Ethnography, Politik, Racauan

Kenapa Kita Harus Melindungi AntiVaksin?

Antivaksin, atau orang yang nggak mau divaksin, ada banyak di mana-mana. Dan penolakan ini sangat wajar dan dalam beberapa konteks sangat diperlukan. Alasannya bisa macam-macam, dari teori konspirasi, alergi, sampai buat riset. Apapun alasannya, salah banget kalau kita marah pada antivaksin, karena jika sama-sama berteriak, maka nggak ada yang akan kedengeran kecuali suara bising. Kita harus lebih bijak untuk bicara dan mendengarkan satu sama lain. Maka mari kita telurusi fakta dasar soal vaksin dan dengan itu kita akan menemukan kenapa antivaksin perlu dilindungi dan bagaimana Demokrasi bisa bekerja tanpa membunuh dirinya sendiri.

Pertama, vaksin ditemukan untuk menipu sel biar kuat. Pengetahuan umumnya, vaksin adalah virus yang dilemahkan atau disimulasikan dan disuntikan ke tubuh kita agar sel-sel kita punya memori tentang sebuah penyakit, sehingga kalau virus sebenarnya menyerang, sel kita bisa mengenali dan melawan. Menyuntikkan vaksin yang adalah kembarannya virus, pasti ada efek sampingnya walau sedikit. Karena, well, kita dimasukin penyakit. Minimal ada lah rasa cenat cenut. Namun dalam beberapa kasus, bisa fatal banget. Ini semua orang harus tahu: vaksin memang bisa berbahaya.

Banyak efek samping dari vaksin. Yang sudah merasakan vaksin dosis pertama covid 19 pasti ada aja gejala macem-macem tergantung kondisi tubuhnya. Ada yang demam, ruam, pegel, bahkan ada yang pingsan. Vaksin-vaksin lain juga ada banyak efek sampingnya, tapi soal yang meninggal karena vaksin, ini harus dicek satuan kasus dan kasusnya dikit banget. Sementara efek samping lain bisa banget ditangani dengan medis, dari pengobatan di rumah, sampai di rumah sakit. Dilihat dari angkanya, efek samping vaksin apapun yang dirilis ke publik sangat bisa ditangani. Dan ini jauh lebih ringan daripada sakit beneran. Namun harus diakui bahwa alergi terhadap vaksin itu ada, dan segelintir orang memang nggak bisa dikasih vaksin.

Kalau memang alergi, maka antivaksin boleh ada dan harus dilindungi. Cuman cara melindunginya cuma satu: bentuk herd immunity! Selama belum ada herd immunity, akses mereka yang tidak divaksin harus dibatasi karena mereka berbahaya untuk dirinya sendiri dan orang lain. Namun ketika herd immunity sudah terbentuk, kita bisa sama-sama melindungi mereka.

Masalahnya ada pada orang-orang tolol yang menganggap bahwa fakta adalah Demokrasi dan opini. Ketidakmampuan membedakan mana yang fakta dan mana yang fiksi ini parah banget diseluruh dunia karena daya kritis itu dibentuk tidak hanya dari pendidikan tapi juga dari pengalaman. Ketika pengalamannya tidak ada, maka sulit untuk menjadi kritis beneran, yang ada logikanya krisis bukan kritis. Selama tidak ada beda antara fakta dan opini, maka Demokrasi tidak bisa berjalan. Perbandingan argumennya tidak apple to apple, ketika pihak satu membawa statistik dan data valid, sementara pihak lain terjebak perasaan dan misinformasi.

Maka ada baiknya kita belajar dari bagaimana sel kita bekerja menerima vaksin. Anggap saja bahwa kaum yang kebal fakta ini adalah auto immune yang menganggap bahwa fakta adalah virus. Mungkin ada memori-memori propaganda yang menyakiti mereka, jadi mereka melihat obat sebagai racun. Auto immune semacam ini bisa membuat masyarakat kita bunuh diri, Demokrasi bunuh diri karena oxymoron: “saya boleh jadi anti Demokrasi karena negara kita demokratis, ” Sama seperti sel darah putih yang menyerang bakteri atau organ sehat karena dikira penyakit. Maka untuk menyembuhkannya, kita jangan membunuh atau mengasingkan mereka. Kita harus mencari masalah lainnya, yang membuat sel darah putih jadi keos dan membunuh sel sehat.

Bagaimana caranya, ketika dialog dan diskusi pun tidak bisa dilakukan karena beda konteks? Kalau begitu tidak perlu diskusi dengan mereka, diskusilah dengan pembuat kebijakan yang terhubung dengan jaringan global. Kita jaga jumlah antivax tetap kecil supaya mereka bisa kita lindungi dengan herd immunity kita, sampai mereka mati nanti dan anak-anaknya yang terjebak sistem pendidikan atau ideological state apparatus lain, bisa berubah dan menjadi lebih baik daripada orang tuanya.

Kalau anak-anak yang tidak divaksin ini mati duluan, well, paling tidak anak kita tidak mati. Toh, pilihan sudah mereka ambil. Resiko tanggung sendiri. Bismillah aja.

****

Terima kasih sudah membaca tulisan ini sampai habis. Kalau kamu suka pada yang kamu baca, boleh traktir saya kopi biar saya tetap semangat menulis. Klik tombol di bawah ini yaa….

Buku, Kurasi/Kritik, Racauan, Workshop

5 Produser Yang Bikin Nggak Produktif di Filmmaking

Setelah aktor dan sutradara, kini saatnya bahas soal produser. Produser adalah motornya sebuah film. Film sebagai sebuah barang adalah milik produser–ide nya milik sutradara. Tanpa produser, film hanya akan jadi angan-angan sutradaranya. Semua orang bisa jadi sutradara, tapi jarang yang benar-benar bisa jadi produser, karena dia butuh skill untuk membuat film “terjadi”. Karena kalo produsernya bagus, seringkali tanpa sutradara pun filmnya juga bisa jadi. Tapi tanpa produser, sutradara harus jadi produser biar filmnya jadi.

Tapi kasihan banget kalau sebuah film produsernya nggak produktif. Semua orang jadi susah, komunikasi jadi sulit, dan kalau sampai filmnya jadi, produsernya kemungkinan adalah orang lain atau tenaga gaib di film itu. Berikut adalah 5 produser gak produktif yang sebaiknta kamu hindari kalau diajakin proyekan.

1. Produser Tapi PA

Produser kayak gini sukanya melayani sutradara dan yes-yes aja tanpa bisa jadi sparing partner dalam argumen dan pengembangan ide. Dia nggak punya leadership dan seringkali cuma jadi bonekanya sutradara aja. Dia ga bisa bikin jembatan komunikasi antara sutradara dan kru lain, sehingga kalau dia dapat sutradara yang komunikasinya jelek, atau yang kurang dewasa, produksi filmnya bisa berantakan.

Namanya produser tapi kelakuan kayak PA (production assistant). Padahal tugas dia yang utama adalah mencari jalan supaya dia bisa gabut di set pas syuting karena semua berjalan baik. Perilaku PA-nya ini membuat ketika syuting, bisa jadi dia malah kalang kabut ngurusin semua yang ga keurus karena skala produksi salah perhitungan, atau komitmen kru nggak bisa dijaga.

Etos kerja produser tipe ini dihargai, tapi salah konteks. Mungkin harus belajar lagi ngikut produser lain, atau nyobain jadi sutradara, biar sekali-sekali punya visi.

2. Produser Bossy

Bossy itu berlagak boss tapi ga ada kharismanya. Nggak ngerti konsep, nggak ngerti hierarki, nggak ngerti teknis, terus petantang-petenteng nyuruh orang ini itu. Atau ambil kebijakan yang bakal punya konsekuensi produksi yang bikin rugi banget secara waktu dan uang dan hasil footage.

Hubungan dengan kru nggak terjaga karena komunikasi jelek, dan dia nggak sadar kalau komunikasi jelek karena merasa, well, dia boss. Dia rasa semua baik-baik saja karena dia boss yang maunya tahu beres. Nggak, boy. Produser nggak tahu beres, sebaliknya harus selalu curiga kalau sesuatu beres-beres aja. Minimal jadi punya plan B and plan C sampe Z.

