English, Memoir, Racauan

What Would I Do Without You

This is a work of fiction.

A lot, actually. Life goes on.

But for now let me rest a little now that you’re gone. Because you took some of my nerves with you. My synapses break down, and I cannot control my hormones.

I am angry, sad, disappointed, confused and happy. Happy that you finally rest, and free from all the things life entangled. All the suffering and pain and pleasure, all the demands and the grudges and the hates, and the love. Ah, the love is broken now that you’re gone. But in pieces they lingers, in the space that used to be yours.

You believe in God, and Hell, and Heaven. But I think you deny me for being right, that none of those stuff exist. After you’re gone your energy dissipated, breaks and forms a lot of stuff, the living and the dead, the material defecated, the immaterial… They remain in everyone who know you. And you, you will be really gone when we all forget. Trust me, it’s a blink of the universe eyes. To forget.

Now, what would I do without you? I rest in war when you rest in peace. My rest will end, and I’ll be back fighting in no time, while your peace remains in eternal bliss. In my neurons and others, see you in dreams.

What would I do without you? My best. To live my post life, as long as I could. In letters that people can read. And when they cannot read these letters anymore then adieu… Adieu… Adieu….

***

Thanks for reading this piece of mind. Before alien invades us, some coffee for the writer would help a lot in making this site going. If you don’t live in Indonesia, email me if you want to donate, I haven’t got Patreon yet. But I’d you live in Indonesia, help me pay this expensive wordpress premium by clicking the button below or just scan my Go Pay idea. Thanks!!

Or Scan me

Filsafat, Racauan, Workshop

Memperluas Pandangan Hidup

Salah satu hal yang paling menggaggu saya adalah perasaan bahwa saya kesepian, sendirian, atau bahwa saya subjektif sekali dan tidak ada kebenaran. Saya sadar bahwa ini adalah karena saya, dan kita semua, sebenarnya sangat terbatas cara pandangnya. Kita semua cuma punya satu sudut pandang: POV. Dan POV membuat kita punya titik buta dalam hidup, karena itu memori dan imajinasi dan struktur berpikir harus selalu kira pakai dan kita sempurnakan.

Kita semua hidup dengan POV (Point of View) dari dua mata kita. Akibatnya kita selalu punya titik buta. Titik buta memiliki beberapa konsekuensi yang berbahaya seperti egoisme, narsisistik, atau perasaan kesepian. Subjektif itu sudah bawaan lahir maka objektifitas adalah hal yang menarik untuk dibahas karena seperti kesempurnaan, tidak pernah ada objektifitas yang absolut. Untuk menjadi objektif kita perlu memori, imajinasi, dan struktur berpikir.

Memori kita pasti bercampur imajinasi. Karena ketika mengalami, kita hanya punya satu sudut pandang POV, maka untuk melengkapi memori itu kita memakai imajinasi kita tentang ruang, waktu, warna, cahaya, kata, bunyi. Akibatnya orang yang pikirannya sempit, referensinya kurang, imajinasinya terbatas, cenderung tidak bisa ingat dengan jelas apa yang terjadi pada hidupnya. Sulit untuk melihat hanya bermodalkan POV saja.

Maka imajinasi harus selalu kita kasih makan dan kita perkuat dengan referensi-referensi dari bacaan, tontonan, musik, dan pergaulan. Tapi ada yang harus diingat bahwa tanpa pengetahuan soal struktur atau cara berpikir, imajinasi yang terlalu kaya bisa membuat kamu jadi pembohong patologis, yaitu pembohong yang tidak sadar ia sedang bohong karena imajinasinya begitu kaya. Untuk menghindari itu kamu perlu ngerti gimana caranya bikin struktur pikiran yang logis.

Struktur adalah sebuah bangun yang dibentuk oleh sistem. Sistem adalah cara sebuah bangun bisa terbentuk. Misalnya strukturnta segitiga, sistemnya geometri garis dan sudut yang membentuk struktur itu. Dalam proses berpikir, harus selalu ada evaluasi soal konteks dan data untuk memakai imajinasi dalam menperkaya memori, agar memorinya hidup. Ibarat DNA dinosaurus di Jurrassic Part yang menggunakan DNA amphibi dan reptil untuk menyempurnakan strain yang hilang, imajinasi kita pakai untuk mengisi ruang-ruang kosong atau memperbaiki memori yang rusak.

Saya kasih sedikit contoh. Ada sebuah kalimat, “Saya pergi ke pasar membeli xxx untuk masak di rumah.” Kita lupa apa itu “xxx,” Maka kita cari dengan melacak konteksnya. Masak apa di rumah, apa saja yang jelas kamu ingat, siapa yang di sana. Kalau ternyata banyak yang kosong dan tidak kamu ingat, bisa jadi itu adalah mekanisme pertahanan otakmu tentang apa yang terjadi hari itu, yang bisa menimbulkan trauma atau perasaan nggak nyaman. Mungkin ada baiknya tidak usah diingat. Tapi kalau kamu seperti saya yang kepo, saya akan terus meneliti dengan cara tilas balik dalam tulisan, meditasi, membaca, dll. Saya nggak suka mendem-mendem.

Kita akan terus menyempurnakan ketiga hal itu sepanjang hidup kita sampai di masa prima kita di usia 40an, lalu hidup akan mulai terbalik dan menurun sampai kita menua dan mati. Tapi selama kita bisa meninggalkan memori dan memperkaya imajinasi orang lain semasa jaya kita, maka kita ikut untuk menyempurnakan peradaban yang tidak pernah sempurna.

***

Terima kasih sudah membaca sampai habis. Kalau kamu suka yang kamu baca, boleh lah bantu saya bayar website tahun ini dengan traktir saya kopi di sini: