Gender, Moral Bengkok, Politik, Racauan

Momentum Pelecehan Seksual dan Kooptasi Oposisi Politik: Dari Sitok sampai @_haye_

Nama pelaku pelecehan  yang disidang massa twitter hari ini, 1 Februari, adalah  Hasan Yahya A (@_haye_) 

Image

Hari ini seorang pelaku pelecehan seksual verbal di twitter dihakimi massa twitter lewat space: digadang, dimaki, dan dihina habis-habisan, setelah ia melecehkan seorang perempuan yang ikut diskusi di Space Twitter di malam sebelumnya. Diskusi yang diikuti adalah tentang ekspedisi, pembuatan film dokumenter, dan aktivisme lingkungan, diadakan oleh orang-orang yang sudah terkenal kritis terhadap rezim, para whistle-blower yang dianggap pahlawan oleh banyak orang. Si peleceh juga adalah orang yang cukup aktif membahas politik dan ia punya lebih dari 20 ribu follower sebagai veteran perang cuitan. 

Ada masa ketika perang cuitan butuh konsentrasi luar biasa, dari kecepatan jari, logika berpikir, dan ketajaman kata makian. Dan si peleceh ini nampaknya adalah Lord of War untuk kata-kata tidak senonoh. Ia tidak punya katup untuk mengendalikan libido dan khayalan joroknya di jagad maya, dan ia pikir semua orang adalah penonton film porno. Rekam jejaknya dalam merendahkan perempuan sudah panjang, tapi kali ini, di tengah kampanye pembelaan sebuah grup aktivis kritis atas misi ekspedisi mereka, si peleceh masuk dan bikin hancur imaji yang sudah rusak. 

Ada pola yang terlihat jelas dalam kasus pelecehan seksual yang melibatkan kelompok politis. Awalnya fokus ke korban, lama-kelamaan akan dibawa menjadi wacana untuk menjatuhkan wacana politik. Dalam kasus Sitok Srengenge dulu, korban cuma jadi pintu masuk untuk merangsek komunitas Salihara dan Gunawan Mohammad. Suara pembelaan dan pendampingan lama-lama hilang dalam makian dan tuduhan-tuduhan kepada komunitas/institusi yang membawahi si pelaku kekerasan seksual. 

Begitupun dalam banyak kasus-kasus lain. Hari ini, peleceh itu mungkin tak akan diadili sedemikian rupa kalau ia bukan bagian dari grup ekspedisi dan berceloteh di situ. Grup yang sejak minggu lalu ‘bacot-bacotan’ di twitter tentang betapa rendah mereka memberi value pada relawan dan betapa kaya nya salah satu dari mereka–konon si peleceh adalah salah satu board dari production house yang hari-hari ini jadi salah satu yang paling produktif dan jadi bagian proyek ekspedisi. Maka ketika kasus pelecehan di twitter ini meledak tadi pagi, makin hancur pula lah reputasi ‘circle’ proyek ekspedisi ini. Banyak korban-korban si peleceh mengambil momentum buat angkat suara, untuk mendukung korban terbaru. Dan ini menyediihkan.

Menyediihkan karena perlu momentum besar hingga pengadilan rakyat net ini bisa terjadi. Perlu proyek besar yang hendak digagalkan biar suara-suara terbungkam jadi keluar, padahal seharusnya satu kasus saja cukup untuk menghukum si peleceh ini. Salah satu keluhan paling menohok secara politik adalah dari Kalis Mardiasih, si mbak feminis muslimah muda favorit saya, yang menjabarkan betapa aktivisme perempuan selalu disuruh mengalah dan ditinggalkan, dibanding aktivisme-aktivisme lain. Hasilnya, lelaki-lelaki hipermaskulin yang tidak bisa mengendalikan congornya (dan anunya) ini membuat gagal proyek kawan-kawannya yang bisa jadi tulus. Menyedihkan sekali bahwa belum sampai kuartal pertama 2022, sebuah film peraih citra, dan sebuah rencana ekspedisi untuk menyelamatkan alam ternoda sampai bau sangit gara-gara satu orang. Dan seandainya misi gerakan perempuan tidak dikesampingkan, orang-orang ini takkan punya congor dan keberanian untuk melecehkan, korban bisa diminimalisir.

Ada orang-orang yang bilang,”Ini konspirasi untuk menggagalkan proyek kritis, ini semua permainan politik.”

