Memoir, Racauan, Uncategorized

Apathy for a Young(er) Age

Being old and lazy is a new hobby for me. I like to lay around on bed all day, with soothing therapeutic oil, Vicks inhaler while reading books or playing games in my phone. It’s heaven to be lazy.

This could be my depression. Not caring at all of what’s going on the world outside. No social media, chat apps, no interaction. So free. So unproductive. Such a privilige, draining savings for such a life consummation.

The only time to move is when eating, peeing, and shitting. I could do this for days. Getting fat and ugly with indifference. Am I happy? Sad? I don’t know. I just know that I am alive. And I am wasting time. I am letting it pass hoping that when I get drowsy, I wouldn’t wake up anymore.

Sometimes I do feel restless, even when I’m resting. Like there’s a nerve that needed to move. To work. But then, I took my pills and go down again. Awake. Asleep. And again. And again.

So during my days of depression, I tried my best to write my feelings in a journal, it has to be handwritten, and also I tried my best to have basic function in life, create a routine that doesn’t need perfection. Just enough to keep me going. I found expressive writing to be a truly amazing tools, especially in finding a my red flag. I found my red flag when people started to see me too loud or too emotional. I withdraw for a moment to breath out. Finish the work for the day and lock myself in my room having me time which was doing nothing.

I always managed to work again everytime because I’ve got responsibilities. I’ve got mouths to feed, including myself. So I woke up, have some coffee and cigs, and I work like a robot. I work on anything, I sell stuff online or simply writing, if there are no classes or shooting. My aim is not perfection. Just function.

At the end, being like a robot is the only way to be human. Fake it till I make it is a great motto, because to make it doesnt have to be perfect and being imperfect is being human.

***

If you like this writing and you live in Indonesia, please do treat me some coffee so I can keep on writing my own thoughts in my own space. Feel free to donate by clicking the button below, or scan the Gopay QR code. Thanks for reading!

Eksistensialisme, English, Puisi, Uncategorized

Beth The Sheathmaker

In every end of a wrath
Lives a woman named Beth
One night she carved a sheath
From skins and strings of death

The killers wait outside her garden
With a rusted sword held by a maiden

“Full moon is upon us,”
Said the maiden in a lamenting song
“Lateness is disastrous
For the sword needs to belong. “

‘Tis the sword of jade
Rusted with stains of blood
A natural poisoned blade
And human flesh, its food

And from its recent victims
The heathens the people claims
A new cover must be woven
Before the sword get awaken

But see, dear Beth is too old
For milleniums her story has been told
It’s even hard for her to fold
A sheath to shield she cannot mold

Full moon started to bleed
The sword begins to feed
On those who says they need
To kill because of greed

Beth survives the dreadful mess
She has made an awful dress
The remnants that she caress
Have now become her fortress


Memoir, Politik, Racauan, Uncategorized

Kepakaran

Pesanan Ervin Ruhlelana

Waktu di Amerika, saya pernah datang ke sebuah seminar yang membahas soal politisi dan teknokrasi di Indonesia. Para mahasiswa Indonesia yang kuliah di Amerika mengkritik kebijakan SBY yang menempatkan wakil menteri yang teknokrat (atau pakar) untuk menyeimbangkan menteri yang posisinya didapat karena politik bagi-bagi kue partai Demokrat.

Teknokrat dianggap lebih mampu untuk menduduki posisi menteri daripada politisi. Padahal banyak juga di rezim-rezim sebelumnya, ketika teknokrat, para pakar, yang lulus dari luar negeri sampai jenjang Profesor, tidak berhasil membuat kebijakan yang mumpuni. Kebanyakan karena kepakaran mereka tidak memiliki elemen kepemimpinan secara politik yang mampu membuat kebijakan mereka dijalankan dengan baik.

Saya ingat sebuah tulisan berjudul anti-political machine, yang bicara tentang pembangunan di Lesotho, Afrika, yang beranggapan bahwa teknokrat atau para ahli bisa menyelesaikan masalah keterbelakangan budaya yang pada akhirnya berujung menjadi perang saudara di negara itu. Perang diantara gedung-gedung yang baru dibangun atas prakarsa bank dunia dan PBB.

