Filsafat, Memoir, Racauan

Mimpi Kapital adalah Mimpi Orang Dangkal

Tanyakan pada anak-anak baru yang masuk kuliah, kenapa mereka memilih sebuah jurusan? Jawabannya beragam dan kebanyakan hanya menebak-nebak mau jadi apa. Almarhum bapak saya menyuruh saya untuk kuliah di ekonomi biar bisa korupsi biar kaya. Yah, sekolah bisnis dan ekonomi biasanya tujuannya itu, biar kaya. Walau kalau kuliahnya benar, si ekonom akan sadar bahwa ia harus kaya dengan mengubah peradaban. Sedikit orang yang masuk fakultas sastra atau fakultas lain yang sifatnya akademis yang mau kaya. Paling cuma salah seorang murid saya, yang pernah wawancara untuk masuk sekolah film dan bilang pengen kaya.

Photo by Pixabay on Pexels.com

Tapi ini fakta yang saya temukan: cuma orang yang pernah miskin, yang biasanya bilang pengen kaya. Jika ada anak orang kaya yang pengen kaya, biasanya mentalnya miskin sehingga dia selalu lihat yang lebih kaya dari dia. Seperti murid saya itu, atau salah seorang saudara saya yang sedikit-sedikit ngomong duit dan harta padahal dari kecil sudah kaya. Kebanyakan orang yang hidupnya lumayan berkecukupan, tidak pengen kaya. Dalam diagram klasik Maslow, kebutuhan orang yang berkecukupan selanjutnya adalah aktualisasi diri. Karena itu banyak anak-anak di MondiBlanc, biasanya kelas menengah yang pengen aktualisasi diri lewat film.

Orang yang bisa berpikir bebas dan suka menantang dirinya sendiri untuk menikmati hidup sepenuhnya, cuma ingin independensi finansial, karena ia ingin berkarya, berkontribusi, atau sederhana merasakan semua sensasi hidup sebelum ia mati. Dan kebanyakan milenial yang saya kenal, ya, maunya ini. Mereka tidak mau banting tulang kerja untuk sesuatu yang mereka tidak suka. Tapi dengan motivasi untuk mendapatkan aktualisasi diri, mereka mau kerja apa saja. Misalnya, untuk mencari dana membuat film mereka, maka mereka mau kerja keras untuk menyatukan modal membuat film mereka.

Ada sebuah drive kuat untuk membentuk identitas diri dan memiiki impact ke identitas orang lain. orang-orang ini, yang saya sebut the misfits, adalah orang-orang saya. Mereka pekerja keras, jago cari duit, tapi menolak buat kaya dengan sederhana. Karena independensi finansial hanya bisa didapat jika kita berada “diantara.” Diantara kerja dan idealisme. Jika orang hanya ingin kaya, maka definisi suksesnya sempit dan sekaya-kayanya dia, selamanya dia tidak akan independen. Karena kalau sudah kaya, lalu dia mau apa? Lebih kaya lagi? Kapan kita mau ke luar angkasa, kalau begitu? Luar angkasa saja imajinasi yang mereka yang cuma pengen kaya untuk kaya, nggak terbayang kecuali sebagai lliburan yang merka bisa beli ketika Space X sudah buka servisnya nanti.

Photo by Pixabay on Pexels.com

Kekayaan itu penting. Tapi kalau kekayaan hanya untuk memperkaya diri dan keluarga, bukan untuk mengubah peradaban, maka akan ada yang hilang dalam hidup. Hidup hanya akan jadi banal dengan gairah kuasa dan eksploitasi. Mereka akan jadi musuh-musuh perdababan, karena tak ada yang bisa hadir dari keegoisan, kecuali kehancuran dan tragedi. Maka mari kita jadi kaya dengan tujuan yang murni. Tujuan yang besar dan jauh, dan mungkin ketika kita mati kaya, itu juga belum tercapai.

