Ethnography, Filsafat, Politik, Racauan

Bisakah Menerima Bahwa Kita Tidak Punya Kehendak Bebas?

Sebuah artikel tahun 2016 di The Atlantic bicara soal perdebatan apakah Free Will (Kehendak Bebas) masih relevan ketika kita tahu banyak fakta bahwa kehendak kita dikendalikan neuron-neuron di otak dan bisa dimanipulasi dan diprediksi dengan sains, dan semua tergantung juga dengan genetika kita. Perilaku manusia bisa diprediksi seperti perilaku babon atau simpanse. Dengan semua teknologi analisa terbaru ini, manusia jadi nggak hebat-hebat amat sebagai bahan objek penelitian.

Perdebatan ini sebenarnya sudah dimulai ketika Darwin menerbitkan The Origin of Species, yang membuat kesadaran saintifik bahwa manusia sapiens adalah binatang dengan evolusi pre-frontal cortex, membuat kita tidak hanya mampu berpikir tapi juga mampu membuat cerita. Dan cerita-cerita tentang agama, negara, korporasi, membuat kita mampu berkolaborasi, berperang dengan strategi, dan membuat peradaban. Ini ditegaskan lagi oleh Yuval Noah Harari dalam Sapiens.

Lalu perkembangan keilmuan menggabungkan ilmu biologi, teknologi, sosial, politik, genetik dan neurosains untuk membongkar kesadaran kita, dan menemukan kepastian bahwa keinginan kita bukanlah asli dari kita, tapi reaksi yang didasarkan pada aspek sosiologis dan fisiologis. Artinya buat mengkoreksi perilaku manusia, kita bisa memakai data lengkap yang dikumpulkan semua ilmu ini, dan mengkondisikan setting sosial dan fisiologis dengan berbagai pendekatan keilmuan yang sudah terbukti hipotesanya.

Contoh: kita tahu bahwa neuron dan kimia tubuh kita bisa dikendalikan dengan obat-obatan, atau bahan kimia seperti minuman keras. Ini juga membentuk perilaku kita. Pengobatan psikiater juga membuat kita bisa mengendalikan mood kita. Lalu ada bukti-bukti bahwa perubahan perilaku seorang dewasa menjadi pembunuh atau pedofil berhubungan dengan tumbuhnya tumor tertentu di otak.

Lalu yang ditakutkan adalah, kalau kehendak bebas diterima sebagai ilusi, maka orang akan mulai jadi tidak mau bertanggung jawab atas pilihan dan tindakannya, maka peradaban akan runtuh. Ketakutan tidak otentik/jadi diri sendiri ketika kita tidak punya kehendak bebas. Ini logika yang salah.

Sebagai orang yang memakai obat-obatan dan terapi untuk mengendalikan perilaku saya, saya tahu pasti bahwa sebagai manusia saya ingin lebih sempurna untuk menikmati hidup, mencintai, dicintai, membantu orang lain, memecahkan masalah. Maka walau kehendak saya tidak bebas, dengan mengetahui metode untuk mengembangkan diri baik dengan belajar, olah raga, diet, dan minum obat, saya bisa punya kebebasan lebih untuk membuat batas-batas diri saya, dan saya bisa memperluas batas-batas itu. Justru dengan mengetahui bahwa kehendak saya tidak bebas, saya bisa berpikir dan memproses lebih matang bagaimana untuk bisa bertanggung jawab atas keberadaan saya–bukan hanya masalah kehendak saya.

Ini adalah jawaban yang sudah lama saya cari: posisi saya sebagai manusia di semesta ini, batas-batas saya. Dan agama dan ideologi tidak bisa menjawab itu. Sains bisa, dan tahu bahwa kehendak bebas bisa direncanakan oleh saya sendiri, membuat saya lebih tenang untuk hidup.


Terima kasih telah membaca tulisan ini sampai habis. Kalau kamu suka dengan yang kamu baca, boleh traktir saya kopi untuk bisa terus menulis dan sedikit nombokin biaya tahunan domain dan hosting blog ini supaya tetap bisa mudah diakses dan dibaca. Klik tombol dibawah ini untuk mentraktir saya.

Ethnography, Kurasi/Kritik, Musik, Politik, Racauan

Agnezmo Takkan Seterkenal Billie Eilish Karena Kita

Saya fans Billie Eilish, dan itu tidak dimulai dari musik. Kesukaan saya pada Eilish dimulai sejak saya menonton film dokumenter “The World’s A Little Blurry,” karya sutradar R. J. Cutler, yang memaparkan proses pembuatan album dan perjalanan Billie dari panggung ke panggung, dan coming of age-nya sebagai seorang superstar. Saya pikir, kenapa anak ini bisa sekeren itu, dalam umur semuda itu punya referensi sebanyak itu, pengetahuan dan filsafat yang dalam, tapi terjebak dengan kebingungan dan masalah hormonal anak seusianya? Sebagai seorang antropolog, ini menarik perhatian saya.