Atau kebijakan pakar sanitasi dari korporat untuk memberikan sabun ke masyarakat pedalaman Papua, karena menanggap bahwa mereka suka mandi lumpur dan itu kotor, berujung pada wabah malaria yang membunuh ratusan orang. Mandi lumpur ternyata berguna untuk mencegah digigit nyamuk.

Pakar, teknokrat, ahli, yang diberi kuasa politis tanpa kajian mendalam dan interdisipliner bisa membuat kekacauan parah. Politikus rakus, lebih parah lagi. Sementara itu, netizen yang bicara seakan-akan mereka pakar, cuma anjing menggonggong. Kafilah pun akan tetap berlalu.

Tapi, hari ini semua orang bisa jadi pakar yang sesungguhnya, karena adanya internet. Ketika ini terjadi, maka harga pakar jadi jatuh, dan semua orang tidak lagi istimewa ketika melihat bahwa skill mereka akan dengan mudah dikuasai orang lain. Namun harga atau nilai adalah sebuah konsensus, dan manusia bisa melawan untuk tidak menjadi komoditas semata yang harganya ditentukan supply chain.

Caranya saya sudah paparkan dalam microblogging saya beberapa minggu lalu soal irrelevansi. Bahwasannya manusia harus membuat identitasnya sendiri dulu dari jejaring sosial dan politiknya, yang tak mungkin tergantikan oleh skill. Terlebih lagi perlu adaptasi dalam sebuah kerjasama, yang membuat ganti orang baru jadi tidak mudah. Kita cuma harus menjaga performa kita, agar tidak turun supaya kepercayaan dengan kawan-kawan sekolaborasi tetap terjaga.

Saatnya menjadi Pakar dalam berteman. Tidak ada google atau youtube yang bisa mengajarkan itu, tanpa jadi cliche sotoy seperti video di bawah ini.

Film, Kurasi/Kritik, Uncategorized

Laut dan Daratan: Keterasingan Perempuan dalam Film Mudik

Pertama kali diterbitkan di website voxpop.id dengan judul:

Film Mudik yang bukan Sekedar Perjalanan Pulang Kampung.

Ini permasalahan besar budaya patriarki yang bertabrakan dengan kepentingan kapitalisme: dimana menempatkan perempuan di masa modern, dimana tenaga dan pikiran mereka, memanusiakan mereka, dibutuhkan dalam dunia kerja?

Sudah banyak usaha yang dilakukan untuk menempatkan perempuan sebagai makhluk berpikir nomor dua; manusia yang tidak lengkap. Dari agama, hukum, ekonomi, politik dan aturan sosial, perempuan dilabeli ‘kodrat’ bahwa secara lahiriah mereka harus ikut (struktur) lelaki. Namun kepatuhan total kaum hawa semacam itu punya harga tinggi: cuma negara-negara penghasil minyak, misalnya, yang mampu untuk menekan perempuan sedemikian rupa, menyekapnya di rumah, menutupi tubuhnya, dan menjadikannya komoditas. Perempuan bisa direndahkan sedemikian rupa, karena tenaga dan pikiran mereka tidak dibutuhkan. Sementara itu negara-negara dengan diversifikasi ekonomi yang membutuhkan tenaga kerja, tenaga ahli, dan mengikuti persaingan global, butuh perempuan untuk menjadi manusia utuh. Dengan itu, perempuan jadi punya kuasa dan lelaki yang tak mampu bersaing jadi ‘terkebiri’ karena harus menerima sebuah fakta bahwa pasangan heteronormatifnya bisa ada di atas dia dalam banyak hal. 

Dikebiri adalah ketakutan utama banyak lelaki. Falus menjadi simbol utama kekuasaan, Pen, pena, penis menulis history, his story, ceritanya laki-laki. Lelaki tanpa penis, adalah lelaki yang tidak bisa menulis cerita, dan karenanya menjadi irelevan. Dan seperti kata Yuval Noah Harrari dalam buku 21 Lessons for the 21th Century (2018), ketakutan utama manusia adalah menjadi irelevan, tidak berguna, tidak bermakna. Dan perempuan-perempuan yang mampu membuat lelaki kehilangan penisnya, adalah simbol ketakutan-ketakutan itu. Dari Medusa sampai Kuntilanak, dari Mary Wollstonecraft sampai Kartini, perempuan yang punya kuasa, punya pena, punya cerita, menempatkan lelaki dalam posisi yang relevansinya diragukan. 

