English, Memoir, Racauan

Dysphoria #1: Self-made Hell

This is a work fiction. All resemblance with the reality is on purpose. Explicit content.

It is obvious that my loneliness is the main cause of all these fuss, unfaithfulness, the distorted feeling of entitlement. It is my most deceptive defensive mechanism–that the truth, in itself, is self destructing. I am alienating people in order to alienate myself from the hell that they construct.

Creating my own hell, is better than living somebody else’s heaven.

Thus, I hurt myself again, just to find a way to make me forget that I am lonely. I hurt myself with bulimia, with days of sleep, with obsessive scratching, cutting, and obsessive exercise when the manic came, sleepless nights, and after that I still want to punch any guy, or fuck any girl that I think deserve my fist or my dick. I am all open to fight or fuck because I’m sick of flight.

And I’d desperately love anybody who wants to love me. And I’d burn myself, sacrifice myself, ready to be crucify like Jesus H. Christ, and I’d beg people not to leave me until they’d got annoyed and see me as a freak and they need to leave me to stay sane because I’d drive them crazy, so I’d drive my car. I’d drive and drink myself hope to die on the road, hopefully with other assholes that swarming the highways of this city.

And all of it would be my fault. Nobody can blame or even care about my disorder, my upbringing, the system that I am in. I and only I, will be held responsible for all this mess that’s happening with my life and other people that I dragged.

The fucking shrink might say that this thought is cognitive distortion, self entitlement, but fuck you, the court, the people’s court cannot hold my disorder, my upbringing responsible for my actions. They cannot put those abstract nouns in jail, they could not rehabilitate my illness. It is I and only I, will be held responsible for my actions.

And what else should I do but to embrace what the universe has given me? I have eliminate the choice to take my own life because of the meds or because I’m a fucking coward. Anyway, I have no choice but struggle against a sea of trouble and by opposing hope to end them. Even though I know, that I will lose and drown and will face inevitable slow death. But at least I did fight back and refuse to flight.

At least I did good, at being brave. To open my eyes every day, and trying hard to get out of bed and go out to the world. To fight or to fuck. And if I have to lose love again, I think it’s just because I don’t deserve love. I am condemn to beg. For mercy, for love, for attention, only to toss it all out, when I feel lonely.

Because of this distorted feelings and thought, that I’d rather be alone, than be lonely. And the only way to be out of the misery of loneliness, is to break all ties and be perfectly alone to face the misery of the ubermench, the homo deus. Until there is no happines or misery any more, until there is no value in the narrative of my life.

It is when I became forgetful, mad, or die.

Sickness unto death.

This site is run by donation. If you like what you read, please be a patron at by clicking this link.

Memoir, Racauan

Transisi

Pesanan Putri Ayudya

Sulit banget untuk hidup rutin dan teratur supaya sehat seperti di lagi radiohead Fitter Happier. Selalu saja ada yang mengganggu rutininitas dan kenyamanan yang sudah terbangun, apalagi ketika kerjaan lo adalah Seniman aktif. Waktu project ga ada, lo bisa teratur tapi begitu project masuk semua akan berantakan.

Tapi semakin tua, di umur 30an ini, gue semakin ngerasa butuh banget buat teratur. Karena masalah kesehatan fisik dan mental ternyata sangat bergantung sama bagaimana kita mengontrol dan mengatur kebiasaan. Artinya, setiap habis project, harus ada waktu rehat untuk kembali mengatur keseimbangan diri.

Repotnya kalau projectnya panjang. Project panjang yang keos, membuat lo stress dan waktu yang dibutuhkan untuk healing atau kembali ke keteraturan akan jadi lebih panjang dan sulit. Belom lagi kalau lo BU dan project datang kayak badai yang nggak kunjung selesai.

Tapi gue dapet ide lama yang terbarukan ketika nonton anime macam demon slayer. Dalam satu season, ada dua atau tiga episode mereka healing dan latihan mengimprovisasi diri. Kayak setiap luka parah yang lo dapet dari project, bisa membantu lo berkembang asal semangat lo ga patah dan cukup tahu diri kapan harus mulai bergerak dan berusaha seimbang lagi.

Stamina dan endurance juga akan bertambah, berbanding lurus dengan project yang tambah susah dengan keuntungan yang tambah gede. Tapi perlu diingat juga bahwa ada masa ketika lo perlu pensiun, jadi harus disiapkan masa itu. Normalnya umur 55, dan masa prima lo dimulai, seperti kata Stanislavski, umur 40.

Normalnya, ada waktu 15 tahun untuk jadi manusia super, dari umur 40-55. Rencana gue, gue akan bikin beberapa film panjang pada umur-umur tersebut. Sementara itu, bikin tim dan kumpulin duit dulu lah dengan MondiBlanc, Talemaker, dan tentunya kerjaan-kerjaan sampingan bercuan lumayan.

Life is good. Or probably because I’m on mood balancing drugs. But when I write this, life is good and I think I can be happy about it even for a moment.

Filsafat, Politik, Racauan

Kar(l)ma(rx)

Photo by 🇮🇳Amol Nandiwadekar on Pexels.com

Kita takut karma, ketika dosa yang kita lakukan kembali kepada kita, maka kita berusaha menjadi orang baik. Namun pengalaman mengajarkanku bahwa tanpa karma pun, shits happen. Dosa orang bisa kita tanggung, hutang orang bisa kita yang harus bayar, orang lain yang membuat berantakan bisa kita yang harus bereskan. Hidup seperti perkerjaan menanggung kerusakan orang yang tidak ada habisnya. Hidup adalah kumpulan karma yang seringkali tidak ada hubungan sebab akibat.

Photo by Alexander Krivitskiy on Pexels.com

Maka itu, Karma bukanlah wanita jalang seperti kata orang hippie Amerika. Karma adalah sebuah mitos, dan mitos, seperti kata Roland Barthes, adalah sebuah petanda yang sudah terlalu jauh hubungannya dengan penandanya; mitos adalah sebuah konotasi yang sudah ngejelimet dan nyasar, sebuah simbol dari simbol yang seringkali diawali dengan sesuatu yang sebegitu personal dan diakui sebagai universal. Seperti gagak petanda buruk, ketiban cicak petanda sial, atau sirik petanda tak mampu. Padahal kita semestinya tahu, gagak adalah ada petanda burung berwarna hitam yang berteriak gaak gaak, ketiban cicak petanda cicak bisa melompat, dan sirik petanda kesenjangan kelas.

Di poin yang ketiga inilah maka Karl Marx lebih masuk akal daripada Karma. Karena Karl Marx berusaha mengkritisi dialektika sebab-akibat adanya eksploitasi dan kesenjangan kelas, sementara karma berusaha menjelaskan kesenjangan kelas dari dosa-dosa baik di kehidupan ini atau (ini yang parah) di kehidupan masa lalu. Karl Marx berusaha membongkar kelas-kelas sosial; karma menjadi dasar kelas sosial paling parah sepanjang sejarah kelas manusia: kasta. Terlahir sudra akan mati jadi sudra, terlahir brahmana akan mati brahmana–dan dalam kehidupan, darma baik dan buruk diharapkan dapat menjadi karma di kehidupan mendatang.

Tapi sayang sungguh sayang, saya sendiri suka sulit menghindari pikiran soal Karma. Dosa dan agama sudah jadi bagian dari keseharian yang merasuk ke alam bawah sadar dan, akhir-akhir ini, menjadi semacam penyelamat dari penyakit kejiwaan yang saya derita. Kata Marx mengembangkan buah pikiran Fuerbach, agama adalah candu. Dalam konteks kota kapitalis ini, saya jadi atheis yang praktikal: tidak percaya Tuhan sebagai entitas personifikasi, tapi beritual dan berspiritualitas pada energi besar yang mengendalikan alam semesta semau-maunya dia. Melepaskan ilusi kontrol dan rencana-rencana besar, dan mulai fokus pada rencana-rencana kecil saja yang saya rencanakan punya efek baik, dari mulai membiayai pemuda desa kuliah, sampai menyelenggarakan workshop gratis yang memberikan skill tambahan untuk anak-anak muda perkotaan yang galau mau jadi apa.

Jadi apa saya percaya karma? Tidak. Apa saya takut akan karma? Ya! Lah kok bisa takut pada sesuatu yang tidak kamu percaya? Lah kenapa tidak bisa? Coba, berapa banyak orang yang ngaku Atheis tapi pas pesawat yang ditumpanginya mau jatuh dia berdoa? Berapa banyak yang mengaku saintifik tapi takut pada kecoak atau ulat bulu?

Mitos dan cerita-cerita ini menyatukan kita sebagai manusia, membuat kita menjadi spesies paling berkuasa di dunia. Mitos dan cerita-cerita begitu kuatnya, ia membentuk sistem ekonomi, strata sosial, dan dapat membunuh lebih banyak orang daripada senjata nuklir. Mitos dan cerita-cerita menghidupkan dan mematikan kemanusiaan kita. Maka Karl Marx boleh berdialektika semacam apapun, Nietzsche bisa bilang Tuhan telah dibunuh para penganutnya seperti apapun, namun mereka semua pada akhirnya terkena Karma: yang satu jadi hantu karena ideologi yang dibuatnya menjadi pondasi paling kuat kapitalisme hari ini; dan yang satu lagi meninggal di rumah sakit jiwa karena kegilaan. Mereka berdua kena Karma. Salah apa mereka? Lah, tidak tahu, mungkin dulu sempat menjadi kapitalis busuk, atau jangan-jangan salah satu dari mereka pernah menjadi kecoak yang meracuni keluarga terakhir homo denisovans hingga punah.