Seringkali ini terjadi karena kurang pengalaman: produser dikerjai oleh sutradara atau kru yang lebih jago jualan daripada dia, sehingga dia terbawa suasana aman dan nyaman, dan nggak bikin planning yang rapih, nggak kritis dalam sebuah produksi. Mungkin cocoknya produser macam ini jadi executive produser saja.

3. Produser nggak gaul

Modal utama produser itu bukan duit tapi pergaulan dan managemen konflik. Dia harus kenal orang banyak yang cukup dekat hingga bisa dia pitch ide-idenya, atau ide sutradaranya. Dia pun harus jago milih teman mana yang mau diajak produksi.

Karena bukan cuma komitmen yang dibutuhkan tapi juga skill, dan skill nggak ada gunanya kalau ga ada komitmen. Produser yang gak gaul biasanya bukan orang yang berkomitmen, karena kalau dia penuh komitmen, maka dia akan punya banyak temen yang ngutang sama dia dan rela bantuin filmnya setengah mati.

Ketidakmampuan managemen konflik dan pergaulan sosial ini jadi masalah sangat besar, karena produksi adalah soal mengatur dan mendesain flow kerja. Produser yang cenderung menghindari konflik, tidak bisa mendamaikan pihak-pihak yang berfriksi, dan tidak bisa menjadi mediator, sebaiknya jangan jadi produser.

Karena kenikmatan produksi film adalah hasil kerja keras pra produksi, ketika semua konflik sudah teratasi, semua orang tersedia, semua fasilitas mencukupi, hingga ketika syuting, semua orang bisa menanggung penderitaan bersama dengan rela dan bahagia.

Syuting yang baik seperti seks yang enak: sakit-sakit-nikmat. Produser keren bisa bikin semua orang orgasme, dan orgasme butuh hubungan dan komunikasi yang enak.

4. Produser sotoy

Sotoy di industri film Indonesia ada di mana-mana. Bayangkan film sebagai media termutakhir saat ini: dia mengandung sastra, teater, seni rupa, seni lukis, seni musik, dan seni-seni lain. Produser yang mau jualan ide dan filmnya harus ngerti luar dalam apa yang dia jual. Tapi kalau dia kalah intelek sama sutradara, production designer, scriptwriter, dll, dia bisa salah jual barang dan ujung-ujungnua dianggap penipu.

Sotoy buat sutradara bisa berujung gak dipake orang lagi, ga ada yang mau kerja sama dia lagi. Tapi sotoy buat produser lebih parah: dia bahkan bisa masuk penjara! Sotoy soal budget, bisa jadi overbudget, sotoy soal konsep bisa dituntut sama eksekutif produser dan investor, sotoy soal seni yang dipakai di filmnya, bisa kena pasal Hak Cipta.

Produser kerjaan yang berat dan kudu teliti dan hati-hati. Orang sotoy di Indonesia punya kesempatan dan tempat buat dipercaya orang lain, tapi hasilnya bisa jadi buruk banget. Jadi produser adalah soal trust dan tanggung jawab. Nama dia akan jelek selama-lamanya kalau filmnya keluar dengan banyak masalah yang membuntutinya.

5. Produser power player

Dia humoris, jago bergaul, jago ngatur budget, jago jualan, tapi dia sering menggunakan posisinya untuk bermain kuasa dengan memeras orang lain baik dengan cara halus, atau dengan modal sosialnya. Dia bisa memeras orang dengan rayuan dan ancaman, dari deal soal harga sampai deal soal seks.

Produser kayak gini baiknya dipenjara saja selama-lamanya. Perilaku patron yang pervert, sudah saatnya hengkang dari muka bumi. Jadi sebelum kerja dengan produser manapun, sejago-jagonya dia, pastikan kalian minta kontrak yang jelas, atau referensi terpercaya sebelum kerja dari kawan-kawan lain kalau memang callingannya harian.

Kalau ketemu produset macam ini, jangan takut untuk cerita dan melawan balik. Cari temen-temen deket dulu, bikin asosiasi, atau masuk asosiasi. Produser kuat dan serem kayak gini harus dihajar dengan persatuan dan kesatuan!

