Ethnography, Filsafat, Memoir, Politik, Racauan, Workshop

Keniscayaan Komunitas | Bagian 4: Ilusi Kemapanan

Ringkasan

  • Setiap sistem yang berhasil akhirnya percaya bahwa dirinya tidak akan runtuh — itulah ilusi berbahaya yang menghancurkan banyak lembaga, dari Gereja hingga perusahaan modern.
  • Kompleksitas birokrasi sering disalahartikan sebagai stabilitas; padahal ia hanya menambah berat bagi sistem yang sudah kelelahan.
  • Ritual administratif menggantikan nilai moral: rapat tanpa arah, program yang hanya menjadi tradisi, struktur yang tampak hidup tapi kosong di dalam.
  • Ketika sistem lebih sibuk memelihara dirinya ketimbang menjalankan misinya, itulah tanda pengerasan institusi — pengeroposan yang tak terlihat sampai terlambat.

Setiap peradaban yang berhasil menata dirinya sendiri akan, pada akhirnya, menciptakan mitos tentang keabadiannya. Mesir kuno memiliki piramida, Kekaisaran Romawi memiliki hukum, Gereja memiliki liturgi, dan modernitas memiliki birokrasi. Namun di balik setiap struktur yang tampak kokoh, selalu ada satu kesamaan: keyakinan bahwa sistem yang berjalan baik hari ini akan selalu berjalan baik besok. Dan itulah ilusi paling berbahaya dari semua — ilusi kemapanan.

Dalam buku The Collapse of Complex Societies, antropolog Joseph Tainter menulis bahwa kehancuran jarang datang karena kekacauan, tetapi karena kompleksitas yang tak lagi produktif. Setiap sistem sosial yang tumbuh—dari suku kecil hingga negara industri—terus menambah lapisan struktur, prosedur, dan spesialisasi. Awalnya, kompleksitas ini meningkatkan efisiensi. Tapi di titik tertentu, biaya pemeliharaannya melampaui manfaatnya. Sama seperti mesin tua yang memerlukan lebih banyak energi untuk berfungsi, institusi yang terlalu besar akhirnya menghabiskan sumber daya hanya untuk menjaga dirinya tetap hidup.

Kita bisa melihat pola ini dalam sejarah agama, negara, hingga perusahaan modern. Ketika Gereja Katolik menjadi lembaga politik, ia membutuhkan semakin banyak hierarki untuk memastikan ortodoksi. Ketika negara-bangsa modern lahir, ia menciptakan birokrasi yang rumit untuk mengatur pajak, warga, dan perang. Ketika korporasi global tumbuh, mereka menciptakan divisi, komite, dan sistem evaluasi untuk mengawasi karyawan—hingga akhirnya, lebih banyak orang bekerja untuk memelihara sistem ketimbang menjalankan misinya.

Dan ironinya, semakin rumit sebuah sistem, semakin ia merasa aman.

Karena kompleksitas menciptakan kesan kontrol. Tapi sejarah menunjukkan: justru di puncak kontrol, manusia sering kehilangan arah moralnya.

Dalam antropologi modern, banyak peneliti menyebut fase ini sebagai institutional ossification — pengerasan sistem sosial. Pada tahap ini, lembaga tidak lagi menjadi alat untuk melayani tujuan, melainkan menjadi tujuan itu sendiri. Kehidupan sosial berubah menjadi ritual administratif: rapat yang tak menghasilkan keputusan, laporan yang tak pernah dibaca, program yang dijalankan hanya karena “sudah tradisi.” Seperti agama yang mengulangi doa tanpa iman, banyak institusi modern terus bekerja tanpa kesadaran mengapa mereka bekerja.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di lembaga besar. Ia juga menjalar ke ruang-ruang kecil, ke komunitas budaya dan organisasi kreatif. Di sana, bentuk baru dari birokrasi spiritual muncul. Ritualnya bukan lagi misa atau rapat direksi, melainkan “check-in komunitas”, “rencana kolaborasi”, atau “diskusi keberlanjutan” yang diulang tanpa aksi nyata. Semua orang sibuk memelihara struktur agar tampak hidup, padahal di dalamnya sudah kosong.
Inilah fase imitasi vitalitas — ketika gerakan yang dulu hidup dari ide kini hidup dari format.

Kita bisa menelusuri akar psikologisnya. Manusia, seperti yang dikatakan Harari, tidak hidup dari kebenaran, tapi dari narasi yang memberi rasa aman. Dan narasi kemapanan adalah candu sosial paling halus:

“Kita sudah punya sistem.”
“Kita tinggal melanjutkan.”
“Yang penting tetap berjalan.”

