English, Filsafat, Racauan

Bad Habit support Identity

A bad habit is a repetitive behavior or pattern that is generally regarded as undesirable or detrimental to one’s well-being, personal growth, or success. These habits can vary greatly from person to person, but some common examples include smoking, drinking too much, and procrastinating. My problem today is mostly about laziness to clean my room. This will make to have another session with my shrink. Anyway, here are some thoughts about bad habits and my identity. Anyway, I feel quite wrong because I find comfort in my bad habits.

Photo by Ron Lach on Pexels.com

Finding comfort and justification for our bad habits within our identity and sense of self is natural. However, I think it’s important to keep in mind that embracing a bad habit solely because it confirms my identity may have consequences that affect my overall well-being and relationships with others. Here are a few points I need to consider:

  1. Self-reflection: Take some time to reflect on the reasons behind your belief that these habits are a part of your identity and existence. Are there deeper emotional or psychological factors contributing to this belief? Understanding the root causes can help you assess whether holding on to these habits aligns with your long-term goals and values.
  2. Effects on relationships: Consider how these bad habits may affect how people perceive and treat you. Sometimes, certain behavior patterns can lead to strained relationships, misunderstandings, or even harm to others. Reflect on whether the acceptance of these habits is worth the potential negative consequences in your connections with loved ones and the wider community.
  3. Exploring personal growth: While bad habits may feel like an integral part of your identity, it is important to explore personal growth and consider how breaking free from them can positively impact your life. Engaging in self-improvement and challenging yourself to develop healthier habits can lead to personal fulfillment, increased self-esteem, and improved overall well-being.

It is challenging that I kind of like my identity including my bad habit. However, it’s important to recognize that certain habits can have long-term negative consequences on our overall well-being and success in different areas of life. It might be worth evaluating whether holding on to the bad habit aligns with your long-term goals and values.

Here are a few points to consider in such a situation:

  1. Consequences: Reflect on the potential consequences of maintaining the bad habit. Ask yourself if the short-term pleasure or satisfaction derived from the habit outweighs any negative impacts on your health, relationships, productivity, or personal growth. Consider whether the habit may hinder your progress or prevent you from achieving your full potential.
  2. Alternative Perspectives: Try to gain different perspectives on your identity and habit. Seek feedback from trusted friends, family members, or professionals who can provide an objective viewpoint. They may offer insights that you haven’t considered before, helping you understand the potential downsides of the habit and its impact on how you’re perceived by others.
  3. Exploring Moderation: If complete elimination of the habit seems undesirable, explore the possibility of moderating it. Can you find a balance between enjoying the pattern to some extent while minimizing any negative effects? For example, if your habit is eating fast food, you could aim to reduce the frequency and make healthier choices when indulging.

Ultimately, it is my decision whether to continue embracing my identity with the bad habit or to consider making changes. It’s important to be aware of the potential trade-offs and the impact on your overall well-being and future aspirations. If I decide to maintain the habit, make sure to approach it mindfully, understanding the potential consequences it may have in the long run.

Filsafat, Racauan

Eseinosa, Akhirat dan Akhir

Cuma manusia, yang bisa membayangkan kalau hidup itu sia-sia. Agar tidak sia-sia, mereka menciptakan cerita. Ada cerita soal akhirat, ada cerita soal akhir.

Cerita akhirat membayangkan adanya dunia setelah kematian, yang ‘mungkin’ tidak sia-sia.

Cerita akhir membayangkan semuanya sementara dan akhir adalah akhir, maka hidup yang sia-sia dipakai untuk hedon, atau beramal baik demi meninggalkan warisan buat mereka yang melanjutkan kehidupan. Kesia-siaan adalah bagian dari cerita kehidupan, dan akan dirasakan semua yang hidup. Dan ketidak sia-siaan adalah milik orang lain selain diri sendiri.

Eseinosa adalah perjalanan spiritual saya, untuk mencapai kewarasan, kebijaksanaan, dan umur yang lebih panjang daripada kehidupan. Karena kalian yang kenal saya, akan tahu bahwa saya Atheist yang shalat.

