Ethnography, Filsafat, Memoir, Politik, Racauan

Sastra Jahat, Sastra Data

Sastra adalah ilmu tentang cerita. Cerita apa? Ya semua cerita, dari fakta yang diramu, hingga agama yang dianut; dari fiksi yang dilisan hingga diksi di tulisan. Tidak ada batas belajar sastra, selama kita memakai bahasa, dan karena bahasa membuat kita jadi manusia, sastra memanusiakan manusia.

Di jurusan fakultas Ilmu Budaya, sastra jadi lebih sempit artinya: semua yang tertulis sebagai teks, atau peninggalan artefak. Makanya ilmu sejarah dan arkeologi di UI masuk Fakultas Ilmu Budaya. Sementara yang tak tertulis, lisan, atau butuh pengumpulan riset lapangan yang berdasarkan omongan orang, masuknya ke FISIP.

Ini jadi agak problematik dan bisa diperdebatkan. Karena artinya Sastra Lisan, seperti folklore (bukan dongeng, tapi dongeng adalah salah satunya), tidak masuk Fakultas Ilmu Budaya. Folklore di UI jadi cabang Antropologi, dan di UI Antropologi masuk ke Fakultas Ilmu Sosial Politik. Pertentangan ini membuat di UGM, ilmu Antropologi masuk ke Fakultas Ilmu Budaya. Mana yang masuk akal? Mana yang benar? Ah, itu semua politik kampus saja. Ujung-ujungnya, Ilmu pengetahuan sebenarnya tak lebih dari kisah-kisah saja, Sastra semua! Bisa dibuat-buat dan bisa sangat kuat! Sastra, kisah, tulisan, bisa jadi kepercayaan dan bisa membunuh ribuan bahkan jutaan orang, kalau tidak menyelamatkan mereka.

Sinagog

Hitler membunuh Yahudi dengan narasi bahwa bangsa Arya Jerman adalah Ras unggul, simbolnya swastika. Padahal kalau kita baca teks arkeologi, Ras Arya berasal dari India dan kulitnya gelap-gelap. Swastika pun simbol dari budaya timur. Tapi narasi ‘Sastra’-nya Hitler yang banyak dianut orang Jerman saat itu. Hitler baca Nietzsche dan mengintretasikan tulisan Nietzsche yang campuran filsafat, sejarah, dan sastra, menjadi pembenaran untuk melakukan genosida terhadap Yahudi.

Indonesia, sebagaimana semua narasi tentang negara, adalah sastra juga. Sebuah traktat politik. Sebuah imajinasi yang dibagi. Begitupun institusi-institusi lain dari identitas hingga agama. Di Indonesia, genosida berdasarkan sastra dibuat berkali-kali lewat propaganda pemerintah. Dari mulai pemerintah kolonial terhadap berbagai etnis, pembantaian PKI, dan etnis China-Indonesia. Semua gara-gara cerita, yang kebanyakan tidak bisa terbukti kebenarannya.

Hari ini dengan adanya media sosial, alat propaganda dimiliki banyak orang. Semua bisa sebar cerita, semua bisa sebar hoax. Tukang cerita jadi laku dari jadi wartawan hingga buzzer. Profesi mahal jika bisa menerjemahkan teks-teks teknik yang ribet menjadi teks narasi yang mudah dinikmati. Dan dari semua pabrik cerita, korporat internasional, seperti VOC jaman dulu, punya alat cerita paling besar. Modal paling besar: infrastruktur.

Pemerintah negara kini tidak bisa berbuat banyak, apalagi kalau kementriannya ketinggalan jaman, PNS-nya gagap teknologi. Kita benar-benar sudah hidup di desa global McLuhan, dimana semua orang bisa punya komunitas sendiri-sendiri dengan bias dan persepsinya sendiri. Namun kita menuju ke sebuah singularitas, dimana dunia akan bersatu di bawah payung bank data. Di situ, ketika orang-orang gaptek pada pensiun atau dikerjai oleh sistem yang tidak mereka mengerti, sistem yang objektif, tidak manusiawi, dan hampir tidak bisa dikorup, maka kita semua pun akan jadi manusia yang dikendalikan oleh sistem.

Selama tidak mati , sepertinya kita akan baik-baik saja. Jadi robot biologis.

Anthropology, Buku, Filsafat, Kurasi/Kritik, Memoir, Racauan, terjemahan

Zygmunt Bauman: Bagaimana Menulis Ilmu Sosial Tanpa Data

Diterjemahkan tanpa izin dari New York Times, “How to Do Social Science Without Data.”
oleh Neil Gross, dosen sosiologi Colby College.

zygmunt-bauman-consumiamo

Dengan meninggalnya sosiolog Zygmunt Bauman bulan lalu pada usia 91, dunia intelektual kehilangan seorang pemikir dengan wawasan dan jangkauan keilmuan yang sangat luas. Karena gaya kerjanya secara radikal berbeda dari kebanyakan ilmuwan sosial Amerika Serikat saat ini, kematiannya adalah saat untuk mempertimbangkan apa yang mungkin diperoleh jika lebih banyak akademisi mengikuti teladan Bauman.

