English, Memoir, Racauan

Treating Death at Home in Jakarta

Treating your dying relative at home today in Jakarta could mean a lot of trouble. 

My uncle had complications disease for more than 10 years. After my grandparents and his twin younger brother died, he lost the will to live and his condition was deteriorating both physically and mentally. The extended family decided to took care of him at my grandparents’ home, suspending the selling of the house. 

My uncle was an ex drug user of the 90s. He went to Islamic Boarding School for years after rehab. His organ started to failed one by one. Long story short, he died at home after his lungs failed, threw out blood from his mouth, nose and ear. It was a mess.

We called a nearby health center to confirm his death. Our mistake: we did not asked for a written statement. After we buried him, there was a lot of complications that took weeks to resolve. This story is written so you, dear readers, won’t repeat the same problem.

First of all, if possible, don’t let your loved one died at home in the first place. I know dying in a familiar place is many people’s wish. But the world is for the living, and if the person have chronic disease, no matter how low the hope to survive is, better stay at the hospital. Especially if, like my uncle, the disease is contagious.

Secondly, if you really can’t help it and need her/him to be at home so badly, prepare the number to call for any emergency, including death. For chronic disease that has been going on years or decades, hell, prepare the documents: death documents to be signed by the doctor, or even the will of the sick person. Inheritance is one of the thing that, like it or not, breaks family and need to be talk about.

Thirdly, if the disease is chronic or contagious, and you can’t bring the body to hospital or funeral service either because you don’t have the money, or if it’s tradition to prepare the body at your own house, make sure you have phone numbers of hospitals that have specialty in that disease so you could hire a nurse or specialist to take care of the deceased. Normal funeral home in Jakarta mostly does not want to deal with infectious disease such as tuberculosis, HIV/AIDS, or skin disease.

Fifth, prepare also the cleaner service from the hospital, who will use disinfectant in your home. Funeral home need to be really clean before and after the corpse got her/his last respect. It will cost you money, don’t hesitate to asked other relative to donate.

Fifth, go to nearby health center. Ask two things: first yellow bags to put medical trash, and second permission to put the medical trash in their bin. In Jakarta there is no law that regulate this. And if the health center bin is full, you got to take the medical trash somewhere else. The health center use outsourcing companies to take care if their medical trash, and the truck that takes the trash come once a week.

Medical trash are anything that leave liquid, organs, syringe, hair, or belongings that got stained by the deceased patients body, like sheets, clothing or utensils. This trash can be overwhelming. You can use your own car to bring these trash to the health center, but remember to clean your car with disinfectant after. If you want to hire the outsourcing company, prepare around 300USD. In the health center, it’s free so long as you are polite enough to talk to the care taker. Because these are not in their job description and they are doing it to help you. Your trash will not be written in their logbook, because, like I said, there is not yet a regulation for it.

Death certificate is the hardest. Without death certificate, it’s hard to make other legal documents, such as dealing with the cemetery, or inheritance problem. Now, if your deceased loved one, like my uncle, does not have doctor/health officer legal written letter pronounce her/him died, it will be a bureaucratic hell , going back and forth from your district head, to regent head, to health center, to hospital, to collect signatures from these people so they can pronounce the death. And also signatures from families and neighbors. It was really tiring.

If the death certificate has been issued, you can start to handle other problems such as inheritance, for example. Now that’s the thing that disinterest me the most. So this is the end of the story.

Good luck.

Ethnography, Filsafat, Memoir, Politik, Racauan

Sastra Jahat, Sastra Data

Sastra adalah ilmu tentang cerita. Cerita apa? Ya semua cerita, dari fakta yang diramu, hingga agama yang dianut; dari fiksi yang dilisan hingga diksi di tulisan. Tidak ada batas belajar sastra, selama kita memakai bahasa, dan karena bahasa membuat kita jadi manusia, sastra memanusiakan manusia.

Di jurusan fakultas Ilmu Budaya, sastra jadi lebih sempit artinya: semua yang tertulis sebagai teks, atau peninggalan artefak. Makanya ilmu sejarah dan arkeologi di UI masuk Fakultas Ilmu Budaya. Sementara yang tak tertulis, lisan, atau butuh pengumpulan riset lapangan yang berdasarkan omongan orang, masuknya ke FISIP.

Ini jadi agak problematik dan bisa diperdebatkan. Karena artinya Sastra Lisan, seperti folklore (bukan dongeng, tapi dongeng adalah salah satunya), tidak masuk Fakultas Ilmu Budaya. Folklore di UI jadi cabang Antropologi, dan di UI Antropologi masuk ke Fakultas Ilmu Sosial Politik. Pertentangan ini membuat di UGM, ilmu Antropologi masuk ke Fakultas Ilmu Budaya. Mana yang masuk akal? Mana yang benar? Ah, itu semua politik kampus saja. Ujung-ujungnya, Ilmu pengetahuan sebenarnya tak lebih dari kisah-kisah saja, Sastra semua! Bisa dibuat-buat dan bisa sangat kuat! Sastra, kisah, tulisan, bisa jadi kepercayaan dan bisa membunuh ribuan bahkan jutaan orang, kalau tidak menyelamatkan mereka.

Sinagog

Hitler membunuh Yahudi dengan narasi bahwa bangsa Arya Jerman adalah Ras unggul, simbolnya swastika. Padahal kalau kita baca teks arkeologi, Ras Arya berasal dari India dan kulitnya gelap-gelap. Swastika pun simbol dari budaya timur. Tapi narasi ‘Sastra’-nya Hitler yang banyak dianut orang Jerman saat itu. Hitler baca Nietzsche dan mengintretasikan tulisan Nietzsche yang campuran filsafat, sejarah, dan sastra, menjadi pembenaran untuk melakukan genosida terhadap Yahudi.

Indonesia, sebagaimana semua narasi tentang negara, adalah sastra juga. Sebuah traktat politik. Sebuah imajinasi yang dibagi. Begitupun institusi-institusi lain dari identitas hingga agama. Di Indonesia, genosida berdasarkan sastra dibuat berkali-kali lewat propaganda pemerintah. Dari mulai pemerintah kolonial terhadap berbagai etnis, pembantaian PKI, dan etnis China-Indonesia. Semua gara-gara cerita, yang kebanyakan tidak bisa terbukti kebenarannya.

Hari ini dengan adanya media sosial, alat propaganda dimiliki banyak orang. Semua bisa sebar cerita, semua bisa sebar hoax. Tukang cerita jadi laku dari jadi wartawan hingga buzzer. Profesi mahal jika bisa menerjemahkan teks-teks teknik yang ribet menjadi teks narasi yang mudah dinikmati. Dan dari semua pabrik cerita, korporat internasional, seperti VOC jaman dulu, punya alat cerita paling besar. Modal paling besar: infrastruktur.

Pemerintah negara kini tidak bisa berbuat banyak, apalagi kalau kementriannya ketinggalan jaman, PNS-nya gagap teknologi. Kita benar-benar sudah hidup di desa global McLuhan, dimana semua orang bisa punya komunitas sendiri-sendiri dengan bias dan persepsinya sendiri. Namun kita menuju ke sebuah singularitas, dimana dunia akan bersatu di bawah payung bank data. Di situ, ketika orang-orang gaptek pada pensiun atau dikerjai oleh sistem yang tidak mereka mengerti, sistem yang objektif, tidak manusiawi, dan hampir tidak bisa dikorup, maka kita semua pun akan jadi manusia yang dikendalikan oleh sistem.

Selama tidak mati , sepertinya kita akan baik-baik saja. Jadi robot biologis.

Filsafat, Memoir, Racauan, Workshop

Karya Yang Baik adalah Karya Yang Jadi

Tapi tidak boleh asal jadi.

Lebih baik lagi kalau kita bisa berencana dalam menghitung skala seberapa lama dan seberapa berat kita akan mengerjakan sebuah proyek. Sejak awal kita sudah punya perhitungan kira-kira seperti apa akhirnya dan bagaimana mengakhirinya ketika waktu sudah habis; apakah ada rencana B sampai Z? Secara teoritis, jika perencanaan sudah lumayan matang, tingkat kemelesetan tidak akan parah-parah amat.

Tapi memang stres tidak terhindarkan dalam tekanan waktu dan deadline.

Ini saya bicara secara abstrak untuk proyek apapun, dan secara teoritis. Pada praktiknya, kenyataan bisa sangat kacau balau. Sulit sekali untuk mengendalikan agar rencana sesuai dengan kenyataan. Semakin besar proyeknya, semakin melibatkan banyak orang, maka kita harus mampu berkolaborasi, dan mempercayai orang lain untuk mengerjakan bidang mereka masing-masing, namun di saat yang sama juga bersiap kalau mereka kacau, gagal, atau hilang di tengah proyek.

Kegagalan adalah kalau karyanya tidak selesai.

Beberapa minggu lalu saya sempat berhadapan dengan klien dari salah satu insitusi negara yang tidak mau bayar term 2 sebuah proyek video, hanya karena selesainya proyek tidak sesuai dengan kemauan mereka. Mereka juga tak tahu apa yang mereka mau. Proyek dilaksakan dengan kerja keras dan sesuai dengan wanti-wanti saya dari awal bahwa ini akan jauh dari sempurna karena masalah waktu dan budget—kalaupun budget mereka ada, saya tidak punya waktu untuk membuat ini sempurna. Salahnya saya, saya menerima bujuk rayu dan kasihan pada mereka. Akhirnya saya tidak dibayar malah dapat marah-marah dari pejabat.

Buat mereka proyek itu tidak selesai, tapi buat saya dan tim, selesai. Kami kirim hasilnya, kami sudah berusaha sebaik kami. Dan cuma orang-orang seperti mereka yang terjebak birokrasi dan ketakutan jabatan yang tidak bisa terima akal sehat, yang membuat kami kelabakan kerugian seperti ini. Tapi selama proyeknya jadi, itu sudah lumayan.

Ke depan ada banyak sekali rencana-rencana, dan kebanyakan dari rencana itu kemungkinan akan berakhir buruk (baca: gagal jadi). Tapi kita lihat saja bagaimana takdir semesta. Yang jelas, skala prioritas dibuat seperti antrian first come first serve. Segala app schedule dan koordinasi dipakai untuk mengejar target. Karena pemaknaan kehidupan kita hari ini adalah menyelesaikan tugas, sampai suatu hari tugas itu menyelesaikan kita.

Filsafat, Memoir, Racauan

Trending Gempi, Ahok, Toket, dan Aku Terasing

Kenapa saya sangat sulit untuk bisa mengerti trending? Atau menulis tentang sesuatu yang trending? Di timeline twitter ada Gempi anak Gading Martin menyanyi dengan band Honne, atau hashtag toket yang mungkin disebar bot atau siapapun, atau berita soal Ahok yang jadi komisaris pertamina—untuk yang terakhir itu saya sempat melihat bahan wartawan kantor tadi malam ketika kerja. Tapi sungguh, saya merasa betul-betul bodoh untuk membahas soal apa yang sedang trend. Sungguh saya nggak trendy banget.

Hal lain misalnya soal film. Saya sudah nonton Perempuan Tanah Jahanam, Ratu Ilmu Hitam, Bebas, Dua Garis Biru, dan lain-lain, tapi untuk bisa menulis sepertinya saya harus menunggu dulu. Tempo lalu Gundala dan Joker sudah saya bahas di satu tulisan di Mondiblanc.org, itu setelah saya menemukan inspirasi untuk keduanya. Saya juga sempat menulis soal film Midsommar, tentunya setelah menemukan epiphany. Saya tidak bakat menulis cepat. Terlalu banyak kebutuhan untuk berkontemplasi, untuk membuat sesuatu matang di kepala dulu. Kecuali yang seperti sedang Anda baca ini, yang saya awali dengan pertanyaan, “Kamu lagi mikir apa?”

Ini adalah sebuah cara untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban tercepat yang muncul di kepala saya, atau dengan impromtu. Lalu biarkan semua mengalir sendiri seperti teknik automatic writing. Meracau adalah keahlian saya yang utama tapi harus dimulai dengan pertanyaan yang tepat. Trending topik, jelas kurang tepat. I give up pursuing that line of life or work. And yes, I thought of pursuing it.

Anyway, saya merasa cukup bersalah karena sudah lama tidak menulis di website saya ini. Saya sudah lama tidak mengupdate pembaca sekalian karena, gosh, di umur ini banyak sekali pekerjaan-pekerjaan dan kebutuhan-kebutuhan yang membuat saya terasing dari yang saya suka, seperti menulis di blog sendiri atau bikin film saya sendiri atau musik saya sendiri. Waktu jadi bukan seperti milik saya.

Tapi nampaknya saya akan mulai punya waktu lagi, karena ada perubahan besar di hidup saya. Saya kangen dengan blog ini, dan kalian semua pembaca sekalian. Saya sedang menyiapkan konten-konten ciamik yang akan tersebar di beberapa website, video, dan podcast! Ya! Saya membuat sebuah podcast buat orang-orang yang ingin terlihat atau terdengar pintar. Semacam referensi-referensi lucu-lucuan yang meringankan yang berat dan memberatkan yang ringan. Tunggu saja tanggal mainnya.

*

Ketika saya memulai tulisan ini, saya gundah karena saya tidak bisa menulis trending. Menjelang akhir, kegundahan sembuh. Untuk apa ikut trending? Lebih baik melambatkan hidup untuk menikmatinya. Lebih baik menghargai proses daripada hasil. Tulisan seringkali menyembuhkan dan penyembuhannya bisa dibagi-bagi kepada sesama. Dan tulisan ini baru saja menyembuhkan saya dengan menerima diri. Sekarang saya tak sabar ingin menulis lagi, hal-hal yang kontemplatif dan bukan trending.

Mungkin saya sudah mulai dewasa (atau tua).