Film, Filsafat, Kurasi/Kritik, Racauan

Oscar dan Politik Festival Film

Dalam Oscar, gue selalu melihat sebuah performance. Oscar sendiri sebagai sebuah festival, buat gue bukan sebuah kompetisi atau sebuah perayaan macem-macem  tapi itu adalah sebuah performance politik.

Oscar dari awal tahun 70’an ketika Marlon Brando menolak untuk dapat Oscar karna dia mau protes sama semua film koboi yang  memarginalkan  orang-orang native American, udah political banget tuh. Marlon gak mau dateng, dia mengirim seorang putri kepala suku di Amerika dan menerima Oscar buat dia, tapi di saat yang sama juga dia ngomong bahwa selama ini Hollywood telah melecehkan Native Amerika yang disebut “indian-indian” ini dan mereka ingin menghentikan film-film koboi dengan indian-indian film Amerika yang menjadi penjahat.

Ini impactful banget, dan setiap tahun ada aja Oscar caranya untuk bikin sebuah wacana jadi naik. Kaya kemenangan film Moonlight berkaitan dengan racial discrimination, lalu kemenangan-kemenangan lain-lain film-film perempuan waktu jaman #metoo, lalu kemenangan film Asia jadi reaksi terhadap penembakan orang-orang asia di Amerika. Kemarin juga kita lihat juga Will Smith nampol Chris Rock dan di highlight sebagai sebuah performance yang notable.

Adegan ini buat gue statement tentang penyakit Alopecia Jada Pinkett Smith yang membuat rambutnya rontok dan harus digunduli. Ini juga kayak tamparan literal bahwa juga bahwa jokes itu ga bebas gitu. Lo boleh ngejoke sesuatu di dalam sebuah ruang yang aman; tapi Oscar jelas bukan ruang aman kayak di comedy club. Ricky Gervais juga beberapa kali bikin jokesnya depan orangnya langsung di Golden Globe, tapi kalo udah soal penyakit atau disabilitas itu udah keterlaluan, kecuali kalo lo ambil balik apa yang bisa dikatain ke elo gitu tapi ini kan enggak. Ini main power kan? Ketika Rock sudah ngata-ngatain Jada sementara dia sendiri aja ga sakit, di situlah pukulannya Will Smith bisa jadi sebuah performance yang sangat fenomenal untuk ngasih statement bahwa “Nggak! lo ga bisa nge jokes kaya gitu”.

Will Smith mempertaruhkan karirnya untuk aksinya itu. Dia mundur dari Oscar dan melepas hak suara atau kehadiran di event-event selanjutnya. Ketika tulisan ini dibuat, Smith sedang menunggu apakah piala yang ia raih sebagai best actor untuk film King Richard akan dianulir juga—tapi nampaknya tidak karena Chris Rock juga tidak menuntut. Terlepas dari sengaja atau tidak, insiden ini tercatat dalam sejarah Oscar, memperkuat stereotipe orang kulit hitam di Amerika, dan berdampak buruk terhadap karir.

Di Oscar juga masih banyak hal lain  sih yang bisa jadi highlight, Samuel Jackson menang pertama kalinya dengan Honorary Oscar award. Itu orang berapa tahun bikin film ga menang-menang,  jadi kalo gue bilang selama ini kan kita kali ngomong “Leonardo Dicaprio kenapa gak menang menang atau Johny Depp ga menang menang?” Men, mereka tuh cowo -cowo yang keren kulit putih dengan privilege-privilege gitu, kenapa kita ga pernah kepikiran ya? Kenapa Samuel L. Jackson ga pernah menang gitu ya? Apakah mungkin karena penampilanya yang begitu-begitu aja? Tapi gua rasa juga enggak. Misalnya, buat gue A Time To Kill tuh salah satu penampilannya Samuel L. Jackson yang paling keren, gila banget tuh dia di situ  tuh mainnya. Walau nggak ada yang ngalahin trademark Mother Fucker dia… paling yang bisa ngalahin Al Pacino dengan “fuck fuck fuck” nya.

Jadi intinya dari Oscar kita bisa lihat bahwa festival film itu punya politiknya sendiri. Nah sama dimana-mana juga. Ada dua macam politik festival menurut gue. Pertama, festival yang dari awal dibentuk sebagai gerakan politik. Misalnya Clermont-Ferrand di Prancis. Festival itu dibuat dari awal untuk gerakan mahasiswa dan kebebasan ekspresi melawan rezim.

