Filsafat, Politik, Racauan

Netizen itu Anonim! Jangan dianggep orang!

Kebanyakan kita tidak mengenal lawan debat atau diskusi di internet. Ada seorang jenius agama yang ternyata anak kecil. Ada seorang perempuan cantik yang ternyata pria buruk rupa yang iseng, dan macam-macam orang lagi. Google atau Facebook juga mulai mengembangkan AI yang bisa ngobrol. Tanpa pengetahuan tentang latar belakang lawan bicara, kita terbatas dalam membagi informasi. Belum lagi medium yang kita gunakan adalah tulisan dan seperti yang dikemukakan Plato ribuan tahun lalu, tulisan adalah medium komunikasi yang paling rawan misinterpretasi. Akhirnya kita malah bisa depresi ketika bicara dengan mereka yang anonim.

Filsuf Derrida juga sudah memperingatkan tentang dunia teks yang diluarnya tiada apapun (nothing outside the text). Ketika kita menggunakan medium tulisan, kita berkomunikasi dengan kode-kode, bahasa dan konteks tersendiri. Untuk bisa mengerti sebuah teks, kita harus punya pemahaman lengkap tentang dunia dimana teks tersebut bekerja–termasuk latar belakang penulis teks itu. Ini tentu bukan sesuatu yang bisa kita dapat dengan mudah di Internet. Kita tidak bicara dengan manusia, kita bicara dengan potongan teks yang terbatas.

Saya pernah berpendapat di lapak seorang akademisi yang saya kagumi karena ketajamannya dalam berpikir dan berdiskusi. Kematangannya dalam berdiskusi sangat terlihat ketika komentar saya dengan lugas ia tangkis karena menurutnya melenceng dari artikel yang sedang ia bahas. Dengan tegas dan agak galak, ia mengancam saya, “Jika saudara tidak bisa berargumen dengan dasar yang telah saya sajikan, saya akan menghapus komentar saudara.” Galak sekali.

Tentunya ia jadi segalak itu karena ia tidak kenal pada saya dan karena potongan teks yang saya ketik di lapak diskusinya ia baca sebagai sesuatu yang tidak nyambung dengan artikel yang ia tulis. Ia tidak salah, saya memang berusaha membawa diskusi tersebut ke ranah yang lebih luas. Tapi menyakitkan juga dianggap sebagai orang tolol yang tak mampu berdiskusi. Walau begitu saya jadi belajar banyak. Buat si pak akademisi itu saya anonim–walau saya memakai akun dan nama asli saya untuk berkomentar. Toh si bapak tak punya waktu untuk mencari tahu siapa saya dan sejauh apa kapasitas saya.

Anonimitas di sini tidak sebatas identitas palsu atau tersembunyi. Anonimitas di sini adalah sejauh apa pembacaan seorang subjek terhadap subjek lain di Internet. Jika petunjuk tentang latar belakang seorang komentator hanya komentarnya, nama dan avatarnya, maka hanya itu identitas yang bisa kita lihat. Si komentator bisa jadi siapa saja dan dalam konteks ini, bahkan stereotipe–kebiasaan untuk berasumsi pada orang lain–jadi sulit. Mungkin Avatar dan nama cukup membantu untuk mengidentifikasi. Avatar dengan filter pelangi bisa mengidentifikasi seorang pembicara sebagai pendukung LGBT, misalnya. Namun kapasitasnya sebagai pembicara juga sulit diketahui.

Kadang-kadang, nama dan titel juga bisa membantu. Seorang profesor di bidang tertentu kita harapkan punya kapasitas untuk komentar terhadap wacana yang memang bidangnya. Ketika saya diadujangkrik dengan Tompi karena tulisan saya tentang film Selesai, dr. Tompi sempat ngecek-ngecek dulu saya siapa, dan ketika dia tahu saya pengajar film, tone bicaranya jadi berubah dan diskusi bisa berjalan. Anonimitas di Internet, para netizen kebanyakan ini, sangat kontraproduktif.

Jadi kalau kamu punya lover atau hater yang anonim, anggap saja mereka bot dan bukan orang. Cuma harus hati-hati karena bisa jadi mereka adalah bagian dari skynet yang bisa mengirimkan terminator untuk kita dari masa depan.

***

Wah, kamu baca sampai habis racauan saya. Makasih ya. Kalau kamu suka dengan tulisan ini, bolehkah traktir saya kopi biar saya bisa tetep nulis dan bayar domain website ini? Karena kalau nggak ada traktiran kamu, well, saya akan susah nulis konsisten. Klik tombol di bawah ini atau bisa langsung scan QR code gopay ya. Thanks!

Scan saya
Filsafat, Racauan

5 Cara Bunuh Diri Paling Etis: Sebuah Suicide Note

Orang bunuh diri ga ada yang etis, apalagi kalau dia punya peran banyak untuk banyak orang. Tapi etis adalah sebuah konsep yang terukur jadi bisa aja oxymoronic, kayak es paling panas atau api paling dingin, atau idiot paling pintar atau jenius paling goblok.

