Moral Bengkok, Prosa, Racauan

Kesepian adalah Persahabatan antara Bosan dan Rindu

Ia pasti bosan, dan bosan adalah siksaan utama keberadaan. Penderitaan yang terberat bagi semua umat manusia, miskin atau kaya, pintar atau bodoh, alim atau kufur, adalah kebosanan, stagnasi, perasaan ketika kehidupan jadi mentok dan monoton.

Manusia adalah mahluk yang adaptif. Siksaan fisik tidak akan sebegitu menyakitkan kalau sudah biasa. Begitupun siksaan mental dan kelelahan jiwa akibat perjuangan yang tak kunjung kelar. Namun tidak ada seorang manusia pun yang bisa membiasakan kebosanan. Ia menghantui di setiap detik, jadi bagian di dalam pikiran yang kita kubur dengan pekerjaan, penderitaan, dan harapan. Tapi tidak ada obat kebosanan yang paling mujarab daripada dosa.

Jadi hari itu, ketika si Janda muda yang biasa bertamu ke rumahnya untuk meminta nasihat spiritual, dan bercengkrama dengan istri dan anak perempuannya, mulai mencuri pandang kepadanya, junjungan kita sang orang suci yang dari mulutnya yang sering berdzikir dan melaknat pendosa, balik memandang dengan matanya yang teduh. Keteduhan yang hanya ditunjukkan kepada orang-orang yang ia hormati dan ia cintai. Keteduhan langka, yang tak pernah ia tunjukkan ketika ia berceramah berapi-api tentang kezaliman penguasa, atau kecongkakan para pendosa, pelaknat, penista agama.

Keteduhan seseorang yang romantis.

Di balik hijab Janda muda itu, junjungan kita membayangkan sebuah dunia baru. Kulit putih yang memerah karena hasrat menggebu, puting merah jambu yang menegang terangsang di puncak gunung yang lengkung sempurna. Ia memerhatikan bibir si Janda, dengan kumis tipis yang konon menandakan tingginya nafsu bercinta. Ketika si Janda berdiri dan mengikuti istrinya untuk berbenah di dapur, ia memperhatikan kemolekan pinggul dan kelincahan pantat dan pahanya, memberi gelombang di balik kain sutra syar’i, begitu jelas lengkungan-lengkungan itu ia lihat.

Subhanallah. Astagfirullah. Subhanallah. Astaghfirullah. Berkecamuk seperti orang yang menyatakan kekafirannya dengan pembaptisan di sungai, megap-megap minta udara. Dan junjungan kita menyadari, udara yang ia ingin hirup adalah yang langka dari hidupnya: sebuah dosa.

Sebelum Janda muda itu mencuri pandang padanya, ia selalu berpikir dan meyakinkan dirinya, bahwa udara itu adalah pahala yang selalu ia kumpulkan. Udara itu adalah kebaikan dan ilmu yang ia tebar. Udara adalah keridhaan ilahi. Namun, yang dicuri oleh si Janda bukan cuma pandangan dan nafasnya. Ia telah mencuri hati, dan itu ditunjukkan dari minaret junjungan kita yang berdiri menunjuk ke arah si Janda. Ia kekang minaret berkubah merah yang tertahan celana dalam di balik baju gamisnya. Seperti si Janda menutup keindahan di balik sutra mahal buatan perancang luar negeri.

Tapi semua akan baik-baik saja, selama si Janda tidak memulai dan menyatakan pandangannya dengan kata apalagi sentuhan. Semua akan baik-baik saja, selama perempuan bisa menjaga dirinya dari hasratnya, dari menunjukkan tubuhnya kepada si lelaki. Ia aman, selama tubuh telanjang itu hanya ada di pikirannya yang ‘normal’. Sang Junjungan kita percaya dan bilang pada semua muridnya, mengajarkan tanpa henti, tentang kekuatan perempuan yang juga jadi kelemahannya: tubuh. Lelaki selalu bisa dipercaya, tapi perempuan tidak. Perempuan dalam agamanya adalah makhluk yang kuat lagi picik, yang sejak awal penciptaan sudah bersekutu dengan setan untuk membuat penderitaan terhadap umat manusia. Selama si Janda tidak menggodanya, semua akan baik-baik saja. Ia hanya harus selalu mengingatkan si Janda untuk menjaga dirinya. Dan setiap nasihat ia isi dengan keteduhan dan cinta yang tak terkatakan.

Maka tanpa Sang Junjungan sadari, hujan asmara jatuh membasahi keringnya nurani si Janda, dan selangkangannya.

Si Janda tidak tahan, ia berani menatap pandangan junjungannya! Iblis! Laknat! Junjungan kita panik setengah mati. Bahkan ketika si Janda pulang. ia masih keringat dingin dalam tahajud yang tidak khusyuk–ia membayangankan pandangan si Janda dan segala kemungkinan dosa yang bisa ia lakukan. 

Dan sial, Junjungan kita benar-benar lupa dengan satu faktor lagi, sebuah jebakan setan kafir laknat yang diciptakan untuk menyebarkan dosa: kamera ponsel, aplikasi obrol, dan sosial media. Awalnya ia hanya mengobrol dengan si Janda melalui ponselnya, mengirim ayat-ayat dan tafsir-tafsir. Entah apa yang merasukinya, pelan-pelan tapi pasti, ia melancarkan puja-puji terhadap kecantikan si Janda, hingga si Janda tahu pasti bahwa pandangan yang ia curi menjelma menjadi birahi. Junjungan kita pun bertransformasi, dari kiai menjadi Rumi. 

Si Janda pun mulai membayangkan puja-puji sang Junjungan kepadanya dalam bentuk aksara, mejadi lisan yang berbisik manja dengan suara berat yang membuat seluruh isi tubuhnya bergetar. Jika cinta anak perawan adalah kupu-kupu di dalam perut, cinta seorang wanita yang pernah merasakan nikmatnya senggama adalah gemuruh debur ombak menampar karang-karang di bawah perutnya. Ia bisa merasakan kumis Junjungan kita menyenggol daun telinganya, hingga tanpa sadar, dalam keadaan setengah tidur, tangan sang Janda merogoh selangkangannya, dan ia bergelinjang bergelimang dosa dan doa. Dosa hawa nafsu, doa agar dosa bisa terlaksana. 

Begitulah sebuah gambaran hasrat, duhai pembaca yang budiman. Saya hentikan cerita ini agar Anda semua merasakan, beratnya rasa penasaran yang darinya rindu tercipta, menyiram arang kehidupan yang redup karena kebosanan, dengan minyak dan angin yang membuat api menyala merambat ke seluruh bagian tubuh dan jiwa. 

Bosan dan rindu menjelma sepi. Di masa lalu, seorang penyair bohemia berteriak serak pada orang-orang semacam Junjungan kita dan Janda idamannya, serta tentunya pembaca penasaran:

“MAMPUS KAU DIKOYAK KOYAK SEPI.”

Moral Bengkok, Prosa, Uncategorized

Markus

Ketika D di kamar mandi, sahabatku Markus menelpon. Ia bilang ia butuh bantuanku, ingin curhat. Ya, aku memang gudang curhat kawan-kawanku, baik lelaki atau perempuan. Aku suka mendengarkan dan aku tak suka menasihati, aku lebih suka bertanya dan membiarkan kawan curhat menemukan sendiri jawabannya, atau tersesat lebih jauh. Aku tidak terlalu peduli, toh hidup-hidup mereka.

Tapi soal Markus, aku harus perduli. Sejak mahasiswa dulu, ia sahabat yang paling melankolis, sering coba-coba bunuh diri karena putus cinta. Plus, aku berdosa pada Markus. Aku merasa bersalah.

D keluar dari kamar mandi, wangi semerbak dan dadanya membuncah dibalik handuk putih.

“Siapa tadi?” tanyanya. “Muka lo kayak orang panik, pacar ya?”

“Kan pacar gue, elo.” Jawabku santai, melempar HP ke sofa di dekat tempat tidur. Ia harum sekali, langsung kupeluk lagi untuk babak entah ke berapa.

“Arrghhh! Gue baru mandiii!!” Tanganku bergerak menginvasi titik-titik strategis, ia tertawa sambil menggelinjang. Tubuh kembali telanjang.

“Gue harus pulang…” katanya setengah mendesah.

“Tenang aja, nggak ada yang nungguin lo di rumah.” kataku dengan pasti.

“Tahu dari mana lo?”

Mulutku sudah penuh payudaranya, tidak bisa menjawab apa-apa lagi.

***

Markus lelaki cengeng, pengecut. Ia tak pernah menang berkelahi karena ia tak pernah melawan. Sejak Mahasiswa, ia selalu menghindari masalah. Tak pernah ikut demonstrasi, tak pernah ikut aktivisime. Tidak populer. Kami cuma kebetulan satu kosan, kamarnya di depan kamarku, lebih dari 20 tahun yang lalu. Dan ia gampang menangis ketika cintanya ditolak, atau ketika dia diputuskan perempuan setelah beberapa hari pacaran.

Kami bertemu terakhir sekitar empat bulan lalu, ketika reuni akbar almamater kami. Markus nampak menyedihkan hari itu, bajunya kemeja lusuh yang agak kekecilan karena perut buncitnya, celana bahan yang juga lusuh. Ia nampak bahagia sekaligus miris bertemu denganku, orang yang seumuran dengannya, namun terlihat 10 tahun lebih muda dari dia.

“Lu udah punya anak, Bem?” Tanyanya basa-basi.

“Belom. Nikah aja belom.”

“Bisa ya lo nggak berubah gini dari kuliah. Masih playboy lo?”

Playman, dude. Playman. Haha.”

Semalaman itu Markus bicara denganku namun ia tidak bisa berhenti melirik bininya, dengan gaun berwarna merah, tubuh semampai, kulit putih halus. Bini Markus paling bersinar diantara tamu-tamu malam itu. Dia tiga tahun di bawah kami, satu kampus namun beda jurusan, anak manajemen. Ketika melihat istrinya bicara pada orang lain, ada rasa takut memancar di mata Markus. Ketika istrinya melirik, Markus menghela nafas.

loring dinersCR

Tapi malam itu, tidak ada sedikit pun rasa takut di mata Markus. Kami bertemu di sebuah bar blues di Jakarta Pusat, dan aku seperti bertemu orang lain. Markus berpakaian parlente, dengan kemeja bermerk mahal model baru, kancing atas terbuka, kalung emas, celana jeans dengan ikat pinggang berkepala elang, sepatu kulit buaya yang harganya kukisar puluhan juta, jam tangan rolex emas, dan batu akik di jari tengah, berlian di jari kelingking. Yang agak mengejutkan, perutnya agak meramping dan dia sedikit berotot. Kelihatan dia sudah workout banyak, semenjak kami terakhir bertemu.

“Gile, baru berapa bulan nggak ketemu. Kemaren bapak-bapak salting, kenapa sekarang model om senang gini lo, Kus?” Tanyaku kagum.

“Yah, kayak katalo,” jawab Markus. “Gue mau nikmatin hidup aja, Bem. Count my blessings.

“Kus, umur lo 42, bukan 24. Kalo mau gaya harusnya dari umur 24. Dan kalo boleh gue saranin, jangan pake gaya waktu umurlo 24 di tahun ini.”

Markus ikut tertawa bersamaku. “Ah, Bem, bentar lagi lo bakal kaget deh, ini gaya bisa dapet apa. ” katanya.

“Maksudlo?”

“Bentar, pesen minum dulu, gue traktir.”

Ketika dua gelas bir sampai bersama dengan sepiring nachos, Markus tanpa ragu meminum habis gelasnya dan memesan lagi.

“Haus, Kus?”

“Biar gampang ceritanya, roller coaster niih…”

Dan dimulailah narasi roller coaster Markus.

***

Markus lelaki yang lurus, bukan hanya secara seksual tapi juga secara filsafat hidup. Lulus kuliah ia bekerja jadi jongos di konsultan investasi, dan hari ini ia menjadi direktur di perusahaan yang sama. Ia menikah dengan gadis yang waktu itu masih mahasiswi, si gaun merah tadi. Aku tahu dari kawan-kawan kalau si gaun merah adalah anak bos Markus. Lagi-lagi si Markus cari aman. Tapi dia lelaki beruntung, dapat istri cantik, kaya pula. Dua anaknya kini tinggal di Amerika bersama kakek-nenek mereka, karena sekolah di Indonesia dinilai kurang baik. Aku tak tahu banyak tentang anak-anak Markus, ia cerita tapi aku lupa. Tidak penting.

Tapi menikah dengan perempuan cantik, anak orang kaya yang kebetulan bosnya, punya konsekuensi yang berat. Markus merasa kehilangan kelaki-lakiannya. Ia tinggal di rumah yang diberikan mertuanya, hidup berdasarkan dikte mertua dan istrinya. Ia selalu dirundung rasa takut, bukan takut kehilangan tapi takut dimarahi, takut dihukum oleh mertua atau istrinya. Ia merasa dihardik. Ketika anak-anaknya belum usia sekolah, Markus tidak bekerja tapi digaji. Ia tinggal di rumah, mengasuh anak-anaknya karena istrinya tidak ingin orang asing membesarkan anak-anak mereka sampai usia sekolah,

“Enam tahun pertama adalah masa krusial, Mey. Mereka harus sama orang tua kandungnya.” kata Markus memperagakan gaya bininya. Mey adalah panggilan sayang bininya untuk dia.

“Kurang cewek apa gue, Bem? Dipanggil Meymey.” pertanyaan retorik Markus padaku.

Selama Markus menjaga anak-anak, bininya kuliah S2 fashion business di Singapura, pulang seminggu sekali. Kini bininya itu punya galeri kain di Kemang.

Ketika anak-anak mulai sekolah SD di Amerika, bininya sempat menyuruh Markus ikut ke Amerika.

“Aku kan punya galeri di sini, nanti aku ke sana sebulan sekali,” kata bininya.

Markus sempat tinggal di Amerika setahun, namun mertuanya merasa Markus tidak bakat jadi warga internasional karena di sana ia sering sakit perut–tidak cocok dengan makanan Amerika. Maka itu Markus disuruh pulang untuk mengurus perusahaan keluarga saja, konsultan investasi itu.

Kembali ke Jakarta, artinya kembali ke haribaan bininya. Dari mulut singa, ke mulut buaya, ke mulut singa lagi. Markus stress. Kehidupan berjalan dengan sangat monoton, toh, kantor tempat ia bekerja pun adalah usaha keluarga yang tidak perlu banyak diurus karena sudah berjalan dengan sendirinya sebagai perusahaan cangkang saja dari proyek-proyek besar mertuanya. Markus mengisi hari-harinya di kantor dengan marah-marah pada anak buah dan browsing video porno.

Sampai ia bertemu denganku empat bulan yang lalu.

Markus bilang, ia iri sekali denganku. Aku terlihat bahagia, bebas. Ia iri dengan penampilanku, yang cuma kaos dan jeans. Ia iri dengan perutku yang belum buncit. Ia iri dengan gaya hidupku yang seperti bebas tanggung jawab. Ketika aku cerita soal pekerjaanku, ia tambah iri.

“Enak banget sih lo, kerjaan cuma jalan-jalan, motret, nulis, gajilo dollar, bujangan pula.” komentarnya lebih terdengar miris daripada sinis.

Malam reuni itu, ketika bini Markus sedang sibuk bergaul dengan kawan-kawan seangkatan Markus yang dia kenal, aku bilang pada Markus bahwa tak ada yang terlambat.

“Lo direktur, Kus. Gajilo pasti lebih gede daripada gaji gue. Mertualo jagain anak-anaklo. Binilo cantik setengah mati. Count your blessing, Man!

Kami berbincang tak banyak. Aku banyak bertanya padanya soal berkah hidupnya, kami berhitung. Markus usia 42, life begins at 40 kata pepatah lama. Maka kubilang pada Markus, kalau ia masih balita. Tenang saja. Aku coba bertanya soal kehidupan seksnya, dia jawab dia sudah enam tahun tidak tidur dengan istrinya, dan lebih banyak masturbasi. Jujur aku heran, apa yang membuat Markus menjadi pria yang menyedihkan (atau merasa menyedihkan) dengan hidup semacam itu. Aku tanya apa dia pernah selingkuh, dan dia jawab tidak pernah dan tidak mau. Panjang pembicaraan kami dalam waktu yang singkat itu, tentunya dengan interupsi beberapa kawan lama, tapi cuma basa-basi. Kebetulan geng kosan kami waktu mahasiswa tidak ada yang datang. Kami jadi cukup terasing berdua. Obrolan kututup dengan sebuah saran, “Coba lo cari konteks hiduplo. Kayaknya lo miserable karena gak paham kesempatan-kesempatan di hiduplo. Lo terlalu cari aman, Kus!”

Setelah itu, bini si Markus yang seksi datang menghampir kami dan mengajak Markus pulang. Markus menurut seperti anjing pudel. Markus enam tahun tidak tidur dengan dia, perempuan secantik itu! Markus pasti sudah gila!

Empat bulan kemudian, di bar Markus cerita, sepulang dari reuni, ia bertengkar hebat dengan bininya. Pertengkaran hebat pertama dalam 15 tahun pernikahan mereka. Pasalnya sederhana. Istrinya berkelakar bahwa ia kaget ia masih populer di antara kawan-kawan lamanya. Beberapa lelaki masih menggodanya, padahal mereka sudah beristri. Markus berkomentar ringan setengah bercanda, soal gaun merah yang belahan dadanya meruah, “Yah, dadamu dipamerkan begitu.”

Spontan bini Markus mulai membombardir Markus dengan makian, “Kamu seksis,” dan lain-lain. Entah kenapa malam itu, katanya setelah bertemu denganku, Markus jadi punya energi untuk melawan argumen istrinya. Ujung-ujungnya ia tetap kalah, ketika istrinya bilang, “Tanpa aku dan papi, kamu bukan apa-apa.”

“Tapi, Bem, malam itu gue nggak sakit hati!” katanya berapi-api setelah gelas ketiga. “Gue minta maaf sama dia, sok-sok-an nyesal, tapi itu akting aja. Gue langsung merasa bahwa itu titik balik gue.”

Malam itu Markus tidak tidur, tapi bukan karena galau. Dia merencanakan sesuatu, suatu niat jahat yang sudah terbesit di pikirannya beberapa tahun belakangan ini tapi tak pernah ia laksanakan. Biasanya ia jalan ke kantor jam 8 atau jam 9, tapi hari itu jam 5:30 pagi ia sudah mandi, dan bersiap. Hari itu ia pakai setelan jasnya yang paling bagus, ia berdandan rapih. Di cermin ia bilang, “Hari ini adalah hari gue!”

Hari itu, dia niat membuat akun Tinder, dan menyatakan bahwa dia bu-jang-an.

Ia sampai ke kantor jam 6:15, satpam belum ganti shift. Ia masuk ke ruangannya dan segera membuka komputer, dan membuat akun tinder. Ketika sedang mengisi formulir online, ia melihat orang kedua yang masuk kantor dan ia terkesima: seorang gadis magang sudah lebih dulu ada di kantornya, sebelum anak-anak buahnya. Namanya Clarissa, 21 tahun. Gadis itu datang begitu pagi dan menyiapkan kopi dan persediaan di dapur kantor. Markus mengambil nafas, membatalkan tinder-nya, berdiri dari mejanya, menuju dapur kantor, dan memulai dengan kalimat pertama yang sedikit gemetar, “Boleh saya minta satu sachet kopi?”

Clarissa sudah magang hampir sebulan, tapi itu adalah saat pertama pak direktur bicara padanya. Gadis itu salah tingkah, dan merobek satu box sachet kopi, membuat isinya berjatuhan. Mereka membersihkannya bersama-sama, dan Clarissa membuatkan secangkir kopi untuk bosnya.

“Waktu itu, Bem, yang gue pikirin  WWBD! What Would Bemby Do! Hahaha…” Markus tertawa sambil melempar butiran kacang ke mulutnya. Kacang complimentary, yang kami santap setelah nacho habis. Shit, aku jadi ingat, sejak dulu aku curiga Markus gay, karena sering mengikutiku kemana-mana dan memperhatikan gerak-gerikku. Mengutipku di depan kawan-kawannya—yang juga kawan-kawanku. Memalukan. Tapi sekarang aku sadar, Markus adalah Plato si tukang catat, dan aku adalah Sokratesnya.

