Memori Ojek Pangkalan dan Monopoli Gojek

www.go-jek.com
http://www.go-jek.com

DISCLAIMER:

Dilarang posting iklan. Karena ilmu pengetahuan itu GRATIS!

Kalau Jakarta mau jadi metropolitan yang sebenarnya, Gojek harus memonopoli semua pangkalan ojek. Harus profesional, teratur, terstruktur dan meminimalisir hubungan negosiasi antara tukang ojek (yang disebut driver (supir) oleh Gojek, padahal harusnya Rider (pengendara) karena motor tidak disetir tapi dikendarai)). Akan ada kepastian harga, kepastian keselamatan (asuransi) dan tidak ada ruang main-main atau dipermainkan. Apakah kita mau? Jangan bilang mau begitu saja, itu artinya gampang digodain setan. Coba saya bantu anda dengan memori saya tentang ‘institusi lokal’ yang hendak dibantai modernisme ini.

Anggap saja namanya pak Adi (bukan nama sebenarnya). Dia tukang ojek langganan saya dari Depok-Cilandak waktu saya masih tinggal di Margonda dan bekerja di sebuah sekolah national plus tahun 2009-2011. Pak Adi ini sarjana muda dan kuliah di kampus yang sama dan jurusan yang sama seperti bapak saya. Kalau saya ngobrol sama dia, saya jadi ingat pada bapak saya.

Ada lagi Mamat (juga bukan nama sebenarnya). Dia tukang ojek langganan saya di depan rumah keluarga besar saya di Kebagusan. Selain tukang Ojek, Mamat juga suka jadi tukang parkir, tukang ledeng, tukang bangunan dan tukang lain-lain yang diperlukan keluarga besar saya. Dan dia bisa dipanggil 24 jam karena rumahnya dekat rumah saya. Saya sering ngutang sama Mamat karena jarang bawa duit kecil dan dia jarang punya kembalian. Misalnya saya minta antar Kebagusan-Pasar Minggu (10-15 ribuan), lalu uang saya 50 ribu, mamat suka tak punya kembalian dan bilang, “Yaudah bos nanti aja.” Lain hari duit saya 100 ribu dan lima ribu, saya bayar Mamat cuma lima ribu dan dia bilang lagi, “Yaudah bos, nanti aja.”

Setelah saya menikah dan hendak pindah dari rumah keluarga besar, siang-siang Mamat datang ke rumah dan menagih 85 ribu–bang Mamat tahu saya pindah karena waktu ada acara pengajian di rumah, bang Mamat jadi tukang parkir tamu-tamu keluarga saya. Ketika saya tanya detilnya itu apa saja, dia dengan gampang dan tanpa catatan mengingatkan bulan apa dan tanggal berapa saya diantarnya beserta detil berapa utang saya. Saya kasih 100 ribu, “Bunga nih, bang!” kata saya.

Mamat bilang, “Ih, Nggak ah! Riba! Jangan pake bunga dong.”

“Yaudah, kembaliin 15 rebo,” kata saya.

“Yaah, kaga ada duit kecil,” balas Mamat. “Kalo bonus saya terima dah.” Lanjutnya.

“Heum. Yaudeh-yaudeh, bonus bang.”

“Tengkyu bos.”

Itu dua tukang ojek pangkalan yang saya kenal. Dari saya kecil, ada beberapa lagi yang saya pernah cukup tahu namanya–tapi tidak usah disebutkanlah. Langganan saya waktu SD, langganan saya waktu SMP, dan langganan saya waktu SMA (saya sering pindah rumah, 12 kali selama 30 tahun belakangan ini). Tukang ojek pangkalan menemani hampir tiap fase hidup saya. Mereka yang saya kenal ini, penting di hidup saya.

Lalu nasib sebagai antropolog membuat saya bersinggungan lagi dengan tukang ojek pangkalan sebagai wacana di dalam kelas. Saya ingat seorang kawan saya Edna Caroline pernah membuat riset soal tukang ojek di UI dan gesekan yang ditimbulkan ketika UI membuat mereka terdata dan terstruktur dengan kartu, helm, dan jaket resmi Ojek UI. Lalu di kelas yang saya ajar, dua orang murid saya di angkatan yang berbeda membuat kajian antropologi tentang tukang ojek pula. Yang pertama sebuah esei antropologi oleh Agung Rino Prasetyo (2013) dan yang kedua sebuah etnografi visual berbentuk dokumenter pendek oleh Andrika Fandra Salim (2014)–keduanya belum diterbitkan.

Dari tiga penelitian tentang ojek itu saya jadi mengerti beberapa hal penting soal tukang ojek pangkalan.

Pertama, ojek pangkalan adalah sebuah struktur sosial yang rapih. Andrika dalam presentasi proposal film dokumenternya melaporkan bahwa subjeknya, tukang ojek bernama Daus, adalah salah satu pionir ojek di daerah Palmerah. Dia seorang betawi yang kehilangan pekerjaannya di tahun 1980-an, dan memutuskan untuk menjadi tukang ojek–ini bukan sesuatu yang mudah. Daus sempat hampir dipukuli karena dia tidak paham sistem pangkalan: bahwasannya dia tidak boleh sembarang mangkal di daerah orang. Ketika dia sudah paham itu, akhirnya dia membuat pangkalan ojeknya sendiri.

Dalam pangkalan ojek ada sebuah komunitas, sebuah paguyuban. Daus membuat pangkalan ojeknya sendiri berdasarkan kekosongan pangkalan di daerahnya, dan ia mengumpulkan sanak keluarga dan tetangganya untuk menjadi anggota pangkalannya. Di situ ada hukum sosial yang berlaku, ada antrian, ada bagi-bagi rejeki dan ada pelanggan-pelanggan lokal. Setiap pangkalan akan buat struktur sosialnya kalau tidak ingin ada chaos.

