Buku, Kurasi/Kritik, Racauan, Workshop

5 Produser Yang Bikin Nggak Produktif di Filmmaking

Setelah aktor dan sutradara, kini saatnya bahas soal produser. Produser adalah motornya sebuah film. Film sebagai sebuah barang adalah milik produser–ide nya milik sutradara. Tanpa produser, film hanya akan jadi angan-angan sutradaranya. Semua orang bisa jadi sutradara, tapi jarang yang benar-benar bisa jadi produser, karena dia butuh skill untuk membuat film “terjadi”. Karena kalo produsernya bagus, seringkali tanpa sutradara pun filmnya juga bisa jadi. Tapi tanpa produser, sutradara harus jadi produser biar filmnya jadi.

Tapi kasihan banget kalau sebuah film produsernya nggak produktif. Semua orang jadi susah, komunikasi jadi sulit, dan kalau sampai filmnya jadi, produsernya kemungkinan adalah orang lain atau tenaga gaib di film itu. Berikut adalah 5 produser gak produktif yang sebaiknta kamu hindari kalau diajakin proyekan.

1. Produser Tapi PA

Produser kayak gini sukanya melayani sutradara dan yes-yes aja tanpa bisa jadi sparing partner dalam argumen dan pengembangan ide. Dia nggak punya leadership dan seringkali cuma jadi bonekanya sutradara aja. Dia ga bisa bikin jembatan komunikasi antara sutradara dan kru lain, sehingga kalau dia dapat sutradara yang komunikasinya jelek, atau yang kurang dewasa, produksi filmnya bisa berantakan.

Namanya produser tapi kelakuan kayak PA (production assistant). Padahal tugas dia yang utama adalah mencari jalan supaya dia bisa gabut di set pas syuting karena semua berjalan baik. Perilaku PA-nya ini membuat ketika syuting, bisa jadi dia malah kalang kabut ngurusin semua yang ga keurus karena skala produksi salah perhitungan, atau komitmen kru nggak bisa dijaga.

Etos kerja produser tipe ini dihargai, tapi salah konteks. Mungkin harus belajar lagi ngikut produser lain, atau nyobain jadi sutradara, biar sekali-sekali punya visi.

2. Produser Bossy

Bossy itu berlagak boss tapi ga ada kharismanya. Nggak ngerti konsep, nggak ngerti hierarki, nggak ngerti teknis, terus petantang-petenteng nyuruh orang ini itu. Atau ambil kebijakan yang bakal punya konsekuensi produksi yang bikin rugi banget secara waktu dan uang dan hasil footage.

Hubungan dengan kru nggak terjaga karena komunikasi jelek, dan dia nggak sadar kalau komunikasi jelek karena merasa, well, dia boss. Dia rasa semua baik-baik saja karena dia boss yang maunya tahu beres. Nggak, boy. Produser nggak tahu beres, sebaliknya harus selalu curiga kalau sesuatu beres-beres aja. Minimal jadi punya plan B and plan C sampe Z.

Seringkali ini terjadi karena kurang pengalaman: produser dikerjai oleh sutradara atau kru yang lebih jago jualan daripada dia, sehingga dia terbawa suasana aman dan nyaman, dan nggak bikin planning yang rapih, nggak kritis dalam sebuah produksi. Mungkin cocoknya produser macam ini jadi executive produser saja.

3. Produser nggak gaul

Modal utama produser itu bukan duit tapi pergaulan dan managemen konflik. Dia harus kenal orang banyak yang cukup dekat hingga bisa dia pitch ide-idenya, atau ide sutradaranya. Dia pun harus jago milih teman mana yang mau diajak produksi.

Karena bukan cuma komitmen yang dibutuhkan tapi juga skill, dan skill nggak ada gunanya kalau ga ada komitmen. Produser yang gak gaul biasanya bukan orang yang berkomitmen, karena kalau dia penuh komitmen, maka dia akan punya banyak temen yang ngutang sama dia dan rela bantuin filmnya setengah mati.