Untuk orang-orang semacam ini saya mau bilang dengan tenang: taik lo.

Ini memang politis, tapi jangan mengkhayal ada sebuah kekuatan besar tak terlihat macam Pasukan Mawar atau BIN yang membuat sebuah konspirasi untuk membuat skandal dan menjatuhkan nama filmmaker/aktivis ini. Ini politis karena gerakan aktivismenya membunuh dirinya sendiri ketika dominasi laki-laki dan bahasa patriarki terus menerus digunakan sebagai narasi utama. Jadi tidak perlu rezim atau intel untuk bikin proyek aktivisme terliihat sangat MUNAFIK. Cukup dengan percaya sama teman tanpa recheck dan tanpa memiliki SOP mitigasi kalau kasus seperti ini terkuak. 

Politis di sini personal dan kolektif karena kasus pelecehan seksual sudah sebegitu mengkhawatirkannya hingga satu kasus saja jadi publik, banyak orang akan kesentil. Apalagi kalau kasus yang jadi publik itu dilakukan oleh seorang selebtwit yang mengaku intelektual dan sering bicara buku dan referensi. Maka belajar dari masa lalu, tidak ada salahnya mengambil momentum, tapi kita harus terus fokus pada tindakan pelecehan dan penanganan korban. Jangan sampai momentum yang diambil ini kembali menjadi ajang untuk, “tutup proyeknya, bubarkan PH-nya, cancel filmnya, hancurkan, bakar.” Sebuah proyek atau kantor yang menghidupi banyak orang, yang mengorbankan banyak hal untuk bisa survive dan membantu orang lain, ingin diluluh lantahkan karena ulah satu orang.

Sementara dalam kemarahan dan kekalapan itu, korban ditinggalkan di belakang. 

Jangan jahat. Jadilah manusiawi.

Tabik!

P.S.: Semoga semua institusi belajar untuk membuat SOP mitigasi ketika ada anggota mereka yang terlibat kasus seperti ini, jadi tidak menunda-nunda tindakan atau melakukan pembelaan-pembelaan tidak perlu. Konsolidasi dan cancel secepatnya orang itu sebelum jadi cancer buat orang banyak.


Website ini jalan dengan sumbangan. Kalau kamu suka apa yang kamu baca, boleh traktir penulisnya kopi dengan menekan tombol di bawah ini:

Moral Bengkok, Prosa

Siksa Neraka Surgawi

Selama hidup, Adam Sujanna adalah seorang mafia di tahun 80an. Ia menemukan tujuan hidupnya ini sejak umurnya 4 tahun dan suka menyiksa kucing. Di internet hari ini, haram hukumnya untuk bicara soal penyiksaan kucing, jadi metode penyiksaan kucing Adam Sujanna baiknya tidak diungkapkan di cerita ini.

Lebih menyenangkan, buat kalian yang suka film Gory, adalah cara Adm Sujanna untuk menyiksa orang dengan berbagai cara. Salah satu kitab utama, manual cara menyiksa orang adalah komik Siksa Neraka yang dibelikan orang tuanya ketika umur Adam 10 tahun dan ia sekolah di Madrasah. Adam mulai belajar untuk menyilet wajah teman sekelasnya, atau menusuk pantat teman sekelas yang lain dengan sapu karena kawannya itu feminin, sambil menuduh-nuduh si kawan sebagai kaum nabi Luth yang pezina dan homoseksual.

Adam Sujanna merawat komik siksa neraka dengan baik, karena komik itu membuat dia jadi punya karir. Kelas 2 SMP, Adam Sujanna selalu pamit sekolah tiap pagi kepada orang tuanya. Tapi ia tidak ke sekolah. Ia main di pasar dan nongkrong dengan Hendrik, tetangganya yang jadi preman/tukang parkir di sana. Hendrik tidak keberatan karena Adam bisa jadi asistennya untuk meminta setoran pada pedagang, dan Adam tidak takut berkelahi. Ia pernah memukul sampai babak belur seorang ibu tukang sayur yang tak mau bayar.

Karir Adam Sujanna meningkat pesat ketika Jimmy, seorang mafia yang punya toko emas di pasar itu melihat Adam berkelahi dengan tiga orang preman lain–salah satunya Hendrik yang mulai gagal menyuruh Adam ini-itu. Adam tanpa ragu melempar Hendrik dari lantai 2 hingga mantan bosnya itu harus dirawat dua bulan dirumah sakit karena rusuk patah dan kepala hampir pecah.