Terus seperti banyak penelitian sosiologi, orang bunuh diri itu lebih sering karena kesadaran sosial yang menimbulkan penyakit mental berupa depresi dan distorsi kognitif, dalam konteks spesifik. Misalnya, dia sadar dia jadi beban banyak orang, makanya mau mati. Dalam konteks lain seperti penyakit kronis hal ini tidak berlaku. Mati bunuh diri karena penyakit kronis jelas bisa dibenarkan. Tapi kalau hutang, patah hati, atau krisis eksistensial, itu jelas penyakit mental, bukan penyakit kronis. Orang berpenyakit mental sedapat mungkin dilarang bunuh diri karena itu bukan kesadaran asli mereka. Dalam bahasa filsuf eksistensial Jean Paul Sartre, kesadaran mereka “palsu,” dipengaruhi oleh ideological state apparatus, hormon, dan syaraf yang sengklek.

Umpamakan ada orang dengan kesadaran penuh, minim penyakit fisik atau mental, mau mati; kita pasti bertanya-tanya kenapa dia mau mati? Apa masalah hidupnya? Well, itu urusan dia dan pertanyaan itu urusan kita yang bisa bikin kita gentayangan setelah mati. Tapi mari kita umpamakan ada orang semacam itu, bagaimana cara ia bunuh diri biar etis? Biar kerusakan yang ia hasilkan nggak gede-gede amat? Ini lima cara paling masuk akal buat bunuh diri yang bisa kamu pake kalau kamu mau. Saya lagi pake cara ke lima, jadi tulisan ini bisa jadi surat bunuh diri saya. Sabar ya, bacanya.

1. Bunuh Emosimu

Kalau kamu banyak hutang, patah hati, dendam atau benci sama orang atau diri sendiri, masih punya perasaan jijik atau muak, baiknya kamu selesaikan dulu semua itu. Bunuh diri butuh keyakinan, dan kalau kamu nggak yakin, kamu bisa gagal mati, ragu-ragu. Bisa-bisa kamu kayak sapi kurban yang disembelih setengah-setengah, jadi masih lari-lari dengan kepala oglek-oglek dan darah muncrat ke baju baru bocah-bocah lebaran. Pastikan perasaan kamu sudah netral, kamu udah ga cinta atau benci sama dunia dan orang lain. Emosimu harus mati dulu. Jangan lanjut kalau belom.

2. Bunuh eksistensi sosialmu

Kata filsuf Kierkegaard, diri itu adalah relasi-relasi di dalam diri dan di luar diri, jadi kamu adalah pemalas kalau yang kamu bunuh cuma fisikmu aja. Bunuh semua diri kamu dong! Bunuh relasimu!

Kamu salah kalau sampai berpikir membunuh relasimu dengan orang lain artinya membuat orang lain benci padamu, atau kamu jadi bajingan dan dimusuhi masyarakat. Kebencian cuma akan memperkuat relasimu dengan orang lain, karena kamu bisa jadi terkenal ketika orang benci kamu. Kunci dari membunuh relasimu adalah, “menghilang secara sosial secara perlahan-lahan.” Caranya bagaimana?

Buat orang-orang percaya sama kamu, bahwa kamu akan baik-baik saja, dan mereka akan baik-baik saja tanpa kamu. Buat mereka biasa aja ketika kamu nggak ada, hingga ketika kamu bener-bener nggak ada, yah… Gak ada yang nyari kamu. Nggak ada yang sadar atau kaget, ketika kamu ga muncul-muncul. Intinya, semua orang yang kamu kenal ini harus jadi independen, kuat, berdigdaya, dan lebih keren dari kamu. Jadi, kalaupun ada pertanyaan kamu dimana, paling selalu ada yang jawab, “Dia mah orangnya begitu. ” Di situ eksistensi sosialmu hilang dan kamu nggak diomongin siapa-siapa.

3. Matilah dalam kesadaran penuh

Pilihan bebas itu perlu banyak syarat, salah satu syaratnya adalah konsensualitas, harus tahu implikasi dan sebab akibatnya. Jangan mabok terus mati, itu bukan bunuh diri, itu kecelakaan atau mati konyol. Pastikan kamu sober. Pastikan juga semua rasa terasa dan kamu ga mati rasa secara fisik dan mental. Karena kalau mati rasa, kamu tidak membunuh dirimu, kamu cuma membunuh mayat hidup saja. Curang itu.

4. Pastikan badanmu nyaman

Seperti terpidana mati yang bisa request macam-macam, pastikan makan kamu enak, minum enak, ML enak. Puas-puasin dirimu dengan keduniaan yang nggak bakal kamu dapet lagi kalau kamu mati. Hal-hal bahagia yang sederhana. Jalan-jalan, jalan sama anjing.

Lihat kembali di bucket list apa yang belum pernah kamu lakukan. Apa kamu terlalu jelek untuk punya pacar biar bisa selingkuh? Pilihanmu dua: bikin kamu jadi ganteng, atau cari orang-orang yang lebih jelek dari kamu untuk kamu pacari, dan yang lebih jelek lagi untuk kamu selingkuhi. Anyway, memang seks itu enak, tapi pernah nggak kamu nyimeng bareng temen dan musuh deket? Seks memang enak, tapi pernah nggak kamu makan kue tamblek mama saya? Nggak tahu kan kamu apa itu kue tamblek? Cobain dulu sebelom mati ya.