Lalu saya mulai berpikir, siapa di Indonesia yang seperti itu dan bisa mewakili kebudayaan kita? Dari beberapa pilihan, saya memilih Agnezmo yang walau umurnya beda hampir 20 tahun dengan Billie, tapi melalui jalur yang sangat-sangat proper dan berat untuk mencapai ketenarannya. Proper artinya, dia membangun karir dari kecil, dan dari media kita melihat dia cukup didukung keluarga, plus image-nya terjaga dengan baik dari skandal besar. Ini menarik buat saya karena mereka berdua adalah sudah di tingkat yang tinggi sebagai icon kebudayaan Amerika Serikat dan Indonesia, dan mereka sedikit banyak bisa menjadi penanda tidak langsung, sudah sejauh mana kebudayaan kita.

Apa saja persamaan Agnezmo dan Billie Eilish?

Pertama, mereka sejak kecil dididik untuk jadi seniman. Agnes sudah jadi penyanyi dan aktris cilik dari kecil. Waktu remaja, tema pernikahan dini yang sekarang ngetrend lagi karena Dua Garis Biru dan Yuni, sudah duluan dibikin sama Agnes lewat sinetron. Agnes juga sudah berkali-kali ganti imej setiap kali ia melewati fase hidupnya. Sementara Billie Eilish, yang umurnya tentunya jauh di bawah Agnes, hidup di keluarga seniman teater yang memperbolehkannya untuk homeschooling dan belajar merancang kehidupannya sedari kecil. Tidak seperti Agnes yang media exposurenya tinggi dari kecil, Billie mulai dari komunitas dan keluarga. Komunitas ini lah yang menjadi pendengar pertama lagu-lagu yang dibuat kakaknya, Finneas, seorang songwriter/arranger jaman sekarang yang membuat semua rekamannya di rumah.

Kedua, mereka tidak punya skandal besar–besar dalam konteks ini adalah skandal perselingkuhan, video porno bocor, atau apapun itu yang mewarnai infotainment dan lambeturah dengan gibahan keterlaluan. Berarti di balik ketenaran mereka ada korporat dan struktur yang bekerja untuk menjaga image dan asupan media terhadap mereka.

Ketiga, image mereka sangat kontekstual. Agnezmo sudah mendahului Billie bertahun-tahun dan seperti banyak diva pasca MTV yang masih bertahan hingga hari ini, Agnezmo sudah berkali-kali ganti pencitraan dari penyanyi cilik, menjadi gadis remaja yang well behaved, perempuan galau anggun dengan lagu sendu, lalu diva hiphop garang dengan lagu-lagu empowerment (walau duetnya bersama Chris Brown sempet bikin was-was takut dia ditampol kayak Rihanna, tapi sepertinya Agnez lebih berotot dan tampolannya lebih serem). Anyway, dari segala standard industri internasional ke kiblat Amerika, Agnezmo is so far the best. And I don’t think that’s an opinion. Kalau kiblatnya Eropa, Anggun is still my favorite, tapi nanti itu kita simpan untuk tulisan lain. Di sisi lain, Billie baru memasuki fase ke tiganya, perempuan pirang yang elegan, setelah dia jadi anak aneh, anak aneh yang nakal, dan anak aneh yang galau. FYI, anak aneh adalah imaji semangat zaman millenial ini, postmodern banget.

Keempat, mereka nggak modal tampang dan body doang, tapi skillnya gila banget. Waktu saya dengar Billie Eilish di Spotify, saya pikir dia banyak pake vocal effect, karena ada suara serak yang kedengeran double, atau suara autotune yang saya pikir adalah kerjaan sound designer. Tapi waktu nonton dokumenternya dan lihat dia latihan di kamar nggak pake microphone, eh gila, itu bukan kerjaan komputer. Pita suaranya memang bisa menghasilkan suara-suara ajaib itu. Inilah yang kita sebut woman-machine interface ketika komputer mengajarkan manusia teknik vokal baru.

