Ethnography, Filsafat, Memoir, Politik, Racauan

Sastra Jahat, Sastra Data

Sastra adalah ilmu tentang cerita. Cerita apa? Ya semua cerita, dari fakta yang diramu, hingga agama yang dianut; dari fiksi yang dilisan hingga diksi di tulisan. Tidak ada batas belajar sastra, selama kita memakai bahasa, dan karena bahasa membuat kita jadi manusia, sastra memanusiakan manusia.

Di jurusan fakultas Ilmu Budaya, sastra jadi lebih sempit artinya: semua yang tertulis sebagai teks, atau peninggalan artefak. Makanya ilmu sejarah dan arkeologi di UI masuk Fakultas Ilmu Budaya. Sementara yang tak tertulis, lisan, atau butuh pengumpulan riset lapangan yang berdasarkan omongan orang, masuknya ke FISIP.

Ini jadi agak problematik dan bisa diperdebatkan. Karena artinya Sastra Lisan, seperti folklore (bukan dongeng, tapi dongeng adalah salah satunya), tidak masuk Fakultas Ilmu Budaya. Folklore di UI jadi cabang Antropologi, dan di UI Antropologi masuk ke Fakultas Ilmu Sosial Politik. Pertentangan ini membuat di UGM, ilmu Antropologi masuk ke Fakultas Ilmu Budaya. Mana yang masuk akal? Mana yang benar? Ah, itu semua politik kampus saja. Ujung-ujungnya, Ilmu pengetahuan sebenarnya tak lebih dari kisah-kisah saja, Sastra semua! Bisa dibuat-buat dan bisa sangat kuat! Sastra, kisah, tulisan, bisa jadi kepercayaan dan bisa membunuh ribuan bahkan jutaan orang, kalau tidak menyelamatkan mereka.

Sinagog

Hitler membunuh Yahudi dengan narasi bahwa bangsa Arya Jerman adalah Ras unggul, simbolnya swastika. Padahal kalau kita baca teks arkeologi, Ras Arya berasal dari India dan kulitnya gelap-gelap. Swastika pun simbol dari budaya timur. Tapi narasi ‘Sastra’-nya Hitler yang banyak dianut orang Jerman saat itu. Hitler baca Nietzsche dan mengintretasikan tulisan Nietzsche yang campuran filsafat, sejarah, dan sastra, menjadi pembenaran untuk melakukan genosida terhadap Yahudi.

Indonesia, sebagaimana semua narasi tentang negara, adalah sastra juga. Sebuah traktat politik. Sebuah imajinasi yang dibagi. Begitupun institusi-institusi lain dari identitas hingga agama. Di Indonesia, genosida berdasarkan sastra dibuat berkali-kali lewat propaganda pemerintah. Dari mulai pemerintah kolonial terhadap berbagai etnis, pembantaian PKI, dan etnis China-Indonesia. Semua gara-gara cerita, yang kebanyakan tidak bisa terbukti kebenarannya.

Hari ini dengan adanya media sosial, alat propaganda dimiliki banyak orang. Semua bisa sebar cerita, semua bisa sebar hoax. Tukang cerita jadi laku dari jadi wartawan hingga buzzer. Profesi mahal jika bisa menerjemahkan teks-teks teknik yang ribet menjadi teks narasi yang mudah dinikmati. Dan dari semua pabrik cerita, korporat internasional, seperti VOC jaman dulu, punya alat cerita paling besar. Modal paling besar: infrastruktur.

Pemerintah negara kini tidak bisa berbuat banyak, apalagi kalau kementriannya ketinggalan jaman, PNS-nya gagap teknologi. Kita benar-benar sudah hidup di desa global McLuhan, dimana semua orang bisa punya komunitas sendiri-sendiri dengan bias dan persepsinya sendiri. Namun kita menuju ke sebuah singularitas, dimana dunia akan bersatu di bawah payung bank data. Di situ, ketika orang-orang gaptek pada pensiun atau dikerjai oleh sistem yang tidak mereka mengerti, sistem yang objektif, tidak manusiawi, dan hampir tidak bisa dikorup, maka kita semua pun akan jadi manusia yang dikendalikan oleh sistem.

Selama tidak mati , sepertinya kita akan baik-baik saja. Jadi robot biologis.

