English, Filsafat, Memoir, Racauan, Uncategorized

Detecting Fuckers

y’ know how to detect sad people from the social media? If some people are expressing their sadness, like losing a loved one, or getting suicidal, or saying a prayer to God to give them strength in facing problems, they are not sad enough. The saddest and most melancholic people are those who throw off motivational quotes to be happy and good and jolly, that encourage positive thinking in every situations. Those who tells you to take positive attitude toward bad things and double positive towards good things. Why? Because they’re in a fucking denial. Everybody knows things are bad, and that good things wont last. Bad things last longer that’s why there are some good things. And the more you feel good about something, the worst you feel when it fucking ends. Some good things and happy moments do exist, but those are just a glimpse in life, like your mother’s orgasm to your dad.

So those encouraging stuff that they posted, are like fucking fake orgasm. You don’t get to be happy, but you go on. That’s life. Like Rocky Balboa said, its not a matter of winning or losing, its a matter of how many hits you can take. Faking it wont make it less hurtful.

People might say I’m bitter. But who is more bitter: people who says the storm will pass and the sun will shine again, only to find a drought after the flood; or people like me who cries and scream to the rain, and cursing the corporations in creating global fucking warming when the sun comes out not in time?

So next time you see people posting motivational quotes, tell ’em to wake the fuck up. Tell ’em there’s a big difference between optimism and fake orgasm. They won’t please themselves by thinking happy thoughts when things are bad. Tell ’em to be genuine, smoke some pot for God sake! Jerk off! Anything to make you accept the pain and fucking fight it off. You ain’t gonna be happy for long if you overcome that problem with positivity. Overcome it like cum: lubricate yourself with blood and tears, and give a fuck to things that matters and don’t give a fuck to things that doesn’t.

Kurasi/Kritik, Teater, Uncategorized

Perang Kelas dalam Pementasan Teater Pandora, “K”

Menulis review teater sambil menonton teater, laporan langsung dari pementasan “K” oleh Teater Pandora adalah pengalaman pertama buat saya. Daripada live feed, saya lebih konservatif: bikin esei kilat.

Sejak awal, dengan tergantungnya poster film Reservoir Dogs di dinding di dalam kafe tempat drama penyanderaan berlangsung, lalu para aktor masuk ke panggung, kita ‘hendak’ dibawa ke dunia film kriminal/gangster Hollywood. Rasa Tarantino atau Francis Coppola hadir sekali di pementasan ini. Dialog – dialog comotan drama barat, karakter -karakter serasa film Scarface, tetapi dalam sebuah konsep permainan ruang yang durhaka terhadap konteks: karena di pementasan ini, langit (baca: barat) dijinjing, bumi tidak mau dipijak. Dan kalau bumi tidak mau dipijak, bumi akan melawan.

Saya yang menonton paham masalah permainan ruang. Tapi pementasan yang dilakukan di halaman kafe, seharusnya tidak lupa pada konteks kelas. Ada perseteruan kelas yang sangat parah dalam pementasan ini yang harus kita semua renungkan, khususnya soal Teater Indonesia, bukan hanya soal Teater Pandora. Selama pementasan, ada pertunjukkan lain yang bergema di luar pagar: ondel-ondel dan gerobak dangdut. Pementasan yang tiketnya cenderung mahal (300 ribu rupiah) ini tidak bisa mensterilkan venue dari kecoak-kecoak proletar di luar sana. Sama seperti Jazz gunung yang tiketnya bisa jutaan rupiah, tapi tidak bisa tidak mendengar Jazz tanpa iringan musik reok di luar venue. Salah siapa ini?

Sebagai seorang hipokrit yang kekiri-kirian tapi suka barang-barang mahal, saya bilang ya salah pengampu pementasan! Ada sebuah krisis identitas yang terjadi di banyak Teater Indonesia, yaitu bentuknya guyub, gayanya borjuis. Kita harusnya belajar pada menir-menir Belanda (atau bupati/pejabat desa) yang suka panggil Teater Rakyat main di halaman rumah, dan membiarkan kaum papa ikut menonton gratis.

Sementara, ketika Teater Pandora berusaha bermain ruang, ia mengajak perang pertunjukkan lokal seperti Ondel-ondel atau Gerobak dangdut dalam perebutan ruang publik. Apa lagi ketika konsepnya Teater Barat, kontrasnya jadi begitu terasa. Perebutan ruang ini bisa saja dihindari kalau saja pementasan ini ber konteks Indonesia, sebuah perampokan dan penyanderaan dimana para penonton adalah bystander, dan ondel-ondel serta gerobak dangdut yang lewat menjadi bagian konteks yang disyukuri ketika ada, dan tidak mengganggu ketika tiada.

Sayangnya itu tidak terjadi. Seperti film atau serial kriminal Indonesia macam Brata, yang polisi dan penjahatnya gaya Hollywood, pementasan ini pun gagal total memberi imajinasi baru bagi identitas penontonnya secara khusus dan Indonesia secara umum.

Namun, kita harus (selalu) menghargai hasil kerja keras Seniman kita, khususnya yang kita bisa merasakan kerja keras itu. Bagaimanapun, sangat terasa pementasan ini adalah hasil kerja keras. Dan salah konteks pementasan ini, adalah salah kebanyakan kita di kota yang kurang dekat dengan rakyat di luar gedung pertunjukkan.

Kudos.