Saya tidak percaya Tuhan, bahkan jika ia benar-benar ada. Tapi ibadah adalah teknologi, sebuah konsekuensi logis dari punya akal dan tubuh. Ibadah adalah privilise tiga spesies (sejauh ini): Homo Naledi, Neanderthal dan Homo Sapiens.

Dan ibadah bentuknya banyak tergantung apa yang dipercaya. Saya percaya pengetahuan. Karena kepercayaan hanya dimungkinkan oleh ketidaktahuan, kalau sudah tahu maka tidak perlu percaya lagi. Cukup tahu, dan percaya pada yang jelas diketahui saja. Saya tidak butuh kepercayaan, lebih butuh bukti dan argumen logis.

Saya tidak tahu banyak hal. Tapi bahwa menulis dan mencipta adalah hal yang saya tahu dan saya bisa, maka itulah saya ada.

Ketika nanti saya mati, ciptaan saya akan tetap ada, termasuk ide-ide saya di kepala kalian.

Sebentar lagi ada badai dari pikiran saya, tersebar di banyak kanal. Kalian mungkin tidak tahu bahwa itu saya. Nikmati saja, berenang, kalau bisa jangan tenggelam dalam amarah dan benci.

Karena kebodohan kalian bukan urusan saya. Kecerdasan kalian, bisa jadi urusan saya kalau kalian mau diskusi lebih lanjut.

Tabik!

English, Filsafat, Racauan

That Vegetarian Plan

Some religious rituals, like the slaughter of livestock during Eid, is no longer endurable for me. I cannot fathom nor accept it, as it is a display of celebrated cruelty. Does that make me a hypocrite, since although I seldom eat meat and tried so much not to eat it at all, I still eat poultry and fish. Well, here is the thing: I am thinking of being a vegetarian, but not yet can do it because there is not enough vegetarian food around me. But that does not mean I cannot build the context of my life to be that.

Pain, suffering, can only occur with the development of the brain and nervous system. So every creature who has a brain will have to endure pain. I will stop endorsing it if I can. Slowly I will make these carcasses unavailable to me. I won’t take part of their bodies to my mouth. But if I care about others suffering, I also need to take care of my own suffering. I cannot suffer myself with hunger or malnutrition just because I don’t want other beings to suffer.

It turns out, fortunately, that I also have a disease that makes it hard to break down proteins. So I do need a hard hard diet. I think this intolerance is needed also because of my age and health condition which enables my behavior and hormones to become calmer. Being a vegetarian could ease my pain.

No meat is easy. No poultry or fish is harder. And the aim is to minimize my relationship with cruelty as little as possible. To be as humane as possible, because only humans can have this story.

Filsafat, Politik, Racauan

Menghadapi Disrupsi AI

Dengan perlombaan AI seperti sekarang, kerja-kerja yang repetitif dan kreatif pesanan pelan-pelan hilang—begitupun pekerjanya. Harga jadi jatuh, karena semua back office diambil oleh AI. Dan para manager yang berusaha up to date dan efisien menjadi kambing hitamnya.

Orang-orang sotoy banyak yang merasa bahwa ini disrupsi yang biasa. Seperti ojol dan ojek pangkalan, atau seperti uber dan taksi. Tapi sungguh, AI jauh dari itu semua. AI adalah disrupsi menuju ke bencana besar, yang kata Yuval Noah Harari adalah: nuklir dunia simbolik kita.

Apa itu dunia simbolik? Menurut Jacque Lacan, psikoanalis Prancis modern itu, dunia simbolik adalah struktur universal yang mencakup seluruh ranah dan tindakan manusia. Khususnya ia mencakup bahasa yang kita pakai untuk bicara, mencatat, merekam, dengan berbagai mode budaya dan akademiknya, dari bahasa kesukuan hingga bahasa pemrograman.