Kepala Medusa harus dipenggal; kepala Kuntilanak atau Sundelbolong harus dipaku; Mary Wollstonecraft, feminis pionir itu, harus dirusak namanya dengan buku Memoir yang ditulis suaminya, William Godwin, setelah kematiannya; dan Kartini harus jadi istri keempat dan meninggal empat hari setelah melahirkan di usia 25 tahun. Perempuan yang punya cerita, punya kuasa, dan mampu mengebiri laki-laki dalam budaya patriarki harus diasingkan karena bisa mengganggu struktur budaya dan cerita yang sudah terbangun tentang kekuasaan dan keperkasaan lelaki. Dalam psikonalisis, keadaan keterasingan semacam ini disebut abjection, dan keadaan ini sangatlah ditakuti. Perempuan yang memendam kemarahan, dan punya kuasa untuk melawan kalau ia mau, adalah suatu hal yang horor, kata kritikus film Barbara Creed dalam buku The Monstrous Feminine (1993).

Dalam film Mudik besutan sutradara Adriyanto Dewo, tokoh Aida (Putri Ayudya) adalah perempuan dalam kondisi abjeksi tersebut. Ia adalah perempuan kota yang mampu mencari uang dan independen, ia bisa mengemudi, dan di saat yang sama ia adalah perempuan yang tidak sesuai dengan kodrat yang dibutuhkan struktur patriarki: ia tidak bisa punya anak. Sementara itu Firman (Ibnu Jamil) diam-diam sudah bersiap untuk menikah lagi dengan dukungan keluarganya. Keluarga mewakili sebuah struktur masyarakat yang mengijinkan poligami sebagai bagian dari usaha reproduksi, sementara Firman sendiri nampak tidak memiliki kemampuan finansial sebaik Aida, dan karenanya merasa ‘terkebiri.’

Perawan tua dan perempuan mandul adalah dua contoh abjeksi paling nyata dalam budaya patriarki. Sejak adegan awal film Mudik, tensi dan emosi yang tegang antara sepasang suami istri ini terus meruncing, hingga Aida menabrak Sugeng, seorang suami yang hendak pulang kampung. Maka Aida dan Firman dibawa ke sebuah konteks yang paling sering menjadi setting horor di film Indonesia: kampung dan orang-orang kampung. Persepsi dan bias kota ini sudah wajar kita lihat dalam film-film yang dibuat sineas urban: Perempuan Tanah Jahanam (2019) dari Joko Anwar menempatkan orang kampung sebagai para penjahat pemuja dukun yang sadis. Lampor (2019) karya Guntur Soeharjanto memperlihatkan orang kampung sebagai orang-orang yang percaya takhyul, penuh kelicikan dan konflik seksual. Mudik memiliki perspektif yang sama tentang orang desa: para lelaki picik yang memeras orang kota demi uang, dan para patriark yang memaksa janda dari korban tabrak lari untuk diam saja. 

Dunia perempuan dalam dunia laki-laki, seperti pepatah lama, ada di dapur-sumur-kasur. Begitulah dunia Santi (Asmara Abigail), janda dari lelaki yang ditabrak Aida. Namun Santi memiliki rahasia yang berbahaya. Ketika ditinggal lama oleh suaminya, ia memutuskan untuk selingkuh dengan Agus (Yoga Pratama) hingga hamil. Kecelakaan yang menimpa suaminya adalah tiket untuk Santi keluar dari kampungnya dan membina hidup baru bersama Agus dan Gendis, anaknya dengan almarhum Sugeng. Ia tidak bisa tinggal di kampung itu karena takut tentang apa yang akan dilakukan warga kampung kepadanya, jika mereka tahu ia hamil tanpa pernah disentuh suami yang belum sempat pulang selama bertahun-tahun. 