Pak Bauman menulis sejumlah buku dan mengajar selama bertahun-tahun di University of Leeds, Inggris. Ia menjadi seorang akademisi yang diperhitungkan dalam waktu yang relatif terlambat. Sebuah sukses besar datang pada tahun 1989, pada usia 64, ketika ia menerbitkan sebuah studi penting, “Modernity and Holocaust“. Ia mengkritik pandangan luas bahwa Holocaust disebabkan kegilaan anti-Semit yang di dalam peradaban Jerman. Menurutnya holocaust berasal sifat kebiasaan sistem negara dan  genosida adalah produk budaya modern.

Awal abad ke-20, pak Bauman mencatat, telah membawa pabrik skala besar, sistem transportasi yang efisien, perusahaan besar dengan angkatan kerja yang disiplin dan ideologi pseudoscientific (ilmu palsu) seperti eugenika (rekayasa manusia). Eugenika adalah elemen penting, di samping anti-Semitisme, dalam pembantaian massal Hitler. Pak Bauman berpendapat bahwa kita tidak bisa merayakan prestasi zaman modern tanpa juga memperhatikan sisi gelapnya.

Modernity and Holocaust” adalah sebuah karya teori dan sintesis. Pak Bauman tidak mengumpulkan data dan tidak membicarakan metodologi apapun. Tapi ketiadaan itu tidak membuat karya tersebut kurang penting.

Sebagai seorang yang dilahirkan menjadi Yahudi-Polandia, Pak Bauman meninggalkan tanah kelahirannya pada tahun 1939, setelah invasi Jerman, dan melarikan diri ke Uni Soviet. Di sana ia bergabung dengan Angkatan Darat, memerangi Nazi di front timur. Setelah perang ia kembali ke Polandia untuk memulai karir akademiknya.

Hidup dibalik Tirai Besi, menjadi seorang sosiolog berarti menjadi seorang ahli pada semua hal tenttang Marx. Pak Bauman langsung menyelami Marxisme. Tetapi ketika komitmennya kepada golongan kiri tidak pernah pudar, antusiasmenya untuk komunisme perlahan menghilang. Ketika ia memberikan dukungan kepada pembangkangan mahasiswa pada tahun 1960, ia kehilangan pos mengajar dan diusir dari Uni Soviet.

Dia pindah ke Inggris, di mana karya sosiolog Max Weber menjadi batu pijakan banyak orang. Pak  Bauman menolak gagasan Weber bahwa ilmuwan sosial harus berusaha untuk memisahkan nilai-nilai pribadi dari keilmiahan mereka, namun ia menemukan ide yang menarik dari Weber tentang masyarakat modern, yang menekankan peran sentral birokrasi.

john-hurt-v-for-vendetta-still-670-380
Mirip Max Weber. Tapi ini almarhum John Hurt.

Weber melihat birokrasi sebagai elemen sosial yang kuat, tapi sangat impersonal. Pak Bauman menambahkan ini: Birokrasi bisa tidak manusiawi. Ia bilang, misalnya, struktur birokrasi telah mematikan rasa moral tentara Jerman, yang membuat Holocaust mungkin. Mereka bisa selalu mengaku bahwa mereka membunuh karena mengikuti perintah dan melakukan pekerjaan mereka.

max-weber
Max Weber. Doppleganger John Hurt.

Kemudian, Pak Bauman mengalihkan perhatian ilmiahnya kepada masyarakat pascaperang dan dunia di akhir abad ke-20, di mana sifat dan peran segala lembaga menjadi titik fokusnya. Karena keinginan adanya stabilitas setelah perang, kata Bauman, orang mendirikan lembaga-lembaga untuk mengarahkan kehidupan mereka – versi yang lebih jinak daripada birokrasi Weber. Anda bisa pergi ke bekerja untuk sebuah perusahaan di usia muda dan tahu bahwa itu akan menjadi payung berlindung sampai Anda pensiun. Pemerintah menjaga perdamaian dan membantu orang-orang yang tidak bisa membantu diri mereka sendiri. Pernikahan dibentuk melalui hubungan antar-komunitas dan diharapkan untuk bertahan dalam komitmen jangka panjang.

3
Pernikahan Kakek-Nenek penerjemah, circa 1960-an.

Tapi pada akhir abad ini, di bawah tekanan dari berbagai sumber, lembaga-lembaga ini melemah. Secara ekonomi, perdagangan global telah meluas, sementara di Eropa dan Amerika Utara manufaktur mengalami penurunan; keamanan kerja lenyap. Politik, juga, mengalami banyak perubahan: Perang Dingin berakhir, Eropa terintegrasi dan politisi memangkas negara kesejahteraan. Secara budaya, konsumerisme tampaknya meliputi segala sesuatu. Pak Bauman mencatat pergeseran besar dalam cinta dan keintiman juga, termasuk keyakinan yang berkembang di institusi perkawinan dan – akhirnya – popularitas kencan daring.

Dalam pandangan Pak Bauman, itu semua terhubung. Dia berargumen bahwa kita telah menyaksikan transisi dari “modernitas yang solid” di pertengahan abad ke-20, dengan “modernitas cair” hari ini. Hidup telah menjadi lebih bebas, lebih cair dan lebih banyak risiko. Sekarang, pekerja bisa lebih mudah ganti pekerjaan setiap kali mereka bosan. Mereka bisa pindah ke luar negeri atau menemukan kembali diri mereka sendiri melalui belanja. Mereka bisa menemukan pasangan seksual baru dengan menekan sebuah tombol. Tapi ini bukan tanpa akibat.