Sementara, sebagai orang yang umurnya cuma beda setahun sama Agnezmo dan tinggal di Indonesia, saya nggak perlu usaha banyak untuk lihat perbedaan vokal dan performance Agnez sejak awal karirnya. Dan perkembangan skillnya kayak belom kelihatan batasnya. Apalagi pasca exposure di US. Saya sempat kecewa dengan single-single awal US nya, apalagi di lagu-lagu yang heavy banget editingnya. Tapi makin ke sini, Agnez berhasil banget ambil kekuasaan di negeri orang dan dia semakin mateng ngatur semuanya sendiri. Muncul vokal aslinya yang damn! Beda banget sama vokal Indonesianya! Sebagai alumni Sastra Inggris, saya tahu banget bahwa bahasa Inggris punya kelebihan bunyi vowel dan konsonan yang jauh lebih beragam dari bahasa Indonesia. Ada kebebasan-kebebasan baru yang Agnes dapat dari nyanyi bahasa Inggris dengan genre yang nggak menye-menye terus untuk kuping Melayu. Topik liriknya pun bisa jauh lebih beragam karena ada banyak hal, konsep, dan ide yang tidak mungkin diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia.

Dan ini membawa kita ke topik tulisan ini, sebuah fakta dimana Agnezmo nggak mungkin ngejar Billie Eilish dalam soal stardom. For starter, Agnez harus kerja ribuan kali lebih keras dan lebih lama dari Billie untuk bisa masuk ke sebuah struktur industri global. Plus, sekaya-kayanya keluarga Agnez, dan sebagus-bagusnya sekolah dia, akses pada informasi dan sistem pendidikan mumpuni agak susah di Indonesia. Buat belajar yang kreatif aja susah banget karena angkatan kami (Agnez dan saya) ada di bawah rezim yang baru reformasi dan galaunya setengah mati–well angkatan kalian juga sih tapi kami lebih parah karena perploncoan banyak banget dan mikir kritis itu dosa.

Soal fandom… well ini saya nggak mau ngomong. Karena kalau bicara soal fandom dari seorang yang sudah besar, ngomong apapun pasti salah. Tapi satu hal yang bisa saya garis bawahi soal perbedaan fandom US dan Indonesia adalah, fandom di Indonesia kurang banyak kajiannya. Fans itu hal penting dalam industri, dan ketika bicara Billie Eilish saya menemukan paper-paper keren soal hubungan fandom Billie Eilish dengan gerakan politik keanehan (Weirdization) yang menggambarkan semangat zaman seperti generasi X yang pemberontak dan membawa kita ke reformasi–fans Billie dikarakteristikan sebagai kaum dengan selera humor yang gelap dan aneh, khususnya soal politik. Atau penggemar K-Pop yang mulai membuat banyak sekali perubahan-perubahan sosial yang besar. Sementara ketika Agnezmo mulai gerakan-gerakan besar empowerment, belum ada kajian soal fanbase yang mengikuti itu dan membawa campaignnya. Agnezmo sering bicara soal mental health/kesehatan jiwa, atau kesetaraan gender. Fansnya yang sangat banyak itu mungkin juga sudah ada yang angkat bicara. Tapi mana kajiannya?

Kajian pop culture dan fandom ini penting sekali untuk membuat sebuah pop icon punya peran besar dalam perubahan peradaban kita. Dan ketika icon-nya sudah bicara, fans-nya sudah ikut, tapi kajiannya nggak ada, kita tidak bisa mereduplikasi metodologi itu ke dalam industri kita, dan hasilnya, bangsa kita nggak maju-maju. Jadi bisa jadi bukan Agnezmo yang tidak bisa mengejar Billie Eilish. Kita saja yang masih berdaya baca rendah, dan lebih sibuk ngambek-ngambek karena nggak dikasih MV baru sama idola kita, misalnya.

Semoga tulisan ini bisa memulai diskusi dan kajian-kajian penting itu. Buat menutup tulisan ini, saya kasih MV Agnezmo sama Chris Brown yang menurut saya, keren.


Website ini dibuat dengan donasi. Kalau kamu suka dengan yang kamu baca, kamu bisa traktir kopi untuk yang nulis dengan menekan tombol di bawah ini:

Ethnography, Politik, Racauan

NFT buat Orang Tolol

NFT atau Non-Fungible Token jadi trend di Indonesia gara-gara selfie seseorang yang kita semua sudah tahu siapa, kalau nggak tahu kalian bisa cari sendiri di google. Ini tentunya membuat pusing situs market NFT karena habis itu pasar NFT dipenuhi dengan sampah-sampah dari netizen Indonesia. Terus kalau kalian searching NFT di internet, pasti kalian banyak yang bingung karena ini kayak udah jadi ribet banget. Untuk ngerti NFT kalian harus ngerti Blockchain, Crypto Currency, FT, NFT dan pada akhirnya otak kalian biasanya akan teriak WTF. 

