Filsafat, Meditasi Tulis, Racauan

Cogito Ergo Tutus Sum

Mungkin selamanya aku akan dikutuk untuk menjadi sendirian di alam pikiranku. Tempat teraman, menurut Plato hingga Sartre, untuk menjadi bebas sebebas-bebasnya. Dengan atau tanpa konsep, alam pikiran menawarkan lapisan-lapisan kesadaran, yang pada batas tertentu, menghilangkan hubungan dengan dunia nyata sama sekali. Itulah alam tidak sadar, yang hadir sebagai mekanisme ketika penderitaan hidup dan dunia fisik, tidak lagi terperi.

Untuk mencapai tingkatan itu, jika di luar pilihan kita, disebut pingsan atau koma. Koma, tidak mati (titik), hanya bersambung. Jika kita bisa mengaksesnya dengan pilihan, berarti kita berhasil mencapai tahap meditasi yang tinggi. Seperti biksu Tibet yang membakar diri sambil meditasi untuk menunjukkan protesnya, hingga fisiknya mati terbakar.

Alam bawah sadar yang diakses dengan pilihan, bukan berarti rasa sakitnya hilang. Justru sebaliknya, rasa sakitnya diterima, bisingnya dunia, semua tekanan, diterima tapi reaksi terhadap semua itu hanya ritme nafas. Fokus yang tinggi hingga bisa memperlambat nafas, denyut jantung, hingga peredaran darah, seperti orang koma/mati suri.

Pendekatan lain adalah pendekatan meditasi dicampur kreatifitas abstrak, dan hiperfokus. Subjek membuat sebuah dunia atau istana yang sangat kompleks di dalam pikirannya, hingga ia tidak butuh lagi kenyataan. Dalam banyak kasus, kondisi ini tidak terkontrol dan menyebabkan subjek menjadi katatonik. Dalam kasus lain, yang terkontrol, subjek biasanya akan kecanduan dan mencari cara untuk meng-enhance pengalamannya, dengan campuran zat kimia, misalnya.

Apapun caranya, dunia di dalam pikiran itulah dunia spirit, dunia abstrak, arwah, Tuhan, Setan atau sang tiada bersemayam. Manusia berusaha mencapai dengan ibadah, narkoba, meditasi, atau bunuh diri. Dunia narsistik yang menawarkan kebebasan tanpa batas yang pada hakikatnya juga tetap terbatas oleh referensi, pengalaman, dan ingatan genetik.

Tapi ada banyak teori lain yang masuk akal, khususnya soal bagaimana kenyataan sebenarnya juga bagian dari alam pikiran dan bukan sebaliknya. Bayangkan jika seandainya pikiran kitalah, secara kolektif yang membuat kenyataan. Bahwa ketika orang lain jahat, dia adalah bagian dari diri kita. Bahwa bencana alam, perang, wabah adalah bagian dari diri kita. Jika ini benar, maka tak ada tempat kabur, kecuali kita bisa mengontrol penuh pikiran kita.

Dan pada tahap paling tinggi, mengontrol pikiran bisa berarti mengontrol dunia fisik. Dari mulai nafas, ke denyut nadi, ke hipnosis diri, hipnosis orang lain, hipnosis massal, persuasi, agitasi, revolusi….

Ah, sudah lah. Lelah berpikir besar. Mari masuk ke dalam diri saja. Mikrokosmos. Atur nafas. Pejamkan mata. Terima semua kekacauan. Biarkan berlalu. Biarkan berlalu. Biarkan berlalu.


Terima kasih telah membaca sampai habis. Website ini jalan dengan sumbangan, iklannya tak menghasilkan, dengan lisensi Creative Commons, Atribution, Non commercial. Kamu boleh pakai konten ini selama memberikan link sumber dan bukan untuk tujuan komersial. Kalau kamu suka dengan yang kamu baca, silahkan traktir saya kopi murah.

Memoir, Politik, Racauan

17+8+Nadiem

Saat sudah muak melihat sosial media, sudah lelah membaca dan bekerja, sudah capek berdebat, mungkin ini saatnya menulis racauan. Halo kawan-kawan pembaca yang budiman semoga tidak sujatmiko. Karena integritas adalah hal yang paling kita butuhkan hari-hari ini.

