Cinta, Eksistensialisme, Puisi

Vanili

Ivan dan Lily malam ini
Tergeletak di jalan sepi
Dua kekasih hati
Sudah dipisahkan mati

Kebut-kebut, rasa menggebu
Gebu-gebu dada berpacu
Pacu-pacu menuju ayahmu
Malam ini kulamar kamu

Berdua sepulang kerja
Lily dan Ivan menatap senja
Dari atas flyover Jakarta
Ivan menyatakan cinta

Sudah bersahabat tahun ke lima
Sudah lewat banyak masa
Dan gagalnya banyak cinta
Tentu saja, Lily bilang iya

Tapi kau harus temui aku punya Papa

Cinta, Eksistensialisme, English, Puisi

O, Brother!

O, brother
Why have thou come hither?

The morrow are being wither
Bone marrow are being batter
My sorrow will not be better
I can’t give thou bread and butter

For I, too, hold my hunger
You shall have to suffer

O, brethen
You call me heathen
Burn me at stake
make me a steak

My meat is meek
Blood wine as sleek
What will you seek
After I break?

Live like Jesus die like Jesus
Beelzebub babbling bobbling pus
Brother will you let me pass
working as hard as an ass

To give food on your family plate
To be good as a man on a gate
To be fooled by your poor little slate
To die bold on the hands of my mate.

O, brother
Why have thou come hither?

Can’t thou love me any better
Than to be sad and bitter?






Cinta, Eksistensialisme, English, Puisi, Uncategorized

Hunger

My hunger

I have told you this thousands of years ago

my hunger

is a monster you can never comprehend

Hell, I can’t even comprehend it myself

My hunger, my hunger

I run like mad horse

a black cube in the desert floating

made of pitch darkness

bottomless vacuum

my hunger, my hunger

How can I love you and live with this hunger

but how can I tell you about this hunger

when you have lost your limbs for me

And my dear doctor asked

“Will you satisfiy your hunger with a new prey?”

To be honest I’d rather die

Yet here I am devouring love

of a Goddess while chewing

at yout bones

Cinta, Puisi

Ini Kabar Dia Yang Kau Tanyakan

Buang ke bintang-bintang, cerita kita pernah jadi binatang berpunuk dua di sarang peri-peri hutan kota ini.

Kadang lara ada dan tiada, seperti cintamu yang kau sembur di lidah dan ludahnya, hingga semburatnya di dadamu, di perutmu, tapi tidak di mulutmu.

Mulutmu hanya untuk ku. Bibirmu adalah liang menuju sungai-sungai waktu, surai-surai di derai-derai pelangi; kaki-kakinya menghubungkan lidahmu dan lidahku.

Dan lidahku di liangmu, kau menggelinjang dan dawai-dawai ribuan syarafmu kumainkan dengan jari-jemari ajaib ku. Desah, resah akan akhir sebuah kisah yang bisa jadi sangat menyakitkan karena semua ini tak terasa salah.

Namun kita tahu ada tabu ditabuh dalam ritme tubuh kita. Maka kita saling menolak cinta, dan kita buang kata-kata ke angkasa.

Menjadi meteor-meteor yang menabrak bintang-bintang. Memandu arah jalan pulang, jiwa-jiwa yang mengejar kerinduan.

Jakarta, 2020.