Pak Bauman memikirkan implikasinya. Beberapa hal memang berkembang di zaman baru ini; misalnya lembaga-lembaga dan norma-norma bisa membosankan sekaligus opresif. Tapi bisakah tenaga kerja yang terus berubah ini datang bersama-sama untuk memperjuangkan distribusi yang lebih adil dari sumber daya? Bisakah konsumen belanja kembali bertanggung jawab dan menjadi warga yang terlibat dalam pembuatan kebijakan? Bisakah keintiman percintaan yang termotivasi oleh keinginan hubungan jangka pendek belajar artinya komitmen?

Dalam buku terbitan 2003, “Liquid Love,” dia mengajukan pertanyaan terakhir tadi sebagai sebuah paradoks. Pak Bauman menulis,bahwa sekarang orang banyak “galau karena sendirian dan merasa gampang dibuang,” dan karena itu mereka “galau ingin  ‘jadian.'” Pada saat yang sama mereka juga”waspada terhadap keadaan ‘jadian'”karena mereka takut itu “bisa membatasi kebebasan yang mereka butuhkan, yaitu” – ya, tebakan Anda benar – “kebebasan untuk berhubungan dengan orang yang lain lagi.”

cok-sevgililerin-utanc-verici-partilerinden_x_95289_b
Pesta Poliamori di New York. Dimana orang bisa ‘mencintai’ banyak orang sekaligus tanpa takut kehilangan kebebasan hubungan.

Akhirnya, pak Bauman khawatir, bukankah mungkin saja ada risiko bahwa orang-orang yang hidup dalam “modernitas cair” ini terpinggirkan dan akan beralih ke orang kuat, pemimpin yang berjanji untuk mengembalikan kepastian dan menghapus kosmopolitanisme?

trump-article-header

Semua penilaian matang tentang pemikiran pak Bauman ini akan memberi kesimpulan  bahwa dia kurang data dan metodologi. Banyak dari tulisannya acak, penuh kata-kata mutiara dan berulang-ulang. Dia tidak tahu apa-apa tentang batas-batas disiplin ilmu, membelok ke filsafat, sastra, antropologi dengan seenak-enaknya; itu bisa jadi karya yang kaya atau sembarangan. Bukti empiris pun asing baginya. Imajinasi dan ketajaman ia terapkan untuk semua tulisannya.

Ilmu sosial Amerika tidak memiliki banyak ruang untuk pemikir seperti Pak Bauman. Peneliti terkemuka Amerika lebih memilih konkret daripada abstrak; mereka lebih fokus pada klaim sebab-akibat yang bisa diuji daripada teori berbunga-bunga yang tidak bisa dibuktikan. Dan jelas ada lebih banyak hal yang dikatakan dengan pendekatan berdasarkan fakta tersebut.

Tapi kita bisa belajar lebih dari  intelektual yang luas dan visi yang dibawa pak Bauman. Tulisannya – yang sangat digemari oleh khalayak Eropa – membantu pembaca berpikir berkali-kali tentang kehidupan mereka sendiri, dengan cara yang sama sekali baru.

***

Catatan penerjemah: Sebagai seorang berusia hampir seabad, Bauman selalu bisa dengan lancar bicara hal-hal kontemporer, dari pergaulan anak muda hingga teknologi terbaru. Ia memang tidak pernah bicara soal metodologi, tapi menurut saya metodologi Bauman jelas: ia pembaca akut yang membiarkan teks merasuk ke alam bawah sadarnya, lalu memproses wacana dengan lautan pengetahuannya itu tanpa perlu referensi yang jelas. Ia penulis bebas. Pada akhir tulisan ini, adalah video pendapat pak Bauman soal pengungsi, sebuah analisis yang tajam tanpa data dan metodologi dengan animasi menarik dari Al-Jazeera.

Anthropology, Ethnography, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan, Uncategorized

Lima Pertanyaan Tentang Uber vs Taksi di Indonesia

Tulisan ini dibuat berdasarkan pertanyaan wawancara wartawan Viriya Paramitha, yang salah satu bagiannya ditulis The Jakarta Post dalam artikel di tautan ini. Banyak hal yang saya kurang setuju dalam artikel tulisan Ayomi Amindoni itu, khususnya soal framing politiknya yang sangat bias konsumen kelas menengah, dan menolak untuk dengan kritis “Covering Both Sides.” Tulisan di The Jakarta Post berusaha memberikan opini analisis dalam kesempitan ruang yang justru meninggalkan banyak sekali kedangkalan analisa, sangat berbeda dengan media berbahasa Inggris internasional seperti New YorkerThe Washington PostThe Guardian atau The New York Times, yang rela menulis versi daring secara mendalam. Selain diskusi dengan Viriya, saya juga mendapatkan banyak data dari diskusi di lapak facebook saya dengan kawan-kawan dekat. Komentar dan data dari kawan-kawan memberikan banyak sekali insights pada kasus ini, baik yang paling klise dan umum dari sudut pandang konsumen, parahnya kartel di perusahaan Taksi seperti Blue Bird dan Express, parahnya ilusi “Sharing Economy”, sampai akal-akalan UU Koperasi untuk mengubah juragan rental jadi bos (Taxi) Uber!

