English, Filsafat, jurnalistik, Kurasi/Kritik, MalesBelajar, Politik, Racauan, terjemahan

Solving the Paradox of Journalism Ethics in a Post-Truth World


In a world where social media algorithms decide what you see before your morning coffee kicks in, journalism is going in a paradoxical tightrope. We live in an era where the truth is sliced, diced, and served in byte-sized portions. Derivative content—the kind of news snippets that populate your feed—has become the dominant way people consume information. It’s a convenient, snackable approach to news, but it also hands readers a buffet of perspectives, letting them pick the narrative they want to believe. But here’s the rub: with great content comes great responsibility both for journalists and readers.

Photo by Nano Erdozain on Pexels.com



The Social Media Slice-and-Dice

Imagine news as a hearty loaf of bread. Back in the day, people consumed the whole loaf (or at least a thick slice) by watching the evening news or reading a full newspaper article. Today, social media takes that loaf, runs it through a mandoline slicer, and presents us with crumbs. One crumb might highlight the tragedy, another the politics, and yet another the odd humor in a situation. Readers scoop up the piece that suits their palate—and ignore the rest.

On one hand, this democratization of perspectives seems like a good thing. Want to focus on environmental impact? There’s a clip for that. Curious about the economic angle? Here’s a tweet-thread. But the danger lies in how easily people retreat to their echo chambers. Instead of seeing the full picture, audiences build their reality on carefully curated crumbs. And as they scroll, algorithms nudge them further into their comfort zones, reinforcing what they already believe.

The Reader’s Role: Stay Hungry, Stay Critical

Here’s where readers come in. Let’s be honest: critical thinking is like flossing—everyone agrees it’s important, but not enough people actually do it. In a post-truth world, where facts are up for debate and opinions masquerade as news, readers need to sharpen their skepticism. This isn’t about distrusting everything but about asking the right questions: Who’s behind this content? What’s their agenda? What’s missing from this angle? If readers fail to look beyond the crumb, they’ll never find the loaf.

But let’s not let journalists off the hook just yet. While the responsibility for critical consumption lies with the audience, journalism still has an ethical obligation to provide the tools and context for that critical thinking.

The Journalist’s Role: Breadcrumbs with Purpose

Journalists don’t get a free pass just because they’re handing out crumbs. If anything, their responsibility grows in this fragmented media landscape. Each social media post, each 30-second video, each meme even, should do more than grab attention—it should invite inquiry. Journalism needs to stick to its code of conduct, not by avoiding social media but by using it as a gateway to balance and depth.

For example, a tweet about a policy decision shouldn’t just say, “X happened.” It should nudge readers to ask, “Why did X happen, and what’s the broader impact?” A TikTok breaking down a controversial statement should end with, “Here’s where you can learn more.” In short, every social media post should be a call to action: Dig deeper. Stay critical. See the bigger picture.

This doesn’t mean spoon-feeding objectivity (after all, journalism isn’t a nanny). It means creating a bridge between the viral and the verified, encouraging readers to move beyond the headline or the soundbite and into the rich, nuanced world of full-fledged reporting.

Balancing Ethics with Reality

Let’s face it—journalists are working in a hyper-competitive, click-driven environment. But ethical journalism isn’t about pandering to clicks; it’s about creating content that resonates and respects the audience’s intelligence. It’s about presenting multiple angles without being manipulative, and about holding up a mirror to the truth, even when it’s uncomfortable.

The goal? Empower the audience to choose not just what they want to believe, but what they ought to know. Journalism must give audiences access to the whole loaf while respecting their right to take just a slice. But it’s that ethical nudge—embedded in every crumb—that ensures journalism remains journalism, even in a post-truth world.

The Call to Action: A Two-Way Street

So, what’s the solution to the paradox? It’s not about choosing between crumbs or loaves, headlines or deep dives. It’s about weaving critical thinking into every layer of media consumption. Journalists need to craft content that balances accessibility with accountability. Readers need to step up and demand more than surface-level stories.

In a world where perspectives are tailored, biases are baked in, and truths are contested, journalism’s greatest act of service is to create not just content, but context. And readers? They need to meet the profession halfway by embracing curiosity over comfort.

Because in the end, the post-truth world doesn’t mean the truth is dead—it just means we all have to work harder to find it.