Kita bisa lihat tuntutan 17+8 tidak berjalan dengan baik tanggapannya. Waktu ini ditulis, baru 3 tuntutan yang ditanggapi dengan tindakan. Tak ada maaf dari presiden karena ia merasa tidak salah informasi atau salah mengangkat orang atau salah kebijakan.

Lalu Nadiem Makarim ditangkap korupsi–yang saya yakin seperti Tom Lembong, tidak mengandung mens rea. Di Thread saya diajak ribut beberapa guru atau orang tua murid yang benci sekali sama mas Nadiem dari mulai soal penghapusan UN, hingga soal zonasi.

Saya sih paham mas menteri kemarin itu maunya apa, dan saya bias sih mendukung beliau, karena saya pendidik yang pendidikannya tinggi, sudah belajar critical pedagogy, dan pernah ngajar di sekolah-sekolah mahal. Tentunya jadi debat kusir ketika bicara dengan guru entah dari mana yang bilang “Gadget tidak ada hubungan dengan kurikulum,” atau “tanpa kompetisi murid tidak bisa pintar, kurang motivasi.”

Ini orang-orang yang salah paham dan terbawa doktrin pendidikan orde baru. Tapi saya malas ribut, maka di sini saja, di website saya sendiri saya akan jelaskan.

Pertama soal UN. Saya pernah dapat project bikin UN waktu kuliah. Waktu kuliah, guys! Belum lulus! Disuruh bikin soal UN dengan goreng-goreng sal tryout gitu. Dibayar 5 juta, dan nama saya tidak masuk ke tim penulisan juga (yang isinya Drs, Dr, prof) whatever. Gak saya ambil kok. Bau pesing. Terus saya ingat polemik menteri waktu itu bahkan bikin standard UN karena dapet bisikan waktu Umroh apa. Ghokil.

Selain itu soal kompetisi. Ujian itu harusnya bahan assesmen guru dan sekolahnya, untuk mengetes kemampuan pendidik, bukan kemampuan peserta didik! Kalau siswa nilainya jatuh, atau tidak lulus, siswa itu harus jadi pusat perhatian untum diteliti, dicari cara ajarnya biar lulus, dan dievaluasi cara mendidiknya, biar bisa diperbaiki terus sistem pendidikannya. Bukan malah marah-marah ketika muridnya bodoh, bodoh!

Ini juga menyangkut zonasi. Dulu ada sekolah unggulan, sekolah rendahan, buat apa itu? Kompetisi lagi? Bangga-banggaan anak masuk negeri atau swasta? Tambah gagal dong, sistem kayak gitu mempermalukan sekolahnya. Kalau anaknya masuknya pintar keluarnya pintar, lalu apa kerjaan sekolah? Harusnya masuknya bodoh keluarnya pintar. Masuknya pintar keluarnya bijaksana.

Terus ada yang mengeluh, “Murid saya kelas 1 SMP belom bisa baca. Kok bisa masuk SMP?”

Saya tanya, bisa pake gadget nggak? Dia jawab bisa. Lah bisa baca dong! Terus dia bilang ada bapak-bapak tetangganya bodoh tapi bisa pake HP. Iya bisa baca dong pak gurru!!!

Mungkin depan bapak aja malas ketahuan bisa baca nanti dikasih PR. Haha.

Dia nanya, “Apa hubungannya Gadget dengan kurikulum?”

Bapak guru, gadget itu guru mutakhir, lebih canggih dari bapak. Karena dia punya UI/UX yang ngajarin orang make gadget tanpa frontal diajarin gadget. User Interface artinya tampilannya menarik. User experience artinya pengalamannya asik. Dua-duanya syarat ngajar yang penting. Mungkin bapak UI/UX nya masih sistem DOS atau windows 3.11. Keren pada jamannya.

Lagian bikin kurikulum dan LMS sekarang kan udah pake gadget semua pak. Ampun! Saya ini yang salah. Saya bias.

Banyak guru seperti bapak itu, banyak murid yang akan jadi bodoh karena Nadiem Makarim berusaha bongkar-bongkar sistemnya yang sudah lama sekali bobrok. Ya buat saya, Nadiem adalah awal untuk membuka satu persatu masalah pendidikan kita. Bahwa masalah itu ada dan harus kita tanggulangi.