Santi adalah cerminan Aida: ketika Santi dengan mudah hamil, Aida tidak bisa punya anak. Ketika Santi mengorbankan rumah tangga dengan perselingkuhan, Aida berusaha mempertahankan rumah tangga yang sudah di ambang kehancuran. Santi tidak punya kekuatan untuk keluar dari struktur sosialnya, Aida selalu punya pilihan untuk meninggalkan Firman tapi tidak pernah diambilnya. Pada akhir film, kita melihat dua perempuan mengambil keputusan dengan ekstrim yang berbeda: Santi memutuskan untuk tinggal bersama Agus di kampung orang tuanya; sementara Aida meninggalkan Firman dengan cara yang puitik dan simbolik: berjalan ke pantai. 

Dunia Santi lebih solid. Dari kampung ia pindah ke kampung lain. Dari satu lelaki, ia pindah ke lelaki lain. Sementara dunia Aida adalah dunia liminal. Liminalitas berarti dunia antara yang seringkali menyakitkan dan penuh kebingungan, seperti seorang mahasiswa yang mengerjakan skripsi untuk diwisuda, atau seorang perawan yang dipingit untuk menikah, atau seorang Sparta yang dibuang ke hutan untuk menjadi lelaki sejati. Sebuah ritual menuju ke kedewasaan. Setelah melewati dunia liminal, seorang manusia akan mengalami perubahan status: dari bujang dan perawan menjadi suami dan istri, dari mahasiswa menjadi sarjana, dan dari remaja menjadi dewasa. 

Dunia liminalitas Aida ini digambarkan secara konsisten dari awal film. Dimulai dari Aida yang sendirian di rumah susun, mengepak barang untuk pergi mudik, hingga di mobil ketika ia bergantian menyetir bersama Firman. Selama di mobil, Aida bukan hanya mengendarai mobil itu tapi juga mengendalikan narasi. Ia yang membuat Firman memutuskan untuk putar balik dan bertanggung jawab karena menabrak orang. Namun ketika keluar mobil, dunia berubah menjadi dunia lelaki. Semua perhatian terpusat kepada Firman, sebagai seorang suami. Dan Firman, dengan segala daya upaya untuk menjadi egois, selalu membuat pilihan pragmatis yang salah, dari salah omong kepada warga, hingga salah menyogok polisi. Pada akhirnya Aida juga yang menyelesaikan masalah, dan kembali Firman mengikuti kehendak Aida untuk membawa Santi dan Agus pergi dari kampung itu. Firman sudah terkebiri.

Namun bukan hanya Aida yang ada di dalam konteks liminal. Firman pun begitu ketika ia harus pulang kampung dan mendapat restu untuk menikah lagi. Di akhir film, Firman dan Aida berjalan di dunia luar, di sebuah gurun pasir dimana orang-orang sedang salat Ied. Mereka berdua terasing dalam hari yang fitri. Mereka menjadi hantu di antara para warga yang lalu lalang. Santi memeluk Aida sebagai rasa terima kasih, dan Aida memilih untuk pergi meninggalkan Firman, melewati hutan menuju ke pantai. Shot terakhir film menunjukkan hutan dan pantai, sebuah dunia antara pula.

Aida ditolak oleh struktur patriarki sebagai seorang perempuan mandul. Dan keputusan Firman untuk menikah lagi, membuat Aida tertolak untuk kedua kalinya. Ia terpinggirkan, dan perjalanan dari hutan menuju pantai menunjukkan hal itu, perempuan yang terasing ke pinggir. Sementara itu Santi tetap ada di struktur yang mengekangnya dengan cara yang baru. Ketidakberdayaannya sebagai seorang perempuan yang tergantung lelaki dan subur, membuatnya tetap pas di konteks semacam itu. 

Pada akhirnya kita bisa melihat keterasingan perempuan dari dua sisi. Kita bisa melihat keterasingan dalam struktur yang dialami oleh Santi, atau keterasingan di luar struktur seperti yang dialami Aida. Keduanya sama terasing, dalam sebuah cermin. Dan pilihan Santi dan Aida adalah pilihan semua perempuan hari ini: terasing di dalam sistem sebagai istri dan ibu yang terkungkung dan tergantung lelaki; atau terasing di luar sistem sebagai perempuan mandul, independen, dan selibat.