Photo by Worldspectrum on Pexels.com

Saya paling jago ngejelasin konsep ngejelimet dengan cara yang sangat bodoh, tapi kalian semua bakal ngerti. Di tulisan ini saya akan bahas soal blockchain, Crypto Currency, FT dan NFT dengan sederhana buat kalian yang otaknya segoblok saya waktu browsing ini sekitar 3 bulan yang lalu. Dan yang paling keren dari tulisan ini, saya bisa kasih tahu kalian bagaimana mengambil sistem NFT dan membuatnya menjadi sebuah penghasilan instan tanpa kalian harus punya crypto currency. Tulisan ini akan menjelaskan hubungan antara blockchain dengan pernikahan, crypto currency dengan perbudakan, dan NFT dengan taik kucing.

Tapi maaf banget, karena saya riset lumayan banyak buat bikin tulisan renyah ini, saya mau minta kalian nyumbang duit kopi dan wi fi saya. Kebetulan tagihan wi fi baru saja mendarat. Kalian bisa baca tulisan ini dengan traktir saya secangkir kopi susu warung. Klik tombol di bawah ini:

Ethnography, Memoir, Racauan

Rejeki Udah Diatur, Tinggal Dikumpulin

Siapa yang ngatur rejeki? Yah waktu kamu lahir, keluargamu adalah ground Zero rejeki mu. Ada yang lahir kaya, ada yang lahir miskin. Ini dalam sosiologi disebut ascribed status, atau status yang hadir dari sononya. Jadi keluarga dan sanak saudara adalah sumber rejeki pertama, dari susu nyokap, duit bokap, pangkat om di kantornya, rejeki arisan tante, pencapaian sepupu-sepupu, dan lain-lain. Keluarga adalah dimana kita pertama kali ngatur dan ngumpulin rejeki kita.

Kita ga bisa ngatur lahir di keluarga kayak apa. Ada yang lahir di keluarga miskin dan disfungsional. Ada yang lahir di keluarga kaya dan disfungsional. Ada yang lahir di keluarga miskin fungsional dimana cinta dan usaha bokap nyokap keren banget buat gedein kita, ada yang lahir di keluarga kaya fungsional dimana kasih sayang dan kecukupan seringkali bikin kita manja dan takut buat terjun ke dunia, gampang baper, dan ga keluar-keluar dari rumah. Kalian dari keluarga apa? Tulis di komen lah, nanti kita ngobrol.

Sambil nunggu kalian komen, kita bisa mulai identifikasi keluarga sebagai sumber rejeki pertama kita. Membaca keluarga sendiri adalah tantangan paling sulit, karena kita terlalu dekat, terlalu terbawa konflik di dalamnya. Tapi biasanya, ketika ada acara keluarga dari mulai sunatan, lebaran, kawinan, kematian, kita bisa lihat sekompak apa keluarga kita. Ada keluarga yang sangking kompaknya sampe bisa bikin kawinan atau pemakaman gede-gedean walau semua orang miskin. Ada keluarga yang kaya banget, tapi sangking gak kompaknya, ketika ada anggota keluarga yang meninggal, yang dateng dikit dan yang nguburin bahkan bukan keluarganya. Masing-masing keluarga punya cara berbeda dalam berprodikai dan mengolah modalnya.

Ada keluarga kaya yang nggak suka berbagi dan sangat kompetitif, bangga-banggain prestasi anak dan pamer kekayaan, tapi begitu ada yang susah, perhitungannya setengah mati. Ada juga keluarga yang walau hidupnya pas-pasan tapi begitu ada anggota keluarga yang susah, semua kumpul guyub, bantuin sama-sama. Nggak ada yang salah dengan cara masing-masing keluarga mengatur rumah tangganya, toh mereka masih jadi keluarga–mungkin karena terpaksa.

Sekarang coba lihat keluargamu sendiri. Apa tata cara dan bahasa sosial mereka? Bagaimana mereka bekerja? Bisa nggak kamu ngobrol dan cari data sejarah keluargamu? Apakah keluargamu mantan ningrat, Raden Ayu atau Tubagus? Apa pengaruh keningratan itu? Atau jangan-nangan keluargamu adalah imigran dari Cina daratan, India, atau Arab? Ini semua menentukan rejeki awalmu. Dan ketika dunia kapitalis mulai jahat padamu, ketika bisnismu gagal semua, dan semua teman tidak bisa membantumu, sebelum kamu ke Allah, biasanya kamu ke keluarga. Bagaimana cara mereka membantumu?