Filsafat, jurnalistik, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan

Memecahkan Paradoks Etika Jurnalisme di Era Post-Truth

Media sosial hari ini seperti warung pecel lele yang buka 24 jam: selalu ada yang bisa kita pilih. Tapi, sama seperti kita sering memilih lele goreng daripada tahu tempe karena lebih menggoda, cara kita memilih informasi di linimasa juga cenderung mengikuti selera pribadi. Potongan kecil berita yang kita lihat di media sosial memberikan berbagai sudut pandang, tapi sering kali hanya yang sesuai dengan opini kita saja yang kita klik atau bagikan. Inilah tantangan besar bagi jurnalisme: bagaimana tetap berpegang pada etika di tengah budaya “ambil sesuai selera”.

Potongan Berita ala Media Sosial

Dulu, orang dapat berita dari koran pagi atau tayangan berita malam—lengkap, penuh konteks. Sekarang, berita seperti dipotong-potong kecil, lalu disebar ke linimasa kita dalam bentuk klip 15 detik atau satu paragraf. Akibatnya, pembaca memilih hanya bagian cerita yang cocok dengan opini mereka.

Contohnya begini: kalau ada berita tentang kenaikan BBM, satu potongan mungkin menyoroti dampaknya pada nelayan kecil, potongan lain membahas kebijakan pemerintah, dan potongan lainnya lagi mungkin hanya fokus pada meme tentang antrean di SPBU. Semua informasi itu penting, tapi kalau kita cuma lihat satu sisi, pandangan kita jadi terbatas.

Masalahnya, algoritma media sosial makin memperkuat pola ini. Semakin sering kita klik satu jenis berita, semakin sering kita disodori hal serupa. Lama-lama, kita terjebak dalam “ruang gema” yang membuat kita merasa pandangan kita sudah lengkap, padahal jauh dari itu.

Pembaca Juga Punya Peran

Sebenarnya, tanggung jawab untuk berpikir kritis ada di pembaca. Kalau berita itu seperti pecel lele, ya jangan cuma makan lele terus. Cobalah tahu dan tempe juga, biar nutrisinya seimbang. Artinya, kita harus melihat isu dari berbagai sudut, bukan hanya yang kita suka. Jangan puas hanya dengan headline atau klip viral, coba cari tahu konteksnya. Siapa yang membuat konten itu? Apa motifnya? Apa sisi cerita yang belum terlihat?

Tapi jurnalis juga nggak boleh lepas tangan. Tugas mereka adalah memastikan pembaca punya peluang untuk menggali lebih dalam.

Tanggung Jawab Jurnalis: Remah dengan Arah

Jurnalis punya pekerjaan rumah. Kalau bikin konten untuk media sosial, jangan cuma bikin yang viral, tapi pikirkan bagaimana potongan itu bisa memancing pembaca untuk berpikir lebih kritis. Setiap klip atau postingan harus punya pesan yang jelas: “Ini baru satu sisi. Kalau mau tahu lebih banyak, klik link berikutnya.” Berita lengkap mungkin ada di website yang jarang dilihat orang, tapi kelengkapan data itu adalah tanda sebuah kredibilitas.

Misalnya, kalau bikin TikTok soal banjir, jangan cuma menunjukkan orang main kano di tengah jalan. Tambahkan informasi tentang apa yang menyebabkan banjir itu dan apa yang bisa dilakukan untuk mencegahnya. Setiap potongan berita harus seperti pintu menuju informasi yang lebih lengkap, bukan hanya jendela kecil yang bikin orang puas dengan pandangan sempit. Hidup di dunia penuh teaser, membuat orang suka lupa kalau itu teaser.

Boleh dicacah, tapi selalu siapkan menu lengkap!

Menjaga Etika di Tengah Realitas

Jurnalisme memang berhadapan dengan kenyataan yang sulit: semua orang berlomba mencari perhatian di media sosial. Tapi etika tetap harus jadi prioritas. Bukan berarti jadi membosankan, tapi jurnalisme harus berani menyajikan sudut pandang yang berimbang, meski itu mungkin tidak populer.

Tujuannya adalah memberi audiens kesempatan untuk memilih bukan hanya apa yang ingin mereka percaya, tapi juga apa yang sebenarnya perlu mereka ketahui. Media sosial memang membantu menyebarkan informasi lebih cepat, tapi tugas jurnalis adalah memastikan informasi itu tetap lengkap dan akurat.

Kerja Sama Dua Arah

Solusinya sederhana tapi berat: jurnalis dan pembaca harus saling membantu. Jurnalis harus membuat konten yang tidak hanya menarik, tapi juga mendidik. Pembaca harus lebih aktif dan kritis, tidak puas hanya dengan apa yang ada di linimasa.