5. Cara mati paling lama dan menyakitkan

Metode ini saya temukan bersama sahabat saya Ervin Ruhlelana. Cara mati paling panjang dan sakit, dimana kita makan racun tiap hari, menghirup udara beracun, minum minuman beracun, ada di hubungan beracun, bahagia, patah hati, diulang terus menerus. Tragedi demi tragedi mengikis kita, menyiksa diri terus menerus dengan kesakitan dan kenikmatan. Cara mati paling sadis, lama, dan etis adalah: hidup.

Berani?

***

Kalau kamu berani, seperti saya, mungkin saatnya kamu membantu saya untuk mati secara etis dengan mempertahankan sebuah kesakitan nikmat bernama menulis. Traktir saya kopi dengan menekan tombol dibawah ini atau dengan kirim gopay ke saya… Smooth kan? I should’ve have tinder. Hehehe.

Filsafat, Memoir, Politik, Racauan

Phronemophobia Indonesia (Reprised)

Tulisan ini direupload dan direvisi sedikit dari versi tahun 2016. Saya upload ulang karena masih relevan dengan kondisi hari ini.

Trigger warning, adalah tanda bahwa sebuah teks akan memicu pikiran-pikiran yang tidak diinginkan. Ini penting untuk mencegah trauma orang kumat. Tapi ada masalah besar kalau kebanyakan hal jadi trigger untuk pusing, stress, depresi, gila, khilaf. Lihat paha cewek langsung ingin merkosa, misalnya. Lihat duit langsung ingin ditilep, dengar Komunis langsung benci, dengar vaksin langsung bilang babi. Pada lahirnya dia jadi takut berpikir lebih jauh karena takut emosi, takut tersesat, dan takut berubah. Ini kita sebut Phronemophobia.

Phronemophobia adalah ketakutan untuk berpikir. Tulisan ini akan memaparkan pengamatan saya tentang hal-hal yang seringkali takut dipikirkan orang Indonesia di sekitar saya–yaitu kaum kelas menengah kota dan para pengambil kebijakan. Saya punya hipotesa mentah (artinya butuh penelitian lebih lanjut), bahwa akar kebijakan yang stereoptipikal dan kekerasan baik verbal ataupun fisik dalam dunia sosial masyarakat Indonesia adalah karena banyak orang yang terjangkit Phronemophobia.

Penyakit ini hadir karena kombinasi dua hal yang paling krusial dalam masyarakat Indonesia: Agama dan Kapitalisme. Phobia, seperti psikosis lain, adalah penyakit, karena ia menghalangi orang untuk bekerja dan menggunakan otaknya dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. Dan seperti banyak psikosis juga, ini sulit disembuhkan kecuali dengan kontrol dari si penyakitan itu sendiri terhadap egonya. Bisa jadi, penyakit ini ia bawa sampai mati.

Mungkin banyak yang heran, bagaimana seseorang bisa takut berpikir? Dalam kadar tertentu, setiap orang punya ketakutan untuk memikirkan sesuatu. Terlalu banyak berpikir bisa membuat kita depresi, bahkan sakit jiwa. Kita punya mekanisme pertahanan untuk memikirkan hanya hal-hal yang perlu kita pikirkan dan menolak hal-hal yang kita takut akan menyesatkan kita. Asal ketakutan berpikir ini adalah sosialisasi semenjak balita tentang apa yang boleh dan tidak boleh kita pikirkan yang membentuk logika dan sekat-sekat di dalam pikiran kita. Membuat sebuah trauma tersendiri dan membentuk rasa takut dan anti pada pengetahuan-pengetahuan baru.

Untuk menjelaskan secara sederhana kenapa orang takut berpikir, saya harus menjelaskan soal pikiran dan pemetaanya terlebih dahulu. Tapi cara termudahnya bisa saya ilustrasikan pada video berikut, soal belajar bersepeda. Jika semenjak kecil orang sudah belajar dan biasa dengan cara bersepeda dan koordinasinya, maka ketika ia diberikan sepeda yang stangnya terbalik (ke kiri adalah ke kanan dan ke kanan adalah ke kiri), orang tersebut akan kehilangan orientasi dan kehilangan kendali. Simak video berikut.

Bayangkan jika seorang yang sejak kecil dididik secara konservatif tiba-tiba harus membiasakan diri dengan setting dunia yang terbalik. Bayangkan juga bagaimana seseorang yang hidupnya biasanya hitam putih, tiba-tiba terjebak di dunia yang warna-warni. Betapa bingung dan betapa paniknya ia jadinya. Tesis saya sederhana: bahwasannya ketakutan untuk berpikir dihasilkan ketika pengetahuan yang disodorkan tidak bisa dimengerti. Saya bicara ini dalam konteks video di atas: bahwa pengetahuan tidak sama dengan pengertian. Pengetahuan cuma informasi, sedang pengertian membutuhkan proses pemikiran dan adaptasi. Seseorang yang tahu, belum tentu mengerti. Seseorang yang mengerti bukan hanya tahu, tapi juga bisa mengejawantahkan lebih jauh karena ia telah melibatkan lebih daripada otaknya–ia telah “menjadi.”