Tidak ada yang tahu kebenaran sebuah mitos, kecuali sebuah mitos lain yang belum tentu pula kebenarannya—mitos apa itu? Coba pikirkan sambil beribadah hari ini.

Photo by rawpixel.com on Pexels.com

Memoir, Racauan

Kerja adalah Hidup

“Tahu apa yang kau mau itu tidaklah normal”
—-Jack Ma

Permasalahan umum banyak orang adalah untuk tahu mau apa sebenarnya kita dalam hidup. Orang mencari makna besar hidupnya, dan biasanya yang termudah pemaknaan itu diberikan oleh struktur-struktur yang sudah ada dan jadi, seperti agama ataupun keluarga. Agama memberikan sebuah makna bahwa hidup harus digunakan sebaik-baiknya untuk dunia setelah mati. Sementara keluarga biasanya memberikan referensi-referensi pada seseorang untuk jadi seperti apa: keluarga PNS ingin anaknya jadi PNS, keluarga seniman ingin anaknya jadi seniman, keluarga polisi ingin anaknya jadi polisi (atau menikah dengan polisi), dan seterusnya. Dua jalur tadi, agama dan keluarga, menentukan jalur hidup kebanyakan orang. Karena kebanyakan orang tidak tahu maunya apa di dunia ini, maka pilihan yang sudah jelas adalah pilihan teraman, dengan koneksi dan doktrin sosial yang sudah jadi.

Dan menjadi tidak tahu, ikut arus, adalah normal. Yang tidak normal adalah tahu pasti mau jadi apa di usia yang sangat muda. Ini bisa jadi jenius, bisa juga jadi bodoh. Lalu bagaimana caranya mencari kerja, yang bukan sembarang kerja? Kerja yang kita suka yang membuat hidup kita cukup, syukur-syukur bisa kaya?

Pertama, yang terpenting singkirkan dulu definisi kerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, walaupun sesungguhnya itu esensinya. Coba kita pikirkan kerja secara eksistensial, yang mendefinisikan diri kita. Ketika kita kenalan sama orang kita selalu bawa-bawa kerjaan thoh? Nosa, videographer; Nyoto, politisi komunis; Jonjin, Karyawan; Atun, artis; dll. Tapi coba lihat di kehidupan, apakah yang mendefinisikan hidupmu? Pekerjaanmu atau pola konsumsimu?

Kalau pekerjaanmu mendefinisikan hidupmu, kemungkinan kau sudah dapat apa yang kau mau. Pekerjaanmu bisa kau kontrol, dan kau suka dan kau jago melakukannya. Kau adalah seorang profesional. Tapi kalau kau bekerja untuk memenuhi pola konsumsi, belanja yang tak ada habisnya, hingga kau merasa lelah dan tak suka pekerjaanmu, itu masalah. Kontrol pola konsumsimu, menabung, lalu carilah pekerjaan lain.

Kedua, berhenti dengarkan orang lain tentang apa yang harusnya jadi pekerjaan idealmu, kau coba saja ikuti orang yang sedang menjalani pekerjaan idealnya. Kerjalah dibawah orang yang sedang berjuang dalam pekerjaan yang mendefinisikan hidupnya. Jalurmu nantinya tidak perlu sama seperti jalurnya, tapi kau akan tahu rasanya berjuang, apalagi kalau umurmu antara 20-30 tahun. Ini saatnya ikut-ikut orang hingga akhirnya kau sendiri yang menjadi pejuang.

Ketiga, dengarkan anak kecil penasaran di dalam jiwamu untuk mencoba-coba segala macam skill, pekerjaanmu adalah sebuah kerja yang panjang, menderita, melelahkan, tapi kau kuat melakukannya karena rasanya seperti bermain.  Kalau pekerjaan ini tidak menghasilkan uang, maka carilah pekerjaan lain yang menghasilkan uang, lebih mudah, dan memberikanmu waktu untuk melakukan perkerjaan kesukaanmu. Jadikan pekerjaan kesukaanmu tujuan hidupmu, cita-cita pensiunmu. Maka, kau akan bahagia—nggak sih bohong, nggak ada orang yang akan benar-benar bahagia seperti nggak ada yang akan benar-benar sedih juga. Intinya, kau jadi punya hiburan yang produktif di hidupmu.

Ini bukan tulisan how-to atau nasihat. Ini adalah sebuah catatan untuk diri saya sendiri karena saya sudah dan sedang melakukannya. Nanti saya akan berbagi hasilnya, tapi so far sih so good. Karena saya menemukan dalam hidup saya hari ini, bahwa satu-satunya yang bisa saya kendalikan adalah pekerjaan saya, melebihi kesehatan, keluarga, apalagi nyawa.

Tabik.