Ethnography, Memoir, Racauan

Rejeki Udah Diatur, Tinggal Dikumpulin

Siapa yang ngatur rejeki? Yah waktu kamu lahir, keluargamu adalah ground Zero rejeki mu. Ada yang lahir kaya, ada yang lahir miskin. Ini dalam sosiologi disebut ascribed status, atau status yang hadir dari sononya. Jadi keluarga dan sanak saudara adalah sumber rejeki pertama, dari susu nyokap, duit bokap, pangkat om di kantornya, rejeki arisan tante, pencapaian sepupu-sepupu, dan lain-lain. Keluarga adalah dimana kita pertama kali ngatur dan ngumpulin rejeki kita.

Kita ga bisa ngatur lahir di keluarga kayak apa. Ada yang lahir di keluarga miskin dan disfungsional. Ada yang lahir di keluarga kaya dan disfungsional. Ada yang lahir di keluarga miskin fungsional dimana cinta dan usaha bokap nyokap keren banget buat gedein kita, ada yang lahir di keluarga kaya fungsional dimana kasih sayang dan kecukupan seringkali bikin kita manja dan takut buat terjun ke dunia, gampang baper, dan ga keluar-keluar dari rumah. Kalian dari keluarga apa? Tulis di komen lah, nanti kita ngobrol.

Sambil nunggu kalian komen, kita bisa mulai identifikasi keluarga sebagai sumber rejeki pertama kita. Membaca keluarga sendiri adalah tantangan paling sulit, karena kita terlalu dekat, terlalu terbawa konflik di dalamnya. Tapi biasanya, ketika ada acara keluarga dari mulai sunatan, lebaran, kawinan, kematian, kita bisa lihat sekompak apa keluarga kita. Ada keluarga yang sangking kompaknya sampe bisa bikin kawinan atau pemakaman gede-gedean walau semua orang miskin. Ada keluarga yang kaya banget, tapi sangking gak kompaknya, ketika ada anggota keluarga yang meninggal, yang dateng dikit dan yang nguburin bahkan bukan keluarganya. Masing-masing keluarga punya cara berbeda dalam berprodikai dan mengolah modalnya.

Ada keluarga kaya yang nggak suka berbagi dan sangat kompetitif, bangga-banggain prestasi anak dan pamer kekayaan, tapi begitu ada yang susah, perhitungannya setengah mati. Ada juga keluarga yang walau hidupnya pas-pasan tapi begitu ada anggota keluarga yang susah, semua kumpul guyub, bantuin sama-sama. Nggak ada yang salah dengan cara masing-masing keluarga mengatur rumah tangganya, toh mereka masih jadi keluarga–mungkin karena terpaksa.

Sekarang coba lihat keluargamu sendiri. Apa tata cara dan bahasa sosial mereka? Bagaimana mereka bekerja? Bisa nggak kamu ngobrol dan cari data sejarah keluargamu? Apakah keluargamu mantan ningrat, Raden Ayu atau Tubagus? Apa pengaruh keningratan itu? Atau jangan-nangan keluargamu adalah imigran dari Cina daratan, India, atau Arab? Ini semua menentukan rejeki awalmu. Dan ketika dunia kapitalis mulai jahat padamu, ketika bisnismu gagal semua, dan semua teman tidak bisa membantumu, sebelum kamu ke Allah, biasanya kamu ke keluarga. Bagaimana cara mereka membantumu?

Di luar keluarga kamu punya teman dan sahabat. Siapa lingkaran temanmu, juga menjadi sumber-sumber rejekimu. Kalau temanmu pada mabok semua dan ga ada yang bisa kerja, dan kamu orang yang baik dan bertanggung jawab, kamu akan mati dimakan teman-teman. Kalau sebaliknya, teman-temanmu yang kamu makan. Kalau kamu cuma berteman di internet dan introvert, itu masalah besar ketika kamu harus berjejaring dan bebas dari keluarga yang disfungsional, atau ketika kamu mau membantu keluarga disfungsionalmu.