Markus cerita bahwa semasa di kosan dulu, aku adalah orang yang paling sering bicara soal perempuan dan cinta-cintaan. Dia cerita, dulu waktu dia PDKT dengan bininya yang masih mahasiswi, ia menggunakan trik dariku. Triknya bernama, “Take it Slow and Let it Flow.” Dan sumpah, aku sendiri lupa pernah bicara macam itu pada anak-anak kosan.

Hari pertama itu, Markus bicara dengan Clarissa satu kali. Hari berikutnya dua kali. Minggu berikutnya tiga kali. Minggu ketiga, mereka lunch bareng. Dan bulan pertama itu, Markus menjadi mentor Clarissa, mendengarkan gadis itu bicara ngalor-ngidul soal bisnis dan investasi, serta cita-citanya. Memberikan sedikit kritik dan nasihat pada ide-idenya. Ia menjadi “om yang baik” untuk si gadis.

Beberapa karyawan tentunya sudah mulai omong belakang dan bergosip, apalagi karena Clarissa memang cantik, muda, dan mau disuruh-suruh. Sebagai anak magang, ia termasuk telaten. Namun gosip-gosip itu hanya berakhir sebagai bercandaan karena hubungan Clarissa dan bosnya cukup “umum.” Bicara seadanya di saat makan siang, atau di dapur ketika coffee break. Lagipula semenjak Markus sering bicara dengan Clarissa, ia jadi sering juga bicara dengan karyawannya, sering bercanda. Kantor jadi kurang tekanan karena mood bos selalu bagus.

Bulan pertama itu juga dipakai Markus untuk mengurus tubuhnya. Ia mulai sering fitness tiap pulang kerja, massage di akhir pekan. Memanjakan dirinya. Mengontrol makanannya. Ia juga jadi suka bersolek, belanja jam, dasi, kemeja, jas, sepatu. Semua hal yang, menurut Markus, harusnya dilakukan bininya.

Bulan kedua, adalah saat terakhir si gadis magang di kantor. Dan hari itulah Markus memberanikan diri mengajak Clarissa makan malam. Tanpa ragu Clarissa mengiyakan. Mereka makan malam di sebuah restoran mewah di atap hotel berbintang. Clarissa merasa agak kedinginan karena malam berangin, dan Markus memberikan jasnya untuk dipakai saat makan. Take it slow, let it flow, jadi mantera Markus di dalam hati. Ia sama sekali tidak bicara tentang maksud tersembunyinya: meniduri Clarissa. Ia bahkan berkali-kali membuang mata ketika insting heteroseksualnya melirik dada, atau bibir atau mata gadis itu. Markus cuma mendengarkan rencana-rencana Clarissa, lalu berjanji akan mereferensikan gadis itu ke kantor lain yang lebih bonafid.

“Aku sebenarnya seneng banget lho, kalo bisa kerja di kantor bapak. Udah biasa aja.” Kata gadis itu sambil meminum teh hangatnya setelah main course selesai mereka makan.

“Kalo lo nggak bakat akting, Kus, jujur aja. Berbagi pengalaman dan penyesalan sama tuh cewek.” kataku yang masih mahasiswa tahun terakhir pada Markus di tangga kosan ketika dia baru ditolak cewek, dua puluh tahun yang lalu. Maka hari itu di makan malam perpisahan, dia jujur pada Clarissa.

“Percaya deh, saya  belasan tahun kerja di situ dan saya muak.” Markus bicara soal kantornya yang perlahan-lahan jadi perusahaan cangkang mertuanya, hingga kehidupan perkawinannya yang hambar. Semua mengalir begitu saja, karena selama dua bulan ini, selalu Markus yang mendengarkan Clarissa. Malam itu, gantian, Clarissa dengan mata berkaca-kaca mendengarkan Markus.

“Cewek suka drama, Kus. Jadi lo jangan bohong, tapi kisahlo harus dramatis. Kalo lo pernah punya trauma, kasih elemen kecil gitu. Kayak diputusin abis nonton bioskop, terus lo pulang naik bis, ganti jadi pulang jalan kaki, ujan-ujan!”, kata Markus mengingat-ingat nasihatku zaman kuliah. Dengan cara itulah ia bercerita pada Clarissa.

Maka Markus tiba-tiba jadi bapak yang baik, yang terpisah dari dua anaknya. Markus jadi lelaki heroik, feminis yang tidak menuntut banyak dari istrinya dan memberikan istrinya banyak ruang untuk berkarir. Markus jadi menantu yang baik, yang membesarkan perusahaan mertuanya, membiayai orang tuanya dan keluarganya. Dan Markus menjadi korban keadaan, dimana istrinya yang berdigdaya tidak peduli lagi padanya, anak-anaknya direnggut, dan ia kesepian.

Di tengah cerita tanpa sadar Markus menangis. Di akhir cerita, tangan Markus dan Clarissa sudah bergenggaman. Clarissa pun menangis.

Di situ, Markus lupa bahwa drama yang ia ciptakan adalah bumbu belaka. Pikiran Markus berubah, dan bumbu menyatu dengan masakan, imajinasi jadi memori, dan memori jadi kenyataan. Markus adalah Pahlawan tragedi dalam kisah hidupnya yang selama ini ia anggap datar dan biasa saja.

Jam sudah hampir menunjukkan pukul sebelas malam. Markus menawarkan mengantar Clarissa pulang. Markus membayar makanan dan mereka berjalan berdua menuju elevator. Mereka berdua diam di elevator, agak menjaga jarak. Seorang pegawai hotel ada di dalam bersama mereka, untuk menekan tombol ke lantai mana mereka hendak turun.

“Basement, P2,” kata Markus.

“Lobby, Mas.” Kata Clarissa. Mereka berpandang-pandangan. Clarissa mengambil tangan Markus, menggenggamnya. Jantung Markus berdegup keras. Mereka turun di Lobby dan menuju resepsionis. Clarissa bertanya pada resepsionis apa ada kamar kosong. Resepsionis bilang ada. Clarissa mengeluarkan KTP dan credit card. Markus mengeluarkan dompet, tapi Clarissa menahannya. Tanpa bicara, Markus mengembalikan dompetnya ke dalam saku.

Jantung Markus semakin menggebu. Selain karena ini pertama kali ia check in di hotel dengan perempuan selain istrinya, ini juga pertama kalinya Markus melihat Clarissa bukan sebagai seorang gadis yang lebih muda dua puluh tahun dibanding dia, tapi sebagai perempuan dewasa.

Malam itu mereka bercinta untuk pertama kalinya, dan Markus, si balita berusia 42 tahun, langsung menjadi remaja.