Ethnography, Musik, Perlawanan, Politik, Portfolio, Puisi

Causa Libre

Lirik oleh: Rhino Ariefiansyah

Niplivrata lugens
Arthropoda penghisap amino
Tanaman padi kering kerontang
Hamparan mati hopperburn

Niplivrata lugens
Causa libre homo sapiens
Perang data wibawa presiden
Petani menggelepar terjerat hutang

Niplivrata lugens
Causa libre homo sapiens
Militer turun ke sawah
Todong senjata buat tengkulak

Niplivrata lugens
Arthropod causa libre

Niplivrata lugens
Antropogenic catastrophes

Niplivrata lugens

Anthropology, Ethnography, Filsafat, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan

Peradaban Sains Islam, Bagian V: Emas Yang Jadi Abu, sebuah Kesimpulan

Diterjemahkan tanpa izin dari tulisan Hilel Ofek, di jurnal The New Atlantic, no. 30 tahun 2011, halaman 3-23, Why The Arabic World Turned Away From Science. 

Baca dari awal bagian I 

Disclaimer penerjemah: Bagian-bagian terakhir dari terjemahan tulisan ini mengandung sedikit bias orientalisme dari penulis. Saya sendiri sebagai Muslim Indonesia, tidak setuju dengan beberapa hal yang dipaparkan penulis, namun demi semangat belajar dan kesetiaan terjemahan, saya akan menulis apa adanya. Saya tidak bertanggung jawab atas apa yang dipaparkan di sini, namun saya akan menulis sebuah kritik terhadap terjemahan ini setelah semua terjemahan ini selesai terbit. Saya harap ini juga bisa memicu diskusi lebih jauh yang berlandaskan fakta-fakta sejarah dan sumber primer yang logis dan berstandar akademik, sepeti teks asli Mr. Ofek. Gambar dan caption di blog ini adalah tanggung jawab penerjemah.

0_1024_ripleyscroll
Alkimia, salah satu peninggalan Zaman Keemasan Islam, yang berusaha mengubah benda-benda jadi emas. Walau hasilnya gagal, tapi ini menjadi dasar ilmu Kimia modern.

Standar Emas?

Dalam usaha menjelaskan kemunduran intelektual dunia Islam, penting untuk menunjuk beberapa faktor penting: otoritarianisme, pendidikan buruk, dan kurang dana (Negara Muslim menghabiskan dana pendidikan lebih rendah daripada riset dan pengembangan di negara berkembang, dalam presentase PNB-nya). Tapi alasan-alasan ini terlalu luas dan masih kasar, dan membuat lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Di level yang lebih rendah, Islam mundur karena ia gagal untuk menawarkan cara untuk menginstitusionalisasi pemikiran bebas. Karenanya, ia gagal untuk menggabungkan antara iman dan rasio. Di banyak titik, masyarakat Islam lebih mundur bukan hanya dibanding dengan dunia Barat, tapi juga lebih mundur dari masyarakat Asia. Dengan beberapa negara pengecualian, setiap negara di Timur tengah yang menjadi bagian dunia Islam, dipimpin oleh otokrat, sekte Islam radikal, atau kepemimpinan suku. Islam tidak memiliki tradisi dalam memisahkan politik dan agama.

Kejatuhan peradaban Islam dan kemunculan peradaban Kristen adalah perkembangan yang memalukan untuk kaum Muslim. Karena Islam cenderung menempatkan kekuatan politiknya melalui klaim bahwa agamanya lebih tinggi dari agama lain, kemunduran kekuasaan duniawi Islam menimbulkan pertanyaan mendalam di mana kesalahan terjadi. Kurang lebih beberapa abad belakangan ini, banyak pembaharu Muslim berdebat, bagaimana cara mendapatkan kembali kehormatan yang hilang. Di periode yang sama, dunia Muslim mencoba, dan gagal, untuk membalik keadaan dengan meminjam teknologi Barat dan ide-ide sosial politiknya, termasuk soal sekularisme dan nasionalisme. Sebaliknya, rasa “modernisasi” ini justru membuat banyak Muslim jauh dari modernisasi. Ini menimbulkan pertanyaan baru: Dapatkah atau haruskah pencapaian Islam di masa lalu menjadi standar untuk Islam masa depan? Lagipula, sudah wajar untuk mengatakan, seperti yang Presiden Obama bilang, pengetahuan tentang sains Arab di zaman keemasan bisa bagaimana pun mendorong dunia Islam untuk berkembang sendiri, dan tidak begitu membenci Barat.