Ketika kepercayaan terhadap tujuan digantikan oleh kepercayaan terhadap sistem, manusia berhenti bertanya “mengapa” dan hanya bertanya “bagaimana.” Bagaimana melanjutkan program? Bagaimana mempertahankan anggota? Bagaimana mencari dana?

Pertanyaan-pertanyaan “bagaimana” menjaga sistem tetap hidup; tapi hanya pertanyaan “mengapa” yang menjaga moralitasnya. Sementara itu, kepercayaan bahwa sistem ini sudah saklek, membuat kekakuan yang beresiko membuat sendi-sendi antar departemen jadi patah.

Mengapa kita melakukan ini semua?

Dalam konteks ekosistem kreatif modern, ini tampak jelas. Banyak lembaga yang awalnya dibangun untuk membebaskan pekerja kreatif dari sistem industri, kini menciptakan versi kecil dari industri itu sendiri: dengan struktur, hierarki, dan simbol prestise yang sama. Kita mengganti kata “atasan” dengan “mentor”, “target” dengan “visi”, dan “profit” dengan “kolaborasi”—namun perilakunya tetap sama. Yang berubah hanya bahasa moralnya, bukan logikanya. Dan ketika moralitas menjadi kosmetik, maka struktur sebaik apa pun tak lagi memiliki jiwa dan semangat yang sama.

Sejarah Eropa abad pertengahan memberi pelajaran menarik tentang ini. Ketika biara-biara kehilangan arah spiritualnya, Gereja mencoba menyelamatkan moral publik dengan cara… membangun lebih banyak biara.
Alih-alih mereformasi nilai, mereka memperbanyak bentuk. Fenomena serupa kini terjadi di dunia modern: ketika lembaga gagal menghasilkan dampak, solusinya bukan introspeksi, melainkan ekspansi — lebih banyak program, lebih banyak proyek, lebih banyak “inisiatif.” Padahal setiap lapisan baru hanya menambah berat tubuh yang sudah kelelahan.

Dalam antropologi, kita menyebut ini ritual kompensasi — kecenderungan manusia menambah aktivitas simbolik untuk menutupi kehilangan makna. Sama seperti masyarakat agraris kuno yang memperbanyak upacara saat panen gagal, lembaga modern memperbanyak rapat ketika moral kerja menurun. Dan sama seperti upacara itu tak menumbuhkan padi, rapat itu pun tak menumbuhkan perubahan.

Di sinilah ilusi kemapanan mencapai puncaknya. Orang-orang di dalam sistem benar-benar percaya bahwa mereka masih produktif, masih berjuang, masih relevan. Padahal yang mereka lakukan hanyalah memelihara simbol perjuangan, bukan perjuangan itu sendiri. Masjid dibuat di banyak sekali tempat, tapi kosong.

Namun sejarah juga menunjukkan: setiap kemapanan memiliki titik balik. Kadang ia datang dari krisis seperti kebakaran, kebangkrutan, atau konflik moral; atau dari satu individu yang berani mempertanyakan struktur.

Pencerahan sering datang bukan dari keheningan, tapi dari kejutan dan force majeur. Perubahan seringkali dimulai dari disonansi — dari keberanian untuk mengatakan bahwa sistem yang nyaman ini sebenarnya sedang sekarat.

Jika ada pelajaran dari ribuan tahun sejarah sosial manusia, mungkin ini: semua institusi akan gagal, kecuali mereka yang mampu mengenali kegagalannya lebih awal. Kekuasaan bisa diwariskan, kekayaan bisa dijaga, tapi kesadaran moral hanya bisa diperbarui. Dan kesadaran itu tak bisa diadministrasikan; ia harus diperjuangkan kembali, setiap generasi.

Bersambung ke bagian V: Regenerasi dan Krisis Kesadaran.


Terima kasih telah membaca sampai habis. Website ini jalan dengan sumbangan, iklannya tak menghasilkan, dengan lisensi Creative Commons, Atribution, Non commercial. Kamu boleh pakai konten ini selama memberikan link sumber dan bukan untuk tujuan komersial. Kalau kamu suka dengan yang kamu baca, silahkan traktir saya kopi murah.

Berlangganan

Masukan email kamu untuk dapatkan update. Gratis.