Kemampuan bergaul dan komunikasi dimulai dari kemampuan membaca situasi dan keadaan sosial di lingkaran teman dan sahabat dekat. Jika itu saja kamu tidak berhasil, mungkin kamu harus ambil kelas atau baca buku how to yang sederhana untuk belajar ulang caranya bicara. Mungkin referensimu terlalu tinggi, atau terlalu kurang untuk bisa mengenal orang. Tanpa ilmu bergaul yang baik, kamu susah berjejariny dan rejekimu mandeg. Sudah diatur ada di situ, tapi kamu ga bisa dapet karena kamu ga tahu cara minta apalagi cara ngolahnya. Orang mikir kamu ga sopan dan ga empati, ngapain mereka sopan dan empati sama kamu?

Let say keluargamu disfungsional dan temen-temenmu ga bisa diandalkan. Kamu masuk ke dunia kerja. Kamu pilih kerjaan yang nggak usah bergaul, ga usah menjilat ga usah sosial. Kamu mau jadi sekrup di mesin yang besar, yang semua diatur sistem: jam kerja diatur, asuransi diatur, semua diatur. Kamu ga perlu kenal bosku cukup kenal supervisor di atas kamu satu tingkat, itu pun ga deket sama sekali. Di situ kamu lupa, bahwa sistem bisa dan seringkali akan collapse.

Krisis ekonomi, pandemi, bencana alam dan banyak lagi akan bikin sistem collapse dan kamu mau kemana ketika sistem itu hancur? Mungkin kamu bisa beruntung seperti orang Jepang tokoh bapaknya tokoh utama di 1Q84, yang sampai mati dikubur oleh jasa pemakaman yang ia pesan sendiri, dan selama hidup bekerja kayak robot, pensiun dengan dana investasi dan deposito. Itu kalau kebetulan bisa kerja let say, jadi PNS, yang sistemnya cenderung stabil. Di tahap itu rejeki yang diatur sudah kamu kumpulkan dan kamu atur sendiri. Tapi masa rejeki cuma duit? Si bapak itu keluarganya hancur, anaknya dia singkirkan dan dia ga mau kenal, cuma tahu Terima warisan aja. Bapak itu trauma karena istrinya selingkuh, dan ga mau berhubungan lagi dengan siapapun–termasuk anaknya sendiri. Itu pilihan dia sih, nggak apa-apa juga.

Bapak itu menggunakan solidaritas sosial yang ga kelihatan; karena semua sistem yang dibangun dan tempat dia hidup adalah sistem sosial. Ada orang-orang yang nggak dia kenal yang bangun rumahnya, sampai gali kuburnya. Dan itu mungkin tidak semenyakitkan kalau yang bangun rumah dan gali kubur adalah orang yang kita kenal. Itu ide bagus dalam menghindari baper di jaman ini. Kalau kamu lihat bahwa hidup sesepi itu lebih baik. Semua balik-balik sama kamu sendiri sih.

Rejeki sudah diatur, tapi hanya diawal ketika kita belum bisa atau dipaksa mengatur rejeki kita. Ketika kita punya tanggungan, rejeki tanggungan kita ya kita yang atur. Kita kumpulkan satu-satu dari keluarga, teman, kantor, atau bisnis sendiri dengan mengolah minimal ketiga sumber itu, ditambah sumber-sumber lain seperti investasi dan tabungan. Dan semua yang itu bisa membuat kita mengurus diri kita sendiri. Pertanyaan selanjutnya, bisa kah kita mengurus orang lain?

***

Saya bangga sekali degan saudara-saudara dan sahabat-sahabat yang membantu saya untuk tetap menulis, menyemangati, membaca, mengomentari, dan mentraktir saya kopi untuk membuat website ini tetap ada. Dulu saya menulis untuk diri sendiri, sekarang saya menulis untuk kalian semua. Terima kasih sudah membaca. Website ini saya buat supaya kalian nyaman membaca, dan saya butuh bantuan kalian untuk ikut patungan bayar domain dan hostingnya. Traktir saya kopi murahan dengan menekan tombol di bawah ini atau dengan gopay, biar kalian tetap nyaman membaca semua konten di sini.

Atau bisa juga via gopay:

Ethnography, Politik, Racauan

2 Cara untuk Memperlambat Kepunahan Manusia

Jadi begini kawan-kawan. Dulu ada sebuah banyolan di tongkrongan saya:

“Kiamat selalu dekat, tapi tak pernah datang.”

