Anthropology, Film, Kurasi/Kritik

Dunia Menyakiti Anak-anak: Anak-anak yang Disakiti dan Mati Di Kenyataan dan Film-film

Semua orang tua bersalah pada anaknya, dan setiap kesalahan akan membekas buat si anak dari kecil hingga ia dewasa. Orang tua yang baik adalah orang tua yang dapat mengevaluasi diri dan terus berusaha meminimalisir kesalahan terhadap anak. Tapi ketika kita bicara masalah parenting, kita tidak cuma bicara soal keluarga atau masalah individual, kita juga harus bicara tentang negara dan kebudayaan secara luas, tentang bahasa, dan juga tentang konsepsi pendidikan terhadap anak.

Hari ini kita sudah setuju soal buruknya konsep perpeloncoan atau kekerasan fisik dan verbal terhadap anak–walau banyak juga orang tua konservatif yang meneruskan lingkaran kekerasan itu, tapi kebanyakan orang tua terdidik yang punya akses ke internet sudah tidak begitu lagi. Namun kita tidak bicara soal tempat-tempat yang jauh dari pusat informasi. Kita tidak bicara dalam konteks kampung kota, kampung, atau desa. Kita sulit melihat seperti apa informasi utama yang ada di lapangan, apalagi soal kekerasan terhadap anak. 

Sebagai seorang penonton film, filmmaker, dan peneliti saya selalu tertarik dengan film-film kejahatan, dan beberapa tahun terakhir saya menonton beberapa film soal kekerasan anak terkini. Banyak sekali film yang mengangkat hal ini, dan setiap film, diskusi, dan aktivisme dapat membantu membuat dunia lebih baik untuk anak-anak dan masa depan negara kita. Ini adalah beberapa contohnya.

The Trials of Gabriel Fernandez, seperti judulnya, bercerita tentang persidangan orang tua Gabriel (ibu dan ayah tirinya) yang menyiksa Gabriel sampai meninggal. Settingnya di California, dan dari persidangannya terbukalah sebuah ketidakbecusan departemen sosial di Amerika Serikat, yang telah berkali-kali menerima laporan soal Gabriel yang sudah luka-luka, namun selalu mandeg di birokrasi sampai anak itu meninggal. Parahnya departemen sosial ini seperti dijawab oleh serial dari belahan dunia lain, The Chestnut Man

Setting The Chestnut Man ada di Denmark dan perbatasan dengan Jerman. Ceritanya soal seorang pembunuh berantai sadis yang modus operandinya (1) melaporkan orang tua anak yang ditelantarkan ke Departemen Sosial, dan (2) jika tidak digubris, maka orang tua anak itu akan dibunuh dan anggota tubuhnya dimutilasi, serta dibuat seperti chestnut man (mainan orang-orangan dari kulit kacang kastanyet.)

Yang paling menarik adalah, salah satu tokoh kunci yang membuat seluruh pembunuhan ini mungkin adalah seorang perempuan yang menjabat sebagai Menteri Sosial di Denmark. Film ini secara harfiah menyalahkan dan membawa struktur besar negara, sebagai penyebab utama kenapa kejadian ini berlangsung, dan pelakunya sudah pasti dan jadi bukan spoiler, adalah korban kekerasan anak ketika ia masih kecil. Plot yang sama seperti Pintu Terlarangnya Joko Anwar. 

Di Indonesia sendiri, laporan kasus kekerasan terhadap anak terus meningkat tahun demi tahun. Kompas melansir bahwa tahun ada kenaikan dari 11.057 kasus di tahun 2019 menjadi 14.517 kasus di tahun 2021 (Kompas.com, 20 Januari 2021). Ini juga disebabkan institusi kepolisian yang lebih sibuk menjaga nama daripada bekerja menyelesaikan kasus, seperti laporan mendalam yang ditulis project Multatuli Tanggal 6 Oktober 2021. Dalam artikel berjudul “Tiga Anak Saya Diperkosa, Saya Lapor Polisi. Polisi Menghentikan Penyelidikan.” Tiga anak ibu Lydia (nama samaran) itu diperkosa oleh mantan suaminya. Si ibu lapor ke dinas sosial dan polisi, yang justru mempertemukan anak-anaknya dengan si pelaku. Semua tambah runyam karena polisi dan dinas sosial sama sekali tidak mengerti bagaimana caranya menangani sebuah kasus kekerasan seksual kepada anak. Akal sehat saja mereka tidak punya. 

Memang, belum tentu anak-anak yang dilecehkan ini akan jadi penjahat, atau akan melecehkan orang lain. Tapi yang pasti traumanya akan keras, mereka akan memiliki hidup yang sulit, disabilitas psikososial. Ini masalah besar yang pemecahannya hanya bisa dengan kebijakan-kebijakan yang jalan beriringan dari banyak arah: secara undang-undang, hukuman harus diperberat; laporan harus dipermudah; dan yang paling penting, mengakui kesalahan dan aparat serta penjabat publik semua harus dididik ulang soal pelecehan seksual, kekerasan terhadap anak, dan bagaimana cara menangani korban. SOP harus sangat jelas. 

