Ethnography, Kurasi/Kritik, Musik, Politik, Racauan

Agnezmo Takkan Seterkenal Billie Eilish Karena Kita

Saya fans Billie Eilish, dan itu tidak dimulai dari musik. Kesukaan saya pada Eilish dimulai sejak saya menonton film dokumenter “The World’s A Little Blurry,” karya sutradar R. J. Cutler, yang memaparkan proses pembuatan album dan perjalanan Billie dari panggung ke panggung, dan coming of age-nya sebagai seorang superstar. Saya pikir, kenapa anak ini bisa sekeren itu, dalam umur semuda itu punya referensi sebanyak itu, pengetahuan dan filsafat yang dalam, tapi terjebak dengan kebingungan dan masalah hormonal anak seusianya? Sebagai seorang antropolog, ini menarik perhatian saya.

Lalu saya mulai berpikir, siapa di Indonesia yang seperti itu dan bisa mewakili kebudayaan kita? Dari beberapa pilihan, saya memilih Agnezmo yang walau umurnya beda hampir 20 tahun dengan Billie, tapi melalui jalur yang sangat-sangat proper dan berat untuk mencapai ketenarannya. Proper artinya, dia membangun karir dari kecil, dan dari media kita melihat dia cukup didukung keluarga, plus image-nya terjaga dengan baik dari skandal besar. Ini menarik buat saya karena mereka berdua adalah sudah di tingkat yang tinggi sebagai icon kebudayaan Amerika Serikat dan Indonesia, dan mereka sedikit banyak bisa menjadi penanda tidak langsung, sudah sejauh mana kebudayaan kita.

Apa saja persamaan Agnezmo dan Billie Eilish?

Pertama, mereka sejak kecil dididik untuk jadi seniman. Agnes sudah jadi penyanyi dan aktris cilik dari kecil. Waktu remaja, tema pernikahan dini yang sekarang ngetrend lagi karena Dua Garis Biru dan Yuni, sudah duluan dibikin sama Agnes lewat sinetron. Agnes juga sudah berkali-kali ganti imej setiap kali ia melewati fase hidupnya. Sementara Billie Eilish, yang umurnya tentunya jauh di bawah Agnes, hidup di keluarga seniman teater yang memperbolehkannya untuk homeschooling dan belajar merancang kehidupannya sedari kecil. Tidak seperti Agnes yang media exposurenya tinggi dari kecil, Billie mulai dari komunitas dan keluarga. Komunitas ini lah yang menjadi pendengar pertama lagu-lagu yang dibuat kakaknya, Finneas, seorang songwriter/arranger jaman sekarang yang membuat semua rekamannya di rumah.

Kedua, mereka tidak punya skandal besar–besar dalam konteks ini adalah skandal perselingkuhan, video porno bocor, atau apapun itu yang mewarnai infotainment dan lambeturah dengan gibahan keterlaluan. Berarti di balik ketenaran mereka ada korporat dan struktur yang bekerja untuk menjaga image dan asupan media terhadap mereka.

Ketiga, image mereka sangat kontekstual. Agnezmo sudah mendahului Billie bertahun-tahun dan seperti banyak diva pasca MTV yang masih bertahan hingga hari ini, Agnezmo sudah berkali-kali ganti pencitraan dari penyanyi cilik, menjadi gadis remaja yang well behaved, perempuan galau anggun dengan lagu sendu, lalu diva hiphop garang dengan lagu-lagu empowerment (walau duetnya bersama Chris Brown sempet bikin was-was takut dia ditampol kayak Rihanna, tapi sepertinya Agnez lebih berotot dan tampolannya lebih serem). Anyway, dari segala standard industri internasional ke kiblat Amerika, Agnezmo is so far the best. And I don’t think that’s an opinion. Kalau kiblatnya Eropa, Anggun is still my favorite, tapi nanti itu kita simpan untuk tulisan lain. Di sisi lain, Billie baru memasuki fase ke tiganya, perempuan pirang yang elegan, setelah dia jadi anak aneh, anak aneh yang nakal, dan anak aneh yang galau. FYI, anak aneh adalah imaji semangat zaman millenial ini, postmodern banget.

Keempat, mereka nggak modal tampang dan body doang, tapi skillnya gila banget. Waktu saya dengar Billie Eilish di Spotify, saya pikir dia banyak pake vocal effect, karena ada suara serak yang kedengeran double, atau suara autotune yang saya pikir adalah kerjaan sound designer. Tapi waktu nonton dokumenternya dan lihat dia latihan di kamar nggak pake microphone, eh gila, itu bukan kerjaan komputer. Pita suaranya memang bisa menghasilkan suara-suara ajaib itu. Inilah yang kita sebut woman-machine interface ketika komputer mengajarkan manusia teknik vokal baru.

Sementara, sebagai orang yang umurnya cuma beda setahun sama Agnezmo dan tinggal di Indonesia, saya nggak perlu usaha banyak untuk lihat perbedaan vokal dan performance Agnez sejak awal karirnya. Dan perkembangan skillnya kayak belom kelihatan batasnya. Apalagi pasca exposure di US. Saya sempat kecewa dengan single-single awal US nya, apalagi di lagu-lagu yang heavy banget editingnya. Tapi makin ke sini, Agnez berhasil banget ambil kekuasaan di negeri orang dan dia semakin mateng ngatur semuanya sendiri. Muncul vokal aslinya yang damn! Beda banget sama vokal Indonesianya! Sebagai alumni Sastra Inggris, saya tahu banget bahwa bahasa Inggris punya kelebihan bunyi vowel dan konsonan yang jauh lebih beragam dari bahasa Indonesia. Ada kebebasan-kebebasan baru yang Agnes dapat dari nyanyi bahasa Inggris dengan genre yang nggak menye-menye terus untuk kuping Melayu. Topik liriknya pun bisa jauh lebih beragam karena ada banyak hal, konsep, dan ide yang tidak mungkin diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia.

Dan ini membawa kita ke topik tulisan ini, sebuah fakta dimana Agnezmo nggak mungkin ngejar Billie Eilish dalam soal stardom. For starter, Agnez harus kerja ribuan kali lebih keras dan lebih lama dari Billie untuk bisa masuk ke sebuah struktur industri global. Plus, sekaya-kayanya keluarga Agnez, dan sebagus-bagusnya sekolah dia, akses pada informasi dan sistem pendidikan mumpuni agak susah di Indonesia. Buat belajar yang kreatif aja susah banget karena angkatan kami (Agnez dan saya) ada di bawah rezim yang baru reformasi dan galaunya setengah mati–well angkatan kalian juga sih tapi kami lebih parah karena perploncoan banyak banget dan mikir kritis itu dosa.

Soal fandom… well ini saya nggak mau ngomong. Karena kalau bicara soal fandom dari seorang yang sudah besar, ngomong apapun pasti salah. Tapi satu hal yang bisa saya garis bawahi soal perbedaan fandom US dan Indonesia adalah, fandom di Indonesia kurang banyak kajiannya. Fans itu hal penting dalam industri, dan ketika bicara Billie Eilish saya menemukan paper-paper keren soal hubungan fandom Billie Eilish dengan gerakan politik keanehan (Weirdization) yang menggambarkan semangat zaman seperti generasi X yang pemberontak dan membawa kita ke reformasi–fans Billie dikarakteristikan sebagai kaum dengan selera humor yang gelap dan aneh, khususnya soal politik. Atau penggemar K-Pop yang mulai membuat banyak sekali perubahan-perubahan sosial yang besar. Sementara ketika Agnezmo mulai gerakan-gerakan besar empowerment, belum ada kajian soal fanbase yang mengikuti itu dan membawa campaignnya. Agnezmo sering bicara soal mental health/kesehatan jiwa, atau kesetaraan gender. Fansnya yang sangat banyak itu mungkin juga sudah ada yang angkat bicara. Tapi mana kajiannya?

Kajian pop culture dan fandom ini penting sekali untuk membuat sebuah pop icon punya peran besar dalam perubahan peradaban kita. Dan ketika icon-nya sudah bicara, fans-nya sudah ikut, tapi kajiannya nggak ada, kita tidak bisa mereduplikasi metodologi itu ke dalam industri kita, dan hasilnya, bangsa kita nggak maju-maju. Jadi bisa jadi bukan Agnezmo yang tidak bisa mengejar Billie Eilish. Kita saja yang masih berdaya baca rendah, dan lebih sibuk ngambek-ngambek karena nggak dikasih MV baru sama idola kita, misalnya.

Semoga tulisan ini bisa memulai diskusi dan kajian-kajian penting itu. Buat menutup tulisan ini, saya kasih MV Agnezmo sama Chris Brown yang menurut saya, keren.