Ah, jadi panjang racauan ini. Tapi sudah lah. Minimal saya jadi tak usah balas thread saya yang sedang viral itu. Bangsat lah.

Ini silahkan kalau mau cek sendiri polemiknya. Sa mau tidur saja.

Thread:

Menurut gue sebagai pendidik dan yang pernah tahu bagaimana cara kementrian sebelom mas Nadiem bikin Ujian Nasional (pake wangsit anjir), Nadiem Makarim adalah salah satu menteri pendidikan terkeren sepanjang sejarah negeri ini.

Kementrian pendidikan separah itu selama ini, maka harus banget diobok-obok. Di jaman Nadiem jauh lebih jelas permasalahan dan usahanya untuk mengejar ketinggalan.
                

Link thread ribut.

Filsafat, jurnalistik, Kurasi/Kritik, Memoir, Politik, Racauan

Gerakan Sosial Indonesia: Dari Tritura ke Era Algoritma

Sejarah Indonesia setelah 1945 bisa dibaca bukan hanya sebagai sejarah negara, tetapi sebagai sejarah rakyat yang berulang kali mengguncang fondasi kekuasaan. Gerakan sosial besar pasca-kemerdekaan selalu lahir dari pertemuan antara aktor, ideologi, medium, dan kebudayaan. Dari pamflet dan spanduk hingga hashtag dan AI generatif, cara rakyat berorganisasi terus berevolusi.

Yang berubah adalah bahasa zamannya. Yang tetap sama adalah kerentanan negara menghadapi energi sosial yang tak bisa dipetakan.


1950–1965: Era Kaum Ideologi

Indonesia muda diisi oleh partai-partai besar yang menguasai ruang publik: PKI dengan Lekra-nya, PNI dengan nasionalisme Sukarnois, serta HMI dan NU dengan Islam politik. Mahasiswa adalah aktor penting, menjadi perantara antara elite partai dan masyarakat kota.

Medium utama gerakan adalah pamflet, koran partai, dan radio. Imajinasi kolektif dibentuk lewat sastra realisme sosialis, lagu rakyat, dan retorika revolusi. Pada masa ini, ideologi diperlakukan seperti algoritma manual: diyakini bisa memetakan jalan revolusi dengan pasti.


1966: Tritura dan Gerakan Moral Mahasiswa

Ketika inflasi melambung dan kepercayaan publik pada Sukarno runtuh, mahasiswa kota tampil dengan Tri Tuntutan Rakyat: bubarkan PKI, rombak kabinet Dwikora, turunkan harga.

Gerakan ini sederhana, moralistik, dan mudah ditangkap. Tiga tuntutan yang mereduksi kompleksitas bangsa menjadi format yang ringkas—sebuah bentuk awal “datafikasi politik.” Mahasiswa menjadi wajah moral bangsa, meskipun hasil akhirnya adalah naiknya Orde Baru yang kemudian membungkam mereka sendiri.


1998: Reformasi

Tiga dekade kemudian, krisis moneter menghancurkan legitimasi Orde Baru. Mahasiswa kembali jadi aktor utama, tetapi kali ini mereka tak sendirian. Buruh, LSM, jurnalis, dan jaringan internasional ikut menopang.

Mediumnya berubah: bulletin fotokopian, radio kampus, telepon rumah, hingga televisi swasta yang menyiarkan mahasiswa menduduki gedung DPR. Budayanya pun bergeser: jeans belel, musik indie, forum kos-kosan. Ideologi tak lagi dominan; tuntutan lebih pragmatis: demokratisasi, anti-KKN, dan mundurnya Soeharto.

Hasilnya jelas: rezim jatuh. Namun oligarki lama tetap berakar, hanya berganti wajah dalam demokrasi liberal.


2019–2020: Reformasi Dikorupsi & Omnibus Law

Dua dekade setelah Reformasi, generasi baru turun ke jalan. Isunya: RUU bermasalah, pelemahan KPK, dan Omnibus Law.

