Memoir, Racauan

Blog ini adalah Pensieve

Dari dulu, kalau tulisan saya ke boost dan banyak orang mampir ke blog, saya langsung punya teman-teman baru dan haters baru. Waktu masih umur 20an, lumayan spanneng juga. Tapi semakin ke sini, to be honest, I don’t give a shit.

Pasca kritik film Selesai jadi polemik kemarin, kejadian itu terulang lagi. Seperti kejadian Ojol vs GO-JEK, atau Sitok Srengenge, tiba- tiba saya ngerasain jadi seleb selama beberapa hari. Lalu wartawan mulai datang, saya diwawancara ini-itu, dianggap ahli ini-itu. Padahal semua tulisan saya ya biasa dan kebiasaan saja. Karena kalau tidak nulis saya bisa gila.

Ketika trend turun, saya kembali dilupakan orang dan saya sangat bersyukur. Menulis buat saya adalah penyembuh, dan saya mau jaga itu. Sudah lama tidak ada tulisan pesanan, dan kalaupun ada saya sudah sibuk membuat film atau mengajar. Jadilah blog ini murni sebuah wadah pikiran, sebuah pensieve.

Paling nggak beberapa tahun terakhir saya bisa membuktikan kalau saya bisa menulis berbagai macam topik. Trending dari blog ini tidak pernah sama dan itu menyenangkan. Saya tidak perlu banyak pembaca, saya perlu banyak teman diskusi. Dan seringkali teman diskusi itu didapat bukan dari tulisan cemen saya soal Film Selesai, misalnya. Tapi dari tulisan yang susah-susah dan bikin orang puyeng jungkir balik. Misalnya tulisan soal Phronemophobia Indonesia, yang membuat persahabatan saya dengan Edo Wulia, Direktur Festival Film Pendek Internasional Minikino, jadi lebih dekat.

Saya menulis di sini tanpa misi apapun selain berbagi. Tidak seperti mengajar atau syuting yang tuntutannya, saya berharap ada diskusi saja dari sini. Jadi saya bisa lebih cuek dalam memilih lawan bicara. Mereka yang tolol dan baca tulisan saya biasanya marah dan bingung, ngajak ribut di sosmed, dan saya akan minta maaf.

Maaf kamu tolol dan menderita. Tulisan saya bukan untukmu.

Sisanya yang bisa ngobrol lebih enak, saya jadikan teman. Dr. Tompi, misalnya, juga sudah biasa dihujat orang. Walhasil bicara dengan dia jadi menyenangkan. Walau say tetap bilang filmnya jelek, itu urusan saya lah. Salah satu data yang dia tampung aja. Tapi saya nggak mau seperti dia, urusan saya masih banyak yang butuh ketidakterkenalan. Hidup saya maunya sederhana, nulis dan ngajar dan syuting, dan musik. Semua menyenangkan. Sisanya cuma numpang lewat, betapapun beratnya.

Bahkan cinta saja tidak relevan jika mengganggu pekerjaan dan keluarga saya. Makanya saya lumayan bersyukur ada cinta yang searahtujuan. Sampai nanti kita berpisah, perjalanan kita nikmati bersama. Nggak muluk-muluk.

Maka di sini menulis jadi kunci eksistensial saya. Mencintai, membenci, dicintai, dibenci, menderita, bahagia, tak ada yang nyata kalau tidak dibagi. Cara membagi yang paling mudah ya dengan menulis, yang lebih susah, berkarya. Apapun itu, sesedikit apapun yang menonton/membaca, semua ada gunanya minimal ke diri sendiri. Saya tutup tulisan ini dengan sebuah lagu berjudul lagu berbagi.

Terima kasih sudah membaca dan kalau kamu suka yang kamu baca, boleh traktir saya kopi biar ekstensi website ini tetap dot com, sehingga kalian enak membacanya. Dan saya senang kalo ada yang traktir karena artinya saya nggak sendirian di jalan sepi ini. Klik di sini ya kalau mau ngasih suplemeb kafein. Selamat menikmati lagunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.