Satu kasus lagi yang menyeramkan adalah seorang ibu yang menggorok anaknya. Ini kejadian yang sudah terjadi berkali-kali terhadap ibu yang stres. Dalam film kita bisa melihatnya di film The Others besutan Alejandro Amenabar. Di situ kita melihat tokoh ibu yang dimainkan Nicole Kidman yang membunuh anak-anaknya karena stres trauma perang.

Di kejadian nyata, pembunuhan anak oleh orang tua selalu terjadi karena masalah struktural (ekonomi, ideologi politik dan perang.) Hitler dan pengikutnya pun membunuh anak-anak mereka karena kalah perang, atau bunuh diri masal di Jonestown, atau bom bunuh diri anak, karena agama dan ketidakpuasan politik-ekonomi.

Dari sini kesimpulan utamanya adalah: tidak ada orang tua waras yang membunuh anak-anaknya karena motivasi pribadi. Semua karena motivasi struktural bahwa dunia yang mereka hidupi memang tidak mendukung anak-anak untuk tumbuh berkembang. Jadi terngiang kata-kata eksistensialis Soe Hok Gie: Yang paling beruntung adalah yang tidak dilahirkan, yang beruntung kedua adalah yang mati muda, dan yang paling sial adalah mati tua—karena kehidupan dalam masyakarat yang sakit akan berkutat pada penderitaan.

Masa depan kita suram dengan banyaknya anak-anak yang dilecehkan seperti ini, perjuangan tetap kenceng, rekomendasi, petisi terus berjalan walau gaungnya seringkali kalah dengan isu-isu lain. Yang kita bisa lakukan hari ini adalah mendidik dan menyebarkan informasi yang objektif, saintifik, dan bertindak tegas ketika kita melihat kekerasan seksual, apalagi terhadap anak. Ketegasan dimulai dari hukuman sosial hingga legal. Dan kalau legalnya tidak kuat, kita bisa memakai media untuk berkoar, ajak wartawan, blogger, tweeps, semua untuk marah dan mengkoreksi, memberikan tekanan penting terhadap kebudayaan dan negara kita. Komnas Perempuan juga meluncurkan catatan tahunan yang penting buat kita lihat sebagai salah satu cara mengawal agar jaminan hukum dan sosial bisa berjalan dengan baik di negeri kita, untuk mencegah Trials of Gabriel Fernandez atau pembunuhan The Chestnut Man di Indonesia. 

Film, Kurasi/Kritik

Eternals dan Matinya Mitologi Tuhan

Kebanyakan orang beragama pasti spanneng, kalau Tuhan dibilang mitos, apalagi dongeng. Rocky Gerung pernah kena batunya waktu dia bilang agama adalah fiksi. Tapi yah, kita mau bilang apa sama kebebalan spesies kita? Yang bikin kita jadi manusia toh ternyata bukan akal, bukan logika, tapi dongeng apa yang mau kita percaya.

Kita sudah menemukan hal-hal paling mutakhir: tulisan, metode pengumpulan data, perekam data. Dan data ini terus kita olah menjadi peradaban kita. Tapi data tidak ada gunanya tanpa cerita. Cerita adalah manual kita, semacam petunjuk arah bagaimana kita mau memaknai sebuah data. Data tentang hidup kita, misalnya, cuma bisa relevan kalau kita bagun dalam sebuah cerita.

Kisah-kisah superhero, tidak jauh beda dengan kisah-kisah di kitab suci. Bedanya cuma institusi yang menghasilkannya. Institusi produksi film atau sastra akan dengan gampang mengakui bahwa mereka adalah pabrik imajinasi. Sementara institusi agama akan selalu bilang mereka memegang yang lebih nyata dari yang nyata (baca: akhirat). Tapi orang songong, atheist yang solat, seperti saya akan bilang bahwa memang Tuhan, Dewa-dewa, Setan, Akhirat, Agama-agama, semuanya sama saja dengan dongeng. Mitos. Imajinasi. Semua itu bukan kenyataan tapi jadi pegangan kita dalam menghadapi dan membentuk kenyataan.

Pembicaraan filsafat panjang ini penting saya paparkan ketika bicara soal Film Eternals Marvel-Disney. Ini termasuk film dengan naratif paling songong. Avengers dan Thanos, Dr. Strange, Thor, itu udah bener-bener songong kan. Bayangin aja ada Tuhan bawa-bawa palu, kalah lagi sama Hulk–makhluk yang diciptakan sains. Malu. Untungnya orang Norwegia dan Viking yang beberapa masih menganut agama lama gak sensian kayak orang Islam yang dengan gampang gasih fatwa mati. Mungkin itu juga penganut agama Viking sudah beragama buat gaya-gayaan aja. Toh, negara merka udah jadi salah satu negara termaju di dunia.