Masalah besar jika kita tidak cukup kreatif untuk membuat sebuah tujuan. Ya tujuan itu dibuat, diciptakan, bukan dicari. Tujuan bisa juga didapat dengan mendukung tujuan orang lain, atau mencuri tujuan orang lain yang tidak tercapai. Dan pastikan, untuk mencapai tujuan itu, kita mesti pelan-pelan kaya. Karena kaya yang ideal adalah kaya karena kita benar-benar berguna untuk peradaban. Itu lah kaya yang pantas. Bukan kaya karena warisan, atau kaya karena ingin kaya untuk jadi lebih kaya. Jadilah kaya karena tidak ada cara lain untuk mencapai tujuan mulia mu, selain dengan menjadi kaya.

Tapi mimpi kapital menawarkanmu jalan untuk keluar dari masalah kehidupan sehari-hari, Anakmu butuh susu, keluarga butuh makan. Dan kerja apapun mau kau jalankan supaya dapat uang. Sayapun pernah kerja apapun untuk dapat uang. Dari badut di mal, sampai pedagang keliling. Tapi itu cuma supaya saya punya cukup uang untuk membiayai tanggungan dan punya waktu untuk terus belajar dan mencipta. Dan ketika mencipta membuat saya jadi miskin, yah saya cari uang lagi, supaya bisa mencipta lagi. Kenapa mencipta? Untuk mengubah peradaban. Karena semua orang berakal tahu, peradaban kita lebih baik dari 50 tahun yang lalu, tapi tak pernah jadi baik. Selalu ada masalah dan ketimpangan, yang saya kira bisa kita pecahkan hari ini jika kita mau usaha dan tidak terlalu fokus pada cari uang buat hidup. Cari uang secukupnya, lalu kembali ke pekerjaan penting kita. Untuk membuat dunia dan kehidupan lebih baik untuk kita sendiri dan orang-orang setelah kita. Semakin besar lingkaran pengaruh kita dalam mengubah dunia jadi lebih baik lagi, semakin kita kaya. Itu sudah DIJAMIN dan sepasti gravitasi.

Photo by Ivan Bertolazzi on Pexels.com

Tujuan saya hari ini, adalah mengubah sistem pendidikan, mencerdaskan orang lain, dan mengembangkan kebudayaan dan kesejahteraan orang dengan cara berpikir yang konstruktif. Banyak pekerjaan yang harus kita lakukan untuk membuat rumah kita, wilayah kita dan negara kita jadi ideal buat anak cucu. Dan jadi kaya cuma alat buat bikin masa depan dimana manusia bisa cukup maju untuk menjawab segala tantangan yang akan datang. Kaya harus pintar dan bertanggung jawab. Kaya dan bodoh adalah kombinasi buruk, yang harus kita musuhi bersama-sama karena imbasnya bisa kemana-mana, seperti seorang presiden yang suka mandi kencing perempuan Rusia dan sangat misoginis itu.

Bicara soal pendidikan, selain membuat workshop berbasis beasiswa, saya juga sedang dalam proses membuat beberapa modul yang ingin saya distribusikan dengan gratis dan terbuka sumbangan untuk mendukung sustainability penelitian praktis saya. Modul-modul tersebut ada yang berisi cara financing dan pengembangan karir lewat film pendek, atau cara membaca cepat, menulis akurat, dan mengembangkan ide menjadi sebuah project nyata.

Dan semua saya mulai dengan sebuah niat baik. Kalau saya harus kaya saya tidak akan mengikuti mimpi kapital. Karena semua kebahagiaan, tidak ada artinya, kalau tidak dibagi. Tulisan ini akan saya tutup dengan lagu saya, untuk mengingatkan kalian butk apa kita hidup di dunia ini. Orang memang beda-beda, terserah. Tapi saya mencari orang yang setuju sama saya, kalau hidup itu adalah proses mengumpulkan dan berbagi pengalaman, sehingga ketika kita mati nanti, ada bagian dari kita yang hidup terus, menopang perdaban samapai kiamat.


Website ini jalan dengan donasi. Jika kalian setuju dengan pemikiran saya, dan mau bantu saya mewujudkan project-project ini, bantu saya biar sedikit lebih kaya dengan membelikan saya kopi. Klik tombol di bawah ini. Sementara itu, yang mau kaya dengan ideal, ajak saya ngopi beneran, kita bisa ngobrol untuk kolaborasi project.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.