Ethnography, Filsafat, Politik, Racauan, Workshop

Keniscayaan Komunitas | Bagian 3: Rantai Kegagalan & Evolusi Moral yang Mandek

Ringkasan:

  • Kegagalan jarang satu momen; ia rantai panjang—hilangnya konteks, hilangnya rasa syukur, hilangnya rasa malu.
  • Generasi penerus mewarisi bangunan, tapi tidak mewarisi rasa genting yang melahirkannya.
  • Max Weber menyebutnya routinization of charisma: energi pendiri membeku menjadi prosedur.
  • Komunitas runtuh bukan karena kekurangan talenta, tapi karena kelebihan asumsi: bahwa sistem akan menjaga dirinya sendiri.
  • Ketika pembelajaran berhenti dan kontribusi berubah menjadi formalitas, kegagalan hanya tinggal menunggu waktu.

Baca dari awal (bagian 1: Dari Ritual ke Institusi)


Ketika suatu peradaban memasuki fase kedua keberadaannya, masalah yang dihadapi bukan lagi kelaparan, perang, atau wabah — melainkan kehilangan makna. Dan di dalam kehilangan makna itu, sering tersembunyi sumber kehancuran yang paling dalam: stagnasi moral.

Dalam konteks sejarah panjang manusia, ini bukan hal baru. Setiap kali manusia berhasil menciptakan sistem yang menstabilkan hidupnya, sistem itu perlahan menggantikan dorongan spiritual yang dulu membuatnya lahir. Ritual menggantikan iman; prosedur menggantikan tanggung jawab; kenyamanan menggantikan panggilan.
Begitulah agama-agama besar kehilangan kekuatan moralnya, partai politik kehilangan idealismenya, dan komunitas budaya kehilangan urgensinya.

Yuval Noah Harari pernah menulis bahwa peradaban adalah kompromi antara makna dan efisiensi. Manusia menciptakan lembaga agar hidupnya lebih efisien, tapi dalam proses itu ia harus mengorbankan spontanitas yang memberi makna. Setiap struktur yang terlalu efisien akhirnya membunuh dorongan spiritual yang melahirkannya.
Dan ketika generasi kedua lahir di dalam struktur itu, mereka tidak lagi mewarisi semangat perjuangan — hanya kebiasaannya.

Kita bisa melihat hal ini dalam skala mikro: sebuah ruang kreatif yang lahir dari keresahan. Generasi pertama membangunnya dengan darah dan waktu; mereka bertahan karena rasa tanggung jawab dan cinta pada gagasan.
Namun generasi kedua tumbuh dalam hasil dari perjuangan itu: ruang yang sudah berdiri, fasilitas yang tersedia, nama yang dikenal. Mereka mewarisi struktur, tapi bukan pergulatannya.Dan di sinilah rantai kegagalan moral dimulai — bukan karena niat buruk, tetapi karena kehilangan konteks.

1. Psikologi Lintas Generasi

Dalam antropologi sosial, ini dikenal sebagai paradoks generasi penerus. Dalam masyarakat agraris tradisional, anak petani yang lahir dari kerja keras ayahnya sering tak mau lagi ke sawah. Mereka ingin menjadi guru, pegawai, atau pedagang — profesi yang lebih “bersih” karena pengaruh modernisasi.

Di sisi lain, dalam masyarakat industrial, anak buruh pabrik ingin menjadi pekerja kantoran. Dan dalam masyarakat kreatif modern, anak dari idealisme sosial ingin menjadi “pekerja budaya” yang nyaman — hidup dari reputasi gerakan, bukan lagi dari perjuangan.

Fenomena ini berakar pada satu kecenderungan manusia:

Setiap generasi memandang hasil perjuangan pendahulunya sebagai kondisi alamiah, bukan keajaiban sosial.

Ketika sebuah ruang kreatif berhasil menyediakan tempat tinggal, dukungan finansial, atau pengakuan, maka nilai-nilai yang dulu diperjuangkan (etos kerja, kemandirian, tanggung jawab) perlahan kehilangan konteks.

Harari dalam 21 Lessons for the 21st Century menulis bahwa ketika manusia modern kehilangan ancaman eksistensial, ia menciptakan krisis baru: krisis relevansi. Manusia tidak lagi takut mati, tetapi takut menjadi tidak berguna. Dalam komunitas kreatif yang mapan, krisis relevansi ini tampak sebagai keengganan untuk bekerja di luar zona nyaman — bukan karena malas, tapi karena kehilangan narasi yang memberi makna pada kerja.

2. Ketika Makna Hilang, Struktur Membusuk

Sosiolog Max Weber menyebut ini sebagai routinization of charisma — proses di mana kekuatan karismatik pendiri suatu gerakan diubah menjadi sistem administratif yang bisa diwariskan. Namun dalam proses itu, api spiritual memudar. Gerakan yang dulunya digerakkan oleh “panggilan” berubah menjadi “pekerjaan.” Dan pekerjaan yang seharusnya menjadi bentuk kontribusi berubah menjadi formalitas.