Jimmy Chen adalah salah seorang anggota triad di daerah Gajah Mada. Keluarganya punya jaringan diskotik, trafficking perempuan internasional, dan tentunya narkoba. Bisnis halal keluarganya adalah toko emas, toko elektronik, dan toko sparepart mobil. Kesemua toko untuk cuci uang atau menyeledupkan orang atau Narkoba. Pertama kali melihat Adam Sujanna, umur Jimmy baru 28 tahun, sedang Adam 16 tahun. Tanpa ragu, Jimmy mengajak Adam masuk ke lingkaran triadnya, sebagai tukang pukul. Jimmy memberikan Adam kamar di rumah keluarganya, juga memberikannya baju dan uang saku. Jimmy butuh anak semuda Adam untuk bisa masuk ke sarang musuh tanpa dicurigai. Adam Sujanna berkulit sawo matang, dengan tulang pipi menonjol dan senyum yang lebar, tidak akan pernah dikira orang gila yang sadis.

Maka ketika orang melihat cara Adam bekerja, orang langsung tahu bahwa dia gila dan sadis. Pada Perang gangster besar antara Triad China vs Ambon vs Medan di Pasar Baru tahun 1982, Adam yang cuma bersenjatakan pisau dapur kecil menggorok banyak sekali orang. Di tahun itu, Adam yang berumur 22 tahun, sudah menggorok 70an orang. Tidak ada yang tahu seperti apa wajah Adam karena tak ada yang sempat melihatnya ketika ia bekerja. Semua orang cuma tahu, dia adalah suruhan koh Jimmy, pemimpin muda Triad.

Sebagai anggota Triad, Adam harus mau ditatto. Maka di ulang tahun ke 23, setelah Triad memenangkan perang gangster dan membuat sungai pasar baru menjadi merah pekat, Adam dilantik menjadi salah seorang boss. Ia meminta Tato harimau di tangan kanan dan naga di tangan kiri, sementara di dadanya, ia minta dibuatkan tato tikus yang melubangi jantungnya cuma buat bilang bahwa ia sudah tidak punya hati. Oh, dan shionyantikus.

Sayangnya, Adam mati ditembak bulan Agustus 1983, karena tatonya. Keresahan karena preman membuat pemerintah dan polisi mengurangi jumlah populasi preman, dengan menembak siapapun orang bertato di jalanan.

Adam ditembak ketika sedang pipis di sebuah gang di Kota, di sebuah sore ketika ia menunggu Azizah, pelacur Uzbekistan yang ingin ia kawini, untuk bangun dan bekerja. Azizah menemukan Adam sekarat di depan pintu belakang gedung diskotik tempat ia tinggal, membalik kepala Adam dengan kakinya, lalu menendangnya dan meludahi laki-laki kasar yang selalu memperkosanya hampir tiap malam, memintanya terus melawan dan tidak boleh diam, tapi begitu melawan ia dipukul, tidak melawan pun ia dipukul.

“Lu tahu di neraka pelacur diapain? Pelacur itu ditusuk pake besi panas dari memek sampe keluar di mulutnya.” Kata Adam sambil memasukan sebuah pentungan besi ke vagina Azizah yang sudah meringis dan menangis dan berteriak kesakitan.

Itu satu dari banyak siksaan Adam pada Azizah. Maka melihat Adam sekarat, Azizah mengambil sebuah batu semen dekat situ dan mulai memukul kepala Adam berkali-kali, lalu menginjaknya lagi, dan meludahinya. Di situ, Adam Sujanna yang legendaris mati, bukan karena peluru panas polisi, tapi karena kaki pelacur.

*

Adam bangun di sebuah kamar mewah, yang pernah ia lihat di film-film gangster Hollywood. Ia bangun dalam pakaian tidur dari sutra, dan menemukan di sebelah tempat tidurnya sudah ada minuman berbagai macam dari jus jeruk sampai minuman-minuman mahal beralkohol. Adam berpikir apakah ini mimpi.

Ia minum beberapa gelas cognac terenak yang pernah ia rasakan. Makan roti croissant yang begitu nikmat, dan ia mandi air panas di kamar mandi yang besar dan mewah berjacuzzi. Nikmat sekali. Apa ia ada di surga? Pikirnya.

