Moral Bengkok, Prosa

Stephanie

Seorang yang jangkung berdiri di bawah pohon beringin pada sore ungu itu. Pakaiannya rapih, dengan jas dan celana panjang abu-abu, kemeja putih dan dasi hitam. Sepatu kulit hitamnya mengkilap tersemir dengan baik dan dengan diam ia memandang ke arah anak-anak yang sedang bermain di taman kota itu.

Stephanie, seorang perempuan berusia 45 tahun, sedang membaca sebuah novel karangan Henry Miller di bangku taman, dan ia melihat si jangkung berdiri bagai patung. Orang itu ada di sana sejak sebelum Stephanie tiba, dan ketika satu bab setengah selesai ia baca, si jangkung masih di sana. Berdiri. Sendiri. Mematung. Memandang ke arah anak-anak.

Stephanie berpikir, apakah dia seorang pedofil?

Ketika langit mulai gelap, anak-anak pulang ke rumah masing- masing Beberapa dijemput orang tua mereka. Namun si jangkung tidak bergeming, ia masih berdiri, sendiri, di bawah pohon beringin di tepi taman itu, melihat ke arah taman bermain yang kini kosong.

Stephanie berdiri dari bangkunya lalu hendak berjalan pulang. Taman sudah sangat sepi, dan langit semakin mendung. Stephanie melihat jam di tangannya, pukul 5:25 sore. Namun begitu ia menjejakkan kaki ke luar taman, tiba-tiba sore menjadi malam.

Stephanie tak tahu, apa yang membuat bulu kuduknya tiba-tiba merinding dan menoleh ke belakang: orang jangkung itu berjalan tepat di belakangnya. Ini tidak baik, memang si jangkung masih jauh, tapi ada rasa takut yang amat sangat karena diikuti orang asing yang mencurigakan.

Tenang, katanya di dalam hati. Ia akan melewatimu begitu saja. Kau harus tenang.

Tiba-tiba ia mendengar tapak yang keras, ia menoleh ke belakang dan si jangkung berlari dengan sangat cepat ke arahnya, matanya melotot dan ia berteriak:

“AAAAARRRGHHHHHH!!!”

Stephanie sontak kaget dan berlari. Ia berlari sekencang-kencangnya. Ia sangat takut. Ia tahu ia tak mungkin lari dari orang sejangkung itu, kakinya pasti panjang, sementara Stephani bertubuh gempal dan berat.

*

Suaminya meninggalkannya dua tahun lalu, dan ia hanya tinggal berdua dengan anjingnya, Motty, yang mati tua lima minggu lalu. Ia sedih, depresi dan ingin bunuh diri. Ia tidak pernah bisa tidur tanpa obat. Namun, ia tidak pernah setakut ini. Bukan takut mati tapi lebih menakutkan dari mati. Ia takut pada ketiba-tibaan. Ia takut pada ketidakpastian. Dan semua serba tidak pasti untuk Stephanie. Dan ketiba-tibaan, bisa datang bahkan dengan persiapan.

Ketika suaminya menceraikannya, ia sudah merasa ada yang tidak beres dengan perkawinannya bertahun-tahun sebelumnya, ia tidak marah ketika ia memergoki suaminya, Danny, pria berusia 56 tahun, berselingkuh di rumah mereka dengan pembantunya, Lucia, seorang imigran Columbia berusia 54, lebih tua dari Stephanie namun lebih ramping dan eksotis. Ketika vonis ceraipun ia tidak marah. Suaminya pindah dari rumah mereka dan ia hanya tinggal dengan Motty. Anak mereka, Sophie tinggal di Jepang. ia hanya mengirim email layaknya kawan lama, semoga Poppy dan Mommynya menemukan kebahagiaan setelah berpisah.

Hanya setelah Motty meninggal, ia mulai merasa ada yang aneh di rumahnya, khususnya setiap jam 5 sore. Dinding di rumah sering ada yang mengetuk, dan itu sangat tidak masuk akal karena seringkali ketukan itu berasal dari ruangan lain di rumah, seperti ruang cuci di sebelah kamar tidur, atau dari dalam tembok kamar mandi, atau dari ruang tamu. Semua ruang itu kosong. Stephanie berpikir, ketukan-ketukan itu mungkin karena ia kesepian. Kesepian menggerogoti dirinya sedemikian rupa sampai ia hampir gila. Setiap hari, jam 5 sore, ketukan mengikutinya kemanapun ia berjalan di rumahnya sendiri. Kadang ia berpikir apakah itu hantu Motty yang mengajaknya jalan sore?