Dua bulan sudah Markus dan Clarissa berhubungan, begitu panas, begitu bergelora. Seks yang kaku menjadi semakin menyenangkan, semakin menggebu. Mereka semakin hafal lekuk tubuh masing-masing, kontur bibir masing-masing, titik-titik peka di tubuh. Dan Clarissa tidak takut bereksperimen macam-macam. Markus pun jadi semakin pemberani. Markus adalah murid, dan Clarissa, gadis berusia 21 tahun itu, membuka Ipadnya dan memperlihatkan Markus dunia yang baru: segala video dan teknik macam-macam. Kama Sutra for Millenials. Pertama kali dalam hidupnya Markus merasa menjadi laki-laki.

Dan malam itu Markus bicara denganku untuk memantapkan sebuah niat, ia akan menceraikan bininya dan menikahi Clarissa.

***

“Konsekuensinya lo siap? Lo bisa miskin lho, Kus. Bokapnya bisa dendam sama elo, dan elo bisa nggak punya karir.” Kataku.

“Gue udah siapin semuanya, Bem. Gue udah tarik semua tabungan gue, dan tabungan gue banyak. Gue nggak hobi belanja bertahun-tahun. Gue juga banyak investasi di sana sini, gimana juga kita kan anak ekonomi, nggak mungkinlah gue pasrah makan duit mertua tanpa usaha,” Markus nampak begitu yakin.

“Lo yakin si Clarissa ini nggak bakalan kayak binilo? Dia cantik, berpendidikan, dan kalo dia bayarin hotel bintang lima buat pertama kali ML sama elo, artinya dia anak orang kaya juga. Lo yakin keluarganya mau nerima elo?” Seperti biasa, begitu orang curhat, aku akan bertanya banyak.

Markus punya segala rencana yang sudah ia pikirkan sejak pagi pertama ia melihat Clarissa tertidur di sampingnya. Ia akan memakai semua tabungannya untuk membiayai ide-ide usaha Clarissa, membangun bisnis dengan perempuan yang ia cinta. Untuk mencegah mertuanya balas dendam ia akan lakukan dua hal: mengajak bininya cerai dengan damai, dan memakai senjata rahasianya: ia telah mengcopy semua dokumen kantor yang sensitif, mengandung informasi tender dan proyek-proyek pembangunan dan investasi yang penuh korupsi. Kalau ia mau, ia bisa menjebloskan mertuanya ke penjara, membuat bininya bangkrut. Ia punya bargaining position yang tinggi.

“Emang lo udah ngelamar Clarissa? Yakin dia mau sama elo?”

Markus bilang, ini semua ide Clarissa. Clarissa adalah anak broken home, ia hampir tidak pernah bertemu orang tuanya beberapa tahun belakangan ini, dan kedua orang tuanya sudah punya keluarga sendiri-sendiri. Mereka takkan ikut campur kehidupan gadis itu.

“Kalo lo udah yakin, ngapain lo butuh gue?” kataku sambil tertawa kecil.

“Tanya gue lagi dong, apaan kek.” Kata Markus. “Gue takut gue terlalu yakin, Bem. Lo kan kritis.”

Kubilang pada Markus, kalau ia sudah yakin, kalau ia sudah sangat percaya bahwa Clarissa bukan perempuan yang hanya akan menguras duitnya, kalau dalam waktu dua bulan ia sudah merasa mengenal perempuan itu luar dalam, silahkan hajar.

“Tapi gue ingetin aja, cinta gak bakal bertahan. Coba lu inget, sama binilo dari lo PDKT sampe punya anak dua, ada cinta nggak di situ? Habis nggak?” tanyaku. “Darimana lo yakin kalo lo dan Clarissa nggak bakal abis. Lo pacaran sama bini lo nggak sebulan dua bulan kan?”

“Setahun, sih.”

“Nah! Setahun aja akhirnya begini, gimana dua bulan? Terus anak-anaklo gimana? Lo rela nggak ketemu lagi?”

Markus tertawa. “Jadi ini sebabnya lo nggak kawin-kawin, Bem!”

Aku menghela nafas, “Yep. This is exactly why.”

“Soal anak gue, mungkin itu juga kenapa gue mau nikah sama Clarissa. Gue pengen punya anak yang anak gue, Bem. Bukan anak mertua gue, yang bisa diambil dan dilempar-lempar seenak jidat mereka. Gue dan Clarissa udah ngerencanain semuanya. Kita akan punya anak setelah usaha kita kebangun.”

“Hokeh…” kataku. “Udah yakin? Udah dipikir mateng-mateng, jalanin aja.”

“Gue di sini mau bilang makasih sama elo, Bem. Kalo nggak gara-gara ketemu lo lagi, inget-inget masa-masa kuliah dulu, gue nggak bakal pernah ngerasa sebahagia ini.” Markus tersenyum lebar. Handphonenya berdering, nadanya sebuah lagu yang sering diputar hari-hari terakhir ini, Coldplay, I want something just like this. Up to date, for your date!

“Bentar Bem, Clarissa nih.”

Ia beranjak dari tempat duduk, berjalan sendirian ke arah panggung blues yang semenjak kami datang memang kosong tak terisi. Tidak ada pertunjukkan malam itu, dan semesta seperti kompak menyuruhku mendengarkan curhatan Markus. Markus tertawa-tawa, tersenyum-senyum bahagia. Sesekali ia berdansa memutar badannya yang masih gemuk tapi sudah sedikit berotot. Nikmatilah kebahagiaan itu selama masih bisa, Kus. Sudah terlalu lama kau galau.

Aku menghabiskan bir keduaku. Jam sudah lewat jam tengah malam. Aku mengacungkan jari minta tanda pembayaran. Pelayan datang dengan nampan berisi bon, Markus yang masih menelepon segera menerjang, melemparkan dompetnya. “Ambil kartu American Express gue!”

Aku mengambil kartu kreditnya dan menyerahkan ke pelayan.

“Pizza apa ayam? Deket sini masih ada chicken wings buka 24 jam.” Kata Markus pada Clarissa di telepon. “Oke, chicken wings. Bentar lagi aku sampe, paling setengah jam. Bye. Love you too.

Markus mematikan HP, melihat padaku sambil tersenyum lalu menandatangani bon. Memasukkan kembali kartu ke dalam dompet, dan dompet ke saku celana.

“Gue cabut, Bem.” katanya.

“Wuih, lo udah tinggal bareng dia juga?” tanyaku sebagai penutup.

“Udah dua minggu gue tinggal di apartemennya. Abis nikah kita akan cari kondo.” kebanggaan tersirat di nada bicaranya.

“Awas lho, ntar encok kebanyakan sama anak kecil gitu, dasar pedofil.” kataku, bercanda.

“Anjinglo, Bem. Hahaha. Gini-nih becanda jaman kosan! Haha, setan.” oh, ini yang dia maksud bercanda jaman kosan. Shit.