Setelah mandi ia memilih pakaian di sebuah kamar ganti dengan lemari sangat besar berisi segala jenis pakaian mewah, setelan jas, sepatu-sepatu kulit. Ia ambil setrlan jas warna putih, seperti Al Pacino di film Scarface, pikirnya.

Ia keluar dari kamar itu dan menemukan sebuah lorong besar. Di sana Koh Jimmy berdiri menantinya.

“Yok kerja, Dam.” Kata Jimmy Chen. Adam jelas heran. “Lu tahu lu dimana?”

“Ini di surga ya?” Katanya setengah bercanda.

Jimmy tersenyum. “Kebalik. Ini di neraka. Dan gua asistenlu. Gue jadi Jimmy biar kita kerja akrab aja.”

Jimmy membawa Adam berjalan di lorong dan berhenti di sebuah pintu.

“Lu masuk, terus kerjain yang biasa lu kerjain. Kalo udah selesai, nanti pintu kebuka sendiri. Lu tahu kapan lu selesai. “

Jimmy membuka pintu dan Adam masuk ke dalam. Di dalam pintu ada banyak orang yang terikat sambil berdiri, ada juga yang terbalik, dan di samping setiap mereka ada alat-alat penyiksaan. Di ujung ruangan ia melihat orang yang ia kenal diikat juga, Azizah si pelacur. Ia tertawa.

Azizah kaget melihat Adam.

“Ya, Allah! Astaghfirullah. Kenapa aku di sini! Kenapa engkau sangat tidak adil ya Allah. Adam.. Mas Adam… Ampun… Kenapa mimpi buruk ini? “

Adam mengambil batangan besi dan membakarnya. Azizah berteriak keras sambil meraung-raung.

Tuhan tak kenal keadilan, itu konsep manusia. Tuhan di cerita ini lebih parah. Tuhan di cerita ini nurut pada netizen yang request cerita di instagram, tentang surga yang adalah neraka. Maka buat Azizah dan semua orang yang akan disiksa oleh malaikat baru bernama Adam Sujanna, kalian bisa salahkan Vifick Bolang, fotografer dengan ide gila. Selamat menikmati neraka surgawi kalian.

***

Website ini berjalan dengan donasi, tidak ada iklan pop up yang akan ganggu kalian. Jika kalian suka dengan tulisan di sini, traktir yang nulis kopi hari ini biar dia bisa tetap nulis sampai mati tanpa intervensi dan di neraka nanti dia jadi juru tulis biografi para pendosa. Klik tombol di bawah untuk traktir kopi, atau scan buat traktir gopay. Makasih udah baca sampe habis.

Atau scan ini:

Prosa, Tarung Rahwana

Tarung Rahwana (Part III)

RAMA
JIWA TAK LEBIH DARI PARASIT

“Gue mau nawarin elo kerjaan,” kata pemuda usia belasan bertubuh kekar itu kepada Rama ketika ia membereskan barang-barangnya di kamar ganti sebuah rumah mewah di Bintaro. Ia baru saja selesai bertarung di basement rumah itu, rumah milik seorang pemilik perusahaan minyak global. “Gue Robby,” kata anak lelaki berusia sekitar 20 tahun, berambut cepak dan berbadan agak gempal itu, seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

“Gue tahu lu siapa,” kata Rama. “Gue nggak tertarik jadi bodyguard lu di sekolah.”

Robby tertawa. Rama tersenyum tipis. Ia tahu kalau ada penonton yang terkagum padanya dan sedikit takut. Karena malam itu, Rama baru saja mematahkan rahang lawannya di dalam ring. Robby ada di bangku ekslusif bersama pemilik rumah, yang bisa melihat langsung pertarungan sekaligus ditonton para penonton. ‘Anak pak bos,’ pikir Rama.

“Anjing lo,” kata Robby. “Gue nggak butuh dilindungin. Gue serius nawarin lo kerjaan, jadi security acara bokap gue. Gue butuh orang kayak lo yang siap berantem tangan kosong kalau-kalau ada apa-apa. Gue bayar DP sekarang 20 juta, sisanya 30 juta setelah acara kelar. Dua hari di Karibia, sekalian lo liburan dari semua ini.”

Rama menutup retsleting di backpack berisi celana pertarungan, handuk berdarah dan P3K.

“Tanya manajer gue si Yuda.”

“Udah, dia bilang langsung ke elo aja.”

“Kapan?”

“Minggu depan lo jalan. Kalo lo tertarik gue kirim tiketnya.”