Jadi Marvel ini memang segerombolan komikus yang paling songong, bikin dan make imajinasi Tuhan dan mitologi orang dengan semena-mena. Jadi inget buku The American Gods-nya Neil Gaiman, yang ngumpulin seluruh Tuhan-tuhan kuno di Amerika sebagai simbol imigran. Di buku itu nggak ada Allah (adanya Jin) , dan itu membuktikan keberhasilan fatwa mati orang Islam terhadap Salman Rushdie atau Ki Panji Kusmin, yang bikin gak ada penulis mainstream yang akan berani buat “menghina Islam”.

Eternals songong karena mereka bikin plot multidimensional, ketuhanan, dan Paralel Universe Marvel jadi tambah keos. Plus, dunia mereka berkelindan sama Avengers dan X-Men. Gile, Marvel nih udah kayak 72 aliran Islam. Plus mereka udah jelas plagiat beberpa superhero DC, lalu dengan bebasnya ngasih reference bahwa Ikaris adalah Superman. Mungkin udah tahu kali ya kalo Ikaris emang referencenya Superman, makanya daripada dibilang plagiat mendingan hajar bae ngaku itu tribute.

Kelindan, claim, dan tinggi-tinggian superhero itu bukan hal baru. Waktu Sunan Kalijaga bikin wayang, dia pake cerita Hindu dan dewa-dewa Hindu dari Ramayana dan Mahabarata. Bedanya, dan ini yang keren banget dari pembajakan agama Hindu untuk dakwah Islam, sang Sunan ngasih Gusti Allah sebagai dewa tertinggi, dan Punakawan (manusia biasa) sebagai tokoh bijaknya. Resmi tuh agama dibajak untuk dakwah agama lain. Keren. Dan ga ada yang ngamuk saat itu, kerena cerita wayang seseru cerita superhero yang sekarang sering kita tonton.

Menarik melihat Sapiens mengkategorikan agama dan cerita yang mirip agamanya tapi bukan agamanya. Double standard dan paradoxnya ga nahan juga: bahwa agama terinstitusi lebih bisa dipercaya daripada superhero. Kebayang nggak sih kalo dimasa depan, semua superhero ini menggantikan Tuhan kita hari ini, kagak bagaimana Tuhan kita hari ini menggantikan dewa-dewa dan mitologi nenek moyang kita?

Kebayang dong, tapi pasti banyak orang akan deny. Nggak ada yang mau Terima bahwa Tuhan itu jahat. Tapi Tuhannya Eternal, jahat. Ini ancurnya logika film ini. Tuhannya Eternal jahat padahal dia cuma force of nature. Semua juga pada akhirnya akan meledak atau beku. Lucunya Tuhannya Eternals malah kasih kesempatan kedua pasca kiamat, seakan Tuhan bisa dipetisi dewa-dewa atau para malaikatnya. Kalau dibandingkan sama agama semit, Tuhan akan menjadikan malaikat yang mengritiknya jadi setan dan membuangnya ke neraka.

Sudahlah. Mereka perlu itu buat bikin cerita yang manusiawi. Dewa-dewa abadi yang hidup disekitar kita, ama-lama jadi kita. Gitu kali maksudnya. Kasihan amat. Mental tuh dewa-dewa abadi yah. Yang jelas dari jaman Yunani kuno, Dewa-dewa emang udah galau aja sih, mau jadi kayak manusia yang rendah hati, atau kayak manusia yang sombong. Ini membuktikan mitologi Tuhan atau Dewa dengan karakteristik manusia masih laku aja.

Gue rasa percuma ngomongin akting atau aspek teknis di film ini. Apalagi CGI nya banyak banget, udah lah ya. Tapi menarik sih melihat Hollywood dan obsesinya terhadap dewa-dewa dan agama tua. Dari Clash of Titans sampe Gods of Egypt, Hollywood suka banget bawa-bawa nama Tuhan. Well mungkin ini tradisi reinassance Eropa, yang dengan songongnya melukis Yesus dengan kulit putih. Padahal Yesus dalam bukti sejarahnya harusnya Yahudi berkulit gelap.

Klaim-klaim semacam ini bukanlah sebuah hal baru. Mereka yang menguasai seni dan media bisa membuat berbagai macam klaim. Karenanya semakin bebas sebuah media seni, semakin tidak berharga pula klaim-klaim itu. Klaim cuma bisa bekerja dalam sebuah sistem buku rekam seperti hari ini kita punya blockchain. Tanpa ada sistem rekam , maka klaim tidak berharga karena tidak bisa diverifikasi–begitupun Tuhan. Tanpa ada instutusi Agama maka Tuhan tidak bisa diferifikasi sebagai sebuah kode yang menyatukan banyak orang di dalam lindungan (agama)-Nya.