Dalam banyak lembaga sosial, fase ini terasa ketika para anggotanya mulai berbicara lebih banyak tentang hak ketimbang tanggung jawab, lebih banyak tentang kenyamanan ketimbang pembaruan. Ketika sebuah lembaga mencapai tahap itu, ia tak lagi berevolusi. Ia hanya bertahan. Dan sesuatu yang hanya bertahan, cepat atau lambat, akan membusuk.

Di sinilah “rantai kegagalan” menemukan bentuk paling stabilnya: kegagalan moral yang tidak terasa sebagai kegagalan. Sistem masih berjalan — rapat masih diadakan, proyek masih diumumkan, laporan masih ditulis — tapi tak ada lagi yang hidup. Seperti tubuh yang masih bergerak setelah mati, organisasi tetap tampak aktif tapi kehilangan vitalitas. Dan karena kematian ini datang perlahan, tak seorang pun merasa bertanggung jawab.

3. Etika Kemandekan

Dalam antropologi moral, kemandekan sosial tidak hanya persoalan ekonomi, tetapi persoalan etika interaksi manusia. Ketika individu tidak lagi merasa tanggung jawab personal terhadap keberlanjutan sistem yang menaunginya, ia akan menggantungkan hidup pada kerja orang lain. Ini menciptakan kultur ketergantungan yang ironis: mereka yang hidup dari ruang idealisme justru menolak prinsip dasar idealisme itu sendiri — kerja sebagai bentuk etika, bukan transaksi.

Kita bisa mengingat kisah klasik Plato dalam Republik, tentang tiga kelas masyarakat: penguasa (filosof), penjaga (militer), dan pekerja (rakyat). Plato memperingatkan bahwa kehancuran negara akan datang ketika tiap kelas lupa perannya: ketika penguasa ingin berkuasa demi kehormatan, penjaga ingin hidup nyaman, dan rakyat ingin menikmati tanpa bekerja. Skala boleh berubah, tapi logikanya tetap sama: sebuah komunitas akan gagal ketika anggotanya berhenti memainkan perannya secara etis.

Dalam konteks komunitas kreatif modern, ini tampak sederhana: sebagian anggota berhenti bekerja dengan semangat pencipta, dan mulai berperilaku seperti penyewa — tinggal di dalam sistem tanpa ikut merawatnya.
Mereka menikmati ruang yang dibangun dengan pengorbanan orang lain, tapi menolak ikut menanggung beban pemeliharaannya. Dan inilah bentuk paling halus dari kegagalan moral: bukan korupsi uang, tapi korupsi tanggung jawab.

4. Keterputusan Rantai Pembelajaran

Dalam masyarakat tradisional, pengetahuan diturunkan melalui apprenticeship — magang dan teladan.
Anak belajar bukan dari instruksi, tapi dari disiplin yang dihayati. Namun dalam banyak ekosistem modern, hubungan ini terputus. Generasi muda tidak lagi meniru cara pendahulunya bekerja, melainkan hanya menikmati hasilnya. Mereka tidak lagi melihat mentor sebagai sumber teladan, tetapi sebagai “penyedia peluang.”

Ini menjelaskan kenapa banyak komunitas kreatif gagal menciptakan generasi baru yang setara atau lebih baik: mereka kehilangan mekanisme transmisi nilai. Ilmu bisa diajarkan, tapi etos harus dicontohkan — dan untuk dicontohkan, harus ada kerendahan hati untuk belajar. Ketika generasi baru merasa bahwa ruang itu “sudah milik mereka,” bukan lagi “tanggung jawab bersama,” maka pembelajaran berhenti di sana.

Bersambung ke bagian IV: Institusi, Iman, dan Ilusi Kemapanan


Terima kasih telah membaca sampai habis. Website ini jalan dengan sumbangan, iklannya tak menghasilkan, dengan lisensi Creative Commons, Atribution, Non commercial. Kamu boleh pakai konten ini selama memberikan link sumber dan bukan untuk tujuan komersial. Kalau kamu suka dengan yang kamu baca, silahkan traktir saya kopi murah.

Berlangganan

Masukan email kamu untuk dapatkan update. Gratis.