“Kenapa gue? Dan apa yang lo takutin bakal nyerang di pulau itu?”

“Ya karena lo jago lah. Ini pulau pribadi, harusnya sih ga ada apa-apa. Tapi ini pertemuan klub penting. Klub spiritual bokap. Isinya orang penting dan rahasia semua. Gue udah ngomong sama manajer tarung katanya elu juga orang yang banyak rahasia dan nggak banyak cincong. Cocoklah.”

Rama menghela nafas. Mungkin perlu juga istirahat dari semua ini.

“60 juta, DP 50 persen.” kata Rama.

“Deal.”

“Dan itu belum termasuk bagian si Yuda.”

*

Perjalanan ke Pulau St. Barthelemy memakan waktu seharian. Dari bandara Halim Perdana Kusuma, ada pesawat langsung ke St. Barth, perjalanan sekitar 16 jam. Setelah itu naik sebuah shuttle kecil selama dua jam dan sampai lah Rama ke villa yang dimaksud. Di atas gerbangnya tertulis, “Paradiso Perduto.”

Rama sampai di villa Perduto sendirian, karena Yuda tidak boleh ikut. Tiket hanya untuk mereka yang bekerja. Di villa, Rama disambut Albert, seorang kepala pelayan berkulit hitam yang langsung membawa Rama ke belakang rumah, menuju ke satu rumah untuk para pelayan dan para sekuriti, baik pegawai tetap ataupun pegawai sewaan. Tamu-tamu belum ada yang datang di villa itu.

Villa itu sangat luas, Rama dan Albert harus naik mobil golf menuju ke villa para pelayan. Sepanjang perjalanan, Rama melihat lapangan golf, taman, dan tempat landasan helikopter. Ya, tentu saja, para orang kaya ini tidak akan memakai pesawat komersil dan bersusah-susah transit dan ganti-ganti kendaraan.

“Mereka akan naik helikopter semua, pak Albert?” tanya Rama. Dalam hatinya ia bertanya, dari mana ia mulai bekerja, apakah semenjak orang-orang itu turun dari helikopter?

“Sekitar dua kilo dari sini,” kata Albert, “ada pangkalan untuk landasan pesawat jet pribadi. Kebanyakan akan dari situ. Landasan ini cuma untuk Pak Win, keluarga, dan… sahabat terdekat mereka.”

Pak Win adalah bapaknya si Robby, pemilik semua ini, termasuk rumah megah di Bintaro tempat Rama bertarung seminggu lalu.

Rama sampai di villa dan turun bersama Albert. Ia ditunjukkan ke sebuah kamar dengan empat tempat tidur bertingkat. Di kamar itu sudah ada tiga orang lain.

“Ini kamar untuk sekuriti bayaran.” Kata Albert. “Mari saya perkenalkan:

“Yang menjadi kepala sekuriti outsource ini adalah bu Annie,” ia menunjuk ke seorang perempuan yang berambut segi, dan bibir kiri atasnya berbekas luka seperti operasi sumbing. Wajahnya mirip dengan artis Indonesia lama, Yati Octavia, di masa mudanya. Ia memakai kaos abu-abu dengan celana pendek, sedang duduk di pinggir jendela sambil merokok.

“Dan seperti yang sudah saya brief sebelum-sebelum ini,” lanjut Abert,” yang boleh merokok di dalam villa pelayan ini hanya bu Annie.” Annie menghembuskan asap rokoknya ke luar jendela.

“Lalu ada Zack,” Albert menunjuk sebuah ranjang di kanan bawah, nampak seorang lelaki botak sedang tidur menghadap tembok. “Dia ahli senjata di sini, kamu bisa meminta senjata kepadanya nanti. Lemari senjata akan ditunjukkan nanti olehnya.”

“Dan ada Garcia,” kata Albert. “Garcia adalah ahli keamanan cyber, dan akan berkerja jadi koordinator komunikasi kalian di ruang kontrol. Selain kalian, kita juga punya 30 orang sekuriti pekerja tetap, kepalanya bernama pak Juan. Nanti malam ketika briefing kalian akan bertemu dia.” Garcia main HP di tempat tidur kiri atas, ia memakai headset dan tak menyadari kehadiran Rama dan pak Albert di situ.

“Semuanya, ini Rama. Dia bawaan tuan muda kita.”