Di luar keluarga kamu punya teman dan sahabat. Siapa lingkaran temanmu, juga menjadi sumber-sumber rejekimu. Kalau temanmu pada mabok semua dan ga ada yang bisa kerja, dan kamu orang yang baik dan bertanggung jawab, kamu akan mati dimakan teman-teman. Kalau sebaliknya, teman-temanmu yang kamu makan. Kalau kamu cuma berteman di internet dan introvert, itu masalah besar ketika kamu harus berjejaring dan bebas dari keluarga yang disfungsional, atau ketika kamu mau membantu keluarga disfungsionalmu.

Kemampuan bergaul dan komunikasi dimulai dari kemampuan membaca situasi dan keadaan sosial di lingkaran teman dan sahabat dekat. Jika itu saja kamu tidak berhasil, mungkin kamu harus ambil kelas atau baca buku how to yang sederhana untuk belajar ulang caranya bicara. Mungkin referensimu terlalu tinggi, atau terlalu kurang untuk bisa mengenal orang. Tanpa ilmu bergaul yang baik, kamu susah berjejariny dan rejekimu mandeg. Sudah diatur ada di situ, tapi kamu ga bisa dapet karena kamu ga tahu cara minta apalagi cara ngolahnya. Orang mikir kamu ga sopan dan ga empati, ngapain mereka sopan dan empati sama kamu?

Let say keluargamu disfungsional dan temen-temenmu ga bisa diandalkan. Kamu masuk ke dunia kerja. Kamu pilih kerjaan yang nggak usah bergaul, ga usah menjilat ga usah sosial. Kamu mau jadi sekrup di mesin yang besar, yang semua diatur sistem: jam kerja diatur, asuransi diatur, semua diatur. Kamu ga perlu kenal bosku cukup kenal supervisor di atas kamu satu tingkat, itu pun ga deket sama sekali. Di situ kamu lupa, bahwa sistem bisa dan seringkali akan collapse.

Krisis ekonomi, pandemi, bencana alam dan banyak lagi akan bikin sistem collapse dan kamu mau kemana ketika sistem itu hancur? Mungkin kamu bisa beruntung seperti orang Jepang tokoh bapaknya tokoh utama di 1Q84, yang sampai mati dikubur oleh jasa pemakaman yang ia pesan sendiri, dan selama hidup bekerja kayak robot, pensiun dengan dana investasi dan deposito. Itu kalau kebetulan bisa kerja let say, jadi PNS, yang sistemnya cenderung stabil. Di tahap itu rejeki yang diatur sudah kamu kumpulkan dan kamu atur sendiri. Tapi masa rejeki cuma duit? Si bapak itu keluarganya hancur, anaknya dia singkirkan dan dia ga mau kenal, cuma tahu Terima warisan aja. Bapak itu trauma karena istrinya selingkuh, dan ga mau berhubungan lagi dengan siapapun–termasuk anaknya sendiri. Itu pilihan dia sih, nggak apa-apa juga.

Bapak itu menggunakan solidaritas sosial yang ga kelihatan; karena semua sistem yang dibangun dan tempat dia hidup adalah sistem sosial. Ada orang-orang yang nggak dia kenal yang bangun rumahnya, sampai gali kuburnya. Dan itu mungkin tidak semenyakitkan kalau yang bangun rumah dan gali kubur adalah orang yang kita kenal. Itu ide bagus dalam menghindari baper di jaman ini. Kalau kamu lihat bahwa hidup sesepi itu lebih baik. Semua balik-balik sama kamu sendiri sih.

Rejeki sudah diatur, tapi hanya diawal ketika kita belum bisa atau dipaksa mengatur rejeki kita. Ketika kita punya tanggungan, rejeki tanggungan kita ya kita yang atur. Kita kumpulkan satu-satu dari keluarga, teman, kantor, atau bisnis sendiri dengan mengolah minimal ketiga sumber itu, ditambah sumber-sumber lain seperti investasi dan tabungan. Dan semua yang itu bisa membuat kita mengurus diri kita sendiri. Pertanyaan selanjutnya, bisa kah kita mengurus orang lain?

***

Saya bangga sekali degan saudara-saudara dan sahabat-sahabat yang membantu saya untuk tetap menulis, menyemangati, membaca, mengomentari, dan mentraktir saya kopi untuk membuat website ini tetap ada. Dulu saya menulis untuk diri sendiri, sekarang saya menulis untuk kalian semua. Terima kasih sudah membaca. Website ini saya buat supaya kalian nyaman membaca, dan saya butuh bantuan kalian untuk ikut patungan bayar domain dan hostingnya. Traktir saya kopi murahan dengan menekan tombol di bawah ini atau dengan gopay, biar kalian tetap nyaman membaca semua konten di sini.

Atau bisa juga via gopay: