Filsafat, Memoir, Racauan

Trending Gempi, Ahok, Toket, dan Aku Terasing

Kenapa saya sangat sulit untuk bisa mengerti trending? Atau menulis tentang sesuatu yang trending? Di timeline twitter ada Gempi anak Gading Martin menyanyi dengan band Honne, atau hashtag toket yang mungkin disebar bot atau siapapun, atau berita soal Ahok yang jadi komisaris pertamina—untuk yang terakhir itu saya sempat melihat bahan wartawan kantor tadi malam ketika kerja. Tapi sungguh, saya merasa betul-betul bodoh untuk membahas soal apa yang sedang trend. Sungguh saya nggak trendy banget.

Hal lain misalnya soal film. Saya sudah nonton Perempuan Tanah Jahanam, Ratu Ilmu Hitam, Bebas, Dua Garis Biru, dan lain-lain, tapi untuk bisa menulis sepertinya saya harus menunggu dulu. Tempo lalu Gundala dan Joker sudah saya bahas di satu tulisan di Mondiblanc.org, itu setelah saya menemukan inspirasi untuk keduanya. Saya juga sempat menulis soal film Midsommar, tentunya setelah menemukan epiphany. Saya tidak bakat menulis cepat. Terlalu banyak kebutuhan untuk berkontemplasi, untuk membuat sesuatu matang di kepala dulu. Kecuali yang seperti sedang Anda baca ini, yang saya awali dengan pertanyaan, “Kamu lagi mikir apa?”

Ini adalah sebuah cara untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban tercepat yang muncul di kepala saya, atau dengan impromtu. Lalu biarkan semua mengalir sendiri seperti teknik automatic writing. Meracau adalah keahlian saya yang utama tapi harus dimulai dengan pertanyaan yang tepat. Trending topik, jelas kurang tepat. I give up pursuing that line of life or work. And yes, I thought of pursuing it.

Anyway, saya merasa cukup bersalah karena sudah lama tidak menulis di website saya ini. Saya sudah lama tidak mengupdate pembaca sekalian karena, gosh, di umur ini banyak sekali pekerjaan-pekerjaan dan kebutuhan-kebutuhan yang membuat saya terasing dari yang saya suka, seperti menulis di blog sendiri atau bikin film saya sendiri atau musik saya sendiri. Waktu jadi bukan seperti milik saya.

Tapi nampaknya saya akan mulai punya waktu lagi, karena ada perubahan besar di hidup saya. Saya kangen dengan blog ini, dan kalian semua pembaca sekalian. Saya sedang menyiapkan konten-konten ciamik yang akan tersebar di beberapa website, video, dan podcast! Ya! Saya membuat sebuah podcast buat orang-orang yang ingin terlihat atau terdengar pintar. Semacam referensi-referensi lucu-lucuan yang meringankan yang berat dan memberatkan yang ringan. Tunggu saja tanggal mainnya.

*

Ketika saya memulai tulisan ini, saya gundah karena saya tidak bisa menulis trending. Menjelang akhir, kegundahan sembuh. Untuk apa ikut trending? Lebih baik melambatkan hidup untuk menikmatinya. Lebih baik menghargai proses daripada hasil. Tulisan seringkali menyembuhkan dan penyembuhannya bisa dibagi-bagi kepada sesama. Dan tulisan ini baru saja menyembuhkan saya dengan menerima diri. Sekarang saya tak sabar ingin menulis lagi, hal-hal yang kontemplatif dan bukan trending.

Mungkin saya sudah mulai dewasa (atau tua).

Filsafat, Racauan

Siap-siap Indonesia Tamat

Beberapa bulan terakhir ini, khususnya menjelang dan setelah pemilihan umum presiden, politik Indonesia menjadi semakin tidak menarik untuk saya. Semakin mudah tertebak, pola oligarki tidak berubah, janji perubahan tidak ditepati, lanjutan pembangunan infrastruktur yang meminggirkan orang terus berlangsung, papua begitu-begitu saja, pelanggaran HAM terjadi tiap hari dan ditumpuk karena yang lama juga tidak pernah diselesaikan, kebakaran hutan lagi dan lagi, izin lahan keluar lagi dan lagi.

Lalu akhirnya mau nulis apa lagi soal politik? Bahan sudah habis diulang-ulang buzzer. Perjuangan toh seperti pekerjaan sehari-hari saja, dan mulai membosankan–padahal perjuangan saya toh cuma membuat berita yang akurat, video yang cukup imbang dan tidak memihak. Tetap saja jadi gemas dan tidak menarik untuk dibicarakan lagi. Apakah karena saya sudah jadi terlalu nyaman? Mungkin saja. Tapi ya bagi-bagi kue di elit politik ini kan biar pada diem tuh, jadi agenda pemerintah bisa jalan. Jadi muak aja sih.

Hari ini facebook saya menunjukkan satu postingan lama soal seorang mahasiswa tajir yang mau membayar saya tiga juta untuk membuat tugas kuliahnya. Saya sarankan pada dia untuk cari pisau yang tajam dan bunuh diri saja. Saran itu tak mungkin ia laksanakan, dan ia cuma akan cari orang lain yang mau membuat tugasnya dan membuatnya lulus. Ketika dewasa dia mungkin akan jadi anggota DPR, atau pejabat–orang pragmatis gini biasanya karirnya lulus. Dan fuck banget saya akan berhadapan dengan produk-produk hukum dan politik buatan dorang.

Jadi saya sedang berpikir untuk bikin rencana apokaliptik: apokaliptik dalam artian, bagaimana kalau semua sistem di Indonesia turn off–seperti lampu mati Jawa-Bali beberapa bulan silam. Saya jadi berencana untuk membeli diesel, membeli back pack kiamat, yang isinya persediaan makanan dan minuman, dan duit cash beberapa juta cuma buat dipake sementara sebelum semua collapse. Terus saya mau ambil kursus pramuka dan kemping lagi deh. Kabur ke gunung atau kemana gitu.

Serem banget masa depan bangsa ini. Camping di kolong jembatan layang Jokowi kayaknya asik juga, siapa tahu proyeknya mangkrak kan. Kayak jaman-jaman waktu sistem ngedrop dulu di jaman orba. Tapi ya nyambi kerja biasa, ngajar semau saya, dan bikin-bikin film deh. Sambil nyicil persediaan.

Photo by Heorhii Heorhiichuk on Pexels.com
Filsafat, Racauan

Rencana Manik

Kau seperti klise yang diulang-ulang, walau sesungguhnya jauh dari pikiran banyak orang.

Seperti semua kebenaran politis yang kau paksa untuk anut tapi sebenarnya kau tak suka-suka amat, jadi munafik dalam dirimu karena pada kenyataannya kalau bisa kau langgar, kau langgar.

Aku tidak di tempat yang cocok untuk menilaimu, aku tahu, dan kau… Kau jauh dari tempat tinggi untuk menilaiku. Kita toh berbuat semau-maunya saja dalam cerita ini–cerita dimana di versimu kau korbannya dan aku penjahatnya. Sementara di versiku penjahat dan korban adalah orang yang sama: aku.

Terlalu banyak drama untuk jiwa setua kita. Sementara kawan dan sanak saudara sudah beranak pinak seperti marmut, kelinci, tikus atau kecoak, kita macam spesies mau punah yang tidak mampu regenerasi, spesies yang kalah dalam kompetisi Lamarck-Darwin.

Kita pesakitan yang terjangkit wabah bernama intelektualitas dan bias kelas dan fatalistik, banalitas; kita percaya manusia menuju kepunahan dan kita berusaha tidak jadi munafik dengan cara memodifikasi diri supaya kita melampaui manusia macam ubermench Nietzsche: kita mau menyatu dengan kimiawi artifisial dan mesin-mesin sehingga kita tidak perlu berkembang biak macam binatang. Kita jadi manusia yang lebih manusiawi: egois, dan berusaha untuk abadi.

Karena apa gunanya beranak pinak, kalau kau tak bisa mati?

Lalu kita buat kemutakhiran diri dengan obat-obatan, campuran mesin, dan komputerisasi otak. Siapa lagi yang butuh memori biologis kalau kita bisa tersambung ke memori data kolektif dengan penanggalan karbon dan jam atom paling akurat?

Kasih sayang, seks, cinta, petualangan, kebencian, rasa, semua akan jadi hiburan semata dalam realita virtual kita. Lalu makna juga tak lebih dari fabrikasi. Manusia yang tak mampu berevolusi cuma jadi kucing jalanan saja, cuma perlu kita steril supaya tidak merepotkan.

Manusia terlalu merepotkan dan semakin lama semakin tertebak, terjebak dalam putaran kuasa yang itu-itu saja sementara polusi tidak berhenti melebar dan polisi semakin tidak mengerti tugasnya menjaga apa.

Sudahlah. Tidurkan dengan euthanasia. Supaya semua cepat berganti, karena aku sudah tidak sabar lagi.

Untuk mati dan hidup lagi.

Filsafat, Politik, Racauan

Kar(l)ma(rx)

Photo by 🇮🇳Amol Nandiwadekar on Pexels.com

Kita takut karma, ketika dosa yang kita lakukan kembali kepada kita, maka kita berusaha menjadi orang baik. Namun pengalaman mengajarkanku bahwa tanpa karma pun, shits happen. Dosa orang bisa kita tanggung, hutang orang bisa kita yang harus bayar, orang lain yang membuat berantakan bisa kita yang harus bereskan. Hidup seperti perkerjaan menanggung kerusakan orang yang tidak ada habisnya. Hidup adalah kumpulan karma yang seringkali tidak ada hubungan sebab akibat.

Photo by Alexander Krivitskiy on Pexels.com

Maka itu, Karma bukanlah wanita jalang seperti kata orang hippie Amerika. Karma adalah sebuah mitos, dan mitos, seperti kata Roland Barthes, adalah sebuah petanda yang sudah terlalu jauh hubungannya dengan penandanya; mitos adalah sebuah konotasi yang sudah ngejelimet dan nyasar, sebuah simbol dari simbol yang seringkali diawali dengan sesuatu yang sebegitu personal dan diakui sebagai universal. Seperti gagak petanda buruk, ketiban cicak petanda sial, atau sirik petanda tak mampu. Padahal kita semestinya tahu, gagak adalah ada petanda burung berwarna hitam yang berteriak gaak gaak, ketiban cicak petanda cicak bisa melompat, dan sirik petanda kesenjangan kelas.

Di poin yang ketiga inilah maka Karl Marx lebih masuk akal daripada Karma. Karena Karl Marx berusaha mengkritisi dialektika sebab-akibat adanya eksploitasi dan kesenjangan kelas, sementara karma berusaha menjelaskan kesenjangan kelas dari dosa-dosa baik di kehidupan ini atau (ini yang parah) di kehidupan masa lalu. Karl Marx berusaha membongkar kelas-kelas sosial; karma menjadi dasar kelas sosial paling parah sepanjang sejarah kelas manusia: kasta. Terlahir sudra akan mati jadi sudra, terlahir brahmana akan mati brahmana–dan dalam kehidupan, darma baik dan buruk diharapkan dapat menjadi karma di kehidupan mendatang.

Tapi sayang sungguh sayang, saya sendiri suka sulit menghindari pikiran soal Karma. Dosa dan agama sudah jadi bagian dari keseharian yang merasuk ke alam bawah sadar dan, akhir-akhir ini, menjadi semacam penyelamat dari penyakit kejiwaan yang saya derita. Kata Marx mengembangkan buah pikiran Fuerbach, agama adalah candu. Dalam konteks kota kapitalis ini, saya jadi atheis yang praktikal: tidak percaya Tuhan sebagai entitas personifikasi, tapi beritual dan berspiritualitas pada energi besar yang mengendalikan alam semesta semau-maunya dia. Melepaskan ilusi kontrol dan rencana-rencana besar, dan mulai fokus pada rencana-rencana kecil saja yang saya rencanakan punya efek baik, dari mulai membiayai pemuda desa kuliah, sampai menyelenggarakan workshop gratis yang memberikan skill tambahan untuk anak-anak muda perkotaan yang galau mau jadi apa.

Jadi apa saya percaya karma? Tidak. Apa saya takut akan karma? Ya! Lah kok bisa takut pada sesuatu yang tidak kamu percaya? Lah kenapa tidak bisa? Coba, berapa banyak orang yang ngaku Atheis tapi pas pesawat yang ditumpanginya mau jatuh dia berdoa? Berapa banyak yang mengaku saintifik tapi takut pada kecoak atau ulat bulu?

Mitos dan cerita-cerita ini menyatukan kita sebagai manusia, membuat kita menjadi spesies paling berkuasa di dunia. Mitos dan cerita-cerita begitu kuatnya, ia membentuk sistem ekonomi, strata sosial, dan dapat membunuh lebih banyak orang daripada senjata nuklir. Mitos dan cerita-cerita menghidupkan dan mematikan kemanusiaan kita. Maka Karl Marx boleh berdialektika semacam apapun, Nietzsche bisa bilang Tuhan telah dibunuh para penganutnya seperti apapun, namun mereka semua pada akhirnya terkena Karma: yang satu jadi hantu karena ideologi yang dibuatnya menjadi pondasi paling kuat kapitalisme hari ini; dan yang satu lagi meninggal di rumah sakit jiwa karena kegilaan. Mereka berdua kena Karma. Salah apa mereka? Lah, tidak tahu, mungkin dulu sempat menjadi kapitalis busuk, atau jangan-jangan salah satu dari mereka pernah menjadi kecoak yang meracuni keluarga terakhir homo denisovans hingga punah.

Tidak ada yang tahu kebenaran sebuah mitos, kecuali sebuah mitos lain yang belum tentu pula kebenarannya—mitos apa itu? Coba pikirkan sambil beribadah hari ini.

Photo by rawpixel.com on Pexels.com