Sebelum membaca esei ini, saya ingin Anda paham konteksnya dulu. Pertama Anda harus membedakan kasus Gojek vs Ojek dan kasus Uber vs Taksi. Keduanya berada di struktur yang sangat jauh berbeda. Ojek pangkalan bersifat guyub, lokal, dan skalanya kecil-kecil menyebar. Sementara Taksi (khususnya Blue Bird dan Express) ada di ranah kapitalis korporat yang mendukung status quo. Ojek jangan disangkutkan dulu di sini, nanti otak kita kacau kayak supir Blue Bird yang gebukin Gojek. Itu masalah “salah paham identitas” soal transportasi online yang bisa dibahas secara berbeda.

Kedua, latar belakang kejadian kisruh transportasi ini adalah karena adanya “krisis transportasi”, khususnya di Jakarta. Dulu Nadiem Makarim bilang bahwa kesuksesan Gojek terjadi karena ia berhasil mengambil momentum. Krisis transportasi Jakarta adalah salah satu momentum ini. Ini juga yang jadi dasar keputusan Jokowi untuk memaksa menteri Jonan mencabut aturan Gojek yang ia celup.

Ketiga, perusahaan transportasi online adalah sebuah sistem baru yang jauh dari matang, belum punya dasar hukum dan UU, dan sesungguhnya tidak mengandung sharing economy sama sekali, kalau sharing maksudnya berbagi dan tidak semata-mata berdagang. Bandingkan Uber (yang jelas meraup untung besar) dengan Nebengers (yang mendahulukan hubungan sosial untuk berbagi kursi kosong tanpa harus seperti ekslusif seperti taksi). Bandingkan juga AirBnB (prinsip sama dengan hotel) dengan Couchsurfing (membina hubungan antar back-packers). Uber dan AirBnB adalah dua model bisnis yang ekspansif dan berusaha mengambil pasar Taksi dan Hotel/Penginapan, korporat Uber dan AirBnB mengambil untung yang banyak sekali tanpa punya modal produksi hotel/penginapan, perijinan, dan birokrasi perpajakannya. Sementara itu, Nebengers dan Couchsurfing benar-benar “sharing” karena dari awal keduanya tidak mengincar penumpang taksi atau tamu hotel, tapi mengutamakan hubungan sosial dan komunitas.

Pastikan Anda paham konteks ini dulu, sebelum kita bicara lebih jauh. Pertanyaan-pertanyaan berikut diberikan oleh Viriya sebagai bagian dari wawancaranya. Pertanyaan-pertanyaan yang cukup sederhana ini saya rasa baik untuk memberikan pemahaman yang lebih awam.

1. Sebenarnya gegar sosial apa yang hadir di masyarakat?

Yang terjadi di masyarakat hari ini bukan hal baru. Ini adalah technological socio-economic disruption, dan sudah terjadi semenjak Homo Sapiens dengan kapak logamnya membantai Neanderthal yang memakai kapak batu. Plotnya selalu sama: ada sebuah struktur (transportasi Indonesia) yang sudah well-established, tapi dalam kondisi krisis karena status quo, sehingga mudah diganggu oleh agen-agen dari struktur lain (dalam hal ini perusahaan multinasional teknologi baru bernama online companies) yang memanfaatkan krisis tersebut. Ini menghasilkan semacam reaksi kimia yang berbeda-beda di bagian-bagian struktur yang beda-beda pula.

Di komunitas lokal seperti ojek pangkalan, yang terjadi adalah perlawanan-perlawanan tak teroganisir dari unit-unit ekonomi informal. Dalam soal taksi, karena perusahaan taksi adalah model bisnis kapitalis yang formal dan global, maka reaksi yang terjadi juga global. Tapi tentu saja cara bereaksi berbeda-beda karena konteks dan latar belakang hukum dan budaya yang beda-beda pula. Dalam konteks Jakarta, ada letupan-letupan kericuhan yang terjadi, ada juga peran paguyuban supir taksi untuk mengorganisasi supirnya. Jangan lupa bahwa taksi Blue Bird dan Express punya model yang cenderung monopolistis–mereka telah banyak menyingkirkan taksi lokal yang sulit bersaing karena modal yang cukup besar. Struktur korporasinya memang sedang bermasalah. Tapi jangan sangka kejadian kekerasan demo anti Uber hanya ada di Jakarta. Di Jakarta tak ada laporan pengemudi Uber kena pukul, tapi di negara lain banyak!