Festival Film Indonesia buat gue juga sama. Karena Indonesia sendiri negara hasil traktat politik, otomatis FFI juga punya kepentingan politik identitas. FFI dimulai dari jaman  Soekarno tapi  platformnya juga pelan-pelan berubah karena dia ngikutin politik luar negeri. Pernah sih FFI pro sama yang ‘Indonesia banget’, tapi ya hasilnya, dapetnya Aa Gatot. Dan itu sangat buruk buat Festival Film utama negara kita ini. Buat gue film di Indonesia itu  tentang hanya bisa maju dengan investasi luar negeri dan bersaing dalam industri film global.

Tapi ada juga festival film yang nggak politis dari awal, yang memang dibuat untuk ngumpul-ngumpul karena suka tongkrongan suka nonton film dan lama-lama jadi festival. Kalo mereka ga bubar-bubar, mereka akan punya struktur sendiri dan beregenarasi.

Jadi ketika lo memilih sebuah festival film, pastikan aja dia sudah bertahan cukup lama melewati banyak perubahan sosial politik. Kalo cuma setahun terus bubar dan nggak regenerasi ya dia gagal. Oscar pun sama ngikutin politik Amerika. Cuma ya ujung-ujungnya ada prinsip dasar yang dia pengen capai jadi film yang menang nggak semata-mata karena bagus tapi juga harus memperhitungkan sekuat apa endorsement Oscar terhadap film untuk bisa mengubah persepsi orang tentang kebudayaan gitu.

Jadi intinya kalo kita ngomongin Festival film ada yang politis ada yang organik awalnya, tapi setelah tahun ke 5 dia akan jadi sangat politis. Artinya dia punya sebentuk endorse dalam film yang dimenangkan.  Masing-masing punya sendiri-sendiri ada yang LGBT, ada yang fokusnya ke  gender, ada yang fokus ke horor, ada yang fokusnya ke komunitas, ada juga yang fokusnya ke pasar dan industri tapi industri juga harus ngikutin apa yang lagi ngetrend.

Sayangnya di Indonesia, festival film belom segitunya politiknya. Kayak, FFI menangin Penyalin Cahaya untuk mengendorse isu kekerasan seksual, harus kecewa ketika salah satu penulisnya kejebak kasus kekerasan seksual. Semua harus dibangun dan menjadi politis adalah hal penting buat sebuah festival, biar film jadi punya kegunaan yang jelas: mengubah peradaban!

Filsafat, Politik, Racauan

Anak Sastra Harusnya Jadi Apa?

Di Fakultas Sastra/ilmu Budaya kita diajarkan prosa, puisi, drama, film, kritik, dan linguistik. Tapi kita gak diajarin hal terpenting: bahwa cerita adalah syarat untuk jadi manusia. Bahwasannya binatang yang punya akal bukan cuma manusia, tapi cuma manusia yang punya cerita dan tugas anak Sastra adalah mengerti cerita-cerita yang dibangun manusia.

FIB terjemahannya adalah Faculty of Humanity, ini aja udah ngaco, karena masa padanan kata budaya adalah humanity? Culture kemana culture? Culture adalah satu cerita saja. Gimana dengan cerita-cerita yang lain? Cerita ekonomi, bisnis, politik, kimia, biologi. Tidakkah sastrawan tugasnya menulis cerita-cerita asing untuk bisa menghubungkan manusia-manusia.

Dalam buku Sapiens, Harari bilang bahwa manusia bisa kerjasama karena cerita-cerita besar: agama, kapitalisme, ideologi, negara, perusahaan, itu semua naratif dan cerita, bentuknya abstrak.

Dan cuma manusia spesies yang bisa percaya pada cerita, kerjasama atau perang karena cerita, dan mati karena cerita. Spesies lain gak ada yang bisa gitu.

Pertanyaan gue jadinya, kenapa di FIB, ini gak diajarin sebagai dasar keilmuan gue dalam membuat peradaban? Padahal kerjaan gue sehari-hari, ya, bikin cerita. FIB ga ngajarin grand naratif kayak kritik kapitalisme. Definisi sastra jadi sempit banget. Gue dapet itu di FISIP & FISIP ga bilang itu cerita. Yang harusnya dipelajari FIB dari FISIP adalah: anak Sastra harus dapet penelitian lapangan! Kembalikan minimal matkul metodologi etnografi ke FIB.