“Silahkan jalan-jalan di sekitar villa ini, bawa selalu nametag ini supaya kamu tidak dikira penyusup.” Setelah memberikan nametag, Albert keluar dari kamar.

Rama menaruh ranselnya di tempat tidur.

“Laci kamu ada di nomor 4,” kata Annie dengan bahasa Indonesia tanpa melihat ke Rama, hanya menunjuk ke sebuah lemari besar dengan empat laci yang sudah dinomori.

Annie mematikan rokoknya. Ia mengambil sepatu lari dari bawah kursinya dan memakainya. Ia berdiri, tubuhnya kekar dan berisi, kausnya nampak kekecilan menunjukkan otot dan lekukan tubuhnya.

“Kamu bawa sepatu lari?”

“Nggak, mbak.” kata Rama sambil melihat sepati conversenya.

“Ya sudah, pakai saja sepatu itu. kalau kamu tidak bawa baju lain selain yang kamu pakai, temani saya lari sekarang saja.”

Rama bengong, Annie sudah beranjak keluar kamar, lalu kepalanya mendongak lagi ke dalam.

That’s an order. I need to brief you.

Rama menyusulnya.

**

Rama berlari di samping Annie dan ia merasa perempuan itu mengagumkan dalam cara yang lumayan mengerikan. Selain codet di bibir atasnya yang semakin dilihat dekat semakin terlihat bukan karena operasi sumbing tapi karena robek pertarungan, nafasnya ketika berlari sangat stabil. Sepatu kulit Rama sangat tidak nyaman untuk dipakai berlari, tapi ia tetap berusaha mengejar Annie.

“Saya minta pada Robby untuk dicarikan seorang petarung tangan kosong, ” kata Annie. “Kamu akan menyamar menjadi salah satu tamu. Tapi sebelumnya… “

Annie berhenti di sebuah lapangan rumput. “Buka sepatu dan pakaianmu, kita pemanasan sedikit.”

Rama melepas sepatunya, dan ketika ia memasang kuda-kuda, Tiba-tiba tendangan Annie mendarat di dadanya. Ia terlempar ke belakang namun secara refleks, membuat kuda-kuda hingga tidak jatuh. Ilmu pernafasan yang ia pelajari sejak umur 3 tahun tidak percuma: ia bisa membuat bagian tubuh manapun menjadi keras dengan oksigen dan udara, dan instingnya sudah terlatih mendeteksi serangan.

Tidak banyak omong, Annie langsung menyerang dengan kecepatan yang luar biasa. Dan tidak seperti film-film yang koreografinya jelas, pertarungan Annie dan Rama sangat brutal: banyak pukulan Annie yang masuk ke wajah dan tubuh Rama, dan seperti biasa, Rama tidak menyerang dulu sampai ia paham kelemahan lawan. Masalahnya, Rama tidak berhasil melihat kelemahan itu.

Rama berpikir, dengan serangan seintens ini, Annie akan lelah dengan sendirinya. Ia salah, sudah hampir lima menit, dan Annie sama sekali tidak mengurangi kecepatan dan kekuatannya. Rama melihat orang-orang mulai berkumpul melihat sparing mereka.

Setiap hantaman terasa begitu menyakitkan dan pada akhirnya Rama yang roboh. Rama heran, ia belum pernah roboh sebelumnya. Rama selalu berhasil bertahan dan menang karena stamuna dan endurance-nya yang luar biasa. Ia heran kenapa kali ini ia seperti lumpuh, tubuhnya tidak menurut. Ia tiba-tiba roboh tidak bisa bergerak, lalu dibopong ke kamar.

Ketika ia dibopong, Rama berpikir kenapa Annie, kepala keamanan acara ini, menyakitinya sedemikian rupa? Apa salah dia? Apakah ia hanya ingin dipermalukan?

“Don’t worry, bruh, ” Kata Garcia yang membopongnya. “It’s gonna get better. Trust me.”

Dan perlahan kesadaran Rama hilang, ia terlelap.

***

Rama bangun di tempat tidur bawah di kamarnya karena dengkuran seseorang. Zack, si ahli senjata tidur di atasnya. Sementara di tempat tidur lain ada Garcia di tempat tidur atas, sementara tempat tidur bawahnya kosong. Tempat tidur Annie.

Rama sudah lama sekali tidak tidur senyenyak itu. Tanpa mimpi, tanpa gangguan apapun. Dan ia bangun dengan sangat segar. Rasanya, tubuhnua ringan sekali. Tapi ia bau, dan ia tidak suka bau. Ia bangun dan mengambil handuk di tasnya lalu beranjak ke kamar mandi.

