Memoir, podcast, Politik, Racauan

Podcast Eps 2: Prioritas | Antara Masker, Helm dan Demokrasi

Gue suka kagum sama bagaimana banyak orang Indonesia membuat prioritas. Kayak, ketika jaman coronavirus ini, pada nurut tuh kebanyakan orang pake masker. Penting dong pake masker, biar ga nularin orang lain. Tapi yang keren itu orang-orang yang pada naik motor, sama istri dan tiga anaknya dempet-dempetan, anak paling kecil di depan, semuanya pake masker…

Tapi ga pake helm.

Hebat emang. Padahal jelas-jelas angka kematian karena kecelakaan lalu lintas tiap tahunnya jauh lebih gede daripada angka kematian karena Corona. Tapi ini kayaknya ciri khas banyak orang Indonesia akibat ketakutannya pada aturan—bukan pada ancaman yang logis.

Gue inget bokap gue dulu kalo nyetir nggak pernah mau pake sabuk pengaman. Tapi bokap tuh punya radar polisi yang super peka, udah kayak gaydar. Mungkin kita sebut namanya Poldar—sesuatu yang sangat dibutuhkan sama orang kulit hitam di Amerika sebenernya, biar mereka nggak mati dicekek polisi. Walau matanya minus, bokap bisa ngeliat, atau ngerasa, kalo ada polisi beberapa kilometer di depan, dan dia langsung pake sabuk pengaman. Jadi dia pake sabuk pengaman karena bukan karena takut kecelakaan, tapi karena takut aturan.

Gimana cara jelasin fenomena ini?

Jadi gini, ketika pembuat kebijakan sama masyarakat nggak nyambung, inilah yang terjadi. Kebijakan hukum itu kan sebenernya narasi, dan kelihatan banget bahwa hukum di Indonesia masih disosialisasikan dan dimengerti secara sederhana. Orang menaati hukum bukan karena merasa hukum itu buat kepentingan dia, tapi karena takut dihukum oleh penguasa. Di sini kita bisa melihat bahwa penguasa tidak mewakili rakyatnya.

Filsuf Prancis Michel Foucault pernah bicara soal Sovereignity dan Governmentality. Sovereignity, atau bahasa indonesianya kedaulatan adalah kekuasaan atas nama penguasa. Artinya semua hukum yang dibuat demi kepentingan mempertahankan kekuasaan. Ketika negara membunuh orang, kematian orang itu untuk kepentingan penguasa negara. Yah semacam petrus atau penculikan jaman orba lah. Sementara itu Governmentality, atau kepemerintahan—whatever bahasa indonesianya nggak ada—adalah penegakan hukum atas kepentingan bersama, atas nama rakyat. Jadi kalo ada pemberontak, atau gerakan separatis yang dibantai, misalnya, itu adalah demi kepentingan bersama, kepentingan NKRI, karena NKRI harga mati, nggak bisa ditawar, kayak di supermarket—neolib banget.

Nah di Indonesia ini kebanyakan orang masih bingung sebenernya. Karena kebanyakan orang nggak ngerti kenapa sebuah peraturan itu dibuat. Dan ini bisa sebagian aturan lho, sangat tergantung dari siapa yang mengkomunikasikan aturan itu, siapa yang mensosialisasikannya. Pemotor yang pake masker nggak pake helm, mungkin merasa, “ah gue cuma deket doang kok, cuma mau ke alfa, nggak lewat jalan gede” (alias nggak ada polisi yang akan nangkep dia). Padahal jalan kaki bisa sebenernya ka alfa, tapi males aja. Mending pake motor, bawa anak bini jalan-jalan, syukur-syukur selamet nggak ada bocah kaya mabok yang bawa mobil terus nabrak mereka—atau skenario apapun yang bikin mereka kecelakaan sampe kepalanya pada bocor dan otaknya berserakan di jalanan.