Ethnography, Racauan

Keniscayaan Komunitas | Bagian 2: Anatomi Stagnasi dari Solidaritas ke Ketergantungan

Ringkasan

  • Generasi pertama membangun; generasi kedua sering hanya menikmati. Itu pola antropologis universal, bukan sekadar psikologis.
  • Solidaritas komunitas yang dulu membebaskan berubah menjadi zona nyaman yang menumpulkan etika kerja.
  • Nilai “kita bekerja bersama” merosot menjadi “orang lain akan mengerjakan ini.”
  • Ketergantungan yang dilembutkan oleh bahasa idealisme membuat komunitas tampak hidup, tetapi secara moral mati.
  • Tanda stagnasi paling jelas: kerja menjadi simbolik, bukan kontribusi nyata.

Setiap komunitas lahir dari kebutuhan — dan kebutuhan adalah bentuk paling murni dari kecerdikan manusia.

Ketika sumber daya langka, manusia menemukan cara untuk berbagi. Ia menciptakan sistem barter, ritus gotong-royong, atau lembaga patronase untuk bertahan hidup bersama. Solidaritas adalah inovasi paling awal manusia. Namun sejarah menunjukkan bahwa begitu kebutuhan itu terpenuhi, solidaritas perlahan berubah bentuk. Ia kehilangan daya dorongnya dan menjadi kebiasaan, bahkan candu.

Fenomena ini berulang dalam hampir setiap fase peradaban manusia. Setelah Revolusi Neolitik, manusia tidak lagi bergantung pada perburuan, melainkan pada hasil pertanian yang stabil. Surplus pangan memungkinkan terbentuknya struktur sosial baru — pemimpin, imam, pengrajin, dan birokrat. Tapi seiring meningkatnya keamanan, lahirlah generasi yang tak lagi memahami penderitaan pendahulunya. Mereka lahir dalam kenyamanan yang dibangun oleh orang lain, lalu menganggap sistem itu akan menopang mereka selamanya. Seperti anak bangsawan yang tumbuh di istana, mereka menikmati buah kerja keras masa lalu tanpa merasa perlu menanam lagi.

Dalam bahasa antropologi, kita menyebut ini sebagai kemerosotan fungsional dalam sistem sosial stabil. Jared Diamond menulis dalam Collapse bahwa peradaban yang paling berisiko bukanlah yang miskin sumber daya, tetapi yang sukses — karena kemakmuran menciptakan ilusi keberlanjutan.

Bangsa Maya, misalnya, mengembangkan sistem irigasi dan arsitektur yang luar biasa, tapi gagal menyesuaikan diri dengan perubahan iklim dan tekanan populasi. Mereka menganggap sistem lama yang telah menyelamatkan nenek moyang mereka akan selalu cukup. Dalam setiap lapisan sejarah, pola ini sama: manusia menjadi korban dari stabilitas yang mereka ciptakan sendiri.

Bangsawan Maya: Detail lukisan dinding yang menggambarkan elit Maya dengan pakaian upacara yang rumit, dikelilingi oleh hieroglif.

Kita bisa melihat pola serupa dalam bentuk yang lebih kecil — komunitas modern yang lahir dari idealisme. Banyak organisasi nirlaba, lembaga budaya, atau kolektif seni dimulai dari solidaritas sejati: beberapa orang berkumpul karena frustrasi terhadap sistem industri yang tertutup. Mereka menciptakan ruang alternatif di mana nilai kemanusiaan, kolaborasi, dan pendidikan menjadi inti. Namun setelah beberapa tahun, ketika ruang itu mulai mapan dan fasilitas tersedia, idealisme yang dulu mengikat mulai melemah. Mereka tidak lagi berjuang bersama melawan kelangkaan; mereka mulai bernegosiasi atas kenyamanan.

Solidaritas berubah menjadi ketergantungan moral. Yang dulu disebut gotong-royong kini bergeser menjadi pembenaran untuk tidak bekerja keras:

“Kita semua setara, jadi tak perlu ada hierarki.”

Yang dulu dimaknai sebagai kepercayaan berubah menjadi kelonggaran:

“Kita saling memahami, jadi tak perlu disiplin.”

Dan yang dulu dimulai sebagai gerakan belajar bersama, kini menjadi tempat berlindung bagi mereka yang takut diuji dunia luar.

Pada titik ini, nilai-nilai luhur seperti kolektivitas dan kesederhanaan kehilangan dimensi etisnya. Ia menjadi alat pembenaran stagnasi.

Manusia adalah makhluk adaptif, tetapi juga rasionalisasi terbaik bagi kemalasannya sendiri. Dalam konteks komunitas kreatif, banyak anggota yang meyakini bahwa “tidak mencari uang” adalah bentuk kemurnian moral, padahal di balik itu tersembunyi ketidakmampuan mengelola tanggung jawab. Mereka lupa bahwa etos non-profit bukan berarti bebas dari etika profesional.

