Filsafat, jurnalistik, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan

Memecahkan Paradoks Etika Jurnalisme di Era Post-Truth

Media sosial hari ini seperti warung pecel lele yang buka 24 jam: selalu ada yang bisa kita pilih. Tapi, sama seperti kita sering memilih lele goreng daripada tahu tempe karena lebih menggoda, cara kita memilih informasi di linimasa juga cenderung mengikuti selera pribadi. Potongan kecil berita yang kita lihat di media sosial memberikan berbagai sudut pandang, tapi sering kali hanya yang sesuai dengan opini kita saja yang kita klik atau bagikan. Inilah tantangan besar bagi jurnalisme: bagaimana tetap berpegang pada etika di tengah budaya “ambil sesuai selera”.

Potongan Berita ala Media Sosial

Dulu, orang dapat berita dari koran pagi atau tayangan berita malam—lengkap, penuh konteks. Sekarang, berita seperti dipotong-potong kecil, lalu disebar ke linimasa kita dalam bentuk klip 15 detik atau satu paragraf. Akibatnya, pembaca memilih hanya bagian cerita yang cocok dengan opini mereka.

Contohnya begini: kalau ada berita tentang kenaikan BBM, satu potongan mungkin menyoroti dampaknya pada nelayan kecil, potongan lain membahas kebijakan pemerintah, dan potongan lainnya lagi mungkin hanya fokus pada meme tentang antrean di SPBU. Semua informasi itu penting, tapi kalau kita cuma lihat satu sisi, pandangan kita jadi terbatas.

Masalahnya, algoritma media sosial makin memperkuat pola ini. Semakin sering kita klik satu jenis berita, semakin sering kita disodori hal serupa. Lama-lama, kita terjebak dalam “ruang gema” yang membuat kita merasa pandangan kita sudah lengkap, padahal jauh dari itu.

Pembaca Juga Punya Peran

Sebenarnya, tanggung jawab untuk berpikir kritis ada di pembaca. Kalau berita itu seperti pecel lele, ya jangan cuma makan lele terus. Cobalah tahu dan tempe juga, biar nutrisinya seimbang. Artinya, kita harus melihat isu dari berbagai sudut, bukan hanya yang kita suka. Jangan puas hanya dengan headline atau klip viral, coba cari tahu konteksnya. Siapa yang membuat konten itu? Apa motifnya? Apa sisi cerita yang belum terlihat?

Tapi jurnalis juga nggak boleh lepas tangan. Tugas mereka adalah memastikan pembaca punya peluang untuk menggali lebih dalam.

Tanggung Jawab Jurnalis: Remah dengan Arah

Jurnalis punya pekerjaan rumah. Kalau bikin konten untuk media sosial, jangan cuma bikin yang viral, tapi pikirkan bagaimana potongan itu bisa memancing pembaca untuk berpikir lebih kritis. Setiap klip atau postingan harus punya pesan yang jelas: “Ini baru satu sisi. Kalau mau tahu lebih banyak, klik link berikutnya.” Berita lengkap mungkin ada di website yang jarang dilihat orang, tapi kelengkapan data itu adalah tanda sebuah kredibilitas.

Misalnya, kalau bikin TikTok soal banjir, jangan cuma menunjukkan orang main kano di tengah jalan. Tambahkan informasi tentang apa yang menyebabkan banjir itu dan apa yang bisa dilakukan untuk mencegahnya. Setiap potongan berita harus seperti pintu menuju informasi yang lebih lengkap, bukan hanya jendela kecil yang bikin orang puas dengan pandangan sempit. Hidup di dunia penuh teaser, membuat orang suka lupa kalau itu teaser.

Boleh dicacah, tapi selalu siapkan menu lengkap!

Menjaga Etika di Tengah Realitas

Jurnalisme memang berhadapan dengan kenyataan yang sulit: semua orang berlomba mencari perhatian di media sosial. Tapi etika tetap harus jadi prioritas. Bukan berarti jadi membosankan, tapi jurnalisme harus berani menyajikan sudut pandang yang berimbang, meski itu mungkin tidak populer.

Tujuannya adalah memberi audiens kesempatan untuk memilih bukan hanya apa yang ingin mereka percaya, tapi juga apa yang sebenarnya perlu mereka ketahui. Media sosial memang membantu menyebarkan informasi lebih cepat, tapi tugas jurnalis adalah memastikan informasi itu tetap lengkap dan akurat.

Kerja Sama Dua Arah

Solusinya sederhana tapi berat: jurnalis dan pembaca harus saling membantu. Jurnalis harus membuat konten yang tidak hanya menarik, tapi juga mendidik. Pembaca harus lebih aktif dan kritis, tidak puas hanya dengan apa yang ada di linimasa.

Di era post-truth ini, kebenaran itu bukan mati—dia cuma terselip di antara potongan-potongan berita. Tugas kita semua adalah menyatukan kembali potongan itu, agar kebenaran bisa kembali utuh. Karena, kalau nggak, yang menang cuma algoritma. Dan percayalah, algoritma nggak peduli sama etika.

Politik, Racauan

Masalah AI dan Etika Hak Cipta


Masalah ini yang paling sering dibicarakan ketika kita ngobrol soal Artificial Generative Intelligence dengan Large Language Model seperti ChatGPT atau Dall-e dari Open AI. Sebagai supertools mereka mendapatkan data dari dua sumber. Pertama input data dari 40 persen lebih internet yang dilakukan baik oleh karyawan atau oleh bot mereka. Data ini diakui sebagai data milik publik atau yang diambil dalam kerangka hukum yang jelas. Tapi ketika data itu digenerate oleh OpenAI dia menjadi sesuatu produk baru, yang nilai intelektualnya jadi diragukan punya siapa. OpenAI juga tidak mungkin memasukan nama para kreator yang sudah dimashup menjadi satu generative product. Tidak mungkin ada atribusi yang jelas kecuali kutipan pasti dari buku atau penulis, atau pemikiran teoritis atau akademik yang sudah sahih dari pemikir atau tokoh publik yang statementnya lumayan terkenal.

Photo by Mati Mango on Pexels.com

Data lain yang dipakai OpenAi tentunya data user yang diambil dari propmpting dan percakapan, input data, diskusi dan lain-lain. Di sini user mengajarkan AI untuk menyeseuaikan dirinya dan bertambah cerdas karena user ikut memasukan data-data baru, tapi jadi muncul pertanyaan tentang hak cipta dan privasi. Apakah user memberikan izin untuk menggunakan semua data mereka dengan AI? Atau apa yang terjadi jika data yang digunakan terkait dengan informasi rahasia atau privasi, seperti data medis atau finansial?

Masalah AI dan etika hak cipta semakin kompleks ketika kita membicarakan tentang penggunaan teknologi ini dalam konteks karya seni, media, dan hiburan. Misalnya, program generative seperti Dall-e dapat menciptakan gambar dan ilustrasi yang menakjubkan, namun siapa yang memiliki hak cipta atas karya tersebut? Apakah OpenAI atau pengguna yang memberikan data prompt dan inspirasi?

Ini semua tidak ada jawabannya, bahkan ketika kita bertanya kepada ChatGPT. Mereka berdalih bahwa semua tergantung kepada user, padahal user itu goblok. Lihat lah efek sosial media! Entah sekacau apa peradaban kita ke depan dengan teknologi ini. Jadi yang bisa dilakukan sekarang, belajar terus dengan kritis tentang teknologi ini, jangan pakai terlalu banyak, tapi juga jangan ditolak. Tulisan ini misalnya, dibantu paragraph AI dari wordpress hanya untuk masalah kerangka tulisan dan input dari AI itu pada akhirnya juga tidak saya pakai. Saya juga akan memakai sebuah disclaimer baru setiap kali saya memakai AI dalam tulisan saya. Ini penting karena saya ingin mempertahankan kredibilitas saya sebagai penulis dan peneliti.

***

Tulisan ini adalah tulisan otentik saya dan saya memakai AI untuk mencari data, fact check, dan diskusi soal struktur. AI seperti ChatGPT atau Paragraph AI dipakai hanya sebagai referensi model. Saya tulis ulang semuanya dengan kata-kata saya sendiri, Jika kamu suka yang kamu baca, traktir saya kopi, dan ajak saya ngobrol dikolom komentar. Mari kita jaga manusia tetap menjadi kreator yang otentik, dengan kesalahan-kesalahan, eksperimen dan akal bulus kita.