Filsafat, Memoir, Racauan

Kacau Racauan Ini Fade Out

Terlalu banyak kekecewaan akhir-akhir ini pada orang-orang di sekitar kita, iya kan? Seperti idealisme-idealisme yang hancur karena kemunafikan, dan kira jadi tak tahu mau percaya sama siapa lagi.

Tapi buat apa lagi sih hidup kita ini selain melakukan apa yang biasa paling bisa kita lakukan. Dan jika ada masalah-masalah yang membuat kita meluapkan emosi-emosi yang sebenarnya tidak perlu ya sudah istirahat dulu untuk berjuang lain kali. Dan jika kita sama-sama punya perang yang kita sedang hadapi, ada baiknya kita fokus berperang dulu dan tidak serta merta bertemu hanya untuk bertengkar dan mengatakan hal-hal yang tidak maksud kita katakan satu sama lain.

Tapi menakutkan juga jika momen terlewatkan begitu saja dan kita takut salah satu dari kita mati dan tidak sempat kita memadu kasih satu sama lain. Tapi siapa yang bisa menentukan itu. Tidak ada kontrol di dunia ini dan sebenernya, sebenar-benarnya, dengan seluruh buku, data, dan sains dan agama dan segala tuntunan, kita masih bergerak buta. Arah tidak menentu. Dan aku, yang sudah S2 dan punya pengalaman kerja belasan tahu n, pengalaman cinta, patah hati, ditinggal mati, malah merasa semakin hari semakin bodoh.

Apa kah yang aku ajarkan benar? Adakah gunanya? Apakah jangan-jangan aku membawa orang-orang ke jalan yang salah? Aku sangat yakin pada peta yang kupunya, tapi bisa jadi aku salah baca, atau petanya sudah ketinggalan zaman. Entahlah.

Sial, aku tidak tahu bagaimana cara mengakhiri racauan ini, karena aku masih ingin terus bicara. Aku ingin bicara tentang angin yang tak henti-hentinya berhembus kencang ketika pagi ini aku naik ke bukit untuk mencari sinyal.

Aku mau bicara tentang burung-burung yang bercuit membawa kabar buruk tentang kegagalan-kegagalan di mana-mana. Burung-burung yang bersuara serak karena terlalu sering berteriak, memberaki kepalaku dan membuang reaknya ke mataku.

Aduh, aku yang tak tahu arah ini jadi bhfa, entah kemana aku jalan tapi aku tahu ini bukit jadi aku turun saja. Dan aku terkandung lalu kepalaku terbentur baru dan aku membuka mataku di depan HP dimana aku sedang menulis racauan yang tak ada akhir di draft websiteku dan membayangkan kamu membaca ini dengan khidmat dan terhibur oleh racauan orang gila yang mulai lupa memakai tanda baca untuk menulis dan tidak ada perasaan bahwa ini tulisan akan berakhir mungkin nanti akhirnya akan seperti fade in di lagu- l a g u l a m a d a n b e r l a l u b e g i t u s a j a s e p e r t i o r a n g y a n g k e t i d u r a


Website ini jalan dengan sumbangan. Kalau kamu suka yang kamu baca, traktir penulisnya kopi di tombol bawah ini:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.