English, Filsafat, Racauan

How to Prove God Exists to Atheists

So, you’re an Atheist?

Okay, you may not believe in God, but do you believe that your mind exists?

Sure you do, if not how do you suppose to read and understand the things I wrote? But how do you prove that your mind exist? Neuroscience could say that there are pulses or hormones, or synapsis or whatever that prove the existence of an ‘activity’ in your brain. But there hasn’t been any technology that can read your mind, imagination, or memory, vividly. We are living in a dystopia society and a black mirrored future, but mind reading machine still need to be develop for years ahead.

You might say, “Well, the mind exists and we can prove it subjectively and objectively with tools. And like black hole or far away space objects, we will get the accurate data eventually. It’s not Schrodinger’s cat: the mind does exist. But God, on the other hand…”

Let me put it this way then. Your mind, exist. The things you think about, exist in your mind: the imagination, the stories, the myths, the dreams. If you think about God, then She/He exists. If you think God does not exists, it won’t cause God to disappear from other people’s head.

In the end, we will mind our own mind. At least the ‘idea’ of God is in your Atheist head, then the existence or non-existence of God, does exists in your head too. Atheist don’t need to prove the existence of God. It doesn’t matter. But existence of the self, of identity, of politics and other abstract stuff, most atheists feel the need to prove them. Ergo, atheism is a belief system, just like religion. It’s institutionalized by all things secular.

God is problematic because He/She/It is dialectic historically. But the people who believe, are kind of ahistoric when it comes to this discussion. The history or dialectic of God will dissolve the foundation of God as an almighty and infinite being. If God is always changing, then there will be a possibility that it does not exist, and it bugs all the religious people. Atheists in a sense of dialectical, factual based argument, are supposed to be flexible.

But reality is hard, everybody knows that. Even for Atheists, reality is hard. We want to give meaning to our lives , and if we are unable to do so, if we feel that our lives are irrelevant, we need guidance. Religious people get it from their preachers. Atheist or moderately religious people get them from psychologists orang psychiatrist.

We are all human after all. We are all unique, but none of us are special. We need to worship something, and those who say they don’t, are hypocrites.

Filsafat, Racauan

Manifesto Pedagogi Pandemi

Mari kita mulai tulisan ini dengan beberapa fakta soal kondisi belajar hari ini:

Pertama, sistem pendidikan sudah ketinggalan zaman dibanding sistem informasi. Pada akhirnya orang melakukan cara belajar sendiri yang otodidak seperti yang dikhayalkan oleh Wachowski bersaudara di film The Matrix: download, biasakan, dan voila! Kamu akan bisa. Hari ini kita punya youtube dan kursus-kursus online. Sudah pasti transfer skill akan menjadi kenyatakan, dan guru di masa depan bukan lagi manusia tapi artificial intelligence, atau data yang sudah dikompilasi.

Kedua, kelas-kelas menjadi tidak relevan. Infrastruktur pendidikan tidak lagi diperlukan kecuali dalam bentuk hardware dan software untuk transfer skill. Untuk bekerja, orang tinggal belajar di internet dan langsung mengerjakan. Untuk mengoperasikan alat, hal yang sama bisa dilakukan karena kebanyakan alat-alat kerja hari ini juga sudah otomatis. Dari mulai mobil sampai autocorrect di HP atau komputer saya.

Ketiga, production based learning. Belajar tidak lagi menjadi proses trial and error. Trial and error adalah proses penelitian yang dilakukan berdasarkan data terdahulu. Itu sudah sebuah kerja. Sisanya, proses belajar akan dilihat sebagai sebuah kerja/project yang menghasilkan sebuah produk. Produknya bisa berkualitas, jika seorang siswa-pelerja ini bisa mengolah data dengan baik.

Dari sinilah saya merasa bahwa program pendidikan di masa depan tidak lagi membutuhkan guru, tapi membutuhkan mentor/tutor yang bertindak sebagai partner kerja, bersama membuat produk atau project, yang menghasilkan  uang dan skill baru di saat bersamaan.

Ini masa depan pendidikan kita yang harus kita jelang bersama.

podcast, Politik, Racauan

Eps 3: Ras | Black Lives, Cina, Papua?

Kenapa Black Lives Matter tapi Papua Lives Nggak?

Kita mulai dari bicara trend hashtag internet dulu. Jadi pengguna internet di Indonesia, yang bisa mengerti wacana nasional, dan mau mendengarkan podcast ini adalah kelas menengah kota. Dari #metoo movement sampai black lives matter, adalah wacana global yang dimengerti oleh beberapa orang saja.

Tapi tahukah kalian, wahai kelas menengah Indonesia, bahwa black lives itu memiliki konotasi post kolonial. Orang kulit hitam itu bukan hanya yang dari Afrika, tapi juga yang dari Karibia, atau bahkan orang-orang Tamil atau India yang tinggal di negara barat. Bisa juga orang-orang Aborigin di Australia, atau bangsa-bangsa di New Zealand yang tanahnya diambil oleh kulit putih.

Ini masalah pasca penjajahan. Tapi ada banyak perbedaan konteks yang harus kita bicarakan di sini.