Yuval Noah Harari pernah menulis bahwa yang membedakan Homo sapiens dari spesies lain bukan hanya kemampuan berimajinasi, tetapi kemampuan berimajinasi bersama. Kita bisa menciptakan fiksi kolektif seperti “negara”, “agama”, atau “komunitas kreatif” — dan percaya padanya seolah nyata. Namun di saat fiksi itu tidak lagi dihidupi oleh tindakan nyata, ia berubah menjadi ritual kosong. Kita bisa terus berbicara tentang “semangat awal”, “tujuan bersama”, atau “keluarga besar”, padahal di bawah permukaannya hanya tersisa rutinitas tanpa produktivitas.

Inilah tahap kedua dalam rantai kegagalan sosial: ketika nilai-nilai yang dulu menyelamatkan sistem, kini justru menghambatnya berevolusi.

Antropologi mengenal fenomena serupa dalam masyarakat pasca-kolonial. Banyak negara yang merdeka dengan idealisme anti-imperial justru gagal membangun sistem pemerintahan modern karena terlalu lama hidup dalam narasi perjuangan. Para pemimpinnya tetap berbicara tentang “perlawanan” bahkan setelah mereka sendiri menjadi penguasa. Mereka lupa bahwa menjaga kemerdekaan membutuhkan bentuk baru dari perjuangan — bukan lagi melawan penjajah, tetapi melawan kemalasan dan ketidakefisienan internal.

Begitu pula dalam organisasi modern. Ketika komunitas yang dulunya menentang sistem akhirnya menjadi bagian dari sistem, mereka harus berani mengubah bahasa moralnya. Jika tidak, solidaritas berubah menjadi nostalgia; nostalgia menjadi penghalang; dan penghalang menjadi alasan kegagalan.

Kita sering mengira kegagalan terjadi karena kurangnya dana, koneksi, atau bakat. Tapi sebenarnya, sebagian besar kegagalan sosial berasal dari ketidakseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab. Kebebasan tanpa tanggung jawab melahirkan anarki lembut — bentuk di mana semua orang merasa punya suara, tapi tak ada yang mau bekerja. Dan tanggung jawab tanpa kebebasan melahirkan birokrasi — struktur yang rapi tapi mati rasa.

Di antara dua kutub itulah komunitas modern sering terjebak: terlalu bebas untuk disiplin, terlalu takut untuk menjadi profesional.

Jika kita kembali ke kerangka Freakonomics, stagnasi semacam ini adalah rantai kegagalan mikro: satu orang tidak menyelesaikan tugasnya; orang lain tidak menegur karena takut konflik; koordinasi memburuk; kepercayaan berkurang; dan akhirnya sistem berhenti berfungsi. Tak ada ledakan, tak ada bencana besar — hanya erosi perlahan dari kepercayaan dan kompetensi.

Namun tidak semua stagnasi harus berakhir dengan kehancuran. Dalam sejarah, ada fase di mana masyarakat berhasil keluar dari kebuntuan dengan cara mengganti mitosnya. Eropa abad ke-18, misalnya, mengganti mitos teologis dengan mitos rasionalitas. Gerakan koperasi pada abad ke-19 mengganti mitos kapitalisme individual dengan solidaritas produktif. Dan revolusi digital pada abad ke-20 mengganti mitos industri dengan inovasi dan kolaborasi global. Setiap kebangkitan besar dimulai ketika manusia berani mengubah narasi tentang dirinya sendiri.

Artinya, ketika sebuah komunitas modern gagal, bukan karena para anggotanya jahat, malas, atau bodoh — tetapi karena cerita lama yang dulu mempersatukan mereka tidak lagi relevan. Dan di sinilah dilema paling tragis muncul: mereka mencintai cerita itu terlalu dalam untuk melepaskannya. Tapi, seandainya pun sebuah komunitas modern bisa berkembang menjadi korporasi mapan, kegagalannya juga bisa lebih parah.

Bersambung ke bagian III: Rantai Kegagalan: Evolusi Moral yang Mandek. Terbit Senin.


Terima kasih telah membaca sampai habis. Website ini jalan dengan sumbangan, iklannya tak menghasilkan, dengan lisensi Creative Commons, Atribution, Non commercial. Kamu boleh pakai konten ini selama memberikan link sumber dan bukan untuk tujuan komersial. Kalau kamu suka dengan yang kamu baca, silahkan traktir saya kopi murah.

Berlangganan

Masukan email kamu untuk dapatkan update. Gratis.

