jurnalistik, Kurasi/Kritik, Racauan, Workshop

Membuat Struktur Cerita Otomatis

Ini adalah hack membuat struktur cerita tanpa pusing soal struktur cerita. Pusingnya yang lain: tema, anti tema, dan motivasi.

Pendekatan terbaik untuk membuat struktur cerita, menurut Craig Mazin, bukanlah dengan formula struktur, tapi dengan menggunakan dialektika Hegel yang diapropriasi ke dalam tema—sabar, kamu akan ngerti karena ini sebenernya gampang.

Dialektika Hegel itu rumusnya cuma pernyataan argumen (tesis), lawannya (antitesis) dan hasil dari debatnya (sintesis). Ini dasar semua narasi. Mari kita belajar berpendapat dan berargumen, agar bisa bikin cerita yang bisa didukung oleh mereka yang setuju sama kita. Cerita tanpa perdebatan adalah cerita yang gak punya jiwa.

Kita mulai sebuah argumen dengan pertanyaan contoh sederhana, apa pendapatmu tentang… Eskrim vanila?

Kamu bisa bilang enak, ga enak, kemanisan, atau kamu ga suka eskrim. Pendapat itu semua valid sebagai pendapat yang bisa dilawan. Ketika kamu bilang, misalnya, “Eskrim Vanila itu enak,” itu artinya kamu sudah punya tema.

Kamu tinggal mencari “anti-temanya,” yaitu “eskrim vanila nggak enak.”

Di sana tugas kamu sebagai tukang cerita adalah mengubah persepsi tokoh yang percaya eskrim vanilla gak enak, menjadi eskrim vanilla enak di akhir ceritanya–atau kesimpulan lain yang membuktikan anti tema di awal tadi salah.

Logline ceritanya bisa jadi, “Sebuah drama romantis SMA di Jakarta tahun 90an, tentang Andi yang tidak suka eskrim vanila, dan belajar menyukainya karena Dina, gebetannya, suka. Pada akhirnya Dina jadian dengan orang lain, dan Andi terlanjur suka eskrim vanilla.”

Struktur cerita dibentuk dari perjalanan Andi dari tidak suka menjadi suka dengan eskrim vanilla karena ia mencintai Dina. Di sinilah formula struktur bisa masuk. Kamu bisa pakai 3 babak, 4 babak cerita Jepang, 8 sequence, 15 beat, 7 langkah cerita, 72 aliran mashab Islam, 12 Rasul/zodiak/shio, struktur 8-6-9-2 dalam Fengshui, apapun itu terserah pokoknya penonton jadi yakin dan percaya bahwa mungkin banget eskrim vanilla jadi enak buat Andi.

Agar ceritanya bisa jalan dan kamu bisa membuat kerangkanya, kamu wajib tahu bahwa karakter bergerak dengan 3 ruang motivasi.

Pertama, internal. Karakter berpikir dan menimbang lalu ambil keputusan. Ketika Andi pertama kali melihat Dina, kagum, mencium harum linen dan rambutnya yang terbawa angin, internal Andi langsung bergejolak dan ia memutuskan bahwa ia mencintai Dina. Setelah itu motivasi bergerak untuk mendapatkan Dina.

Kedua, interpersonal. Tindakan karakter satu dipengaruhi karakter lain: Dina, Bakti (pacar Dina–#eaaa), Sari sahabat Dina, orang tua dan lain-lain mempengaruhi tindakan dan jalan cerita.

Ketiga, eksternal. Lagi jalan sama Dina tiba-tiba hujan deras, pake payung berdua terus yang basah cuma Andi, atau Andi sakit tipes dijenguk Dina, atau tiba-tiba ada Kaiju keluar dari bawah kelas, dan Andi dan Dina terjebak di reruntuhan.

Semua ini dibuat untuk mendukung sebuah tema: eskrim vanilla itu enak. Selama belom solid argumennya, gali terus risetnya. Hubungan Andi dan Dina dan dinamikanya harus bikin Andi dan penonton pengen eskrim vanila. 

Dari tema dan topik inilah, stakeholder filmnya bisa terkumpul. Ide dengan tema, anti tema, serta motivasi yang tegak bisa di-breakdown jadi penonton yang jelas dan investor yang juga jelas mendukung ceritanya.  Jika kamu penulis, sutradara, dan produser yang sedang mencari ide, pastikan dulu ide itu feasible dengan menyukai dan menyetujui tema-moral-argumennya.

Argumen saya adalah: Jangan bikin sesuatu yang kamu gak percaya karena bakal bikin bikin film yang penuh derita berasa di neraka.


Terima kasih telah membaca sampai habis. Website ini jalan dengan sumbangan, iklannya tak menghasilkan, dengan lisensi Creative Commons, Atribution, Non commercial. Kamu boleh pakai konten ini selama memberikan link sumber dan bukan untuk tujuan komersial. Kalau kamu suka dengan yang kamu baca, silahkan traktir saya kopi murah.

English, Memoir, Racauan

Work as an Art

All this talk about AI and automation worries many people about their lives and relevancy. But I think the most worrisome thing is when they are replaced by machines who can do what they do. For hard labor, it has been a concern for centuries, but artists never really think that creativity can be replaced. Stories and visual arts were not to worry that they might lose their jobs, until today, when AI and machine learning can do better than the average human.

Photo by Dan Cristian Pu0103dureu021b on Pexels.com

Well, it is scary when you lose your professional work, wealth, and your source of income. Skills that you have acquired by investing in education and portfolios for many years could be just gone. But I think, people ought to find their relevance with other people and face challenges to be more creative than the machine. We are, after all, perfect with our imperfections. Unlike machines we can get bored, we can break the rules, and we can make something out of the box, as long as we realize what the box is and where it is.

In a world where AI and automation are becoming increasingly prevalent, it’s crucial for individuals to adapt and embrace the changes rather than succumb to fear and anxiety. While it may seem daunting to imagine being replaced by machines, there’s still a unique and irreplaceable aspect of humanity that sets us apart.

As artists, writers, creators, and thinkers, we possess a profound capacity for imagination and emotion that machines cannot replicate. Our ability to express nuanced feelings, tell captivating stories, and convey the depth of human experience is what gives art its soul. No matter how advanced technology becomes, it will always lack the essence of true human expression.

Moreover, it is important to note that AI and machine learning are tools that have the potential to enhance and amplify our creativity, rather than diminish it. With the right blend of human intuition and technological assistance, we can push the boundaries of what is possible and embark on new artistic endeavors that were previously beyond reach.

Ultimately, our worth and relevance as artists are not solely determined by our technical skills or current job market demands. It is our unique perspectives, emotions, and ability to connect with others on a deep and meaningful level that make us indispensable in this rapidly evolving world.

Writing is not just about expressing myself, but also a way to organize my thoughts and emotions. While AI can assist with some aspects of writing, I believe in the power of human creativity and the joy of expressing myself through words. So I will keep on writing, and building connections with my readers.

AI can never replace human experience and human needs to make art. And art will always find a way to be more creative than ever, always opening new doors and possibilities.

xxx

Thanks for reading. This website is run by donations. If you enjoy what you read, please consider treating me to a cup of coffee. Click the button below, and hopefully, you are in a region where it is accessible.