Hari ini, anekdot itu tidak lagi berlaku. Kalo kiamat adalah hari dimana dunia manusia hancur oleh penyakit, bencana alam, dan kematian massal homo sapiens, maka kita sudah di sana. Sementara alam semesta akan jalan terus ketika kita semua sudah mati. Seperti dulu sebelum ada kita, alam akan terus ada dan mengembang (expanding), sampai terjadi supernova dan semua kembali mengulang mencari bentuk. Saat itu akan terjadi milyaran tahun setelah kita nggak ada.

Kembali ke sains dan fakta, kenyataannya dunia kita tidak pernah sepanas ini semenjak manusia ada. Dalam 100 tahun, revolusi Industri dan eksploitasi alam sudah membuat banyak kemajuan peradaban, tapi di saat yang sama mempercepat kehancuran kita semua. Pabrik-pabrik, mobil, transportasi dan pembangkit listrik membuat polusi dan emisi menghabiskan oksigen yang kita hirup. Konsumsi daging kita dan overproduksi peternakan sapi membuat ozon kita habis digantikan kentut-kentut dan uap tahik ternak di udara di seluruh dunia. Kebakaran hutan untuk lahan pertanian dan sawit, membuat CO2 melayang bebas, dan tidak ada saringan dan lingkaran kehidupan terputus. Yang rugi bukan alam, kita tidak menyakiti alam. Alam kebal, dan akan jalan terus. Binatang terus punah dan berevolusi bermutasi menjadi berbagai bentuk. Kita dan hanya kita yang jika punah, akan kehilangan spesies kita.

Dan kita tak bisa berhenti, karena kita mau ngasih makan banyak orang, menghidupkan banyak industri. Bahkan 2 tahun pandemi, yang gila-gilaan merusak ekonomi dan memperlambat kecepatan produksi kita tidak berpengaruh banyak untuk mengurangi polusi. Kok bisa? Ya karena transportasi tetap berjalan dan kita tetap butuh makan dengan cepat, logistik harus jalan terus walau kita banyak yang tidak kerja. Sentralisasi logistik membuat kita nggak merasa perlu punya pertanian sendiri di rumah kita, kita tetap pesan barang online, konsumsi, konsumsi, konsumsi! Dan sampah? Sampah terus kita buat dan tidak bisa kita hentikan.

Siapa yang salah? Kita semua. Tapi ada yang paling salah. Yang paling salah bukanlah kita yang kerja banting tulang tiap hari, ngutang kiri kanan, offline online buat hidup di masa pandemi. Penyumbang terbesar terhadap kiamat kita adalah orang-orang super kaya penghasil energi dan penjahat eksploitasi alam yang overproduksi. Mereka yang untuk bisa makan tuna sirip biru, harus merusak seluruh ekosistem laut. Mereka yang mampu membangun, menggerakan ekonomi dengan jari mereka, dan borosnya setengah mati. Mereka yang menghabiskan modal untuk hal-hal super mewah. Karena kalau mau jujur, masalah kelaparan dunia, misalnya, bisa saja selesai dengan duit untuk beli pesawat jet pribadi atau membangun mansion-mansion mewah yang cuma diisi sedikit orang, atau bikin tambang crypto.

Kita ditakut-takuti dengan overpopulasi, disuruh pake KB, padahal kebanyakan lahan di bumi ini diisi oleh sedikit orang-orang kaya yang pengen ngelihat alam dengan lega, atau tempat buat pabrik, retail, dan tambang mereka. Amerika dan Inggris berhasil mengurangi emisi dengan mindahin semua pabrik ke Asia. Dan lihat kita sekarang! Bangladesh dan India jadi negara paling polutif di dunia itu gara-gara siapa? Mereka dulu lupa, dimanapun pabrik dipindahkan, efeknya tetap buat kita semua, walau mereka nggak merasakan dampak langsung. Kutub meleleh, air laut naik, dan pulau-pulau tenggelam, dimanapun itu pabrik didirikan.