Anthropology, Ethnography, Filsafat, Kurasi/Kritik, Memoir, Politik, Racauan

Keniscayaan Komunitas | Bagian 1: Ritual ke Institusi

Ringkasan

  • Setiap institusi besar hari ini berakar dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: ritual kecil manusia purba yang mencoba bertahan hidup.
  • Ketika pertanian melahirkan surplus, solidaritas berubah menjadi struktur; kuil menjadi birokrasi pertama umat manusia.
  • Sejarah menunjukkan pola yang sama: iman menjadi administrasi, spontanitas menjadi hierarki, dan makna digantikan oleh efisiensi.
  • Institusi tidak runtuh secara tiba-tiba; mereka membusuk perlahan, dimulai dari saat mereka berhenti berevolusi.

Sejarah manusia adalah sejarah tentang organisasi emosi menjadi sistem.

Dari kelompok pemburu di Afrika Timur hingga korporasi global abad ke-21, manusia bertahan bukan karena kekuatan fisiknya, tetapi karena kemampuannya membangun jaringan kepercayaan di antara orang-orang yang tidak saling mengenal. Setiap komunitas, lembaga, atau perusahaan yang kita kenal hari ini lahir dari upaya yang sama: mengubah rasa kebersamaan menjadi struktur. Namun di balik keberhasilan itu, tersimpan benih dari kegagalannya sendiri — stagnasi.

Kegagalan, sebagaimana disinggung dalam Freakonomics: How to Succeed at Failing, bukanlah satu kejadian tunggal. Ia adalah rantai panjang kesalahan kecil yang dibiarkan, keputusan yang tidak dikaji ulang, dan keyakinan lama yang dipertahankan dalam dunia yang sudah berubah. Dalam konteks evolusi sosial, kegagalan muncul ketika ekosistem nilai berhenti beradaptasi terhadap lingkungan yang ia ciptakan sendiri.

Untuk memahami fenomena ini, kita perlu mundur puluhan ribu tahun, ke masa ketika komunitas manusia belum mengenal konsep “lembaga.” Saat itu, kekuasaan dan moralitas bersumber dari ritual — tindakan kolektif yang mengikat emosi individu menjadi harmoni sosial. Di suku-suku awal Homo sapiens, kepercayaan terhadap roh, alam, dan leluhur menjadi dasar solidaritas. Tak ada gaji, tak ada struktur manajemen; hanya rasa saling bergantung.

Namun seperti dicatat Jared Diamond dalam Guns, Germs, and Steel, kompleksitas sosial tumbuh seiring dengan pertanian dan kepemilikan lahan. Saat manusia berhenti berpindah, mereka harus menciptakan mekanisme baru untuk mengatur produksi, penyimpanan, dan distribusi hasil panen. Dari sinilah muncul bentuk pertama lembaga: kuil, lumbung, dan sistem kasta. Ritual masih ada, tapi kini dijaga oleh kelas administratif — para imam, juru tulis, dan pejabat. Apa yang dulu spontan berubah menjadi institusional.

Transformasi ini membawa kemajuan besar: stabilitas, surplus pangan, kota, dan ilmu pengetahuan. Namun ia juga membawa konsekuensi: kehilangan fleksibilitas.Kehidupan sosial yang dulu cair menjadi hierarkis. Nilai yang dulu diikat oleh rasa tanggung jawab bersama berubah menjadi kontrak sosial yang kaku. Para imam dan pejabat yang awalnya melayani masyarakat kini menjadi penjaga status quo. Ketika ritual berubah menjadi prosedur, makna pun menipis.

Kehidupan sosial yang dulu cair menjadi hierarkis. Nilai yang dulu diikat oleh rasa tanggung jawab bersama berubah menjadi kontrak sosial yang kaku. Para imam dan pejabat yang awalnya melayani masyarakat kini menjadi penjaga status quo. Ketika ritual berubah menjadi prosedur, makna pun menipis.

Biara dan para biarawan memperhatikan dua malaikat yang sedang bekerja.

Fenomena yang sama terjadi di hampir setiap fase sejarah sosial manusia. Gereja Katolik di abad pertengahan dimulai sebagai komunitas spiritual yang hidup dalam kemiskinan dan kesetaraan, tetapi seiring bertumbuhnya kekayaan dan kekuasaan, ia berubah menjadi birokrasi megah yang sering kehilangan hubungan dengan moralitas awalnya. Universitas, yang lahir dari biara, bermula sebagai tempat mencari kebijaksanaan; namun ketika ia menjadi institusi nasional dengan sistem akreditasi, ia mulai lebih sibuk mempertahankan reputasi ketimbang menumbuhkan pengetahuan.