Cerita tentang sains Arab menawarkan jendela bagaimana hubungan antara Islam dan modernitas; mungkin juga, ia memegang prospek Islam kembali ke prinsip-prinsip yang ia sangat butuhkan untuk makmur, seperti persamaan hak antar gender, aturan hukum, dan kehidupan sipil yang bebas. Tapi kebanyakan orang Muslim hari ini lebih banyak berpikir bahwa kehidupan yang baik ditentukan dengan kembali kepada masa lalu yang murni dan saleh — dan bentuk ini terbukti beracun ketika berhadapan dengan modernitas. Islamisme, sebab utama kekerasan yang sering kita lihat di dunia sekarang sayangnya sangat dekat dengan sebuah doktrin yang ditandai nostalgia dalam pada era Islam klasik. Hingga hari ini, bilang bahwa al-Quran tidak setara dengan Allah bisa membuat orang dicap kafir.

Namun tetap saja, perkembangan intelektual dan keterbukaan budaya pernah terjadi di masyarakat Arab. Jadi sepanjang ingin melihat masa lalu, nostalgia salah yang fanatik bisa dijinakan. Beberapa Muslim pembaharu telah menunjukkan bahwa banyak Muslim di abad pertengahan menggunakan rasio dan ide modern sebelum masa modern, dan menggunakannya tidak berarti tidak saleh. Tidak juga berarti keduniawian mengalahkan akhirat. Di tataran intelektual, usaha ini bisa diperdalam dengan menantang ortodoksnya Ash’ari yang telah mendominasi Islam Suni selama seribu tahun — yaitu, dengan menanyakan apakah al-Ghazali dan kaum Ash’ari-nya benar-benar mengerti alam, teologi dan filsafat lebih baik daripada kaum Mu’tazilah.

Tetapi ada alasan-alasan kenapa dorongan untuk meniru nenek moyang Muslim, bisa jadi salah arah. Salah satunya, Islam abad pertengahan tidak menawarkan standar politik yang pantas. Jika dibandingan standar Barat, Sains Arab Zaman Keemasan Islam bukanlah Zaman Keemasan untuk Kesetaraan. Ketika Islam dibilang lumayan toleran dengan penganut agama lain, toleran hari ini berbeda dari toleran zaman Muslim (ataupun Kristen) awal. Seperti yang dikatakan Bernard Lewis dalan Yahudi dalam Islam (1984), memberikan hak yang sama kepada umat dan non-umat tidak hanya dilihat sebagai hal aneh, tapi juga “kelalaian dalam bertugas.” Yahudi dan Kristen adalah warga nomor dua dalam status sosiopolitis ketika awal zaman Muhammad, dan tekanan kekhalifahan Abbasid juga termasuk persekusi dan pemusnahan gereja dan sinagog. Zaman Keemasan juga era dimana perbudakan terhadap orang dengan kelas lebih rendah terjadi secara luas. Dengan semua pencapaian abad pertengahan Arab, cukup jelas bahwa sejarah sosial dan politisnya tidak bisa dipakai sebagai standar hari ini.

Namun ada banyak lagi alasan fundamental kenapa tidak masuk akal untuk menekan dunia Muslim agar kembali ke bagian masa lalunya yang menghargai rasio dan penelitian bebas; kembali ke masa Mu’tazilah tidaklah cukup. Bahkan aliran Islam yang paling rasional pun tidak pernah menekankan pentingnya rasio. Seperti yang dikatakan Ali A. Allawi dalan Krisis Peradaban Islam (2009), “Tidak ada aliran pikiran-bebas dalam Islam klasik —  seperti Mu’tazilah —  yang bisa menerima ide putusnya Allah-Manusia dan mengkritisi validitas al-Quran, walaupun mereka mendukung filsafat rasio.” Maka, di tahun 1889, akademisi Hungaria Ignaz Goldziher mencatat di eseinya “Perilaku Islam Ortodok kepada ‘sains kuno’” bahwa bukan hanya Ash’ari tapi juga Mu’tazilah yang “membuat banyak risalah polemik terhadap filsafat Aristotelian dan logika secara khusus.” Bahkan sebelum serangan al-Ghazali pada kaum Mu’tazilah, membaca filsafat Yunani tidaklah aman di luar kondisi tertentu, itu pun sifatnya sementara.