Kembali pada The Eternals, satu hal yang penting dari franchise film ini adalah bagaimana kaum abadi ini merangkum peradaban besar manusia, dan mengklaim diri mereka sebagai bagian dari sejarah peradaban manusia. Dan kesiumpulannya, seperti banyak film superhero hari ini, bukan tidak mungkin di masa depan, superhero hari ini adalah Tuhan di masa depan.


Website ini jalan dengan donasi. Kalau kamu suka yang kamu baca, kamu bisa bantu sang penulis untuk bisa tetap punya blog yang proper dengan mentraktir dia kopi dengan menekan tombol ini:

Film, Gender, Kurasi/Kritik, Memoir, Racauan

Quo Vadis, Henricus Pria?

Tulisan ini buat mbak yang komen di IG cinemapoetica. Ya, saya patriarki. Itu ideologi yang dipakai semua orang hari ini. Dan saya feminis, karena saya melawan ideologi itu, termasuk melawan diri dan privilise saya sendiri sebagai lelaki heteronormatif, yang berusaha untuk terus evaluasi diri. Yes, thank you, saya tidak kenal kamu tapi saya menghormatimu. Semoga bahagia dan sehat-sehat, ya.

Ketika rumah produksi Penyalin Cahaya menyebarkan kabar bahwa penulis naskahnya dicoret dari kredit karena menjadi terduga pelaku pelecehan seksual, saya sangat galau. Saya sedang ada di tengah project film panjang pertama saya, 6 film pendek yang saya eksekutif produser sedang jalan post produksi dan satu sedang distribusi, dan saya sudah melabeli diri saya sebagai pembuat film aktivis, arus pinggiran, khusus NGO dan misi humanitarian, plus saya self proclaimed feminist, tapi… Saya anxious dipenuhi rasa bersalah!

Karena faktanya, saya adalah laki-laki heteroseksual yang dibesarkan di dalam budaya patriarki, dan saya belajar soal seksualitas dan feminisme ketika saya kuliah, untuk lebih mengerti ibu saya yang seperti gambarannya Betty Friedan dan gebetan saya yang seperti Helene Cisoux. Itu pun, dalam masa-masa kuliah dan pasca kuliah yang rock and roll (saya punya 2 album rock and roll dan pernah punya groupies), saya bergaul dengan lumayan banyak perempuan. Dan seremnya, saya takut ada yang saya lecehkan tapi saya nggak sadar karena saya bias patriarki. Karena seperti kata Hannah Arendt, kejahatan itu banal. Anwar Congo nggak merasa bersalah membantai Komunis, sampe dia dipersalahkan zaman Baru yang melihat pembunuhan sebagai pembunuhan. Dan kebanyakan boomer yang melecehkan perempuan menganggap bahwa hal yang mereka lakukan normal- normal saja pada masanya. Intinya, banyak pelecehan terjadi karena kebodohan dan kekurangan kemanusiaan. Sejarah seringkali tidak bersifat linear, tapi paralel dan komparatif: seperti ditemukannya perbudakan manusia di jaman ini di rumah Bupati Langkat. Atau pemikiran beberapa aliran puritan Islam yang tidak mau hidup dengan teknologi karena tidak sesuai dengan cara hidup rasul.

Untuk memastikan saya tidak melecehkan mantan-mantan pacar, gebetan atau FWB, saya menjaga hubungan baik dengan kebanyakan dari mereka. Nggak semua soalnya ada yang sudah kawin, beranak, berbahagia dan suaminya insecure, jadi saya nggak hubungi lagi. Anyway, kasus Penyalin Cahaya bikin saya ga bisa tidur dan saya bikin draft tulisan yang isinya nama dan peristiwa dimana saya mungkin saja pernah melecehkan perempuan. Saya berusaha mengevaluasi diri karena takut nanti pas film saya jadi, ada yang mengadukan saya karena saya pernah tolol aja waktu muda. Tapi pas saya tulis, saya malah ketrigger sendiri—secara saya banyak dibikin nangis sama perempuan. Sad boi gitu, tapi mabok dan ngeblues, maklum belom jamannya Emo jadi saya terhindar dari punya poni banting.

Saya sedih diputusin tapi saya nggak pernah dilecehkan. Saya cuma not good enough to be their man. Saya juga nggak merasa melecehkan, karena toh saya bener-bener sayang sama mereka semua, dan saya sangat terbuka untuk tanggung jawab dan minta maaf pada mereka kalau mereka bilang saya menyakiti mereka. Tubuh saya penuh luka yang pantas saya dapatkan karena membuat mereka patah hati. Beberapa ada yang mereka kasih karena mereka kesal saya selingkuh terus jujur, tapi kebanyakan luka saya toreh atau saya pukul sendiri karena saya merasa bersalah menyakiti hati orang yang sayang sama saya. Ah, sudah ah. Sedih.

Akhirnya tulisan itu jadi draft aja yang entah kapan bakal saya keluarkan. Dan saya coba bikin kritik Penyalin Cahaya sebagai filmmaker saja. Tapi setelah saya tonton dua kali, saya langsung bosan dengan filmnya. Filmnya well crafted, bagus banget secara visual dan naratif, tapi nggak mengulik intelektualitas saya kayak film-filmnya Joko Anwar, misalnya. Penyalin Cahaya yaudah gitu aja. Paling kalo mau dikritisi, filmnya ga mengandung keistimewaan feminist secara visual: cewek-cewek di film itu tetap aja tereksploitasi dan jadi fetish buat cowok-cowok yang suka sama cewek feminist. Yes, seperti ada cowok-cowok fetish sama nenek-nenek, orang kerdil, anak kecil, dan perempuan cantik, ada juga cowok-cowok yang fetishnya sama dominatrix atau feminist. Kalau cowok-cowok yang fetish feminist ini adalah masokis, itu lebih baik daripada Penyalin Cahaya. Karena, dan ini simpulan saya sama Penyalin Cahaya:

Penyalin Cahaya secara visual dan naratif memberikan sebuah orgasme pada para lelaki patriarki dominan yang fetish pada feminist, bahwa pada akhirnya para perempuan yang melawan ini mereka kuasai, sistemnya kuasai. Di visual filmnya tubuh, punggung, dan ranah privat sudah diekspos ke penonton, memberikan kenikmatan. Dan cerita-cerita terfotokopi hanya sekedar buang-buang kertas ke jalanan. Secara visual keren, kertas kuning melayang di udara, tapi secara subtansi cuma jadi sampah di jalanan. Long live patriarchy.

Maka kesimpangsiuran kasus Henricus Pria, dan banyak pelecehan lain cuma menambah kuat statement film ini: cerita-cerita pelecehan itu sampah yang buang-buang kertas aja. Toh angka penonton dan penjualan di Netflix tetap tinggi, dan cerita korban berkeliaran seperti gosipan lambe turah saja.

Dan saya tetap tidak bisa tidur. Bukan karena saya merasa bersalah seperti ketika film ini tercekik wacana dan jadi trending dulu, tapi karena kasusnya seperti tulisan di pasir yang tersapu ombak waktu. Saya tidak bisa tidur memikirkan para perempuan yang trauma, terluka, dan melanjutkan hidup seperti veteran perang yang sengaja dibuat kalah dan traumatis. Saya tidak bisa tidur memikirkan, apa yang bisa saya lakukan besok, biar saya, murid-murid saya, generasi masa depan, tidak mengulang pelecehan yang sama. Karena bikin film soal pelecehan seksual, yang menang banyak penghargaan dan sempat bikin Peraturan Menteri no. 30 jadi hits, nggak bisa membuat korban diurus dengan lebih baik. Saya merasa helpless sebagai filmmaker.

Taik kucing semua kertas fotokopian itu. Saya akan bikin pendidikan film gratis aja buat filmmaker perempuan. Jadi mereka ga motokopi cerita, MEREKA SYUTING SENDIRI! Kalau kamu merasa kamu berbakat jadi sutradara, penulis, atau produser perempuan, tapi ga bisa sekolah film, daftar MondiBlanc!


Terima kasih sudah membaca tulisan ini. Website ini jalan dengan donasi. Jika kamu suka dengan yang kamu baca, kamu boleh sebarkan tulisan ini. Dan jika kamu mendukung saya untuk bisa terus konsisten menulis, boleh klik tombol di bawah ini dan traktir saya segelas kopi. Terima kasih.

Film, Kurasi/Kritik

Ibu Arkaik dan Bapak Yang Mati di Pengabdi Setan dan Perempuan Tanah Jahanam

Era pasca Reformasi membawa ide-ide baru, ideologi dan teknologi: MTV, Internet, Friendster, HP tidak cerdas, Oligarki Media, dan kebangkitan film Indonesia. Seperti dijelaskan oleh Kusumaryati (2011), Paramaditha (2012), dan Pangastuti (2019) ada sebuah pergeseran ideologi yang menyebabkan gelombang dalam naratif teks-teks kebudayaan, termasuk dan khususnya, film. 

Pergeseran tersebut ditunjukkan dari bagaimana perempuan direpresentasikan baik di Industri dan dalam isi film. Buktinya adalah munculnya produser-produser dan sutradara-sutradara perempuan dalam sebuah industri yang biasanya didominasi lelaki dan patron-patron pria. 