Ketidakmampuan managemen konflik dan pergaulan sosial ini jadi masalah sangat besar, karena produksi adalah soal mengatur dan mendesain flow kerja. Produser yang cenderung menghindari konflik, tidak bisa mendamaikan pihak-pihak yang berfriksi, dan tidak bisa menjadi mediator, sebaiknya jangan jadi produser.

Karena kenikmatan produksi film adalah hasil kerja keras pra produksi, ketika semua konflik sudah teratasi, semua orang tersedia, semua fasilitas mencukupi, hingga ketika syuting, semua orang bisa menanggung penderitaan bersama dengan rela dan bahagia.

Syuting yang baik seperti seks yang enak: sakit-sakit-nikmat. Produser keren bisa bikin semua orang orgasme, dan orgasme butuh hubungan dan komunikasi yang enak.

4. Produser sotoy

Sotoy di industri film Indonesia ada di mana-mana. Bayangkan film sebagai media termutakhir saat ini: dia mengandung sastra, teater, seni rupa, seni lukis, seni musik, dan seni-seni lain. Produser yang mau jualan ide dan filmnya harus ngerti luar dalam apa yang dia jual. Tapi kalau dia kalah intelek sama sutradara, production designer, scriptwriter, dll, dia bisa salah jual barang dan ujung-ujungnua dianggap penipu.

Sotoy buat sutradara bisa berujung gak dipake orang lagi, ga ada yang mau kerja sama dia lagi. Tapi sotoy buat produser lebih parah: dia bahkan bisa masuk penjara! Sotoy soal budget, bisa jadi overbudget, sotoy soal konsep bisa dituntut sama eksekutif produser dan investor, sotoy soal seni yang dipakai di filmnya, bisa kena pasal Hak Cipta.

Produser kerjaan yang berat dan kudu teliti dan hati-hati. Orang sotoy di Indonesia punya kesempatan dan tempat buat dipercaya orang lain, tapi hasilnya bisa jadi buruk banget. Jadi produser adalah soal trust dan tanggung jawab. Nama dia akan jelek selama-lamanya kalau filmnya keluar dengan banyak masalah yang membuntutinya.

5. Produser power player

Dia humoris, jago bergaul, jago ngatur budget, jago jualan, tapi dia sering menggunakan posisinya untuk bermain kuasa dengan memeras orang lain baik dengan cara halus, atau dengan modal sosialnya. Dia bisa memeras orang dengan rayuan dan ancaman, dari deal soal harga sampai deal soal seks.

Produser kayak gini baiknya dipenjara saja selama-lamanya. Perilaku patron yang pervert, sudah saatnya hengkang dari muka bumi. Jadi sebelum kerja dengan produser manapun, sejago-jagonya dia, pastikan kalian minta kontrak yang jelas, atau referensi terpercaya sebelum kerja dari kawan-kawan lain kalau memang callingannya harian.

Kalau ketemu produset macam ini, jangan takut untuk cerita dan melawan balik. Cari temen-temen deket dulu, bikin asosiasi, atau masuk asosiasi. Produser kuat dan serem kayak gini harus dihajar dengan persatuan dan kesatuan!

***

Terima kasih sudah baca sampai habis. Blog ini dibiayai oleh sumbangan kalian, lumayan mahal biaya tahunannya. Kuy! Klik tombol di bawah ini:

Memoir, Racauan

Cara Menemukan Tujuan Hidup

Galau ditinggal pacar? Kerjaan kamu nggak enak? Pengangguran? Sering bengong dan mempertanyakan, kamu hidup buat apa? Buat siapa? Kemana setelah mati? Apa arti kehidupan? Apakah upil terbuat dari aibon? Kalau iya, apakah kita bisa mabok menjilat atau menghirup upil sendiri? Ini semua adalah pertanyaan eksistensial, dan harus dijawab biar hidupmu lebih berkualitas. Kita kecilkan dulu pertanyaan besarnya dengan sebuah pertanyaan sederhana:

Apa yang kamu mau di hidup ini?