“Oke, Bem. Gue cabut, mumpung baru tipsy jadi masih bisa beli ayam.” Markus menyalamiku, lalu memelukku erat, seperti saudara lama yang baru bertemu. “Oh iya, untung gue inget. Satu hal yang gue harus bilang ke elo, gue menyempurnakan teori lo.”

“Oh ya?”

“Ya! Take it slow, let it flow… but when you’re in the flow, go with the stream!

“Alah, nggak berima! Haha.”

“Yang penting maknanya, Bem! Jangan kebanyakan slow dan flow, harus berani terjun. Gue terjun bebas buat Clarissa, dan gue rela nerima apapun yang terjadi nanti. Karena hari ini, semua penderitaan gue, semua kesepian, nggak bikin gue nyesel. Gue puas! Dan gue berani buat hidup! Lo juga harus berani, bro. Loncat ke arusnya, terjun ke jurang air terjun! Cari bini! Byee!”

Dan dengan teriakan itu, Markus keluar dari pintu Bar.

Terjun. Terakhir kali aku terjun, aku mati. Berkali-kali mati karena perempuan yang sama, yang namanya bahkan terlalu perih untuk disebut. Aku sudah lupa wajahnya, hanya rasanya. Entah sudah berapa lama. Tapi aku seangkatan Markus, aku pun masih balita. Mungkinkah kalau aku terjun hari ini, aku lebih siap?

Aku ambil HP-ku, lalu kutelpon D.

“Belum tidur, D?” tanyaku,

“Belum, masih di kantor. Ada event besok.” Jawabnya. Suaranya berat, jazzy, seksi. “Ini ketiga kalinya lo telfon gue. Katanya, lu nggak bakal nelfon cewek lebih dari dua kali.”

“Elo pengecualian, kan pacar gue.” kataku menggoda.

“Jangan bilang sesuatu yang lo nggak niat, Bem.” Tiba-tiba dia serius.

Okay, Bem. Take it slow, let it flow.

“Besok jam berapa pameran? Gue boleh dateng? Gue motret dan nulis deh buat elo.”

Wow, my pleasure. Datang aja. Tapi bener, ya nulis.”

“Iya, your gallery will be on the first page of the lifestyle and tourism section of the NYFM. Haha.”

“Okay, ketemu besok ya. Sorry, gue harus ngeliatin orang masang exhibit nih. Suka nggak beres vendornya.”

“Okay. Tapi gue boleh request nggak?”

“Apa?”

“Besok lo pake gaun merah, yang belahannya kebuka. Yang lo pake waktu pertama kali kita ketemu.”

“Welll.. gue jarang pake baju yang sama sih kalau trendnya udah lewat, but for you dear, I will feed your hunger.

“Nice. Bye, D.”

“Bye.”

 

Buku, Kurasi/Kritik, Moral Bengkok, Prosa, Uncategorized

A.A. Navis: Robohnya Surau Kami

blogger-image-1147884445
Foto: petunjukzaman.blogspot.co.id

Cerpen ini saya publikasikan dari buku kumpulan cerpen berjudul sama, tulisan salah satu sastrawan Indonesia favorit saya, Haji Ali Akbar Navis*. Di saat dimana orang-orang Muslim banyak yang merasa yakin tindakannya akan membuatnya masuk surga, dan lupa pada introspeksi diri, cerpen ini saya rasa sangat relavan. Mari kita baca (lagi). IQRA!

***

Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.

Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana dengansegala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek.

Sebagai penjaga surau, Kakek tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemungutan ikan mas dari kolam itu. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkan fitrah Id kepadanya. Tapi sebagai garin ia tak begitu dikenal. Ia lebih di kenal sebagai pengasah pisau. Karena ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. Orang-orang suka minta tolong kepadanya, sedang ia tak pernah minta imbalan apa-apa. Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting, memberinya sambal sebagai imbalan. Orang laki-laki yang minta tolong, memberinya imbalan rokok, kadang-kadang uang. Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasih dan sedikit senyum.

Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggallah surau itu tanpa penjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan segala apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti papan dinding atau lantai di malam hari.

Jika Tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya. Secepat anak-anak berlari di dalamnya, secepat perempuan mencopoti pekayuannya. Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak di jaga lagi. Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Beginilah kisahnya.

Sekali hari aku datang pula mengupah Kakek. Biasanya Kakek gembira menerimaku, karena aku suka memberinya uang. Tapi sekali ini Kakek begitu muram. Di sudut benar ia duduk dengan lututnya menegak menopang tangan dan dagunya. Pandangannya sayu ke depan, seolah-olah ada sesuatu yang yang mengamuk pikirannya. Sebuah belek susu yang berisi minyak kelapa, sebuah asahan halus, kulit sol panjang, dan pisau cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek. Tidak pernah aku melihat Kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti saat itu. Kemudian aku duduk disampingnya dan aku jamah pisau itu. Dan aku tanya Kakek,

“Pisau siapa, Kek?”

“Ajo Sidi.”

“Ajo Sidi?”

Kakek tak menyahut. Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Dan aku ingin ketemu dia lagi. Aku senang mendengar bualannya. Ajo Sidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelakupelaku yang diceritakannya menjadi model orang untuk diejek dan ceritanya menjadi pameo akhirnya. Ada-ada saja orang-orang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelakupelaku ceritanya. Ketika sekali ia menceritakan bagaimana sifat seekor katak, dan kebetulan ada pula seorang yang ketagihan menjadi pemimpin berkelakuan seperti katak itu, maka untuk selanjutnya pimpinan tersebut kami sebut pimpinan katak.

Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatang Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan Kakek? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya Kakek lagi. “Apa ceritanya, Kek?”

“Siapa?”

“Ajo Sidi.”

“Kurang ajar dia,” Kakek menjawab.

“Kenapa?”

“Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini, menggoroh tenggorokannya.”

“Kakek marah?”

“Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadatku rusak karenanya. Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan. Sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepada-Nya. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal.”

Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Aku tanya lagi Kakek, “Bagaimana katanya, Kek?”

Tapi Kakek diam saja. Berat hatinya bercerita barangkali. Karena aku telah berulang-ulang bertanya, lalu ia yang bertanya padaku, “Kau kenal padaku, bukan? Sedari kau kecil aku sudah disini. Sedari mudaku, bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua, bukan? Terkutukkah
perbuatanku? Dikutuki Tuhankah semua pekerjaanku?”

Tapi aku tak perlu menjawabnya lagi. Sebab aku tahu, kalau Kakek sudah membuka mulutnya, dia takkan diam lagi. Aku biarkan Kakek dengan pertanyaannya sendiri.