Artificial Generative Intelligence (AGI) seperti chatGPT dan beberapa AI lain yang sudah dan akan terbit, memakai keseluruhan ranah simbolik yang kita upload ke dunia digital: itu seperti seluruh peradaban kita! Mereka menamakan mesin ini sebagai Generative Large Language Model, atau model bahasa yang besar dan bisa mencipta. Apa yang diciptakan? Representasi bunyi, kata, kalimat, paragraf dan konteks, dalam bahasa verbal. Kode dalam bahasa pemrograman, rumus dalam bahasa ilmu eksakta, dan keseluruhan bahasa manusia disatukan dan saling diterjemahkan satu sama lain. Mereka bahkan bisa menciptakan kata baru, atau memecahkan masalah-masalah yang perlu interdisipliner tanpa clash kepentingan politik seperti kita manusia.

Kita, manusia, bahkan butuh waktu yang terlalu lama untuk saling berbagi informasi dan data dalam menanggulangi covid. Antar golongan dan departemen terhalang bias cerita dan kepentingan politik. GLLM tidak punya itu. Mereka praktikal, dan dengan cepat bisa belajar menjadi seperti manusia. CAPTCHA yang membuktikan user internet robot atau bukan, kini akan dengan mudah ditembus AI.

Ketakutan terbesar kita adalah, ketika kita tidak berhasil mengalahkan GLLM dalam berkomunikasi dan berkoordinasi antar bangsa dan negara-negara. Bayangkan senjata nuklir tanpa negara-negara yang bernegosiasi untuk mengontrolnya. Akan ada perang besar ketika tidak terjadi kesepakatan siapa yang boleh dan tidak boleh mengembangkannya.

Belum terbayang? Begini, kisanak. Kalau nuklir yang ditembakkan sebuah negara bisa menghancurkan alam fisik, maka AI yang ditembakkan negara atau teroris atau pengusaha iseng, atau startup yang ingin menang perlombaan peluncuran produk AI tanpa mengerti benar apa yang ia luncurkan, dapat menghancurkan dunia simbolik kita. Dengan apa? Bisa dimulai dengan merigging pemilu, mengaburkan informasi dan kebenaran, memborbardir dengan berita bohong, merusak sistem keuangan (itu simbolik lho), dan merusak kepercayaan antar manusia hingga koordinasi jadi susah, atau membuat propaganda otomatis yang terus menerus. Versi bets AutorGPT sedang dibangun untuk jadi pekerja-pekerja yang bisa kerja 24/7 non stop untuk menciptakan produk narasi tanpa henti.

Ini mimpi buruk.

Lalu bagaimana cara kita menghadapinya? Tidak ada yang tahu. Bahkan ilmuan yang membuat GLLM dan AI pun sekarang terkaget-kaget melihat barang ciptaannya berpikir sendiri dan memprogram dirinya sendiri. Mungkin itulah perasaan Tuhan ketika melihat manusia makan buah khuldi. Sayangnya kita tidak bisa membuang teknologi AI karena kita serakah. Yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha berkumpul, berkoordinasi dan selalu waspada pada informasi dan narasi yang berseliweran. Cari cara untuk berpikir logis, dewasa dan tenang dan berusaha untuk menembus kecerdasan AI dengan kecerdasan kita sendiri, walau tidak akan bisa. Secerdas-cerdasnya seorang polyglot, ia tidak akan pernah menguasai semua bahasa. AGI, bisa.

Teknik automatic writing yang saya pakai untuk menulis esai ini adalah bentuk praktek belajar saya untuk secara spontan menulis dan membiarkan otak saya mengalirkan kata demi kata dalam sebuah struktur bahasa yang saya akrabi, dengan seluruh referensi yabg saya punya. Dan ini masih sangat jauh dari kemampuan AI yang tidak dikekang. Jadi harus apa? Mungkin kita bisa pakai AI untuk benar-benar mencari arti kehidupan, dan menemukan angka 42, lalu melanjutkan kehidupan kita dengan kebingungan. Aih, masa depan belum terlihat cerah. Masa kini terlalu bercahaya dan menyilaukan.

Paling tidak saya jadi semangat untuk menghabiskan hidup secara berfaedah. Minimal saya berhasil juga membuat beberapa dari kalian membaca tulisan saya ini sampai habis. Dan semoga kalian bisa berbagi rejeki sama saya untuk belikan saya kopi sachetan di restoran. Klik link di bawah ini kalau kalian mendukung saya ya. Tabik!