Kalau sudah tahu, bagus. Kalau nggak tahu, wajar. Kebanyakan orang nggak tahu kok makanya gampang kemakan iklan. Diiming-imingi sesuatu yang kita butuh padahal nggak butuh. Dan satu keinginan dari iklan itu merembet ke banyak keinginan lain. Tepu-tepu kapitalisme!

Kebanyakan orang tidak tahu dia ingin apa, atau merasa tahu tapi tidak bisa menjelaskan. Padahal untuk hidup maksimal, kita perlu untuk punya keinginan jangka panjang, yang kita gapai dengan tindakan-tindakan jangka pendek. Dan ini kerennya: kalian nggak perlu tahu atau punya tujuan besar dalam hidup, kalian selalu bisa go with the flow dengan melakukan tiga cara ini: imitasi, kolaborasi, lalu inovasi.

Semua orang belajar hidup dengan mengimitasi orang lain. Kita belajar bahasa hingga perilaku dan membuat cita-cita dari orang lain. Kebanyakan imitasi ini didapat dari keluarga, dan keluarga juga yang membantu kita (secara sadar atau tidak sadar) dalam memilih jalan hidup kita.

Ada keluarga yang sangat mengontrol anak-anaknya, dan berusaha untuk menentukan tujuan hidup si anak dari hal yang mereka tahu saja, lalu membatasi karir si anak. Misalnya, keluarga polisi berusaha membuat semua anaknya jadi polisi, polwan, atau minimal istri polisi. Begitupun keluarga dokter, bahkan filmmaker dan Seniman. Ini juga ada hubungannya dengan jaringan sosial keluarga. Bahwasannya, seseorang bisa aman jika mengikuti jaringan sosial yang dibangun keluarganya.

Di sisi lain, ada orang-orang yang tidak mampu atau tidak sudi mengimitasi keluarga terdekatnya, entah karena trauma, atau karena memang tidak diarahkan untuk menjadi seperti orang tuanya. Si anak harus mencari model sendiri, mau apa dia ke depannya, mau jadi apa dia, siapa yang mau dia imitasi kalau bukan keluarganya?

Saya pribadi, tidak mengimitasi keluarga dengan penuh. Hidup saya adalah campuran dari imitasi-imitasi dari orang-orang yang saya kagumi, yang membuat profesi saya juga tidak jelas-jelas amat, dan banyak kepribadian saya yang tidak nyambung dengan keluarga saya. Saya pembaca akut dan entah itu darimana. Tapi dalam kehidupan saya mengikuti orang-orang yang saya kagumi dan membuat diri saya sendiri tanpa ada yang mengarahkan atau menyuruh saya.

Dan semua skill itu saya dapatkan dengan cara kolaborasi dengan orang lain. Saya minta diajarkan untuk membantu proyek orang, begitupun sebaliknya. Banyaknya ngobrol, observasi, partisipasi dan imitasi membuat saya banyak sekali dapat ilmu yang akhirnya bisa saya kombinasikan menjadi sebuah manifes penting. Misalnya: MondiBlanc Film Workshop.

Mondi adalah gabungan dari dua imitasi. Imitasi pertama atas kawan-kawan saya di New York dan di Muntilan untuk mewujudkan  sebuah tempat belajar yang gratis dan siswanya dibayar, dan imitasi kedua ide kawan saya Tito Imanda yang punya impian bikin kampus gratis. Saya coba bikin workshop ini dengan kolaborasi dan kami berhasil mencapai lebih dari 150 orang alumni, dengan karya dan aliran yang beda-beda. Di sini saya berinovasi dengan semua yang sudah saya imitasi dalam hidup saya. Dan saya sudah nekat: saya sudah tinggalkan pekerjaan tetap saya untuk fokus di MondiBlanc dan eseinosa ini.