***

Terima kasih sudah baca sampai habis. Blog ini dibiayai oleh sumbangan kalian, lumayan mahal biaya tahunannya. Kuy! Klik tombol di bawah ini:

Prosa, Tarung Rahwana

Tarung Rahwana (Part III)

RAMA
JIWA TAK LEBIH DARI PARASIT

“Gue mau nawarin elo kerjaan,” kata pemuda usia belasan bertubuh kekar itu kepada Rama ketika ia membereskan barang-barangnya di kamar ganti sebuah rumah mewah di Bintaro. Ia baru saja selesai bertarung di basement rumah itu, rumah milik seorang pemilik perusahaan minyak global. “Gue Robby,” kata anak lelaki berusia sekitar 20 tahun, berambut cepak dan berbadan agak gempal itu, seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

“Gue tahu lu siapa,” kata Rama. “Gue nggak tertarik jadi bodyguard lu di sekolah.”

Robby tertawa. Rama tersenyum tipis. Ia tahu kalau ada penonton yang terkagum padanya dan sedikit takut. Karena malam itu, Rama baru saja mematahkan rahang lawannya di dalam ring. Robby ada di bangku ekslusif bersama pemilik rumah, yang bisa melihat langsung pertarungan sekaligus ditonton para penonton. ‘Anak pak bos,’ pikir Rama.

“Anjing lo,” kata Robby. “Gue nggak butuh dilindungin. Gue serius nawarin lo kerjaan, jadi security acara bokap gue. Gue butuh orang kayak lo yang siap berantem tangan kosong kalau-kalau ada apa-apa. Gue bayar DP sekarang 20 juta, sisanya 30 juta setelah acara kelar. Dua hari di Karibia, sekalian lo liburan dari semua ini.”

Rama menutup retsleting di backpack berisi celana pertarungan, handuk berdarah dan P3K.

“Tanya manajer gue si Yuda.”

“Udah, dia bilang langsung ke elo aja.”

“Kapan?”

“Minggu depan lo jalan. Kalo lo tertarik gue kirim tiketnya.”

“Kenapa gue? Dan apa yang lo takutin bakal nyerang di pulau itu?”

“Ya karena lo jago lah. Ini pulau pribadi, harusnya sih ga ada apa-apa. Tapi ini pertemuan klub penting. Klub spiritual bokap. Isinya orang penting dan rahasia semua. Gue udah ngomong sama manajer tarung katanya elu juga orang yang banyak rahasia dan nggak banyak cincong. Cocoklah.”

Rama menghela nafas. Mungkin perlu juga istirahat dari semua ini.

“60 juta, DP 50 persen.” kata Rama.

“Deal.”

“Dan itu belum termasuk bagian si Yuda.”

*

Perjalanan ke Pulau St. Barthelemy memakan waktu seharian. Dari bandara Halim Perdana Kusuma, ada pesawat langsung ke St. Barth, perjalanan sekitar 16 jam. Setelah itu naik sebuah shuttle kecil selama dua jam dan sampai lah Rama ke villa yang dimaksud. Di atas gerbangnya tertulis, “Paradiso Perduto.”

Rama sampai di villa Perduto sendirian, karena Yuda tidak boleh ikut. Tiket hanya untuk mereka yang bekerja. Di villa, Rama disambut Albert, seorang kepala pelayan berkulit hitam yang langsung membawa Rama ke belakang rumah, menuju ke satu rumah untuk para pelayan dan para sekuriti, baik pegawai tetap ataupun pegawai sewaan. Tamu-tamu belum ada yang datang di villa itu.

Villa itu sangat luas, Rama dan Albert harus naik mobil golf menuju ke villa para pelayan. Sepanjang perjalanan, Rama melihat lapangan golf, taman, dan tempat landasan helikopter. Ya, tentu saja, para orang kaya ini tidak akan memakai pesawat komersil dan bersusah-susah transit dan ganti-ganti kendaraan.

“Mereka akan naik helikopter semua, pak Albert?” tanya Rama. Dalam hatinya ia bertanya, dari mana ia mulai bekerja, apakah semenjak orang-orang itu turun dari helikopter?

