Uncategorized

Retrospeksi Kekerasan Pada Anak

Selamat Hari Anak Nasional, Selamat Berkabung.

avatar C.SasmitaHer Schizophrenic Diary

Belum hilang dalam benak kita kasus pelecehan seksual yang dialami oleh seorang anak JIS (Jakarta International School), kemudian berita yang sama dimana cukup menghebohkan terjadi juga di Sukabumi oleh Emon seorang pedofilia dengan korban anak-anak hingga mencapai 140 orang, dan kini korban kekerasan dan pembunuhan Angeline yang menorehkan luka yang cukup dalam bagi masyarakat Bali karena adanya ketamakan dan tidak ada sikap tanggung jawab dari oknum-oknum terkait dan orang disekitarnya. Akankah kita tetap diam ketika menyadari dan menyaksikan mental barbar terjadi dilingkungan sekitar kita?

Barangkali ada banyak sekali kasus kekerasan, pelecehan, dan pembunuhan pada anak yang tidak terekspose media. Berdasarkan data Komnas Perlindungan Anak , kekerasan yang terjadi pada anak-anak meningkat jumlahnya dari tahun ke tahun. Dalam setahun angka kenaikannya bisa mencapai lebih dari 100 kasus dengan mayoritas diantaranya adalah kejahatan dalam bentuk pelecehan seksual seperti sodomi, pemerkosaan, pencabulan serta inses. Tentu data-data tersebut tidak hanya menandakan terkikisnya rasa kemanusiaan…

Lihat pos aslinya 803 kata lagi

Perlawanan, Puisi

Bapak Kami di Neraka

Aebaes and the Sybil in Hades by Jan Brueghelil Vecchio
Aebaes and the Sybil in Hades by Jan Brueghelil Vecchio

Bapak kami di neraka

Bahasa warisan bapak
Benar salah baik buruk
Dicetak di dalam otak
Semenjak kanak-kanak.

Bapak yang mengatur
semua cara tutur
kalau kita melantur
bapakkah yang ngawur?

Kita tidak boleh membaca
semua yang menentang kuasa
Kalau kritik bicara
kita akan binasa

Bapak atur wacana
sensor dan penerangan
kotor dalam kegelapan
akal sumber bencana

Hari ini semua meradang meledak
kabar prematur dimatangkan media
dibesarkan massa dalam teriak serak
“Kami benci mereka yang berbeda!”

Bapak!
Kami yang durhaka sudah menurunkanmu
menghina-hinamu, membebaskan diri darimu
kau sudah dikubur dalam candi
yang diam-diam kami ludahi

Tapi kenapa bapak tak mati-mati!?

Di tanganmu darah kami bergelimpangan
bibir, dan telinga kami kau jadikan hiasan
lidah kami kau jejalkan pada aspal jalanan
mata kami melotot di propaganda dingin

Di dinding-dinding tercoret mural sejarah
yang kau tutup dengan cat cairan muntah
membusuk jeroan-jeroan mayat membuncah
mahasiswa, aktifis, komunis, penyair, bocah-bocah
generasi hijau hitam putih biru ungu dan merah!

Semua sudah kau buat menjadi anakmu yang durhaka!

Tapi kami tak juga bebas dari bahasamu, dari senyumanmu
dari kebencian yang kau tanamkan pada kami demi kau!

Bapak kami di neraka,

Ampuni kami bebaskan kami dari kedengkian
dan kebencian dan sayangi kami dengan semestinya
dengan sederhana, dengan segala kasih dan sepatutnya
seorang bapak melepaskan anak bujangnya berkelana

Biarkan kami dewasa
Bawalah perangmu ke alam baka