Di era post-truth ini, kebenaran itu bukan mati—dia cuma terselip di antara potongan-potongan berita. Tugas kita semua adalah menyatukan kembali potongan itu, agar kebenaran bisa kembali utuh. Karena, kalau nggak, yang menang cuma algoritma. Dan percayalah, algoritma nggak peduli sama etika.

jurnalistik, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan

Selesainya “Hak Politik Mahasiswa”

Saya hanya akan merepost sebuah tulisan saya, yang saya temukan di blog lain dan saya tulis pada tahun 2014, ketika saya baru menjadi dosen sosiologi/antropologi dan mulai melihat akhir dari hak politik mahasiswa. Mari diskusi!

HAK POLITIK MAHASISWA

Nosa Normanda, 7 Oktober 2014

Politik menurut kamus Merriem-Webster adalah ‘aktifitas yang berhubungan dengan pemerintahan sebuah Negara atau area lain, khususnya debat atau konflik di antara individual atau kelompok-kelompok, atau mereka yang berharap mendapatkan kekuasaan.’ Dalam definisi ini, ‘area lain’ dan ‘individu’, ‘kelompok’,’yang berharap…kekuasaan’ bisa siapa saja. Ia bisa jadi seorang bocah yang minta dibelikan eskrim oleh orang tuanya, atau remaja yang ngambek dan mogok makan di rumah karena ingin iPhone 6. Atau seseorang yang mem-friendzone setiap orang yang menggebetnya.

Tapi ketika kita bicara soal “Negara”, atau bahasa kerennya “politik makro,” kita tidak bisa melebarkan definisi politik seperti itu. Untuk bisa masuk ke ranah besar itu, ada banyak syarat yang harus dipenuhi seorang individual. Syarat ini sangat bergantung pada kematangan berpikir sebuah Negara dan penghuninya. Semakin sedikit orang yang mampu berdialog dengan bahasa politik ‘kenegaraan’, atau semakin totaliternya Negara terhadap penduduknya, membuat semakin sedikit orang yang bisa terhubung dalam konteks besar itu. Dan menjadi tidak terhubung artinya menjadi tiada.

Ketiadaan bisa dilihat ketika Negara atau yang lebih tinggi dari Negara (multikorporasi, badan multinasional seperti IMF atau Bank Dunia) dengan instrumennya (legalitas, bantuan luar negeri, dan tentara) bisa dengan semena-mena mengeksploitasi alam dan isinya. Karena alam dan isinya dianggap objek yang pasif, sebuah wilayah kosong yang bisa dijamah seenaknya—toh yang menghuninya tidak dianggap ada. Contohnya bisa anda google sendiri, dari eksploitasi hutan dan tambang di Kalimantan, Sulawesi dan Papua, hingga terpinggirkannya warga kota Depok oleh Mal. Ini semua adalah hasil dari kesenjangan politik-ekonomi yang berujung pada kebisuan publik. Publik yang tak mampu bicara bahasa sang opresor, dan karenanya dianggap tidak ada.

Keberadaan Indonesia sebagai Negara diawali dengan kemampuan bicara bahasa penjajah, kemampuan membaca, menulis, dan berpikir. Indonesia diawali dengan keberadaan mahasiswa-mahasiswa yang mewakili bangsanya. Kekuatan kaum intelektual ini terus ada hingga tahun 1966, setelah itu, pemerintah militer berusaha membungkamnya dengan berbagai kebijakan dan pada akhirnya pemerintahan sipil pasca reformasilah yang ironisnya berhasil mengubah universitas-universitas menjadi pabrik tenaga kerja. Akhirnya konteks pergerakan mahasiswa dan produk-produk politiknya mandeg di kampus. Demonstrasi penuh dengan kekalahan argumen, tidak ada ide baru yang dilempar ke publik (ide seperti nasionalisme, demokrasi atau sumpah pemuda). Ini menjadi tambah menyedihkan, ketika aparatur Negara memberi dan mengambil hak politik seenak udel mereka demi mengabsahkan kekuasaan. Seperti raja-raja zaman dulu yang membuat babad atau buku sejarah yang mengklaim mereka keturunan Nabi atau hasil pilihan parlemen surgawi.