“Sekitar dua kilo dari sini,” kata Albert, “ada pangkalan untuk landasan pesawat jet pribadi. Kebanyakan akan dari situ. Landasan ini cuma untuk Pak Win, keluarga, dan… sahabat terdekat mereka.”

Pak Win adalah bapaknya si Robby, pemilik semua ini, termasuk rumah megah di Bintaro tempat Rama bertarung seminggu lalu.

Rama sampai di villa dan turun bersama Albert. Ia ditunjukkan ke sebuah kamar dengan empat tempat tidur bertingkat. Di kamar itu sudah ada tiga orang lain.

“Ini kamar untuk sekuriti bayaran.” Kata Albert. “Mari saya perkenalkan:

“Yang menjadi kepala sekuriti outsource ini adalah bu Annie,” ia menunjuk ke seorang perempuan yang berambut segi, dan bibir kiri atasnya berbekas luka seperti operasi sumbing. Wajahnya mirip dengan artis Indonesia lama, Yati Octavia, di masa mudanya. Ia memakai kaos abu-abu dengan celana pendek, sedang duduk di pinggir jendela sambil merokok.

“Dan seperti yang sudah saya brief sebelum-sebelum ini,” lanjut Abert,” yang boleh merokok di dalam villa pelayan ini hanya bu Annie.” Annie menghembuskan asap rokoknya ke luar jendela.

“Lalu ada Zack,” Albert menunjuk sebuah ranjang di kanan bawah, nampak seorang lelaki botak sedang tidur menghadap tembok. “Dia ahli senjata di sini, kamu bisa meminta senjata kepadanya nanti. Lemari senjata akan ditunjukkan nanti olehnya.”

“Dan ada Garcia,” kata Albert. “Garcia adalah ahli keamanan cyber, dan akan berkerja jadi koordinator komunikasi kalian di ruang kontrol. Selain kalian, kita juga punya 30 orang sekuriti pekerja tetap, kepalanya bernama pak Juan. Nanti malam ketika briefing kalian akan bertemu dia.” Garcia main HP di tempat tidur kiri atas, ia memakai headset dan tak menyadari kehadiran Rama dan pak Albert di situ.

“Semuanya, ini Rama. Dia bawaan tuan muda kita.”

“Silahkan jalan-jalan di sekitar villa ini, bawa selalu nametag ini supaya kamu tidak dikira penyusup.” Setelah memberikan nametag, Albert keluar dari kamar.

Rama menaruh ranselnya di tempat tidur.

“Laci kamu ada di nomor 4,” kata Annie dengan bahasa Indonesia tanpa melihat ke Rama, hanya menunjuk ke sebuah lemari besar dengan empat laci yang sudah dinomori.

Annie mematikan rokoknya. Ia mengambil sepatu lari dari bawah kursinya dan memakainya. Ia berdiri, tubuhnya kekar dan berisi, kausnya nampak kekecilan menunjukkan otot dan lekukan tubuhnya.

“Kamu bawa sepatu lari?”

“Nggak, mbak.” kata Rama sambil melihat sepati conversenya.

“Ya sudah, pakai saja sepatu itu. kalau kamu tidak bawa baju lain selain yang kamu pakai, temani saya lari sekarang saja.”

Rama bengong, Annie sudah beranjak keluar kamar, lalu kepalanya mendongak lagi ke dalam.

That’s an order. I need to brief you.

Rama menyusulnya.

**

Rama berlari di samping Annie dan ia merasa perempuan itu mengagumkan dalam cara yang lumayan mengerikan. Selain codet di bibir atasnya yang semakin dilihat dekat semakin terlihat bukan karena operasi sumbing tapi karena robek pertarungan, nafasnya ketika berlari sangat stabil. Sepatu kulit Rama sangat tidak nyaman untuk dipakai berlari, tapi ia tetap berusaha mengejar Annie.

“Saya minta pada Robby untuk dicarikan seorang petarung tangan kosong, ” kata Annie. “Kamu akan menyamar menjadi salah satu tamu. Tapi sebelumnya… “

Annie berhenti di sebuah lapangan rumput. “Buka sepatu dan pakaianmu, kita pemanasan sedikit.”