Ketukan terus berlangsung sampai jam 7:30. Begitu setiap hari.

Maka Stephanie memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah setiap ia pulang kantor jam 4 sore. Ia akan duduk di taman beberapa blok dari rumah, dan membaca sambil memperhatikan orang-orang di taman. Melihat mereka yang membawa anak-anak kaki dua dan anak-anak kaki empat mereka. Sekelompok remaja bermain skateboard di pinggir taman, di bagian berlantai beton, dan pasangan muda pulang kerja bersama, duduk bermesraan di rerumputan. Stephanie berencana mengadopsi anjing lagi, tapi nanti setelah ia bisa melepaskan Motty. Setelah suara ketukan di rumahnya hilang.

**

Si jangkung berlari mengejarnya. Stephani panik, jalanan sangat kosong. Tidak ada seorang pun yang bisa ia mintai tolong. Ia begitu panik berlari, bernafaspun jadi sulit. Tubuhnya berat, jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa sampai ubun-ubun. Di depan adalah perempatan dengan zebra cross dan lampu penyebrangan.

Lampu jalan di zebra cross menunjukkan warna merah. Ia tidak boleh menyebrang. Tapi ia begitu takut. Ia harus berani menerobos lampu merah. Ia harus berani kalau ia tidak mau tertangkap si jangkung. Tapi ia takut, kalau ia menerobos, ia bisa tertabrak kendaraan. Aih, tidak sempat berpikir semacam itu. Ia akan menyebrang. Ia terus berlari.

Sial! Si jangkung dekat sekali di belakangnya! Ia bisa merasakan nafasnya di tengkuk leher! Ia akan tertangkap! Ia akan mati! Tidak, lebih buruk! Ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya!

Tiba-tiba si jangkung menyalipnya, berlari di depannya dan wajahnya menengok ke belakang. Ia kurus tirus, berkulit pucat, matanya begitu besar, dan ia tersenyum pada Stephanie begitu lebar, giginya yang kuning terlihat jelas dalam seringai itu. Ia memutar badannya ke hadapan Stephanie, namun ia masih berlari sangat cepat, berlari terbalik. Stephanie kaget setengah mati, namun ia terus berlari, kini seperti ia yang mengejar si jangkung. Si jangkung melewati trotoar dan berdiri di tengah jalan, sementara Stephanie berhenti, karena lampu penyebrangan masih merah. Si jangkung melebarkan kedua tangannya.

Tiba-tiba sebuah bus lewat dan menabraknya. Si jangkung terpelanting entah ke arah mana, dan bus berhenti mendadak. Terdengar teriakan penumpang, dan darah yang muncrat di jendela bus membuat para penumpang histeris. Apalagi sebuah mobil yang jalan di belakang bus juga kaget, dan ikut menabrak bagian belakang bus.

Stephanie kaget bukan kepalang, karena orang yang ia takuti, ternyata orang gila yang hendak bunuh diri. Masyarakat sekitar mulai datang dan mengerubungi tempat kecelakaan. Memang, manusia dan konflik seperti lalat dengan tahik, kata Stephanie dalam hati, entah yang mana yang lalat, yang mana yang tahik.

Degup jantung Stephanie begitu kerasnya. Ia hendak kabur dari TKP. Ia tidak ingin jadi saksi di pengadilan nanti. Ia tidak punya waktu. setiap hari di rumah, ia sudah sibuk bekerja menjadi konsultan finansial freelance, membuat rencana keuangan klien-kliennya, dan membuat desain investasi. Di kantor pun, bebannya sebagai CFO sangat besar pula. Ia tidak punya waktu untuk konflik. Untuk konflik dengan suaminya, atau untuk menangisi anjingnya saja, ia tak punya waktu. Apalagi untuk ke pengadilan bersaksi untuk kematian orang asing.