Struktur ini tidak main-main. Dari pengamatan saya, di daerah Lenteng agung, ada tiga pangkalan ojek yang saling bersaing. Yang pertama pangkalan arah Lenteng Agung -Depok, yang kedua arah Stasiun Lenteng-kemanapun, dan yang ketiga arah Lenteng Agung Pasar Minggu. Mereka memang tidak saling bertengkar, tapi tidak juga saling menyatu. Tidak bisa sembarang bercampur karena target penumpangnya beda-beda. Yang di tengah stasiun lenteng targetnya pengguna kereta api, sementara yang di luar targetnya pengguna angkot. Keributan seringkali terjadi ketika ada tukang ojek dadakan yang merebut penumpang tanpa mau antri atau bergabung dengan pangkalan–karena itu artinya dia tidak mau antri.

Sekarang kita punya masalah baru: pertikaian antara GoJek yang modern dengan Ojek Pangkalan. Ini logika yang tidak akan ketemu. Logika GoJek adalah logika Korporat yang ‘profesional’ atas asas kapitalisme liberal yang menggurita: dia hendak mengubah semua tukang ojek menjadi tukang GoJek, sesuai dengan tanggapan pada insiden keributan tukang Ojek dan Gojek:

“Kami memanggil semua ojek pangkalan untuk bergabung dan menikmati keuntungan-keuntungan menjadi Gojek Driver.”

Sementara logika tukang Ojek Pangkalan sederhana: jangan nyelak kalau tidak mau dijitak! Apakah ini logika kampungan, logika tidak modern, atau logika semut yang diajari sejak kita balita? Logika Sopan Santun?

Ya, memang logika sopan santun dan etika ini sudah banyak dilupakan orang karena sopan santun disalah artikan jadi mulut manis basa-basi dan penjilatan. Kalau sudah bicara sopan-santun, apalagi di Jakarta, biasanya kita langsung ingat mulut anak-anak SD (atau orang tua dengan mental anak SD) yang bilang Ahok tidak sopan. Padahal sopan santun ini bisa jadi cuma masalah permisi dan negosiasi yang apik tanpa omong keras apalagi omong kotor. Sesederhana membungkuk ketika lewat orang yang lebih tua dalam budaya Jawa. Masalahnya, Gojek nampaknya tidak perduli dengan logika ini. Ironisnya, ketika Gojek tidak [sudi] menganggap ojek pangkalan sebagai ‘saingan‘. mereka mengajak ojek pangkalan untuk bergabung. Ini skenario lama, modernisasi tipe kolonial gold gospel glory. Buat dapat emas, buatlah semua inlander jadi kristen, dan kita menang. Protestant Ethics. White men’s burden.

Ditambah reaksi netizen dan warga jakarta, juga dukungan Ahok, maka ‘penertiban’ terhadap para pangkalan Ojek ini tinggal tunggu waktu saja. Apalagi semenjak Transjek, yang berdasarkan laporan Prasetyo (2013) moda produksinya sama dengan Gojek, tidak terdengar lagi, Gojek hampir memonopoli industri ojek berteknologi (walau saingannya sudah mulai pada muncul, dan tahun depan mungkin akan dimulai sebuah perang brand). Tawaran Gojek juga begitu menggiurkan: penghasilan lebih pasti dan asuransi. Ojek Pangkalan nampaknya akan jadi sejarah; dan ini tidak pernah adil. Karena ojek pangkalan tidak terepresentasi dengan baik dan dipukul rata sebagai kelompok ‘inlander’ tanpa memperhatikan moda-moda produksinya dan spesifikasi setiap pangkalan yang berbeda-beda. Sifat korporat, birokrat dan kelas menengah yang seperti ini memang sulit berubah.

Tapi tetap ada harapan bagi Ojek Pangkalan untuk bertahan. Ojek pangkalan sering tidak disukai ketika beberapa mereka menerapkan harga seenak jidatnya. kadang-kadang lebih mahal dari taksi. Tidak ada standar tarif yang jelas. Dari sini senjata ojek pangkalan cuma satu: paguyuban. Fungsi paguyuban memang abstrak, tidak bisa diukur. Paguyuban menyediakan asuransi berupa bantuan teman/keluarga dan paguyuban menyediakan kesetiaan yang tak terhitung. Ojek Pangkalan semestinya memang guyub, penuh nepotisme terhadap saudara dan pelanggan tetap. Itu moda produksinya. Kalau ia mau bertahan, ojek pangkalan harus menyatu dengan komunitasnya dan lingkungan pangkalannya–yaitu para pelanggannya. Seperti Adi, Mamat dan Daus.

Walau saya curiga, usaha mempertahankan Ojek Pangkalan itu akan sangat sulit apalagi di Jakarta. Karena tukang ojek membludak, yang picik lebih sering kelihatan daripada yang baik: dari yang bermain harga hingga yang berlagak preman dengan memeras pelanggan atau melarang angkot beroperasi. Terlebih lagi warga Jakarta semakin individual, instan dan semakin ingin kepastian ukuran angka–seperti layaknya kota metropolis lain di dunia ini. Warga Jakarta kebanyakan tidak ingin kenal dengan Adi, Mamat atau Daus secara berkesinambungan. Mereka lebih suka memberi jempol atau bintang pada sebuah aplikasi, daripada direpotkan oleh empati.

Iklan