Saya akan membahas phronemophobia melalui dua hal: pertama dengan membahas topografi pikiran manusia melalui dasar-dasar teori Psikoanalis klasik. Kedua saya akan membahas bagaimana topografi ini bekerja untuk membuat sekat-sekat yang menghalangi pengetahuan untuk menjadi pengertian, melalui pemaparan kasar soal agama dan kapitalisme.

Tulisan ini adalah kulminasi pemikiran yang panjang dan muahal. Sebelum melanjutkan, kalian bisa bikin kopi dulu atau cari cemilan, dan traktir saya kopi dengan menekan tombol di bawah ini:


Topografi Pikiran

Pikiran, kata Plato, adalah hal yang paling ideal, paling sempurna. Dalam hal ini saya juga bisa bilang bahwa pikiran bisa jadi kecacatan yang paling sempurna pula. Semua mungkin di dalam alam pikiran. Dan kemungkinan-kemungkinan ini seringkali tidak logis, surreal, absurd dan kacau. Manusia diberi kemampuan untuk membuat struktur dan kategori-kategori agar tetap bisa waras. Ketika struktur dan ketegori-kategori itu sudah terbentuk, maka ada beberapa hal yang disingkirkan dan ditakutkan. Untuk memudahkan pemahaman ini kita bisa memakai topografi klasik Sigmund Freud soal pikiran, Freud membagi pikiran dalam dua topografi: vertikal dan horizontal.

Topografi Vertikal

Topografi Vertikal adalah sebuah tingkatan dari alam sadar, bawah sadar dan tak sadar. Alam sadar adalah tempat pikiran yang kita sadari ada. Ini kita pakai sehari-hari untuk bekerja dan berkomunikasi. Ketika kita melamun, lamunan kita adalah alam sadar kita.

Alam bawah sadar (subconscious/preconscious) adalah tempat memori kita dan khayalan-khayalan yang tidak kita pikirkan. Kita memakai alam bawah sadar ketika kita tidur atau bermimpi–yang bisa kita ingat (disebut mimpi manifes). Kita juga bisa mengaksesnya ketika kita ingin mengingat sesuatu. Jika kita umpamakan komputer, alam sadar adalah software yang kita gunakan untuk bekerja dan alam bawah sadar adalah harddisk tempat kita menyimpan data.

Sementara itu alam tak sadar adalah tempat hal-hal yang tidak bisa kita ingat sama sekali. Koma adalah keadaan tidak sadar. Mimpi-mimpi yang tidak bisa kita ingat (mimpi laten) adalah keadaan tidak sadar. Alam tak sadar adalah sebuah dimensi tanpa batas tempat hasrat-hasrat yang paling kita takutkan dipendam. Keberadaan alam tak sadar ini bisa dilihat ketika kita mengigau, atau dalam keadaan trans, atau ketika kita mengalami dejavu–merasa pernah ada di suatu tempat atau situasi tapi tidak jelas kenapa. Alam tak sadar menunjukkan dirinya dalam simbol-simbol di mimpi kita. Jika Anda pernah menonton film berjudul Inception, maka alam tak sadar adalah Limbo, dunia ide dan imajinasi tanpa batas, yang hanya bisa diakses dalam ketidaksadaran total, atau dengan hipnosis yang sangat kuat.

Topografi Horizontal

Jika topografi vertikal adalah ruang-ruang  di dalam pikiran, maka topografi horizontal adalah penghubung antara pikiran dengan kenyataan, yaitu bagian pengambilan keputusan. Jika vertikal adalah legislatif, maka horizontal adalah eksekutif. Freud membaginya menjadi Id, Ego dan Superego. Id adalah hawa nafsu dan hasrat yang dekat hubungannya dengan bawah sadar dan tak sadar, ego pengambil keputusan atau diri di dunia nyata, dan superego adalah aturan-aturan yang membatasi ruang gerak ego dan id untuk menuruti hasratnya. Saya beri satu contoh. Misalnya seorang anak ingin mengambil kue di meja (Id). Ada ibunya yang melarangnya, “Jangan! Itu buat tamu!” (superego). Ego si anak tidak jadi mengambil kue itu karena ibunya melarangnya.

Namun, neo-psikoanalis seperti Lacan bilang bahwa Id dan Superego adalah sebuah paradox dalam tubuh yang sama. Id dan superego sebenarnya saudara kembar, dua sisi mata uang yang sama. Superego sebagai aturan yang mengekang hawa nafsu (Id) adalah hawa nafsu dalam bentuknya yang lain (sublime). Ego si anak yang tidak jadi mengambil kue karena nurut pada ibunya adalah untuk memuaskan nafsu yang lain, nafsu yang lebih dalam daripada nafsu makan kue. Inilah nafsu yang masuk di alam tak sadar: nafsu untuk menjadi menurut demi cinta dan pengakuan eksistensi dari si Ibu.