Stephanie berjalan pulang menuju rumahnya melalui blok lain, lebh jauh tapi lebih aman dari televisi yang lebih cepat datang daripada polisi. Namun sepanjang jalan, ia mendengar ketukan. ketukan yang persis sama seperti di dinding rumahnya. Namun kali ini, di sepanjang jalan pulang, tidak ada tembok duplex, hanya ada pekarangan orang di pinggir trotoar.

Suara ketukan itu semakin keras seakan-akan ada dinding di sepanjang jalan pulang. Dinding imajiner. Stephanie resmi merasa gila. Tapi ia tidak tahu bagaimana menerimanya.

Stephanie sampai ke rumahnya, dan ketukan itu semakin keras. Ia tutup pintu rumah dan ketukan di dinding tetap ada, pindah dari luar ke dalam. Stephanie yang kesal mulai memukul-mukul dinding tempat suara itu berasal. Ia mengambil palu di gudang lalu mulai membobok tembok dinding ruang tamunya, kamarnya, kamar mandinya–tentunya semua kosong melompong. Namun suara ketukan semakin kuat.

Stephanie menutup telinganya, namun suara ketukan tidak hilang malah semakin keras.

“Duk duk…duk.. duk…. dug dub…duk dub….”

Ia menangis… ia meraung… ia menjambak rambutnya lalu berlari ke lemari obat. Ia ambil antidepressan dan obat tidurnya. Ia minum sebanyak yang ia bisa, lalu ia menelentangkan dirinya di tempat tidur. Ia mual. Kepalanya sakit. Dan perlahan suara ketukan yang semakin kencang, semakin dekat ke telinganya, ke tengah kepalanya, lalu pelan-pelan turun ke dadanya. Dadanya sesak dan sakit seakan mau pecah. Dan di situlah ia melihat seorang yang kurus kering dan jangkung, matanya besar, senyumnya lebar berdiri menatapnya. Orang itu yang tadi sore bunuh diri di depannya, tapi kali ini orang itu memakai baju yang sama seperti Stephanie, rambutnya, model dan warnanya sama seperti rambut Stephanie, dan ia memukul-mukul dada Stephanie seperti seorang kelaparan yang menggedor pintu sebuah rumah untuk minta makanan. Ia berteriak:

“Ini aku! Aku Stephanie! Buka pintu hatimu! Ini aku! Bukaaa!!!”

Dan dengan setiap pukulan ke dada, Stephanie bisa merasakan suara hatinya yang kelaparan. Suara hati yang pelan-pelan membunuhnya karena tidak pernah ia dengarkan.

Anthropology, Ethnography, Filsafat, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan

Peradaban Sains Islam, Bagian IV: Membandingkan Islam dan Kristen

Diterjemahkan tanpa izin dari tulisan Hilel Ofek, di jurnal The New Atlantic, no. 30 tahun 2011, halaman 3-23, Why The Arabic World Turned Away From Science. 

 

Disclaimer penerjemah: Bagian-bagian terakhir dari terjemahan tulisan ini mengandung sedikit bias orientalisme dari penulis. Saya sendiri sebagai Muslim Indonesia, tidak setuju dengan beberapa hal yang dipaparkan penulis, namun demi semangat belajar dan kesetiaan terjemahan, saya akan menulis apa adanya. Saya tidak bertanggung jawab atas apa yang dipaparkan di sini, namun saya akan menulis sebuah kritik terhadap terjemahan ini setelah semua terjemahan ini selesai terbit. Saya harap ini juga bisa memicu diskusi lebih jauh yang berlandaskan fakta-fakta sejarah dan sumber primer yang logis dan berstandar akademik, sepeti teks asli Mr. Ofek. Gambar dan Caption tanggung jawab penerjemah.

tahmasp_humayun_meeting
http://sensiblereason.com

Kenapa Penelitian Akademis Gagal di Dunia Muslim

Tapi apakah Ash’arisme adalah akar masalah hancurnya sains Arab? Ash’ari menang dan Mu’tazilah kalah menunjukkan bahwa untuk alasan apapun, kebanyakan Muslim menganggap pemikiran Ash’ari lebih meyakinkan dan nyaman; ia pas sekali dalam mengungkung sentimen dan ide politis. Maka dari itu, banyak ahli teologi muslim nampak menerima pandangan occasionalis bahkan dari abad ke sembilan, jauh sebagai penemu Ash’arisme lahir. Dus, kemenangan Ash’ari melahirkan pertanyaan-pertanyaan tajam tentang kecenderungan politik teologi dalam Islam.

Sebagai cara mengartikulasikan apa yang lebih dalam daripada debat antara Ash’ari dan Mu’tazilah, ada baiknya kita membandingkan dulu Islam dengan Kristen. Kristen mengakui pembedaan ranah pribadi dan publik dan (paling tidak secara teori) mengijinkan pengikutnya untuk menentukan kehidupan sosial-politiknya sendiri. Islam, sementara itu, tidak membedakan privat-publik, karenanya banyak hukumnya menjangkau detil-detil kehidupan pribadi. Dengan kata lain, Islam tidak mengakui perbedaan antara agama dengan politik: ia adalah agama yang menentukan aturan politik untuk komunitasnya.

c39altima_cena_-_juan_de_juanes
The Last Supper, dilukis oleh Juan de Juanes, c. 1562. Sumber: Wikimedia

Perbedaan antara dua macam iman itu bisa dilacak sampai perbedaan nabi-nabinya. Ketika Yesus adalah orang dari luar negara, dan tidak mengatur siapapun, dan agama Kristen tidak menjadi agama negara sampai beberapa abad setelah kelahiran Yesus, Muhammad bukan hanya seorang nabi, tapi juga pemimpin pemerintahan, seorang pemimpin politik yang menguasai dan memerintah komunitas religius yang ia temukan. Karena Islam lahir di luar Kekaisaran Romawi, Islam tidak pernah lebih rendah dari politik. Seperti yang dikatakan Bernard Lewis, Muhammad adalah Konstantin untuk dirinya sendiri. Artinya untuk Islam, agama dan politik saling tergantung sejak awal; Islam membutuhkan negara untuk menerapkan hukumnya, dan negara butuh basis dalam Islam untuk melegitimasi. Maka sejauh manakah politik Islam bisa memungkinkan penelitian bebas — yang seringkali dinilai subversif oleh pemerintah dan tradisi yang sudah mapan — di dalam institusinya?

Beberapa petunjuk bisa ditemukan dengan membandingkan institusi-institusi di abad pertengahan. Jauh sebelum menerima occasionalisme dan positivisme hukum kaum Suni, para sarjana Eropa berargumen secara eksplisit bahwa Injil berlawanan dengan hukum alam, dan tidak boleh dibaca secara literal. Filsuf-filsuf gereja berpengaruh seperti Augustine berpendapat bahwa ilmu pengetahuan dan rasio sudah ada sebelum agama Kristen; ia mendekati subjek penelitian sains dengan kewaspadaan, dan menyuruh orang Kristen untuk menggunakan sains klasik untuk membantu pemikiran Kristen. Galileo yang pernah ditahan rezim punya kalimat terkenal bahwa “tujuan Roh Kudus adalah untuk mengajarkan kita bagaimana cara masuk surga, bukan bagaimana surga bekerja,” menggarisbawahi ketahanan semangat sains di dalam kesalehan masyarakat Barat. Maka seperti yang diargumenkan David C. Lindberg dalam sebuah esei yang dalam kompilasi Galileo Ke Penjara dan Semua Mitos tentang Sains dan Agama (2009) [Galileo Goes to Jail and Other Myth about Science and Religion], “Tidak ada institusi atau kekuatan budaya dari periode patristic yang menggalakkan penelitian ilmu alam, daripada gereja Kristen.” Dan, seperti sosiolog dari Universitas Baylore, Rodney Stark, tulis dalam bukunya Demi Kemenangan Tuhan (2003) [For The Glory of God], banyak ilmuan pada masa revolusi sains di Eropa adalah pendeta Kristen atau Misionaris.