Ada dua film pendek yang harus kamu tonton buat melihat masa depan yang hampir pasti datang. Pertama adalah film “Pesan dari Masa Depan” Karya Luthfi Pradita. Film ini memperlihatkan dunia yang akan kita tinggali, dan ini bukan lagi ancaman tapi kepastian. Di banyak negara di Eropa dan beberapa negara bagian di Amerika, seperti Pittsburgh, orang tidak hanya mendengar ramalan cuaca atau melihat google maps untuk lalulintas sebelum jalan keluar. Mereka juga memperhatikan berapa kadar partikel polusi udara hari ini. Karena pertikel polusi udara dari kendaraan adalah penyebab kematian nomor 1 hari ini. Jumlah orang yang mati akibat polusi udara di luar dan di rumah tangga di dunia, menurut WHO, sudah mencapai 7 juta per tahun! Itu dua kali lipat kematian covid per tahun dan 3 kali lipat kematian akibat kecelakaan lalu lintas! Mereka semua mati karena penyakit jantung, pneumonia, dan kanker paru, digabung! Dan si semua mayat mereka, kadar particulate matter (bahan polusi dari transportasi dan pabrik) sangat tinggi. Untuk bisa hidup sedikit lebih panjang, silahkan baca guideline dari WHO berikut ini.

Sementara itu film “Masa Depan Cerah 2040” karya Winner Wijaya harusnya ganti judul jadi “Masa Depan Cerah 2025”, karena masa itu sudah datang: masa dimana kita semua harus pake hazmat dan oksigen buat keluar rumah, masa dimana hubungan sosial harus dilakukan via realitas virtual, itu sudah datang. Kalau kita masih menganggap dua film itu fiksi, maka kita benar-benar buta dan nggak bisa evaluasi diri.

Lalu kita harus apa? Kalau kamu berpikir tentang tidak menggunakan plastik sekali pakai, mematikan lampu dan AC kalau tidak diperlukan, atau kurang-kurangi belanja hal yang gak perlu, atau belanja hanya hal-hal baik yang tidak merusak alam, kamu sudah bener tapi kurang berguna. Karena kamu bisa bayangkan, PBB dan semua ilmuan sejak hampir satu dekade lalu bilang, kita semua harus menurunkan emosi global 7.4% per tahun supaya bisa bertahan hidup di masa tanpa covid. Setelah covid dua tahun, dengan semua lockdown, dan banyak kegiatan ekonomi terhenti, kita cuma bisa menurunkan 6.4%! Kenapa bisa begitu? Padahal transportasi publik dan pesawat sudah drastis menurun.

Jawabannya karena kita di rumah masih pake listrik dan AC berlebih, pabrik masih jalan. Dan kalaupun kita hemat-hemat, atau ikut earth hour, itu juga nggak akan ngaruh karena pembangkit listrik kita kebanyakan masih tenaga batu bara/minyak bumi. Dan pembangkit itu dimiliki orang para pengusaha oligarki, bukan milik negara. Tonton film Dandy Laksono ini buat tahu betapa mengerikan bisnis energi di Indonesia:

Jadi masalah energi ini kompleks dan nyebelin banget. Lalu apa kita harus menyerah dan menunggu mati aja? Atau kita mau nabung beli masker dengan filter yang harganya 3 juta itu? Siap hidup di Masa Depan Cerah 2040? Kalo masih mau fight, saya punya pemecahannya.

Pertama, bikin komunitas dan gerakan politik untuk ngubah kebijakan struktural negaramu soal plastik, sampah, dan listrik. Ini bisa dilakukan dengan mendukung petisi-petisi tentang plastik, sampah, dan listrik, atau membuat petisimu sendiri. Berikut adalah beberapa petisi yang bisa kamu dukung:

Cukai plastik
https://chng.it/gs9YgFzdjG

UU pengurangan plastik
https://chng.it/MYYqGqkddr.

PLTP
https://chng.it/c2nX2xYP5r

Masih banyak petisi yang harus dibuat dan mencari dukungan macam-macam. Belum ada petisi yang ekstrim soal pelarangan produk plastik sekali pakai, atau undang-undang emisi yang bisa mengurangi emisi kita sebesar-besarnya. Lalu saat satu yang paling krusial dan berantakan adalah soal pesawat terbang komersial yang emisinya gede banget. Kalau pesawat bisa dibikin mahal dan transportasi yang lebih ramah lingkungan seperti kereta listrik dan kereta bawah laut bisa digalakan, tentu umur kita bisa lebih panjang sedikit. Kalau tidak ada yang bikin petisinya, mungkin saya akan bikin ketika ada waktu lebih buat risetnya.