Tujuan besar saya yang lain adalah sebuah inovasi. Saya ingin membuat film panjang saya sendiri dari institusi yang saya buat sendiri. Jadi sambil bikin film panjang, saya mau membuktikan bahwa institusi saya berhasil membuat orang-orang hebat.

Maka tujuan besar saya sudah jelas dan tujuan kecil-kecilnya sudah dan sedang dilaksanakan. Dan ketika tujuan besar tercapai, saya akan cari tujuan besar lain. Menolak Oscar, misalnya. Keren kan, menang aja jauh banget, tapi kalau menang maunya nolak. Biar keren aja gitu kayak Marlon Brando. Tapi mari kita lihat saja. Karena tujuan besar bisa berubah-ubah disebabkan keadaan dan kenyataan. Dan itu tidak apa-apa, selama kita bersandar pada apa yang ada, dan kita rawat dan kembangkan tanpa terjebak pada hal yang besar-besar. Semua dimulai dari hal kecil. Seperti upil, yang nyangkut di hidung saya. Membuat saya agak mabuk. Mungkin benar, ia terbuat dari aibon.

***

Hai, Terima Kasih sudah membaca post ini sampai habis. Buat yang belum tahu, website ini dibiayai donasi dan hostingnya lumayan mahal. Jika kamu ada rejeki, bolehkah traktir yang nulis kopi gula aren murahan? Klik tombol di bawah ini ya…

English, Film/Video, Portfolio

On The Haunting Witch-Demon Pontianak

This is a full interview conducted by UK film Scholar, Rosalind Galt, for her upcoming book on horror of Southeast Asia. Before you read, do watch the film. Tell me what you think in the comment section.

-Why did you want to make a pontianak film?

The idea came from my film workshop student, Agung Setiawan, who is now a Philosophy lecturer in a university in Bangka Belitung, Sumatra. I’ve always wanted to make a horror/myth film with classic touch, black and white, almost no sound, and my student idea was raw but it was a start. I also wanted to make something like Nosferatu (1922) or long shots film like some scenes in Kubrick’s The Shining. Pontianak or Kuntilanak in Indonesia is a popular demon-witch, appears in many films and tv shows, and I wanted to make it out of the ordinary images of vengeance toward men, or some ghost sitting on tree. So I change my student original script with more research and plot twist. 

–One of the film’s surprises is that the pontianak is not a threat but is there to save her friend. Why did you want to imagine a ‘good’ pontianak?


I learnt a lot about feminism in myth and film from Intan Paramditha, a well known Indonesian writer and film critic. In her horror folklore class I learned that every demon has cultural and psychological background. They represent the fear of the society. So far the legend told us that Pontianak is a woman who eat fetus to stay young, and at the same time we have Sundel Bolong, a demon who, in the classic cult Indonesian film Malam Satu Suro (1988, played by Suzanna), becomes a man’s beautiful wife and domesticated after a nail was being penetrated to her head by another male (her foster father).

From this I tried to deconstruct the myth by staying faithful to its demonization narrative, but interpret the demonization as a creative way to achieve freedom. My imagination of Pontianak is not good nor bad. I simply put more complex motivation on the representation of women. 

–I’m really interested in how your film creates a relationship of care and intimacy between the two women, and how there are no men in the film. Do you think of the pontianak as having feminist potential? 

I think all female demon have feminist potential. Most demon/ghost in Asia are women, representation of uncontrollable nature. And its quite different from, let say, Bram Stoker’s Dracula in which female demons are controlled by male demon. In Asia, female demons are representations of repressed freedom, or vengeance toward (mostly) men. I once read a book about western and eastern image of the feminine (I forgot the writer’s name though). I remember that western image of the feminine are represented by Freudian Psychoanalysis that sees women as emotional and unstable, penis envy, etc. While the eastern sees women in accordance to Al Bukhari & Muslims or Hinduism in which women posses a really huge power that need to be contain either by closing their appearance, or putting them in chain–or in Pontianak case, penetrate their head (mind), with a nail (a long sharp erected object representing penis). So yeah, sure it has feminist potential when the nail is being pulled out of her head. 

–There even seems to be a hint that the women are romantically together – were you interested in playing with that idea?

Yes I do. Hahahaha… But that’s just a small tone. Glad you saw it. 

–Did you grow up watching Pontianak films? Or hearing stories? What drew you to this figure?

My father came from the remote area of Mempawah, West Kalimantan, about 4 hours from the city of Pontianak (go figure, haha). So I grow up with this legend a little bit closer than most people. I have heard stories of local demons since I was a kid, every time I visit my father home village. 

–Did you want particular ‘looks’ for your lead actresses? I think part of the surprise is that the actress who plays the pregnant woman looks less like a traditional pontianak than the other actress. How did you approach casting?

For the casting, I wanted to start in showing what most Indonesian-Malay people knows about Pontianak: beautiful, tall, long hair, white dress. It’s a start, and Ratu Annisaa Suryasumirat fit the role well.

Then I choose Klara Virencia, an Indonesian-Chinese, as the other Pontianak with the red dress because if you go to Pontianak and Mempawah (or Kalimantan as a whole) Indonesian-Chinese have been part of their culture for centuries. Klara uses red dress at the end of the film to represent another demon well known to the Chinese and Malay people: the Chinese woman in Red.

I remember having an uncle who used to rob Chinese grave near my home village, since the Chinese-Indonesian buried many expensive stuff with their dead. And during those robbery, my uncle told me he was haunted by this ghost in red dress. So yeah, I put Klara in the film as another of Pontianak, to put more ethnic profile of the area of Kalimantan. 

–I haven’t heard of the rice bowl protection – is that a real belief?

Yes it is. I have interviewed some pregnant mother in my village, and this ritual is still being done in the remote area. As an ethnographer, I interpret all three protections as domestication of women: mirror represent her beauty and sexuality, broom represent her role in keeping the house clean, and rice represent her role in cooking. In Indonesia we have the famous phrase Dapur-Sumur-Kasur. Dapur (Kitchen) as represented by the rice. Sumur (Well, where women work to take water to clean the house) represented by the broom, and kasur (bed) represent sexual intercourse. These are three domestic area which bind women. Thus freedom, must untangled these area. 

What are you working on now?

I am building my film workshop (mondiblanc.org), in which I give workshops for free for college students and young professionals to make their own films/video so they will be able to communicate visually. Hopefully I can make a film school, free of charge too, someday. Its a long term project. 

I am also shooting some short films with my students either as a writer, producer, director, or executive producer. We wanted to be some sort of side-stream movement in filmmaking. Now I am producing a horror series both for workshop purposes and for youtube content. Some other stuff is also in pre production and post production. A long term science fiction-romance film is in preproduction. A romantic comedy seires in postproduction. Many many things going on simultaneously. Haha.


I hope these answers can help you with your book. Ask me further questions if you need to. Sorry to be so late in replying. I just got back to Indonesia. and stil a little jetlag.

Film/Video, Portfolio, Uncategorized

Cream Scene: Sebuah Komedi Perkosaan

Workshop film MondiBlanc berhasil membuat satu film lagi, yang sayangnya baru akan tayang di youtube setelah selesai ikut festival-festivalan. Film ini ditulis dan disutradarai oleh Agung Setiawan, asisten pengajar di Departemen Filsafat Universitas Indonesia dan saya produseri sendiri. Didukung oleh musik dari band indie Amerika Pimpstrut Local #13 dan band indie lawas Indonesia, Hamba Allah.

Satu menit trailer ini sudah akan mengatakan banyak. Feminis biasanya akan marah melihat wacana eksploitasi seksual, apalagi ketika pemerkosaan dijadikan becandaan. Tapi semoga untuk film ini, tidak begitu. Karena pemerkosaan dalam film ini pun menandung unsur-unsur ketidaksengajaan (ups, spoiler).

Silahkan ditonton trailernya.