Setiap lembaga besar pernah lahir dari gerakan idealis kecil. Tapi begitu ia menemukan sumber daya — tanah, uang, status — ia menghadapi dilema evolusioner: apakah akan terus beradaptasi, atau mengabadikan bentuk lamanya? Sebagian besar memilih yang kedua, dan di situlah proses entropi sosial dimulai.

Kita bisa melihat pola yang sama di komunitas modern: organisasi nirlaba, gerakan budaya, hingga ekosistem kreatif yang dimulai dari semangat kolektif. Mereka lahir dari kelangkaan dan semangat berbagi — sekelompok orang ingin menciptakan ruang alternatif di luar pasar. Tapi ketika ruang itu berhasil menarik perhatian, mendapatkan sponsor, bahkan membentuk badan usaha, ia mulai memikul beban baru: akuntabilitas, profesionalisme, dan efisiensi. Idealisme bertemu realitas birokrasi. Dan seperti yang sering terjadi dalam sejarah, banyak yang gagal menjembatani keduanya.

Seorang antropolog mungkin menyebut ini sebagai transisi dari moral economy ke market economy. Di dalam moral economy, hubungan antar manusia dijaga oleh rasa malu, rasa syukur, dan reputasi sosial. Di dalam market economy, hubungan itu digantikan oleh kontrak, target, dan gaji. Tidak ada yang lebih baik atau buruk — keduanya adalah sistem adaptif. Tapi ketika sebuah komunitas gagal mengenali momen transisi itu, ia akan terjebak di antara dua dunia: tidak cukup spontan untuk disebut komunitas, tidak cukup efisien untuk disebut perusahaan. Di sanalah kegagalan struktural tumbuh diam-diam.

Sejarah memberi kita banyak contoh. Ketika biara-biara Eropa memasuki masa kemakmuran di abad ke-14, mereka mulai membeli tanah dan mempekerjakan petani. Namun karena tetap menganggap diri mereka “pelayan spiritual,” mereka tidak menyesuaikan sistem pengelolaan ekonominya. Korupsi dan penurunan moral merajalela, memicu gelombang reformasi Protestan yang menghancurkan struktur lama. Begitu pula pada awal abad ke-20, banyak koperasi buruh di Eropa yang gagal bertahan setelah memperoleh modal besar, karena para anggotanya masih berpikir dengan mentalitas komunitas — bukan lembaga bisnis.

Semua pola ini menunjukkan hal yang sama: evolusi sosial tidak hanya membutuhkan visi, tetapi juga kemampuan untuk melepaskan bentuk lama ketika ia tak lagi fungsional.
Kegagalan bukan akibat niat buruk, tapi hasil dari kesetiaan berlebihan terhadap masa lalu.

Manusia, seperti yang dikatakan Harari, adalah spesies yang hidup dari fiksi-fiksi bersama. Kita membangun perusahaan, yayasan, dan negara di atas cerita: “kita bekerja untuk kebaikan bersama,” “kita menciptakan ruang bagi generasi muda,” atau “kita berbeda dari sistem korporasi.” Namun begitu fiksi itu tak lagi didukung oleh perilaku konkret — oleh kerja nyata, etos, dan kompetensi — ia menjadi sekadar mitos nostalgia. Seperti agama yang kehilangan mukjizatnya, organisasi pun kehilangan daya cipta spiritualnya.

Dan mungkin di sinilah kita harus mengakui sesuatu yang menyakitkan:
tidak semua komunitas layak tumbuh.
Beberapa hanya lahir untuk membuktikan kemungkinan, bukan untuk menjadi institusi.
Yang lain bisa bertahan, tapi hanya jika mereka berani berevolusi secara moral — mengganti solidaritas pasif dengan tanggung jawab aktif.Tapi apakah bisa menjaga kemanusiaan dalam sebuah lembaga yang saling kelindan antara orientasi kapitalisme dan sosialisme?

Tapi apakah bisa menjaga kemanusiaan dalam sebuah lembaga yang saling kelindan antara orientasi kapitalisme dan sosialisme?

Bersambung ke bagian 2: Anatomi Stagnasi: Dari Solidaritas ke Ketergantungan


Terima kasih telah membaca sampai habis. Website ini jalan dengan sumbangan, iklannya tak menghasilkan, dengan lisensi Creative Commons, Atribution, Non commercial. Kamu boleh pakai konten ini selama memberikan link sumber dan bukan untuk tujuan komersial. Kalau kamu suka dengan yang kamu baca, silahkan traktir saya kopi murah.

Berlangganan

Masukan email kamu untuk dapatkan update. Gratis.