Di kamar mandi yang besar dengan barisan shower itu, air hangat mengucur mengaliri tubuh Rama dan kulit gelapnya. Rama memperhatikan bekas-bekas pukulan Annie yang anehnya ada di titik-titik tertentu di dada kiri, kanan, tengah, punggung, kaki bagian belakang, tengkuk. Ia teman-teman bagian dengan darah beku itu dan tidak terasa sakit sama sekali. Ia seperti habis diterapi.

“Aliran Chi kamu banyak penyumbatan, ” Suara perempuan terdengar diantara uap-uap air. Annie masuk dengan tubuhnya yang kekar dan telanjang. Ada bekas-bekas luka di sekujur tubuhnya. “Jangan pernah membiarkan luka membusuk terlalu lama.”

Annie mandi dengan cuek di sebelah Rama, seperti dia tidak ada. Setelah apa yang terjadi, Rama tidak berani melihat kepadanya. “Apa yang kamu lakukan padaku tadi?” Tanya Rama.

“Aku nggak mau mempertaruhkan nyawaku sama orang sakit. Paling nggak, sekarang urusanmu tinggal trauma mental saja. Fisik sudah kubereskan. “

Ia selesai mandi dengan cepat dan pergi begitu saja, meninggalkan Rama di kamar mandi, dalam ereksi.

Bersambung…

Jika kamu suka yang kamu baca, boleh traktir saya kopi biar saya tetap semangat menulis dan bisa menyelesaikan cerita ini.

Moral Bengkok, Prosa

Elegi & Selebrasi Kota Pandemi

Sebuah cerita berantai dari MalesBelajar Group, bagian Malesbaca Podcast.

Jalanan Jakarta akhirnya mulai sepi, setelah orang-orang pada mati. Harus banyak tragedi untuk mengerti, bahwa segala yang terjadi bukan lagi teka-teki. Jelas sudah, semua ini takkan pernah sama lagi. 

Sebagian orang berkabung tak berujung, misalnya, mereka yang takkan pernah sempat lagi memanggil “Ayah” atau “Bunda” kepada setiap wajah yang terlalu sibuk menyelamatkan, sampai tak sempat menjeda atau kembali pada anak-anaknya. Tapi, untuk setiap elegi, selalu hadir selebrasi tersembunyi. “Tahun depan kita nikah ya, istri dan anakku sudah dikubur di Rorotan tadi pagi,” kata seorang lelaki pada kasihnya di video call. 

Namun bagi mereka yang ditinggalkan, semua hancur sudah, tak ada kesempatan. Hanya kata ‘seandainya’ yang sudah tak bermakna apapun lagi di situasi ini. Luka-luka yang tak terlihat hanya bisa dirasakan perih pedih, air mata saja bahkan tak bisa menggantikan sakitnya. 

Dan untuk mereka yang bertahan di tengah kemelut sunyi, di bawah lampu merah hidup terus berjalan. Rudi, misalnya. Ia adalah pedagang kemoceng dadakan. Baru kemarin lusa ia diusir dari perempatan – dua kilometer arah ke kota. Mobil sebesar rumah dan tameng sebesar pintu menepuk pundaknya, meminta lahan dia sehari-hari berjualan untuk dijadikan salah satu titik pertahanan. 

“Apakah tempat tinggal orang-orang makin kotor karena semakin dihuni, ya?” 

Satu dari sekian banyak pikiran yang dipersilahkan Rudi berdesir sembari ia menunggu lampu kembali merah.

Sementara di bawah lampu merah, tikus got hingga tikus dalam rumah megah, semua ketakutan. Sang tudung hitam membawa sabit berkeliling melaksanakan tugasnya, menghabisi mereka yang memang sudah waktunya. Di hari-hari ini, ia pun lelah bekerja.

Mau di got ataupun istana, mau bodoh ataupun pintar, mau pelacur ataupun pelanggan, kita semua hanya tikus yang menunggu giliran: untuk kerja, kawin, beranakpinak, dan hari ini, jadi eksperimen test reaktif-nonreaktif; positif-negatif, dan berbagai macam vaksin.

Ada sampel darah yang tercecer pecah, di jalan, di rumah ibadah. Orang-orang sibuk, mencoba menyeka yang bisa mereka seka. Namun apa yang lebih sia-sia dari merasa bisa? Arogan.