Orang kulit putih di Indonesia menyebut diri mereka expat. Tapi kita nggak pernah menyebut imigran Arab, Cina, atau rasa lain yang bukan kaukasia sebagai expat. Secara gaji pun, expat jauh lebih tinggi daripada bangsa lain yang numpang kerja di sini. Dan yang paling rendah gajinya ya bangsa sendiri. Satu sisi memang ada masalah skill, tapi banyak juga yang masalahnya memang bias dan inferiority complex orang kita.

Lalu kita juga harus bicara soal ‘rasisme’ di negara kita. Kita rasis pada dua macam ras: Cina dan Indonesia Timur–makin ke timur makin kita (baca: Indonesia Barat) opresif dan asingkan. Kedua permasalahan soal rasisme di negara kita ini sifatnya sangat struktural, karena berasal dari propaganda pemerintah. Dari zaman kolonial, misalnya, golongan dibagi dalam golongan eropa, timur asing, dan pribumi. Di Timur Asing, orang Cina punya tempat khusus. Ketika orang Eropa sampai di Jawa pertama kali, imigran Tionghoa sudah membuat persawahan di bibir-bibir sungai, dan mengajarkan orang Jawa bertani. Ya, beras kita berasal dari orang Cina, begitu juga banyak bagian budaya melayu yang lain dari peci, baju koko, sampai sarung.

Orang Eropa mengajarkan kita tata cara pemerintahan kolonial, merkantilis, sistem ekonomi yang opresif, dan kita mengikuti itu. Mereka juga mengajarkan kita untuk rasis, pada diri sendiri dan khususnya pada orang Cina. Di Indonesia, Cina seperti Yahudi di Amerika. Dibenci tapi dijilat kalau mereka kaya. Seandainya Drama Merchant of Venice diadaptasi di panggung drama Indonesia, judulnya bisa diganti Merchant of Glodok.

Dari zaman kolonial, orang Indonesia Tionghoa, istilah sopannya sekarang, sudah dibantai dan diopresi. Sejarah dan jenis grup etnisnya banyak sekali di Indonesia dan nggak mungkin gue paparkan. Tapi opresif dan stereotipenya selalu sama: kaya, pelit, serakah, dan makan babi, dan Komunis. Padahal gelombang imigran dari Tionghoa ke Indonesia sudah lama sehingga menghadirkan berbagai macam orang dan ideologi. Dari yang kabur zaman kerajaan, zaman nasionalis, dan zaman Komunis. Dari berbagai macam daerah dengan dialek dan etnisitas yang beda-beda. Tapi toh, kejadian etnosida (pembantaian etnis) di Indonesia sudah beberapa kali terjadi. Yang terbesar kira-kira tiga kali: zaman kolonial abad 1740, tahun 1965, dan tahun 1998.

Kalau kalian pikir itu buruk, jangan sedih. Papua lebih parah. Jadi kalian boleh lebih sedih lagi.

Kenapa Papua lebih sedih? Karena ketika orang Indonesia Tionghoa masih bisa jadi makmur, orang Papua nggak bisa. Jadi kaya mungkin, jadi makmur nggak mungkin. Bedanya apa? Orang kaya bisa punya duit dan ngasih sodara-sodaranya rejeki, orang Papua bisa kaya. Tapi orang Cina bisa makmur karena mereka ga hanya u ya duit, mereka bisa menciptakan lapangan pekerjaan, infrastruktur, kampus, dan rata-rata institusi-i stitusi milik Tiong Hoa Indonesia tuh mahal-mahal. Halo selamat datang di BSD dan Meikarta! Ciputra aku datang!

Tapi sementara itu Orang Papua masih pada piknik di tengah jalan trans papua. Tentara masih jalan-jalan dan buat banyak orang Indonesia mereka dianggap belum jadi manusia beradab. Disuruh-suruh Indonesia harga mati, mereka juga banyak yang mati. Trauma nya berkepanjangan.

Dan ketika kawan-kawan pada pasang IG post hitam-hitam, apa mereka bicara soal Papua? Siapa yang benar-benar berani?

Papua terlalu jauh dari Jawa, dan kita di negara kepulauan ini punya masalah komunikasi. Di Amerika saja yang hanya dipisahkan jalan-jalan dan bukan laut, komunikasi antara kulit putih dan kulit hitam sudah susah. Apalagi buat kita. Kebanyakan kita tidak tahu menahu apa saja yang sudah terjadi di Papua sana. Bagaimana tentara kita memperlakukan mereka. Dan kalau kita masih teriak-teriak NKRI terhadap permintaan mereka untuk merdeka, bisa jadi kita adalah bagian dari masalahnya.

Tidak sepantasnya kita mengaku-aku saudara sebangsa dan setanah air, kalau kontak kita lebih dekat dengan black lives matter di Amerika daripada di Papua. Kita nggak mau jadi penjahatnya, padahal kita adalah penjahatnya juga.

Semoga saja langkah pemerintah kita untuk membuat infrastruktur dan internet di Papua bisa benar-benar membuka komunikasi dengan orang-orang yang kita akui sebagai saudara sebangsa tapi kita biarkan dihardik selama puluhan tahun.

Dan kita harus siap-siap. Ketika infrastruktur di sana selesai dan komunikasi dimungkinkan, kita akan mulai banyak bentrokan. Bentrokan yang diperlukan untuk menyembuhkan luka lama mereka, atau memisahkan mereka dari kita. Selamanya.