Contoh lain dari paradoks Id-Superego adalah ketika orang sangat-sangat galak dan strict dalam menuruti superego-nya. Zizek memberi contoh pada pemetaan rumah di film Psycho arahan Alfred Hitchcock. Ada tiga lantai di rumah psikopat Norman Bates. Lantai 3 adalah kamar ibunya, lantai 2 adalah losmen yang ia sewakan dan basement adalah tempat ia menyimpan mayat busuk ibunya yang sudah lama mati. Lantai 3 adalah superego di mana kita bisa mendengar teriakan-teriakan ibu Norman yang menyuruhnya ini itu, lantai 2 adalah ego, dan lantai satu adalah id: kenyataan dan hasrat sebenarnya dari Norman untuk mendapatkan pengakuan ibunya dengan…menjadi ibunya. Keinginan “menjadi” ini akan saya bahas di kesimpulan tulisan ini. Dengan kata lain, lantai 3 (superego) dan basement (Id) adalah ruang berbeda, tapi isinya sama: si Ibu yang mendikte.

Phronemophobia

Setelah mengenal pemetaan-pemetaan pikiran yang sederhana dari Freud, mari kita bahas bagaimana cara orang takut dengan pikirannya sendiri. Kewarasan seseorang ditentukan dari kemampuannya membuat struktur dan kategori-kategori di alam sadarnya. Semakin kacau struktur dan kategori-kategorinya, semakin orang mengalami disorientasi, kebingungan, dan kegilaan. Tanpa struktur dan kategori-kategori di alam sadar, orang tidak akan mengenal apapun, termasuk dirinya sendiri. Di situ kemanusiaannya akan raib karena yang membuat manusia menjadi manusia adalah kemampuannya untuk mengidentifikasi dirinya sendiri, egonya. Ia bisa melihat ke cermin dan mengenal dirinya sendiri–tidak seperti binatang atau bayi yang melihat ke cermin dan tidak mengenali objek yang ada di cermin.

Jadi yang harus dimengerti pertama-tama adalah: kategorisasi adalah syarat kewarasan dan represi pikiran adalah sesuatu hal yang wajar. Membebaskan seluruh pikiran atau merepresi seluruh pikiran adalah hal yang tidak mungkin dilakukan–keduanya berarti kegilaan. Lalu bagaimana dengan ketakutan untuk berpikir; bagaimana dengan Phronemophobia?

Ketakutan adalah sebuah mekanisme pertahanan diri. Ia diperlukan untuk menjaga kita agar tidak mati. Tapi phobia bukanlah ketakutan biasa. Phobia adalah ketakutan yang dibesar-besarkan, exaggerated. Maka ketika kita bicara soal Phronemophobia, kita bicara tentang ketakutan akan berpikir yang dibesar-besarkan dengan imajinasi hasil pengalaman traumatis sejak kecil. Sebenarnya kesakitan apa sih yang dimungkinkan dari berpikir? Ternyata banyak, dan sifatnya bukan hanya mental tetapi fisik–ini bekerja secara resiprokatif, dari fisik ke mental-mental ke fisik.

Sebelum saya kasih contoh, saya akan kasih dulu pola yang saya temukan dari ketakutan berpikir di banyak orang Indonesia yang saya kenal. Saya menemukan bahwa semakin sedikit referensi seseorang, maka ia semakin takut untuk berpikir karena berpikir ternyata perlu bentuk. Tanpa referensi, maka bentuk itu akan sangat abstrak, membingungkan dan sulit dipahami. Referensi ini bukan cuma didapat secara akademis, tapi sesuatu yang diketahui melalui observasi-partisipasi. Seorang petani yang tidak bisa baca tulis pun, tidak akan takut berpikir ketika ia punya rasa ingin tahu dan tidak takut mencoba-coba untuk menciptakan sesuatu dari kehidupannya sehari-hari: dari sekedar ritual panen, sampai persilangan bibit unggul yang sederhana.

Ketakutan ini dimulai ketika sejak kecil seorang anak mendapatkan hukuman ketika ia berpikir. Ini bukan hanya terjadi ketika anak dilarang berpikir, tapi bisa juga terjadi di masyarakat yang ‘memaksa’ seseorang untuk berpikir. Hukuman berpikir tidak hanya bisa dilakukan masyarakat, tapi juga bisa dilakukan diri sendiri–yang kedua ini efeknya akan lebih parah. Contoh pelarangan berpikir oleh masyarakat sudah banyak, karena sampai hari ini masih banyak dilakukan di institusi pendidikan di Indonesia, yang lebih banyak mendikte daripada menyuruh berpikir sendiri dan menstimulasi otak murid.

Contoh kedua, banyak terjadi di negara Eropa, misalnya pada anak-anak Eropa yang bergabung dengan ISIS agar mereka bisa mengontrol pikirannya. Pikiran yang tak terkontrol itu rasanya seperti tenggelam dalam lautan pengetahuan yang penuh argumen. Begitu banyak kata, tapi kekosongan di jiwa tidak bisa terjelaskan. Kekosongan yang dibentuk oleh hasrat (Id) yang tidak terlampiaskan. Ergo, berpikir=kesakitan. Rasa ingin tahu=kesesatan. Di sinilah Phronemophobia merusak tidak hanya secara mental tapi secara fisik: ketika ia jadi kompas hidup sehari-hari, diimani sebagai sesuatu yang “paling” riil seperti Agama.