Tetapi yang lebih penting, mempopulerkan aliran rasionalis yang lama tidak akan mengajak orang Muslim lebih jauh dalam merefleksikan masalah teologi-politik Islam. Atas semua bantuan besar dalam menemukan kembali filsuf Arab yang berpengaruh (khususnya al-Farabi, Ibnu Rushid dan Musa bin Maimun/Maimonides) bisa menyediakan sebuah reinterpretasi Islam yang menantang prinsip pemerintahan komprehensif agama tersebut, dalam cara yang secara bersamaan meyakinkan orang Muslim bahwa mereka benar-benar kembali ke ajaran fundamental Islam ketika memakai sains dan filsafat. Karena belum ada ajaran di tradisi Islam yang bisa mengkritik agamanya sejauh Luther dan Calvin di Kristen.

Walaupun banyak hal yang kurang di dunia Islam, orang Muslim tetap bangga pada warisannya. Yang dibutuhkan justru mengurangi kebanggaan itu dan menambah kritik terhadap diri sendiri.

Ada alasan terpenting kenapa tidak perlu mendorong orang Muslim kembali ke masa lalunya: walaupun banyak hal yang kurang di dunia Islam, orang Muslim tetap bangga pada warisannya. Yang dibutuhkan justru mengurangi kebanggaan itu dan menambah kritik terhadap diri sendiri. Hari ini, kritik Muslim terhadap agamanya hanya dihargai sejauh ia bisa membuat orang Muslim lebih saleh dan rohaninya tidak korup. Dan kebanyakan kritik kaum Muslim adalah ke luar agama Islam, ke Barat. Praduga ini — apa yang disebut Fouad Ajami (merujuk dunia Arab) sebagai “sebuah tradisi politik untuk memerangi rasa rendah diri” — jelas jadi masalah utama Islam. Itu membuat segala informasi yang berlawanan dengan kepercayaan ortodoks jadi irrelevan, dan itu juga menutup debat ilmiah dan sejarah Islam sendiri.

maxresdefault
Salah satu penceramah dengan teknik al-Ghazali yang cukup terkenal hari ini adalah Zakir Naik. Berbeda dengan Mohammed Yusuf, Naik menggunakan logika yang diputarbalik, menghakimi agama dan kepercayaan lain, dan melakukan pertunjukkan-pertunjukkan spektakuler dalam “pura-pura dialog antar agama”, padahal tujuannya menjatuhkan. Akal dan logika seringkali dipakai hanya dalam kerangka ‘mempersalahkan’ pihak lain, jarang mengkritik agamanya sendiri.

Dalam konteks ini, penelitian atas sejarah sains Arab, dan pemulihan serta riset manuskrip era itu, mungkin bisa memberikan keuntungan —  selama dilakukan secara analitis. Artinya orang Muslim harus menggunakannya di dalam tradisi mereka sendiri untuk secara kritis berkenalan dengan kelemahan-kelemahan filosofi, politis, dan kesalahan yang ditemukan. Jika itu terjadi, perkembangan itu bukan karena usaha Barat, tapi akan jadi konsekuensi keinginan, kreatifitas, dan kebijaksaan kaum muslim sendiri –pendeknya, cara-cara itulah yang dipelajari Barat dari kaum Muslim di Zaman Keemasan.


Hillel Ofek adalah penulis yang tinggal di Texas, Amerika Serikat

Anthropology, Ethnography, Filsafat, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan

Peradaban Sains Islam, Bagian IV: Membandingkan Islam dan Kristen

Diterjemahkan tanpa izin dari tulisan Hilel Ofek, di jurnal The New Atlantic, no. 30 tahun 2011, halaman 3-23, Why The Arabic World Turned Away From Science. 

 

Disclaimer penerjemah: Bagian-bagian terakhir dari terjemahan tulisan ini mengandung sedikit bias orientalisme dari penulis. Saya sendiri sebagai Muslim Indonesia, tidak setuju dengan beberapa hal yang dipaparkan penulis, namun demi semangat belajar dan kesetiaan terjemahan, saya akan menulis apa adanya. Saya tidak bertanggung jawab atas apa yang dipaparkan di sini, namun saya akan menulis sebuah kritik terhadap terjemahan ini setelah semua terjemahan ini selesai terbit. Saya harap ini juga bisa memicu diskusi lebih jauh yang berlandaskan fakta-fakta sejarah dan sumber primer yang logis dan berstandar akademik, sepeti teks asli Mr. Ofek. Gambar dan Caption tanggung jawab penerjemah.