“Sedari muda aku di sini, bukan? Tak kuingat punya isteri, punya anak, punya keluarga seperti orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah Subhanahu wataala. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat seekor enggan aku membunuhnya. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Umpan neraka. Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan, sangkamu? Akan dikutukinya aku kalau selama hidupku aku mengabdi kepada-Nya? Tak kupikirkan hari esokku, karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih dan penyayang kepada umatnya yang tawakal. Aku bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul beduk membangunkan manusia dari tidurnya, supaya bersujud kepada-Nya. Aku sembahyang setiap waktu. Aku puji-puji Dia. Aku baca Kitab-Nya.
Alhamdulillah kataku bila aku menerima karunia-Nya. Astagfirullah kataku bila aku terkejut.Masya Allah kataku bila aku kagum. Apa salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk.”

Ketika Kakek terdiam agak lama, aku menyelakan tanyaku, “Ia katakan Kakek begitu, Kek?”

“Ia tak mengatakan aku terkutuk. Tapi begitulah kira-kiranya.”

Dan aku melihat mata Kakek berlinang. Aku jadi belas kepadanya. Dalam hatiku aku mengumpati Ajo Sidi yang begitu memukuli hati Kakek. Dan ingin tahuku menjadikan aku nyinyir bertanya. Dan akhirnya Kakek bercerita lagi.

“Pada suatu waktu, ‘kata Ajo Sidi memulai, ‘di akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Para malaikat bertugas di samping-Nya. Di tangan mereka tergenggam daftar dosa dan pahala manusia. Begitu banyak orang yang diperiksa. Maklumlah dimana-mana ada perang. Dan di antara orang-orang yang diperiksa itu ada seirang yang di dunia di namai Haji Saleh. Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja, karena ia sudah begitu yakin akan di masukkan ke dalam surga. Kedua tangannya ditopangkan di pinggang sambil membusungkan dada dan menekurkan kepala ke kuduk. Ketika dilihatnya orang-orang yang masuk neraka, bibirnya menyunggingkan senyum ejekan. Dan ketika ia melihat orang yang masuk ke surga, ia melambaikan tangannya, seolah hendak mengatakan ‘selamat ketemu nanti’. Bagai tak habishabisnya orang yang berantri begitu panjangnya. Susut di muka, bertambah yang di belakang. Dan Tuhan memeriksa dengan segala sifat-Nya.

Akhirnya sampailah giliran Haji Saleh. Sambil tersenyum bangga ia menyembah Tuhan. Lalu
Tuhan mengajukan pertanyaan pertama.

‘Engkau?’

‘Aku Saleh. Tapi karena aku sudah ke Mekah, Haji Saleh namaku.’

‘Aku tidak tanya nama. Nama bagiku, tak perlu. Nama hanya buat engkau di dunia.’

‘Ya, Tuhanku.’

‘apa kerjamu di dunia?’

‘Aku menyembah Engkau selalu, Tuhanku.’

‘Lain?’

‘Setiap hari, setiap malam. Bahkan setiap masa aku menyebut-nyebut nama-Mu.’

‘Lain.’

‘Ya, Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat menyembah-Mu, menyebut-nyebut nama-Mu. Bahkan dalam kasih-Mu, ketika aku sakit, nama-Mu menjadi buah bibirku juga. Dan aku selalu berdoa, mendoakan kemurahan hati-Mu untuk menginsafkan umat-Mu.’

‘Lain?’

Haji Saleh tak dapat menjawab lagi. Ia telah menceritakan segala yang ia kerjakan. Tapi ia insaf, pertanyaan Tuhan bukan asal bertanya saja, tentu ada lagi yang belum di katakannya. Tapi menurut pendapatnya, ia telah menceritakan segalanya. Ia tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. Ia termenung dan menekurkan kepalanya. Api neraka tiba-tiba menghawakan kehangatannya ke tubuh Haji Saleh. Dan ia menangis. Tapi setiap air matanya mengalir, diisap kering oleh hawa panas neraka itu.

‘Lain lagi?’ tanya Tuhan.

‘Sudah hamba-Mu ceritakan semuanya, o, Tuhan yang Mahabesar, lagi Pengasih dan Penyayang, Adil dan Mahatahu.’ Haji Saleh yang sudah kuyu mencobakan siasat merendahkan diri dan memuji Tuhan dengan pengharapan semoga Tuhan bisa berbuat lembut terhadapnya dan tidak salah tanya kepadanya.

Tapi Tuhan bertanya lagi: ‘Tak ada lagi?’

‘O, o, ooo, anu Tuhanku. Aku selalu membaca Kitab-Mu.’

‘Lain?’

‘Sudah kuceritakan semuanya, o, Tuhanku. Tapi kalau ada yang lupa aku katakan, aku pun bersyukur karena Engkaulah Mahatahu.’

‘Sungguh tidak ada lagi yang kaukerjakan di dunia selain yang kauceritakan tadi?’

‘Ya, itulah semuanya, Tuhanku.’

‘Masuk kamu.’

Dan malaikat dengan sigapnya menjewer Haji Saleh ke neraka. Haji Saleh tidak mengerti kenapa ia di bawa ke neraka. Ia tak mengerti apa yang di kehendaki Tuhan daripadanya dan ia percaya Tuhan tidak silap.

Alangkah tercengang Haji Saleh, karena di neraka itu banyak teman-temannya di dunia terpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan ia tambah tak mengerti dengan keadaan dirinya, karena semua orang yang dilihatnya di neraka itu tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali ke Mekah dan bergelar syekh pula. Lalu Haji Saleh mendekati mereka, dan bertanya kenapa mereka dinerakakan semuanya. Tapi sebagaimana Haji Saleh, orang-orang itu pun, tak mengerti juga.

‘Bagaimana Tuhan kita ini?’ kata Haji Saleh kemudian, ‘Bukankah kita di suruh-Nya taat beribadat, teguh beriman? Dan itu semua sudah kita kerjakan selama hidup kita. Tapi kini kita dimasukkan-Nya ke neraka.’

‘Ya, kami juga heran. Tengoklah itu orang-orang senegeri dengan kita semua, dan tak kurang ketaatannya beribadat,’ kata salah seorang diantaranya.

‘Ini sungguh tidak adil.’

‘Memang tidak adil,’ kata orang-orang itu mengulangi ucapan Haji Saleh.

‘Kalau begitu, kita harus minta kesaksian atas kesalahan kita.’

‘Kita harus mengingatkan Tuhan, kalau-kalau Ia silap memasukkan kita ke neraka ini.’

‘Benar. Benar. Benar.’ Sorakan yang lain membenarkan Haji Saleh.

‘Kalau Tuhan tak mau mengakui kesilapan-Nya, bagaimana?’ suatu suara melengking di dalam kelompok orang banyak itu.

‘Kita protes. Kita resolusikan,’ kata Haji Saleh.

‘Apa kita revolusikan juga?’ tanya suara yang lain, yang rupanya di dunia menjadi pemimpin gerakan revolusioner.

‘Itu tergantung kepada keadaan,’ kata Haji Saleh. ‘Yang penting sekarang, mari kita berdemonstrasi menghadap Tuhan.’