Agama + Kapitalisme = Phronemophobia

Jika seseorang punya alat lain untuk melampiaskan kekosongan ini: bermusik, berkesenian, menulis, beribadah (dengan ritual) maka bisa jadi ia akan stabil. Tapi kebanyakan orang lebih memilih hal paling mudah dan paling instan untuk menjaga pikiran: Agama. Yang saya maksud agama di sini bukan sekedar islam, kristen, hindu, buddha, atau agama resmi lainnya. Agama yang saya maksud juga bukan cuma sekedar ibadah ritualnya, tapi jauh lebih luas dari itu.

Agama yang saya maksud mungkin bisa diilustrasikan Geertz, “(1) sebuah sistem simbol (2) yang bekerja untuk memberikan mood dan motivasi yang kuat, mendalam dan tahan lama (3) dengan memformulasikan konsepsi tentang aturan umum keberadaan dan (4) membungkus konsepsi ini dengan aura faktual yang (5) membuat mood dan motivasi terasa nyata.”

Tapi saya menolak membahas definisi Geertz ini secara antropologis untuk menjelaskan phronemophobia. Saya hendak membawanya ke psikoanalisis. Definisi Geertz ini tidak semata-mata menjelaskan soal agama-yang-kita-tahu sebagai institusi. Lebih jauh dari itu, jika definisi ini adalah sebuah syarat agama, maka prinsip industrial kapitalistik yang membuat seseorang jadi workaholik bisa masuk. Kapitalisme (modal, uang) adalah sebuah sistem simbol yang bisa memberikan mood dan motivasi untuk hidup sehari-hari. Hidup untuk bekerja. Ada formulasi konsepsi soal keberadaan seseorang sebagai mur industri ini,  dan ada aturan umum soal keberadaan seseorang di dunia kerja.

Dalam hal ini, Marx sudah mendahului Geertz untuk membuat sebuah tesis soal Agama sebagai candu yang membuat kapitalisme tetap bekerja. Namun saya, seperti Zizek, bisa membuat kesimpulan lebih jauh lagi. Kapitalisme, seperti agama, adalah ideologi. Dan Ideologi kebanyakan tidak disadari oleh pelakunya: seperti kebanyakan orang beragama merasa agamanya paling benar, kebanyakan orang konsumeris merasa ia butuh kerja untuk mengkonsumsi lebih karena ia butuh konsumsi lebih. Agamis seperti konsumeris, tidak bisa membedakan kebutuhan dengan keinginan. Kenapa saya jadi bicara agama dan konsumen, karena, ini punchline yang Anda tunggu-tunggu:

Phronemophobia akut akan diderita oleh seseorang yang hyper-relijius sekaligus hyper-konsumeris.

Jadi religius atau konsumeris saja tidak cukup untuk punya phobia berpikir. Anda harus jadi dua-duanya. Agama bisa menyelamatkan Anda dari konsumerisme. Dengan agama, Anda bisa menahan hawa nafsu Anda. Konsumerisme, sebaliknya, bisa menyelamatkan Anda dari dogma agama, karena pada praktiknya Anda harus kerja dan punya uang untuk hidup foya-foya–tidak melulu ibadah. Tapi siapa yang bisa menyelamatkan Anda, ketika Anda menjadi seorang konsumeris yang religius. Di sini, phobia terbesar Anda adalah berpikir. Anda tidak mau sama sekali berpikir soal apapun, Anda hanya ingin didikte untuk belanja dan mengkafir-kafirkan orang lain yang mengajak Anda berpikir.

Hyper-religius sama dengan hyper-konsumeris, dalam artian apa yang ia konsumsi tidak melulu barang. Konsumeris di sini berarti lebih luas daripada belanja barang dan tidak sama dengan materialistis. Konsumerisme yang saya maksud adalah ketidakmampuan untuk membedakan kebutuhan dengan keinginan, dan bentuknya yang paling mengerikan adalah ‘merasa membutuhkan dunia ideal dengan memaksa orang lain’. Di sini yang orang konsumsi habis-habisan adalah kuasa (power) dan untuk mengonsumsi itu, ayat dan hadist akan ia gunakan sebagai justifikasi. Hyper-religius-konsumeris ini sebenarnya tidak baru-baru amat. Ia sudah ada sejak zaman Indulgensi Katolik sampai zaman ESQ Khofifah: Tuhan doyan duit dan dengan itu maka agama bisa mempertahankan kuasa dan kelas. Dan bukan hanya orang religius saja, orang liberal-agnostik-atheis pun bisa jadi hyper-religius-konsumeris kalau dia haus kuasa pada yang tak sependapat dengannya dan sudah merasa pintar (hingga tak bisa belajar lagi)–lihat saja para dosen postivis zaman orba yang masih mengajar di kampus-kampus dan ngotot pendidikan harus linear.

Argumen tidak akan mempan. Anda sudah terlanjur percaya pada dogma agama dan doktrin kapitalisme, yang sesungguhnya berlawanan, paradoksal, oximoronik! Logika sudah tidak berjalan sama sekali, karena pikiran abstrak itu, yang Anda tidak mengerti, dijalankan mentah-mentah. Di sini, sebagai combo relijius-konsumeris, sebenarnya Anda sudah menderita psikotik! Phronemophobic! Turunan dari phobia ini banyak sekali dan biasanya melibatkan kata anti: anti-semit, anti-LGBT, anti-liberal, anti-komunis dan yang terbaru Antivaksin! … lanjutkanlah sendiri semua anti yang sudah terinstitusi dalam jargon-jargon politik udik dan ormas para-militerstik itu.