tahmasp_humayun_meeting
http://sensiblereason.com

Kenapa Penelitian Akademis Gagal di Dunia Muslim

Tapi apakah Ash’arisme adalah akar masalah hancurnya sains Arab? Ash’ari menang dan Mu’tazilah kalah menunjukkan bahwa untuk alasan apapun, kebanyakan Muslim menganggap pemikiran Ash’ari lebih meyakinkan dan nyaman; ia pas sekali dalam mengungkung sentimen dan ide politis. Maka dari itu, banyak ahli teologi muslim nampak menerima pandangan occasionalis bahkan dari abad ke sembilan, jauh sebagai penemu Ash’arisme lahir. Dus, kemenangan Ash’ari melahirkan pertanyaan-pertanyaan tajam tentang kecenderungan politik teologi dalam Islam.

Sebagai cara mengartikulasikan apa yang lebih dalam daripada debat antara Ash’ari dan Mu’tazilah, ada baiknya kita membandingkan dulu Islam dengan Kristen. Kristen mengakui pembedaan ranah pribadi dan publik dan (paling tidak secara teori) mengijinkan pengikutnya untuk menentukan kehidupan sosial-politiknya sendiri. Islam, sementara itu, tidak membedakan privat-publik, karenanya banyak hukumnya menjangkau detil-detil kehidupan pribadi. Dengan kata lain, Islam tidak mengakui perbedaan antara agama dengan politik: ia adalah agama yang menentukan aturan politik untuk komunitasnya.

c39altima_cena_-_juan_de_juanes
The Last Supper, dilukis oleh Juan de Juanes, c. 1562. Sumber: Wikimedia

Perbedaan antara dua macam iman itu bisa dilacak sampai perbedaan nabi-nabinya. Ketika Yesus adalah orang dari luar negara, dan tidak mengatur siapapun, dan agama Kristen tidak menjadi agama negara sampai beberapa abad setelah kelahiran Yesus, Muhammad bukan hanya seorang nabi, tapi juga pemimpin pemerintahan, seorang pemimpin politik yang menguasai dan memerintah komunitas religius yang ia temukan. Karena Islam lahir di luar Kekaisaran Romawi, Islam tidak pernah lebih rendah dari politik. Seperti yang dikatakan Bernard Lewis, Muhammad adalah Konstantin untuk dirinya sendiri. Artinya untuk Islam, agama dan politik saling tergantung sejak awal; Islam membutuhkan negara untuk menerapkan hukumnya, dan negara butuh basis dalam Islam untuk melegitimasi. Maka sejauh manakah politik Islam bisa memungkinkan penelitian bebas — yang seringkali dinilai subversif oleh pemerintah dan tradisi yang sudah mapan — di dalam institusinya?

Beberapa petunjuk bisa ditemukan dengan membandingkan institusi-institusi di abad pertengahan. Jauh sebelum menerima occasionalisme dan positivisme hukum kaum Suni, para sarjana Eropa berargumen secara eksplisit bahwa Injil berlawanan dengan hukum alam, dan tidak boleh dibaca secara literal. Filsuf-filsuf gereja berpengaruh seperti Augustine berpendapat bahwa ilmu pengetahuan dan rasio sudah ada sebelum agama Kristen; ia mendekati subjek penelitian sains dengan kewaspadaan, dan menyuruh orang Kristen untuk menggunakan sains klasik untuk membantu pemikiran Kristen. Galileo yang pernah ditahan rezim punya kalimat terkenal bahwa “tujuan Roh Kudus adalah untuk mengajarkan kita bagaimana cara masuk surga, bukan bagaimana surga bekerja,” menggarisbawahi ketahanan semangat sains di dalam kesalehan masyarakat Barat. Maka seperti yang diargumenkan David C. Lindberg dalam sebuah esei yang dalam kompilasi Galileo Ke Penjara dan Semua Mitos tentang Sains dan Agama (2009) [Galileo Goes to Jail and Other Myth about Science and Religion], “Tidak ada institusi atau kekuatan budaya dari periode patristic yang menggalakkan penelitian ilmu alam, daripada gereja Kristen.” Dan, seperti sosiolog dari Universitas Baylore, Rodney Stark, tulis dalam bukunya Demi Kemenangan Tuhan (2003) [For The Glory of God], banyak ilmuan pada masa revolusi sains di Eropa adalah pendeta Kristen atau Misionaris.