Aktor kali ini adalah mahasiswa, aktivis digital, dan influencer. Mediumnya: Twitter, Instagram, meme, livestream. Budayanya: kopi susu literan, totebag, sneakers, ilustrasi digital. Gerakan ini bersifat interseksional—menggabungkan feminisme, lingkungan, anti-oligarki, dan hak minoritas.

Namun, fragmentasi isu membuat tuntutan sulit dipadukan. Negara beradaptasi dengan cara baru: buzzer, framing media, dan UU ITE. Solidaritas lahir, tapi algoritma platform ikut menentukan siapa yang viral dan siapa yang tenggelam.


2025: Gerakan Algoritmik

Hari ini, protes kembali mengguncang. Dipicu oleh isu tunjangan DPR yang dianggap berlebihan, dan tragedi Affan Kurniawan—pengemudi ojek yang meninggal tertabrak kendaraan taktis polisi.

Aktor gerakan meluas: mahasiswa, pekerja kreatif, sopir ojek online, ibu-ibu pengguna WhatsApp. Simbolisme organik muncul: palet warna hijau–pink, hijab pink Bu Ana, angka “17+8” sebagai mnemonic tuntutan. Estetika digital menjadi bahasa solidaritas.

Di sisi lain, negara pun tidak tinggal diam. Dari PAM Swakarsa kini bertransformasi menjadi buzzer, influencer sewaan, hingga cyber troops dengan analisis sentimen otomatis. AI bukan lagi sekadar alat, tapi aktor politik.

Di pihak gerakan: AI dipakai untuk membuat poster, infografik, voice-over, dan strategi kampanye.

Di pihak negara: AI dipakai untuk pengawasan, disinformasi, dan framing digital.


Arena politik bukan lagi sekadar jalan raya, tetapi server dan model AI yang saling berkompetisi.



Kesimpulan: Dari Ideologi ke Algoritma

Jika ditarik garis panjang, gerakan sosial Indonesia berevolusi:

1950–1965: ideologi sebagai algoritma manual.

1966: moralitas mahasiswa dengan tuntutan sederhana.

1998: pragmatisme kolektif menjatuhkan rezim.

2019–2020: estetika digital, solidaritas algoritmik.

2025: AI sebagai aktor baru, mengubah format tuntutan dan cara represi.


Negara tetap konsisten dengan satu hal: represi, propaganda, dan adaptasi setengah hati. Rakyat pun tetap konsisten dengan satu hal: menemukan bahasa zamannya untuk menuntut perubahan.

Hari ini, bahasa itu adalah algoritma dan AI. Bukan lagi Tritura, bukan lagi bulletin fotokopian, tetapi perang antar-narasi yang dipercepat mesin.

Dan pola paling logis dari semua ini bukan revolusi instan, melainkan tekanan berulang yang menghasilkan koreksi kelembagaan. Demokrasi Indonesia akan dipaksa menyesuaikan diri, bukan oleh satu manifesto tunggal, tapi oleh jutaan sinyal, hashtag, dan citra digital yang dikurasi algoritma—dan kini, ikut ditulis oleh AI.

Memoir, Perlawanan, Politik, Puisi

Selamat

Selamat untuk yang naik gaji,
Yang dapat bintang penghargaan,
Yang bebas dari pidana korupsi,

Selamat untuk yang bangga
Pada angka Makan Beracun Gratis
Dan pencapaian bohongan
Dari kabinet bagi-bagi kue

Selamat untuk keluarga dinasti
Yang naik jet pribadi
Yang mengakali konsitusi

Selamat untuk para orang dalam
Yang aman setelah merusak alam
Yang dapat jatah kue, kursi dan saham

Selamat untuk anggota yang berhasil
Diamankan untuk disidang
Lalu mendekam sebentar
Untuk naik pangkat ketika keluar nanti.

Selamat menikmati uang pajak kami
Selamat menikmati penderitaan kami

Foto oleh CNN Indonesia



Selamat tinggal akal sehat,
Selamat tinggal demokrasi,
Dan..

Selamat tinggal Affan Kurniawan,
Dan kawan-kawan lain
Yang ditindas dan dilindas
di hari Kamisan.

Selamat datang hari berapi
Hari ini kita berjuang lagi

Selamat berduka cita.

***

Feature image oleh @luthfihinelo