Perempuan-perempuan ini, seperti Mira Lesmana dan Nan T. Achnas, adalah bagian dari pergerakan sinema baru di Indonesia pasca Reformasi yang menyutradarai film omnibus Kuldesak (1998). Mengutip Intan Paramaditha:

Not only are they privileged with cosmopolitan perspective of the world, but they are also exposed to the global flows of images that started to proliferate in the 1990s with the emergence of satellite TV. This is also the generation that grew up watching mainly Hollywood films… (Paramaditha, 2012, p. 80) 

Mereka tidak hanya diberkati dengan perspektif kosmopolitan dunia, tapi mereka juga terekspos dengan aliran citra global yang muncul di tahun 1990 dengan hadirnya TV satelit. Mereka juga adalah generasi yang tumbuh menonton kebanyakan film Holywood. 

Kosmopolitanisme memainkan peran besar dalam mode produksi dan kolaborasi para filmmaker pasca Reformasi. Ide-ide baru yang dibawa para mahasiswa Indonesia di luar negeri, internet, dan kembalinya film-film cult Indonesia, telah membuka pintu ke deterriteriolisasi global. Deterriteriolisasi adalah “hilangnya hubungan ‘alami’ antara budaya dengan wilayah geografi dan sosial” (Tomlinson dalam Normanda, 2021: hal. 9) atau dengan kata lain, sebuah dunia imajinasi kolektif dalam bentuk teks kultural dalam dunia data. 

Untuk saya pribadi, ada seorang sutradara yang paling menonjol dalam tanah deterritorialisasi di sinema Indonesia pasca Reformasi: Joko Anwar. Menurut kritikus film Ekky Imanjaya, Anwar adalah orang yang “menemukan kembali film-film B secara global” di awal tahun 2000an yang sempat hilang dari lalulintas kebudayaan Indonesia (Imanjaya, 2016, hal 28).

Saya menyebut Anwar sebagai sutradara-aktivis-selebriti. Dengan 1.7 juta follower di twitter, dan 271 ribu follower instagram, Anwar menerbitkan buah pikirannya beberapa kali sehari, mempromosikan filmnya, film kawan-kawannya, tips membuat film, dan aktivisme sosial. 

Dalam wawancara di tahun 2010, Anwar bilang, “… Saya merasa bahwa saya tidak akan diterima di Indonesia karena satu atau dua alasan. Kalau saya kasih tahu kamu alasannya, orang akan mikir saya terlalu self absorbed. Filmmaker di negeri ini merasa mereka hebat, tapi mereka belum pernah keluar negeri dan melihat orang yang lebih hebat… Saya cuma mau tahu posisi saya di sinema global” (Anwar dalam Nurmanda, 2010, hal 238).

Hari ini, dengan 9 film panjang, sebuah serial HBO, sebuah miniseri HBO, dan banyak film pendek, Anwar tidak lagi membayangkan dunia deterritorialisasi Sinema; dia hidup dalam dunia tersebut. 

Saya akan mendiskusikan secara singkat dua film terakhir Joko Anwar: Pengabdi Setan (2017) dan Perempuan Tanah Jahanam (2019). Saya memilih dua film ini karena ide-idenya tentang protagonist perempuan dan tentang keibuan yang dapat dilihat sebagai sebuah tantangan baru terhadap ideologi patriarki dalam film Indonesia, terutama dengan film-film bergenre serupa yang bicara tentang konflik keluarga dan horor. 

Saya berargumen bahwa dua film tersebut menarasikan aparatus global tentang kebenaran politis (political correctness) dalam isu gender dan penolakan terhadap hukum sang Bapak dari teori Freudian/Lacanian–dan dalam konteks Indonesia, sebuah hempasan pada maskulinitas Orde Baru. 

Bapak yang Menghantui

Jacque Lacan, seorang psikoanalis Prancis, menyatakan bahwa bahasa adalah awal dimana seorang anak memasuki Orde Simbolik, dimana ia belajar hukum sang Bapak dan mulai menginternalisasi bagaimana cara berhasrat dalam hukum tersebut, maka memisahkan ia dari ibunya. (Zizek, 2005). Dalam konteks rezim Orde Baru, kita harus bicara tentang Bapakisme dan Ibuisme, dimana relasi gender dikontrol oleh heteronormativitas negara (Paramaditha, 2012, hal 71.) 

Secara sederhana, Orde Baru melihat Bapak sebagai pemimpin rumah tangga dan ibu sebagai pengasuh. Posisi seorang perempuan ditentukan dari posisi suaminya. Dalam sudut pandang Orde Baru, perempuan dewasa adalah perempuan yang menikah, dan perempuan yang tidak menikah atau tidak punya anak dianggap hina (Abject). 

Sedikit penjelasan logika ini dalam film Indonesia, dalam film Ketika Iblis Menjemput (Tjahjanto, 2018) dan Lampor (Soeharjanto, 2019) menceritakan seorang Ayah yang membuat perjanjian dengan setan atau mengerjakan ritual untuk mendapatkan kekayaan, mengorbankan istri dan anak pertamanya, menikah lagi, jadi depresi, bertobat, mati dan dimaafkan oleh istri atau anak perempuan yang dizalimi untuk kesuksesannya. 

Walaupun kedua film punya protagonist perempuan, keduanya juga punya stereotipe perempuan nakal, dalam bentuk pendaki kelas sosial atau pezina. Kedua film membandingkan perempuan baik-perempuan buruk. Perempuan baik: pemaaf, penyayang, altruistik; perempuan buruk: cantik, licik, ambisius. Walau bapak mati, amal baik bapak atau arwahnya menang dan dimaafkan, walaupun masalah yang ia timbulkan sangat banyak. 

Sementara itu, dalam film Joko Anwar, ketika bapak mati, ya bapak mati. 

Hilangnya Kebapakan

Dalam Pengabdi Setan, cerita berputar di sekitar Rini (Tara Basro) dan tiga adik lelakinya yang berjuang untuk hidup mandiri setelah ibunya meninggal. Bapak mereka harus kerja di kota karena mereka terlilit hutang.  

Ibu mereka adalah mantan penyanyi dan semenjak ia sekarat, banyak kejadian aneh terjadi. Setelah ia meninggal, kejadian supernatural makin sering terjadi. Nenek mereka mati di sumur, dan gebetan protagonis meninggal mengenaskan ketika mengantarkan pesan kebenaran kepada sang protagonis. 

Di akhir film, terbuka bahwa ibu mereka telah mengikat janji pasa setan dan sektenya untuk bisa punya anak, dan dia harus memberikan anak terakhirnya kepada setan ketika usia anak itu 7 tahun. 

Yang paling menarik, dalam film yang memecahkan rekor sebagai film horor terlaku dalam sejarah film Indonesia ini, adalah kematian seorang Ustadz–yang adalah bapak dari gebetan si protagonis. 

Pada masa Orde Baru, film horor harus menggambarkan kehadiran agen agama sebagai deux ex Machina dalam memecahkan masalah supernatural. Hal ini hilang semenjak film Jelangkung (Mantovani, 2001) dibuat. (Kusumaryati, 2011:208). Dalam Jelangkung, tokoh dukun mati ketika mencoba mengusir setan. Di Lampor, makhluk Supernatural juga mengambil si Dukun. Walau tidak diakhiri dengan tokoh religius, kedua film tersebut masih sejalan dengan logika Orde Baru untuk menghukum orang kafir yang kepercayaannya di luar kepercayaan yang disetujui Orde Baru. Hanya dalam Pengabdi Setan, seorang Ustadz bisa depresi dan dibunuh oleh zombie. Naratif ini adalah hantaman keras untuk menolak hukum bapak Orde Baru. 

Film terakhir Anwar sebelum pandemi adalah Perempuan Tanah Jahanam (2019), yang bercerita tentang Maya/Rahayu (Lagi-lagi dimainkan Tara Basro), yang, setelah hampir mati, menemukan bahwa ia mewarisi rumah di sebuah kampung bernama Harjosari.  

Bersama temannya, Dini (Marisa Anita), Maya pergi untuk mengambil warisannya. Kampung tersebut dikutuk karena mantan kepala desa yang juga seorang dalang bernama Ki Donowongso, menggunakan ilmu Hitam untuk menyelamatkan anaknya Rahayu, yang lahir tanpa kulit. Semenjak saat itu, semua bayi yang lahir di kampung itu, lahir tanpa kulit. Cerita latar ini agak panjang dan harus diceritakan melalui momen trans si protagonis tentang patriark di kampung tersebut yang semuanya berakhir mati di akhir film. Dan tokoh Nyi Miskin (Christine Hakim) yang bunuh diri demi anak lelakinya, tetap menghantui. 

Protagonis Perempuan VS Ibu Arkaik

Protagonis dalam kedua film itu adalah perempuan dengan karakteristik yang berbeda. Rini hidup di kampung pada tahun 1980-an dan memiliki kualitas keibuan untuk adik-adiknya: melakukan pekerjaan domestik, merawat ibu yang sakit, dan memasak di dapur. Sementara itu, Maya adalah perempuan Urban kelas menengah bawah di tahun  2000an yang berjuang secara finansial. Kontekstualisasinya cocok, ideologinya tidak: dan itu baik ketika kita punya pernyataan politik. 

Kedua perempuan muda itu terjebak dalam situasi sosial yang aneh, dalam setting yang ambigu. Dari awal, Pengabdi Setan dimulai dengan sekaratnya sang Ibu; sementara Perempuan Tanah Jahanam dengan percobaan pembunuhan protagonis. Dalam dua film tersebut kedua protagonis tidak memiliki keistimewaan apa-apa. 