Penerimaan gereja dan penggalangan filsafat dan sains sudah ada sejak akhir Abad Pertengahan sampa masa modern. Almarhum Ernest L. Fortin dari Boston College mencatat di sebuah essai dalam kompilasi Kristen Klasik dan Tatanan Politik (1996) [Classical Christianity and the Political Order], tidak seperti al-Farabi dan para penerusnya, “Aquinas jarang dipaksa untuk mengikuti bias anti-filsafat dari otoritas eklektik Kristen. Sebagai orang Kristen, ia bisa belajar dan menulis filsafat tanpa ikut terlibat dalam argumen publik untuk membela atau melawannya.” Dan ketika seseorang seperti Galileo terkena masalah, karyanya terus ada dan diteruskan oleh orang lain; dengan kata lain, dedikasi institusi untuk penelitian sains sudah terlalu mengakar di Eropa hingga sulit dikontrol siapapun. Setelah  pertengahan abad tiga belas di Barat Latin, kita tahu tidak ada lagi persekusi instan pada siapapun yang mengajar filsafat sebagai bahan pembantu memahami Injil.  Di masa ini, “serangan terhadap rasio dianggap aneh dan tidak dapat diterima,” kata sejarawan Edward Grant dalam Sains dan Agama, 400SM sampai 1550M [Science and Religion 400 b.c. to a.d. 1550].

Kesuksesan Barat adalah sebuah topik yang dapat mengisi — atau sudah mengisi — banyak buku-buku tebal. Tapi perbandingan umum ini bisa membantu kita mengerti kenapa Islam secara institusi berbeda dengan Barat. Perbedaan paling penting dikatakan Bassam Tibi dalam Tantangan Fundamentalisme (1998) [The Challenge of Fundamentalism]: “karena disiplin rasio tidak sempat terinstitusionalisasi di Islam klasik, maka adopsi warisan Yunani tidak lama dalam peradaban Islam.” Dalam buku Munculnya Sains Modern Awal [The Rise of Early Modern Science], Toby E. Huff membuat sebuah argumen persuasif kenapa Ilmu Pengetahuan Modern muncul di Barat dan tidak di dunia Islam atau Cina:

Munculnya sains modern adalah hasil dari perkembangan peradaban berdasarkan kebudayaan yang secara unik humanistik dalam artian bahwa sains yang dianggap bid’ah dan inovatif bisa diterima, dilindungi dan dipromosikan walaupun berlawanan dengan ajaran agama. Sebaliknya, orang bisa bilang bahwa elemen kritis dari cara pandang sains secara secara sembunyi-sembunyi dimasukan dalam prasangka agama dan hukum di Eropa Barat.

Dalam kata lain, peradaban Islam tidak punya kebudayaan yang ramah terhadap kemajuan sains, sementara Eropa punya.

Perbedaan paling nyata ada di ranah pendidikan formal. Seperti kata Huff, kurangnya kurikulum sains di madrasah abad pertengahan membuat hilangnya kapasitas atau keinginan untuk membangun institusi yang secara legal otonom. Madrasah didirikan di bawah hukum waqaf, atau sumbangan, yang berarti madrasah secara legal berkewajiban mengikuti komitmen keagamaan dari pendirinya. Hukum islam tidak mengenal kelompok korporat, maka mereka mencegah harapan apapun untuk institusi seperti Universitas dimana norma akademik bisa berkembang. (Cina abad pertengahan, juga, tidak memilik institusi independen yang didedikasikan untuk pendidikan; semua tergantung dari birokrasi pemerintah atau negara). Institusi yang secara legal otonom hampir tidak ada di dunia Islam sampai akhir abad sembilan belas. dan madrasah hampir selalu menyingkirkan mata pelajaran apapun selain pelajaran Islam: tata bahasa Arab, al-Quran dan Hadist, dan prinsip syariah. Ini biasanya disebut “Pelajaran Agama Islam,” dan bertolak belakang dengan sains Yunani, yang secara luas dikenal sebagai ilmu “asing” (bahkan istilah “filsuf” dalam bahasa Arab “Falasi” sering dipakai secara negatif). Lebih jauh lagi, kekakuan kurikulum agama di madrasah membiasakan cara belajar hafalan; bahkan hari ini pengulangan, latihan hafal, dan imitasi — dengan hukuman bagi mereka yang mempertanyakan atau berinovasi –dibiasakan dari kecil di banyak tempat di dunia Arab.