Kedua, investasi ke produk ramah lingkungan dan energi terbarukan. Kita selalu tergantung pada energi-energi yang tidak sustainable seperti minyak bumi, batu bara, panas bumi, dan gas alam. Kalau ada perusahaan fintech yang bersedia bikin app untuk invest ke produk ramah lingkungan segampang bibit, dan tidak melulu soal UMKM, saya mau mau banget invest. UMKM itu baik, tapi nggak signifikan untuk membuat hidup kita lebih panjang. Karena masalah kita sudah sebegitu besarnya, kita butuh sebuah cara yang lebih massif dan jitu seperti pembangkit listrik tenaga angin dan matahari yang lebih bisa diakses banyak orang. Selama nggak ada investasinya, maka kita masih akan menderita dengan mati lampu yang sering banget, dan kita nggak digdaya untuk punya energi terbarukan dan pembangkit listrik sendiri yang jauh lebih ramah lingkungan. Teknologinya masih terlalu mahal. Tapi kita banyak orang kaya, dan kelas menengah kita suka invest jangka panjangnya maka seandainya ada fintech yang memiliki broker atau financial planning untuk green investment di Indonesia, kita mungkin akan bertahan.

Kalau kamu mau lebih tahu soal korporat-korporat yang sedang mengusahakan energi terbarukan yang aksesiboe, kamu bisa baca artikel ini dan secara manual, invest ke perusahan-perusahaan yang terdaftar di sini.

Ada beberapa hal yang bisa kamu fokuskan uang investasimu, dan keuntungannua kamu akan dapet cepet dalam bentuk bukan yang, tapi umur spesiesmu yang lebih panjang. Carilah perusahaan-perusahaan yang sedang mengembangkan tenaga Surya dan angin, invest ke pengembangan daging artifisial untuk mengurangi peternakan. Kalau perlu kamu bikin start up nya: energi mandiri di rumah melalui tenaga surya dan angin, biar ga tergantung PLN. Contohnya seperti video dari bali ini:

Ini bukan lagi pencegahan. Ini pertahanan hidup. Kiamat sudah sampai, dan tidak seperti fiksi sains, kiamat tidak datang sehari selesai. Masa panceklik menyeramkan ini masih panjang dan begitu menyiksa. Terus kalau kita nggak gerak, ya kita akan mati duluan. Sementara yang mau gerak, insyallah bisa pelan-pelan berevolusi menjadi spesies baru: yang tahan polusi atau memakai alat bantu, atau mengoperasi dirinya sendiri menjadi homo deus.

Untuk mengakhiri tulisan ini, saya persembahkan ke kalian film pendek saya bersama WWF Indonesia, Sejak Dini. Film ini minimal bisa ngajarin kita untuk berusaha hidup dengan beli yang baik-baik, supaya apa? Menunda kepunahan kita sedikit lagi.

***

Wow, kamu selesai membaca tulisan tentang lingkungan! Selamat! Dengan ini semoga kita ketemu 10 tahun lagi dalam kondisi cukup sehat. Amin!

Website ini dijalankan sepenuhnya dengan donasi yang dipakai buat bayar hosting, riset, dan nulis. Kalau kamu merasa tulisan ini berguna, boleh traktir penulisnya kopi dengan menekan tombol berikut:

Atau scan di sini untuk pake Go Pay:

Ethnography, Politik, Racauan

Kenapa Kita Harus Melindungi AntiVaksin?

Antivaksin, atau orang yang nggak mau divaksin, ada banyak di mana-mana. Dan penolakan ini sangat wajar dan dalam beberapa konteks sangat diperlukan. Alasannya bisa macam-macam, dari teori konspirasi, alergi, sampai buat riset. Apapun alasannya, salah banget kalau kita marah pada antivaksin, karena jika sama-sama berteriak, maka nggak ada yang akan kedengeran kecuali suara bising. Kita harus lebih bijak untuk bicara dan mendengarkan satu sama lain. Maka mari kita telurusi fakta dasar soal vaksin dan dengan itu kita akan menemukan kenapa antivaksin perlu dilindungi dan bagaimana Demokrasi bisa bekerja tanpa membunuh dirinya sendiri.

