya takut ngomong kayak Rocky Gerung kalo agama, seperti semua institusi lain ya cuma cerita. Sapiens udah sangat bebal dengan itu semua, bahwa literally, kita hidup dalam sebuah cerita. Hell, gojek aja sekarang fiksi dalam surat legal dan kertas saham. Akhirnya anak Sastra banyak yang jadi pramugari, orang bank, apapun itu tanpa sadar kalo kantor mereka yang hidupi adalah fiksi yang dipercaya bareng-bareng, ampe pada depresi gara-gara kantor. Semua terlalu serius hidup dalam cerita.

Well, sekarang karena udah tahu, harusnya jadi punya pegangan kenyataan: kesehatan itu kenyatan, kematian itu kenyataan, makan, minum, berak, prokreasi itu kenyataan. Sisanya… Cuma cerita. Sans bae.

Dan anak Sastra/FIB harus bilang ini kalo ditanya kenapa kuliah di sastra: karena ilmu ini potensi kerjaannya adalah membuat peradaban, kehidupan. Dan cara lulusnya nggak cuma abstraksi doang, tapi juga melihat dengan jelas, cerita-cerita itu dipake buat apa di dunia nyata. Sastra adalah ilmu menciptakan… Termasuk menciptakan Tuhan, setan, atau ketiadaan. Serem kan.


Terima kasih sudah membaca sampe habis. Kalau kamu suka apa yang kamu baca, jangan lupa traktir saya kopi biar semangat menulis terus, dan saya jadi tahu bahwa ada yang membaca dan menghargai tulisan saya.