FIB kayaknya takut ngomong kayak Rocky Gerung kalo agama, seperti semua institusi lain ya cuma cerita. Sapiens udah sangat bebal dengan itu semua, bahwa literally, kita hidup dalam sebuah cerita. Hell, gojek aja sekarang fiksi dalam surat legal dan kertas saham. Akhirnya anak Sastra banyak yang jadi pramugari, orang bank, apapun itu tanpa sadar kalo kantor mereka yang hidupi adalah fiksi yang dipercaya bareng-bareng, ampe pada depresi gara-gara kantor. Semua terlalu serius hidup dalam cerita.

Well, sekarang karena udah tahu, harusnya jadi punya pegangan kenyataan: kesehatan itu kenyatan, kematian itu kenyataan, makan, minum, berak, prokreasi itu kenyataan. Sisanya… Cuma cerita. Sans bae.

Dan anak Sastra/FIB harus bilang ini kalo ditanya kenapa kuliah di sastra: karena ilmu ini potensi kerjaannya adalah membuat peradaban, kehidupan. Dan cara lulusnya nggak cuma abstraksi doang, tapi juga melihat dengan jelas, cerita-cerita itu dipake buat apa di dunia nyata. Sastra adalah ilmu menciptakan… Termasuk menciptakan Tuhan, setan, atau ketiadaan. Serem kan.


Terima kasih sudah membaca sampe habis. Kalau kamu suka apa yang kamu baca, jangan lupa traktir saya kopi biar semangat menulis terus, dan saya jadi tahu bahwa ada yang membaca dan menghargai tulisan saya.

Ethnography, Filsafat, Politik, Racauan

Bisakah Menerima Bahwa Kita Tidak Punya Kehendak Bebas?

Sebuah artikel tahun 2016 di The Atlantic bicara soal perdebatan apakah Free Will (Kehendak Bebas) masih relevan ketika kita tahu banyak fakta bahwa kehendak kita dikendalikan neuron-neuron di otak dan bisa dimanipulasi dan diprediksi dengan sains, dan semua tergantung juga dengan genetika kita. Perilaku manusia bisa diprediksi seperti perilaku babon atau simpanse. Dengan semua teknologi analisa terbaru ini, manusia jadi nggak hebat-hebat amat sebagai bahan objek penelitian.

Perdebatan ini sebenarnya sudah dimulai ketika Darwin menerbitkan The Origin of Species, yang membuat kesadaran saintifik bahwa manusia sapiens adalah binatang dengan evolusi pre-frontal cortex, membuat kita tidak hanya mampu berpikir tapi juga mampu membuat cerita. Dan cerita-cerita tentang agama, negara, korporasi, membuat kita mampu berkolaborasi, berperang dengan strategi, dan membuat peradaban. Ini ditegaskan lagi oleh Yuval Noah Harari dalam Sapiens.

Lalu perkembangan keilmuan menggabungkan ilmu biologi, teknologi, sosial, politik, genetik dan neurosains untuk membongkar kesadaran kita, dan menemukan kepastian bahwa keinginan kita bukanlah asli dari kita, tapi reaksi yang didasarkan pada aspek sosiologis dan fisiologis. Artinya buat mengkoreksi perilaku manusia, kita bisa memakai data lengkap yang dikumpulkan semua ilmu ini, dan mengkondisikan setting sosial dan fisiologis dengan berbagai pendekatan keilmuan yang sudah terbukti hipotesanya.

Contoh: kita tahu bahwa neuron dan kimia tubuh kita bisa dikendalikan dengan obat-obatan, atau bahan kimia seperti minuman keras. Ini juga membentuk perilaku kita. Pengobatan psikiater juga membuat kita bisa mengendalikan mood kita. Lalu ada bukti-bukti bahwa perubahan perilaku seorang dewasa menjadi pembunuh atau pedofil berhubungan dengan tumbuhnya tumor tertentu di otak.

Lalu yang ditakutkan adalah, kalau kehendak bebas diterima sebagai ilusi, maka orang akan mulai jadi tidak mau bertanggung jawab atas pilihan dan tindakannya, maka peradaban akan runtuh. Ketakutan tidak otentik/jadi diri sendiri ketika kita tidak punya kehendak bebas. Ini logika yang salah.