Penyingkiran sains dan matematika dari madrasah memperlihatkan bahwa mata pelajaran-mata pelajaran ini “secara institutional dipinggirkan di kehidupan Islami abad pertengahan,” tulis Huff. Pelajaran seperti itu ditoleransi, dan kadang dipromosikan oleh beberapa orang, tapi tak pernah “secara resmi terinstitusional dan didorong oleh elit intelektual Islam.” Ini artinya ketika penemuan intelektual dibuat, penemuan tersebut tidak diangkat dan dibawa oleh siswa, dan tidak mempengaruhi pemikir-pemikir lain dalam komunitas Muslim, Tidak ada yang peduli pada karya Ibnu Rushid setelah ia diasingkan keluar Spanyol ke Moroko, misalnya — sampai orang Eropa menemukan karya-karyanya. Mungkin kurangnya dukungan institusional pada sainslah yang membuat pemikir Arab seperti al-Farabi lebih berani daripada sesama ilmuan di Eropa. Tapi itu juga berarti banyak pemikir Arab tergantung pada ijin dari pemerintah yang merek akrabi dan kondisi-kondisi sementara.

Perbandingan kontras lain, sistem hukum yang berkembang di abad dua belas dan tiga belas di Eropa — yang terkena pengaruh filsafat Yunani, hukum Romawi, dan teologi Kristen — menjadi penting dalam membentuk budaya filsafat dan teologi yang terbuka terhadap perkembangan sains. Seperti kata Huff, karena universitas di Eropa secara legal otonom, mereka bisa mengembangkan peraturannya sendiri, norma-norma akademik, dan kurikulum. Norma-norma yang mereka terapkan mengandung rasa ingin tahu dan skeptisisme, dan kurikulum yang mereka pilih berakar dari filsafat Yunani kuno. Di dunia Barat di abad pertengahan, semangat skeptisisme dan rasa penasaran menggerakan teologian dan filsuf. Itu adalah semangat “menyelidiki dan menggerataki segala sesuatu,” kata Edward Grant dalam buku Tuhan dan Rasio di Abad Pertengahan (2001) [God and Reason in the Middle Ages].

Perilaku penelitian semacam ini yang meletakkan fondasi sains modern. Dimulai di awal abad pertengahan, perilaku ini sudah menghasilkan inovasi di banyak seniman dan pedagang, bahkan dari kalangan yang tidak berpendidikan. Orang-orang awam ini berkontribusi ke pengembangan teknologi praktis, seperti jam mekanik (circa 1272) dan kacamata (1284). Bahkan di awal abad ke enam, orang Eropa berusaha membuat teknologi yang bisa menghemat kerja, seperti bajak dengan roda besar dan, nantinya, bajak tenaga kuda. Menurut riset oleh almarhum Charles Issawi dari Universitas Princeton, Inggris di abad sebelas punya lebih banyak lumbung per kapita dibanding di tanah otoman pada masa kejayaan kerajaan itu. Dan walaupun Barat punya percetakan sejak tahun 1460, dunia Islam baru mendapatkannya tahun 1727. Dunia Arab nampak lebih lambat dalam menemukan guna alat teknologi akademis. Contohnya, teleskop hadir di Timur Tengah langsung setelah penemuannya di tahun 1608, tapi orang Arab tidak tertarik menggunakannya hingga berabad-abad setelahnya.

Ketika sains di dunia Arab menurun dan mundur, Eropa secara rakus menghisap dan menerjemahkan karya-karya klasik dan saintifik, melalui pusat kebudayaan di Spanyol. Pada tahun 1200, Oxford dan Paris telah memiliki kurikulum yang mengandung sains Arab. Karya oleh Aristoteles, Euclid, Ptolemy, dan Galen, beserta kritik oleh Ibnu Sina dan Ibnu Rushid, semua diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Tidak hanya karya-karya ini diajarkan secara terbuka, mereka dimasukkan ke dalam program studi di universitas-universitas. Sementara di dunia Islam, hancurnya Zaman Keemasan sedang terjadi.

laurentius_de_voltolina_001
Salah satu universitas awal di Eropa, Bologna (1930an).

Bersambung ke bagian V.