Di sayup raung ambulan, ada bocah yang duduk tenang menonton televisi. Ia memicing mata, meyakinkan diri kalau wajah yang asik berbicara dalam layar pernah ia temui sebelumnya.

“Buk, itu bosnya Bapak kan?” 

Ibunya tidak menjawab, namun matanya sembab.

“Buk, Ibuk kenapa?”

Mata ibu nanar. Ada hal-hal yang tak ingin ia beritahu kepada Rico, anaknya. 

“Yang mencintai saya duduk sendiri menjelang pukul dua belas malam di ruang tamu.” Katanya hantu itu memperhatikan kekasihnya.

“Ia lelah, namun waktu begini bukan lagi hal yang bisa sering ia nikmati. Galau. Begitu tebal. Begitu khas masa muda. Tidur boleh menunggunya beberapa jenak lagi.” 

“Saya memandangnya dari tempat gelap di luar jendela sejak pukul delapan. Satu jam sebelum anak pertamanya Rico tertidur, satu setengah jam sebelum anak keduanya, Sheila, yang berumur setengah tahun terbangun dan menangis selama setengah jam.” 

“Kini semua telah tertidur, begitu pula Henry, bayi besar yang ia nikahi tiga tahun lalu, yang membelikannya gawai yang tengah kugenggam ini sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke 27 tahun.” 

“Ucapan inalillahi berkali-kali menggetarkan gawai yang kucuri ini. Kabar tentang kematianku tak boleh menunda tidurnya lagi. Mencuri gawai semalaman takkan menjadikanku pencuri. Lagi pula siapa yang mau mengadili hantu? Hantu baru sepertiku pula.”

Si hantu mencuri gawai kekasihnya. 

Ibu tak akan pernah lagi mau melihat gawainya pula. Sebuah pencurian langsung gagal, ketika pemiik barang sudah tak sudi melihat barang yang tercuri. Ibu terus menatap nanar ke arah televisi–bukan, ke sesuatu yang jauh, seperti menembus televisi, tembok, perkampungan dan beton-beton Jakarta.

Setiap kali wajah ibu tengadah, langit mendunglah yang ia lihat.  Saat itu Desember dan hujan selalu turun dengan deras.  Di mana-mana kau bisa melihat air.  Jika sedang tidak hujan, air menggenang di  mana-mana.  Jalanan becek, lumpur dan sampah yang terbawa air saat hujan adalah pemandangan khas Jakarta musim hujan. 

Di sela jalan layang jalin-terjalin, ia melihat wajah-wajah lusuh berburu recehan dari para pengendara motor di lampu merah. Dari bangku rumahnya, ia menatap wajah seorang pria di bawah jembatan layang.

Sudah delapan bulan ini pria itu kehilangan pekerjaan. Sebelumnya ia adalah kru panggung yang terbiasa keliling Indonesia bersama para musisi papan atas Indonesia. Sebelumnya uang nafkah selalu cukup untuk dia dan keluarganya; cukup satu kabar untuk mengakhiri semua itu, “pandemi.”

“Ya mau bagaimana lagi?” si pria itu bicara dengan matanya. “Memang semua jiwa sedang sedih. Entah yang masih punya badan atau sudah terpisah. Tapi baguslah, karena hampir semua cerita berakhir sendiri atau melankoli.” 

Sambil bernyanyi dengan suara serak, hati kecil pria itu terus bertanya, “Kenapa tidak gila saja?”

Ia menginginkan kegilaan, agar bisa melupakan rentetan kata yang tak berujung, dan mampu merekah angan bagai setan yang membangkang. Meludahi tuhannya, meraih kebebasan seperti apa yang semua orang sedang perjuangkan. Orang gila tidak bersedih, hanya sakit atau mati.

Tapi pria itu punya dua anak dan seorang istri yang sakit di rumah. Dan mereka bertiga belum gila, dan sayangnya… belum mati juga. Kalau salah satu dari mereka mati, ia mungkin bisa mendapatkan cita-citanya untuk jadi gila. 

BERSAMBUNG…

Penulis:
Nosa Normanda
Lidya Sihombing
Dinda Suci Lestari
Avigayil Enautozoe
Rafi Abdurrahman
Adinegoro Natsir
Rangga Dewanto
Rachman Muchlas
Rozaq Ariwahyono