20150625174035-uber-riot-italy
Demonstrasi Anti-Uber di Paris, Prancis. Sumber: The Wired

Dari sisi pemerintah, ada kegagapan UU dan peraturan menyangkut e-Commerce dan Perusahaan Transportasi berbasis Jasa Internet. Infrastruktur UU dan Peraturan untuk aplikasi transportasi Online belum ada, jadi payung hukumnya cenderung dimanipulasi baik oleh pengusaha dan oleh pemerintah sendiri. Oleh pengusaha, Gojek menggunakan payung hukum perusahaan IT, sementara Uber menggunakan payung hukum Koperasi–padahal pada praktiknya, keduanya tidak di ranah IT apalagi Koperasi! Gojek memberi modal jaket, helm dan smartphone pada pengendaranya; Uber Indonesia punya sistem heirarki mirip taksi tapi bentuknya rental mobil.

 

2. Kenapa Supir Taksi tidak beralih jadi Supir Uber?

Pertanyaan kedua ini SANGAT BIAS KONSUMEN. Cuma konsumen yang bukan pemangku kepentingan (Stakeholder) perusahaan yang bisa dengan gampang pindah produk kalau tidak cocok. Sementera pekerja, tidak mungkin segampang itu, kecuali kalau tidak ada yang pernah ia bangun dengan perusahannya, tidak ada insentif yang ia kumpulkan. Logikanya begini, mungkinkah seseorang yang sudah hidup di sebuah struktur dan menginvestasikan waktu, tenaga, dan loyalitasnya berpindah begitu ada hal baru yang ‘lebih menjanjikan’?

qrft5su
Perbandingan supir Uber dan Taksi di Negara Maju (bukan Indonesia). Sumber gambar: imgur.com

 

Saya akan kembali ke masalah global tadi: demonstrasi taksi adalah demonstrasi global karena yang terdisrupsi adalah struktur kapitalisme global perusahaan taksi. Dan perusahaan adalah bentuk usaha modern–sebelum adanya usaha online. Dalam perspektif supir taksi, ini tidak ada hubunganya dengan kegagapan teknologi, tapi lebih kepada keamanan ekonomi dan status quo.

Saya ulangi, paguyuban supir taksi bukanlah paguyuban ojek. Padanan paguyuban taksi adalah serikat buruh, yang hadir akibat adanya kapitalis/perusahaan. Lucunya, hubungan antara perusahaan dengan paguyuban supir taksi yang demo ini nampak sangat mesra–karena yang didemo bukan perusahaan. Di negara maju mungkin wajar supir taksi setia pada perusahaan karena perusahaan Taksinya lebih menjamin keamanan ekonomi supir. Di Indonesia tidak begitu, banyak sekali eksploitasi yang dilakukan pada supir yang dengan gampang bisa tergantikan karena kompetisi pasar tenaga kerja yang ketat. Mengingat susahnya jadi supir taksi yang harus melalui seleksi ketat dan terikat aturan perusahaan dan pemerintah, wajar jika mereka stress berat dan gampang tersulut di lapangan demonstrasi. Seperti Rocker, supir taksi juga manusia.

Spain Uber
Demonstrasi Anti-Uber di Spanyol. Foto: Wired.com

3. Bagaimana seharusnya Perusahaan Taksi Konvensional Bereaksi?

Ini pertanyaan klasik dan akan saya jawab dengan jawaban klasik: inovasi. Dalam sebuah persaingan usaha, yang tidak bisa berinovasi akan kalah. Itu prinsip utama kapitalisme liberal. Selama puluhan tahun, industri pelayanan Taksi tentunya sudah banyak berinovasi, apalagi ketika berhadapan dengan persaingan melawan perusahaan Taksi lain. Namun ketika berhadapan dengan Uber atau Grab persaingan sulit dilakukan karena perusahaan transporatasi online tidak ada di bawah payung hukum yang sama. Yang terjadi adalah, tim voli melawan tim sepakbola di lapangan basket. Kacau belau!

Memang harus diakui, ada yang busuk dalam sistem korporat taksi Indonesia. Sistem kartel ini harus berinovasi, harus berubah dengan cepat. Karena sistem ini meninggalkan celah-celah yang membuat konsumennya mudah berpaling. Terlebih lagi, di dalamnya terdapat eksploitasi pekerja yang tidak main-main kerasnya. Supir Blue Bird yang tidak ikut demo dalam sebuah video wawancara yang sudah viral di media sosial, mengungkapkan peran paguyuban supir taksi yang kongkalikong dengan perusahaan untuk membiayai dan memprovokasi demonstrasi.

 

Jadi inovasi seperti apa yang harus dilakukan? Sekalian saya jawab di pertanyaan ke empat:

4. Apa sebenarnya keluhan konsumen pada Taksi Konvensional?

Kita sudah bahas di atas, masalah dari sudut pandang supir dan perusahaan yang seperti kartel. Di sisi lain masalah dari sudut pandang konsumen bukan cuma tarif, tapi juga akses dan customer service. Dalam kondisi krisis transportasi Jakarta, Taksi konvensional pra-uber (seperti juga ojek pangkalan sebelum ada Gojek), punya bargaining position yang tinggi apalagi setelah ia memonopoli pasar industri taksi. Beberapa dari mereka bisa mempermainkan harga, kalaupun “profesional” seperti Blue Bird, tarifnya mahal. Belum lagi aksesnya seringkali sulit–dalam pemesanan jam sibuk, pelanggan akan mengantri dan besar kemungkinan tak dapat taksi, dan customer service-nya sangat-sangat tertinggal. Customer service ini mencakup perilaku pengemudi yang bisa menolak pelanggan atau mempermainkan harga ketika rumahnya jauh, hujan atau lewat jalan macet, sampai sistem pembatalan yang berat sebelah: kalau customer yang cancel harus bayar beberapa persen kalau supirnya sudah sampai, namun ketika taksi yang cancel tidak ada denda apa-apa. Dalam kondisi seperti inilah sangat wajar kalau konsumen ingin yang lebih murah, terakses, dan servisnya baik (alias bisa dengan mudah diadukan diberi rating, dll).

Tapi jangan dikira Uber tidak akan memainkan harga dan jadi jahat pada konsumen. Kalau Taksi konvensional, supirnya secara individual bisa jadi jahat ketika macet atau hujan, Uber bisa menaikan tarif seenaknya juga ketika macet atau hujan bukan secara individual tapi secara terpusat. App-nya sendiri yang akan menaikan tarif! Ini artinya sudah jahat, supirnya untung, dan perusahaan ikut untung! Konsumen juga harus waspada dengan model “sharing economy abal-abal” lain seperti Gojek dan Grab, karena semuanya pakai harga promosi yang disubsidi investor. Jangan sampai ketika subsidi itu raib, harga jadi mahal, tapi taksi dan ojek konvensional sudah tidak ada untuk Anda.

5. Pemerintah harus apa?

Ini pertanyaan terpenting yang tidak ditanyakan Viriya. Seluruh kisruh transportasi ini disebabkan karena kebijakan pembangunan yang salah dan hancur-hancuran! Dalam hal krisis transportasi, menurut saya harus ada penyesuaian kebijakan tertulis dari penyelenggara negara untuk memberikan payung hukum yang jelas pada usaha transportasi online (secara khusus) dan e-commerce (secara umum).

Taksi menuntut kepada pemerintah untuk menjadi protektif pada usaha mereka. Secara hukum, sebenarnya itu bisa sekali dilakukan, karena dasar hukum Uber dan Grab di Indonesia (dan hampir di seluruh dunia, bahkan Amerika Serikat) belum jelas. Tuntutan untuk melarang Uber dan Grab itu tentu terlalu muluk, tapi dalam demonstrasi yang dilakukan memang selalu menuntut yang muluk untuk dinegosiasikan menjadi win-win solution. Yang harus dibaca dari kasus Ojek sampai Uber adalah, pemerintah tidak boleh membiarkan krisis ini berlarut-larut dalam sebuah perang sipil antar pekerja di kelas bawah, dan perang politik ekonomi di kelas atasnya (pemilik modalnya).

Pemerintah harus menemukan mekanisme pembentukan payung hukum yang cepat, efektif dan fleksibel ketika ada perubahan lain yang terjadi. Misalnya dengan Permen atau Perda, yang harusnya bisa dibuat tanpa melalui jalur birokrasi yang panjang dan menjelimet. Semua harus dimulai dari kenyataan lapangan dan harus diresmikan. Tidak bisa pemerintahnya “membiarkan” bentrokan ini untuk selesai sendiri, malahan cenderung ikut memanipulasi hukum yang sudah ada. Dalam krisis transportasi ini, proyek infrastruktur publik jangka panjang seperti MRT dan Bus memang harus tetap berjalan, tapi proyek infrastruktur yang jangka pendek dan bersifat legal-formal juga harus ditopang hukum kalau tidak mau bangunan sosialnya collapse.

 

Anthropology, Ethnography, Gender, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan

Tubuh Yang Dibenarkan Politik

200606052036-pix1
“Rapuh Namamu Perempuan,” Hamlet babak I:2. (BME)

Adalah Hamlet yang bilang, “Tuhan memberikan perempuan wajah, tapi mereka melukis wajah lain.” Salah satu drama Shakespeare yang paling misoginis. Pertanyaannya adalah siapa sebenarnya yang menentukan standar kecantikan dan tubuh perempuan? Perempuan sendiri, laki-laki, atau jangan-jangan konsumen dari imaji perempuan yang bukan hanya laki-laki, tapi juga perempuan.

Kalimat Hamlet tadi dengan gamblang menyatakan bahwa wajah (atau tubuh) perempuan adalah kanvas yang bisa dilukis dan menjadi objek estetik. Ini terjadi sekian lama, setelah dimenangkannya perang gender oleh laki-laki di peradaban-peradaban tua.

Sejarah Singkat Politik Tubuh

indischer_maler_des_6-_jahrhunderts_001
Gambar Seksualitas di Gua Ajanta (Wikimedia)

Ada zaman dimana perempuan menjadi pemimpin dan menjadi pusat dari peradaban pra-agraris. Zaman ketika orang-orang masih membawa patung kecil Venus (lihat gambar heading) sebagai tanda pengagungan kepada perempuan yang maha subur. Kelompok manusia saat itu seperti lebah atau semut dengan ratu dan lelaki-lekai pekerja. Zaman itu berakhir, secara teoritis, ketika peradaban agraris berubah menjadi peradaban perang modern, dan manusia mulai berpikir soal hak milik atas tanah, harta dan wanita.

Teori lain mengatakan bahwa kemenangan kuasa lelaki (patriarki) adalah ketika ada kebutuhan masyarakat akan institusi keluarga dan perkawinan. Ada zaman ketika hubungan antar manusia bersifat promiscuos, atau seks bebas. Bahwasannya yang benar-benar instingtual dalam seksualitas manusia adalah kebutuhan untuk bereproduksi, tanpa pernah diajarkan objek hasrat seksualnya harusnya apa. Jadilah kita bisa menemukan lukisan-lukisan manusia bersetubuh dengan binatang di goa-goa prasejarah.

Manusia adalah spesies yang tidak butuh musim untuk kawin. Mereka bisa kawin kapan saja dan dimana saja dan kepada apa saja–lawan jenis satu spesies, spesies lain, bahkan benda mati seperti batu, kayu, atau apapun. Kehamilan dan kelahiran seorang anak, dianggap sebuah keajaiban karena butuh waktu ribuan tahun untuk menemukan hubungan antara persenggamaan dan kehamilan. Peradaban manusia memang selambat itu. Karena itu bisa disimpulkan bahwa persetubuhan lelaki dan perempuan adalah sesuatu yang dikembangkan dan diajarkan turun-termurun.

Peradaban dimulai ketika manusia menemukan sistem pertanian untuk menetap. Ditemukan juga istilah-istilah kepemilikan dan kebutuhan akan tenaga kerja dan kebutuhan akan unit ekonomi terkecil: keluarga. Promiscuity menimbulkan kekacauan ketika ibu bisa bersenggama dengan anak atau cucu, ayah bisa bersenggama dengan anak, keponakan atau siapapun, dan anak siapa tidak diketahui asalnya darimana.

Sistem menetap membuat dibutuhkannya semacam struktur hierarki keluarga. maka ketika satu laki-laki bisa membuahi banyak perempuan sekaligus, dan perempuan memiliki ketergantungan ketika hamil, dan bayi pun ketergantungan hingga remaja, dan anak-anak serta perempuan jadi tergantung pada lelaki dewasa—disitulah perang gender dimenangkan lelaki di peradaban-peradaban tua.

Peradaban patriarkal pun dimulai.

Tubuh Yang Dimenangkan

landscape_nrm_1422553268-body-image
Tipografi Tubuh Perempuan Modern (Elle.com)

Kemenangan patriarki atas tubuh perempuan membuat sistem ini membentuk imaji-imaji seperti apa tubuh yang ideal. Walau pada dasarnya bukan hanya perempuan yang diidealkan–karena kita juga membaca sejarah ketampanan lelaki-lelaki legendaris dari Narciscus, David, sampai Yusuf–tapi perempuan menjadi korban utama penubuhan ideal ini karena kebanyakan sistem masyarakat terlanjur menempatkan perempuan sebagai mahluk apolitis (tidak punya suara politik).

Dalam banyak konteks masyarakat tradisional, perempuan sebagai mahluk apolitis ini hadir sebagai akibat distribusi kerja dalam ekonomi dan dalam kerangka pertahanan struktur masyarakat–dapur, sumur, kasur adalah terma yang hadir dari kebutuhan akan perempuan apolitis sebagai istri dan ibu. Dan selama konteksnya masuk, sebenarnya tidak ada masalah besar. Hanya ketika struktur tersebut kemasukan agensi dari struktur lain, dan ada kebutuhan untuk perubahan struktural tentang peran perempuan, barulah pemberdayaan-pemberdayaan bisa dimulai. Pemberdayaan, seperti cinta, adalah sebuah ide yang harus diperkenalkan karena kebutuhan.

Namun pemberdayaan itu tidak semerta-merta menyatarakan. Dalam banyak konteks, logika berpikirnya masih sama dan cenderung memberatkan perempuan. Bayangkan pada masa Perang Dunia I-II ketika banyak lelaki di Eropa dan Amerika pergi perang, perempuan menjadi penggerak ekonomi negara sekaligus keluarga di rumah. Beban kerjanya menjadi ganda. Pasca perang dunia ke II, perempuan di Amerika dipaksa kembali ke rumah dan ini menjadi masalah karena banyak dari mereka sudah pernah bekerja dan ingin tetap bekerja. Terlebih lagi, Amerika pasca PD II butuh tenaga kerja lebih yang membuat pekerjaan ganda perempuan bisa dilakukan tapi sangat-sangat sulit. Walhasil pekerjaan rumah membutuhkan pembantu (yang biasanya kulit hitam sebelum ada aliran pekerja hispanik seperti dua puluh tahun belakangan ini).

Menurut ekonom Hae Joon Chang, salah satu hal yang membuat perempuan jadi bisa bekerja di luar dan meringankan kerja domestik adalah penemuan mesin cuci. Penghematan waktu memungkinkan kerja rumah tangga menjadi lebih cepat dan efisien. Industri-industri perawatan anak dan pembantu rumah tangga panggilan juga membuat wanita karir menjadi mungkin. Di ranah ekonomi, perempuan pekerja membuat ekonomi sebuah negara menjadi booming,  dan kapitalisme nampak membeabaskan. Tapi di saat yang sama ketidakadilannya tetap berjalan.