Tulisan ini bukan bermaksud memprovokasi agar mahasiswa “bergerak” atau “peduli.” Tujuan utamanya adalah untuk mengawali sebuah diskusi tentang sebuah hak politik yang hanya dimiliki orang berusia di atas 17 tahun di Indonesia: hak untuk diakui Negara sebagai manusia dewasa (dengan KTP) dan hak untuk bersuara dalam pembentukan Negara atau hak untuk taat dan tak taat terhadap produk hukum Negara—yang harus berdasarkan pada akal sehat. Karena sebagai kaum terdidik, mahasiswa dan civitas akademika punya tanggung jawab yang lebih besar daripada orang awam: kita punya akses informasi yang besar, metodologi kelilmuan dan kita punya kewajiban untuk mengabdi pada masyarakat dengan ilmu yang kita punya. Setiap pengabdian, sekecil-kecilnya, juga adalah tindakan politik, dan setiap tindakan politik dari ranah akademik semestinya bersifat manusiawi (humanistik), yaitu tindakan yang memberi kekuatan tawar pada setiap individu di Negara ini agar tidak mudah tergilas oleh tiran atau tertipu oleh orang yang lebih pintar.

Tulisan di atas menjadi sebuah Term of Reference diskusi Jumat Kelabu, di Kantin Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, di tanggal yang sama. Berikut adalah recapnya.

DISKUSI JUM’AT KELABU

Hari jumat kemarin, tema diskusinya adalah “Hak Politik Mahasiswa.” Diskusi diadakan di kantin sastra FIB UI, di tengah makan sore mahasiswa.

Yang dibicarakan sederhana. Kita saling berbagi tentang pengalaman setiap orang dan politik. Bagaimana politik individual bisa mempengaruhi politik negara, bagaimana gerakan mahasiswa tahun 98, bagaimana gerakan mestinya dilakukan sekarang.

Kesimpulannya sederhana: semua dimulai dari hal kecil. Dari membaca dan sadar wacana politik, hingga mengkritisi melalui diskusi, suray terbuka atau pernyataan di social media.

Para alumni aktivis 98 berbagi tentang peran serta mereka yang dimulai dari kepedulian sosial melalui diskusi akademis di luar kelas, wartawan politik Tika Primandari menceritakan soal pengalamannua sebagai mahasiswa yang mampu mencari dan mengakses informasi sendiri, dan para mahasiswa bercerita tentang sistem pendidikan yang begitu ketatnya, hingga mereka tak sempat berpikir atau bergerak secara politik–demi nilai kuliah dan hidup sehari-hari.

Kesimpulan akhirnya adalah diperlukan sebuah usaha besar untuk melakukan hal-hal kecil, agar bisa ikut berpartisipasi sebagai mahasiswa dan warga negara, khususnya menghadapi pemerintahan dan parlemen yang nampaknya akan bertarung secara sengit 5 tahun ke depan. Mahasiswa sebagai orang-orang yang punya akses terhadap informasi, harus menggunakan akses itu sebaik-baiknya dan mengabdi pada masyarakat sesuai dengan porsinya sebagai civitas akademika. Dengan cara apapun, yang penting berkontribusi.

Karena politik itu PERSONAL.

Film, Kurasi/Kritik

The Outfit: Satu Set Drama Mafia, akting luar biasa



Film “The Outfit” (2023) adalah sebuah drama yang mengisahkan kehidupan Leonard Burling, seorang tukang jahit yang tinggal di Chicago pada tahun 1950-an. Film ini berfokus pada permainan kuasa antara karakter-karakter yang terlibat dalam dunia mafia. Meskipun storyline-nya cukup klise, film ini menarik perhatian berkat akting para aktor yang memukau dan dinamika antar tokoh yang kompleks, dan treatment teater yang dipakai dalam gaya sinematisnya.

The outfit 2023 bercerita tentang Leonard (Mark Rylance), seorang cutter atau tukang jahit yang bisa membuat jas untuk orang-orang kaya, yang berasal dari Inggris dan tinggal di Chicago pada tahun 1950-an ketika Chicago menjadi salah satu kota yang banyak mafianya. Storylinenya cukup klise, yang saya tidak mau cerita di sini karena kalian bisa nonton sendiri. Yang menarik dari film ini adalah para karakter atau tokoh yang dimainkan aktor-aktor yang sangat hebat dalam hal pembentukan tokoh dan dinamika antar tokohnya. Ini film drama yang hanya bersetting di satu tempat saja jadi rasanya seperti teater yang dibumbui dengan shot-shot sinematik dari pembuatan setelan jas. Saking terasanya nuansa pementasan dalam film ini, ada kritik yang mengatakan bahwa ketika ia tahu film ini tidak diangkat dari drama panggung, ia malah kecewa. Pengalaman menonton filmnya membuat kita sangat merasakan sedang menonton sebuah teater.