Website ini dibuat dengan donasi. Kalau kamu suka dengan yang kamu baca, kamu bisa traktir kopi untuk yang nulis dengan menekan tombol di bawah ini:

Film, Kurasi/Kritik

Eternals dan Matinya Mitologi Tuhan

Kebanyakan orang beragama pasti spanneng, kalau Tuhan dibilang mitos, apalagi dongeng. Rocky Gerung pernah kena batunya waktu dia bilang agama adalah fiksi. Tapi yah, kita mau bilang apa sama kebebalan spesies kita? Yang bikin kita jadi manusia toh ternyata bukan akal, bukan logika, tapi dongeng apa yang mau kita percaya.

Kita sudah menemukan hal-hal paling mutakhir: tulisan, metode pengumpulan data, perekam data. Dan data ini terus kita olah menjadi peradaban kita. Tapi data tidak ada gunanya tanpa cerita. Cerita adalah manual kita, semacam petunjuk arah bagaimana kita mau memaknai sebuah data. Data tentang hidup kita, misalnya, cuma bisa relevan kalau kita bagun dalam sebuah cerita.

Kisah-kisah superhero, tidak jauh beda dengan kisah-kisah di kitab suci. Bedanya cuma institusi yang menghasilkannya. Institusi produksi film atau sastra akan dengan gampang mengakui bahwa mereka adalah pabrik imajinasi. Sementara institusi agama akan selalu bilang mereka memegang yang lebih nyata dari yang nyata (baca: akhirat). Tapi orang songong, atheist yang solat, seperti saya akan bilang bahwa memang Tuhan, Dewa-dewa, Setan, Akhirat, Agama-agama, semuanya sama saja dengan dongeng. Mitos. Imajinasi. Semua itu bukan kenyataan tapi jadi pegangan kita dalam menghadapi dan membentuk kenyataan.

Pembicaraan filsafat panjang ini penting saya paparkan ketika bicara soal Film Eternals Marvel-Disney. Ini termasuk film dengan naratif paling songong. Avengers dan Thanos, Dr. Strange, Thor, itu udah bener-bener songong kan. Bayangin aja ada Tuhan bawa-bawa palu, kalah lagi sama Hulk–makhluk yang diciptakan sains. Malu. Untungnya orang Norwegia dan Viking yang beberapa masih menganut agama lama gak sensian kayak orang Islam yang dengan gampang gasih fatwa mati. Mungkin itu juga penganut agama Viking sudah beragama buat gaya-gayaan aja. Toh, negara merka udah jadi salah satu negara termaju di dunia.

Jadi Marvel ini memang segerombolan komikus yang paling songong, bikin dan make imajinasi Tuhan dan mitologi orang dengan semena-mena. Jadi inget buku The American Gods-nya Neil Gaiman, yang ngumpulin seluruh Tuhan-tuhan kuno di Amerika sebagai simbol imigran. Di buku itu nggak ada Allah (adanya Jin) , dan itu membuktikan keberhasilan fatwa mati orang Islam terhadap Salman Rushdie atau Ki Panji Kusmin, yang bikin gak ada penulis mainstream yang akan berani buat “menghina Islam”.

Eternals songong karena mereka bikin plot multidimensional, ketuhanan, dan Paralel Universe Marvel jadi tambah keos. Plus, dunia mereka berkelindan sama Avengers dan X-Men. Gile, Marvel nih udah kayak 72 aliran Islam. Plus mereka udah jelas plagiat beberpa superhero DC, lalu dengan bebasnya ngasih reference bahwa Ikaris adalah Superman. Mungkin udah tahu kali ya kalo Ikaris emang referencenya Superman, makanya daripada dibilang plagiat mendingan hajar bae ngaku itu tribute.

Kelindan, claim, dan tinggi-tinggian superhero itu bukan hal baru. Waktu Sunan Kalijaga bikin wayang, dia pake cerita Hindu dan dewa-dewa Hindu dari Ramayana dan Mahabarata. Bedanya, dan ini yang keren banget dari pembajakan agama Hindu untuk dakwah Islam, sang Sunan ngasih Gusti Allah sebagai dewa tertinggi, dan Punakawan (manusia biasa) sebagai tokoh bijaknya. Resmi tuh agama dibajak untuk dakwah agama lain. Keren. Dan ga ada yang ngamuk saat itu, kerena cerita wayang seseru cerita superhero yang sekarang sering kita tonton.