Di sini kita bisa kembali ke psikoanalisis Lacan-Zizek tadi. Seandainya agama adalah superego dan konsumerisme adalah Id, maka kegilaan dimulai ketika superego dan Id bercampur di ego yang sama. Ketika agama=konsumeris. Ketakutan utama Norman Bates, tokoh psikopat di film Psycho, adalah ketika ia berpikir soal seks dengan perempuan lain. Superegonya (dalam bentuk sang Ibu), melarang itu dengan menanamkan ketakutan-ketakutan di diri Norman soal perempuan: bahwa semua perempuan itu jahat, kecuali ibunya. Norman takut berpikir soal perempuan dan seks, maka satu-satunya cara untuk bisa hidup tenang adalah membunuh si perempuan. Norman anak baik, tidak boleh membunuh, maka ibunya yang membunuh si perempuan dengan cara ‘merasuki’ Norman. Seperti mereka yang membunuh atas nama Tuhan.

Sekarang bayangkan ketika orang gila seperti Norman Bates menduduki posisi-posisi penting di masyarakat. Inilah ketakutan khas zaman ini. Ketakutan yang membuat sebuah disparitas sosial dan kesenjangan yang lebih parah dari kesenjangan kelas. Kelas sosial yang berbeda bisa memiliki ketakutan yang sama akan pikiran. Karena itu, dalam banyak wacana publik, seringkali kita temukan opini yang sangat tidak logis dan mengancam Hak Asasi orang lain, yang dikemukakan oleh orang dengan pendidikan dan kuasa tinggi. Bukan hanya di negara berkembang seperti Indonesia, tapi juga di negara maju seperti Amerika Serikat. Tonton saja debat GOP akhir-akhir ini yang anti pada Islam, imigran dan homoseksual. Anda akan paham maksud saya.

Maka saya akan menyimpulkan dengan sebuah benang merah antara topografi klasik Freud, definisi agama Geertz, kritik Kapitalisme Marx, dan Ideologi Zizek. Superego hadir sebagai mekanisme pertahanan di pikiran manusia, ia dibentuk oleh agama dan ideologi semenjak balita dalam proses sosialisasi lingkungan-masyarakat. Lingkungan masyarakat yang cacat logika, akan melahirkan segolongan mayoritas yang cacat pikiran, yaitu mayoritas yang takut pada pikirannya sendiri. Maka berpihaklah pada kebaikan untuk menyembuhkan phobia ini di diri sendiri dan di masyarakat. Apa itu yang baik?

“Jadi berani adalah baik.” Kata Nietzsche.

***

Kalau kamu berhasil membaca sampai di sini, saya ucapkan selamat! Karena kamu pembaca akut! Website ini jalan dengan donasi, karena hostingnya mahal. Jadi kalau kamu belum traktir saya kopi, mungkin ini saatnya, biar saya punya motivasi dan nggak ngerasa sendirian. Hehehe… Klik tombol di bawah ini yaa…

Cinta, Filsafat, Memoir, Racauan

Diri dan Melankolia

Apa itu diri? Menurut filsuf Soren Kierkegaard, diri adalah relasi-relasi yang menghubungkan relasi satu ke relasi yang lain dalam kehidupan seseorang. Artinya, diri tidak pernah menjadi sesuatu yang tetap, tapi selalu berkembang dan berjejaring hingga seseorang itu mati dan dirinya tertinggal sebagai relasi-relasi di diri orang lain.

Pusing kan? Biar tidak jatuh, coba pegangan dulu. Nah, kamu baru saja membuat relasi dengan yang kamu pegang. Kalau kamu pegang nganu mu, maka itulah bagian dari dirimu. Dan relasi itu tidak bisa putus begitu saja, bahkan ketika nganu mu tidak lagi kamu pegang, kamu ingat rasanya, walau kadang lupa namanya.

Maka mari bicara soal relasi-relasi yang putus di kontrak sosial tapi tetap ada di dalam diri. Sesungguhnya inilah relasi terberat yang tak pernah pergi, dari patah hati hingga ditinggal mati. Dan relasi ini menimbulkan sebuah rasa bernama: melankolia.

Buat saya pribadi, melankoli adalah sebuah kerinduan pada sesuatu yang pernah ada namun tak lagi tersedia. Seperti phantom limbs, ilusi yang hadir pasca amputasi, melankoli menyeruak seperti horor ketika kita merasa tangan atau kaki atau organ tubuh kita masih ada padahal sudah hilang. Dan kita belajar melankoli sedari kita bayi. Tahap ini disebut oleh psikoanalis Sigmund Freud sebagai tahap Post-Oedipal.

Post-Oedipal adalah tahap menyakitkan dalam hidup semua orang ketika ia sadar bahwa ibunya, yang selama ini ia cintai sebagai bagian dirinya, telah lepas secara penuh. Ya, patah hati pertama semua orang adalah terhadap figur ibu-nya sendiri. Untuk mengerti konsep ini, saya harus sedikit menjelaskan tiga tahap Oedipus Complex dalam psikoanalisis Freudian.