Gue rasa mereka ngerti kenapa disuruh pake helm. Kan dijitak masih sakit. Tapi mereka cuma nggak paham. Beda banget lho ngerti sama paham. Ngerti yaudah cuma ngehapal doang, tapi paham sifatnya lebih logika dan mental. Kalo dari kecil mereka emang diajarin berkelit, yah gedenya gitu, berkelit mulu. Yang bikin aturan tolol nggak bisa jelasin, penegak hukum biasanya ngumpet disemak-semak biar dapet jatah, warganya blangsak juga semacem ini. Cocok lah.

Tapi mungkin bisa juga orang-orang ini memang penganut monogami aturan keselamatan. Jadi kayak mereka nggak bisa mendua dalam protokol keselamatan dan kesehatan. Harus pilih salah satu, kalo nggak masker ya helm. Prioritas masker duluan karena lagi trend, biasa bini baru. Helm mah so yesterday. Jadi lebih baik mati kecelakaan tapi pake master, daripada mati corona tapi pake helm.

Tapi gue pikir milih antara helm atau masker lebih beradab dan punya otak sih, daripada di Amerika yang mana beberapa orang ngotot nggak pake masker dengan alasan bahwa mereka punya imunitaslah, bikin susah narik oksigen laah—yaiyalah, tapi kan bisa nafas juga, dan yang paling parah, banyak teori konspirasi soal satanisme dan pherofilia. Ancur sih. Seperti kata orang-orang dari video now this ini.

Ini adalah contoh demokrasi dalam keadaannya yang paling buruk dan tolol. Ini juga adalah sebab kenapa Sokrates dan Plato nggak suka banget sama demokrasi yang mungkin sekali memberikan suara untuk orang-orang tolol. Orang-orang yang menganggap bahwa opini bisa jadi fakta, orang-orang yang nggak paham bahwa fakta dan sains itu berubah-ubah bukan karena mereka opini, tapi karena data yang selalu disempurnakan. Dialektika bukan semata-mata argumentasi ide, tapi juga argumentasi data!

Kadang-kadang gue pikir, jangan-jangan demokrasi kita yang setengah-setengah ini lebih mateng daripada demokrasi Amerika, secara pemilihan presiden kita masih langsung dipilih rakyat—walau tentunya banyak kecurangan-kecurangan tapi cukup banyak mekanisme untuk menuntut. Plus oligarki kita masih malu-malu kucing, nggak sefrontal Amerika. Jadi dengan segala keluhan-keluhan, rasa malu-malu ketahuan kaya, ketahuan punya power, jadi lumayan nggak malu-maluin lah sebagai bangsa. Hahahahah.

Simpulannya gini: banyak orang punya masalah sama prioritas dalam dua ekstrim. Di Indonesia kita nggak biasa kritis; di Amerika mereka biasa kritis tapi dengan cara yang salah. Cara yang salah adalah berpikir bahwa argumen itu ditentukan sama opini dan bukan sama fakta. Kebenaran cuma satu kok: kebenaran factual. Dari kebenaran faktual itulah kita menentukan cara kita bertindak.

Jadi kita sih harus ditengah-tengah. Bingung memang, awalnya selalu bingung. Tapi manusia memang sudah semestinya jadi spesies yang bingung dan dari kebingungan kita bisa lebih bijak, karena setelah dipikirkan dengan baik, tindakan kita juga insyaallah lebih baiklah.

Lebih baik bukan berarti yang terbaik ya. Dan ga mesti juga bikin semua akan bener. Kita akan selalu salah tapi kita usahakan salah kita hari ini lebih sedikit dari salah kita kemarin.

Udah ah capek. Sampe ketemu di podcast esei nosa minggu depan.

Btw, kalo lo suka sama bahasan gue, bantuin gue PT-PT bayar website dong. Mahal gila ini wordpress. Kirim ke jenius $wonderguitar, atau hubungin gue di social media buat nyumbang dengan cara lain. BU nih corona. Heheheh.

See ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.