Pertama, vaksin ditemukan untuk menipu sel biar kuat. Pengetahuan umumnya, vaksin adalah virus yang dilemahkan atau disimulasikan dan disuntikan ke tubuh kita agar sel-sel kita punya memori tentang sebuah penyakit, sehingga kalau virus sebenarnya menyerang, sel kita bisa mengenali dan melawan. Menyuntikkan vaksin yang adalah kembarannya virus, pasti ada efek sampingnya walau sedikit. Karena, well, kita dimasukin penyakit. Minimal ada lah rasa cenat cenut. Namun dalam beberapa kasus, bisa fatal banget. Ini semua orang harus tahu: vaksin memang bisa berbahaya.

Banyak efek samping dari vaksin. Yang sudah merasakan vaksin dosis pertama covid 19 pasti ada aja gejala macem-macem tergantung kondisi tubuhnya. Ada yang demam, ruam, pegel, bahkan ada yang pingsan. Vaksin-vaksin lain juga ada banyak efek sampingnya, tapi soal yang meninggal karena vaksin, ini harus dicek satuan kasus dan kasusnya dikit banget. Sementara efek samping lain bisa banget ditangani dengan medis, dari pengobatan di rumah, sampai di rumah sakit. Dilihat dari angkanya, efek samping vaksin apapun yang dirilis ke publik sangat bisa ditangani. Dan ini jauh lebih ringan daripada sakit beneran. Namun harus diakui bahwa alergi terhadap vaksin itu ada, dan segelintir orang memang nggak bisa dikasih vaksin.

Kalau memang alergi, maka antivaksin boleh ada dan harus dilindungi. Cuman cara melindunginya cuma satu: bentuk herd immunity! Selama belum ada herd immunity, akses mereka yang tidak divaksin harus dibatasi karena mereka berbahaya untuk dirinya sendiri dan orang lain. Namun ketika herd immunity sudah terbentuk, kita bisa sama-sama melindungi mereka.

Masalahnya ada pada orang-orang tolol yang menganggap bahwa fakta adalah Demokrasi dan opini. Ketidakmampuan membedakan mana yang fakta dan mana yang fiksi ini parah banget diseluruh dunia karena daya kritis itu dibentuk tidak hanya dari pendidikan tapi juga dari pengalaman. Ketika pengalamannya tidak ada, maka sulit untuk menjadi kritis beneran, yang ada logikanya krisis bukan kritis. Selama tidak ada beda antara fakta dan opini, maka Demokrasi tidak bisa berjalan. Perbandingan argumennya tidak apple to apple, ketika pihak satu membawa statistik dan data valid, sementara pihak lain terjebak perasaan dan misinformasi.

Maka ada baiknya kita belajar dari bagaimana sel kita bekerja menerima vaksin. Anggap saja bahwa kaum yang kebal fakta ini adalah auto immune yang menganggap bahwa fakta adalah virus. Mungkin ada memori-memori propaganda yang menyakiti mereka, jadi mereka melihat obat sebagai racun. Auto immune semacam ini bisa membuat masyarakat kita bunuh diri, Demokrasi bunuh diri karena oxymoron: “saya boleh jadi anti Demokrasi karena negara kita demokratis, ” Sama seperti sel darah putih yang menyerang bakteri atau organ sehat karena dikira penyakit. Maka untuk menyembuhkannya, kita jangan membunuh atau mengasingkan mereka. Kita harus mencari masalah lainnya, yang membuat sel darah putih jadi keos dan membunuh sel sehat.

Bagaimana caranya, ketika dialog dan diskusi pun tidak bisa dilakukan karena beda konteks? Kalau begitu tidak perlu diskusi dengan mereka, diskusilah dengan pembuat kebijakan yang terhubung dengan jaringan global. Kita jaga jumlah antivax tetap kecil supaya mereka bisa kita lindungi dengan herd immunity kita, sampai mereka mati nanti dan anak-anaknya yang terjebak sistem pendidikan atau ideological state apparatus lain, bisa berubah dan menjadi lebih baik daripada orang tuanya.

Kalau anak-anak yang tidak divaksin ini mati duluan, well, paling tidak anak kita tidak mati. Toh, pilihan sudah mereka ambil. Resiko tanggung sendiri. Bismillah aja.

****

Terima kasih sudah membaca tulisan ini sampai habis. Kalau kamu suka pada yang kamu baca, boleh traktir saya kopi biar saya tetap semangat menulis. Klik tombol di bawah ini yaa….