Sebagai orang yang memakai obat-obatan dan terapi untuk mengendalikan perilaku saya, saya tahu pasti bahwa sebagai manusia saya ingin lebih sempurna untuk menikmati hidup, mencintai, dicintai, membantu orang lain, memecahkan masalah. Maka walau kehendak saya tidak bebas, dengan mengetahui metode untuk mengembangkan diri baik dengan belajar, olah raga, diet, dan minum obat, saya bisa punya kebebasan lebih untuk membuat batas-batas diri saya, dan saya bisa memperluas batas-batas itu. Justru dengan mengetahui bahwa kehendak saya tidak bebas, saya bisa berpikir dan memproses lebih matang bagaimana untuk bisa bertanggung jawab atas keberadaan saya–bukan hanya masalah kehendak saya.

Ini adalah jawaban yang sudah lama saya cari: posisi saya sebagai manusia di semesta ini, batas-batas saya. Dan agama dan ideologi tidak bisa menjawab itu. Sains bisa, dan tahu bahwa kehendak bebas bisa direncanakan oleh saya sendiri, membuat saya lebih tenang untuk hidup.


Terima kasih telah membaca tulisan ini sampai habis. Kalau kamu suka dengan yang kamu baca, boleh traktir saya kopi untuk bisa terus menulis dan sedikit nombokin biaya tahunan domain dan hosting blog ini supaya tetap bisa mudah diakses dan dibaca. Klik tombol dibawah ini untuk mentraktir saya.

Filsafat, Memoir, Racauan

Penyakit Mental Bukan Alasan Untuk Playing Victim

Semua dosa masa lalu kamu seperti selingkuh, kabur dari tanggung jawab, atau apapun yang bikin kamu “jahat”, nggak bisa kamu lempar ke penyakit mentalmu (PM), walau PM kamu bisa jadi bahan pertimbangan persidangan dan hukuman, konsekuensi tetap ada. Seorang ibu yang menggorok leher anaknya, terlebih dahulu akan menghadapi konsekuensi hukum, lalu jika terbukti sakit jiwa ia akan diinstitusikan entah untuk berapa lama, dan ketika sudah bisa fungsional ia akan dikembalikan ke masyarakat untuk menghadapi konsekuensi sosial dari tindakannya–itu kalau ia tidak diasingkan, yang mana kemungkinan ia akan diasingkan.

Photo by Joanne Adela Low on Pexels.com

Apalagi kalau kamu kaum minoritas dengan disabilitas psikososial, bukan berarti kamu harus diistimewakan. Saya kenal seorang gay yang juga aktivis, terkena bipolar dan positif HIV, dan dia adalah salah seorang role model saya. Dia bekerja dengan penuh passion, membantu banyak orang, dan di saat yang sama berusaha bertahan hidup. Dia tidak minta diistimewakan, dan berusaha membuat LGBT menjadi sesuatu yang biasa saja, yang bisa diterima oleh masyarakat dan semua orang sebagai bagian dari mereka. Itu perjuangan besarnya, sementara penyakit mental dan fisik, jadi selingan saja. Dari dia saya belajar arti hidup. Minoritas harus bikin dunia yang ideal buat dia, yang mana jadi minoritas adalah biasa aja, bukan diglorifikasi, tapi diperjuangkan.

Tahu soal penyakit mentalmu artinya kamu belajar, berobat, dan terapi untuk mengenal dirimu sendiri dan tahu batas-batasmu sebagai manusia, tahu red flag-mu, jadi kamu bisa mencegah nyusahin orang dan nggak mengulang kesalahanmu sebelumnya. Jadi nggak bisa kamu bilang bahwa tindakanmu itu murni disebabkan penyakit mentalmu. Tindakan seperti usaha bunuh diri, atau menyakiti kawan dengan kata-kata kasar karena kamu meledak, adalah pilihanmu sendiri yang disebabkan oleh pengalaman sosial, politik dan, ini yang penting, biologis-mu. Tetap saja semua salahmu. Terima itu, evaluasi diri, jangan diulangi. Jangan minta dimengerti kalau kamu sudah menyakiti orang lain. Menyakiti orang lain itu SALAH. Titik.