Tahap pertama adalah pre-Oedipal. Dalam tahap ini seorang bayi merasa bahwa ia dan ibunya adalah satu badan: itulah dirinya, sebuah relasi antara bayi yang masih menyusu dengan ibunya, dimana si bayi mengidentifikasi dirinya sebagai organ si ibu. Sementara ibunya sendiri perlahan mengalami melankolia pula, ketika ia sadar bahwa anak yang ia kandung 9 bulan dan selama ini jadi bagian tubuhnya, pelan-pelan terpisah darinya.

Tapi si anak belum tahu itu sampai ia berhenti menyusu dan mulai bisa berdiri dan berjalan. Tahap pre-Oedipal berhenti ketika si anak mulai bisa mengidentifikasi dirinya sebagai manusia lain. Ia mulai mengenal dirinya sendiri, yang berbeda dengan ibunya. Namun ia masih berada di dalam kasih sayang dan perlindungan si ibu. Di sini ia masuk ke tahap Oedipal: si anak mencintai si ibu.

Tahap itu berhenti ketika tekanan sosial dan pendewasaan organ-organ kelamin membuat si anak harus berpisah secara seksual dari si ibu. Di sini ia mulai galau dan mengalami melankoli itu: post-oedipal. Maka si anak mulai mencari model untuk mengalirkan libidonya, dan ketika ia jatuh cinta pada orang lain, sifat kebayi-an Oedipal nya timbul kembali.

Saya ingin membawa teori klasik ini ke ranah yang lebih luas, bahwasannya tahap post Oedipal bukan hanya berlaku untuk heteroseksual, tapi juga untuk spektrum lain dalam seksualitas. Karena hubungannya tidak semata-mata seks, tapi juga masalah attachment, atau keterikatan, satu individu dengan individu lain. Sebuah ketakutan klasik dalam cara bertahan hidup binatang mamalia: ketakutan akan ditinggalkan (fear of abandonment).

Ketika kita hendak mempertahankan relasi percintaan dengan orang lain di tahap post Oedipal kita, rasa ketakutan ini begitu besar. Kita seperti anak kecil yang mencari ibunya yang hilang. Hilang arah dan orientasi. Hingga ketika kita benar-benar ditinggalkan pasangan kita, rasa itu memuncak dalam sebuah kegamangan bahwa kita sudah dewasa dan harusnya tidak lagi merasa seperti itu. Tapi separuh jiwa kita hilang di kenyataan, tapi begitu nyata adanya di pikiran: sebuah phantom limbs.

Dan ini bukan hanya untuk percintaan dengan kekasih. Bisa juga rasa itu hadir ketika kehilangan sahabat kita, atau orang tua kita, atau siapapun yang berarti banyak di hidup kita. Dari sudut pandang neurosains, diri kita dibentuk oleh trilyunan syaraf yang disebut synapses. Syaraf-syaraf di otak ini tumbuh dan menguat bersama relasi-relasi yang terbentuk dari hubungan kita dengan lingkungan dan orang-orang lain. Dan ketika hubungan itu terputus, synapses kita terganggu dan membuat tubuh berraksi dengan menutup hormon tertentu dan membuka hormon yang lain. Membuat kita menangis sambil menertawai diri sendiri karena di usia ini, kita kembali seperti bayi yang merindukan ibunya yang pergi.

Hormon kebahagiaan tidak diproduksi dengan baik, stress bertambah, agresi keluar untuk menguranginya. Dan ini adalah saat-saat terburuk hidup kita. Kita berusaha untuk tetap membuat relasi-relasi itu ada, dengan mencoba menggapai-gapai orang yang kita cinta tapi tidak lagi bisa mencintai kita. Buat apa? Sampai kapan?

Sampai luka di sinapsis kita sembuh sendiri. Tapi Kierkegaard menemukan, bahwa luka itu akan kita bawa sampai mati. Dia akan terulang kembali dengan relasi-relasi baru yang kita buat dan putus. Tidak akan pernah ada kekebalan itu, sampai syaraf dan hormon kita beradaptasi, atau kita sudah cukup tua untuk jadi fungsional dan mengejar relasi-relasi itu. Hingga di satu titik diri kita berhenti membuat relasi baru.

Kematian adalah penyembuh keputusasaan, akhir dari segala melankolia. Kematian adalah kepastian absolut dari kehidupan. Ia pasti datang, dan selalu bisa dipercepat. Lalu kenapa kita tidak mati saja? Karena masih banyak relasi-relasi lain yang membuat kita tetap hidup. Orang yang bunuh diri, adalah orang yang merasa bahwa kehidupannya akan merusak diri orang lain. Kematian bukanlah hal yang egois, tapi sebuah hal altruistik, untuk memberikan ruang kepada diri-diri lain yang masih sanggup hidup untuk menderita dalam melankolia.

***

Terima kasih sudah membaca sampai habis. Website ini butuh bantuan kamu untuk tetap ada, jika kamu merasa kalau apa yang ditulis di sini ada gunanya, boleh lah kamu traktir saya segelas kopi untuk motivasi. Tekan tombol dibawah ini, duhai kawanku yang baik: