jurnalistik

Sudut Pandang Jurnalisme Konten

Disclaimer: pembuatan kerangka tulisan ini dibantu oleh AI, diedit sepenuhnya oleh eseinosa. Konten adalah tanggung jawab penulis.

Jurnalisme hari ini dituntut untuk lebih untuk memperhatikan audience engagement dan membuat konten yang relevan untuk niche pembaca atau penonton yang spesifik.

Dalam jurnalisme video, sudut pandang sebuah cerita adalah lensa khusus yang digunakan untuk mendekati dan menyajikan informasi. Ini tentang menemukan cara unik untuk menceritakan cerita yang membedakannya dari cerita serupa lainnya.

Berikut adalah beberapa pertimbangan untuk menentukan sudut pandang:

Sudut Pandang Kemanusiaan:

  • Fokus pada pengalaman pribadi, emosi, atau perjuangan individu yang terlibat dalam cerita.
  • Soroti bagaimana peristiwa tersebut memengaruhi kehidupan seseorang secara personal.

Sudut Pandang Investigatif:

  • Gali lebih dalam cerita untuk mengungkap fakta tersembunyi, korupsi, atau pelanggaran hukum.
  • Ajukan pertanyaan kritis dan tantang status quo.

Sudut Pandang Konteks Sejarah:

  • Jelajahi bagaimana peristiwa saat ini berkaitan dengan peristiwa atau tren historis.
  • Berikan konteks dengan melacak perkembangan historis yang relevan.

Sudut Pandang Geografis atau Budaya:

  • Pertimbangkan bagaimana cerita dipengaruhi oleh lokasi atau budaya.
  • Soroti aspek-aspek unik yang terkait dengan tempat atau komunitas.

Sudut Pandang Kontrarian:

  • Hadirkan pandangan yang berlawanan dengan narasi umum.
  • Tantang asumsi atau keyakinan yang lazim.

Sudut Pandang Berorientasi Solusi:

  • Usulkan solusi atau alternatif untuk menangani masalah yang dibahas dalam cerita.
  • Fokus pada perubahan positif dan langkah-langkah yang dapat diambil.

Ingatlah, sudut pandang yang dipilih membentuk keseluruhan narasi dan memengaruhi bagaimana audiens memahami cerita. Sesuaikan sudut pandang dengan tujuan pelaporan dan menarik perhatian audience.

***

Terima kasih telah membaca sampai habis. Website ini jalan dengan sumbangan, iklannya tak menghasilkan, dengan lisensi Creative Commons, Atribution, Non commercial. Kamu boleh pakai konten ini selama memberikan link sumber dan bukan untuk tujuan komersial. Kalau kamu suka dengan yang kamu baca, silahkan traktir saya kopi murah.

Politik, Racauan

Masalah AI dan Etika Hak Cipta


Masalah ini yang paling sering dibicarakan ketika kita ngobrol soal Artificial Generative Intelligence dengan Large Language Model seperti ChatGPT atau Dall-e dari Open AI. Sebagai supertools mereka mendapatkan data dari dua sumber. Pertama input data dari 40 persen lebih internet yang dilakukan baik oleh karyawan atau oleh bot mereka. Data ini diakui sebagai data milik publik atau yang diambil dalam kerangka hukum yang jelas. Tapi ketika data itu digenerate oleh OpenAI dia menjadi sesuatu produk baru, yang nilai intelektualnya jadi diragukan punya siapa. OpenAI juga tidak mungkin memasukan nama para kreator yang sudah dimashup menjadi satu generative product. Tidak mungkin ada atribusi yang jelas kecuali kutipan pasti dari buku atau penulis, atau pemikiran teoritis atau akademik yang sudah sahih dari pemikir atau tokoh publik yang statementnya lumayan terkenal.

Photo by Mati Mango on Pexels.com

Data lain yang dipakai OpenAi tentunya data user yang diambil dari propmpting dan percakapan, input data, diskusi dan lain-lain. Di sini user mengajarkan AI untuk menyeseuaikan dirinya dan bertambah cerdas karena user ikut memasukan data-data baru, tapi jadi muncul pertanyaan tentang hak cipta dan privasi. Apakah user memberikan izin untuk menggunakan semua data mereka dengan AI? Atau apa yang terjadi jika data yang digunakan terkait dengan informasi rahasia atau privasi, seperti data medis atau finansial?

Masalah AI dan etika hak cipta semakin kompleks ketika kita membicarakan tentang penggunaan teknologi ini dalam konteks karya seni, media, dan hiburan. Misalnya, program generative seperti Dall-e dapat menciptakan gambar dan ilustrasi yang menakjubkan, namun siapa yang memiliki hak cipta atas karya tersebut? Apakah OpenAI atau pengguna yang memberikan data prompt dan inspirasi?

Ini semua tidak ada jawabannya, bahkan ketika kita bertanya kepada ChatGPT. Mereka berdalih bahwa semua tergantung kepada user, padahal user itu goblok. Lihat lah efek sosial media! Entah sekacau apa peradaban kita ke depan dengan teknologi ini. Jadi yang bisa dilakukan sekarang, belajar terus dengan kritis tentang teknologi ini, jangan pakai terlalu banyak, tapi juga jangan ditolak. Tulisan ini misalnya, dibantu paragraph AI dari wordpress hanya untuk masalah kerangka tulisan dan input dari AI itu pada akhirnya juga tidak saya pakai. Saya juga akan memakai sebuah disclaimer baru setiap kali saya memakai AI dalam tulisan saya. Ini penting karena saya ingin mempertahankan kredibilitas saya sebagai penulis dan peneliti.

***

Tulisan ini adalah tulisan otentik saya dan saya memakai AI untuk mencari data, fact check, dan diskusi soal struktur. AI seperti ChatGPT atau Paragraph AI dipakai hanya sebagai referensi model. Saya tulis ulang semuanya dengan kata-kata saya sendiri, Jika kamu suka yang kamu baca, traktir saya kopi, dan ajak saya ngobrol dikolom komentar. Mari kita jaga manusia tetap menjadi kreator yang otentik, dengan kesalahan-kesalahan, eksperimen dan akal bulus kita.