‘Cocok sekali. Di dunia dulu dengan demonstrasi saja, banyak yang kita perolah,’ sebuah suara menyela.

‘Setuju. Setuju. Setuju.’ Mereka bersorak beramai-ramai.

Lalu mereka berangkatlah bersama-sama menghadap Tuhan.

Dan Tuhan bertanya, ‘Kalian mau apa?’

Haji Saleh yang menjadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama rendah, ia memulai pidatonya: ‘O, Tuhan kami yang Mahabesar. Kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat, yang paling taat menyembahmu. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu, memuji-muji kebesaran- Mu,mempropagandakan keadilan-Mu, dan lain-lainnya. Kitab-Mu kami hafal di luar kepala kami.Tak sesat sedikitpun kami membacanya. Akan tetapi, Tuhanku yang Mahakuasa setelah kami Engkau panggil kemari, Engkau memasukkan kami ke neraka. Maka sebelum terjadi hal-hal yang tak diingini, maka di sini, atas nama orang-orang yang cinta pada-Mu, kami menuntut agar hukuman yang Kaujatuhkan kepada kami ke surga sebagaimana yang Engkau janjikan dalam Kitab-Mu.’

‘Kalian di dunia tinggal di mana?’ tanya Tuhan.

‘Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku.’

‘O, di negeri yang tanahnya subur itu?’

‘Ya, benarlah itu, Tuhanku.’

‘Tanahnya yang mahakaya raya, penuh oleh logam, minyak, dan berbagai bahan tambang lainnya,
bukan?’

‘Benar. Benar. Benar. Tuhan kami. Itulah negeri kami.’ Mereka mulai menjawab serentak. Karena fajar kegembiraan telah membayang di wajahnya kembali. Dan yakinlah mereka sekarang, bahwa Tuhan telah silap menjatuhkan hukuman kepada mereka itu.

‘Di negeri mana tanahnya begitu subur, sehingga tanaman tumbuh tanpa di tanam?’

‘Benar. Benar. Benar. Itulah negeri kami.’

‘Di negeri, di mana penduduknya sendiri melarat?’

‘Ya. Ya. Ya. Itulah dia negeri kami.’

‘Negeri yang lama diperbudak negeri lain?’

‘Ya, Tuhanku. Sungguh laknat penjajah itu, Tuhanku.’

‘Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya, dan diangkut ke negerinya, bukan?’

‘Benar, Tuhanku. Hingga kami tak mendapat apa-apa lagi. Sungguh laknat mereka itu.’

‘Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi, sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan?’

‘Benar, Tuhanku. Tapi bagi kami soal harta benda itu kami tak mau tahu. Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Engkau.’

‘Engkau rela tetap melarat, bukan?’

‘Benar. Kami rela sekali, Tuhanku.’

‘Karena keralaanmu itu, anak cucumu tetap juga melarat, bukan?’

‘Sungguhpun anak cucu kami itu melarat, tapi mereka semua pintar mengaji. Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala.’

‘Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak di masukkan ke hatinya, bukan?’

‘Ada, Tuhanku.’

‘Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk di sembah saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!”

Semua menjadi pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka sekarang apa jalan yang diridai Allah di dunia. Tapi Haji Saleh ingin juga kepastian apakah yang akan di kerjakannya di dunia itu salah atau benar. Tapi ia tak berani bertanya kepada Tuhan. Ia bertanya saja pada
malaikat yang menggiring mereka itu.

‘Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami, menyembah Tuhan di dunia?’ tanya Haji Saleh. ‘Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat sembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak isterimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikit pun.’

Demikianlah cerita Ajo Sidi yang kudengar dari Kakek. Cerita yang memurungkan Kakek. Dan besoknya, ketika aku mau turun rumah pagi-pagi, istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk.

“Siapa yang meninggal?” tanyaku kagut.

“Kakek.”

“Kakek?”

“Ya. Tadi subuh Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Ia menggoroh lehernya dengan pisau cukur.”

“Astaga! Ajo Sidi punya gara-gara,” kataku seraya cepat-cepat meninggalkan istriku yang tercengang-cengang.

Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Tapi aku berjumpa dengan istrinya saja. Lalu aku tanya dia.

“Ia sudah pergi,” jawab istri Ajo Sidi.

“Tidak ia tahu Kakek meninggal?”

“Sudah. Dan ia meninggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis.”

“Dan sekarang,” tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikit pun bertanggung jawab, “dan sekarang kemana dia?”

“Kerja.”

“Kerja?” tanyaku mengulangi hampa.

“Ya, dia pergi kerja.”

***

navis

Haji Ali Akbar Navis (lahir di Kampung Jawa, Padangpanjang, Sumatra’s Westkust, 17 November 1924 – meninggal di Padang, Sumatera Barat, 22 Maret 2003 pada umur 78 tahun) adalah seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia yang lebih dikenal dengan nama A.A. Navis. Ia menjadikan menulis sebagai alat dalam kehidupannya. Karyanya yang terkenal adalah cerita pendek Robohnya Surau Kami. Navis ‘Sang Pencemooh’ adalah sosok yang ceplas-ceplos, apa adanya. Kritik-kritik sosialnya mengalir apa adanya untuk membangunkan kesadaran setiap pribadi, agar hidup lebih bermakna. Ia selalu mengatakan yang hitam itu hitam dan yang putih itu putih. Ia amat gelisah melihat negeri ini digerogoti para koruptor. Pada suatu kesempatan ia mengatakan kendati menulis adalah alat utamanya dalam kehidupan, tetapi jika dikasih memilih, ia akan pilih jadi penguasa untuk menangkapi para koruptor. Walaupun ia tahu resikonya, mungkin dalam tiga bulan, ia justru akan duluan ditembak mati oleh para koruptor itu. (Wikipedia Indoenesia)

Prosa, Serial Annie

Annie #3

Disclaimer: cerpen ini mengandung adegan seks dan kekerasan.

Annie pacaran dengan Jay waktu SMA. Jay pemuda bertubuh kekar, berkulit gelap; selera Annie. Dia adalah jagoan sekolah: suka berkelahi, populer di antara cewek-cewek karena ganteng dan di antara guru-guru karena bandel.

Jay jadian sama Annie karena Annie bukan tipikal cewek baik-baik. Umur 15 sudah jadi perokok berat; rokoknya kretek. Bisa bermain alat musik gitar dan bass, dan Jay berharap Annie bisa diajak bercinta seperti film-film setengah porno yang ia tonton di bioskop di belakang rumahnya–rumah Jay dekat dengan pusat perbelanjaan Blok M. Tubuh Annie yang padat berisi dan wajahnya yang cantik tapi agak polos mengingatkannya pada Yati Octavia artis muda itu. ‘Mantap,’ Pikir Jay.

Baca lebih lanjut