Jangan minta diistimewakan, dan menyalahkan dunia dan orang lain yang nggak ngertiin kamu. Kamu harus ngerti diri sendiri dulu, dan menjelaskan kondisimu kepada orang lain BUKAN supaya kamu jadi istimewa, tapi supaya orang yang kerja sama kamu gak kamu tipu. Ini masalah konsensualitas. Jangan bilang kamu bisa terima pekerjaan dengan tekanan besar, jam kerja panjang, padahal kamu sendiri pernah melakukan itu dan kumat dengan cara manic (ngamuk-ngamuk) atau depresi (dengan ghosting dan kabur begitu saja, ninggalin tanggung jawab). Atur manicmu, supaya nggak depresi. Peka lah dengan diri dan lingkunganmu, belajar, evaluasi, eksekusi, evaluasi lagi, belajar lagi.

Sebelom bikin project bareng, orang yang kerja sama kamu harus tahu batas-batasmu jadi bisa kerja bareng dengan fair. Kamu juga harus konsisten dengan persyaratan yang kamu bikin sendiri di awal. Kalau dari awal kamu sudah kasih tahu dia bahwa kamu bipolar, atau sedang berusaha mengatasi depresi, dan dia orang yang terbuka pikirannya untuk bersama kamu mengatur waktu dan beban kerja yang ideal buatmu, kerja lah dengan konsisten, komitmen tinggi terhadap waktu kerja dan tentunya waktu istirahat. Pastikan juga ketika gejalamu mulai keluar, tersedia support system yang bisa bantu kamu. Bukan kamu diistimewakan, tapi bagian dari rencana seandainya kamu butuh break. Kerja adalah teamwork, bangun management team yang baik dan manusiawi.

Dan relakanlah kalau sebuah project nggak bisa kerja dengan orang kayak kamu. Kalian belom jodoh aja, ga usah sakit hati atau ngotot–itu distorsi kognitif yang harus kamu hindari. Nggak semua orang harus kamu puaskan, dan kamu bukan pusat dunia. Asalkan kamu bisa belajar bicara dengan santun, sopan, terstruktur, maka hubungan bisa terjaga. Itu yang terpenting, berusaha untuk menjaga hubungan tetap baik dan adil. Saya tahu ini bukan hal mudah. Saya penderita bipolar 1 yang berjuang untuk jadi fungsional, sejak awal 2019. Dan setelah obat dan terapi bertahun-tahun saya masih juga belajar menerima kesalahan, memperbaikinya, meminta maaf.

Tapi saya memohon untuk tidak diistimewakan, ketika manic saya banyak ide dan sebelom mulai project saya sudah minta tolong dikontrol ide-ide saya. Dan saya membiasakan untuk ragu dan objektif kalau ide yg saya ajukan tenyata buruk. Saya minta tolong pada support system saya untuk mendukung fungsionalitas saya dengan jadi kritis pada saya, mengingatkan saya ketika red flag tidak saya sadari.

Ketika depresi saya melambat tapi semua pekerjaan bisa selesai. Ada cara terapi saya untuk “merobot”, yang penting deliver dengan hasil yang baik dan TIDAK HARUS SEMPURNA. Jangan kerja sama saya kalau maunya kesempurnaan. Dan tanpa kesempurnaan pun, kualitas kerja saya sejauh ini tidak berkurang. Ada standard yang selalu bisa saya raih.

Jika lagi bisa, saya membantu kawan-kawan. Tapi jika tidak bisa, saya sudah siap dengan patah hati, atau kecewa, atau berduka. Saya tidak akan menyalahkan diri saya lagi atas hal yang tidak dalam kontrol saya. Setiap orang membawa trauma dan deritanya sendiri-sendiri, dan takdirnya masing-masing yang ditentukan oleh keacakan hormon, pengalaman, dan keputusan orang lain, terlalu ribet untuk otak saya bisa tangkap semua. Yang penting, saya sadar ada ilusi yang menggoda: ilusi bahwa saya adalah pusat semesta, ilusi bahwa saya kuat menanggung semua, ilusi bahwa dunia kompak untuk menekan saya. Kenyataanya, kebahagiaan cuma masalah hormon dan kimia di tubuh.

Kebahagian itu bisa dibuat, dan tak harus dicari apa lagi ditunggu. Penyakit mental itu mekanisme pertahanan kita supaya tahu diri, bukan perisai untuk kita jadi semena-mena. Jangan jadikan sakit mental pembenaran, kekhilafan adalah kesalahan dan kesalahan punya akibat yang harus dibayar.


Terima kasih sudah membaca. Kalau kamu suka yang kamu baca, boleh traktir saya kopi agar bisa membantu saya membayar domain dan hosting blog ini, dan membuat saya merasa tidak sendirian. Bahwa ada yang membaca tulisan saya. Terima kasih.