Dari pekerjaan paling rendah seperti pembantu rumah tangga, sampai pekerjaan paling tinggi seperti aktris hollywood, opresi toh terus berlanjut dengan berbagai macam cara. Dan ini membawa kita kembali kepada topik kita tentang tubuh: bahwa opresi terhadap gender yang kalah hari ini dilakukan dengan lapisan-lapisan pemaknaan yang lebih kompleks dengan permainan aturan political correctness dalam kapitalisme.

Memang kita perlu bersyukur, bahwa kapitalisme dan kebutuhan akan kerja membawa perempuan ke kelas-kelas, ke kantor-kantor, dan ke berbagai bidang yang sebelumnya ditutup. Kapitalisme dalam satu dan lain hal memang membantu. Namun di sisi lain, bantuan ini seringkali juga tidak memecahkan masalah. Masalah yang terbesar adalah soal imaji tubuh perempuan yang kalau kita telurusi kompleksitasnya bisa melebihi sekedar imaji di majalah tapi juga soal ras dan kelas ekonomi.

Mengambil Kembali Imaji

futurama-gender_war
Sumber Gambar: Futurama/Wikimedia

Kecantikan selalu didefinisikan dari waktu ke waktu dengan berbagai macam bentuk. Perempuan adalah kanvas dimana lelaki menentukan apa yang indah dan apa yang tak indah, apa yang pantas diperebutkan dan apa yang tidak. Dari zaman pra sejarah dimana obesitas jadi bentuk kecantikan, sampai kekurusan Audrey Hepburn. Hari ini, trend perempuan curvy kembali setelah sekian lama, tapi dengan logika yang sama, bahwa tubuh itu masih didikte.

Saya ingat di kelas feminis Intan Paramaditha dulu, kami pernah membahas betapa cairnya kapitalisme. Dia bisa masuk ke ranah apapun yang memberi untung. Sebuah produk sabun cuci piring bisa membuat dua versi iklan, yang pertama mendukung perempuan konservatif ibu rumah tangga yang ingin memberi kesan baik pada mertua, kedua tentang perempuan wanita karir yang jadi bisa kerja ke kantor karena efektifitas mencuci piring. Mereka terkesan tidak perduli ideologi dan hanya bertujuan mengikuti pasar.

Tapi tujuan mengikuti pasar itulah ideologi sebenarnya, itulah kapitalisme yang sebenar-benarnya yang bisa mengubah segala narasi atau karya demi kepentingan political correctness. Kritik saya terhadap Star Wars Episode VII menunjukkan bahwa cerita dan semesta Star Wars yang dibangun sejak tahun 1970an, bisa berubah demi memperluas pasar. Dengan ini apakah kita bisa bilang bahwa ideologi kapitalisme adalah ideologi pasif agresif yang mengikuti pasar saja? Ideologi yang bermain dengan bungkus tanpa peduli isi?

Saya rasa tidak begitu. Saya cenderung setuju dengan tesis yang diajukan Žižek dalam A Pervert’s Guide to Ideology, bahwasannya inti utama kapitalisme adalah adalah semacam kekosongan/kelaparan untuk mengkonsumsi. Ketika London Riot 2011, dimana orang-orang menjarah toko-toko, atau kerusuhan Mei 98 di Indonesia, ideologi yang berlaku adalah kapitalisme semacam itu. Di satu sisi ia bisa mengakomodir gerakan-gerakan politik dan pemberdayaan, di sisi lain ia bisa menghancurkan habis-habisan.

Jadi satu-satunya cara untuk mencari keseimbangan, menurut saya, adalah dengan menjadi kritis dan tetap menggunakan humanisme non-komersial sebagai sebuah alat ukur sejauh mana keserakahan itu mengkonsumsi kita. Melihat secara kritis apa yang dilakukan keserakahan itu ketika ia mengeksploitasi segala macam ideologi untuk kepentingan mengisi perut yang seluas semesta tanpa batas itu. Termasuk eksplotasinya terhadap tubuh perempuan.

HAMLET by Shakespeare,
Perempuan dengan Kamera. (Miriskusnik)

Kuncinya ada di representasi dan perjuangan dalam menghadirkan representasi itu. Dimulai dari siapa yang memegang kamera, siapa yang menyutradarai, memproduseri dan mengedit imaji-imaji itu. Dari situ kita bisa melihat pandangan siapa yang bekerja dan dengan cara apa. Dengan itu kesetaraan benar-benar bisa diraih dan peradaban bisa dimaksimalkan. Kita harus hidupkan kembali kritisisme yang selama ini dihajar habis pemenang perang dingin. Ada perjuangan-perjuangan untuk mendapatkan kontrol dan kuasa dari berbagai pihak, dari negara sosialis hingga negara-negara Islam yang begitu dendam dan tak mengertinya hingga mereka rela menghancuran peradaban.

Tapi saya yakin kebanyakan kita tidak berada di titik-titik ekstrim itu. Kita ada di tengah-tengah, di titik paradox manusia. Dan kitalah yang akan mengendalikan kemana arah peradaban kita. Semoga peradaban ini bisa berlangsung lebih lama daripada Mesopotamia, Mesir, Yunani atau Roma, dan kita bisa meninggalkan makna yang banyak gunanya untuk peradaban-peradaban selanjutnya.