Ethnography, Filsafat, Memoir, Politik, Racauan

Sastra Jahat, Sastra Data

Sastra adalah ilmu tentang cerita. Cerita apa? Ya semua cerita, dari fakta yang diramu, hingga agama yang dianut; dari fiksi yang dilisan hingga diksi di tulisan. Tidak ada batas belajar sastra, selama kita memakai bahasa, dan karena bahasa membuat kita jadi manusia, sastra memanusiakan manusia.

Di jurusan fakultas Ilmu Budaya, sastra jadi lebih sempit artinya: semua yang tertulis sebagai teks, atau peninggalan artefak. Makanya ilmu sejarah dan arkeologi di UI masuk Fakultas Ilmu Budaya. Sementara yang tak tertulis, lisan, atau butuh pengumpulan riset lapangan yang berdasarkan omongan orang, masuknya ke FISIP.

Ini jadi agak problematik dan bisa diperdebatkan. Karena artinya Sastra Lisan, seperti folklore (bukan dongeng, tapi dongeng adalah salah satunya), tidak masuk Fakultas Ilmu Budaya. Folklore di UI jadi cabang Antropologi, dan di UI Antropologi masuk ke Fakultas Ilmu Sosial Politik. Pertentangan ini membuat di UGM, ilmu Antropologi masuk ke Fakultas Ilmu Budaya. Mana yang masuk akal? Mana yang benar? Ah, itu semua politik kampus saja. Ujung-ujungnya, Ilmu pengetahuan sebenarnya tak lebih dari kisah-kisah saja, Sastra semua! Bisa dibuat-buat dan bisa sangat kuat! Sastra, kisah, tulisan, bisa jadi kepercayaan dan bisa membunuh ribuan bahkan jutaan orang, kalau tidak menyelamatkan mereka.

Sinagog

Hitler membunuh Yahudi dengan narasi bahwa bangsa Arya Jerman adalah Ras unggul, simbolnya swastika. Padahal kalau kita baca teks arkeologi, Ras Arya berasal dari India dan kulitnya gelap-gelap. Swastika pun simbol dari budaya timur. Tapi narasi ‘Sastra’-nya Hitler yang banyak dianut orang Jerman saat itu. Hitler baca Nietzsche dan mengintretasikan tulisan Nietzsche yang campuran filsafat, sejarah, dan sastra, menjadi pembenaran untuk melakukan genosida terhadap Yahudi.

Indonesia, sebagaimana semua narasi tentang negara, adalah sastra juga. Sebuah traktat politik. Sebuah imajinasi yang dibagi. Begitupun institusi-institusi lain dari identitas hingga agama. Di Indonesia, genosida berdasarkan sastra dibuat berkali-kali lewat propaganda pemerintah. Dari mulai pemerintah kolonial terhadap berbagai etnis, pembantaian PKI, dan etnis China-Indonesia. Semua gara-gara cerita, yang kebanyakan tidak bisa terbukti kebenarannya.

Hari ini dengan adanya media sosial, alat propaganda dimiliki banyak orang. Semua bisa sebar cerita, semua bisa sebar hoax. Tukang cerita jadi laku dari jadi wartawan hingga buzzer. Profesi mahal jika bisa menerjemahkan teks-teks teknik yang ribet menjadi teks narasi yang mudah dinikmati. Dan dari semua pabrik cerita, korporat internasional, seperti VOC jaman dulu, punya alat cerita paling besar. Modal paling besar: infrastruktur.

Pemerintah negara kini tidak bisa berbuat banyak, apalagi kalau kementriannya ketinggalan jaman, PNS-nya gagap teknologi. Kita benar-benar sudah hidup di desa global McLuhan, dimana semua orang bisa punya komunitas sendiri-sendiri dengan bias dan persepsinya sendiri. Namun kita menuju ke sebuah singularitas, dimana dunia akan bersatu di bawah payung bank data. Di situ, ketika orang-orang gaptek pada pensiun atau dikerjai oleh sistem yang tidak mereka mengerti, sistem yang objektif, tidak manusiawi, dan hampir tidak bisa dikorup, maka kita semua pun akan jadi manusia yang dikendalikan oleh sistem.

Selama tidak mati , sepertinya kita akan baik-baik saja. Jadi robot biologis.