Penerimaan gereja dan penggalangan filsafat dan sains sudah ada sejak akhir Abad Pertengahan sampa masa modern. Almarhum Ernest L. Fortin dari Boston College mencatat di sebuah essai dalam kompilasi Kristen Klasik dan Tatanan Politik (1996) [Classical Christianity and the Political Order], tidak seperti al-Farabi dan para penerusnya, “Aquinas jarang dipaksa untuk mengikuti bias anti-filsafat dari otoritas eklektik Kristen. Sebagai orang Kristen, ia bisa belajar dan menulis filsafat tanpa ikut terlibat dalam argumen publik untuk membela atau melawannya.” Dan ketika seseorang seperti Galileo terkena masalah, karyanya terus ada dan diteruskan oleh orang lain; dengan kata lain, dedikasi institusi untuk penelitian sains sudah terlalu mengakar di Eropa hingga sulit dikontrol siapapun. Setelah  pertengahan abad tiga belas di Barat Latin, kita tahu tidak ada lagi persekusi instan pada siapapun yang mengajar filsafat sebagai bahan pembantu memahami Injil.  Di masa ini, “serangan terhadap rasio dianggap aneh dan tidak dapat diterima,” kata sejarawan Edward Grant dalam Sains dan Agama, 400SM sampai 1550M [Science and Religion 400 b.c. to a.d. 1550].

Kesuksesan Barat adalah sebuah topik yang dapat mengisi — atau sudah mengisi — banyak buku-buku tebal. Tapi perbandingan umum ini bisa membantu kita mengerti kenapa Islam secara institusi berbeda dengan Barat. Perbedaan paling penting dikatakan Bassam Tibi dalam Tantangan Fundamentalisme (1998) [The Challenge of Fundamentalism]: “karena disiplin rasio tidak sempat terinstitusionalisasi di Islam klasik, maka adopsi warisan Yunani tidak lama dalam peradaban Islam.” Dalam buku Munculnya Sains Modern Awal [The Rise of Early Modern Science], Toby E. Huff membuat sebuah argumen persuasif kenapa Ilmu Pengetahuan Modern muncul di Barat dan tidak di dunia Islam atau Cina:

Munculnya sains modern adalah hasil dari perkembangan peradaban berdasarkan kebudayaan yang secara unik humanistik dalam artian bahwa sains yang dianggap bid’ah dan inovatif bisa diterima, dilindungi dan dipromosikan walaupun berlawanan dengan ajaran agama. Sebaliknya, orang bisa bilang bahwa elemen kritis dari cara pandang sains secara secara sembunyi-sembunyi dimasukan dalam prasangka agama dan hukum di Eropa Barat.

Dalam kata lain, peradaban Islam tidak punya kebudayaan yang ramah terhadap kemajuan sains, sementara Eropa punya.

Perbedaan paling nyata ada di ranah pendidikan formal. Seperti kata Huff, kurangnya kurikulum sains di madrasah abad pertengahan membuat hilangnya kapasitas atau keinginan untuk membangun institusi yang secara legal otonom. Madrasah didirikan di bawah hukum waqaf, atau sumbangan, yang berarti madrasah secara legal berkewajiban mengikuti komitmen keagamaan dari pendirinya. Hukum islam tidak mengenal kelompok korporat, maka mereka mencegah harapan apapun untuk institusi seperti Universitas dimana norma akademik bisa berkembang. (Cina abad pertengahan, juga, tidak memilik institusi independen yang didedikasikan untuk pendidikan; semua tergantung dari birokrasi pemerintah atau negara). Institusi yang secara legal otonom hampir tidak ada di dunia Islam sampai akhir abad sembilan belas. dan madrasah hampir selalu menyingkirkan mata pelajaran apapun selain pelajaran Islam: tata bahasa Arab, al-Quran dan Hadist, dan prinsip syariah. Ini biasanya disebut “Pelajaran Agama Islam,” dan bertolak belakang dengan sains Yunani, yang secara luas dikenal sebagai ilmu “asing” (bahkan istilah “filsuf” dalam bahasa Arab “Falasi” sering dipakai secara negatif). Lebih jauh lagi, kekakuan kurikulum agama di madrasah membiasakan cara belajar hafalan; bahkan hari ini pengulangan, latihan hafal, dan imitasi — dengan hukuman bagi mereka yang mempertanyakan atau berinovasi –dibiasakan dari kecil di banyak tempat di dunia Arab.

Penyingkiran sains dan matematika dari madrasah memperlihatkan bahwa mata pelajaran-mata pelajaran ini “secara institutional dipinggirkan di kehidupan Islami abad pertengahan,” tulis Huff. Pelajaran seperti itu ditoleransi, dan kadang dipromosikan oleh beberapa orang, tapi tak pernah “secara resmi terinstitusional dan didorong oleh elit intelektual Islam.” Ini artinya ketika penemuan intelektual dibuat, penemuan tersebut tidak diangkat dan dibawa oleh siswa, dan tidak mempengaruhi pemikir-pemikir lain dalam komunitas Muslim, Tidak ada yang peduli pada karya Ibnu Rushid setelah ia diasingkan keluar Spanyol ke Moroko, misalnya — sampai orang Eropa menemukan karya-karyanya. Mungkin kurangnya dukungan institusional pada sainslah yang membuat pemikir Arab seperti al-Farabi lebih berani daripada sesama ilmuan di Eropa. Tapi itu juga berarti banyak pemikir Arab tergantung pada ijin dari pemerintah yang merek akrabi dan kondisi-kondisi sementara.

Perbandingan kontras lain, sistem hukum yang berkembang di abad dua belas dan tiga belas di Eropa — yang terkena pengaruh filsafat Yunani, hukum Romawi, dan teologi Kristen — menjadi penting dalam membentuk budaya filsafat dan teologi yang terbuka terhadap perkembangan sains. Seperti kata Huff, karena universitas di Eropa secara legal otonom, mereka bisa mengembangkan peraturannya sendiri, norma-norma akademik, dan kurikulum. Norma-norma yang mereka terapkan mengandung rasa ingin tahu dan skeptisisme, dan kurikulum yang mereka pilih berakar dari filsafat Yunani kuno. Di dunia Barat di abad pertengahan, semangat skeptisisme dan rasa penasaran menggerakan teologian dan filsuf. Itu adalah semangat “menyelidiki dan menggerataki segala sesuatu,” kata Edward Grant dalam buku Tuhan dan Rasio di Abad Pertengahan (2001) [God and Reason in the Middle Ages].

Perilaku penelitian semacam ini yang meletakkan fondasi sains modern. Dimulai di awal abad pertengahan, perilaku ini sudah menghasilkan inovasi di banyak seniman dan pedagang, bahkan dari kalangan yang tidak berpendidikan. Orang-orang awam ini berkontribusi ke pengembangan teknologi praktis, seperti jam mekanik (circa 1272) dan kacamata (1284). Bahkan di awal abad ke enam, orang Eropa berusaha membuat teknologi yang bisa menghemat kerja, seperti bajak dengan roda besar dan, nantinya, bajak tenaga kuda. Menurut riset oleh almarhum Charles Issawi dari Universitas Princeton, Inggris di abad sebelas punya lebih banyak lumbung per kapita dibanding di tanah otoman pada masa kejayaan kerajaan itu. Dan walaupun Barat punya percetakan sejak tahun 1460, dunia Islam baru mendapatkannya tahun 1727. Dunia Arab nampak lebih lambat dalam menemukan guna alat teknologi akademis. Contohnya, teleskop hadir di Timur Tengah langsung setelah penemuannya di tahun 1608, tapi orang Arab tidak tertarik menggunakannya hingga berabad-abad setelahnya.

Ketika sains di dunia Arab menurun dan mundur, Eropa secara rakus menghisap dan menerjemahkan karya-karya klasik dan saintifik, melalui pusat kebudayaan di Spanyol. Pada tahun 1200, Oxford dan Paris telah memiliki kurikulum yang mengandung sains Arab. Karya oleh Aristoteles, Euclid, Ptolemy, dan Galen, beserta kritik oleh Ibnu Sina dan Ibnu Rushid, semua diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Tidak hanya karya-karya ini diajarkan secara terbuka, mereka dimasukkan ke dalam program studi di universitas-universitas. Sementara di dunia Islam, hancurnya Zaman Keemasan sedang terjadi.

laurentius_de_voltolina_001
Salah satu universitas awal di Eropa, Bologna (1930an).

Bersambung ke bagian V.