Cara penyampaian dialog dan aksen setiap tokoh benar-benar terasa dari era 50-an di Chicago di mana komposisi identitas penduduknya adalah keturunan dari Irlandia datang dari selatan Amerika dengan aksen Texas yang kuat dan imigran dari negara di Afrika jajahan Perancis. Apalagi naskahnya merujuk pada karya-karya sastra seperti Oscar Wilde dan sastrawan-sastrawan awal abad 20 dari Inggris. Sungguh wahana yang ditampilkan oleh naskahnya seharusnya adalah sebuah panggung bukan film.

Terlepas dari wahana yang secara subjektif saya rasa kurang tepat, permainan yang memukau dari setiap aktor memberikan sebuah gambaran tentang permainan kuasa yang terjadi antara setiap tokoh. Tokoh sentral di film ini bernama Leonard Burling, seorang tukang jahit dan pembuat setelan jas yang sejak awal film kita lihat sangat tua, lemah, tekun, dan penuh pengabdian kepada pekerjaannya sebagai tukang jahit untuk setelan jas yang dibuat dengan sangat sulit. Ia dibantu oleh seorang gadis bernama Mabel yang adalah warga lokal di daerah tempat toko itu berdiri. Mabel punya cita-cita untuk bisa ke luar negeri secara independen. Latar belakang Mabel adalah anak dari seorang mafia yang mati misterius bertahun-tahun sebelumnya. Di film ini kita melihat bahwa karakter Leonard dan Mabel adalah karakter-karakter yang tidak heroik dan menjadi korban dari sindikat mafia yang ada di Chicago saat itu.

Lalu di pihak mafia ada sebuah keluarga besar dari seorang mafia bernama Roy Boyle. Ia punya anak bernama Richie dan seorang ajudan yang sangat ia banggakan bernama Francis. Sejak awal kita melihat Richie dan Francis kita sudah merasa ada yang aneh di antara hubungan mereka bahwasanya Francis adalah seorang dari jalanan yang sangat sadis tapi bisa yang sama juga mengabdi kepada Roy yang ia anggap ayahnya sendiri dan mengangkatnya dari jalanan.

Saya tak perlu melanjutkan soal cerita ini karena sudah ketebak tapi yang penting dari film ini adalah permainan setiap aktor sebagai tokoh-tokoh itu sangat meyakinkan dan sangat padat sehingga kita pelan-pelan melihat proses perubahan setiap karakter walaupun kita tahu seperti apa endingnya nanti karena ceritanya cukup klise tadi.

Film ini hanya ada dua set. Set minor adalah di tampilan luar toko, dan set mayor yang mendominasi adalah di dalam toko yang terdiri dari tiga ruang: resepsionis/ruang tunggu, ruang pameran dan pengukuran, dan ruang workshop. Di antara dua ruang terakhir ada toilet kecil untuk cuci tangan atau buang air, yang shotnya, seingat saya hanya dari luar.

Film ini tidak memberikan hal baru tentang budaya mafia yang sudah kadung populer di dalam film-film Hollywood. Bahwasanya ada keluarga-keluarga mafia dari para imigran baik dari Italia ataupun Prancis membuat kita cukup akrab dengan tema keluarga mafia di dalam film ini. Yang menjadi pertanyaan sebenarnya kenapa tidak ada mafia Inggris di dalam film-film Hollywood Amerika. Karena tokoh utama kita dalam film The outfit adalah seorang imigran dari Inggris yang tidak terlihat seperti mafia. Apalagi di Inggris geng dan mafia merajalela sudah lebih lama daripada di Amerika Tapi tidak dalam bentuk multikultural seperti di Amerika. Di Inggris tentunya kita kenal punk mod subkultur subkultur yang menjadi semacam dunia mafia sendiri. Dan kita tahu bahwa mod adalah subkultur gangster Inggris dengan baju yang rapi. Jadi bisa disimpulkan bahwa tokoh Leonard dalam film The Outfit adalah dari subkultur mod di Inggris.

Sebagai kesimpulan saya rasa ini film yang penting untuk ditonton para aktor dan sutradara serta produser yang ingin memaksimalkan akting dan production design dalam film mereka. Di Indonesia mungkin bisa dibuat lebih murah, dengan set yang terbatas Tapi maksimal apalagi film drama di Indonesia adalah salah satu genre yang juga sangat disukai orang. Tinggal bagaimana cara mencari penulis aktor produk desain sutradara yang punya kepekaan terhadap sejarah dan pengalaman karakternya. Iya, saya tahu itu artinya semuanya. Haha.

Selamat syuting.