Tapi mereka harus menghadapi Ibu Arkaik; seorang ibu yang menuntut, ambisius, tidak subur, jahat, berkuasa, dan hina (Creed, 1993). Ada tiga jenis ibu dalam Pengabdi Setan: pertama, ibu yang mati, kedua hantu/zombie ibu yang beda karakter dan kesadaran, dan ketiga nenek/hantu sang nenek yang hadir dari sumur/kamar mandi; tempat mengambil air dan buang air.  

Dalam Perempuan Tanah Jahanam, Ibu Arkaik adalah Nyi Misnih, pelayan/dukun yang mau mengontrol anaknya dan melindunginga dari kesedihan, patah hati, dan ketidakberdayaan. 

Konflik di kedua film dimulai dari tekanan sosial. Dalam Pengabdi Setan, Ibu bergabung dengan sekte setan supaya bisa punya anak. Sementara dalam Perempuan Tanah Jahanam, Nyi Misnih terperangkap struktur sosial ketika anak lelakinya berselingkuh dengan istri Tuannya. Ibu Arkaik berjuang untuk mempertahankan kuasa, dan dengan waktu dan kebenaran, kekuasaannya runtuh. 

Kedua film membunuh atau mengesampingkan tokoh bapak, mengangkat perempuan polos yang dengan intuisi dan improvisasinya mampu melawan ibu arkaik. Naratif ini datang dari seorang sutradara laki-laki yang hadir di Indonesia Pasca Soeharto, dengan kesadaran akan trend political correctness global dan gerakan perempuan. Keterlibatan produser perempuan, kru, dan aktor dengan visi yang sama, juga mengubah lanskap film Indonesia untuk menjadi lebih representatif terhadap perempuan, di dalam dan di luar filmnya. 

***

Terima kasih sudah membaca sampai selesai. Blog ini dibiayai dengan donasi, dan nulis butuh waktu dan energi yang banyak. Kalau kalian mampu, boleh traktir saya kopi dengan klik tombol di bawah. Thank you for reading!

Bibliografi

Zizek, S. (2005). Woman is One of the Names-of-the-Father, or How Not to Misread Lacan’s Formulas of Sexuation . Retrieved May 18, 2020, from lacan.com: https://www.lacan.com/zizwoman.htm

Shanty Harmayn, A. L. (Producer), Anwar, J. (Writer), & Anwar, J. (Director). (2019). Impetigore [Motion Picture]. Indonesia.

Gope T. Samtani, S. S. (Producer), Anwar, J. (Writer), & Anwar, J. (Director). (2017). Satan’s Slaves [Motion Picture]. Indonesia.

Creed, B. (1993). The Monstrous Feminine: Film, Feminism, Psychoanalysis. New York: Routledge.

Imanjaya, E. (2016). The Cultural Traffic of Classic Indonesian Exploitation Cinema . Thesis submitted for the degree of Doctor of Philosophy . University of East Anglia School of Art, Media and American Studies .

Kusumaryati, V. (2011). Hantu-hantu Dalam Film Horor Indonesia. (E. Imanjaya, Ed.) Mau Dibawa Kemana Sinema Kita? Beberapa Wacana Seputar Film Indonesia

Nurmanda, N. (2012). Dolanan Globalisasi: Kajian Antropologi Globalisma Seni Gunung. Thesis to be submitted for Master Degree in Anthropology . Indonesia: Universitas Indonesia.

Nurmanda, N. (2011). Tiga Film Pertama Joko Anwar: Kebebasan Kreasi di Perfilman Indonesia Pasca-Soeharto. (E. Imanjaya, Ed.) Mau Dibawa Ke Mana Sinema Kita? Beberapa Wacana Seputar Film Indonesia .

Poernomo, J. (Producer), & Mantovani, R. (Director). (2001). Jelangkung.

Pangastuti, A. (2019). Female Sexploitation in Indonesian Horror Films: Sundel Bolong (A Perforated Prostitute Ghost, 1981), Gairah Malam III (Night Passion III, 1996), and Air Terjun Pengantin (Lost Paradise – Playmates in Hell, 2009). A thesis submitted to Auckland University of Technology in partial fulfilment of the requirement for the degree of Master of Communication Studies . Auckland, New Zealand: Auckland University of Technology.

Paramaditha, I. (2012). Cinema, Sexuality, and Censorship in Post-Soeharto Indonesia. (T. Baumgartel, Ed.) Southeast Asian Independent Cinema .

Soeharjanto, G. (Director). (2019). Lampor [Motion Picture].

Tjahjanto, T. (Director). (2018). May The Devil Take You. Indonesia: Netflix.