Rama melepas sepatunya, dan ketika ia memasang kuda-kuda, Tiba-tiba tendangan Annie mendarat di dadanya. Ia terlempar ke belakang namun secara refleks, membuat kuda-kuda hingga tidak jatuh. Ilmu pernafasan yang ia pelajari sejak umur 3 tahun tidak percuma: ia bisa membuat bagian tubuh manapun menjadi keras dengan oksigen dan udara, dan instingnya sudah terlatih mendeteksi serangan.

Tidak banyak omong, Annie langsung menyerang dengan kecepatan yang luar biasa. Dan tidak seperti film-film yang koreografinya jelas, pertarungan Annie dan Rama sangat brutal: banyak pukulan Annie yang masuk ke wajah dan tubuh Rama, dan seperti biasa, Rama tidak menyerang dulu sampai ia paham kelemahan lawan. Masalahnya, Rama tidak berhasil melihat kelemahan itu.

Rama berpikir, dengan serangan seintens ini, Annie akan lelah dengan sendirinya. Ia salah, sudah hampir lima menit, dan Annie sama sekali tidak mengurangi kecepatan dan kekuatannya. Rama melihat orang-orang mulai berkumpul melihat sparing mereka.

Setiap hantaman terasa begitu menyakitkan dan pada akhirnya Rama yang roboh. Rama heran, ia belum pernah roboh sebelumnya. Rama selalu berhasil bertahan dan menang karena stamuna dan endurance-nya yang luar biasa. Ia heran kenapa kali ini ia seperti lumpuh, tubuhnya tidak menurut. Ia tiba-tiba roboh tidak bisa bergerak, lalu dibopong ke kamar.

Ketika ia dibopong, Rama berpikir kenapa Annie, kepala keamanan acara ini, menyakitinya sedemikian rupa? Apa salah dia? Apakah ia hanya ingin dipermalukan?

“Don’t worry, bruh, ” Kata Garcia yang membopongnya. “It’s gonna get better. Trust me.”

Dan perlahan kesadaran Rama hilang, ia terlelap.

***

Rama bangun di tempat tidur bawah di kamarnya karena dengkuran seseorang. Zack, si ahli senjata tidur di atasnya. Sementara di tempat tidur lain ada Garcia di tempat tidur atas, sementara tempat tidur bawahnya kosong. Tempat tidur Annie.

Rama sudah lama sekali tidak tidur senyenyak itu. Tanpa mimpi, tanpa gangguan apapun. Dan ia bangun dengan sangat segar. Rasanya, tubuhnua ringan sekali. Tapi ia bau, dan ia tidak suka bau. Ia bangun dan mengambil handuk di tasnya lalu beranjak ke kamar mandi.

Di kamar mandi yang besar dengan barisan shower itu, air hangat mengucur mengaliri tubuh Rama dan kulit gelapnya. Rama memperhatikan bekas-bekas pukulan Annie yang anehnya ada di titik-titik tertentu di dada kiri, kanan, tengah, punggung, kaki bagian belakang, tengkuk. Ia teman-teman bagian dengan darah beku itu dan tidak terasa sakit sama sekali. Ia seperti habis diterapi.

“Aliran Chi kamu banyak penyumbatan, ” Suara perempuan terdengar diantara uap-uap air. Annie masuk dengan tubuhnya yang kekar dan telanjang. Ada bekas-bekas luka di sekujur tubuhnya. “Jangan pernah membiarkan luka membusuk terlalu lama.”

Annie mandi dengan cuek di sebelah Rama, seperti dia tidak ada. Setelah apa yang terjadi, Rama tidak berani melihat kepadanya. “Apa yang kamu lakukan padaku tadi?” Tanya Rama.

“Aku nggak mau mempertaruhkan nyawaku sama orang sakit. Paling nggak, sekarang urusanmu tinggal trauma mental saja. Fisik sudah kubereskan. “

Ia selesai mandi dengan cepat dan pergi begitu saja, meninggalkan Rama di kamar mandi, dalam ereksi.

Bersambung…

Jika kamu suka yang kamu baca, boleh traktir saya kopi biar saya tetap semangat menulis dan bisa menyelesaikan cerita ini.

Memoir, Racauan

Blog ini adalah Pensieve

Dari dulu, kalau tulisan saya ke boost dan banyak orang mampir ke blog, saya langsung punya teman-teman baru dan haters baru. Waktu masih umur 20an, lumayan spanneng juga. Tapi semakin ke sini, to be honest, I don’t give a shit.

Pasca kritik film Selesai jadi polemik kemarin, kejadian itu terulang lagi. Seperti kejadian Ojol vs GO-JEK, atau Sitok Srengenge, tiba- tiba saya ngerasain jadi seleb selama beberapa hari. Lalu wartawan mulai datang, saya diwawancara ini-itu, dianggap ahli ini-itu. Padahal semua tulisan saya ya biasa dan kebiasaan saja. Karena kalau tidak nulis saya bisa gila.

Ketika trend turun, saya kembali dilupakan orang dan saya sangat bersyukur. Menulis buat saya adalah penyembuh, dan saya mau jaga itu. Sudah lama tidak ada tulisan pesanan, dan kalaupun ada saya sudah sibuk membuat film atau mengajar. Jadilah blog ini murni sebuah wadah pikiran, sebuah pensieve.

Paling nggak beberapa tahun terakhir saya bisa membuktikan kalau saya bisa menulis berbagai macam topik. Trending dari blog ini tidak pernah sama dan itu menyenangkan. Saya tidak perlu banyak pembaca, saya perlu banyak teman diskusi. Dan seringkali teman diskusi itu didapat bukan dari tulisan cemen saya soal Film Selesai, misalnya. Tapi dari tulisan yang susah-susah dan bikin orang puyeng jungkir balik. Misalnya tulisan soal Phronemophobia Indonesia, yang membuat persahabatan saya dengan Edo Wulia, Direktur Festival Film Pendek Internasional Minikino, jadi lebih dekat.

Saya menulis di sini tanpa misi apapun selain berbagi. Tidak seperti mengajar atau syuting yang tuntutannya, saya berharap ada diskusi saja dari sini. Jadi saya bisa lebih cuek dalam memilih lawan bicara. Mereka yang tolol dan baca tulisan saya biasanya marah dan bingung, ngajak ribut di sosmed, dan saya akan minta maaf.

Maaf kamu tolol dan menderita. Tulisan saya bukan untukmu.

Sisanya yang bisa ngobrol lebih enak, saya jadikan teman. Dr. Tompi, misalnya, juga sudah biasa dihujat orang. Walhasil bicara dengan dia jadi menyenangkan. Walau say tetap bilang filmnya jelek, itu urusan saya lah. Salah satu data yang dia tampung aja. Tapi saya nggak mau seperti dia, urusan saya masih banyak yang butuh ketidakterkenalan. Hidup saya maunya sederhana, nulis dan ngajar dan syuting, dan musik. Semua menyenangkan. Sisanya cuma numpang lewat, betapapun beratnya.

Bahkan cinta saja tidak relevan jika mengganggu pekerjaan dan keluarga saya. Makanya saya lumayan bersyukur ada cinta yang searahtujuan. Sampai nanti kita berpisah, perjalanan kita nikmati bersama. Nggak muluk-muluk.

Maka di sini menulis jadi kunci eksistensial saya. Mencintai, membenci, dicintai, dibenci, menderita, bahagia, tak ada yang nyata kalau tidak dibagi. Cara membagi yang paling mudah ya dengan menulis, yang lebih susah, berkarya. Apapun itu, sesedikit apapun yang menonton/membaca, semua ada gunanya minimal ke diri sendiri. Saya tutup tulisan ini dengan sebuah lagu berjudul lagu berbagi.

Terima kasih sudah membaca dan kalau kamu suka yang kamu baca, boleh traktir saya kopi biar ekstensi website ini tetap dot com, sehingga kalian enak membacanya. Dan saya senang kalo ada yang traktir karena artinya saya nggak sendirian di jalan sepi ini. Klik di sini ya kalau mau ngasih suplemeb kafein. Selamat menikmati lagunya.