Menarik melihat Sapiens mengkategorikan agama dan cerita yang mirip agamanya tapi bukan agamanya. Double standard dan paradoxnya ga nahan juga: bahwa agama terinstitusi lebih bisa dipercaya daripada superhero. Kebayang nggak sih kalo dimasa depan, semua superhero ini menggantikan Tuhan kita hari ini, kagak bagaimana Tuhan kita hari ini menggantikan dewa-dewa dan mitologi nenek moyang kita?

Kebayang dong, tapi pasti banyak orang akan deny. Nggak ada yang mau Terima bahwa Tuhan itu jahat. Tapi Tuhannya Eternal, jahat. Ini ancurnya logika film ini. Tuhannya Eternal jahat padahal dia cuma force of nature. Semua juga pada akhirnya akan meledak atau beku. Lucunya Tuhannya Eternals malah kasih kesempatan kedua pasca kiamat, seakan Tuhan bisa dipetisi dewa-dewa atau para malaikatnya. Kalau dibandingkan sama agama semit, Tuhan akan menjadikan malaikat yang mengritiknya jadi setan dan membuangnya ke neraka.

Sudahlah. Mereka perlu itu buat bikin cerita yang manusiawi. Dewa-dewa abadi yang hidup disekitar kita, ama-lama jadi kita. Gitu kali maksudnya. Kasihan amat. Mental tuh dewa-dewa abadi yah. Yang jelas dari jaman Yunani kuno, Dewa-dewa emang udah galau aja sih, mau jadi kayak manusia yang rendah hati, atau kayak manusia yang sombong. Ini membuktikan mitologi Tuhan atau Dewa dengan karakteristik manusia masih laku aja.

Gue rasa percuma ngomongin akting atau aspek teknis di film ini. Apalagi CGI nya banyak banget, udah lah ya. Tapi menarik sih melihat Hollywood dan obsesinya terhadap dewa-dewa dan agama tua. Dari Clash of Titans sampe Gods of Egypt, Hollywood suka banget bawa-bawa nama Tuhan. Well mungkin ini tradisi reinassance Eropa, yang dengan songongnya melukis Yesus dengan kulit putih. Padahal Yesus dalam bukti sejarahnya harusnya Yahudi berkulit gelap.

Klaim-klaim semacam ini bukanlah sebuah hal baru. Mereka yang menguasai seni dan media bisa membuat berbagai macam klaim. Karenanya semakin bebas sebuah media seni, semakin tidak berharga pula klaim-klaim itu. Klaim cuma bisa bekerja dalam sebuah sistem buku rekam seperti hari ini kita punya blockchain. Tanpa ada sistem rekam , maka klaim tidak berharga karena tidak bisa diverifikasi–begitupun Tuhan. Tanpa ada instutusi Agama maka Tuhan tidak bisa diferifikasi sebagai sebuah kode yang menyatukan banyak orang di dalam lindungan (agama)-Nya.

Kembali pada The Eternals, satu hal yang penting dari franchise film ini adalah bagaimana kaum abadi ini merangkum peradaban besar manusia, dan mengklaim diri mereka sebagai bagian dari sejarah peradaban manusia. Dan kesiumpulannya, seperti banyak film superhero hari ini, bukan tidak mungkin di masa depan, superhero hari ini adalah Tuhan di masa depan.


Website ini jalan dengan donasi. Kalau kamu suka yang kamu baca, kamu bisa bantu sang penulis untuk bisa tetap punya blog yang proper dengan mentraktir dia kopi dengan menekan tombol ini:

Film, Gender, Kurasi/Kritik, Memoir, Racauan

Quo Vadis, Henricus Pria?

Tulisan ini buat mbak yang komen di IG cinemapoetica. Ya, saya patriarki. Itu ideologi yang dipakai semua orang hari ini. Dan saya feminis, karena saya melawan ideologi itu, termasuk melawan diri dan privilise saya sendiri sebagai lelaki heteronormatif, yang berusaha untuk terus evaluasi diri. Yes, thank you, saya tidak kenal kamu tapi saya menghormatimu. Semoga bahagia dan sehat-sehat, ya.

Ketika rumah produksi Penyalin Cahaya menyebarkan kabar bahwa penulis naskahnya dicoret dari kredit karena menjadi terduga pelaku pelecehan seksual, saya sangat galau. Saya sedang ada di tengah project film panjang pertama saya, 6 film pendek yang saya eksekutif produser sedang jalan post produksi dan satu sedang distribusi, dan saya sudah melabeli diri saya sebagai pembuat film aktivis, arus pinggiran, khusus NGO dan misi humanitarian, plus saya self proclaimed feminist, tapi… Saya anxious dipenuhi rasa bersalah!

Karena faktanya, saya adalah laki-laki heteroseksual yang dibesarkan di dalam budaya patriarki, dan saya belajar soal seksualitas dan feminisme ketika saya kuliah, untuk lebih mengerti ibu saya yang seperti gambarannya Betty Friedan dan gebetan saya yang seperti Helene Cisoux. Itu pun, dalam masa-masa kuliah dan pasca kuliah yang rock and roll (saya punya 2 album rock and roll dan pernah punya groupies), saya bergaul dengan lumayan banyak perempuan. Dan seremnya, saya takut ada yang saya lecehkan tapi saya nggak sadar karena saya bias patriarki. Karena seperti kata Hannah Arendt, kejahatan itu banal. Anwar Congo nggak merasa bersalah membantai Komunis, sampe dia dipersalahkan zaman Baru yang melihat pembunuhan sebagai pembunuhan. Dan kebanyakan boomer yang melecehkan perempuan menganggap bahwa hal yang mereka lakukan normal- normal saja pada masanya. Intinya, banyak pelecehan terjadi karena kebodohan dan kekurangan kemanusiaan. Sejarah seringkali tidak bersifat linear, tapi paralel dan komparatif: seperti ditemukannya perbudakan manusia di jaman ini di rumah Bupati Langkat. Atau pemikiran beberapa aliran puritan Islam yang tidak mau hidup dengan teknologi karena tidak sesuai dengan cara hidup rasul.

Untuk memastikan saya tidak melecehkan mantan-mantan pacar, gebetan atau FWB, saya menjaga hubungan baik dengan kebanyakan dari mereka. Nggak semua soalnya ada yang sudah kawin, beranak, berbahagia dan suaminya insecure, jadi saya nggak hubungi lagi. Anyway, kasus Penyalin Cahaya bikin saya ga bisa tidur dan saya bikin draft tulisan yang isinya nama dan peristiwa dimana saya mungkin saja pernah melecehkan perempuan. Saya berusaha mengevaluasi diri karena takut nanti pas film saya jadi, ada yang mengadukan saya karena saya pernah tolol aja waktu muda. Tapi pas saya tulis, saya malah ketrigger sendiri—secara saya banyak dibikin nangis sama perempuan. Sad boi gitu, tapi mabok dan ngeblues, maklum belom jamannya Emo jadi saya terhindar dari punya poni banting.

Saya sedih diputusin tapi saya nggak pernah dilecehkan. Saya cuma not good enough to be their man. Saya juga nggak merasa melecehkan, karena toh saya bener-bener sayang sama mereka semua, dan saya sangat terbuka untuk tanggung jawab dan minta maaf pada mereka kalau mereka bilang saya menyakiti mereka. Tubuh saya penuh luka yang pantas saya dapatkan karena membuat mereka patah hati. Beberapa ada yang mereka kasih karena mereka kesal saya selingkuh terus jujur, tapi kebanyakan luka saya toreh atau saya pukul sendiri karena saya merasa bersalah menyakiti hati orang yang sayang sama saya. Ah, sudah ah. Sedih.

Akhirnya tulisan itu jadi draft aja yang entah kapan bakal saya keluarkan. Dan saya coba bikin kritik Penyalin Cahaya sebagai filmmaker saja. Tapi setelah saya tonton dua kali, saya langsung bosan dengan filmnya. Filmnya well crafted, bagus banget secara visual dan naratif, tapi nggak mengulik intelektualitas saya kayak film-filmnya Joko Anwar, misalnya. Penyalin Cahaya yaudah gitu aja. Paling kalo mau dikritisi, filmnya ga mengandung keistimewaan feminist secara visual: cewek-cewek di film itu tetap aja tereksploitasi dan jadi fetish buat cowok-cowok yang suka sama cewek feminist. Yes, seperti ada cowok-cowok fetish sama nenek-nenek, orang kerdil, anak kecil, dan perempuan cantik, ada juga cowok-cowok yang fetishnya sama dominatrix atau feminist. Kalau cowok-cowok yang fetish feminist ini adalah masokis, itu lebih baik daripada Penyalin Cahaya. Karena, dan ini simpulan saya sama Penyalin Cahaya:

Penyalin Cahaya secara visual dan naratif memberikan sebuah orgasme pada para lelaki patriarki dominan yang fetish pada feminist, bahwa pada akhirnya para perempuan yang melawan ini mereka kuasai, sistemnya kuasai. Di visual filmnya tubuh, punggung, dan ranah privat sudah diekspos ke penonton, memberikan kenikmatan. Dan cerita-cerita terfotokopi hanya sekedar buang-buang kertas ke jalanan. Secara visual keren, kertas kuning melayang di udara, tapi secara subtansi cuma jadi sampah di jalanan. Long live patriarchy.

Maka kesimpangsiuran kasus Henricus Pria, dan banyak pelecehan lain cuma menambah kuat statement film ini: cerita-cerita pelecehan itu sampah yang buang-buang kertas aja. Toh angka penonton dan penjualan di Netflix tetap tinggi, dan cerita korban berkeliaran seperti gosipan lambe turah saja.

Dan saya tetap tidak bisa tidur. Bukan karena saya merasa bersalah seperti ketika film ini tercekik wacana dan jadi trending dulu, tapi karena kasusnya seperti tulisan di pasir yang tersapu ombak waktu. Saya tidak bisa tidur memikirkan para perempuan yang trauma, terluka, dan melanjutkan hidup seperti veteran perang yang sengaja dibuat kalah dan traumatis. Saya tidak bisa tidur memikirkan, apa yang bisa saya lakukan besok, biar saya, murid-murid saya, generasi masa depan, tidak mengulang pelecehan yang sama. Karena bikin film soal pelecehan seksual, yang menang banyak penghargaan dan sempat bikin Peraturan Menteri no. 30 jadi hits, nggak bisa membuat korban diurus dengan lebih baik. Saya merasa helpless sebagai filmmaker.

Taik kucing semua kertas fotokopian itu. Saya akan bikin pendidikan film gratis aja buat filmmaker perempuan. Jadi mereka ga motokopi cerita, MEREKA SYUTING SENDIRI! Kalau kamu merasa kamu berbakat jadi sutradara, penulis, atau produser perempuan, tapi ga bisa sekolah film, daftar MondiBlanc!


Terima kasih sudah membaca tulisan ini. Website ini jalan dengan donasi. Jika kamu suka dengan yang kamu baca, kamu boleh sebarkan tulisan ini. Dan jika kamu mendukung saya untuk bisa terus konsisten menulis, boleh klik tombol di bawah ini dan traktir saya segelas kopi. Terima kasih.

Musik

Album Wonderbra Crossing The Railroad – Offline Data

Halo pembaca EseiNosa.

Selamat tahun baru 2022.

15 tahun yang lalu, gue dan teman-teman gue bikin band bernama Wonderbra dan dirilislah album ini, Crossing The Railroad.

Crossing The Railroad adalah album Rock and Roll Blues yang berisi 8 lagu soal kegalauan, kemarahan, kemasabodoan dan kenarsisan anak muda di tahun 2000an.

Ada yang bercerita tentang masokisme percintaan (Die Die Baby Die), tribute buat Janis Jopline (Ode to Lady Janice), Horror ala Tim Burton (Obituary), bahkan begahnya hidup di Jakarta (Hell’s kitchen) dan banyak lagi yang lainnya.

Pasang album ini sambil jalan, lari, atau nyetir, gue jamin bikin semangat kalian membara!

Dan album ini bisa menyelamatkan kalian ketika susah sinyal, nggak wi fi dan kuota karena…

Album ini offline.

Yep, kami di Wonderbra mau coba jualan album lagi dengan cara yang setengah lama setengah baru, mendekatkan diri pada teman lama dan berharap punya teman baru. Bentuknya data, hanya untuk device kalian saja.

Dengan beli dan download album ini, kamu langsung support wonder buat semangat dan nabung bikin album ke 3.

Dan kami percaya sama kekuatan komunitas untuk menghidupi senimannya, daripada kekuasaan streaming platform. Musik ini semua dibentuk dari keresahan jadi mahasiswa tahun 2000an, dan ini mewakili zaman kami. Jadi lebih baik kami persembahkan buat teman-teman kami sendiri, yang lama ataupun yang baru.

Yuk ikutan nostalgia!